Sep 4, 2017

Game of Thrones S7 - Episode Finale.... Dalam Sebuah Podcast

DSCF2614

DSCF2649

Selamat datang, Senin kelabu!

Setelah tujuh minggu kita dimanjakan oleh kehadiran seri TV terbaik sepanjang masa setiap Senin, sekarang balik lagi, deh, ke era kehampaan awal minggu. Huft.

Tanpa banyak cingcong, mari kita langsung terjun ke penelaahan episode terakhir di season 7 Game of Thrones…

… lewat sebuah podcast.

Yaaas, betul sekali, pemirsa yang berbahagia. Minggu lalu, gue dan Dara akhirnya nekat memulai sebuah pilot project podcast, yang hasilnya kami coba hempaskan di sini.

Gue dan Dara udah lamaaaa banget kepengen bikin podcast (bareng). Dulu kami terjebak dalam stigma bahwa bikin podcast itu ribet, khususnya secara teknis. Tapi Adri—teman SMA gue / pekerja kreatif / stand-up comic / podcaster—bilang bahwa kalau mau modcast, langsung kerjain aja. Pake hape pun capcus, kok. Nggak usah mikir harus punya mic, masuk studio, dan di-edit pakai mixer. Sampai sekarang, Adri aja modcast pakai hape.

Alhasil, weekend kemarin, di tengah kengangguran berat, gue dan Dara memutuskan untuk, “Tes ombak podcast yuk, mak!” (teteup, ngajaknya pake bahasa banci).

Podcast kami ini belum ada namanya, belum ada logonya, belum ada channel-nya (baru ada di SoundCould doang), belum ada konsepnya (!!!), dan belum ada kualitasnya. HEITS, maksudnya kualitas suara, ya! Hahaha. Bayangin, dong, untuk pilot project ini, kami rekaman di sebuah kafe di Kemang, pas malam minggu pula. Otomatis ributnya minta ampun. Di enam menit pertama, suara rekaman kami kacau gilak—bersatu padu tidak harmonis dengan suara para pengunjung lain, barista teriak-teriak, blenderan, mesin coffee brew, musik latar, pokoknya kacau, deh.

Ujung-ujungnya, gue dan Dara pindah ke teras kafe tersebut. Mendingan, sih, walau dengan bekson motor-motor lewat. Jadi ada nuansa alay ngobrol di teras Alfamidi, tapi yastralah.

Itulah kenapa, pilot podcast ini nggak ada intro dan penjelasannya. Sebenarnya ada, tapi kami potong, berhubung kualitas suaranya buruk amat. Padahal di intro, kami cerita sedikit tentang latar belakang podcast ini dan tema bahasannya, termasuk Valar Moregeulis, tuh, sebenarnya siapa, sih?

Oya, karena kehebohan Game of Thrones baru aja selesai, topik perdana yang kami angkat tentunya Game of Thrones, sebagai salah satu common interests kito baduo: kenapa Laila dan Dara suka Game of Thrones? Apa house favorit Laila dan Dara? Apa pendapat Laila dan Dara tentang season 7 dan episode 7? And what is up with Tyrion Lannister?! 


---

Walaupun Game of Thrones adalah topik yang sempit—karena nggak semua orang suka/ngikutin GoT—semoga di pilot project ini, gaya ngemeng dan isi otak gue dan Dara tetap terpancar nyata, dan semoga bisa nyantol di hati banyak pendengar. Ciyeee, hueek.

Dan yang paling penting, mudah-mudahan kami bisa istiqomah di proyek ini, mengingat hampir semua proyek yang gue jalankan umumnya mati sebelum berkembang (mu’uph ngedz, tolong jangan lagi ada yang nanya, “Blogpost Disney/Amerika gimana, kak?” ITU PERTANYAAN SENSI). Bener-bener, deh, mau jadi apa sih gue.

Don’t forget to like, comment, and subscribe!

(eh, kalau di SoundCloud mainannya gimana, sik? Minimal komen di blogpost ini deh, ya!)

Aug 27, 2017

Game of Thrones S7 - Episode 6: The Penultimate Show


Beberapa hari setelah episode 6 season 7 Game of Thrones nggak sengaja bocor, beberapa teman japri gue dan nanya, “Udah nonton leak-nya belum?”

Tentu saja, dengan harga diri segunung, gue jawab, “Excuse me? Excuuuuse me? I would never betray HBO like that! Never! What do we say to the Gods of Spoilers? Not today!

Yang kemudian direspon sama teman gue, “Biasa aja kalek, nggak usah lebaaay…”

Aug 15, 2017

Game of Thrones S7 - Episode 5: Kebut, Shay!

 Best boyband entrance ever!

“Kenapa, sih, La, season ini jarang nulis tentang Game of Thrones?”

Karenaaa… boro-boro bisa nulis. Napas aja nggak sempet, nek!

Bukan, bukan karena gue sedemikian sibuknya, tetapi karena—sesuai dugaan—setiap episode dalam season 7 ini sangatlah padat, sekel, mantap jiwa bosquuu. Alhasil, terlalu banyak hal yang harus dibahas. Bak wafer Tango, ceritanya ada berapa lapis? Ratusan!

Aug 11, 2017

35 Jam di Mutiara Maluku

20170807_083112

Minggu lalu, gue berkesempatan ke Ambon untuk pertama kalinya. Sayang, durasi perjalannya kurleb cuma 30 jam—jangan tanya kenapa—jadi gue benar-benar nggak keluar kota Ambon, apalagi untuk island hopping ke pulau-pulau sekitar. Hiks!

Ini adalah sepenggal ceritanya, yang menurut gue rada menantang untuk di-post berhubung foto-fotonya minim banget, secara kualitas dan kuantitas. Buat gue, nggak menyertakan foto untuk sebuah travel post bikin insekyur, lho. Apakah kata-kata gue cukup mewakili? Jreeeng.


Aug 2, 2017

Menjadi "Melek"


Disclaimer: Postingan ini tidak disponsori oleh media berita manapun (walaupun seharusnya iya, deh!)

Gue sadar bahwa selama ini, gue hidup di dalam bubble. Sebabnya ada beberapa.

Pertama, karena gue punya kehidupan yang sangat “mudah”, khususnya dari segi finansial.

Kedua, karena gue dibesarkan oleh nyokap yang sangat protektif. Beliau adalah orang yang membangun layer pertama bubble gue.

Ketiga, karena sosmed. Di era sosmed sekarang, gue yakin bubble kehidupan rangorang semakin tebal, karena kita—para pengguna sosmed—pasti selektif memilih akun yang kita follow. Platform berita online pun semakin customizable juga terkurasi, sehingga exposure netijen semakin sempit. Therefore, we are only exposed to what we want to read/see/hear.