Jul 6, 2020

Catatan Dari Karantina: Sabar


"It’s incredibly useful both for us personally and on a historical level to keep a daily record of what goes on around us during difficult times," kata Ruth Franklin, seorang penulis. "Take a moment and make some notes about what's happening. Call it your Coronavirus diary, your plague journal, whatever. It's important. Later, you will want a record."

Seperti yang disarankan oleh banyak penulis dan ahli sejarah, kita sepatutnya punya catatan tentang kehidupan selama pandemi ini. Bukan cuma untuk kelegaan mental diri sendiri, tapi juga untuk catatan sejarah di kemudian hari. Nama saya Laila, dan ini salah satu catatan saya.

---

Salah satu akibat internet dan teknologi adalah kehidupan yang serba cepat dan instan, termasuk kehidupan pacaran.

May 10, 2020

Catatan Dari Karantina: Memori Terakhir


"It’s incredibly useful both for us personally and on a historical level to keep a daily record of what goes on around us during difficult times," kata Ruth Franklin, seorang penulis. "Take a moment and make some notes about what's happening. Call it your Coronavirus diary, your plague journal, whatever. It's important. Later, you will want a record."

Seperti yang disarankan oleh banyak penulis dan ahli sejarah, kita sepatutnya punya catatan tentang kehidupan selama pandemi ini. Bukan cuma untuk kelegaan mental diri sendiri, tapi juga untuk catatan sejarah di kemudian hari. Nama saya Laila, dan ini salah satu catatan saya.

---

Sebetulnya gue nggak suka lari.

Gue cinta olahraga—malah udah cari nafkah sebagai instruktur olahraga selama dua tahun terakhir—tapi sepopuler apapun lari di kalangan warga urban, gue nggak pernah menjadikannya sebagai pilihan olahraga.

Gerakan lari terlalu sederhana buat gue, yang berkepribadian rumit ini. Berlari ‘kan cuma mengayunkan satu kaki di depan kaki yang lainnya dengan kecepatan konstan. Begituuu terus. Sama sekali nggak ada stimulasi untuk otak. Akibatnya, lari nggak cuma bikin gue capek fisik, tapi juga bikin capek batin, karena sepanjang lari, kita cuma berduaan dengan pikiran kita. Nggak ada lagu pengiring senam ber-genre house music angkot, nggak ada seruan pelatih olahraga yang meneriakkan “TAHAN PLANK-NYA SEPULUH DETIK LAGI, YA!” padahal udah lima menit, dan nggak ada deru napas bernada sakratul maut dari peserta olahraga di sebelah kita.

Maka lari membuat pikiran gue kosong, hingga akhirnya diisi oleh kontemplasi dan memori hidup. Bagi sebagian orang—termasuk gue—nggak ada yang lebih mengerikan daripada berkontemplasi, karena kadang kontemplasi membuat kita jadi sadar bahwa hidup kita sebetulnya nggak bahagia-bahagia amat. Atau malah nggak bahagia sama sekali. Wow, auto-ngembeng.

Feb 22, 2020

Kebijaksanaan Alam Semesta


Apa yang biasanya lo lakukan, kalau lo lagi sedih?

Dec 25, 2019

Selamat Datang 2020, Selamat Datang Kepanikan


Alkisah pada suatu malam, menjelang akhir tahun 2019 ini, seorang anak manusia menatap rembulan—yang buram karena tertutup awan polusi ibukota—lewat jendela kamarnya, sambil merenung, “Umur gue udah segini, tapi hidup, kok, masih nggak jelas aja, sih?”

Bagi yang kurang konek, si anak manusia itu adalah gue.

Jul 19, 2019

Mahkota Malang, Mahkotaku Sayang

Satu kata untuk mendeskripsikan rambut gue adalah: sad. Syedih, shay. 

Pasalnya, rambut gue sangat halus, tipis, lepek, nggak ber-volume. Batang rambutnya tipis, jumlah helai rambutnya pun sedikit. Singkat kata, mahkotaku ini hidup segan, mati pun tak mau.

Maka seumur hidup, gue nggak pernah merhatiin rambut. Gue malas pakai serum, hair vitamin, hair tonic, dan sebagainya, karena gue merasa aneka produk itu akan "memberatkan" rambut tipis gue. Cukup hidup saja yang diberatkan masalah, Ferguso!