Nov 23, 2022

Here Comes The (Second) Son

Menceritakan birth story di blog sebenarnya nggak ideal, lho. Apalagi di Instastory dan media sosial sejenis, yang kapasitasnya jauh lebih pendek. Soalnya melahirkan itu peristiwa yang out of this world bagi seorang perempuan. Ajaib banget. Ajaib banget sakitnya, cemasnya, bahagianya, terharunya, sedihnya, dan sejuta kombinasi emosi lain, yang mungkin belum ada namanya di kamus. 

Dan cuma si ibu yang bisa merasakan emosi-emosi tersebut sepenuhnya. Ketika perasaan itu diubah menjadi kata-kata, dan dicerna oleh orang lain, maknanya pasti berubah atau tereduksi. 

Jadi, ceritain nggak, nih?! Ya, cerita dong.

Ini adalah kisah lahirnya anak kedua kami. 

Mulai cerita dari latar belakangnya, ya.

---

PREAMBULE:

We Want Kids! Lots of Kids!

Bayi ini adalah bayi yang ditunggu-tunggu, buah dari intellectual decision kami. Bukannya Raya nggak ditunggu-tunggu, ya *cemas suatu hari anaknya baca ini*. Raya will forever be my first pride and joy, the one who taught me to be a mother, tapi Raya adalah bagian dari “rantai kehidupan” gue yang “semestinya”, yang terdikte oleh budaya dan masyarakat. Dalam artian, pada umur sekian, gue “semestinya” kawin. Setelah kawin, ya “semestinya” gue punya anak. Dan anak itu adalah Raya.

Setelah Raya lahir, ada banyak buanget badai menerjang hidup gue, yang dulu membuat gue nggak pengen punya anak lagi. Di tengah pusaran badai emosi, I really thought I wasn’t fit to have another child. Tapi ketika badai itu reda, bertahun-tahun kemudian, kusadari ternyata… GUE PENGEN BANGET PUNYA ANAK LAGI.

Teguh felt exactly the same. Malah ternyata sebenarnya kami pengen punya anak banyak. Alhasil  kami sedih banget karena sekian tahun terlanjur terbuang. Meskipun dalam satu dekade ini, gue dua kali keguguran, sih, plus sibuk menerjang badai hidup. Tapi perasaan itu tetap ada. Dammit, you biological clock and the pressure you give!

Ketika kami menyadari bahwa kami sebenarnya pengen punya anak lagi, kabut tebal seakan-akan terangkat, cahaya pencerahan dari surga muncul, and we immediately realized we wanted as many kids as God allows. Kalau menilik ke-uzur-an kami, realistisnya palingan nambah dua anak lagi, ya. Tapi sebenarnya pengen dua belas. Duileee... telat deh.

Ah, tapi Allah ‘kan Sang Pemberi Keajaiban *taunya beneran dikasih 12 anak lagi bak Nick Cannon*

“Menghamiliku… Seumur Hidupku…” (pake nada Mencintaimu – KD)

Pada Oktober 2021, gue dan Teguh memulai ikhtiar kami dengan konsul fertilitas di sebuah klinik. Sebelumnya ‘kan gue keguguran Blighted Ovum dua kali berturut-turut, jadi pengen tau sebabnya. Hasil konsul tersebut menyatakan, kami harus treatment fertilitas selama kurang lebih 5-6 bulan. Setelah itu, bisa dicoba pembuahan alami, atau inseminasi kalau mau.

Alhamdulillah, belum genap lima bulan treatment, EKE BUNTING. Masya Allah. 

Meski begitu, kehamilan ini nggak serta-merta disambut dengan suka cita, melainkan perasaan cemas yang menggila. Gimana kalau janinnya gagal berkembang lagi? Gokilnya, di minggu ke-6 kehamilan, gue pendarahan pula, which made me wanted to die of sadness and anxiety. Sampai kayaknya gue nggak pernah sereligius itu dalam hidup, saking begitu merengeknya gue pada Allah untuk menyelamatkan sang janin. 

Cerita lengkapnya kapan-kapan aja, ya (janji ke-1). Tapi intinya, mukjizat Allah—yang turun lewat tangan OB-GYN-ku yang sangat keren—menyelamatkan janin gue. Si jabang bayi pun terus tumbuh dengan baik sampai full term. Alhamdulillah.

VBAC?

Walau minim drama, ambisi tetap ada, dong.

Ambisi gue dalam kehamilan ini adalah melahirkan per vaginam, alias VBAC. Bagi yang belum tau, VBAC adalah Vaginal Birth After Caesarean, alias 'melahirkan per vaginam (normal lewat vagina) setelah sebelumnya lahiran operasi Caesar'.

Sebagai latar belakang, dulu Raya lahir lewat operasi sesar emergency, di usia kehamilan 41 minggu. Sebelum operasi, gue kontraksi kuat selama tiga hari berturut-turut, tapi kontraksinya nggak kunjung teratur dan rapat, plus nggak ada progress pembukaan. Ketika jantung bayi melemah, OB-GYN gue memutuskan untuk mengeluarkan si bayi lewat operasi, subuh hari.

Dulu gue sempat berprinsip, kalau anak pertama udah operasi sesar alias SC, berikutnya SC aja lagi, supaya nggak dijahit di dua tempat. Ini adalah pola pikir banyak ibu. Apalagi nggak semua OB-GYN berani melakukan VBAC. 

Jadi, kenapa gue pengen VBAC? Alasannya bukan karena “it’s trendy”, atau karena gue pengen heroik bin idealis. Sesederhana karena gue bercita-cita punya anak ke-3. ASAP! 

Meskipun konon SC bisa diulang sampai 4x, makin sering operasi, risikonya makin besar, tho? Pemulihannya juga konon makin sulit. Sementara kalau lahiran per vaginam, sampai 12x pun tak masyalah (ada apa dengan gue dan keinginan punya anak selusin?). 

Sehingga kalau persalinan kedua ini gue SC, gue ngilu ngebayangin nanti persalinan ke-3 kudu SC lagi. Terlebih kalau jarak waktunya relatif dekat. Dua-tiga tahun menurut gue dekat, ya, berhubung jarak Raya dan adiknya ini adalah 10 tahun.

Seandainya gue mau tutup pabrik setelah anak ke-2, gue bakal SC lagi dengan hati ringan. Nha, ini ‘kan inginnya nambah.

Again, this is just me. You may have different opinion, tapi inilah alasan gue bernawaitu lahiran VBAC.

Ikhtiar gue dimulai dari trimester 2. 

Mulai trimester 2, gue ngikut sekitar 348 kelas edukasi lahiran (lebay ya, Bu), demi membekali diri dengan ilmu-ilmu lahiran per vaginam. Mulai dari ilmu fisiologis lahiran per vaginam (anatomi rahim & panggul, pergerakan janin, dll), pengoptimalan posisi janin, proses persalinan, teknik napas saat ngeden, hypnobirthing, gentle birth, dan banyak lainnya.

Semua ilmu tersebut memupuk keberanian dan tekad gue untuk VBAC, sembari memahami purpose setiap keputusan dalam kehamilan dan persalinan nanti. Misalnya sesederhana, ‘Oh, posisi tidur gue nggak boleh begini, harusnya begitu, supaya bayi nanti nggak sungsang’. Atau ‘Oh, gue harus terbiasa napas begini, agar pas lahiran nanti nggak terjadi anu-anu.’

Gue sangat kagum, lho, dengan jendela informasi yang ada sekarang. Terbuka luas sekali, sampai cenderung information overloaded. Masya Allah. Pas jaman hamil Raya dulu, gue sama sekali nggak dapat info-info ini. What a difference a decade makes! Ya iyalah, Bu. HP aja udah berubah dari BlackBerry ke smartphone yang layarnya bisa dilipet.

Gue juga terus berolahraga. Kalau ini mah memang hobi, ya. Tapi selain melakukan olahraga yang gue suka—seperti strength training, atau joget tipis-tipis—gue juga (terpaksa) ikut kelas-kelas khas ibu hamil: yoga prenatal, senam prenatal, dan prenatal-prenatal-an lainnya. Kok terpaksa? Karena bagi gue, bikin ngantuk banget :’) 'Kan isinya stretching-stretching loyo aja (shombong bener). 

Meski begitu, kelas gerak prenatal memang penting, karena semua gerakannya bisa membantu kelancaran lahiran per vaginam nanti.

Ikhtiar gue yang lain adalah membentuk birth team yang oke. Birth team itu apa? Sesuai namanya, birth team adalah sekelompok orang yang membantu persalinan kita. Bintang utama persalinan ‘kan si ibu dan bayi, tapi persalinan tetap butuh dukungan supporting cast, yaitu si bapak, dokter/nakes, tim RS, dan sisanya terserah. Misalnya, ingin didampingi ibu kandung atau doula. Mereka ini yang kita sebut sebagai birth team.

Anggota pertama birth team gue, tentu saja pria yang membuntingiku alias bapaknya anak-anak. Apakah Teguh setuju VBAC? Ya, harus setuju! Awalnya sih, ucapan, “Udahlah, sesar aja” tercetus dari mulut do’i tiap dua hari sekali. Tapi ujungnya dia ter-brainwash untuk pro VBAC, kok.

Anggota birth team berikutnya adalah sang OB-GYN dan tim RS. Di trimester 2, dengan berat hati gue pindah OB-GYN dari klinik program fertilitas kami, gara-gara beliau hanya praktek persalinan di RS yang jauuuh banget dari rumah kami. Padahal kami udah cocok banget sama beliau. 

Setelah beberapa kali coba-coba, Alhamdulillah, kami nemu OB-GYN yang nggak kalah cocok, sangat pro lahiran normal/VBAC, dan praktek di RS dekat rumah pula.

Anggota birth team yang nggak kalah penting adalah doula. Gue dan Teguh memutuskan untuk menggunakan jasa doula, karena sungguh, deh, kami sebenarnya keder banget sama persalinan per vaginam :’) Walau udah nimba ilmu senimba-nimbanya, rasa cemas dan takut pasti ada. Sebenarnya Teguh, sih, yang lebih utat. Mengutip do’i, pas hari-H, khawatirnya dia malah lebih sering kabur ngerokok di luar ruang bersalin, saking stresnya. 

Plus, lahiran per vaginam sangat unpredictable. Mau sebelumnya usaha kayak apa juga, tetap bisa terjadi 1001 skenario, baik ataupun buruk. We need professional help and advice!

Maka kami memutuskan untuk menggunakan jasa doula, dan pilihan kami jatuh pada Irma dari Birth I’m With You. Oya, jangan lupa jasa doula bukan cuma pas hari H persalinan, tapi jauh sebelumnya, dengan memberikan informasi, ngejawab pertanyaan, juga jadi tempat curhat.

Gile yee… lagi-lagi, 10 tahun lalu pas lahiran Raya, mana ada doula-doula-an? Kalaupun ada, rasanya akses informasinya susah didapat. Sekarang pilihan doula dan bidan pendamping persalinan ada banyak banget. Luv.

Cerita lengkap soal birth team dan doula ini menyusul, ya (janji ke-2). 

THE BIRTH STORY

The Non-Invasive Induction 

Preambule-nya udah cukup, Bu Laila. Yok, buruan kisahkan birth story-mu!”

Siap.

Proses persalinan gue dimulai pada hari Jumat pagi yang cerah ceria.

Di saat itu, usia kehamilan gue adalah 39 minggu 4 hari. Awalnya gue menduga, persalinan gue bakal masih lama, karena dulu gue mulai kontraksi Raya juga di minggu ke-41 (dan akhirnya berujung pada emergency SC).

Di Jumat pagi yang cerah ceria tersebut, gue dan Teguh kontrol rutin ke OB-GYN. Waktu itu, kami udah males-malesan kontrol, karena toh nothing exciting ever happens. Pasti analisanya ‘semua baik-baik aja’ dan ‘tinggal nunggu waktunya ya, Bu’. Saking malesnya, tadinya gue mau skip kontrol sampai 40 minggu aja.

However, be careful what you wished for, karena di kontrol pagi itu, OB-GYN gue tetiba bersabda, “Hari ini kita coba Membrane Sweep, ya. Gimana?”

WAW, PINGSAN.

Gue pernah diinfokan oleh doula Irma, apa itu Membrane Sweep 

Membrane Sweep adalah sebuah prosedur manual, dimana sang OB-GYN akan sedikit melepas kantong ketuban dari rahim. Kantong ketuban ‘kan nempel sama rahim. Nah, ketika Membrane Sweep, si kantong ketuban dilepas sedikit. Kalau mau ngebayangin, ibaratnya kayak melepas buah jeruk dari kulitnya. 

Prosesnya sederhana dan bisa dilakukan di ruang praktek dokter. Nggak pakai alat atau obat apapun, hanya pakai jari sang dokter. Kayak periksa dalam gitu, lho.

Tujuan utama dari Membrane Sweep adalah induksi non-invasive, untuk merangsang kontraksi. Maka prosedur ini cuma bisa dilakukan saat kehamilan sudah matang. 

Tingkat keberhasilan Membrane Sweep beda-beda. Ada bumil yang langsung melahirkan besoknya, ada yang baru kontraksi 48 jam kemudian, dan sebagainya.

Ketika OB-GYN gue nanya, apakah gue bersedia Membrane Sweep, jujur hati ini mau copot. Selain karena Membrane Seep sounds painful bagiku, juga karena artinya ada usaha riil untuk mendekatkan persalinan. Excited-nya, sih, ada banget!

Ujungnya, gue mengiyakan.

Gue pun berbaring di ruang dokter, sambil meluk leher Teguh dengan tegang (tepatnya memiting, saking tegangnya).

Sialnya, gue memang sangat mental tempe dalam urusan pemeriksaan dalam. Selama bertahun-tahun, tiap harus pap smear atau USG transvaginal, gue dan dokter selalu kudu teriak-teriakan,

“Ibu! Tenang ya ibu! Rileks!” kata si dokter.

“Ini udah rileks, dok!!!” ujar gue, yang sama sekali nggak ada rilek-rileknya.

In short, cervical exams always scared me to death. In fact, many medical procedures scared me, karena gue orangnya ngiluan banget. 

Nggak terkecuali saat Membrane Sweep ini. Gue melakukan teknik napas, mencoba mengingat segala ajaran hypnobirthing, ngucap bismilah 100x, dan melukin (baca: miting) Teguh. Tetep aja bulir keringet segede-gede biji jagung mengalir deras. Gue berasa udah mau brojol di situ, detik itu juga.

Baru juga jari OB-GYN masuk, gue udah memekik, “MASYA ALLAH!!!” 

Yassalam... belom, Bu, belom!

Ketika akhirnya sang OB-GYN berusaha melakukan Membrane Sweep yang sebenarnya, keluarlah lolonganku yang sebenarnya juga.

Bagi gue—yang mungkin pain tolerance-nya rendah?—upaya Membrane Sweep ini rasanya sakit banget. Sebenarnya ketika dokter merogoh serviks, gue masih merasa oke. Tapi ketika dokter berusaha melakukan gerakan Membrane Sweep-nya, baru deh gue jejeritan. Rahim gue berasa ngilu dan melilit banget.

Saking megap-megapnya gue, dokter harus berhenti sebentar, untuk kemudian mencoba lagi.

And guess what? Pada akhirnya, Membrane Sweep-nya gagal, dong. Bukan karena gue-nya histeria (yah, mungkin itu juga ya :’)), tapi karena posisi serviks gue masih terlalu di belakang dan terlalu ‘kuncup’, sehingga sulit sekali diraih. 

Yah :(

I felt really deflated after that. Lesu bak balon kempes. I had a sinking feeling, kayak anak SMA yang gagal ujian PTN, padahal udah kemping bimbel segala. 

Padahal, sih, Membrane Sweep ini nggak direncanakan, sehingga seharusnya gue nggak punya ekspektasi. Plus, prosedur ini nggak memastikan labor akan dimulai. Induksi invasive aja bisa gagal, apalagi induksi non-invasive? Lagian kehamilan gue “baru” 39 minggu. Persalinan per vaginam bisa ditunggu sampai 42 minggu, lho, dengan catatan kondisi ibu dan bayi aman.

Gue tau semua itu. Jadi, kenapa gue merasa down? Nggak tau juga.

Kami pun pulang dengan lunglai, and I really just wanted to lie down all day. Sabar sedikit lagi, ya, Ibu.

Jumat Malam (39 minggu 4 hari)

Tapi lagi-lagi, siapa yang bisa tahu rencana Tuhan? Fast forward beberapa jam kemudian, tepatnya jam sepuluh malam di hari Jumat ini, hadir kontraksi yang rasanya bukan kontraksi palsu.

Sejak awal trimester 3, gue sering banget kontraksi palsu dengan frekuensi dan intensitas yang lumayan, sampe bisa bikin gue mengerang kencang.

Tapi berdasarkan ilmu yang gue kantongi, yang gue alami itu masih kontraksi palsu. Jadi gue selalu santai, dan lama-lama terbiasa dengan kontraksi palsu yang lumayan heboh tersebut.

Namun pada Jumat malam itu, gue yakin gue mengalami kontraksi asli. Rasa sakitnya jauh lebih intens, sampai bikin gue melolong dan ngeluarin airmata. Gue pun kudu dengerin musik untuk distraksi, dan bolak-balik melakukan berbagai gerakan comfort technique untuk mengelola rasa sakit.

Sakitnya pun langsung intens—nggak pake naik bertahap—dan langsung terfokus ke bagian perut bawah, melingkar ke punggung belakang. 

Alhasil tiap kontraksi, gue teriak, meski tetap berusaha “moaning” aja dengan suara rendah—bukan jejeritan melengking—sesuai ajaran kelas-kelas persalinan. 

Coba ngitung-ngitung pakai apps penghitung kontraksi, hasilnya... wadidaw dibalik wadidaw, sudah rutin 7 menit sekali, pemirsa! Dengan durasi 45-70 detik! This is not a drill!

Kontraksi ini berlangsung sepanjang malam, dan gue nggak tidur sedetik pun, sampai pagi tiba.

Sabtu (39 minggu 5 hari)

Sabtu pagi, kontraksi gue masih lanjut. Alamak, this is really not a drill, karena artinya ada potensi kontraksi gue akan terus teratur. Artinya, ada potensi bentar persalinan beta su dekat! 

Sewaktu labor Raya dulu, gue juga merasakan kontraksi sekuat ini, tapi cuma di malam hari. Sementara saat pagi-siang, kontraksinya berhenti. Alhasil, persalinan yang diharapkan nggak terjadi, dan ujungnya harus SC.

Meski udah kontraksi semalaman, kami baru laporan ke sang doula, Irma, di Sabtu pagi ini lewat WhatsApp. Yang laporan Teguh, sih, karena gue udah lunglai banget, nggak sanggup pegang HP. Irma dan timnya pun langsung sat-set ngontak OB-GYN gue, dan bersiap PCR kalau sewaktu-waktu harus ke RS. Koper juga udah siap. Mental pun Insya Allah siap (dengan catatan: nggak janji :’))

Tapi kami nggak sekonyong-konyong langsung ke RS. Sesuai rencana, gue mau menunda ke RS selama mungkin, dan benar-benar nunggu sampai kontraksi gue mencapai 5-1-1. Kontraksi 5-1-1 artinya dalam satu jam, gue kontraksi selama semenit, tiap lima menit sekali. Meski begitu, OB-GYN gue minta agar gue di CTG dulu, untuk memantau kontraksi dan detak jantung bayi.

Sejujurnya, waktu itu gue udah males banget kalau harus naik mobil ke RS sambil kontraksi. Setiap polisi tidur ‘kan bakal berasa kayak gebukan! Akhirnya setelah ditunda-tunda, sekitar jam 16.00, gue dan Teguh berangkat ke RS untuk CTG.

Asyemnya, saban weekend, RS gue ini nyaru sama pasar inpres, saking rame dan chaos-nya. Jadi meski udah masuk lewat IGD, kami harus berhadapan dengan keriwehan RS, plus kudu nunggu lama karena harus tes darah dan PCR dulu.

At long last, gue masuk kamar bersalin untuk di CTG.

Sabtu sore itu, kontraksi gue nggak se-reguler Jumat malam, but the pain got crazier, seakan-akan tahapannya langsung loncat. Kalau kata kelas-kelas edukasi kehamilan ‘kan katanya fase awal persalinan tuh kontraksinya masih “sopan”, dan biasanya sakitnya masih sanggup dikelola dengan teknik pernapasan. Monmap, kontraksi “sopan” tuh yang mane, sih, pemirsa?! Soalnya sejak pertama kontraksi di Jumat malam, gue TENG langsung dikasih kontraksi yang “nggak sopan”, yassalaaam.

Hasil CTG pun menyatakan demikian: kontraksi gue kuat dan udah di atas 100 (satuan CTG tuh apaan sih? Kan nggak mungkin 100 kilometer, ya), meski belum lima menit sekali.

Tapi progress persalinan nggak cuma dilihat dari kontraksi. Pembukaan juga perlu ada.

Sayangnya, setelah cek dalam, gue belum ada pembukaan sama sekal! Edan.

Again, I felt that sinking feeling seperti saat gagal Membrane Sweep. Apalagi dulu persalinan Raya juga persis kayak gini: kontraksi udah kuat, tapi nggak ada bukaan sama sekali dan bayi nggak turun-turun ke panggul, sehingga ujungnya harus SC. Akankah sejarah berulang? Allahu.

Karena belum ada bukaan sama sekali, gue dipersilahkan pulang.

Sabtu Malam (39 minggu 5 hari)

Menjelang malam hari, gue dan Teguh bersiap untuk kembali melewati malam yang panjang.

Berdasarkan polanya, gue tau bahwa kontraksi-kontraksi dahsyat gue akan datang di malam hari. Saking dahsyatnya, gue ogah nyebutnya sebagai gelombang cinta. Monmap banget, ibarat tai dikasih label coklat, tetep aja tai.

Hahaha, maaf ya pemirsa… tapi kontraksi yang sesungguhnya memang sesakit itu, dan gue sebel banget kalau gue cuma dianggap punya low pain tolerance. Pain is pain, tolong jangan gaslight aku. NAMUN! Sesuai ajaran gentle birth, gue secara tulus menerima semua kontraksi yang datang, karena artinya, si bayik akan segera ketemu kami. Dan hal ini sangat patut disyukuri ‘kan?

Jadi malam itu, kami mengatur persiapan “bertempur di medan perang” sepanjang malam, dengan set-up sebagai berikut:

1. Gue di kamar sendirian, sementara Teguh dan Raya tidur di kamar sebelah. Bukannya Teguh nggak tepo seliro, tapi gue memang minta sendirian. Hati gue juga lebih lega kalau suami dan anak dapat tidur cukup (me and my people-pleaser default!). Ujungnya ‘kan Teguh perlu energi untuk ngurusin gue juga di RS.

2. Lampu dimatikan / diredupkan, seperti jam tidur normal

3. Gue nggak tidur di kasur, tapi duduk di sofa kamar. Sejak kontraksi pertama di hari Jumat, gue belajar bahwa kontraksi gue terasa jauh lebih sakit kalau gue dalam posisi tidur. Gue lebih bisa meng-handle kontraksi dalam posisi duduk tegak, bak raja tua Targaryen duduk gagah di Iron Throne (duile).

4. Tentunya gue bakal dikelilingi oleh alat-alat bantu: bantal-bantal nyaman, minuman, snack, gym ball, HP + earphone (baik untuk ngitung kontraksi, maupun untuk dengerin lagu dan afirmasi hypnobirthing).

Let the battle begin. AllahuAkbar! Mari melangkah dengan gagah berani ke Mordor *tabuh genderang perang*

And so the battle began. Mulai jam 21.30 sampai jam 4-5 subuh, kontraksi demi kontraksi datang dengan intensitas yang luar biasa. I have never felt more pain in my life, than those contraction pains. Semakin malam, setiap kontraksi rasanya bikin nyawa gue mau dicabut dari ubun-ubun. Rasanya mau mati aja, tapi nggak mati-mati. Harus dihadapi.

Sesekali Teguh datang, sekedar untuk merem lagi di sebelah gue, sementara tangannya gue remes. 

Rasanya kayak apa, sih? Rasanya seperti perut bawah—di bagian rahim—diperas dan disetrum bersamaan, dengan intensitas yang menanjak. Jadi sakitnya tuh nggak langsung DOR, kayak ditembak peluru. Nggak. Sakitnya naik perlahan, seperti kalau kita memutar kenop volume sound system jadi makin tinggi.

Ketika intensitasnya sudah mencapai puncak, the pain was unbelievable. Trus, dia akan menurun lagi. Pokoknya gila aja.

Gue nggak kebayang apa rasanya kontraksi di pembukaan 8-9, juga rasa ‘ring of fire’ saat melahirkan. Nggak heran kalau ada istilah ‘men go to war, women give birth’. Kalau kata Aemma Arryn Targaryen, the birth bed is women’s warfield (maafkan nerd satu ini ya, tak hentinya mengutip Game of Thrones / House of the Dragon :’))

Setiap kontraksi datang, ada dua afirmasi yang gue sebut dalam hati:

Afirmasi 1:

“Ayo anakku, push down. You can do it. Kita kerjasama ya, nak. Sebentar lagi kita ketemu.”

Gue tau, yang berjuang di sini bukan cuma gue, tapi juga si bayi. Dia pun capek mencari posisi dan jalan lahir. Dan kalau gue menderita akibat pressure luar biasa dari pinggang ke bawah, mungkin si bayi lebih stress karena pressure-nya terasa sebadan dia.

Ini teori gue yang agak ngasal, but it did give a whole lot sympathy to the baby, juga lumayan mengurangi self-pity. Anakku, kita berjuang bareng, ya!

Afirmasi 2:

“Ya Allah, kuatkanlah. Permudahlah.”

Nggak usah panjang-panjang, karena Allah pasti tau persis apa yang gue rasakan.

Sebenarnya salah satu afirmasi yang gue suka dan yakini adalah, “Kontraksi nggak akan melebihi kekuatan si ibu, karena kontraksi adalah bagian dari diri si ibu”. Contraction pain comes from within ourselves, not from outside, jadi yakin aja bahwa sakitnya nggak akan melebihi kemampuan kita.

Tapi menjelang subuh—mungkin karena tenaga gue udah abis banget—terbersit pikiran yang nggak pernah terpikir sebelumnya: apakah Tuhan itu ada? 

Gue mempertanyakan keberadaan Tuhan, karena, kok, sakitnya nggak udahan-udahan—atau at least terasa menuju sebuah progress persalinan—sementara gue udah berdoa keras sepanjang malam? Why is the pain so unbearable? Are you there, God? (lanjut… it’s me, Margaret. Pembaca Judy Blume, angkat tangan!)

Lemah iman banget nggak, sih, gue? Doa-nya seorang rasul aja bisa lamaaa banget dikabulkannya, lah gue minta instan malam itu juga!

Melahirkan memang nggilani.

Menjelang matahari terbit, kontraksi gue sedikit mereda, dan gue bisa sedikit bernapas.

Sebenarnya intensitasnya masih sama, tapi jaraknya memanjang. Yang tadinya bisa kontraksi per 5-7 menit, dengan durasi 60-an detik, menjadi per 10-15 menit. Hal ini sama persis seperti kontraksinya Raya: intens di malam hari, melemah/hilang di siang hari.

Di satu sisi, gue sedih, karena ini artinya persalinan makin tertunda. Tapi di sisi lain, gue lega karena dikasih istirahat oleh Allah. Ternyata doanya didengar juga, ya? Keknya indak sanggup juga kalau kontraksi gue lanjut terus.

Minggu (39 minggu 6 hari)

Masih sesuai rencana, gue belum mau ke RS. Apalagi jarak kontraksi gue malah memanjang, malah kadang menghilang.

Ya udah deh, gue memanfaatkan waktu dengan tidur, makan, mandi, dan bolak-balik cari tontonan yang bisa jadi distraksi ideal. Gimanapun juga, eke masih laboring, ya. Sekong-sekongnya tetap adin, mak.

Setelah bolak-balik ganti film dan series, akhirnya gue menemukan kenyamanan di… Keeping Up with The Kardashians :’) Laboring mothers, menyerahlah pada tontonan receh saat kontraksi. Tonton dah tuh Dubai Bling, Love Island, Lapor Pak, atau infotainment sekalian. Niscaya nggak akan ada tenaga untuk mencerna tontonan yang berbobot. Percayalah. 

Minggu Malam (39 minggu 6 hari)

Ketika malam hari datang, kami bersiap persis seperti malam sebelumnya. Kami tidur pisah kamar, gue duduk di sofa, dan sebagainya.

Dan persis seperti malam sebelumnya juga, kontraksi demi kontraksi datang. 

Tapi situasi berubah di jam 23.00 lewat, hampir tengah malam…

Meletus balon hijau, dor!!! 

Gue merasa si bayi seperti nendang keras baanget, sampai terasa ada yang meletus di sisi kanan perut. Beberapa detik kemudian, ada yang mengalir deras dari vagina.

Lagi-lagi, knowledge is power. Berbekal ilmu dari berbagai kelas edukasi, gue tau PERSIS bahwa ini adalah ketuban pecah. Sebetulnya gue udah sedia kertas lakmus, yang bisa ngetes cairan ketuban. Cairan vagina ‘kan beragam ya, mulai dari keputihan, pipis, sampai air ketuban, dan hal ini sering bikin bumil kecele.

Tapi tanpa kertas lakmus pun, malam itu gue tau PERSIS ini adalah air ketuban yang pecah. Pecah, lho, bukan merembes. Gue juga tau, kalau ketuban pecah, gue HARUS segera ke RS, tanpa negosiasi. Karena kalau dibiarkan, cairan ketuban bisa mengering, dan bisa membahayakan bayi.

Langsung dah kite neriakin suami yang lagi molor di kamar sebelah, “KETUBAN PECAH! KITA KE RS SEKARANG!”

Kami pun tercepot-cepot ganti baju dan ambil tas. Untungnya, koper udah di mobil. Raya pun dititipkan tidur sama neneknya dulu. Tegang, tegang, tegang!

Tepat jam 00.00, kami meluncur ke RS. Untungnya lagi, gue udah punya hasil PCR dan tes darah dari CTG hari sebelumnya. 

Di UGD, gue di CTG. Hasilnya, kontraksi tetap kuat, meski belum rapat. Setelah itu, gue dilarikan ke kamar bersalin, dan tentu saja nggak boleh pulang lagi karena ketuban udah pecah. 

Senin Dini Hari (tepat 40 minggu)

Di kamar bersalin, gue di-cek pembukaan.

Again… ZERO DILATION, alias nggak ada pembukaan. Mau nangis nggak? Padahal gue tau, dengan pola kontraksi selama tiga hari ke belakang, harusnya gue udah pembukaan 4-5 lah. Kok pelit amat sih, kagak ada pembukaan acan?

Dan setelah nge-cek ketuban gue, suster pun menyatakan bahwa air ketuban gue udah hijau. A sign that the baby was getting distressed. Hal ini udah gue duga, karena GUE aja udah sangat capek kontraksi sejak Jumat. Gimana si bayi?

Perasaan gue campur aduk. So far, skenario persalinan ini hampir sama persis dengan persalinan Raya dulu—kontraksi kuat dan lama, tapi nggak teratur-teratur, dan nggak ada pembukaan. Akhir dari persalinan Raya dulu adalah SC. Apakah kali ini harus SC lagi? Apakah sejarah akan berulang?

I was very tired and getting frustrated.

Atas instruksi OB-GYN, gue diinfus cairan dan beberapa obat, termasuk obat untuk melemaskan mulut rahim. Trus, gue diobservasi selama 6 jam. Setelah 6 jam, gue akan kembali di-CTG dan cek pembukaan. 

Sebaik-baiknya manusia berencana, penentunya Tuhan juga. Gue cuma bisa pasrah dan berdoa, bahwa setelah 6 jam nanti, ada progress yang baik.

Sekitar jam 1.30 pagi, Irma dan Acha—doula dan birth photographer kami dari BIMU—ucluk-ucluk hadir. Irma was such a ball of energy, sehingga meski harus bertugas tengah malam gini, pembawaannya tetap ceria dan penuh energi. Hebat, ya, kayak hansip (kenapa perbandingannya harus hansip, sih? Nggak tukang roti bakar, misalnya? Lho, sama aja).

Dan ketika Irma hadir, Teguh langsung melipir, dong. Ya Allah, suamiku. Milih tidur di lobi RS, tsay. Suami siaga nggak, tuh? :D Hahaha, sebenarnya pemalu aja, sih.

Di tengah labor, gue si introvert ini pun sempat kikuk. Interaksi dengan doula seharusnya gimana, sih? Apakah lepasin aja kalau mau nangis? Curhat? Langsung minta pijetin? Apa gimana ya? Tapi ujungnya, kami ngobrol-ngobrol santai aja, diselingi dengan erangan tiap kontraksi datang.

Mungkin karena kontraksi gue dilihat masih level menengah, maka gue belum ditawarkan melakukan gerakan apapun. Padahal sepanjang hamil gue belajar, bahwa selama labor, ada berbagai gerakan yang bisa dilakukan untuk membantu bayi masuk panggul, sekaligus membantu si ibu lebih rileks. Dalam melakukan gerakan-gerakan tersebut, doula bisa banget bantu.

Mungkin juga karena ketuban gue udah pecah, sehingga gue nggak boleh banyak gerak. In most cases, SOP-nya memang demikian, agar air ketuban nggak makin tumpah habis. Nevertheless, every gesture Irma gave me helped. Setiap kontraksi, Irma bakal mengelus halus—haluuus sekali—beberapa bagian tubuh gue, seperti kaki dan pundak. Kadang tangan gue diayun putar, kadang baju gue dioles-oles essential oil Lavender, all the while being calm and quiet. Nggak mendikte gue harus ini-itu.

Trus, jujur ya, gue nggak tau apakah doula punya aji-ajian atau gimana, tapi pas Irma hadir, kok sakit kontraksi gue…. berkurang jauh? Atau memang kontraksi gue melemah?

Sempat terbersit pikiran, apakah sebelumnya gue berusaha terlalu mandiri? Sebelumnya, gue dua malam berturut-turut berjuang kontraksi literally sendirian, tanpa dikasih kenyamanan atau dukungan dari siapapun. Kombinasi karena Teguh takut (kayaknya), dan karena gue juga minta ditinggal sendirian. Gue juga minta keluarga untuk stay out of the way.

Namun setelah Irma hadir dengan sentuhan-sentuhannya, gue menyadari bahwa berjuang sendirian itu lelah sekali. I also didn’t appreciate myself enough, for trying to be so, so strong. And this is typically me my whole life. IH SEDIH, DEH. Tolong ya, ini space untuk nulis blog, belum saatnya sesi konseling.

Sekitar jam 3, gue laper banget dan akhirnya cap-cip-cup Gofood Indomie goreng plus Milo anget dari warung terdekat. Irma dan Acha pun ikutan pesan emih, dengan minuman Jahe Merah + SKM. Kuli proyek banget nggak, tuh? Ya, memang kita bakal nguli sampe pagi, sih. Semangat, bu-ibuk!

Menjelang subuh, gue udah nggak kuat melek, dan akhirnya ijin tidur dengan lampu dimatikan. Sebenarnya ini juga momen kikuk. Gue mikir, ketika si bumil tidur, si doula (dan si fotografer) ngapain, dong? Oh, ternyata mereka juga merem dan istirahat! Konon doula dan birth photographer juga punya elmu bisa tidur sambil berdiri. Bener-bener ku-proy :') Masya Allah, semoga tenaga kita semua terisi kembali dengan baik, ya.

Senin Pagi, 06.00 WIB (tepat 40 minggu)

Jam 6 pagi, suster kembali hadir untuk CTG dan cek pembukaan. Bismillahirrohmanirrohim, here comes the moment of truth.

Hasilnya… pembukaan tetap NOL. Gila, sih, masih zero dilation, meski ketuban gue udah pecah dan gue udah diinfus macam-macam. Dan selama 6 jam ke belakang ini, gue juga merasakan air ketuban yang terus-terusan banjir tiap kali kontraksi. Was the baby okay?

Sementara hasil CTG gue katanya “oke”, meski gue mendengar nada keraguan.

Suster pun laporan ke OB-GYN gue, dan kami semua—gue, Teguh, Irma, Acha, dan suster—ngumpul untuk mendengar verdict beliau lewat speaker telpon.

Dari awal, OB-GYN gue sangat pro-normal dan berulang kali mengafirmasikan bahwa gue akan sukses VBAC. Bahkan di pertemuan pertama kami, dese bersabda, “Selama masih bisa persalinan per vaginam, bagi saya haram untuk operasi dengan segala risikonya.”

Siap, dok! Keteguhan hati yang mantap!

Hasil diagnosa selama kehamilan pun oke: dinding rahim gue aman, plasenta aman, kondisi ibu-bayi aman. Semua kondisi memenuhi syarat untuk VBAC. Jadi gue tau, we BOTH expected to have a normal delivery.

Dalam kondisi ini, OB-GYN lain pasti udah memerintahkan gue untuk SC. Tapi OB-GYN gue masih menawarkan, apakah mau coba induksi?

Kalau mau induksi, gue akan diberikan induksi dosis rendah (pasien VBAC nggak boleh induksi dosis normal), dan akan diobservasi selama 6 jam lagi. Harapannya, kalau kontraksi makin kencang dan teratur, bukaan juga akan terjadi.

Sementara kalau mau SC, operasi akan dilaksanakan dua jam lagi, di jam 8 pagi.

Ini adalah momen paling tegang dalam proses persalinan. Biasanya, dalam menentukan langkah medis, pasien pasrah aja dengan kata dokter. Tapi kali ini, gue dikasih pilihan. I had a say.

Gue pun nggak buta dengan pilihan yang ada, karena gue rada paham pro-kontranya. Akibatnya, gue galau sendiri.

1. Kalau milih induksi, gue hanya akan diberi dosis rendah. Artinya, belum tentu induksinya berhasil, karena nggak cukup kuat untuk merangsang kontraksi yang diperlukan. Trus, berhubung setelah induksi gue harus nunggu sekian jam lagi, apakah bayinya bakal kuat? Apakah GUE-nya bakal kuat? Monmap, kita udah 60 jam in labor, nih?! Ketuban juga udah pecah dan hijau. Berisiko banget.

Namun jikalau TOLAC (Trial of Labor After Caesarean) ini berhasil, Insya Allah akan lebih baik untuk ibu dan bayi. Apalagi kalau mau lanjut anak ke-3 (atau ke-12… teteup), sesuai rencana.

2. Kalau milih SC, labor ini bisa langsung kelar. Stress-nya ibu dan bayi bisa segera disudahi. Tapi artinya gue mengalami dua kali SC. Kemungkinan recovery-nya bakal lebih asu (forgive my French) ketimbang recovery SC pertama. Juga nambah resiko untuk lahiran ke-3 nantinya. 

Maju kena, mundur kena nggak nih, pemirsa?

Dalam keadaan tegang ini, di kamar bersalin ada gue, Teguh, Irma, dan seorang bidan. Dinamikanya cukup menarik, karena Irma dan gue bener-bener netral, sementara Teguh dan si bidan mulai ngotot SC. 

Irma sudah pasti netral, karena seorang doula harus netral. Dese harus nurut sama keputusan dokter dan kata hati pasien, walau misalnya dalam hati dia punya strong opinion pribadi.

Sebenarnya bidan kudunya juga gitu, tapi bidan yang ini bolak-balik keukeuh, “BU, MENURUT SAYA SESAR AJA, DEH!” dengan membahana, sampai Irma akhirnya “mengusir halus” bidan tersebut, hahaha… Dengan alasan, biarkan Laila memutuskan dengan kata hatinya.

Meski begitu, Teguh juga udah pro-sesar banget. I knew he was mainly concerned for the baby. Tentunya, kami semua begitu. 

Dia pun kembali menelpon OB-GYN gue untuk membahas pilihan SC.

Dalam percakapan tersebut, OB-GYN gue bilang, “Laila tau ‘kan, saya sangat pro-normal. Jadi, kalau saya kasih opsi SC, rasanya karena memang dibutuhkan. Hasil CTG terbaru memang nggak buruk, tapi nggak bisa dibilang bagus-bagus amat juga.” 

Lanjutnya, “Kalau Laila diinduksi, dan setelah 6 jam hasilnya nggak bagus, pada akhirnya tetap harus SC. Dan SC-nya bakal grabak-grabuk dadakan. Kalau sekarang, masih ada waktu untuk persiapan.”

Dengan demikian, keputusan pun bulat: Luncurkan diriku ke ruang operasi!!!

“Sampai ketemu jam 8, dok.”

Senin Pagi, 07.30 WIB (tepat 40 minggu)

Ketika keputusan SC sudah diambil, dengan ajaib, kontraksi gue sekonyong-konyong hilang. Nggak hilang total, tapi jaraknya makin panjang, dan sakitnya makin berkurang.

Mungkin karena masih mengikuti pola “malam kontraksi, siang santai”. Tapi mungkin juga karena si bayi tau, dia bakal dikeluarin dokter? 

Sisi baiknya, secara mental gue jadi santai banget, bahkan lega. Gue bisa ketawa-ketawa becanda, serasa udah lupa sama kontraksi 60 jam.

Nevertheless, gue tetap ada tegangnya ketika dibawa ke ruang persiapan operasi, dinaikkan ke gurney, dan akhirnya masuk ruang operasi. Teguh dan Irma pun sudah ganti baju jadi scrubs, karena akan ikutan masuk ruang operasi, Alhamdulillah.

Sebagai perbandingan, saat SC kelahiran Raya, nggak ada yang boleh masuk ruangan operasi kecuali nakes. Teguh aja nggak boleh. Berhubung dulu kasusnya juga emergency SC, semua pun serba dadakan tengah malam. Maka dulu itu, dalam kebingungan dan kekalutan, gue masuk ruang operasi sendirian sambil berderai airmata karena mikir, “What is going on? APAKAH GUE BAKAL MATI?!”

Sekali lagi, melahirkan memang nggilani. 

Yang gue ingat, pertama, ruang operasi RS gue ini nggak terasa putih bersinar seperti di film-film. Mungkin karena lagi setengah renovasi, area ruang operasinya justru terasa butek :') Yang kedua, gue inget ruang operasinya ramai sekali. Meriah, kayak pasar malam. 

Dokter anastesi gue adalah seseorang berperawakan besar dan ramah, dengan brewok dan kacamata. Pembawaannya pun ceria, dengan suara membahana. Peluk-able seperti teddy bear. Beliau menyambut gue di ruang operasi, dan menjelaskan prosedur standar operasi SC, termasuk langkah pertama yang paling krusial: suntik bius di punggung.

“Wah, Ibu nggak bergerak sama sekali pas disuntik. Bagus sekali, Ibu!” begitu kata sang dokter setelah jarum suntik masuk punggung gue. Monmap, dibandingkan kontraksi, rasa suntik bius di punggung nggak ada apa-apanya, nih, dok :’)

Setelah semua siap, operasi pun dimulai.

Bagi gue, ketika sudah berjalan, prosedur SC nggak pernah terasa terlalu menakutkan.

Pertama, karena bagi gue,  operasi SC justru menjadi kelegaan setelah berjam-jam dihantam kontraksi dan kegalauan hebat. Gue juga merasakan ini di persalinannya Raya. Jangan-jangan kalau SC terencana, justru lebih tegang?

Kedua, karena teler, shaaay. Sadar, sih, sadar, tapi woozy dan ngantuknya tuh mengangkat segala kecemasan. Kalau bisa hidup autopilot, pengen, deh, hidup gini terus :D

Meski indra perasa gue nggak high-alert, perasaan haru biru tetap ada. Waktu Raya lahir, gue nggak terlalu terharu, karena lebih banyak excited-nya. Tapi ketika si anak kedua ini dikeluarin dari perut dan dipertemukan dengan gue, tangis gue pecah sepecah-pecahnya.

"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuuuh..." ujar dokter gue ketika menunjukkan si bayik ke gue.

Airmata gue berderai deras, dan sesegukkan gue nggak tertahankan. Bayi dan ibu oek-oek bersahutan-sahutan, kenceng-kencengan mewek berdua.

Oh, my darling second-born king, my son-shine, hadir sebagai janin setelah badai bertubi-tubi menghantam hidupku. Dititipkan Allah ke kami setelah berbagai macam ikhtiar. Anak yang kuat bertahan dalam rahim Ibu, dengan segala cobaannya. The one who brought out the very best in me during pregnancy. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu ya, nak.

Selamat datang ke dunia, Saka Satria!





(nanti kita lanjut cerita-cerita postpartum, yaaa… zzzzz)

5 comments:

Anonymous said...

congrats again Mba Lei, im so happy karna bisa baca blog nya lagi :)

Ezra said...

Lailaaaa... congrats yaaa... kloningan T banget Saka 😘

Anonymous said...

Congrats ya mba Laila...
Ikut terharu dan berurai airmata baca blogmu..
Welcome to the world baby Saka...

Anonymous said...

Masyaallah, walau udah tau dr igs, membaca proses lahirannya mbak lei bikin ngakak dan terharu berurai air mata jg. Selamat ya mbak lei..smg saka jd anak yg sholeh kelak, penyejuk hati kedua orang tuanya, selamat jg u raya, akhirnya punyak adik saka. bahagia bis abaca blog mbak lei yg panjang lg. (deti)

asasi said...

Masyaallah alhamdulillah, semoga Allah limpahkan banyak keberkahan di keluarga Mbak Laila

Post a Comment