Dec 31, 2020

"Soul" With a Capital S

Bagi gue, film Soul bukan cuma menghibur, tapi perlu, as it successfully stabbed me right through my, well, soul.

Soul bercerita tentang seorang pianis berusia paruh baya bernama Joe Gardner, yang cinta banget sama musik jazz. Dia kerja serabutan, termasuk jadi guru musik paruh waktu untuk anak-anak SMP. Impian dia adalah jadi musisi jazz full-time. Nggak usah sampai jadi musisi beken, deh. Bisa jadi pianis tetap untuk grup jazz idolanya aja, Joe bakal hepi banget. 

Tapi meski impian Joe Gardner nggak ambisius, dia belum sukses juga menggapainya. Dia stuck sebagai guru musik, dan cuma kadang-kadang aja dapat kerjaan manggung. Padahal, usianya sudah nggak muda.

Di suatu hari yang indah, Joe ketiban rejeki dapat kesempatan bergabung dengan sebuah kelompok jazz idolanya. Akhirnya!

Eeh, ketika baru mau mulai, Joe mengalami near-death experience alias hampir mokat, sehingga sempat “mengunjungi” akhirat.

In fact, Joe sempat mengunjungi dua alam:

1. Alam pasca-kehidupan, tempat nyawa (soul) manusia berpulang ke akhirat.

2. Alam pra-kehidupan, tempat soul manusia baru dibentuk, dan bersiap diturunkan ke bumi untuk (gue duga) masuk ke badan bayi-bayi baru lahir. 

**SPOILER**

Menurut film Soul, di alam pra-kehidupan, jiwa manusia harus “belajar” banyak hal dulu, sampai dia menemukan spark atau passion-nya. Kalau udah berhasil nemu, baru soul itu bisa turun ke bumi, karena di bumi nanti dia bisa menjadi manusia yang hidup mencari tujuan/purpose-nya. Sedddap.

Jadi, kalau di alam pra-kehidupan sebuah soul belum berhasil menemukan spark-nya, dia nggak bisa turun ke bumi, karena nanti hidupnya jadi tanpa tujuan.

Menurut film ini, purpose manusia tuh udah pre-designed alias ditetapkan di alam pra-kehidupan, sebelum kita lahir. Misalnya, soul si Budi sudah ditetapkan bahwa passion dia adalah menulis. Trus, dia turun ke bumi, deh.

Sebagai manusia, tentu si Budi nggak bakal langsung nyadar, apa passion-nya. Mungkin dia udah sadar sejak kecil, mungkin dia baru sadar passion-nya menulis ketika sudah umur 50 tahun.

But this is not always the case. Lewat sejumlah petualangan dan kekacauan bolak-balik ke dunia dan alam pra/pasca kehidupan, Joe Gardner belajar bahwa ternyata soul manusia itu nggak perlu punya satu passion spesifik untuk punya tujuan hidup. Sekedar menikmati hidup pun bisa jadi tujuan hidup.

**Spoiler banget**

Hal ini baru terasa oleh Joe, ketika dia berhasil hidup kembali, dan sukses manggung bersama kelompok jazz idolanya. It’s his lifetime dream! Hepi nggak? Ya, hepi… tapi kok… perasaannya nggak sembledug yang dia bayangkan, ya? Hepi, sih, tapi nggak ada kembang api di dadanya, seperti yang dia kira bakal terjadi.

Di momen itu, Joe benar-benar paham, bahwa meski dia cinta mati sama jazz, purpose hidup dia bukan cuma itu.

**END SPOILER**

Film Soul bisa dibedah dari 1001 macam sudut pandang, dan pandangan lo tentu akan berbeda dengan pandangan gue, karena kita punya latar belakang yang berbeda-beda. 

Kali ini, gue akan pilih bahas angle yang paling berkesan buat gue: kita nggak perlu punya satu passion atau purpose tertentu dalam hidup.

Menurut gue, pandangan hidup itu kayak pendulum, selalu berayun dari satu ujung ke ujung lainnya. 

Zaman Gen-X, Generasi Boomer, dan generasi-generasi sebelumnya, konsep "find your passion" itu nggak ada. Tujuan hidup generasi-generasi itu cuma… ya, bertahan hidup. Yang penting bisa punya penghasilan tetap, bisa makan, bisa menyekolahkan anak dengan baik, dan bisa punya kemapanan hidup. Nggak ada waktu, deh, buat passion-passion-an. Hobi ya hobi aja, sesuatu yang dikerjakan buat rilek-rilekan di akhir pekan. Hari Senin, balik lagi pakai safari dan jalan ke kantor.

Maka, di zaman generasi Milennial, pendulum itu berayun ke ujung satunya lagi. Generasi inilah yang pertama kali menggaungkan konsep, "Find your passion! Create a career from your passion! Do what you love!"

Preferensi ini dipahami banget, karena dari kacamata Generasi Millennial, selama berdekade-dekade, kehidupan Gen-X ke belakang tuh kelabu banget. Di generasi terdahulu, opsi pekerjaan yang dianggap oke terbatas, dan pekerjaan-pekerjaannya pun dianggap menguras batin, saking nggak spark joy-nya. Ini tentu ada benarnya.

Nggak heran kalau Millenial nyembah konsep "find your passion, do what you love".

Tapi sekarang kita sudah memasuki era Gen-Z, sehingga pendulumnya berayun lagi. Sekarang sering digaungkan bahwa passion bukan segalanya, dan nggak perlu dikejar sebagai tujuan final dalam hidup kita.

Kenapa? Karena generasi Millenial membuktikkan bahwa "find your passion, do what you love" bukan mahasolusi bagi hidup kita. Memangnya kalau kita berhasil "find your passion, do what you love", hidup kita bakal bahagia selamanya? Ya, nggak. Pasti tetap ada stresnya, sedihnya, frustrasinya, bencinya. Itupun KALAU kita berhasil "find your passion, do what you love", ya. Hal ini tentu nggak realistis bagi banyak orang. Coba tanya aja ART-mu, bisa nggak dia ngejar pesyen-pesyenan?

Semua film Pixar/Disney pasti punya kisah yang menyentuh, tapi setiap penonton Pixar/Disney punya film kecintaan yang berbeda, tergantung latar belakangnya.

Gue punya teman—ibu-ibu seumur gue—yang cinta banget sama mainan. Toys was a significant part of her childhood, even her life until now. Jadi wajar kalau dia cinta banget sama Toy Story, dan nangis habis-habisan pas nonton Toy Story 3.

Teman gue yang lain punya hubungan istimewa sama eyangnya, jadi pantesan dia nangis sampe mukanya jelek dan malu keluar bioskop, pas nonton Coco.

I think Soul is my film, and this why: I am a very, very passionate person. Passionate terhadap apa? Nggak tahu. 

Menurut teori, gue adalah seorang "jack of all trade" atau "generalist", karena gue suka sekali menggeluti banyak bidang sekaligus—Zumba, menulis, podcast, menari, theme parks, berkuda, olahraga, dan banyak lainnya. Setiap kali gue melakukan hal-hal tersebut, it sparked joy in me

Hal yang mana? Semuanya.

Perasaan berapi-api yang gue rasakan saat gue duduk tenang dan menulis, sama berapi-apinya dengan perasaan gue saat sedang jejingkrakan Zumba dengan kesetanan.

Sama berapi-apinya dengan perasaan gue saat gue membuat riset mendalam tentang Disneyland, simply karena gue nggak bisa melupakan gemuruh di dada saat gue pertama kali memandang istana Disneyland di usia 6 tahun.

Sama berapi-apinya saat gue melakukan final mixing untuk sebuah episode podcast, yang gue kerjakan dengan intens selama berminggu-minggu.

Menurut pandangan beberapa pakar hidup, ini membuat gue nggak fokus. Gue dianggap nggak akan bisa punya karya magnum opus atau karir yang melonjak, karena fokus gue kemana-mana, sehingga gue nggak mengasah satu hal saja, lalu jadi expert.

"Jack of all trades" atau "generalist" seringkali dianggap sebelah mata di dunia yang mengagungkan "spesialis" ini. I’d love to be a specialist. I have huge respect for specialists. But I just can’t. For many, many times, I tried to focus. Misalnya, selama satu periode tertentu, gue coba fokus pada Zumba saja. Atau podcast saja. Atau menulis saja. But it simply couldn't be done. Gue terlalu passionate pada banyak hal.

Gue bahkan passionate pada pasir basah yang membenamkan kaki gue, saat gue berdiri di bibir laut. Gue passionate pada karya yang dibuat dengan sepenuh hati, sehingga gue bisa berderai air mata ketika mendengarkan lagu atau nonton film bagus yang bahkan bukan selera standar gue. Gue kadang ketawa-ketawa sama ponakan gue yang masih balita, trus nangis sendiri karena terharu punya ponakan selucu dia. Gue passionate pada hal-hal terkecil dalam hidup.

Film Soul seakan-akan ngomong ke gue, “Nggak apa-apa kalau kamu bahkan nggak punya satu passion/purpose spesifik sama sekali! Bukan berarti hidupmu jadi tanpa tujuan.” 

Yang lebih mengharukan, gue juga merasa film ini menjustifikasi my childlike passionate personality. Lo sadar nggak, bahwa semakin kita tua, kita semakin susah merasa kagum, terkesan, dan excited, bahkan dengan hal-hal “besar”?

Buat elo yang seangkatan gue, apakah lo ingat—misalnya—saat lo pertama kali menganga lebar di bioskop, melihat dinosaurus hidup lagi lewat film Jurassic Park? Apakah lo ingat saat lo pertama kali menginjakkan kaki di pesawat, melihat awan dan bumi yang keciiil lewat jendela, lalu menapakkan kaki di sebuah negara asing yang beda banget dengan negara kita? Do you remember your first kiss? Kapan terakhir kali elo merasakan gemuruh di dada, karena terkesan banget terhadap sesuatu yang terasa grander than your life?

Kalaupun mental gue makin digerus beban hidup, gue akan “berusaha” untuk selalu kagum, dengan menghargai hal-hal kecil dalam setiap pengalaman hidup. Gue akan selalu excited main ke Dufan, walaupun gue udah puluhan kali main ke sana sejak kecil, dan gue akan selalu tepuk tangan kelar nonton film yang menyentuh gue.

Semakin kita tua, memelihara rasa kagum ini semakin sulit, lho. Mayoritas orang di sekitar gue udah hampir kehilangan spark hidup mereka sepenuhnya. Suami, teman, dan keluarga gue selalu merasa biasa-biasa aja saat melihat dan mengalami hal baru. Yaa, hepi. Tapi… ya udah, lewat begitu aja, tanpa meninggalkan jejak di hati dan pikiran. 

Gue pernah ngobrol sama seorang kerabat, yang udah usia paruh baya, dan nanya kenapa orang semakin tua, jadi semakin susah kagum? Apakah hanya karena, "you’ve seen it all?" Sudah melihat 'semuanya' di dunia, jadi udah nggak ada lagi hal baru yang bikin excited?

Dia bilang, iya.  

Tapi trus dia bilang, alasannya lainnya adalah karena banyak orang yang semakin tua, semakin bitter. Soalnya, hidup yang keras ini mengajarkan bahwa kita akan selalu kecewa. Selalu. Trus, gue dinasehati untuk nggak usah excited-excited amat dalam hidup, karena kita harus selalu bersiap kecewa. Jangan lengah, sehingga nanti nggak terlalu sakit. 

To be passionate, you have to be vulnerable. Bersedia rapuh. Dan bagi dia, rapuh itu berbahaya.

Gue menjawab, “Nggak, Mas. Saya senang kalau bisa terus passionate dan excited mengalami hal-hal kecil, bahkan hal-hal yang nggak baru buat saya.” 

Gue nangis sampe benyek saat di akhir film Soul, Joe Gardner menyadari bahwa walaupun dia tiap hari mikirin musik jazz, dia teringat bahwa dia juga merasakan spark saat melakukan hal-hal kecil: berdiri di pinggir pantai, merhatiin pepohonan saat main sepeda di waktu kecil, dan dengerin musik sama bapaknya. 

All these small, seemingly insignificant things can give us so much fuel to live. Really live. And we should never take them for granted. 

Happy New Year, guys! May you find sparks in your life most days—if not every day—in your life.

***

PS: Siapa tahu lo penasaran sama review gue tentang elemen lain Soul:

Gue suka banget sama desain animasi semua karakter dalam film ini, bahkan sampai ke karakter-karakter yang cuma numpang lewat di latar belakang. Bagus banget!

Soul berusaha keras untuk nggak menampilkan sosok-sosok African-American dengan stereotypical. Misalnya, asal hidung besar, asal kribo, trus warna kulitnya sama semua. Ibaratnya, orang Asia 'kan nggak semua asal sipit dan kulit kuning, tho? Jadi, variasi animasi karakter dalam Soul beragam banget. Gue paling suka sama sosok Dez dan Dorothea, mulai dari bentuk tubuh sampai gerak-geriknya.

Soul juga berusaha keras menjadi diverse dan inklusif, sehingga walaupun tokoh utama cerita ini adalah tokoh-tokoh African-American, SEMUA tokoh pendukungnya berasal dari beragam etnis - mulai dari dokter turunan India, murid turunan Cina, dan warga New York Muslim berhijab. 

Sosok Jamie Foxx dan Tina Fey dua-duanya bagus, tapi gue suka banget Jamie Foxx sebagai Joe, Phylicia Rashad sebagai ibunya (!!!), dan Angela Basset sebagai Dorothea Williams (!!!)

Musiknya juga asik banget, of course <3

5 comments:

Anan said...

Love your review, as always! I cried, too (and a bit jealous with 22). It was a good reminder, especially this year where priorities shifted and exhaustions peaked. Thanks for writing this, wishing you a real Happy, New Year!

Amanda, Faresha said...

Hai, Kak Laila. Thank you for the beautifully wrapped review! Kalau Kak Laila nangis sampe benyek di akhir film Soul, aku nangis ketika sampai di akhir tulisan ini (meskipun nggak sampe benyek-benyek amat, sih :D) Waktu baru nonton Soul, aku nggak merasa sebegininya, mungkin karena tipe film Pixar-ku lebih condong ke Coco kali, ya. But your writing really brought me a different energy along with deeper point of view.

Hope you and your family have a great new year's day, Kak!

Fradita Wanda Sari said...

So far film Pixar favoritku Inside Out, untuk Soul ini belum nonton. Wonder what kind of person I am then hehe.

tya said...

Been reading your blog dari.. tahun berapa yak, dan selalu terenyuh cem baca cupofjo. Dan kali inii.. kenapa gw baca ini ikutan berkaca-kaca yaaa? Terima kasih sudah memvalidasi ke-palugada-an ku yaaah La.. Btw karena being passionate also means being vulnerable, mau minta saran gimana supaya gak sakit-sakit amat kalau gagal/kecewa? I bet you went through it thousand times. Btw maaf jg udah lama gak ikutan zumba lagi.. karena kebetulan lagi wara-wiri jadi generalist :')

Jane Reggievia said...

Selalu suka dengan review Mba Lei yang deep dan sangat jujur. Apalagi diselipin cerita pengalaman hidup yang bikin berkaca-kaca gini (':

Sebagai milennial, aku juga pernah kejebak (tepatnya salah kaprah) soal passion ini. Makin ke sini aku makin diingatkan kalau jangan pernah mengotak-ngotakkan satu kegiatan sebagai passion. Now I believe passion is a spirit, dan itu bisa dipakai di setiap kegiatan yang kita cintai. Seperti yang Mba Lei bilang. I can totally feel your spirit in everything you do, Mbaa. Mulai dari nulis blog, terus akhirnya podcasting sampai jadi instrukstur Zumba. Kagum banget deh sama spirit kamu, Mbaa ❤

Anyway, selamat tahun baru blogger kesayangan dan panutanku! Salam bugar dan semangat selalu ya! *virtual hugsss*

Post a Comment