Jul 6, 2020

Catatan Dari Karantina: Sabar


"It’s incredibly useful both for us personally and on a historical level to keep a daily record of what goes on around us during difficult times," kata Ruth Franklin, seorang penulis. "Take a moment and make some notes about what's happening. Call it your Coronavirus diary, your plague journal, whatever. It's important. Later, you will want a record."

Seperti yang disarankan oleh banyak penulis dan ahli sejarah, kita sepatutnya punya catatan tentang kehidupan selama pandemi ini. Bukan cuma untuk kelegaan mental diri sendiri, tapi juga untuk catatan sejarah di kemudian hari. Nama saya Laila, dan ini salah satu catatan saya.

---

Salah satu akibat internet dan teknologi adalah kehidupan yang serba cepat dan instan, termasuk kehidupan pacaran.

Instan kenalannya, instan pendekatannya, instan jadiannya, instan berantemnya, nanti instan juga putusnya. Instan tuh maksudnya, prosesnya cepet banget, tanpa ada banyak waktu untuk direnungkan.

Misalnya, hari ini kenalan sama cowok di Tinder, besoknya udah chatting seharian, lusanya udah senewen karena si dia nggak balas chat lebih dari dua jam, tiga hari kemudian ketemuan, dua minggu kemudian pacaran, besoknya sudah pasang foto gandengan di Instagram, lusanya udah berantem lagi karena ada cewek cantik nge-like foto pacar kita, dan seterusnya.

Internet juga membuat kita susah menjaga kehidupan pribadi kita. Nowadays, it takes a lot self-strength for millennials and Gen-Z to NOT share our personal life at all—at all—to the public, lewat media sosial. Termasuk kehidupan pribadi percintaan. 

Bukan sekedar nge-post Instastory kisah kencan ke mall atau lirik lagu penuh kode, lho. Di Twitter dan TikTok, puluhan kali gue menyaksikan netizen oversharing kehidupan cinta mereka. Mulai dari nangis-nangis ditinggal kawin, nangis-nangis karena pacaran sama suami orang, sampai mendetilkan seks pertama mereka lewat thread Twitter. Nih, mamam nih kisah cintaku, mamam! In return, please give me likes and comments! Mungkin begitu jeritan batin para pengabdi konten.

It’s the story of modern love.

***

Gue masih dalam karantina, dan katanya, selama karantina pandemi ini, semua akan drakor pada waktunya. Hal ini terjadi pada gue. Minggu lalu, gue baru melepas keperawanan drakor gue dengan menyelesaikan satu-satunya drakor yang pernah gue tonton seumur hidup—Reply 1988.

**WARNING: Sepanjang post ini bakal banyak spoiler**



Buat yang belum pernah nonton, berikut sinopsis super singkatnya:

Reply 1988 (2015) adalah sebuah serial TV Korea Selatan, yang berkisah tentang persahabatan lima orang remaja SMA—satu cewek, empat cowok—di Seoul, pada tahun 1988. Mereka bersahabat dari kecil, berhubung mereka hidup tetanggaan di sebuah kompleks perumahan. Reply 1988 nggak cuma berkisah tentang kehidupan lima remaja ini, tapi juga keluarga mereka masing-masing, dibalut dengan berbagai budaya pop tahun 80-an yang beken di Korea Selatan saat itu.

Apa yang membuat Reply 1988 istimewa?

Ditanya begini, para penggemar Reply 1988 pasti rebutan meneriakkan jawaban yang beragam, “Cerita keluarganya yang hangat!” “Nostalgianya yang mengharukan!” “Kehidupan anak kompleknya!” “Kisah cintanya yang manis!”

Nah, soal kisah cintanya.

Yang bikin gue lumayan tertohok pas nonton Reply 1988 adalah karena gue berulangkali diingatkan, cinta itu harus s a b a r.

Waktu itu relatif. Lima menit nggak ada rasanya kalau dilewatkan sambil pacaran, tapi terasa banget kalau dilewatkan sambil plank. Kesabaran juga relatif. Lebih tepatnya, bergeser.

Di Reply 1988, definisi “sabar” adalah memendam perasaan cinta selama 6 tahun penuh, tanpa pernah mengungkapkannya sama sekali, lewat medium apapun. Daya tahan Jung-hwan, Sun Woo, apalagi Taek memendam cinta tuh kuatnya minta ampun, dibandingkan daya tahan kita-kita di tahun 2020 ini, dimana definisi “sabar” adalah mendengus-dengus emosi mengganti profile picture di WhatsApp jadi warna hitam legam dengan napsu, setelah pacar nggak ngabarin selama 24 jam. Duileee.

Cerita-cerita begini banyak gue denger terjadi di generasi atas. Makin tua generasinya, makin jauh mereka dari teknologi, makin rutin mereka mempraktekkan delayed gratification, sehingga makin besar juga kesabarannya.

Gue pernah denger, salah satu tahanan politik Indonesia yang diasingkan ke Pulau Buru selama belasan tahun bisa sabar menyimpan cintanya kepada pacarnya dengan rapi, walaupun ketika si tahanan bisa kembali ke Jakarta, pacarnya udah nikah juga. Ya Allah, real life drakor, nih.

Beberapa teman gue yang Gen-X juga heran sama anak-anak zaman sekarang yang cepet banget ngambek saat pacaran, sementara mereka dulu santai aja ninggalin pasangannya pergi dinas kerja, trus nggak ngabarin dua minggu penuh. Pas kembali pun, mereka disambut dengan santai oleh pacarnya.

Gue juga punya teman angkatan Gen-X, yang pas zaman sekolah dulu harus pindah dari Sumatra ke Jakarta. Dia keasikan di Jakarta, sampai nggak ngabarin pacarnya SAMA SEKALI selama tiga bulan. Setelah tiga bulan, baru dia diputusin pacarnya lewat surat.

Sebagai seorang Milenial, gue merinding ngebayangin ditinggal berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tanpa kabar. So much trust! So much patience! Mana sanggup, maemunaaah… begitu jeritan para Milenial dan Gen-Z penuh kecemasan ini.


Selama nonton seri Reply 1988, I think about this a lot.

Gue mikir, betapa internet dan teknologi membuat kita haus banget terhadap instant gratification, termasuk dalam hal percintaan. Dalam hati, kita punya standar-standar tertentu dalam pacaran, yang umumnya merefleksikan ketidaksabaran. Misalnya, chat harus dijawab dalam kurun waktu maksimal sejam! Kalau nggak, artinya dia nggak cinta! Minimal, patut dicurigai! Atau, kalau kita bikin Instagram post yang super manis buat si doi, selayaknya doi komen atau like dalam waktu sesingkat-singkatnya, dong. Kalau nggak? Uuuu, mari singsingkan lengan baju, kita tabuh genderang perang.

Angkatan gue—milenial—bukanlah digital native. Nggak seperti Gen-Z yang sudah menggenggam internet sejak baru lahir, kami sempat ngerasain era analog, seperti di Reply 1988. Untuk menjalin asmara, kami sempat harus ngandelin pager, telpon rumah, telpon umum, bahkan surat. Hal-hal tersebut membuat kami harus sabar.

Ketika gue pacaran jaman pra-ponsel dulu, gue sengsara berat, karena harus bersabar setengah mati untuk berkomunikasi sama pacar. Apalagi ‘kan kita Sobat Cemas sejati, yak, jadi kalau lagi berantem atau kangen sama pacar, gue makan atinya minta ampun. Belum lagi kalau kita musti terpisah jarak. Misalnya, salah satu lagi ada yang musti ke luar kota. Makin sulit komunikasi. Berantem, pula. Mamam, tuh, airmata sepanjang malam.

Ketika smartphone mulai keluar, gue hepi, dong. Gue mikir, wah akhirnya tiba juga, nih, era futuristis ala Back To The Future II. Dulu, bisa chat realtime lewat ponsel rasanya magis banget, lho. 

Harapannya, anxiety gue saat pacaran bakal kikis dengan kemajuan teknologi ini. Ternyata nggak juga. Seperti ramalan dystopia ala Black Mirror, ternyata teknologi membuat banyak hal makin buruk. Gara-gara internet dan teknologi, anxiety, insecurity, dan drama pacaran bukannya menurun, malah meningkat. Kesabaran makin pendek karena nggak dilatih, pertengkaran juga makin tajam karena—berbeda dengan jaman surat-suratan—emosi mentah lebih cepat dimuntahkan lewat chat, tanpa sempat diproses dulu. We spew out hate replies so easily. Apalagi, bahasa pesan teks rentan miskomunikasi dibandingkan bahasa lisan.

Sekarang ini, kesabaran tahun '90an gue tinggal kenangan. Seiring dengan lengketnya teknologi di diri gue, kesabaran gue udah nggak ada bekasnya. I’ve become a full-blown anxious person, who cannot stop scrolling when my mind is restless, bored, happy, or sad.

***

Trus, zaman sekarang, dunia berjalan cepat banget. Kalau kita putus cinta, ada ratusan quote tersedia di media sosial yang mendorong kita untuk “move on” secepat-cepatnya. Nadanya biasanya pake girlpower-girlpower-an, gitu. “Move on, strong girl! You deserve better!” supaya kecepatan move-on kita makin ngacir. The world pressures us to move-on, and we have to do it ASAP.

Patah hati memang ngerepotin. Kita jadi susah belajar, susah kerja, susah bersosialisasi. It’s very inconvenient. Maka wajar kalau kita kepengen move-on secepat-cepatnya. Apalagi—seperti yang gue sebutkan di atas—society puts high merit on how fast we move-on. Itu bahas Tegalnya. Artinya, semakin cepat kita move-on, masyarakat akan menganggap kita semakin hebat.

Padahal, efek patah hati itu unik untuk masing-masing orang, dan efek patah hati nggak ada standarnya. Bisa cuma seminggu, bisa bertahun-tahun. Nggak ada satu pun faktor eksternal—mulai dari film-film Netflix sampai kutipan-kutipan penyemangat di medsos—yang bisa mengakselerasi penyembuhan patah hati secara penuh. Penyembuhan patah hati butuh waktu, dan waktu yang dibutuhkan tiap orang berbeda. It’s normal. It’s very human.

Kita nggak bisa nge-judge, “Idiiih, pacaran dua bulan doang, kok, patah hatinya dua tahun, sih? Move-on, dong!”

Pesan gue, kalau lo lagi sakit hati dan ada bocah baru menetas komen begitu, cabein aja mulutnya. Nggak apa-apa, kok. Gue restui (siapa gue?!). Gue juga merestui siapapun untuk patah hati selama apapun (siapa gue?! Part 2), dan yakinlah bahwa nggak ada penyebab patah hati yang terlalu sepele. Baik itu karena pasangan, keluarga, atau karier.

Maka gue sama sekali nggak nge-judge Sun Woo yang nggak bisa move-on selama lima tahun lebih—bahkan sampai insomnia—setelah putus sama Bo-Ra, padahal masa pacarannya singkat. The boy took his time. Nobody rushed him. And none of us should feel rushed either.


Ancoooor hati tanteee...

Dari perspektif abad 21, kita pasti gemes, ya, melihat pergerakan kisah asmara tokoh-tokoh Reply 1988 yang leletnya minta ampun. Belum lagi, sempat terjadi banyak miskom gara-gara nggak ada ponsel atau komputer (halo, Mi-Ok dan Jung-bong). Anxiety gue sampai triggered menyaksikan betapa banyaknya miskom dan sakit hati terjadi di Reply 1988, cuma gegera nggak ada henpon.

Tapi, di sisi lain, ketiadaan gadget membuat para tokoh Reply 1988 jadi bisa memproses perasaan mereka sampai matang (walaupun dalam kasus Jung-hwan, kayaknya kematengan sampai busuk, ya). Rasanya, hari gini, gue udah jarang nemu orang yang rutin merenungi perasaan galaunya selama berjam-jam, tanpa distraksi gadget atau internet, sebagaimana Jung-hwan atau Taek selalu merenungkan dan memproses perasaan mereka tiap malam.

Ketiadaan gadget juga jadi penguji ketangguhan cinta tokoh-tokoh Reply 1988. Misalnya, Jung-bong yang rela nungguin Mi-Ok datang ke kafe selama berjam-jam karena miskom, atau Jung-hwan yang rela nungguin Deok-sun selama bertahun-tahun. Mungkin, karena nggak ada distraksi dari medsos atau Tinder, cinta mereka jadi fokus bak pakai kacamata kuda. Kalau mereka sedih, nggak lantas browsing profil cewek-cewek lain demi menutupi kesedihan mereka. Fokus menuju satu titik!

Selain itu, ketiadaan gadget juga membuat kita lebih menghargai gestur-gestur cinta sekecil apapun dari pasangan kita.

Buat angkatan gue atau lebih tua: apakah lo ingat rasanya pacaran era pra-ponsel? Masih ingat nggak, pas pertama kali surat-suratan cinta? Gue masih banget. Konsep isi suratnya gue rancang berhari-hari. Kertas suratnya spetsial beli di Hallmark Metro PIM seberangnya KFC. Nggak lupa disemprot parfum dulu sebelum dikirim.

Dan pas dapat surat balasannya, surat itu rasanya pengen gue pigura, lalu dipandang selamanya. Semua elemen dalam surat tersebut terasa indah, mulai dari tulisan tangan sang pacar, sampai wangi kertasnya yang pasti juga karena disemprot parfum! (ternyata nggak, pas dulu gue konfirmasi ke pacar. Halu, aja). The little things mattered so much. Jadi gue paham banget perasaan Jung-bong pas pertama kali surat-suratan sama Mi-Ok.

Gue juga ingat masa-masa tengah malam mindik-mindik ke ruang tamu, untuk nyeret telpon kabel ke kamar gue, demi bisa telponan sama pacar sampai ketiduran, sama seperti Deok-sun. Trus, maksain nutup penuh pintu kamar, sampai lama-lama kabel telponnya putus. Ciyan.

Apakah lo ingat rasanya ngobrol—bukan chatting—sama pacar sampai ketiduran? Dalam obrolan, ada jutaan pesan non-lisan yang nggak ada dalam tulisan, lho. Ada intonasi yang berubah, ada jeda setelah kalimat tertentu, ada suara ketawa yang berbeda-beda jenis, dan masing-masing pesan non-lisan ini punya sejuta makna. Biarpun pacar bilang dia baik-baik aja, kita bisa dengar dari nada suaranya, bahwa dia sebenarnya nggak. Real conversation—instead of text messaging—is so important, and we often forgot about this.

Dan karena ngobrol lewat telpon sama pacar itu jarang bisa dilakukan, setiap percakapan jadi dieman-eman banget. Disayang-sayang. Sampai sebelum angkat telpon aja, gue suka latihan ngomong “Halo?” 100x dulu supaya intonasinya pas dan merdu. Bikin kesel, tapi adorable.


Reply 1988 melempar gue ke masa-masa tersebut: masa-masa dimana kita harus bersabar untuk semua hal, termasuk percintaan. Bersabar mendapatkan cinta, bersabar meresapi patah hati, sehingga membangun karakter yang kuat lewat delayed gratification. Dan karena nggak ada medsos, semua ekspresi perasaan kita musti disimpan sendiri, tanpa mendapat validasi ataupun respon dari netizen, and wouldn’t you think that would makes us more focused?

Kalau kata temen gue, Michaelangelo nggak mungkin bisa nyelesain ngelukis Sistine Chapel di masa sekarang, karena pasti kedistraksi mulu sama henpon.

Pandemi udah membuat hidup jadi lamban. Nggak kebayang, kalau harus karantina di era Reply 1988, dimana dunia berjalan lebih lamban lagi, dan kehadiran orang tercinta juga terasa jauh lebih langka. Tapi mungkin ini bukan berarti hal buruk. Our (personal) life can be much, much more simpler.

Kita nggak mungkin mundur dalam perihal teknologi. Masa' mau buang semua gadget kita? Tapi mudah-mudahan, kita bisa berusaha untuk lebih sering mematikannya, lebih sering berkontemplasi, dan lebih sering nahan diri untuk nggak langsung ganti profile picture penuh kode, biarpun pacar nggak kasih kabar selama berjam-jam. Duileee.

5 comments:

ayu said...

selamat sudah 'menjebolkan' pertahanan drakor ya Mba! hehehe. Kalau suka banget Reply 1988, kusaranin lanjut ke Reply 1994 & Prison Playbook. Same producer, same warm feeling pas nontonnya hehe

www.joeyz14.wordpress.com said...

Wah..menarik pembahsannya mba Laila. Instant gratification. Emang kurang seru pedekate and pacaran jaman sekarang..tinggal stalking socmed. Reply 88 emang masih da best. Perasaaab nonton ini thn 2016, belum juga bisa move on

Jane Reggievia said...

First of all, SELAMAT YAA akhirnya melepas keperawananmu pada drakor ((:

Kebetulan aku belum nonton yang 1988, tapiii sudah nonton sekuel 1994 dan nggak bisa move on sampai hari ini. Ternyata ceritanya kurang lebih sama ya semua sekuel Reply ini. Di 1994, ada karakter namanya Chilbong. Doi adalah definisi yang sangat panjang sabar dalam percintaan. Bertahun-tahun dia mengejar cewek dengan teknik 10,000 jam, yang mana dia terapkan juga dalam dunia baseball sehingga dia bisa jadi pitcher handal nasional. Bingung akutu, kok ya dia sabarrrrr banget mengejar cintanya ):

Tentang ketidaksabaran dan teknologi, cuma bisa bilang: May God always bless our children ya, Kak. Entah gimana jamannya mereka nanti dengan teknologi, mudah-mudahan selalu diberi panjang sabar oleh Gusti Allah (:

Unda Anggita said...

Can not relate kerana daku masi virgin soal drakor NGAHAHAHAHAHAH *ketawa jail

Mbak Lei, I finally visit (and read) your blog again. I feel relieved :')

prin_theth said...

Unda Anggita: Makasiiih :))

Tapi blogpost ini 'kan sejatinya bukan tentang Reply 1988 :)

Post a Comment