May 10, 2020

Catatan Dari Karantina: Memori Terakhir


"It’s incredibly useful both for us personally and on a historical level to keep a daily record of what goes on around us during difficult times," kata Ruth Franklin, seorang penulis. "Take a moment and make some notes about what's happening. Call it your Coronavirus diary, your plague journal, whatever. It's important. Later, you will want a record."

Seperti yang disarankan oleh banyak penulis dan ahli sejarah, kita sepatutnya punya catatan tentang kehidupan selama pandemi ini. Bukan cuma untuk kelegaan mental diri sendiri, tapi juga untuk catatan sejarah di kemudian hari. Nama saya Laila, dan ini salah satu catatan saya.

---

Sebetulnya gue nggak suka lari.

Gue cinta olahraga—malah udah cari nafkah sebagai instruktur olahraga selama dua tahun terakhir—tapi sepopuler apapun lari di kalangan warga urban, gue nggak pernah menjadikannya sebagai pilihan olahraga.

Gerakan lari terlalu sederhana buat gue, yang berkepribadian rumit ini. Berlari ‘kan cuma mengayunkan satu kaki di depan kaki yang lainnya dengan kecepatan konstan. Begituuu terus. Sama sekali nggak ada stimulasi untuk otak. Akibatnya, lari nggak cuma bikin gue capek fisik, tapi juga bikin capek batin, karena sepanjang lari, kita cuma berduaan dengan pikiran kita. Nggak ada lagu pengiring senam ber-genre house music angkot, nggak ada seruan pelatih olahraga yang meneriakkan “TAHAN PLANK-NYA SEPULUH DETIK LAGI, YA!” padahal udah lima menit, dan nggak ada deru napas bernada sakratul maut dari peserta olahraga di sebelah kita.

Maka lari membuat pikiran gue kosong, hingga akhirnya diisi oleh kontemplasi dan memori hidup. Bagi sebagian orang—termasuk gue—nggak ada yang lebih mengerikan daripada berkontemplasi, karena kadang kontemplasi membuat kita jadi sadar bahwa hidup kita sebetulnya nggak bahagia-bahagia amat. Atau malah nggak bahagia sama sekali. Wow, auto-ngembeng.

Tapi di awal tahun ini, tiba-tiba gue punya dorongan untuk mencoba mulai lari. Awalnya gue nggak tau kenapa. Pengen aja. Ada dorongan alami yang nggak bisa dijelaskan, seperti tangan kita yang otomatis terdorong nyongkel jerawat yang sudah matang di pipi, atau membelai layar tiap Hyun Bin muncul.

Tapi setelah dipikir-pikir, dorongan alami itu mungkin muncul karena setahun terakhir, hidup gue terasa seperti mulut dan hidung yang dibekap: sesak. I inhaled, but I couldn’t exhale. Selama setahun ini, gue mencoba berbagai cara untuk menemukan kelegaan-kelegaan kecil dalam hidup, dan firasat gue, berlari bisa membuat gue sedikit menghela napas.

Maka berlari lah gue pada suatu sore, di stadion olahraga terbesar di Jakarta, tanpa target apapun. Tanpa disangka, gue nggak lari—gue terbang. Melesat. Ngacir.

Sebagai orang yang nggak suka lari dan nggak pernah rutin berolahraga lari seumur hidup, ternyata lari gue cukup kencang. Aplikasi GPS di ponsel mencatat kisaran kecepatan gue antara sembilan sampai sebelas kilometer per jam. Orang-orang pada yakin ini karena stamina gue udah terbangun sebagai instruktur olahraga, tapi gue pribadi tahu persis, gue lari kencang karena dikejar masalah.

Bensin lari gue adalah rasa marah dan kecewa terhadap berbagai hal. Kemarahan dan kekecewaan tersebut menjadi api, dan api tersebut menjadi bahan bakar untuk gue berlari kencang. Gue lari dengan dengusan napas emosional, amarah membara di mata, sambil memandang lurus ke langit jingga kemerahan tanda matahari mulai terbenam, sampai tumit Achilles gue menjerit kesakitan, dan airmata kontemplasi gue berleleran di pipi. Kalau diingat-ingat lagi, memang aksi gue itu norak banget, seperti aksi pacarnya Mas Boy ketika habis diputusin, tapi begitulah adanya. Emosi jujurku luber, nggak di-gas-gas-in, dan nggak ada yang bisa menghentikannya, termasuk rasa tengsin nangis di tengah stadion.

Gue mengulangi kegiatan itu sekali seminggu, selama beberapa minggu setelahnya.

Gue nggak pernah (mau) meditasi. Ngakunya, sih, karena gue nggak sanggup duduk diam lama. Tapi alasan sebenarnya adalah karena menurut gue meditasi itu omong kosong. Sekarang gue percaya bahwa meditasi ada gunanya, tapi wujudnya nggak harus dengan duduk diam bersila dan memejamkan mata. Ternyata meditasi gue adalah dengan cara berulang kali mengayunkan kaki satu kaki di depan kaki yang lain, dengan pikiran kosong. Meditasi aktif, begitu katanya.

Setelah itu, kalau ditanya, apakah gue suka lari? Atau meditasi? Jawabannya tetap nggak, tapi gue membutuhkannya sekali-kali, seperti orang asma membutuhkan inhaler-nya dari waktu ke waktu—sebagai penyambung napas.

---

Pada minggu kedua bulan Maret, gue pergi ke Bali selama beberapa hari. Karena sadar akan Coronavirus yang mulai mewabahi Indonesia, gue menginap di sebuah kawasan kurang populer. Saat itu, pariwisata Bali mulai mati, sehingga selama gue di sana, cuma lima kamar terisi dari dua puluh satu yang tersedia di resort luas tersebut. Lokasinya pun terpencil, tepat di antara hamparan sawah dan pantai sepi. Cocok banget jadi setting film pembunuhan. Kalau gue diapa-apain, teriak pun kayaknya nggak ada yang denger. Naudzubillah, amit-amit.

Setiap pagi, tepat pukul 6.30, kaki gue melangkah ke luar lobi resort sepi tersebut, untuk lari.

Gue berlari tanpa arah pasti. Gue berlari dari satu banjar ke banjar lain, melewati berpetak-petak sawah hijau dengan latar belakang gunung megah menjulang. Gue berlari keluar-masuk gang perkampungan dimana ibu-ibu menggelar lapak-lapak sayur, melewati bale banjar dimana berbagai ogoh-ogoh raksasa sedang dalam proses pembuatan, dan menyusuri jalan raya yang diapit oleh sawah, dimana para petani sibuk membungkuk di sawah. Mereka memandang gue keheranan: kenapa orang kota suka sengaja cari lelah dengan berlari jauh? Sementara mereka mungkin setengah mati kepengen menikmati pagi dengan rebahan di rumah saja, alih-alih bersusah-payah menggarap sawah yang hasilnya juga nggak bisa mereka nikmati.

“Dasar, orang kota berada. Kalau ada yang susah, ngapain pilih yang gampang.” Gitu kali ya pikir mereka.

Gue berlari sejauh tiga kilometer, lima kilometer, tujuh kilometer, sampai nyaris nggak tahu jalan pulang. Mungkin sebenarnya gue memang pengen tersesat.

---

Pada pagi terakhir gue di Bali, seperti biasa, kaki gue melangkah ke luar resort pada pukul 6.30. Tapi alih-alih langsung berlari sejauh-jauhnya, gue berhenti sejenak di pinggir pantai yang terletak persis di depan resort, dan menatap lautan sambil berkacak pinggang.

Pagi itu, gue memutuskan untuk berdekatan dengan sang laut, dan berlari-lari kecil bolak-balik menyusuri trotoar yang membatasi jalanan aspal dengan pantai tersebut. Gue berpapasan dengan beberapa anjing, dua turis remaja Korea, dan segerombolan peselancar dari Eropa. Lari-lari kecil ini terasa nanggung dan sama sekali nggak memuaskan, maka akhirnya gue copot sepatu dan berlari sekencang-kencangnya di pantai pasir hitam tersebut.

Ini adalah pertama kalinya gue lari di alam bebas, dan perasaan yang dihasilkannya indah sekali. Derap kaki gue diiringi oleh deburan ombak, dan wajah gue berkali-kali ditampar angin sejuk yang asin. Kadang-kadang gue mendinginkan telapak kaki yang panas dengan menginjak air laut di bibir pantai. Ada ribuan pecahan kerang tajam tersebar di pasir hitam itu, sehingga lari gue lebih terlihat seperti lompatan-lompatan kecil seekor rusa yang menghindari kerang-kerang tersebut. Gait gue pasti buruk, tapi siapa peduli? Walaupun cuma sementara, I was free, and I was happy. Alam yang agung mengingatkan betapa kecilnya gue dan masalah-masalah gue. Gue bahkan sempat lari sambil terbahak—yang muncrat begitu saja dari kerongkongan, seperti bersin nggak tertahankan—sebelum kemudian menghapus airmata pahit dari mata. Lari di alam bebas membuat perasaan gue naik turun dan nggak terkontrol. Membingungkan, tapi juga menyadarkan, hingga akhirnya melegakan. Ini, ya, yang namanya katarsis?

Sebelum balik ke resort, gue berhenti sejenak untuk kembali menatap lautan. Lalu dengan ujung jempol kaki, gue torehkan nama orang yang menghancurkan hati gue menjadi ribuan keping selama bertahun-tahun di pasir, gue ludahin, kemudian menyaksikan nama tersebut terhapus ombak.

Gue berpapasan dan bertukar senyum dengan seorang bli yang tampaknya adalah seorang pemancing, sekaligus bertukar pandangan heran. Mungkin dia heran kenapa ekspresi wajah gue terlalu campur aduk untuk dibaca—apakah itu air laut atau air mata di pipinya? Sama-sama air asin, sih—sementara gue heran kenapa celana bli tersebut pendek banget, bak celana gemes gadis pemandu sorak.

---

Sekembalinya ke Jakarta, gue langsung masuk karantina. Seperti ratusan—mungkin nggak sampai ribuan—penduduk Jakarta lainnya, gue menaati aturan jaga jarak dan swakarantina di rumah. Alam bebas gue kini cuma sebatas halaman rumah, dan sampai sekarang, gue belum pernah bisa lari lagi.


3 comments:

Jane Reggievia said...

I know some people have their own "routines" to deal with things. I'm glad you found yours, Mba Lei. Apapun yang lagi dihadapi sekarang ini, semoga tetap kuat dan semangat ya! Salam olahraga! (:

Lia The Dreamer said...

Ahh, abis baca blog kakak jadi ingin coba lari di pinggir pantai deh! Seketika jadi ngerasa butuh liburan huahahaha.

Andhira A. Mudzalifa said...

Btw, aku baru nelatenin lari lagi setahun terakhir ini dan lebih cocok olahraga lari, walaupun masih lari-lari santai hehehe.

Tulisannya menyenangkan sekali. Enak buat dibaca :D

Post a Comment