Feb 10, 2015

"Marilah Kita Pergi Sekeluarga..."

IMG_6452

I love amusement parks. Bagi yang sempet baca tulisan-tulisan gue seperti ini, ini, ini dan baca blog gue yang ini, mungkin udah tau, segimana cintanya gue terhadap taman bermain. Sampe sekarang, taman bermain alias amusement parks tetap menjadi tujuan rekreasi utama gue, termasuk saat berekreasi bareng si bocah.

Sebagai warga Jakarta, taman bermain apa, sih, yang menjadi andalan gue? Dunia Fantasi, dong.

IMG_6443

IMG_6464

Pertanyaan selanjutnya, emang balita kayak Raya udah cocok dibawa ke Dufan?

Gue malah berkesimpulan, umur Raya adalah umur emas untuk main ke Dufan. Soalnya, dia udah bisa menikmati banyak hal disana… tanpa harus bayar! Anak-anak wajib beli tiket kalo udah mencapai tinggi badan 100cm. Sampe sekarang, Raya belum sampe 100cm, jadi Alhamdulillah ya, naaak… *balik selipin duit di beha*

IMG_6157

IMG_6160

Berikut adalah berbagai atraksi Dufan yang udah diicip Raya, sebagai balita dibawah 100cm:

a.k.a. karousel a.k.a merry-go-round a.k.a. kuda-kudaan. Tanpa perlu dijelasin panjang lebar, pasti pada setuju, yaaa, bahwa ini adalah wahana klasik yang aman untuk segala usia.

Sebelum nyobain Turangga-Rangga, Raya pernahnya naik karousel yang berukuran kecil—di Jungleland, Universal Studios Singapore, sampe area bermain di mall-mall—dan naik kudanya kudu masing-masing, nggak bisa boncengan. Nah, Raya suka tegang kalo musti duduk sendiri gitu.

Karena Turangga-Rangga lebih besar, kita bisa boncengan, deh. Hore!

IMG_6183

IMG_6189


Seperti ferris wheels besar lainnya, Bianglala adalah wahana melankolis nan damai… dengan catatan, kalo yang naik nggak takut ketinggian dan/atau suka heboh sendiri. Ngeri, booo, kalo gondolanya goyang-goyang pas lagi berada di puncak tertinggi! Mau selfie juga jadi gemeter #uzur

IMG_6441   IMG_6212

IMG_6214

IMG_6246

Gajah Beledug

Raya’s favorite ride ever! But, man, you can really feel how ancient this ride is. Gerakan naik-turunnya udah nggak mulus, bikin kebat-kebit. But everything works just fine, sih, and it’s still a fun ride!

IMG_6284
Mukeee...


Wahana favorit Raya nomer dua setelah Gajah Beledug.

Raya belum paham dengan berbagai propinsi dan negara yang ditampilkan, tapi dia tetep girang ngeliat boneka-boneka binatang yang ada di Istabon ini.

Pada kunjungan kami di Desember 2014, gue baru tau bahwa Istana Boneka udah di-refurbish. Nggak ada perubahan yang drastis pada interiornya, tapi tetep kerasa perbedaan pada layout-nya. Urutan propinsi dan negaranya juga ada yang berubah (apal banget, Bu?). Tapi secara keseluruhan, Istabon jadi lebih bersih dan rapih. Good job!

IMG_6569

IMG_6593

IMG_6603

Perubahan yang drastis, tuh, tampak pada kostum boneka-boneka yang mejeng di awal dan akhir wahana. MERIAH GELAKKK! Kayak perpaduan kostum Mardi Gras, Jember Fashion Festival, dan pertunjukkan drag queen. Gaspol, nek! Biar kerasa ngejedar di awal dan akhir wahana kali, ya.

But I like it!
IMG_6573

IMG_6574
National costumes on steroid!

Sampe sekarang, Istana Boneka masih kerasa sebagai wahana Dufan yang paling legendaris, klasik, and still going strong. Siapa, sih, yang nggak punya kenangan pacaran jaman karya wisata sekolah di Istabon? Zzzz.

IMG_6627

IMG_6631


Satu hal yang bikin gue syok dan sedih adalah… sekarang gue mual kalo menyusuri Rumah Miring!

Astagaaa! Ini ‘kan atraksi walkthrough yang nggak ada apa-apanya. Jaman muda, gue bisa jumpalitan di dalam Rumah Miring ini, foto-foto ala video klip Smooth Criminal-nya Michael Jackson. Sekarang, kok, jalan normal aja akika mual T___T Pusing-pusing nggak stabil gitu, lho. Bener-bener, ya, penuaan memang nggak bisa dilawan.

Raya also seemed unimpressed,
tapi wahana ini tergolong aman buat toddler.

Petualangan Kalila


Dulu, sewaktu Dufan mengumumkan bahwa mereka akan membongkar Balada Kera, gue rasanya pengen tebalikin meja sambil teriak TIDAAAAAAAKKK!

How could they?! Balada Kera is an absolute classic
dan menurut gue, lagu-lagu daerah (harusnya) akan terus hidup selama puluhan generasi ke bawah, kok.

Well, gue nggak tau, sih, apakah lagu-lagu daerah kayak Surilam Jot-Njotan atau Saputangan Babuncu Ampat masih diajarin ke anak-anak SD, di tengah semaraknya sekolah-sekolah International Baccalaureate, Cambridge, dan National Plus sekarang ini, tapi menurut gue adalah KEJAHATAN kalo enggak! *gebrak meja* *kirim Raya ke SD negeri*

Gue paham kalo Dufan pengen ‘meremajakan’ diri. Mengubah Balada Kera menjadi sebuah atraksi baru yang lebih ‘modern’ adalah salah satu caranya. Masalahnyaaa…

1. Balada Kera, tuh, udah bagus. Konsep, dekor, aransemen lagu-lagu serta animatroniknya ciamik, ah. Gue terakhir kali nonton Balada Kera sekitar taun 2010 dan masih suka. Nggak berasa kuno atau out-of-date. Gue lebih setuju kalo Balada Kera di-refurbish aja, kayak Istana Boneka, bukannya diganti total.

2. Petualangan Kalila—atraksi pengganti Balada Kera—belum bisa menandingi Balada Kera dalam banyak hal. Jalan cerita, animasi, dan animatroniknya lemah, sehingga secara keseluruhan, Petualangan Kalila masih kalah sama Balada Kera. Padahal ini teknologi tahun 2000an vs teknologi tahun 1980an, lho. This proves that SOUL is just as important as technology and/or modernity.

Kayaknya gue subjektif ya, berhubung gue adalah anak orde lama dan memang tumbuh dengan Balada Kera, jadi penilaian gue kecampur sama unsur nostalgia. Raya, sih, kalem aja nonton Petualangan Kalila. Memang, jalan ceritanya gampang diikuti anak-anak, apalagi animatroniknya terdiri dan hewan-hewan yang emang udah akrab dengan toddler (harimau, buaya, kancil, dll).

But did the overall audience enjoy the show?
Biasa aja.

Intinya, I didn’t think Balada Kera was ‘broken’, so why changed it?

Hello Kitty Adventure


Nah, ini dia wahana terbaru Dufan. Sebenernya, Hello Kitty Adventure ini lebih cocok disebut eksebisi dibandingkan wahana. Pengunjung cuma dibawa masuk ke sebuah teater / bioskop kecil, nonton film singkat tentang Hello Kitty and friends keliling dunia, kemudian pengunjung digiring ke sebuah ruangan dimana mereka bisa foto-foto bareng berbagai patung tokoh Sanrio. Udah, gitu doang.

Sempet dateng ke Doraemon 100 Gadget Expo di Ancol Beach City? Nah, mirip begitu, lah.

It’s not much of a ride, but a whole lot of cuteness.
Buat yang suka foto lucu-lucuan dan suka Hello Kitty, cucok lah.

Singkat kata, bayi aja bisa menikmati area Hello Kitty ini, apalagi balita.

IMG_6354

IMG_6379

IMG_6382

IMG_6384

IMG_6367

IMG_6375

IMG_6389

IMG_6408   IMG_6410

IMG_6413   IMG_6424

IMG_6415

IMG_6427

Parade dan Show

Semua taman bermain di dunia, tuh, pasti punya parade dan live shows. Sama halnya dengan Dufan.

Kalo untuk pertunjukkan musik dan tarinya yang kecil-kecil, gue nggak apal, dalam sehari ada berapa jenis, keluarnya jam berapa, dan lokasinya dimana aja.

Tapi untuk parade, gue inget mereka tampil setiap jam empat sore setiap weekend, mengelilingi Dufan mulai dari area gerbang masuk.

My recommendation? Go see it.
Beneran, deh. Gue, sih, sukaaa, terutama paradenya. Sangat menghibur, lho, mulai dari marching band-nya sampe bagian nari-narinya. Ditambah, setiap unsur dari parade ini disajikan dengan niat—kostum, tarian, sampe permainan musiknya. Para anggota parade pun hobi menyapa pengunjung dengan ramah.

Do watch it,
dan jangan lupa hargain performer-nya, yaaa. Disenyumin, ditepokin, atau mau dijogedin dikit, boleh banget #teamperformer

IMG_6508

IMG_6501


IMG_6523

IMG_6529

IMG_6531   IMG_6533

IMG_6551

IMG_6554   IMG_6556

Jadi itulah berbagai wahana dan atraksi yang sukses dicoba Raya, yang berarti aman juga untuk toddler pada umumnya. Kayaknya masih ada beberapa wahana atau atraksi lain yang bisa dinikmati bocah-bocah, sih. I’m thinking… Lorong Sesat a.k.a Rumah Kaca? Treasureland Temple of Fire? Perang Bintang?

Trus, ya. Misalnya pun anak gue masih terlalu kecil dan nggak bisa naik apa-apa di Dufan, kayaknya gue bakal tetep bawa main kesana, deh. Pertama, karena toh gratis? Kedua, because amusement parks are wonderful playgrounds for kids. Tanpa naik wahana satupun, gue yakin anak-anak tetep seneng lari-larian, liat berbagai stimulasi warna, suara, dan menyerap happy vibes dari orang-orang lain.

Kebahagiaan anak main di taman bermain nggak diukur dari banyaknya wahana yang dinaikin, lho. Kadang main gelembung sabun aja hepi, ya nggak sih?

***

Random Tips

1. Dalam memori gue, main ke Dufan saat akhir pekan, tuh, neraka banget penuhnya. Tapi ternyata itu DULU. Sekarang, saat weekend pun, Dufan relatif sepi, lho! Gue dua kali berturut-turut main ke Dufan di hari Minggu siang, dan crowd-nya bearable banget. Meskipun begitu, kalo mau dapet suasana paling lengang di akhir pekan, hindari jam 12 siang – 3 sore.

2. Di Dufan ada babyroom untuk menyusui dan ganti popok, kok. Cuma gue nggak tau ada dimana aja, karena gue cuma nyobain satu, yang berlokasi di dekat pintu masuk area Ice Age Arctic Adventure, sebelahnya Bakso Afung.

3. Sepengalaman gue, tempat makan yang paling nyaman di Dufan adalah foodcourt di area Ice Age. Tempatnya full indoor dan full AC, bersih, pilihan makanannya enak-enak, pleus bisa nontonin orang yang lagi teriak-teriak naik wahana, hihihi.

Sayangnya, mereka nggak terima kartu kredit dan debit selain Mandiri.

IMG_6335

IMG_6345

IMG_6338

IMG_6323

4. Kalo bawa stroller, kita bisa parkir stroller di deket antrian masing-masing wahana sebelum naik. Taro aja di deket penjaga / operator wahana, dan bawa barang-barang berharga. Aman dan udah lazim, kok.

***

Dufan’s Random Trivia

1. Yang menamai wahana-wahana Dufan adalah penulis Arswendo Atmowiloto someone genius, dan menurut gue beliau sukses menamai wahana-wahana Dufan dengan catchy tapi tetep 'Indonesia' banget. Contoh, Turangga artinya 'kuda' dalam bahasa Jawa. Trus, Baku Toki artinya 'saling hantam' dalam bahasa Manado, sehingga dijadikan nama wahana bumper cars alias bombom car. Ih, kok seruuu...

Dan kalo gue perhatikan, semua nama wahana original Dufan mengandung unsur pengulangan kata: Turangga-Rangga, Alap-Alap, Ontang Anting, Bianglala, Halilintar, Undur-Undur. Niagara-Gara Ubanga Banga. Catchy and poetic, aku suka!

(ralat: ternyata pencipta nama wahana-wahana Dufan bukan Pak Arswendo! Beliau katanya terlibat proyek Dufan aja, tapi nggak menamai. Sungkem ya, Pak...)

2. Dufan nyontek Disneyland? Emang iyaaa. Urban legend-nya, nih, dulu Ciputra pengen buka Disneyland di Indonesia. Walaupun pada tahun 1980an perekonomian kita lagi stabil dibawah Presiden Soeharto, pihak Disney tetep nggak ngasih ijin. Namapun Indonesia masih negara dunia ketiga, ya, dan Disney punya standar minimal untuk harga tiket. Daya beli warga kita dinilai belum nyampe.

Akhirnya, Ciputra ngirim timnya ke Disneyland Amerika selama sebulan untuk “nyontek” abis-abisan. Hasilnya…

Istana Boneka = It’s A Small World
Balada Kera = Country Bear Jamboree
Puri Misteri = The Haunted Mansion
Gajah Beledug = Dumbo the Flying Elephant
Perang Bintang = perpaduan Star Tours / Buzz Lightyear's Space Ranger Spin / MIB (dari Universal Studios)
… dan sebagainya

Di luar wahana-wahana yang “nyontek”, wahana Dufan yang lain “dibeli jadi” off the rack dari para produsen wahana di Jerman dan Italia, sama seperti amusement parks lain di dunia. Contoh: Kora-Kora, berbagai roller coasters-nya Dufan, Bianglala, Tornado, Histeria, de el el.

But then again, puluhan amusement park lain di dunia juga nyontek Disneyland, jadi yaaa… praktek ini normal aja kayaknya?

3. Oya, apa, sih, perbedaan istilah amusement park dan theme park? Amusement park adalah taman hiburan generik, tanpa tema. Contohnya: pasar malem, Taman Ria Senayan jaman dulu, Jungleland. Theme park adalah taman hiburan yang mempunyai tematik kuat. Contoh: semua taman bermain keluaran Disney, Universal Studios, Efteling, dan sebagainya.

Kita mungkin menganggap Dufan adalah amusement park, tapi sebenernya konsep awalnya adalah theme park. Sayang aja, ‘tematik’nya kurang terjaga. Perhatiin, deh, Dufan terbagi menjadi kawasan-kawasan bertema Asia, Amerika, Fantasi Hikayat, Jakarta, Eropa, dan sebagainya.

Contoh!

Asia: areanya Kora-Kora, Bianglala, dan sekitarnya. Perhatikan unsur warna merah, lampion, ukir-ukiran pagoda di tempat antrian wahana.

Amerika: area koboi-koboian yang menaungi Niagara-Gara, Rumah Kaca, Rumah Miring, dan sebagainya.

Fantasi Hikayat: areanya Halilintar, Ontang-Anting, simulator, dan sebagainya. Perhatikan dominasi warna putih, patung-patung dewa Yunani, dan facade berbentuk Sphinx segede bagong.

Makin kesini, tematiknya Dufan makin susah dijaga. Contoh, di kawasan Asia, kok ujug-ujug dibangun wahana Ice Age Arctic Adventure? Nggak nyambung sama tema Asia-nya dong? Emberan. Tapi mungkin lahan yang tersedia untuk membangun wahana Ice Age cuma ada disitu, mau gimana, dong?

Begitulah.

IMG_6200

***

Why Dufan Stays in My Heart

Waktu gue masih kerja untuk sebuah perusahaan taman bermain lokal, gue sempet pergi business trip ke Amerika untuk mengunjungi IAAPA, trade show tahunan terbesar untuk industri amusement park.

Disana gue ketemu para bapak-bapak dedengkot Jaya Group, pengelola Taman Impian Jaya Ancol, yang memang rutin datang ke IAAPA. Lucunya, karakteristik mereka sama semua—udah sepuh dan berambut putih, menyenangkan, hangat, dan punya aura kebijaksanaan serta wawasan seseorang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. You know, the wise, pleasant grandpa vibe. Semua tampak gagah dengan longcoat dan topi ala Frank Sinatra masing-masing.

That is how I think of Dufan: old, wise, nostalgic, and always pleasant.

Di tengah maraknya kemunculan berbagai taman hiburan di Indonesia, gue tetep sayang Dufan, karena Dufan punya satu keunggulan yang nggak dimiliki oleh tempat hiburan lain di Indonesia: nostalgia.

Dufan adalah taman bermain pertama di Indonesia, dan dia telah menjadi ikon hiburan jutaan warga negeri ini selama puluhan taun. Kalo lo ke luar negeri, trus ketemu sama anak rantau dari Jakarta, coba perdengarkan theme song Dufan atau Istana Boneka. Pasti matanya berkaca-kaca, kangen masa kecil dan kampung halaman.

Nah, rasa nostalgia ini nggak dimiliki oleh tempat hiburan lain di Indonesia. Rasa nostalgia ini mahal, lho! Nggak bisa dibeli. Dan pastinya, unsur ini lah yang bikin Dufan selalu ada di hati warga Indonesia. Aih, matiiik.

IMG_6265

IMG_6266



42 comments:

  1. Ahhh jadi pengen ke dufan!

    Sebagai anak di luar Jakarta, dufan beneran jadi impian banget dan sangat setuju kalau dufan punya "nostalgia" yang nggak dimiliki taman bermain lainnya. Masih inget gimana histerianya daku saat masuk dufan untuk pertama kali :D

    Yang paling mengesankan adalah Arung Jeram karena pengalaman pertamaaaa nyobain arung jeram. Antri, duduk manis dan tinggal jejeritan. Ahahaha :)))

    Wahana nyantai paling suka sama Bianglala. Dulu waktu SMP, pas sampai puncak bisa heboh aja trus foto-foto. Makin goyang, makin demen! Tapi udah kuliah pas di ferris wheel Trans Studio isinya cuma dzikir. Usiakah? Entahlah...

    ReplyDelete
  2. aku sebenernya terlalu cupu untuk main di Dufan. makanya ngerasa sayang beli tiketnya (yg semakin mahal). belum lagi males liat antriannya.

    tapi baca tulisan ini jadi pengen main ke Dufan lagi sekalian nostalgia. mungkin aku bakalan main atraksi toodler aja kayak Raya *cupu maksimal hihihi...

    ReplyDelete
  3. Seneng baca tulisan iniii, terima kasih infonya..

    Terakhir ke Dufan sekitar.. umm, 6 tahun yang lalu. Kebayangnya Dufan yang crowded, jadi belom pengen ajak anak ke sana. Tapi ternyata udah ngga serame itu ya, baiklah segera do fun at Dufan!

    ReplyDelete
  4. Daaaaang!
    Mba Lei sakses bikin pengen ke dufan sekarang jugaaa! hahahahah
    padahal aku udah males dan gak pernah ngerasa kangen sama dufan karena kotor, mainannya gitu2 aja, bosen... but, for the sake of nostaalgilllaaaaa....
    bahkan aku baru tau kalo sekarang ada Ice age dan foodcourt yang mumpuni... setdah udin lama banget berarti ya gak ke Dufan!
    BTW, entrance fee-nya sekarang beraposeee?

    ReplyDelete
  5. YA ENVELOPE AKU JADIPENGEN KE DUFAAAANNN...... Da lama ga kesana..

    Tapi... Aku ga brani naik wahana yg tinggi2..

    (Its my provlemmmmmm) :)))
    Always love ur reviewwwwww ibu lelaaa :))

    ReplyDelete
  6. kok aku mau nangis sambil ketawa ya mbak ? karena inget terakhir pergi kesana sama calon pacar, terus besoknya ketauan kalau si calon udah punya pacar dan dilabrak lah aku ini hahahahaha

    "NOSTALGIA" yang mahal banget kan ! :))

    ReplyDelete
  7. Udah bisa mulai plan bawa Raya ke Disney World dong :)

    My fondest Dufan memory: outing kantor bokap yg pas bertepatan ama ultah gw pas 6SD. *best birthday, bahkan sampe sekarang :p

    ReplyDelete
  8. kok aku sedih ya mba Lei... berkaca-kaca di paragraf terakhir... ihiks,
    hormon kaya ni hormon!! *ga mau dibilang cengeng*

    tapi setuju sekali... selalu sayang dan senang klo ke Dufan..

    ReplyDelete
  9. Eh tapi bener loeh nostalgia itu, saya juga suka iseng ke taman mini, kebon raya bogor, lalu merebes mili inget masih kecil kesel kalau dibawa ke museum kok pas gede semua keliatan keren dasar saya pas kecil sok asik. Anak sekarang mah ke universal studios singapura lei, manalah ada yg rame2 menabung bulanan merengek mama papa berangkat semobil janjian disekolah demi ke dufan....ah mau ke dufan ah....

    ReplyDelete
  10. mba Leeeei... kamu sukses bikin aku pengen ke dufan.
    dulu impian banget lho buat anak luar Jakarta. pokoknya kalo udah ke Dufan, gaulnya naik 100 point :))

    tapi begitu kerja di Jakarta, kok jadi males ke Dufan. macet, panas, rame, bayangannya uda yang aneh aneh.

    begitu baca postnya mba Lei, langsung pengen nyoba kesana lagi deh :D

    ReplyDelete
  11. WAAAAA istana bonekanya udah bagoooossss... *lsg berangkat!

    ReplyDelete
  12. Ciee, tulisan lo makin oke aja, nih!

    ReplyDelete
  13. aaaakkk DUFAAANN!! duh Lei, gw juga salah satu orang yang pernah pacaran pas karya wisata di Istana Bonekaaa *jadi malu* sekarang gw lagi merantau di Scotland, dan gegara postingan ini gw jadi pengen nangiiisss.. nostalgic bangeeetttt -mojok di library, mata menerawang-

    ReplyDelete
  14. Isssh, suka tulisannya, mbaknya.

    Setuju, Dufan itu tempat impian semua anak Indonesia, begitupun gue, apalagi.. Pas.. Tau.. Kalo.. Om.. Gue.. Kerja.. Di.. D U F A N.. S e b a g a i..

    P
    E
    N
    G
    I
    S
    I

    S. U. A. R. A.

    B A L A D A. K E R A.

    ReplyDelete
  15. pernah nganter bapak-bapak dari jaya grup ini muter-muter Everland dan Lotte World di korea...yang sama jg niru disneyland juga hihi..dan iya bapak-bapaknya ramah dan asik diajak ngobrol :D
    jangan-jangan sama lagi ama yg ditemuin mbak Leija pas di IAAPA

    dan setuju Dufan emang ngangenin :D

    ReplyDelete
  16. salam kenaaaal :)...jadi kangen Dufan niiih...terakhir ke sini kapaaan ya :)

    ReplyDelete
  17. ya ampun ternyata banyak ya yg bisa dinikmati seumur raya (araya anakmu dan anakku jg hahahah) jd pengen lsg kesanaaa...makasih reviewnya mbaak :)

    ReplyDelete
  18. Kangen naek Kora-Kora.., cari tempat paling ujung..
    Woooohhhh....
    Review dufannya oke banget kak:)

    ReplyDelete
  19. Jadi kangen dufan dan pengen langsung bawa org serumah tmsk krucils kesana....
    Bener banget laila soal nostalgia, banyak banget ya kenangannya hehehe

    ReplyDelete
  20. Masuki Dunia Fantasi - Dunia ajaib yang mempesona - Dunia Fantasi penuh atraksi, rekreasi untuk keluarga - Marilah kita pergi sekeluarga, agar dapat puas bahagia - Bergembira bersama-sama di Dunia Fantasi kita.
    Di Dunia Fantasi kita.

    aaah, masih kebayang gimana excitednya gw, kakak dan adek2 kalo pergi ke Dufan.
    gw paling suka wahana Halilintar. kalo lagi sepi bisa 4 kali naik tanpa turun deh gw. lanjooot, maaang.

    Tahun lalu, bawa anak dan suami ke USS, tp malah gak bisa naik apa2 krn si bayik masih piyik. akhirnya cm naik wahana favorit di USS yaitu the mummy.

    Thanx Mbak Leija, udah menulis ttg Dufan, dunia ajaib yang mempesona.

    ingat, walau berbeda bangsa namun satu saudara *dadah dadah ala boneka*

    ReplyDelete
  21. Ini elu harus dapet tiket seumur hidup sebagai endorser resmi dari Dufan!!! Serius gue jadi pingin ke Dufan lagi gara2 baca ini. Dan sedih banget ya Balada Kera udah ngga ada lagi. Itu kan kayak legendaris banget secara bekantan lambangnya si Dufan itu kan juga keluarga kera. Arrrghhh... itu tuh kayak ngehapus Mickey Mouse show dari Disneylandddd...

    Terakhir gue ke sana tahun 2008. Mungkin hrs dateng lagi bawa Abby and Sus sekalian. She will be thrilled (She = Sus maksud gue hwhahahahaha).

    ReplyDelete
  22. Mba Lailaa
    Abis baca langsung yutup lagunya Dufan & Istabon trus merinding2 menerawang rindu trus telpon suami kita ajak anak2 ke Dufan yoookk!! Hahaha.
    Bener deh Mba, harusnya dapet fee nih dari Dufan hihi, trus keknya abis ini wiken di Dufan penuh lagi gara2 review ini hohoho.

    Marilah kita pergi sekeluargaaaa!

    ReplyDelete
  23. Halo semuaaaa!

    Aduh, punten pisaan, komennya banyak, jadi aku nggak bales satu-satu yaaa :-*

    Intinya, ini adalah sponsored post dari Ancol, jadi aku emang udah dapet freebies tiket Dufan, walaupun nggak seumur hidup lah yaw! Hahaha.

    Dan terlepas dari jalan-jalan tersponsor ini, aku emang udah sering main ke Ancol inisiatif sendiri - Dufan, Acopark, Gelanggang Samudra, etc. What can I say? I love Ancol. The whole Ancol! :D

    Makasih banget kalo masih pada kangen Dufan dan pengen main kesana lagi. It is old, but very nostalgic dan decent banget untuk dijadikan tempat seru-seruan bareng keluarga :)

    Antopenguin: GILAAAAA, Om kamu pengisi suara Balada Kera?! Plis banget lah aku pengen ketemu, pengen dinyanyiin asim sim sooo... T__T

    ReplyDelete
  24. Duh, Laaailaaa!

    Dear pembaca, ulangi membaca ini, tapi sekarang puter dulu tuh video theme song Dufan, biar jadi backsound pas baca cerita ini.

    Selamat bernostalgiaaaa :"))

    ReplyDelete
  25. sebagai anak luar jakarta tapi masih di pulau jawa, lo belum sah jadi anak sekolahan kalo belum karyawisata ke dufan-ancol-monas-tangkuban parahu-museum geologi-borobudur-prambanan-parangtritis-malioboro. pokoknya nggak sah! apalagi kalo pulang karyawisata ga dapat pacar, atau minimal gebetan yang jadi deket karena sepanjang jalan di bis berbagi kacang D*a K*linci satu bungkus berdua.
    etapi gw sumpah mati, ga mau naik halilintar dan tornado. biar kata mas-mas penjaga tiketnya kim woo bin pun aku emoh. memang nyali gw mentok sampe gajah bleduk doang.
    wis yowis biarlah kemudian target gebetan naik wahana itu sama cewe lain yang juga naksir beliau.
    akhirnya gw duduk di trotoar parkiran bis sambil makan bacang, sambil merenung... abis ini gw pedekate aja sama kakak kelas aaah.....

    ReplyDelete
  26. Huaaa, pas denger video theme song Dufan/Istana Boneka jadi pengen nangis! Dulu jaman kecil klo ada sodara dari luar kota pasti selalu dibawa ke Dufan. Main seharian dari pagi sampe sore cuma klo rame suka sebel soalnya cuma bisa main 4-5 ride gara-gara antrinya lama.

    ReplyDelete
  27. biasa jd SR blog ini, baca postingan soal Dufan jd terkangen2. kangen krn dl kl ke Dufan selalu jd yg jagain tas hahahaha. tapi aku cinta bgt sm suasananya. sm theme songnya. sm kipas yg bs nyemburin air jd kita pada mangap di depannya (eh..)
    thanks for bring back the memories.... :*

    ReplyDelete
  28. KAK LEEEEEEIIIII daku baca postingannya jadi bernostalgila, terakhir jalan ke sana 7 taun lalu, pas masih SMA. Trus waktu naik bianglala jadi inget se-gondola sama temen yang endingnya jadi facar ane. Jadi kenjen ke sana lagih!

    ReplyDelete
  29. Anon: AKU DOAKAN, SIS, AKU DOAKAN jodohmu bersemi di trotoar bis parkiran Dufan! Hihihi.

    Angga Dwijayanti: Eh, ati-ati itu air kipasnya konon satu sumber sama airnya Arung Jeram, yang konon lagi suka dipipisiiin... :D

    Ratri: Alhamdulillah subhanallah! Siapa tau nanti nikahnya di gondola Bianglala lagi yah? :)

    ReplyDelete
  30. Aaaa, jadi bikin kangen DUFAN deh :-) Jujur abis berkunjung ke USS dan Disney Sea, aku tuh sempat yang ngerasain ih ngapain main ke DUFAN. Tapi baca ceritamu ini jadi berasa waw ternyata you are really an amusement park lover, Lei...You did a great job describing our very nostalgic national amusement park by telling the history and I feel so amazed...Thank you, Lei...Semoga suatu hari gue bisa ngajakin ponakan-ponakan gue untuk pergi ke DUFAN :-)

    ReplyDelete
  31. Pinkuonna: Thank you so, so much! That means a lot, dan iyaaa, aku emang cintaaa amusement parks :)

    ReplyDelete
  32. Mbaaakkk, kok kamu keren Bangetttt Siihhh.. Aku NGEPENS (pake P saking terlalu)

    ini Dufan doang pdhl tp kaya baca skrispsi yg menyenangkan... Aku kok watery eyes terakhirnya... Canggih kamoh membuat aku berkaca-kaca untuk Dufan...

    Tertanda, silent rider yg akhirnya muncul juga hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, aduuuh jadi emosional nostalgia ya. Terimakasih ya Dhini!

      Delete
  33. Nice post Mbak!
    This weekend ada acara kantor di DuFan, and reading your article makes me even more excited to bring my baby girl there :)

    ReplyDelete
  34. WOW terpukau sama tulisan Mbak... sungguh An amusement park lover!! saya juga salah satu pecinta theme park Indonesia sampai saya kumpulkan semua lagu2, dan pokoknya sejarah Dunia Fantasi.. saya pernah membuat artikel tentang Dufan bisa dilihat disini mba http://www.kaskus.co.id/thread/5660198d1854f7a62d8b4567 . :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Putera! Wow, keren banget lho tulisannya di Kaskus. Lengkap! Apa kita perlu bikin semacam komunitas pencinta theme park ya Mas, hehehe.

      Delete
    2. Terima kasih mba leija, sebetulnya sudah ada kok, kita dan teman2 sudah membuat Komunitas dengan nama Theme Park journey. tujuannya yaa untuk mengumpulkan pecinta theme park di indonesia tentunya :). bisa cari di Fb page nya hehehe

      Delete
    3. Oooh waduh, seru banget! Nanti aku coba cek-cek ya, siapa tau bisa gabung :) Terimakasih infonyaa!

      Delete
  35. Liat ini deh Ka Leiiii : https://www.facebook.com/themeparkreview/videos/10154813114058566/
    spa amusement park di japan :O

    ReplyDelete
  36. Terakhir ke Dufan tuh kapan ya? Bahkan udah susah buat inget nya. Maybe sekitar 2010an kali yaaa... Huwooo.

    Waktu kecil, kayaknya setiap tahun ke Dufan bersama saudara-saudara sepupu dari luar kota. Nostalgic? Tentu. Tapi kemudian tertimbun begitu saja. Sekarang, setelah mampu ke theme park di luar negeri, Dufan makin terlupakan.

    Eh eh eh, tapi koq baca tulisan ini, tertiba tersadar, booo, Dufan tuh sebenernya keren ya klo didalami. Kayaknya worth to go there again someday.

    Terima kasih sudah mengingatkan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-samaaa! Dufan masih menyenangkan kok, apalagi kalo kita bawa anak kicik :)

      Delete