Feb 14, 2017

7 Alasan Kenapa Tivoli Gardens Keren Banget

DSCF1008

Gue punya seorang teman yang tinggal di Kopenhagen, Denmark. Sebelum gue dan keluarga pergi ke sana tahun 2015, gue sempat nanya-nanya sama dese. Salah satu pertanyaan gue, “Tivoli Gardens bagus nggak, sih? Destinasi nomer 1, nih, di TripAdvisor!”

Trus, dia bilang, “Biasa aja. Overrated. Nggak ke sana nggak rugi, kok.”

FYI, Tivoli Gardens adalah amusement park (taman bermain) lokal di Kopenhagen, dan merupakan taman bermain tertua di dunia. Berdiri sejak tahun 1843, lho. Kalah ‘kan Ayam Mbok Berek!

It is one of Europe’s most historical, most visited, and most beloved amusement park. Bahkan konon katanya, Walt Disney terinspirasi banget bikin Disneyland setelah beliau mengunjungi Tivoli Gardens.

Anyway, entah kenapa, gue percaya aja sama omongan teman gue, sehingga gue nggak napsu main ke Tivoli Gardens. Tetap akan kesana, sih, tapi nggak semangat menggebu-gebu.

Alhasil, walaupun biasanya gue semangat mampir ke taman hiburan setempat kemanapun gue pergi, pleus riset dan bikin rencana dulu sebelum main ke sana, kali ini gue nggak begitu.

Kenapa, ya, gue langsung nelen mentah-mentah kata tembikar akika tersebut?

Mungkin karena kalau dari hasil Googling, penampakan Tivoli secara sekilas emang bias-bias kasih. Tua, nggak besar, dan nggak wow. Gue juga sempat mengira bahwa konsep Tivoli Gardens lebih ke arah taman kota (namanya aja “garden” ya, meski tanpa “meteor” #krikkrik), sehingga gue kira atraksinya sedikit, dan lebih ditujukan untuk anak-anak kicik.

Intinya, gue pikir Tivoli Gardens bukanlah sebuah taman bermain berskala penuh, dan secara keseluruhan biasa-biasa aja. Sombong, ih.

Jadi, pas kita sampe di Kopenhagen, kita nggak menjadikan Tivoli Gardens sebagai destinasi utama. Kita mikirnya, “Nanti mampir kalau sempat aja, deh.”

On our second day in Copenhagen, kita akhirnya mengunjungi Tivoli Gardens.

Dari berangkat pun, kita kurang ambisius. Sebagai seorang so-called amusement park freak, gue kesel banget, lho, kalau nggak bisa berangkat ke amusement park tujuan gue pagi-pagi sekali. Walaupun ke Dufan doang! Tapi kali ini nggak. Dan, sekali lagi, gue berangkat tanpa bekal riset apapun.

Jadi gue pergi ngeboyong Raya dan T tanpa tau, di Tivoli Gardens ada wahana apa aja, pertunjukkan apa aja, bahkan berapa harga tiketnya.

Setelah agak nyasar dan bingung sama sistem tiket masuknya, akhirnya kita sakses nyampe.

Eeeeh, begitu menginjakkan kaki di dalam Tivoli Gardens, gue langsung memekik, “Bandooo, ya ampun… INI TEMPAT MENYENANGKAN SEKALI!”

DSCF1341

Kadang hidup suka ngasih kejutan menyenangkan, ya, mulai dari hal kecil sampai hal besar. Misalnya, tau-tau nemu cebanan di kantong celana, atau tau-tau di kantor ada teman ulangtahun, trus dese bagi-bagi makanan enak, pas kita lagi laper tapi bokek. Biar sepele, tapi nikmeh.

Begitulah perasaan gue di Tivoli Gardens. Nggak berharap apa-apa, tapi ternyata menang banyak.

Tapi yang bikin gue tambah kaget, T pun langsung membeo pekikan gue. He also loved Tivoli Gardens at first sight!

Padahal T adalah manusia besi berhati karatan, lho, yang nggak punya sense terhadap hal-hal indah di dunia (syedap). Orangnya dataaaar banget. Menurut dese, selama masih bisa napas dan idup, life is good enough. Kelar. Gue udah pernah bawa T ke berbagai theme park, tapi nggak ada satupun yang dia puji sebagaimana dia memuji Tivoli Gardens.

Raya? Jangan ditanya. Hepi banget.

DSCF0979

DSCF0980
Senyum langka si anak pelit senyum

Saking demennya, selama kita di Kopenhagen—yang mana cuma 5 hari—akhirnya kita bulak-balik ke Tivoli Gardens sebanyak… tiga kali. Doyan, kurang hiburan, atau kebanyakan duit, sih?! Semoga yang ketiga ya, aamiiiin... :D

Padahal memang benar kata teman gue, Tivoli tuh tua banget, dan bukan tempat wisata yang menghadirkan inovasi state-of-the-art gimanaaaa, gitu.

Emangnya apa, sih, hal-hal yang bikin kita suka banget sama Tivoli?

1. Karena Tivoli Gardens punya atmosfer yang super charming

Karena usianya yang sudah tua (banget), pepohonan dan vegetasi di Tivoli Gardens benar-benar “matang” (telor 'kali?). Besar-besar dan mantap—seperti di Efteling—karena sudah tumbuh ratusan tahun.

Percaya, deh, tanaman dan vegetasi yang rimbun dan “matang”, tuh, bisa menciptakan atmosfer yang tiada duanya, lho. Bisa bikin suasana jadi syahdu, romantis, seger, atau malah spooky sekalian. Pun bisa berubah-ubah sesuai cuaca, musim, cahaya, dan dekor. Atmosfer ini nggak bisa ditiru oleh taman bermain “beton dan semen”, seperti Universal Studios.

Karena namanya “gardens”, Tivoli Gardens  cukup fokus kepada landscape mereka serta berusaha memaksimalkan ruang-ruang terbukanya. Kelihatannya, sih, mereka nggak mau banyak-banyak bikin ruang indoor, kecuali untuk restoran dan aula pertunjukkan.

Dan memang, landscaping-nya jadi baguuus bener.

DSCF0801

DSCF0820

DSCF0811

DSCF0876
Kontes gede-gedean labu di musim gugur ini. Labu asli tuh?! Asli banget!

Oya, kemarin kita datang ke Tivoli Gardens di bulan Oktober, sehingga taman bermain ini sedang didekor pol-polan dengan tema Halloween. Lucky for us, karena katanya, Halloween adalah salah satu waktu terbaik untuk main ke Tivoli, karena dekornya totalitas, dan suasana autumn-nya cantik banget!

DSCF0853

DSCF0855

DSCF1347

DSCF1346

DSCF1378

DSCF0993

DSCF0867

DSCF0884

DSCF1346

DSCF1330

Trus, atmosfer yang charming ini semakin kental karena Tivoli Gardens bukan taman bermain chain/franchise.

Contoh taman bermain chain/franchise pasti pada tau dong, ya. Misalnya, Disney Parks, Universal Parks, Legoland, Six Flags, dan banyak lainnya. 

Nah, karena Tivoli Gardens bukanlah tempat wisata chain/franchise, tempat ini terasa lebih “membumi”, nggak komersil, dan secara keseluruhan, vibe-nya terasa laidback alias santai.


DSCF1344

DSCF0851

DSCF0854
Hampir semua toko suvenir dan kedai cemilan di Tivoli Gardens berada di kedai-kedai mungil dan sederhana begini. Pasar Malam-ish 'kan sebenernya.

Mereka nggak berusaha bikin maskot yang “saklek” kayak Mickey Mouse atau Dufan si Bekantan, atau berusaha bikin theming yang immersive banget. Pokoknya santai aja, lah. Theming wahananya nggak jelas? Santai aeee. Nggak punya maskot atau karakter? Yang rapopooo. Padahal hal-hal tersebut adalah elemen-elemen “wajib” kebanyakan amusement park jaman sekarang, ya.

Di sisi lain, karena Tivoli Gardens bukan taman bermain chain/franchise, mereka jadi nggak terlalu politically correct.

Maksudnya gini.

Waktu itu, kita mengunjungi Tivoli saat Halloween. Otomatis, Tivoli Gardens didekor dengan pernak-pernik Halloween. Tapi nggg... uniknya, mereka masang banyak pernak-pernik yang PG-13. Beneran serem dan gory, bok. Misalnya, kepala berdarah-darah, atau topeng zombie berbelatung. Jadi nggak hanya ada kepala labu imut atau sarang laba-laba biasa.

Padahal lagi nggak ada event khusus apa-apa, lho. Emang dekor standar Halloween-nya begitu.

DSCF0834

DSCF0835

DSCF0838
Pasangan serasi :')

Nah, Tivoli Gardens ‘kan taman bermain untuk keluarga. Apa bocah-bocah pada nggak trauma dan mimpi buruk liat dekor begitu? Gue aja terkaget-kaget liatnya. Hal ini keknya nggak mungkin dilakukan sama Disney, misalnya. Salah-salah, mereka bisa di-sue sama pengunjung.

Tapi gue nggak merasa pengen protes, sih. Taman bermain lokal (yang bukan franchise) emang biasanya lebih “quirky”, so I guess it’s just part of the experience?

Cuma alhasil, gue jadi sibuk ngalihin perhatian Raya atau nutup matanya kalau kita ngelewatin dekor Halloween yang terlalu horor dan gory. Refot!

2. Karena meskipun tua, tempatnya sangat berkarakter

Selain pepohonan dan vegetasinya yang “matang” dan mantap, wahana-wahana Tivoli Gardens juga tua bin jadul abis. Nggak semua, sih. Tapi cukup banyak wahana-wahana klasik yang mereka pertahankan.

Nah, wahana-wahana jadul tersebut jaduuuulnya setengah mati, mulai dari konsep sampe penampakannya.

Salah satu wahana jadul yang bikin gue ngakak adalah sebuah roller coaster bernama Rutschebanen. Wahana ini udah eksis sejak tahun 1914 (busyet...). Pada jamannya, coaster ini pastinya keren dan seru banget. Sementara kalau pake tolak ukur jaman sekarang, sih, ya biasa banget. Berasa kayak main seluncuran aja.

Yang bikin gue ngakak, roller coaster jadul ini dijalankan semi-manual oleh seorang operator yang duduk di coaster-nya. Yap, ada seorang operator yang harus duduk di salah satu “gerbong” kereta coaster Rutschebanen. Si operator tersebutlah yang akan memulai menjalankan dan mengerem si coaster.

Pegawai yang jadi operator pasti bergantian. Tapi gue tetap ngikik, lho, liat ada orang bernasib punya job desc naik roller coaster 300x sehari. Apa mereka nggak eneg? Apa mereka nggak jadi mati rasa? Is this one of the most challenging job in the world?!

Foto dari sini

Memang, sih, gue perhatikan muka-muka operator Rutschebanen bak Mr. Bean waktu naik roller coaster. Datar dan ngantuk, plus sedikit sebel. Ciyan.

Meskipun begitu, gue yakin banget Tivoli Gardens nggak akan menutup wahana-wahana klasik mereka, termasuk Rutschebanen yang udah jadi ikonik banget untuk Tivoli Gardens. Karena walaupun jadul, nggak seru, nggak canggih, dan bergaya kuno, wahana-wahana tersebut historical banget, dan sudah menjadi ciri khas Tivoli Gardens.

Wahana tua yang nggak mentereng dan berteknologi sederhana justru bisa lebih charming dan heartwarming, lho.

Waktu Balada Kera ditutup di Dufan aja, gue rasanya kepengen demo masak. Apalagi kalau mereka sampe nutup atau merombak total Istana Boneka, Bianglala, dan sebagainya. Tornado boleh ditutup, tapi plis jangan nistakan Istabon!

Nggak hanya wahana, sih. Banyak tempat atau benda yang baru bisa jadi charming dan berkarakter setelah dimakan usia. Mungkin karena seiring dengan waktu, hal-hal tersebut jadi punya nilai sejarah dan memori, ya. Jadi nggak tergantikan sama hal-hal modern, deh.

Duh, jadi ngelantur.

Intinya, Tivoli Gardens memang jadul, tapi mereka paham bahwa ke-jadul-an tersebut justru menambah karakter dan charm mereka. Bahkan gue—yang bukan warga Kopenhagen dan nggak punya nostalgia terhadap Tivoli—bisa merasakan atmosfter “charming” yang mereka pancarkan.

Petromak kali, ah, mancar.

Oya, selain wahananya, sistem tiket di Kopenhagen juga agak jadul. Pengunjung kudu beli tiket satuan untuk masing-masing wahana. Kita bisa beli tiket terusan, sih, tapi kalau mau beli tiket masuk doang (tanpa akses wahana) juga bisa.

(gegara nggak riset, kita sempet bingung banget perihal tiket-tiketan ini, pas pertama kali datang)

Tivoli Gardens juga seringkali menampilkan pertunjukkan yang nggak main-main. Mulai dari konser berbagai musisi kelas dunia, pertunjukkan teater yang “serius”, pertunjukkan balet, sampai philharmonic orchestra. Caem-caem banget, deh.

Tapi gue sempat kaget, karena Tivoli Gardens memperkerjakan anak kecil. Misalnya, di pertunjukkan marching band atau pertunjukkan tari, gue liat performer-nya ada yang masih bocah. Seumuran anak SD-SMP, lah.

Gue heran karena setau gue, negara Barat punya peraturan child labor yang cukup ketat. Disney nggak pernah memperkerjakan anak kecil sebagai performer mereka. Makanya, karakter-karakter seperti Peter Pan, Hiro, Moana, atau Alice tetap diperankan oleh orang dewasa, meski seharusnya mereka anak-anak/remaja. Therefore, the characters appear so weird, hihihi…

Meski heran, di sisi lain gue seneng, sih, Tivoli Gardens menggunakan performer anak-anak untuk peran-peran yang memang seharusnya diperankan oleh anak-anak.

3. Karena para stafnya sangat ramah

Satu hal yang sangat, sangat, sangat gue senangi dari negara Denmark adalah orangnya ramah-ramah banget. Mereka selalu helpful, ceria, dan tersenyum. Ramahnya orang Jawa kayaknya kalah, deh!

Mungkin ini ya, salah satu tanda negara makmur dan bahagia. Ketakar dari sikap warganya.

Nggak terkecuali di Tivoli Gardens. Semua stafnya selalu senyum hangat, ramah, baik hati, helpful, ngingetin kalau sosis yang gue beli tuh babi (sementara guenya udah pura-pura nggak tau zzzz), pokoknya overall menyenangkan sekali, lah. Padahal staf Tivoli Gardens banyak yang kelihatannya masih anak kuliahan, sehingga gue kira mereka bakal datar atau judes. But it turned out, not at all!

4. Karena wahananya banyak

Nggak seperti bayangan gue sebelumnya, wahana Tivoli Gardens ada banyak dan beragam, baik untuk dewasa ataupun anak-anak.

DSCF0925

DSCF0932

DSCF0972

The Flying Trunk, wahana favorit Raya (sampe minta naik 3x!) - dark ride yang menampilkan 32 adegan dari dongeng-dongeng Hans Christian Andersen, pengarang cerita anak-anak kebanggaan Denmark:

DSCF1356

DSCF0948
Thumbelina

DSCF0950
The Little Mermaid

DSCF0951
The Brave Tin Soldier

DSCF0958

DSCF1372
The Princess and the Pea

DSCF1363
The Emperor's New Clothes

DSCF1366
The Snow Queen (a.k.a. the OG Frozen)

DSCF1374
Om Hans!

DSCF0917

Emang, sih, di Tivoli Gardens, hampir nggak ada wahana yang custom made, inovatif, atau state-of-the-art. Tipe wahananya gitu-gitu aja, dan bisa ditemukan di berbagai taman bermain lainnya.

Meskipun begitu, wahana-wahana yang jadul tersebut tetap terawat dan kelihatan “megah”. Nggak terkesan butut, bak permainan Pasar Malam.

DSCF0816

DSCF0824

DSCF0826
Ngeliatin salah satu thrill ride modern Tivoli (yang mana apaan, kita juga lupa :D Pokoknya tinggi banget, deh!)

5. Karena makanannya beragam dan enak-enak

Nah, ini dia! *bak kolom artikel Pos Kota*

Bagi orang Jakarta/Indonesia, taman bermain nggak pernah terasosiasikan dengan makanan enak, apalagi fine dining. Kalau ingat Dufan atau Taman Safari, ingatnya, ya, Colombus Fried Chicken dan Bakso Afung. Walaupun sekarang makanan di Dufan dan Taman Safari udah lebih beragam, semuanya masih dalam kategori fastfood, dengan sistem pelayanan counter service.

Sementara gue perhatikan, di luar negeri—khususnya di Eropa—ada banyak taman bermain yang menyajikan restoran bintang lima, selain kedai-kedai fastfood biasa khas theme park. Restorannya bisa bener-bener niat, enak, mahal, dan digawangi oleh chef “beneran”, lho.

Hal ini juga diterapkan di Tivoli Gardens. Bokkk, restoran, kafe dan bar upscale yang ada di Tivoli Gardens ada 28 bijik ajuah! Nggak termasuk kedai-kedai yang jual fastfood, lho.

DSCF0868

DSCF0878
Nimb Brasserie, salah satu restoran termewah di Tivoli Gardens

Trus, sebagai bukti bahwa restoran-restoran tersebut “serius”, mereka nggak hanya buka untuk pengunjung Tivoli Gardens. Banyak dari restoran tersebut diletakkan di pinggir-pinggir Tivoli Gardens (bukan di tengah), dan punya akses untuk tamu-tamu dari luar.

Jadi, publik bisa makan di restoran-restoran tersebut, tanpa (beli tiket) masuk Tivoli, all day, every day. And people WOULD come, karena makanan yang disajikan memang kelas restoran, bukan Colombus Fried Chicken. Ciamiks!

DSCF0841

DSCF0842

DSCF0845

DSCF0907

DSCF0910

DSCF0894

DSCF0902

6. Karena lokasinya di tengah kota

Salah satu alasan kenapa pada akhirnya kita tiga kali bolak-balik ke Tivoli Gardens adalah karena lokasinya convenient banget. Plek-plek di tengah kota! Dari apartemen, kita selalu jalan kaki atau naik sepeda ke Tivoli Gardens, dan langsung sampai dalam sepuluh menit.

DSCF1315

Makanya, Tivoli Gardens bukan bagian dari kawasan terpadu atau kawasan khusus seperti Ancol, atau kompleksnya Disney/Universal. Sehingga begitu keluar gerbang Tivoli, kita langsung balik ke “dunia nyata”. Di kanan-kiri langsung ada mall, restoran, perkantoran, dan sebagainya.

7. Karena suasananya sangat cantik di malam hari

I mean, wow.

DSCF1008

DSCF0996

DSCF1002

DSCF1012

DSCF1020

DSCF1021

DSCF1023

DSCF1026

DSCF1028

***

So fortunately, I didn’t follow my friend’s advice to not visit Tivoli Gardens. Mungkin Tivoli Gardens bukan selera dia, tapi buat gue (dan keluarga), salero banget!

Efteling, kapankah giliranmu?

21 comments:

  1. cakep banget emang keliatannya ya...

    itu roller coasternya jadi ada masinis nya gitu ya? padahal itu roller coaster nya yang sampe muter 180 derajat gitu? keliatan di salah satu foto ada rel roller coaster yang sampe muter 180 derajat. lucu juga ya ada yang nyetir. hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bukan coaster yang muter 180 derajat kok, Koh, Yang ini coasternya mild bgt, lebih kayak kiddie coaster. Foto operatornya udah gue tambahin di atas, ya!

      https://www.youtube.com/watch?v=Z4V95ng3lSw

      Delete
  2. Cerita yang kaya gini nih yang bikin semangat buat nabung dan atau ngerampok bank. Hahaaa. Indah bangeeet dan fotonya lebih bikin ngejatuhcintain daripada Efteling

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaa yaah, siapa dulu yang motret HAHAHA. Tapi feelingku Efteling lebih wow, deh, berhubung aku udah 1000x nonton vlog-vlog Efteling hahaha obses!

      Delete
    2. Bagus aneeutt emg poto2nya, makin jago aja iih motretnya (eh ini 2015 deng yah,2017 motret2 lagi doong.hahaa)

      Delete
  3. Ya ampun. Mulai besok malem ngepet apa ya. Jadi pegawai biasa kapan kekumpul duit buat kesana....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikut dong! Kita gantian jaga lilin deh hahaha. Insya Allah semoga suatu hari Izna bisa ikut berkunjung sana, ya :)

      Delete
  4. Aaak.. aku nangis baca ini.. amusement park yg hangat sekali yaaa..

    Dari dulu suka banget sm Kopenhagen. Bike culture nya, orang2nya, arsitektur kotanya. Foto2nya bikin tambah cinta.. brb mecahin celengan ayam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, menyenangkan sekali ya! Denmark pantas banget jadi negara terbahagia di dunia menurutku.

      Delete
  5. tuhkan... tiap baca travel postnya mbak lei langsung merasa jadi orang paling merana sedunia jajajajajjaja
    plis banget ya Allah mau kesini jugaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduuuuh... jangan gitu doong, aku jadi nggak enak :') Haha, intinya sih post pengen nunjukkin bahwa amusement park di dunia ternyata luar biasa ragam dan keunggulannya. Padahal aku 'kan Disney fangirl ya, jadi matanya suka buta sama hal-hal di luar Disney. Aamiiin semoga samdei menginjakkan kaki ke sini ya!

      Delete
  6. cakeep, sisss.. aselik. baik ceritamu maupun foto2mu yang ciamiks.
    aku doakan dirimu lebih banyak rezekinya dan bisa mengunjungi Efteling. dan bikin travel storiesnya. dan kita para pembaca semakin iriii mau ke sana juga hahaha

    ReplyDelete
  7. pengeeeeeeeeeeeeen...
    gila yaa, udah tua begitu tapi masih bener2 terlihat terawat, pasti rajin ke er*a kriik..kriik

    ReplyDelete
  8. *masukin tivoli gardens ke wishlist*

    Efteling kalo buat aku bikin nangis, terharu banget, berasa semua image masa kecil dijejelin ke muka :')

    ReplyDelete
  9. Aduh cantik amat foto-fotonya :D Ini pas deh suamiku minggu depan dinas ke Copenhagen *masuk koper* :))

    ReplyDelete
  10. Kayaknya ini tipe-tipe taman bermain yang cocok buat anak cupu dan gak bisa main apa-apa kayak aku yaaa. Hahaha.

    Cukup nikmatin perjalanan, foto sana sini, gak perlu jackpot karena naik roller coaster hahahaha.

    Fotonya ciamiiik sekali, Mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuul sekali. Tapi bahkan penyuka thril ride (seperti aku) nggak merasa rugi di Tivoli, karena walaupun wahananya ayem-ayem aja, tetep bikin hati hepi nggak tau kenapa! :D

      Delete
  11. Setuju sama komennya Mbak Lia, amusement park ini cocok sekali buatku yang nggak pernah berani main apapun selain Turangga Rangga dan Istabon kalo di Dufan ((:

    Masih geli karena roller coaster di sana ada operatornya dan ngebayangin ikutan naik 300x sehari hahaha. Ciyannn banget mbaknya.

    Btw, sepertinya aku masih suka Efteling, Mba Lei. Mungkin kalo digabung dengan ini sempurna sekali yah.

    ReplyDelete
  12. Baru liat foto2nya hatiku udah adeeeem bangetttt. Aku jadi masukin Denmark & tivoli ini ke wishlist. Suatu hari harus kesana lah!. 😂

    ReplyDelete
  13. "ngingetin kalau sosis yang gue beli tuh babi (sementara guenya udah pura-pura nggak tau zzzz)"

    I like that spirit Mba Lei 8))!!! Kalau udah begini antara terharu karena orang tau diet restriction buat muslim tapi juga kzl deh, kan kalau (pura-pura) nggak tahu harusnya nggak apa-apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muahahaha... bok, gue mah jangan ditiru yah! :D

      Delete