Jun 8, 2015

Yay or Nay: Membatasi Mainan



Nyokap gue adalah seorang hoarder, artinya beliau suka sekali beli sesuatu. Nggak harus barang mewah, sih, asalkan BELI SESUATU. Dan kalo beliau suka sama sebuah barang, beliau akan beli barang tersebut dalam semua warna / jenis / ukuran, zzz.

Growing up, I did not become a hoarder as bad as my mom, karena sikap bawaan gue yang banyak pertimbangan, termasuk kalo mau beli sesuatu.

Tapi jujur, gue pernah mengalami fase dimana gue sering belanja tanpa mikir. Waktu itu, kamar gue kayak gudang, penuh dengan barang yang sebetulnya nggak gue butuhkan. Gue juga hampir nggak pernah menghabiskan barang-barang yang seharusnya dihabiskan—skincare, makeup, obat—karena selalu beli dan beli yang baru. Mubajir, gilak.

However, as I’ve explained in this post, I have had enough
. Muak, lho, hidup dengan kebanyakan barang. Pusing, sumpek, dan sering dihantui guilty feeling karena buang-buang uang dan bikin clutter. Istilah ‘the things you own will eventually own you’ ternyata benar adanya.

Dengan demikian, belakangan ini gue mulai hidup minimalis. I try not to buy stuff sebelum barang yang sedang gue pake bener-bener rusak, jebol, atau habis. Disaat harus beli sesuatu pun, gue nggak keberatan beli yang mahal asalkan berkualitas. Gue juga meng-unfollow sebagian besar online shop di Instagram. Pokoknya diusahakan minim, minim, minim. ‘Kan yang penting pundi-pundi emasku di bank nggak miniiiim…

Hepi La? Alhamdulillah, hepi. Hidup terasa lebih ringan dan uncluttered.

I love this ‘simple’ way life
, jadi wajar kalo gue juga tertarik dengan simplicity parenting.

Alkisah, ada sebuah buku pengasuhan anak, judulnya Simplicity Parenting karangan Dr. Payne. Gue belum baca buku ini sepenuhnya, tapi udah merasa jatuh cinta dengan gaya pengasuhan ini ketika baca teori Dr. Payne soal MAINAN ANAK BALITA.

Berikut adalah beberapa poin yang dijabarkan oleh Dr. Payne:

The number of toys your child has should be dramatically reduced

Dr. Payne menganjurkan kita untuk ngumpulin SEMUA mainan anak kita, trus bagi tumpukan mainan tersebut jadi dua. Trus bagi dua lagi. Trus bagi dua lagi. Yang tersisa, itulah mainan yang boleh disimpan oleh anak.

Intinya, our kids probably have too many toys. Kalo dikumpul-kumpulin, jumlah mainan anak kita ternyata banyak banget, lho. Mulai dari yang masih utuh sampe yang udah kepretel. Belom lagi kalo anak kita lebih dari satu *pingsan*

Kenapa, sih, anak nggak perlu punya mainan banyak-banyak? Kata Dr. Payne, karena bisa menimbulkan perasaan overwhelmed dan emotional disconnection. 

Bagi gue, hal ini masuk akal banget. Kita lebih nyaman kerja di meja yang bersih, atau di meja yang penuh dengan kertas, bolpen, serta pernak-pernik kantor lainnya? Which one makes you work calmer?

Perihal perasaan disconnected, itu juga masuk akal banget. Kalo gue punya 10 tas, gue akan cenderung memperlakukan tas-tas tersebut dengan “remeh”. Take them for granted, gitu. Kalo tapi kalo gue cuma punya 2-3 tas yang bener-bener disukai, gue akan lebih punya connection ke tas-tas tersebut. Akan lebih gue sayang dan rawat.

Sama seperti mainan. Gue perhatikan, setiap Raya dihadapkan dengan satu container mainan, dia akan numpahin container tersebut, trus diawur-awur aja, gitu. Nggak ada deep playing atau bonding ke mainan-mainan tersebut.

Sedangkan kalo Raya cuma main dengan 2-3 mainan kesukaannya, dia akan deep playing dan lebih meresapi setiap mainan yang dia pegang.

Orangtua kadang khawatir anak-anaknya bakal kebosenan kalo mainan mereka cuma sedikit, sebenernya justru kebalik: anak-anak akan LEBIH engaged dengan mainan mereka ketika jumlahnya dikurangi.

As you decrease clutter, you increase a child’s attention and capacity for deep play,” kata Dr. Payne. Masuk akal, shay!

Reduce the number of books in the room

Punya banyak koleksi buku boleh aja, tapi kata Dr. Payne, buku yang accessible untuk anak sedikit aja. Nggak perlu banyak-banyak,

Misalnya, minggu ini kita taro 3-4 buku di rak buku si anak, sisanya disimpan. Kalo si anak udah ‘kenyang’ dengan buku-buku ini, baru kita ganti ke 3-4 buku yang lain, dan seterusnya. Pokoknya di-rotasi aja terus.

Kids need the time to read deeply, and often repeatedly,” kata Dr. Payne.

Organize the room so your toddler can only see a few toys at a time

Kata Dr. Payne, sebaiknya anak jangan diekspos kepada segambreng mainan sekaligus. Setiap dia pengen main, keluarin aja beberapa mainannya, sementara sisanya disimpan dengan rapi dan tersembunyi.

Duh, bagi gue hal ini masuk akal banget, karena siapapun—bukan cuma anak-anak—akan ngerasa overwhelmed kalo dikelilingi oleh terlalu banyak clutter. Disaat kamar gue terlalu penuh dengan barang—walaupun barang-barang favorit gue—gue juga ngerasa pusing, lho.

Selain itu, anak jadi lebih fokus kalo mainannya dimainkan satu persatu, nggak langsung banyak sekaligus.

Trus, ya, ketika ruang main Raya diatur dengan rapih dan mayoritas mainannya disembunyikan, we feel so much calmer. Suprisingly, Raya juga nggak minta semua mainannya dikeluarin sekaligus.

Keep just one of each type of toy

Raya suka banget sama binatang-binatangan, khususnya singa, karena dese terobsesi sama The Lion King. Jadilah Raya punya aneka macam figurine singa. Tapi, kalo kata Simplicity Parenting, hanya karena satu mainan singa bikin Raya bahagia, bukan berarti 10 mainan singa akan bikin Raya 10 kali lebih bahagia. Dyar! Aku tertohok.

Malah sebaliknya. Semakin banyak Raya punya figurine singa, nilai masing-masing figurine tersebut jadi devalued alias berkurang, dan malah bisa bikin Raya ngerasa overwhelmed.

Kata Dr. Payne, anak cukup megang 1-2 mainan dari masing-masing tipe. Misalnya, 2 mobil-mobilan, 2 bola, 2 boneka, dan sebagainya. Sisanya disimpen aja, trus nanti di rotasi lagi. Yang penting, jumlah mainan yang dimainin anak sehari-hari tetep minimalis.

***

Sebagai penganut aliran minimalis, gue sangat nerima saran-saran Dr. Payne tadi karena terdengar logis bagi gue.

Satu hal yang gue simpulkan dari saran-saran diatas adalah, kayaknya anak-anak memang perlu dikasih kesempatan untuk connect ke segala hal yang dia suka, entah itu mainan, lagu, film, atau buku.

Sebagai orang dewasa, kita pasti bosen kalo harus baca buku, nonton film, atau main mainan yang sama berkali-kali, sementara si anak justru minta ngulang mulu. Kenapa, sih, anak suka susah move on begitu?

Pas gue baca teori Dr. Payne, gue yang OOOOO YAYAYA... PANTES! Kayaknya insting dasar anak memanglah membuat koneksi dengan hal-hal yang dia suka. Dan deep connection nggak bisa terbentuk kalo dia cuma berinteraksi 3-4x dengan hal-hal yang dia suka itu. Mungkin harus 10 atau 100 kali sekalian (oh, tidaaaak…)

Sekarang ini, gue berusaha untuk selalu ngikutin ritme Raya. Gue usahain nggak klak, klik, klak, klik gonta-ganti video anak di Youtube saat nonton bareng Raya, hanya karena GUE yang bosen. Kalo Raya mau nonton video yang sama berkali-kali, yo wes. Hanya karena GUE yang short-span attention dan nggak bisa komit sama satu hal, bukan berarti Raya harus begitu juga, ya.

Trus, belakangan ini Raya terobsesi sama The Lion King. Ter-Ob-Se-Si with capital O, makkk. Obsesinya ini sudah mencapai titik dimana orang-orang rumah MINTA TOLONG agar gue mem-brainwash Raya ke hal lain, berhubung udah pada empet sama segala sesuatu yang berhubungan dengan The Lion King. Tapi gue berusaha sabar-sabarin diri dan membiarkan Raya menikmati obsesinya ini sampe ke taraf tertinggi. Gue nggak berusaha mengalihkan perhatiannya, karena gue paham bahwa Raya sedang make a connection.

Gue sendiri juga eneg, sih, tapi gue juga seneng dengan efek-efek baik dari obsesi Raya ini (apal lirik lagu-lagu The Lion King yang bahasa Inggris DAN Zulu, boook…). Gue juga seneng karena Raya jadi sangat menghargai tokoh-tokoh film The Lion King. He appreciates them deeply.

Sayangnya, gue belom bisa menerapkan konsep minimalisme ini sepenuhnya, karena gue masih seatap sama nyokap dan adek, yang nggak sepaham dengan gue.

As I’ve said, my mother is a hoarder yang kayaknya punya prinsip kasih sayang = benda, sementara adek gue adalah tipe ibu-ibu yang percaya dengan konsep ‘educational toys’ (marketing ploy itu, Dek! Marketing ploy!) dan bahwa anak perlu ‘alat’ untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya. That’s why toddler schools still have toys, kata adek gue.

I disagree. Menurut gue, mengembangkan imajinasi dan skill nggak harus selalu dengan mainan spesifik.

Adek gue pernah pengen ngebeliin anak balitanya mainan kitchen set, dengan alasan anaknya suka role play. Gue protes, karena ngerasa ruang mainan anak-anak kami udah sesek banget. Gue pun berusaha mempresentasikan konsep minimalis ini, eh trus akhirnya berantem, hihihi. 

So we still agree to disagree.

Meski demikian, seiring dengan umur, kayaknya gue akan fleksibel dalam hal membatasi mainan ini, deh. Misalnya dalam hal KOLEKSI. Seandainya anak gue udah agak gede, trus punya koleksi khusus—misalnya, mobil Tomica—dan si anak memang bener-bener sayang dan bisa merawat koleksinya tersebut, mungkin nggak akan gue larang-larang. Childhood collections usually brings strong memories to adulthood, ya?

Jadi, membatasi mainan anak—yay or nay?






Photos from The Pink Project and The Blue Project by JeongMee Yoon and Toy Stories by Gabriele Galimberti

21 comments:

  1. YAY.

    Belum pernah baca2 teori tentang simplicity parenting ini sih tapi terpapar sama gaya hidup di negara kulkas ini gue liat gaya hidup mereka kira-kira mirip, simplicity life style. Malah di sini ada ucapan: "to show people that you are rich is even worse than being poor". Intinya, orang sini menganggap gaya hidup yang berlebihan itu memalukan.

    Selain itu, dibanding Mikko bisa dibilang gue ini materialistik banget. Gue punya 12 jaket dan tiap musim rasanya ingin nambah jaket aja. Ini berlaku juga buat barang2 lainnya. Mikko sama kaya elo, barang2nya minimalis dan baru beli yang baru kalo udah rusak. Buat doi belanja itu karena butuh, bukan karena doyan. Gue liat, hidup Mikko lebih content, lebih hepi dibanding gue yang gampang merasa gak puas dan ingin ini itu. Gue kepingin anak-anak gue seperti Mikko karena itu kita berusaha untuk gak sering-sering beliin anak mainan, apalagi yg mahal.

    Eh iya, gue dan Mikko juga gak percaya sama educational games. Gue malah ngeliat anak-anak gue lebih banyak "belajar" waktu main pake kardus atau ember

    ReplyDelete
  2. cocok aq dengan teori ini. aq bukan tipe ortu yg sering banget beliin anak mainan.hehe awalnya mrasa kok aq pelit ya sama anak,tp trus aq mikir lg,abis pcuma kok dibeliin mainan stiap saat krn berakhir dgn dimainkan sbntr trus dirusak , beda kalo dia jarang dibelikan, dia jd lbh lama memainkan 1 mainan itu. buku pun bgitu :D
    thx 4 share mbak :)

    ReplyDelete
  3. Kalau gue, sih, Mbak Laila, yang gw batasin kontainernya hahahahah! Jadi cuma ada 2 keranjang kicik di rumah, kalau isi mainan udah melebihi kontainer, errrr, gue taro mainannya di rumah nyokap HOAHOAHOA, ngga cukup rumah urang :)))))

    ReplyDelete
  4. Selama ini jadi silent reader nih mbak lei, tapi jadi gak tahan komen baca artikel ini.
    Anakku cewek 16mo, mainan, boneka, sama bukunya cukup banyak, setiap bali pake alasan, ini kan educational toys, dan yes, aku udah beliin kitchen set itu!hahahaha :D
    Pas baca post ini, asli deh ikut tertohok, aslinya yang dimainin anakku ya cuma itu2 aja, nggak perlu punya banyak panci mainan, yang dia pegang dan mainin tiap hari cuma sebiji!
    Boneka jg gt. Buku yang dia suka jg bisa tahan lama bgt, buku kesayangan dia skrg udah 5-6bulan kali maunya yang itu aja. Yang ditonton juga konsisten cuma video itu2 saja setiap malam.
    Dan yes, itu SAYA yang suka beli mainan baru, yang bosen sama mainan yang ada sekarang, dan merasa anaknya bakal bosen padahal KITA yang bosen. Ternyata dibalik rasa sayang anak, saya egois ya, huhuhu..
    thanks for sharing this post mbak, jd wake up call buat aku nih, meskipun kayanya masih beraaat nahan godaan beli mainan dan baju karena anakku cewek, hahahaha :D

    ReplyDelete
  5. Okay.. This got me thinking... To.. I cannot remember what toy(s) I have bought for R the last time >.<
    Most of her toys are present. Dan kalau diperhatikan, ga ada yang benar2 attach. So in term of membatasi, rasanya dia (saat ini) sudah bisa pilih sendiri. Dan ya, yang ga kepake gw masukin ke container. Mau disumbangkan, ngeri ditanya yang ngasih qaqaaaa
    Gw lbh wanti2 ke mbak yang mengasuh, sebisa mungkin proporsional. Antara main di luar rumah pagi hari, baca buku, nonton TV. Tentunya exclude zaman frozen membahana yaaaaa... Sekarang aja masiiih. Hey, at least she's interested in knowing all princesess' names.. He he
    Thank you for the sharing ya, La.
    PS. I remember! Last toy : last year birthday, keyboard. Hancur dalam 3minggu =)))

    ReplyDelete
  6. Astagaaa.. pas banget postingan ini nongol dikala gue lagi galau soal mainan anak, hahaa..
    Gue sering playdate sama keluarga birth club anak gue di Bandung, beberapa kali main gantian ke rumah masing-masing. Setiap kali main ke tempat temennya Q, gue selalu amazed sama betapa banyak mainan yang mereka punya. Habis itu suka berasa kok kayanya gue pelit banget ya?? Coz believe it or not, mainan "resmi" punya Q kalo dikumpulin cuma 1 kontainer plastik (yang ada handlenya itu lho). Dan itu sudah termasuk mainan dari barang-barang bekas yang gue bikinin, hahaa..

    Gue dan S (suami gue) udah sepakat dari awal untuk gak manjain anak dengan seabreg mainan ataupun pakaian, dan sampai sekarang masih menjalankan prinsip itu. Cuma ya ituuu.. terkadang suka jadi kepikiran kalau liat anak lain mainannya banyak banget, atau pas liat mainan edukasi yang dijual di instagram yang ols-nya baru aja nge-like postingan gue..

    But thanks to you for writing this up, gue setuju banget sama om Payne, so for me it's YAY! :D

    ReplyDelete
  7. Kalo gw type hybrid kyknya gw ga suka beli barang (aka pelit) tp susah u/ let go juga.. jd kalo barang udah masuk rumah ga bisa keluar lol.. alhasil buntutnya jadi hoarder jg :( how to solve this ya? boots dari 20 thn lalu jg masih ada tuh di garasi
    re toys, temen gw anaknya punya satu boneka kelinci yg dibawa kemana2 mau main tidur jalan2 sepedaan.. ya dah dibelilah duplikatnya supaya si bunny bisa dicuci jg.. until suatu hari si anak nemu duplikatnya hahaha

    ReplyDelete
  8. it's a YAY
    walopun pada kesehariannya kebanyakan NAY...
    Pas belom punya anak, aku pengennya anakku punya mainan dikiiit aja dan yang harganya mahal, jadi kalo anaknya ngerusakin barang juga ada efek jera ke aku, beda kan kalo mainan murah.. mau dibanting anaknya juga bodo amat murah ini bisa beli lagi.. sok nak, banting terooos!
    Nah, pas anakku udah 1,5 tahun dese lagi suka banget sama mobil2an ala hotwheels yang mana murah bener kaaan... lupa deh sama prinsip sedikit mainan tapi bermutu... kerjaannya beli hotwheels meluluuu..
    Tsk! again, your post is like a reminder to me

    ReplyDelete
  9. it's a YAY!!!
    aku cuma ngasi jatah mainan 1 kontainer ace doang.. :D
    buku 1 rak (9 kolom) doang.. :D
    baju dan printilan 1 lemari mini doang.. :D
    ni simple life apa medit apa kismin sik?? :)))))))

    kalo penuh?? saatnya resik2.. :D
    dan tukang beliin mainan itu pasti kakek-nenek-dan tante2nya.. -_-"
    mau ngelarang tapi yaaa gitu deh.. -_-"

    ReplyDelete
  10. oiyah.. this post is worth to share..
    ijin ya mbak leiii.. :D

    ReplyDelete
  11. This got me thinking, but I'd definitely say a YAY! Gue seringnya ngerasa gue 'harus' kreatif banget ngasih maenan buat Thaisa. Biasa deh, gue kan suka insecure gitu kalo gue gak cukup menstimulasi anak. Walopun maenan dia gak banyak, cuma se-kontainer plastik (tapi bukan ukuran peti kemas, kakaaaakk). Terusnya pas gue liat2 dia maen sering gue mikir kok kayaknya ni anak bosen gitu ya. Ternyata setelah baca blog lo ini, gue baru ngeh, mungkin karena dia kebanyakan maenan. Setelah gue inget2 emang dia pada akhirnya maenan sama yang itu lagi itu lagi, diantaranya lego yang dia lepas pasang bisa sampe setengah jam. Untungnya orang sini (sama kayak yang Rika bilang) punya simplicity life style. Dari jaman Elmer kecil sampe sekarang pada beranak, keluarganya jarang banget beli maenan baru. Hampir semua maenannya turun temurun, ato beli di second hand market. And they all grew just fine. Thanks La, for inspiring writing!

    ReplyDelete
  12. Yay!! semua yang judulnya bikin hemat gw demen dah.
    Walopun sekarang maenan anak gw udah 3 kontainer tapi pembelaannya sih karena gw dulu terjebak jeratan media yang nyuci otak newbie parents kayak gw supaya beli ina-inu buat stimulasi apalah itu.
    Untung di tahun ketiga jadi ortu gw bokek berat jadilah berenti beli maenan sampe sekarang :D

    ReplyDelete
  13. Kak Lei postingannya lagi2 bikin mikir deh sukaaaaa
    Cika termasuk sering beliin eiffel mainan 🙈 trus numpuk geje padahal yg dia mainin itu2 lagi. Begitu pun juga buku eiffel.
    Kalo baju alhamdulillah jarang beli karna banyak kado sama lungsuran 😂
    So YAY ! Mulai saat ini mau ngikutin cara kak lei soal mainan anak ini.

    Btw lemari baju cika sudah berkurang banyak sejak baca postingan kak lei tentang ngurangin baju yg ga oernah dipake :) thanks again 😊

    ReplyDelete
  14. Mainan anak gue dikit! Haahhahhaha. Bukan karena mikir mau simpel giana-gimana, tapi karena emang dasarnya pelit :p. Sepatu masing-masing juga punya 1, sandal 1. Gue juga sepatunya cuma 2 pasang. Tas cuma punya 2. Di sini sering pakai mantel/jaket, tapi gue cuma punya 3 --> buat winter, summer (karena di sini summer pun suka dingin hihihihi), autumn cuacanya mirip sama spring :D. Intinya memang ... karena kikir! Hahahahahhaha. Sama sekali enggak ada jejak-jejak bijak yak :D.

    ReplyDelete
  15. Mbak, aku YAY, tapi suamiku NAY... gimana dooongg *nangis...
    Mainan dirumah sudah numpuk banget, tapi mau disingkirin sama anaknya gak boleh..
    Kayaknya besok aq pilihin diem-diem aja deh, sisain yg bermutu n paling sering dimainin sama anakku..
    plus unjukin suami tulisanmu ini mbak, biar gak beli-beli mainan terooss..

    ReplyDelete
  16. Ah Lei. Setuju banget! Konsep parenting gw adalah gw pengen anak gw punya hobi/kesukaan yang spesifik biar (harapan gw) kelak dia gak jadi mediocre. Biar dia bisa jadi yang paling ahli di 1 bidang tertentu. Nah, anak gw itu attached buanget sama crane! Yes, crane (weird since he's only 4 yo but i feel u dimana anak kita terobsesi dgn 1 hal khusus). Dia bisa nonton video yutub berulang-ulang tentang proses pembuatan crane dan berulang-ulang bikin crane dari lego, jadi mainannya cuma lego dan beberapa mobil2an. Gw jg masih tinggal sm ortu yang sebenernya kurang setuju dengan konsep "minimalis" gw ini tapi gw brainwash ortu gw dengan kata-kata gw pengen anak gw jadi seorang ahli, bukan seorang mediocre.

    ReplyDelete
  17. Kak Lei, aku jadi nostalgia masa kecik deh...dulu waktu adekku kecil seneng banget sama kereta, akhirnya ketumpuk banyak banget baik yang dibeliin maupun dikasih sampe akhirnya semuasekarang numpuk di satu kontainer bareng koleksi Bioniclenya. Tapi emang sih kalo urusan mainan kita dibiasain untuk nggak ngoyo sama ortu. And this is gonna be a value i'd like to pass on to my kids someday. Ngeniwei thanks kak Lei udah nambahin 'bekal' kalo aku jadi ibu nanti :D

    ReplyDelete
  18. Kak Lei, jadi nostalgia masa kecil juga nih. Dulu pas aku kecil malah orangtua aku jaraaang banget beliin mainan atau buku. Kalau beliin buku sih pas kesempatan tertentu aja, pas naik kelas atau ulang tahun, jadinya disayang-sayang banget bukunya. Untuk beli mainan, it's a big NO, kecuali dikasih, jadinya terbiasa kreatif mainin yang ada di rumah aja. Kebawa deh sampe gede.
    Ternyata orangtua aku udah nerapin metode ini dari lama yaa :') *peluk virtual bapak ibu*
    Makasih Kak Lei udah ngingetin, jadi kangen rumah :)

    ReplyDelete
  19. Setuju banget. Keren banget tulisan ini. Anak-anak saya mah udah mahasiswa dan udah SMP. Tapi saya ingat dari sekian banyak buku yang dimilikinya (maklum bapaknya pedagang buku), favoritnya ya cuma satu: Komik Tech Jacket. Dan nomor edisi yang itu aja. Saya dibesarkan dengan doktrin bahwa komik itu jelek, ensiklopedi itu keren. Itu salah. Jawaban yang benar adalah SEMUA KEREN. Anak saya belajar sama banyaknya dari komik, dengan yang didapatkannya dari ensiklopedi. Oh, saya nggak pernah menyesal bela-belain ensiklopedi buat anak-anak. Tapi saya nggak merasa bersalah masa kecil mereka 'diracun' sama komik. Dua itu aja udah cukup. Nggak usah panik kalau nggak bisa beliin sesuatu yang kata orang melejitkan potensi dirilah, melatih otak kanan dan kirilah, dsb. Two thumbs up buat mbak Lei dan para komentator di sini.

    ReplyDelete
  20. Anakku masih 9 bulan sih. Dan so far mainan favoritnya adalah kartu asuransi 2 bijik yg diselipin di flipcase HP, HP jg dimainin (tp screen aku lock), kacamata bapaknya, apple watch emaknya yg talinya udah belepotan DNA nya dia (baca: iler). Trs kemasan bekas tisu basah sama botol air mineral (baik yg berisi maupun kosong). HAHAHAHA giling ini benernya hemat apa pelit apa kismin sihhh? Ya ada sih bbrp mainan lain yg mainan beneran. Tp selama doi enjoy dgn yg ada, stralah ga usah dibeliin mainan yg edication merangsang stimulasi endespre endebre.... (aslinya sih krn bingung jg ntr mo ditaroh dimanaaaaa)

    ReplyDelete
  21. Tengah malem baca tulisan-tulisan lamamu terus nemu ini Mba. Duh jleb hahaha. Sebagai Ibu Bapak baru, anak pertama pula, bawaannya pengen jajan ini itu. Bayi masih 8 bulan, dan ternyata lebih seneng mainin kabel, dompet, plastik tisu, botol minyak telon.. Hahaha dadah sama those so called mainan edukasi :)) Untung ada 3 kakak ku yang pengalaman sama ponakan. Jadi ada 'polisi' mana barang yang emang perlu mana yang cuma trik marketing hahaha. Unfollow akun-akun jualan di instagram juga aaaah

    ReplyDelete