Jul 22, 2018

Sebuah Lotion Mahal Dari Prancis



Prolog:

Sepulang dari liburan di Bali bulan lalu, kulit badan gue kering banget. Mungkin karena berhari-hari kena air laut dan terpanggang matahari, sementara guenya terlalu sibuk bersenang-senang untuk peduli dengan skinker-skinker-an. Living the beach life at its fullest, yo!

Pas udah balik ke rumah, gue membongkar laci-laci kamar mandi, nyari body lotion yang bisa gue pakai. 

Nggak sengaja, gue malah menemukan sebotol lotion termahal yang pernah gue punya.

Lotion seharga tujuh digit rupiah tersebut buatan sebuah merk Prancis, dan diyakini—oleh banyak ibu-ibu di berbagai forum diskusi kecantikan—sebagai satu-satunya lotion yang bisa mencegah stretch marks di badan saat kita hamil. Lotion tersebut gue beli saat gue hamil kedua, tahun lalu. 

Gue nyaris lupa pernah punya lotion itu, tapi gue nggak akan pernah lupa dengan perasaan ini: 

(this is an old piece of writing that served as a memento for me. I never intended to publish it before)

***

Desember, 2017

Selagi berbaring di dipan yang keras dengan posisi tidak nyaman ini, saya memperhatikan lampu neon di langit-langit sambil membatin: kenapa lampu di ruang praktek dokter selalu neon yang cahayanya keras? Apa nggak bisa menggunakan lampu LED yang lebih lembut dan lebih menenangkan perasaan pasien?

Mata saya terkunci kepada lampu neon di langit-langit ruang praktek dokter ini karena satu alasan: saya nggak mau melihat ke arah layar USG. 

Saya tahu, saya nggak boleh lihat layar USG. Ada yang nggak mengenakkan. Saya bisa merasakannya dari gerakan tangan dokter yang memutar-mutar alat USG transvaginalnya, mengorek rahim saya ke kanan dan ke kiri, mencari setitik harapan. Saya juga bisa merasakannya dari keheningan yang tajam di ruangan ini. Tidak ada komentar dari sang dokter, tidak ada juga suara detak jantung si janin.

Tetapi ketika dokter mengeluarkan kata-kata “Maaf ya, Bu…” barulah airmata saya mengalir tanpa berhenti. 

Sambil memakai celana dalam kembali, saya baru melihat pemandangan tersedih yang pernah saya lihat: dipan dokter bekas pakai, dengan bekas tetes airmata di bantalnya.

***

Epilog:

Gue belum pernah ngebahas hal ini di blog, tapi akhir tahun 2017 lalu, gue sempat hamil sampai akhirnya tidak. 

Kehamilan kedua gue itu sama-sama diawali dan diakhiri dengan tangisan. 

Gue nangis di awal, karena gue kaget banget bisa hamil (sebelumnya gue berusaha hamil selama 1.5 tahun dan gagal), dan sempat nggak menginginkan kehamilan tersebut, gara-gara saat itu gue sedang mengalami salah satu periode terberat dalam hidup gue. 

Tapi tentu saja, akhirnya gue menerima kehamilan gue dengan gembira dan sejuta harapan.

Ironisnya, gue kembali nangis di akhir, karena si janin dinyatakan nggak berkembang.

Normalnya, I would blame myself, for once not wanting the pregnancy. Gue sempat menolak kehamilan tersebut, tho? At one point, I was even denying it so hard. Lalu kehamilan tersebut betul Tuhan ambil kembali, tho? Semua ibu pasti bakal menyalahkan dirinya. Tapi gue mati-matian menolak larut dalam perasaan bersalah. Jadi tiap kali gue bertanya-tanya, apakah gue kualat? Gue harap nggak, karena gue yakin teori kualat sangatlah abu-abu, dan cara kerja Tuhan misterius dan akan selalu begitu. 

Dari waktu ke waktu, Tuhan menurunkan musibah pada umatnya, tapi kita nggak pernah bisa betul-betul yakin, apakah musibah tersebut ujian atau hukuman. Gue memilih meyakini bahwa gagalnya kehamilan gue merupakan ujian, bahkan mungkin pertolongan. Tuhan tahu waktu itu gue sedang kesulitan, sehingga mungkin belum mampu merawat satu anak manusia lagi.

Tapi, ya… apakah segala sugesti itu bisa mencegah hati gue jadi hancur berkeping-keping? Tentu saja nggak. Emosi seorang ibu nggak pernah sederhana, dan lotion sialan itu mengingatkan gue betapa kompleksnya rasa emosi tersebut.

Until I see you again, baby. Ibu loves you. 

17 comments:

  1. i'm sorry for your loss laila... pernah mengalami dan memang tidak mudah walaupun saat itu baru hamil 8 minggu :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang tidak mudah, semuda apapun umur janinnya ya. Peluuuuuk erat!

      Delete
  2. Kak..

    *sending virtual hugs (or whatever makes you comfortable and a tiny bit happier hehe)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dikasih komen gini aja hepi banget kok! Cups cups <3

      Delete
  3. i feel you mbak, aq keguguran anak pertama di usia 3 bulan...

    ReplyDelete
  4. oh my god mba Lei, aku juga ngalamin ini
    when I got the second line pas anaku masih 1,5th, reaksi pertamaku nangis ga terima, terbayang semua baby blues endebre2
    ketika Tuhan ambil dia 4 minggu kemudian, aku nangis lagi, merasa bersalah krn pernah nolak bayi

    semoga kita setrong selalu mba Leiii, hugs 🤗🤗

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang paling penting, kita nggak menyalahkan diri sendiri. Salam setrong yaaa, all the happiness for you and your family!

      Delete
  5. I'm sorry for your loss, Mba Lei. Aku selalu percaya kalau Tuhan maha baik. Jika nanti diijinkan kembali, pasti akan tiba waktu yang tepat, ya. *virtual hugs*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiiin, makasih ya Jane untuk selaluuu komen hangat dan suportif. Hugssss.

      Delete
  6. Mungkin ga ada yang bisa menggambarkan kesedihan mbak L setelah kehilangan, tidak juga orang2 yang punya pengalaman mirip. Dan tidak ada yang perlu dibandingkan, kuat terus ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. You worded it out so well. Every sadness is unique, as every experience is different. Semoga kita selalu kuat dan resilient, ya :D

      Delete
  7. Replies
    1. LOVE YOUUUU... aduh kamu selalu suportif, aku terharu banget <3

      Delete
  8. Owalah mbak Lei. Baru aja td pagi aku mengenang kehamilan pertamaku (setelah nikah 2 tahun), yg kemudian nggak berkembang dan hanya sampai minggu ke-7. Itu tahun 2010. Dan selama 8 tahun sejak berlalunya kehilangan tsb, aku nggak pernah sedih lg sampai pagi td. Stay strong ya mbak Lei, insyaalloh you can.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhu ya ampun Tyke. Memang, aku percaya, sadness comes in waves. Kadang kita oke, 2 jam kemudian nangis kenceng. Kadang wave susulannya datang bertahun-tahun kemudian. Stay strong juga, ya :)

      Delete
  9. La, sorry for your loss. Gue gak pernah ngalami, gak tau rasanya, cuma tau kalo kehilangan orang yang kita cintai itu sungguh berat. Semangat terus ya, and never give up.

    ReplyDelete