Aug 2, 2017

Menjadi "Melek"


Disclaimer: Postingan ini tidak disponsori oleh media berita manapun (walaupun seharusnya iya, deh!)

Gue sadar bahwa selama ini, gue hidup di dalam bubble. Sebabnya ada beberapa.

Pertama, karena gue punya kehidupan yang sangat “mudah”, khususnya dari segi finansial.

Kedua, karena gue dibesarkan oleh nyokap yang sangat protektif. Beliau adalah orang yang membangun layer pertama bubble gue.

Ketiga, karena sosmed. Di era sosmed sekarang, gue yakin bubble kehidupan rangorang semakin tebal, karena kita—para pengguna sosmed—pasti selektif memilih akun yang kita follow. Platform berita online pun semakin customizable juga terkurasi, sehingga exposure netijen semakin sempit. Therefore, we are only exposed to what we want to read/see/hear. 

Karena selama ini gue hidup di dalam bubble, gue benar-benar buta terhadap hal-hal yang terjadi di luar comfort zone gue, termasuk hal-hal yang terjadi di negara sendiri. Konten media yang gue konsumsi sehari-hari yang hepi-hepi aja—hiburan, tren, humor-humor receh, pokoknya serba indah dan ringan.

Tahun ini—dengan terlambatnya—gue baru tahu ada istilah namanya “woke”. Ini pun gara-gara gue beli kaos di Stradivarius, dengan tulisan WOKE segede gaban di depannya. Penasaran dong, gue. Apa, sih, maksud “woke”?

Gue mengutip definisi dari berbagai sumber aja, ya:

“Being ‘woke’ means being aware. Knowing what’s going on in the community... a reference to how people should be aware in current affairs.

“'Woke' is a slang word from African American Vernacular English which refers to a perceived awareness of issues concerning social justice and racial justice. The related phrase stay woke refers to a continuing awareness of these issues. Its widespread use since 2014 is a result of the Black Lives Matter movement.”

(contoh kalimat) ‘While you are obsessing with the Kardashians, there are millions of homeless in the world. Stay woke!’ -Urban Dictionary

“The rise in popularity of ‘woke’ has been tied to the #BlackLivesMatter movement, which initially surfaced in 2013 following the death of Trayvon Martin. #StayWoke often accompanied social media posts about police brutality, systematic racism and the industrial prison complex. #StayWoke reminds readers to look past the provided narrative, to examine their own privilege (or lack thereof). #StayWoke reminds readers that there is more than one reality to life in the United States.” -
Bustle

Kalau versi bahasa Indonesianya, “melek” kali, ya.

Menurut gue, “woke” (atau #staywoke) adalah istilah yang kece. Lahir dari suatu peristiwa sosial penting, kemudian mengalir jadi slang remaja di kebudayaan pop. Sebel, deh, istilah sekece ini baru gue ketahui dengan sangat terlambat. Lewat kaos dedek-dedek di Stradivarius pula. Ih, gimana gue bisa jadi cendikia.

Lantas apa hubungannya being woke dengan gue?

Pengakuan, nih: seumur hidup, gue nyaris nggak pernah ngikutin berita. Gue nggak suka baca koran, portal berita online, majalah berita, juga nonton berita. Dan gue merasa hal ini oke-oke aja. Entah ini akibat bubble, atau justru salah satu sebab timbulnya bubble, tapi intinya kebayang, dong, “kebutaan” gue selama ini?

Padahal seorang IRT upper-middle class ngehe macem gue relatif susah, lho, untuk keluar dari perangkap bubble, kalau nggak pake usaha.

Belakangan, secara “nggak sengaja”, gue agak keluar dari bubble gue dengan mulai mengikuti berita-berita nasional. Gue bilang “nggak sengaja”, karena gue melakukannya dengan “mengalir” saja, tanpa pretensi semacam, “Baiklah. Mulai hari ini, gue mau mulai jadi intelek melek politik!” Nggak. Gue cuma lebih membuka mata dan telinga aja, kok. Auk, deh, kesirep apaan. Mungkin karena jenuh dan rasa penasaran, ya.

So I started to “wake up”
, alias mulai “melek”. Mulai baca segala berita di berbagai media, nguping para bapak-bapak diskusi, nanya berbagai kebijakan negara ke T, kembali ke Twitter (!!!), dan sebagainya.

Nggak intens, sih. Masih banyak hal yang nggak gue pahami. 

Gue juga berusaha membuka diri terhadap semua sisi. Misalnya, baca tulisan mereka-mereka yang setuju dengan Perppu Ormas, tapi juga baca sudut pandang mereka-mereka yang menentangnya. Kalau lagi kuat, kadang gue ikutan baca Twitwar kaum “intelek cendikia” (yang beneran maupun yang sok-sokan) serta berbagai komen netijen di sosmed, meskipun kita semua tahu ya, kakak, betapa hal tersebut sangat menguji emosyih. Huek.

Kayaknya trigger gue untuk "melek" adalah Pilkada DKI 2017, salah satu insiden politik paling sadis yang pernah gue alami.

Sewaktu Pilkada DKI kemarin, gue berada di dalam bubble Ahok yang tebel banget. Kanan-kiri gue memuja Ahok. Dan karena lingkungan gue adalah perempuan/ibu-ibu, pemujaan mereka cenderung emosional dan sentimentil.

Apakah gue kebawa dengan bubble Ahok tersebut? Pastinya, lah yau (kok bangga?). Tetapi sebenarnya, waktu itu gue sudah terusik dengan polarisasi yang muncul. Kenapa, sih, ada anggapan kalau bukan fans Ahok, berarti fans Anies? ‘Mangnya nggak bisa di tengah-tengah? Apakah iya, Ahok seheroik itu? Apakah iya, Anies se-nggak kompeten itu? Kayaknya hidup nggak mungkin sehitam putih itu, deh.

Udah deh, tuh. Kelar Pilkada DKI, gue mulai berusaha membuka mata terhadap Indonesia ter-chayanx ini. Berusaha baca catatan-catatan pinggir, dan tanya-tanya ke rangorang yang gue anggap “tepat”.

Ternyata…. Yassalam. Negara ini sungguhlah negara Game of Thrones!

Ternyata juga, selama ini gue memang benar-benar buta dan naif terhadap negara. Balik lagi ke contoh Pilkada DKI 2017, sebenarnya ada segudang hal "tidak kasat mata" dibalik masing-masing sosok Ahok dan Anies, dan hal-hal tersebut jauh lebih dalam dan kompleks daripada citra-citra yang berseliweran di dalam bubble gue.

Misalnya, Ahok itu oke, tapi ada banyak hal yang harus dikoreksi dan dipertanyakan dari beliau. Anies nggak sempurna, tapi ada langkah-langkah beliau yang benar. Mungkin Jokowi adalah presiden keren—dengan segala vlog kekinian dan aksi naik dirtbike-nya—tapi harus diakui kapabilitas beliau terbatas, dan kelemahan-kelemahan beliau bisa jadi menyebalkan, bahkan fatal, untuk masyarakat.

Contoh lainnya, Habib Rizieq. We all (baca: rakyat moderat dan liberal) LOVE to hate Rizieq Shihab, don’t we? Saat dese kena kasus pornografi, kita semua gebrak-gebrak meja sambil jerit-jerit, “Tangkep! Tangkep!”

Tapi setelah gue baca-baca, apa benar kita harus dukung kepolisian untuk jerat Rizieq Shihab dengan pasal-pasal pornografi? Dia bisa dikasuskan, tapi kalau dikasuskannya dengan UU Pornografi, malah bisa jadi bumerang. FPI bisa dikasuskan lewat hal lain, kok, e.g. menghina negara, sweeping, persekusi dan sebagainya, yang jelas-jelas salah.

***

Berikut adalah beberapa faedah dan mangfaat menjadi woke atau "melek", berdasarkan yang gue rasakan:

* To realize that NOTHING in this world is black and white.

Nating. Nating kompers tu yu. Dunia ini hanyalah panggung sandiwara segumpalan abu-abu, nggak ada yang hitam atau putih. Selebgram idola lo yang tampak mesra dengan pasangannya, sebenarnya punya selingkuhan long-term. Politikus idola lo, sebenarnya korupsi. Orang yang lo anggap salah, sebetulnya nggak salah-salah amat. Orang yang lo anggap benar, sebetulnya nggak benar-benar amat.

Kesadaran tersebut bisa mempertebal sikap skeptis kita, namun sekaligus mengikis our faith in humanity. Agak pait, sih, tapi gue yakin skeptisisme adalah survival skill penting. Lihat, dong, Petyr Baelish di Game of Thrones. Sosok se-individualis dan se-egois do’i masih bertahan, tuh, di Season 7. Gue yakin itu karena dia nggak percaya siapa-siapa, hahaha!

Duh, pait.

* Membuat kita jadi skeptis.

Balik lagi ke poin pertama, nggak ada hal di dunia ini yang hitam atau putih, sehingga kita perlu skeptis. Jokowi bilang, dia akur-akur aja sama JK. Ah, masaaa…? Yanglek bilang, dia akur-akur aja sama Oka. Ah, masaaa…? Apapun beritanya, reaksinya, "Ah, masaaa…?"

Kalau kita skeptis, kita akan mencoba read between the lines. Kalau kita terbiasa read between the lines, kemampuan critical thinking kita juga semakin tajam. Ini susah banget. Karena ke-naif-an gue, gue biasanya menelan mentah-mentah apa kata media mainstream. Setelah nanya-nanya dan intip Twitwar (eaaaa), biasanya baru agak tercerahkan. OH, MAKSUDNYA BUKAN BEGITU THOOO. Ih, pelik.

Pembacaan media massa, tuh, menarik, lho. Apalagi sikap masing-masing media bisa berbeda-beda. Ada media yang pereus banget sama pemerintah, ada yang mengkritik terus. Sehingga baca berbagai koran atau majalah berita, tuh, kayak baca kitab suci. Penuh penafsiran yang berbeda. Gue sendiri kesusahan untuk bisa baca read between the lines, tapi kalau pas bisa, menarik banget untuk menyerap apa yang gue baca, trus dibentrokkan dengan "cerita di lapangan".

Dengan menjadi skeptis, kita jadi terpicu untuk melihat segala masalah dengan sejernih mungkin, dan terhindar dari post-truth.

Bagi yang nggak familiar, post-truth adalah sebuah fenomena zaman sekarang, ketika opini emosional menjadi lebih kuat/berpengaruh daripada fakta objektif dalam menentukan keputusan publik.

Dengan sosmed dan Internet, post-truth sekarang merajalela. Kita jadi nggak mau lihat fakta, hanya hal-hal yang sreg sama diri sendiri. Tentunya ini denjereus.

* Agar logika kita jalan, serta terhindar dari simplifikasi.

Salah seorang sosok junjungan gue berkali-kali bilang, simplifikasi adalah pola pikir yang berbahaya.

Pola pikir simplifikasi, tuh, misalnya, gini: mendukung Ahok berarti lo kafir. Mendukung Anis berarti lo anti-Pancasila. Menolak Perppu Ormas berarti lo pro-ormas (radikal). Mendukung Perppu berarti lo anti-demokrasi. Nge-fans sama Raisa Andriana, berarti nggak suka sama Isyana Saraswati.

Duileee... nyebelin 'kan? Se-nyebelin pemikiran bahwa kalau lo cantik berarti lo bego, kalau lo tajir berarti lo shallow, atau kalau lo nggak punya anak berarti lo belum jadi wanita seutuhnya. Deduksi macam apa tuh?

Dengan banyak membaca dan berdiskusi, semoga kita nggak terjebak dalam pola pikir dangkal macem begitu.

* Sejak kecil, gue selalu dicecoki anggapan bahwa politik itu sangat kotor. Alhasil, gue jadi benar-benar menjauhi politik, malas baca berita, malas mengikuti dinamika pemerintahan, dan merasa punya pembenaran atas sikap tersebut. Padahal mengikuti perkembangan berita negara ‘kan perlu. Lagian, se-swasta-swasta-nya profesi lo, selama lo masih tinggal di tanah air, pasti akan bersinggungan dengan pemerintahan juga.

Dengan demikian, gue nggak mau membuat Raya alergi terhadap politik. Gih, nak, cari tahu deh sebanyak-banyaknya tentang negaramu ini. Kepengen ikut bikin perubahan juga silahkan aja. Yang penting, sebagai orangtua, kita musti menempa ketangguhan dan integritas anak.

* Membuat gue menyadari, bahwa sedalam-dalamnya gue mengikuti hard news, gue memang akan selalu tertarik dengan sisi humanisnya aja. 

Pokoknya nggak reseup, deh, jadi jurnalis hard news atau investigatif. Ketika Setya Novanto resmi jadi tersangka korupsi e-KTP, gue justru pengen bikin tulisan tentang kehidupan anak-anak pejabat, korupsi ataupun tidak. Not to put them in a bad light at all, but just to get to know their mindset, their opinions, their hangouts, their view on money and their fathers.

(eeh, padahal ini cuma taktik untuk bisa masuk inner circle-nya Uti Buncis, dan main ke rumahnya Oesman Sapta yang bak istana dongeng 1001 malam. Ya nggak, Dara? :D)

***

Gue pernah bilang, stop making stupid people famous. Jangan terlalu baper, lah, sama para vlogger yang berantem, sama gosip-gosip artis kelas C di Lambe Turah, dan hal-hal ringan-tak-penting lainnya.

Tapi kemudian temen gue bilang, bahwa di tengah penatnya hidup, kita butuh hal-hal enteng seperti Kardashian, selebgram, skandal vlogger, dan segala remeh-temeh lainnya. Soalnya enak, enteng, nggak usah mikir.

Betul banget. Setuju. Tapi gue menyadari, kalau kita terlalu berkutat di hal remeh-temeh, hal tersebut pun akan menjadi beban. Misalnya, ketika gue terlalu terobsesi sama dunia “cantik, tajir, gaul” yang ada di sosmed, gue jadi terbebani social pressure juga. Gue juga jadi gampang kebawa emosi dan sebel sama artis atau selebgram tertentu, padahal kalau dipikir-pikir… duile, siapa mereka? Ngatur harga beras dan garam negara juga kagak.

Dengan mengikuti berita, kehidupan gue jadi lebih imbang. Annoying-nya Ibu Kawa, misalnya, jadi berasa remeh ketika dibandingkan dengan annoying-nya Fahri Hamzah, hahahaha. Kalau kata Smita, dari Anasz Siantar ke Anas Urbaningrum. Angcat! :))

***

Post ini sudah pasti diketawain sama teman-teman yang sudah “melek” dari dulu, apalagi sama teman-teman media/media watcher. Tapi gue merasa perlu menulis ini, karena gue tahu sekali, ada banyaaaak orang di dalam lingkungan gue—terutama ibu-ibu rekan sejawat tai-tai—yang sangat nyaman ngendon di dalam bubble mereka, sementara dunia luar terus bergejolak.

Hidup di dalam bubble tentunya sah, bahkan seringkali tak terhindarkan. However, while ignorance is bliss, sometimes it can also be dangerous.

(maygat, kenapa kalimat terakhir gue bak aktivis banget. Hiiii!)



(image: Alfred Hitchcock by Philippe Halsman)

9 comments:

  1. huhuhuhu kak lailaaaaa!
    menyuarakan isi hatiku banget deh iniii T_T T_T T_T

    seminggu kemaren aku gelisah banget lalu ngedraft blogpost (yg ga kunjung dipublish haha) tentang isu serupa. awalnya gara2 mikir gimana caranya supaya nara bisa punya pengalaman yang sama kayak aku dalam hal ngikutin berita. sejak aku kecil sampe kuliah, keluargaku langganan koran dan majalah, sampe pernah langganannya tuh 2 harian (kompas & republika) + majalah tempo (lalu gatra setelah tempo dibredel). pas aku kuliah, bacaannya nambah jadi kompas, republika, dan koran tempo (karena ukurannya paling enak buat dibaca di kereta hihi). waktu itu mah sampe bisa ngeh deh perbedaan angle ketiga koran itu dalam memberitakan suatu kasus.

    pas lagi nginget pengalaman itu, lalu sadar.... aku udah bertahun-tahun ga ngikutin berita secara intens gitu T_T cuma denger selewat dari keluarga dan bos di kantor lama yang tiap sore ngasih update detik.com

    pas sadar, langsung berasa kurang pinter :)))) lebih tepatnya kurang "melek" lah ya. tapi aku maju mundur juga mau balik ke baca berita secara intens gitu, karena pasti bikin banyak pikiran hahaha.. belom lagi kemalasan nimbun kertas koran atau majalah. akhirnya memutuskan tampaknya akan langganan koran dan majalah secara online. soalnya, walau potensial bikin kzl, aku ngerasa butuh baca media mainstream lagi demi "kemelekan" dan juga demi pengayaan kosakata bahasa indonesia. aku sedih pas menyadari sekarang lebih sering berpikir dalam bahasa inggris, dan udah lama ga ngerasa mini orgasme saat nemu kosakata baru (atau padanan kata bahasa inggris yang jarang dipake orang awam) di media. doakan kuat hati ya :D

    sambil mulai ngikutin berita lagi, PRnya buat aku juga mikirin gimana caranya ngasih info-info itu ke nara nanti pas dia udah bisa baca #visioner
    kak laila rencananya gimana buat bikin raya "melek" juga nantinya?

    ReplyDelete
  2. Secuplik kekaguman pada si jago Tempo nih di siniii! 😍 6 years being a journalist, the humanity aspect never replace my no.1 priority in seeing every single news too, Kak. Perpaduan kepo dan somehow sadar bahwa pemirsa atau pembaca butuh suguhan itu, di tengah maraknya berita-berita hard news.

    Even me as a journalist juga being too comfort inside bubble! Sampai pernah dikasih advice, meski passion di feature, harus tetep ikuti berita politik, ekonomi, even olahraga ya, Zeeeelll... 🤗🤗

    ReplyDelete
  3. Untuk ada pikiran di luar buble sendiri.. kayanya aga susyeh ya.. soalnya seringkali jg kita cuma aware sama topik topik tertentu ketika itu dah viral di kalangan kita sendiri. Dan emang kecenderungan untuk lebih tertarik subscribe ke info info yang ringan ( shout out to bala lambe) or kadang kita ada kecenderungan untuk segan utarain hal yang jauh dari mainstream, di karenakan simplifikasi (kebayang ga sih kalo posting nuget merek supermarket sebagai menu makan malem di IG, mommy kawa bisa bisa lempar gua pake brokoli organik!! ibu macam apa aku..)

    simplifikasi/judging udeh bisa di bilang otomatis/reflek orang ya.. nah Pe eR gua ni di sini.. refleknya yang hrs di latih untuk bisa seobjektif mungkin dan ngelatih dari banyak sudut..

    beberapa waktu yg lalu, ada salah satu media yang coba banyak ulas artikel tentang working mom dan apa dampaknya bagi sosial. gw baca artikel dan komen2 nya. somehow gw kaget bingit loh kenapa malah banyak orang yang gagal paham, dan ngartiin artikel itu jadi salah satu artikel yang mendeskriditkan stay at home mom. Rili..? dan beberapa orang yang komen ambil kesimpulan bahawa media ini lebih berpihak sama working mom. Disini saya justru merasa sedih (ciyeileh..) dan justru ngecek/ngaca.. gimana sih kemampuan pemahaman saya atas yang saya baca..? apa sih yang jadi kesimpulan saya..?

    Pengen saran sama pak mentri pendidikan.. pendidikan bahasa indonesia, perlu di tingkatkan akan pemahaman konten. mungkin latihan cerna artikel/buku/ novel dan diskusi. supaya kemampuan kita untuk memahami, dan coba terbuka sama sudut orang lain bisa lebih terasah.

    ReplyDelete
  4. Well said,Laila... I'm somekind of ignorant too, tapi sayangnya bukan karena gw hidup dalam bubbles yang serbaenak, sebaliknya karena I have my own struggle, jadi kadang baca yang berat-berat memang lelah, hahahaha.

    Kadang gw berpikir apakah jaman dulu hidup rakyat lebih damai karena semua media dibredel jadi mereka bisa nanem padi tanpa mikirin Kim Jong Un, misalnya. Gw pikir-pikir, jaman dulu orde baru bikin rakyat hidup dalam bubbles, yang dalam beberapa hal, khususnya buat rakyat jelata yang memang nggak melek politik dan literasi, mungkin adalah hal yang bagus to some extent. Mereka jadi nggak gelisah, nggak perlu mikirin gawatnya negara, bisa fokus kerja menghidupi diri tanpa kuatir akan hutang negara yang makin numpuk.

    Di sisi lain, pasti para cerdik cendekia, pejuang HAM, dan mereka yang merasa bisa mengubah nasib negeri ini gelisah dong dengan bubbles yang diciptakan sama orde baru ini. Mereka pengen dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kadang gw pikir, buat apa? Apa iya negara ini bisa maju dengan semua orang terpapar semua berita, semua hal? Well, mungkin iya sih, I don't know.

    Sewaktu kuliah kegiatan favorit gw adalah jalan-jalan ke Banten ke kampung orang baduy dan blusukan ala Jokowi ke kampung-kampung kumuh. Walaupun taraf hidup mereka kurang lebih sama, tapi orang-orang baduy jauh lebih bahagia dan civilized in their own way menurut gw. Karena 1) mereka homogen (yang mana kata penelitian negara yang penduduknya paling bahagia bukan yang paling kaya, tapi yang gap kesenjangannya paling rendah) dan 2) berbeda dengan masyarakat yang tinggal di kampung kumuh, mereka nggak lihat kesilauan kota dan kehidupan mewah,sementara mereka hidup miskin. Mereka jadi nggak merasa nelangsa, terzalimi, atau pengen menggugat pemerintah. Do they live in bubbles? Definitely. Apa mereka salah? Ya nggak juga sih. Mungkin kalau dalam cerita mereka, ignorance is a bliss is indeed true.

    Gw pikir, sebenarnya Kim Jong Un juga lagi hidup in his own bubble ya, mungkin dia mengisolasi diri bukan buat bikin senjata biologis, dia cuma pengen membangun negara dengan tenang (dan bikin bom nuklir dengan tenang). Gw lihat salah satu liputan Natgeo yang menyelundupkan kamera tersembunyi ke Korut, dan terlepas dari benar tidaknya isi berita itu, people in Korut do look very happy and live decently. So, maybe just maybe, Kim Jong Un is not that bad.

    Kok gw jadi bahas Kim Jong Un sih ya.

    Bagi diri gw, there's nothing wrong about living in a bubble as long as you want it, and as long as you're okay with it. Okay di sini maksudnya, kalau situ nggak pernah aware dan woke sama politik, ya nggak usah ngeluhin jalan macet, banjir atau harga cabe naik. Nggak usah menghujat pemerintah while you did totally nothing about it. Just like the baduys (question is, do we want to be a baduy?)

    Akhirnya, mengutip kata Sujiwo Tedjo, sekalipun hidupmu sempurna, kamu merasa hidup di negara yang sudah sesuai 100% sama keinginanmu, masa iya sih nggak ada kegelisahan di dalam jiwamu, sedikiiit aja?

    :D

    PS omg I'm rambling like a drunk woman hahahaha.... I love this post so much Laila!

    ReplyDelete
  5. I'm an (number one) ignorant kalau udah ngomongin soal politik. Bener-bener nggak ada niat samsek untuk cari tahu lebih banyak tentang itu. Biasanya aku "melek" kalau ada isu tertentu, contohnya ya Pilkada kemarin. Itu pun awalnya ngulik dari Twitter, baru setelah itu kiri-kanan mulai heboh *tepok jidat*

    Tapi bener yaa, terlalu cuek sama kondisi negara sendiri juga nggak baik. Tadinya udah mau close window pas baca postingan ini setelah sadar isinya berbau politik hahahahah gilaa saking ignorance-nya! But, thank you, Mba Lei, udah nulis ini. Ngingetin diri sendiri harus bisa balance menerima informasi di luar sana (antara gosip receh di sosmed dan fakta kondisi negara tercinto).

    ReplyDelete
  6. Mba lei for president!!! Mba lei for president!!! Mba lei for president!!!

    Tapi kadang terlalu melek jadi esmosi sendiri liat para pendukung masing2 kubu yg bener2 tutup mata kuping sama sekitar tapi buka mulut nya ga di rem.
    Tapi kadang akun2 whistblower itu ada jeleknya juga. Bikin kehidupan makin panas dan berantem mulu. Jadi tak ada santai2nya jalanin idup. Takut di videoin sama netijen trus di DM ke akun2 tsb.

    ReplyDelete
  7. Dulu (banget nget nget), gw sangat giat ngikutin aneka ria safari perpolitikan dan diskusi sama bokap soal itu. Sampai kemudian gw merasa bahwa banyak media tidak netral, sehingga persepsi yang terbentuk kadang "digiring" ke arah tertentu. Terus sejalan sama era reformasi yang menurut gw kadang menjurus ke kebebasan tidak bertanggung jawab, gw semakin pusing liat aneka drama kumbara di negara ini dan akhirnya gw.... stop.
    hahahaha I gave up.
    dan masuk ke bubble cetekku dimana gw asik dengan kesimpulan-kesimpulan asal semacam orang cantik pasti bego (Raline Shah kok bisa jadi Direktur???), orang kaya pasti songong, dan terlibat love-hate relationship sama Ibu Kawa. Although, I do draw the line at LamTur hahah
    terus sekarang jadi lebih seneng bedah-bedah isu politik di Gim of Tron (kak, episde 4 gak dibahas nih? seru gilaaa)
    I love my bubble for now. I will never let go of it, because reality is so much harder.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gosipnya karena Raline dipacarin sama...... jreng jreng jreng. Hahaha.

      Chaos is a ladder indeed, kutip Bran, yang mengutip Littlefinger. Kutipception!

      Delete