Aug 9, 2016

Don't Eat Coal For Breakfast


Ehem, ehem.

Jadi, mumpung di blog sendiri, gue mau buka-bukaan nih.

Tujuan gue menulis artikel ini bukan karena gue bener-bener passionate terhadap isu ini. Bahkan bisa dibilang, gue  nggak punya kepentingan langsung sama isu full-day school. Toh gue udah bukan anak sekolahan lagi, dan Raya SD-nya masih lama.

Pemicu utama gue menulis artikel ini adalah karena gue prihatin ngeliat netizen yang langsung ngamuk terhadap gagasan ini, padahal gagasannya masih mentah dan belum jelas. 

Ngamuknya pun kampungan, lho. Di sosmed, Pak Muhadjir dikata-katain "peler", "goblok", dan sebagainya. Coba bapak lau yang dikata-katain gitu. Trust me, I kinda know how it feels. I have a vice president for an uncle.

Mengutip kata-kata Yayi di Path, katanya menghujat Awkarin? Lah, kok kelakukan kita jadi kayak Awkarin?

Karena gue nggak mau terseret cela-celaan dan berantem di sosmed, mendingan gue bikin artikel yang mudah-mudahan nggak ikut-ikutan menyakitkan hati.

Artikelnya, sih, biasa banget. Wong diketiknya ngebut dalam waktu dua jam aja. Gue nggak sempet riset mendalam sama sekali, sehingga nggak bisa ngasih ide solutif juga. Tone artikelnya pun masih berkesan memihak gagasan full-day school. Padahal sebenernya gue netral, kok. Cuma pengen kasih liat sudut pandang lain, yang berseberangan dengan pendapat populer. Kali-kali membuka hati dikit.

Pokoknya, I tried to do something better daripada marah-marah di sosmed, lah. 

***

Plis yah, gaes. Jangan keseringan nyarap batubara. Jangan gampang panas, tanpa berusaha memahami sudut pandang lain. Nggak setuju dan mengkritik boleh banget, tapi sebisa mungkin solutif dan nggak usah kasar 'ica kali, yhaaa...

(juga jangan sekali-kali nontonin Snapchatnya Awkarin x Younglex, kalo emang nggak berkepentingan, kecuali kalo emang kepengen tau rasanya dicium dementor. Semua keademan hati sirna, hoekkk...)

16 comments:

  1. *baru liat sc awkarinxyounglex T.T....zzzzz zzzz...

    Kak Lei, aku jg baru tau ada yg nyela2 kasar ke pak menteri segitunya di ig nya kinci. Yg saya baca dan menggugah saya malah yg tulisan Zen.rs (that selebtwitfilsuf) yg bilang kalau kebijakan ini bias kota, bias kelas menengah. Karena pada sebagian murid (dan guru) masih membutuhkan siang hari di luar sekolah untuk membantu di warung/ladang/bercengkrama dgn keluarga/menjaga nenek/bantu persiapan hajat tetangga dsb dsb..
    Nah, kalau ngritiknya pakai bahasa sastrawi walau lemah dasarnya bacanya enaaaakk gtu yah. Kalau ngungkapin riset cangguh tapi pake Kayin mode on mah yaaaa maen PS lah sana sama Kayin. Hihiii.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kalo begitu kan enak, yaaa. Contohnya juga enak dan masuk di akal, kok. Debatnya pun lebih sehat. Debat kasar di Internet is very inevitable nowadays, tapi kalo bisa nggak usah keseret, laah.

      Malu amaaaat umur segini masih jadi keyboard warrior. Mending jadi Xena Warrior Princess... zzz....

      Delete
  2. Ini aku rasakan di timeline aku juga Kak. Haha, pake kakak kakak segala.

    Intinya Lei, kalo memang positif dan bisa diisi sama kegiatan ekstra kurikuler juga sebenernya ngga masalah sih. Dulu juga gw sekolah sampai jam empat and turns out to be fine. Mungkin ada ketakutan orang tua yang anaknya perlu mengembangkan bakat juga selain kegiatan akademis yah, misal mau kursus piano atau taekwondo kah... Makanya gagasan ini sebenarnya harus ditilik ulang kan, sampai jam lima itu sebenernya mau ngapain aja.

    Again, anak gw juga SDnya masih lama. yasutralah ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo yang aku liat, Mendikbud maunya membuat sekolah jadi semacam "daycare" untuk menampung anak-anak, supaya nggak pada keleleran di luar sekolah. Di sekolah anak-anak mau belajar kek, goler-goler kek, main kek, ekskul kek... liat nantiii hehe. Yang penting nggak keleleran di luar.

      Menurutku boleh banget mengkritik gagasan Mendikbud, tapi jangan terlalu dini deh. Wong Mendikbudnya juga belum bilang kok, sekolah sampe sore itu bakal ngapain aja. Apalagi ngritiknya yassalammm, bahasa toilet keluar semua -__-

      Aku sendiri juga mempertanyakan kok, konsep "daycare"nya ini seperti apa?

      Delete
  3. kalo aku mbak, lebih positif thingking sama gagasan ini.. naga-naganya nih si bapak punya ide ini gara2 banyak banget kasus tawuran pelajar lah.. balap liar lah.. kegiatan2 gak guna yg mungkin bisa dilakukan setelah pulang sekolah.. memang rata2 ortu yg bekerja gak akan bisa kontrol secara fisik anaknya setelah jam sekolah, bisa jadi anak kan alesannya macem2.. kalo menurutku sih mungkin ide ini cocok utk anak SMP n SMA yg mulai "kreatif"... hihihi

    ReplyDelete
  4. Aku juga mbak Lei, anakku SD nya masih lama. Dibikin aja belom. Bapaknya aja belom ada MUAHAHAHAH.

    Mungkin iya yah mau konsep daycare kaya di Finlandia yg sering ku baca di blognya Mbak Rika. Perlu persiapan heboh di infrastruktur sih kalo kaya gitu. Karena anak SD kegiatannya pasti lebih variatif daripada daycare balita. Tinggal tunggu aja sih ya harusnya ga usah lar ler lar ler gitu. Peperin laler se bantar gebang juga nih...

    ReplyDelete
  5. klo menurut aku, komen2 nada toilet ini kayak mewakili kesakithatian krn menteri anies diganti. jujur, aku jg kecewa (baca: anies). tapi, mau gimana? mau goler2 nangis sesenggukan trs? aku jg pasang posisi ngeliat aksinya si pak muhadjir ini, krn bener bgt konsepnya masih blur. secara ya bok, punya anak batita, jadi waswas jg mau dibawa arah pendidikan di indonesia ini.

    ReplyDelete
  6. Iyaaaa, kak setuju! Senada dengan tulisan ini: mojok.co/2016/08/full-day-school/

    Begitu mudahnya tersulut sekarang, kolom komen di YM galak2 pun.

    ReplyDelete
  7. kebetulan aku bagian yg gak setuju.
    masalahnya sekolah yang cuman half day aja sering linglung gonta ganti kurikulum. eeeh mau bikin full day puuun. nanti makin linglung plus penjelasan pak mentri pun terkesan mengada-ada yang malah bikin hati orang tua jadi khawatir.
    kenapa gak benerin dulu sistem yang ada bukan malah ganti ke sistem baru.
    Anywaaay... justru kayaknya yang mesti disekolahin FDS itu komentator2 asal nyeplos yeesss....

    ReplyDelete
  8. Tapi tapi tapi... tapi ya sutralah yaaaa :D

    https://nasional.tempo.co/read/news/2016/08/09/079794531/menteri-muhadjir-rencana-sekolah-sehari-penuh-dibatalkan

    No worries buibu, kebijakan yang asal nyeplos, pelaksanaannya palingan bhay, kok

    ReplyDelete
  9. Nice artikel, Laila... saya sih sebagai orang tua termasuk salah satu yang nggak setuju juga sih, kesannya program ini seperti melepaskan tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak ke sekolah. Saya sendiri bukan termasuk orang tua yang akan menyerahkan begitu saja 9 jam kehidupan anak saya ke tangan orang lain, termasuk institusi sekolah. Sebaik apa pun sekolah, saya ingin anak-anak saya tetap memiliki sebaris 'warna' yang dilukis orang tuanya, bukan seluruh kanvasnya di'lukis' oleh sekolah. Menanamkan akhlak yang baik, kepribadian yang bertanggung jawab, bagi saya itu adalah tugas orang tua di rumah (entah dengan cara apa, tergantung orang tua masing-masing). Saya ingin waktu yang 3-4 jam sepulang sekolah sebelum anak-anak tidur itu diisi dengan kebersamaan bersama kami ayah ibunya, bersama teman-teman di sekitar rumah, mungkin seminggu sekali dengan les renang atau mengaji di masjid dekat rumah. Cukuplah sekolah 5-6 jam sehari, sisanya biarlah kami yang mendidiknya.

    Di sisi lain, saya juga memahami bahwa mungkin ada orang tua yang tidak memiliki waktu dan energi untuk mendidik dan mengawasi anak-anaknya sepulang sekolah, sehingga 'daycare' sekolah mungkin akan terdengar seperti ide yang baik. Saya sendiri memiliki beberapa teman yang mengirim anaknya ke asrama atau pesantren dengan tujuan kurang lebih sama: agar anaknya nggak terjerumus ke kegiatan atau pergaulan yang salah. Tentunya semua punya pertimbangan masing-masing ya, I'm not against that, it's just simply not my and my husband's thing. As simple as that.

    Di luar faktor itu, saya rasa kebijakan itu mungkin kurang peka terhadap orang tua yang anak-anaknya masih harus melakukan hal lain sepulang sekolah. Mereka yang harus membantu orang tuanya berjualan misalnya. Atlet PORDA yang harus selalu latihan. Anak-anak yang punya kegiatan lain seperti band atau les sempoa. Mereka yang kerja sambilan shift sore. Atau sesederhana mereka yang mempunyai kakak dan adik, alangkah asingnya kakak dan adik jika terpisahkan selama 9 jam (mungkin lebih apabila jarak tempuh ke sekolah jauh), alangkah sayangnya waktu afeksi keluarga yang hilang.

    Tetapi, bagi saya sendiri yang telah memiliki gambaran besar akan seperti apa pendidikan anak-anak nanti, kalaupun jadi diterapkan full day school, ya saya tinggal cari sekolah swasta yang memenuhi harapan saja ya kan? :)

    ((gw serius banget ampe bersaya kamu))

    ReplyDelete
  10. Gw pas kemaren beritanya keluar, sambil ngemil gw mikir "Yaelaaahh,ini orang-orang pada nyolot amat. Tenang aja ini Indonesia cuy yang udah ada undang-undangnya aja jalannya mpot-mpotan apalagi yang cuma wacana".
    *Balik nyemil sampe gembray*

    ReplyDelete
  11. Gak ada yang komen dari segi SDM nya yah alias pengajar2 disekolahnya? Masih buanyaaak banget guru honorer yang gajinya cuma seiprit dibawah UMR, dan terpaksa harus nyari tambahan ngajar privat atau tempat lain supaya dapat tambahan masukan. Kalau waktunya cuma disekolah seharian siapa yang mau bayar ekstra?
    guru2 juga sama loh manusia juga, butuh makan juga, punya anak juga :)

    ReplyDelete
  12. Iya benerrr, baiknya ga langsung nyolot sama idenya Pak Menteri baru ini.

    faktanya:
    Indonesia

    Matematika: 375 poin (posisi 64)
    Sains: 382 poin (posisi 64)
    Membaca: 396 poin (posisi 64)
    Jam Belajar Resmi SD: 07.00 - 12.00
    Jam Belajar Resmi SMP: 07.00 - 13.00
    Jam Belajar Resmi SMA: 07.00 - 13.30
    Kebahagiaan Murid: 95 persen (posisi 1)

    Cina (Sanghai)

    Matematika: 613 poin (posisi 1)
    Sains: 580 poin (posisi 1)
    Membaca: 570 poin (posisi 1)
    Jam Belajar Resmi SD: 06.30-15.00
    Jam Belajar Resmi SMP: 06.30-17.00
    Jam Belajar Resmi SMA: 06.30-19.00
    Kebahagiaan Murid: 85 persen (posisi 28)

    Singapura

    Matematika: 573 poin (posisi 2)
    Sains: 551 poin (posisi 3)
    Membaca: 542 poin (posisi 3)
    Jam Belajar Resmi SD: 07.30 - 13.00
    Jam Belajar Resmi SMP: 07.30 - 15.00
    Jam Belajar Resmi SMA: 07.30 - 16.00
    Kebahagiaan Murid: 87 persen (posisi 28)


    Finlandia

    Matematika: 519 poin (posisi 12)
    Sains: 545 poin (posisi 5)
    Membaca: 524 poin (posisi 6)
    Jam Belajar Resmi SD: 09.00-14.00
    Jam Belajar Resmi SMP: 09.00-14.00
    Jam Belajar Resmi SMA: situasional
    Kebahagiaan Murid: 68 persen (posisi 61)

    (http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/16/08/10/obp3vy334-hasil-penelitian-siswa-indonesia-bahagia-kualitas-pendidikan-terbawah)

    Jadi yang perlu diperbaiki dari sistem pendidikan di Indonesia adalah.... (Puyeng mikirinnya, hehe..)

    ReplyDelete
  13. Duh jadi pengen komen juga. Lei, tulisan lo kayaknya lebih concern ke komen orang2 yang asal jeblak ya akhir2 ini terhadap peristiwa apapun.
    Gw juga berasa sedih loh klo orang2 masa kini yang katanya modern itu kok kasar amat ya klo komen.
    Masalah sekolah fullday, saat ini anak gw playgroup dari jam 7 sampai jam 13.45. Lama ya ha3
    Tapi fun banget sih, gak belajar yang akademik. Jadi gw yang tadinya deg2an karena anak gw lama sekolahnya, jd lega karena ternyata sekolahnya gak berat.
    Nah klo sekolah fullday jadi (dan ternyata batal ya ha3) bagusnya emang dibikin metode yang fun lah belajarnya.
    Udah itu aja komennya he3

    ReplyDelete
  14. Anak gw taun depan masuk sd dan gw sampe skrg bingung kurikulum yg dipake skrg ni apa sih kok berubah2? Beda2 tiap sekolah gitu kayanya

    Kalo menurut gw yg bikin orang kesel mungkin bukan full day nya krn toh sekolah2 swasta juga udah banyak yg full day kan..g aneh gitu, tapi mungkin yg bikin orang pada kesel krn alesan dibalik fullday nya itu 'supaya g keleleran kalo orangtuanya kerja' yg ibu bapaknya kerja seindonesia raya ini brp persen sih? Lebih dari 60%?
    Alesan berikutnya 'anak2nya pulang jam 5, bareng sama ortunya nanti dijemput oulang bersama2' boook emang sekolahnya seblahan ama kantor, pulang jam 5 trus sampe sekolaan anaknya paling cepet jam 5.30-6 uda keburu gelap kali, trus sambil anak2 nunggu dijemput guru2nya gmn? Bisa lambaikan tangan ke kamera kali tu guru2, belom lagi macetnya jalanan orang kantor pulang bareng sama anak sekolah

    Yg intinya terkesan pak mentri kaya asal ngomong aja, jujur aja sih ini kali pertama gw ngeluarin uneg2 soal full day school di socmed hehe selama ini cuma mantau aja reaksi orang2, walopun apapun alesannya tetep g boleh kasar ya kalo ngatain, tapi hari gini kadang berterima kasih sih sama orang2 reaksional, biar ada rem sedikit lah..

    ReplyDelete