Apr 28, 2016

Basi, Madingnya Udah Terbit!



Kapan, sih, kamu merasa tua atau dewasa? Ada yang bilang, pas nikah, pas pertama kali gajian, pas pertama kali bisa beli mobil sendiri, pas pertama kali beli rumah sendiri, dan sebagainya.

Gue sendiri merasa benar-benar tua ketika semua anak magang di kantor gue bilang, nggak ada yang pernah nonton AADC 1 (di bioskop), karena saat filmnya keluar, mereka masih TK atau baru masuk SD. Ada yang masih balita. TIDAAAAAAKKKK!!! *guling-guling di skincare anti-aging*

Men, 14 taun yang lalu, men! Siakek, emang.

Sementara bagi gue, AADC identik banget sama masa remaja, karena memang pas filmnya keluar, gue lagi SMA banget. Lagi ranum-ranumnya (halah). Wajar, dong, kalo gue sempet kepengen ngangkat AADC di Youthmanual, karena Youthmanual = anak muda, dan bagi gue, masa muda = AADC.

Tapi ya siape bilaaaaang…? AADC bukanlah untuk anak muda jaman sekarang. Buktinya, pas gue survei kecil-kecilan, anak-anak magang di kantor gue nggak ada yang nonton AADC 1. Ada, deng, yang nonton satu orang. Itu juga baru beberapa tahun yang lalu, di RCTI, dan adegan ciumannya di-sensor, hihihi.

Batal nulis di Youthmanual, deh!

Trus, karena AADC 2 melanjutkan cerita gengnya Cinta, tentunya kisah AADC 2 juga nggak mengisahkan tentang masa remaja. Kesimpulannya, wahai media anak muda (yang editornya udah pada setua gue), tolong nggak usah bawa-bawa AADC ke medianya, deh. Pembacanya pada nggak relate, tuh, hihihi. At least, nggak se-relate kita, ya.

But thanks to AADC, Generasi 90an jadi punya film klasik yang iconic banget. Sampe-sampe kita jadi punya bahan nostalgiaan dan becandaan internal yang nggak dipahami oleh dedek-dedek. Ya nggak, sih? *pelukan sama Generasi 90an yang udah pada buncit-buncit*

Parodi terbaik yang gue temukan sejauh ini ada dua.

Pertama, parodi reenactment dari malesbanget.com 


Ceritanya, sih, sama kayak AADC 1, tapi setting-nya dibikin jaman sekarang, ketika mading udah beneran basi, karena udah tergantikan oleh sosmed. Cukup menghibur, sih, walaupun…
  1. Casting Rangga dan Cintanya di Jakarta Barat banget, nih? :D
  2. Ekting vlogger Ria Sukma Wijaya cukup oke sebagai Cinta, tapi tetep ingin kutepuk-tepuk wajahnya pake kertas minyak. Tim mekap mana, nih, tim mekap?!
Sementara momen-momen favorit gue di video ini adalah...
  1. Ketika esensi generasi milenial terangkum dengan sederhana namun sempurna di dialog, “Elo tuh sahabat kita. Kalo ada apa-apa, langsung share, dong… di Google Drive”. Eaaak.
  2. Ketika Alia yang alus dan lembut bilang “Sakit, anjing.” Ahahaha, blengcek. Biarpun putri keraton, memar ya jangan diteken, anzing.

Kedua, parodi kocak-kocak-ngeselin dari blogger dan penulis jenaka Haris Firmansyah. Baca tulisan parodi ini bikin emosi teraduk, kayak semen. Soalnya tulisannya sukses membangkitkan nostalgia adegan-adegan iconic di AADC, tapi sekaligus menghancurkan imej Rangga dan Cinta sendiri. Kzlnya kanmaen, lah!

Silahkan langsung baca, ya. Jangan pake sebats, dulu!

Ada Apa dengan Mamet?
  
Nama saya Rangga. Saya hanyalah seorang pelajar SMA biasa. Saya lebih memilih mengisi jam istirahat dengan baca buku di perpustakaan daripada baca koran di toilet khusus guru.

Semua berubah ketika Pak Wardiman sang penjaga sekolah, tanpa sepengetahuan saya, mengikutkan puisi buatan saya dalam lomba cipta puisi tahunan yang diadakan oleh pihak sekolah. Lomba tersebut berhadiah sepeda kumbang.

Tak dinyana, puisi buatan saya menang. Pak Wardiman mengambil hadiah sepedanya, kumbangnya untuk saya. Setelah saya resmi jadi pemenang lomba puisi tanpa sengaja, ada cewek mading yang ngejar-ngejar saya untuk minta wawancara.

“Kamu Rangga, kan?” tanya cewek mading tersebut sambil ngajak salaman. Tapi saya abaikan tangan halusnya yang terjulur. Berhubung lupa kobokan, tangan saya masih ada bumbu rendang. Sebab saya makan siang di RM Padang.

“Bukan. Saya sebenarnya siluman tengkorak,” kata saya berpura-pura.

“Oh.” Cewek itu langsung percaya dan pergi.

Keesokan harinya, saya menemukan surat kaleng dari seseorang bernama Cinta. Cinta pastilah si cewek mading itu. Isi suratnya hanyalah nama ayah saya digambar dengan doodle. Ternyata masih zaman ngata-ngatain nama orangtua.

Saya langsung marah dan labrak Cinta di ruangan mading.

“Bisa ngomong sebentar?” Saya menarik tangan Cinta sampai kami berdua berada di bawah pohon belimbing.

“Mau ngomong apa?” tanya Cinta sambil gigitin kukunya.

Saya langsung menendang batang pohon belimbing sampai buah-buahnya berjatuhan menimpa kepala Cinta. Cinta pun keliyengan. Saya lari sambil ngakak.

Setelah hari itu, saya kualat, buku favorit saya hilang. Buku favorit saya adalah buku rapor. Di sana ada nama ayah dan ibu saya. Kalau ditemukan pihak tak bertanggung-jawab, nama orangtua saya bakal tersebar ke seantero sekolah dan saya bakal di-bully sampai lulus SMA. Sebab ayah saya dikenal sebagai pendukung utama Farhat Abbas dalam pilpres tahun lalu. Keluarga saya pun dikucilkan masyarakat sekitar karena hal itu. Ibu dan kakak-kakak saya pun meninggalkan ayah saya karena tidak tahan dengan bisik-bisik tetangga.

Untungnya, rapor saya ditemukan Cinta. Saya langsung berterima-kasih dengan mengajaknya ke toko buku bekas di Kwitang. Saya ingin menunjukkan kepada Cinta bahwa masih banyak buku-buku yang lebih seru daripada isi rapor saya yang nilai penjaskesnya merah.

Ketika saya asyik memilih buku bekas, Cinta tepuk jidat.

“Ya ampun! Aduh! Gue lupa hari ini ada janji sama temen-temen nonton Gigi Raisa Cokelat,” ucap Cinta sekonyong-konyong.

“Emang kenapa gigi Raisa sampai cokelat? Sering minum kopi?” sahut saya.

“Bukan. Itu konser kolaborasi antara Gigi, Raisa dan Cokelat,” ralat Cinta.

“Nggak ada kamu, mereka tetep manggung, kan?” sinis saya.

“Jangan begitu dong. Saya udah nyiapin bendera Slank dari kapan tahun.” Cinta mengibarkan bendera yang sejak tadi dibawanya.

“Kayak nggak punya kepribadian aja,” sungut saya.

“Hah? Apa kamu bilang?” Cinta tersinggung.

“Iya. Nonton harus sama-sama. Pulang sekolah juga harus sama-sama. Sampai bayar SPP ke ruang TU juga harus sama-sama. Apa namanya kalau bukan mengorbankan kepentingan pribadi demi sesuatu yang kurang prinsipil?” ucap saya dengan nada judes-judes ganteng.

“Rugi gue buang-buang waktu sama lo! Mending gue ngobrol sama Haji Bolot sekalian!” Kemudian Cinta pergi dengan wajah merengut.

Pemilik toko buku menyuruh saya mengejar Cinta.

“Kejar! Ayo! Cepet! Laki bukan sih?” kata beliau. “Kau perhatiin ya. Kalau sampai dia menengok kemari, itu berarti dia mengharap kau mengejar dia! Perhatiin!”

Saya lihat Cinta masih tetap jalan ke depan. Di hitungan ketiga, Cinta beneran nengok dan melambaikan dompet. Dompet saya. Emang minta dikejar nih cewek!

Saya langsung kejar Cinta sambil teriak, “Copet!”

***

Sewaktu di sekolah, saya meminta dompet saya ke Cinta secara baik-baik.

“Makanya, jangan jelek-jelekin temen-temen gue. Kalau lo nggak punya temen di Facebook, salah gue? Kalau tiap lo update status yang like cuma diri lo sendiri, salah temen-temen gue?” cerocos Cinta sembari memberikan dompet saya yang telah dikuras isinya. Ketika dicek, tersisa KTP dan kartu BPJS doang.



Setelah menangisi isi dompet, saya ngeloyor ke gudang sekolah. Di sana saya disamperin oleh cowok bernama Borne yang mengaku pacarnya Cinta. Borne bawa teman-temannya dari STM jurusan otomotif. Hari itu, saya digebukin sampai ‘turun mesin’.

Akibatnya, saya tidak masuk sekolah selama tiga hari. Di hari ketiga, Cinta datang ke rumah saya. Dia kaget melihat wajah saya babak-belur kayak bubur diaduk.

“Kayaknya sehat-sehat aja nih,” ucap Cinta ngeledek.

“Ayo, masuk,” ajak saya tidak menanggapi candaannya.

Ketika duduk di sofa, perut Cinta bunyi.

“Kirain kamu kesini mau jengukin saya yang digebukin oleh cowok yang ngaku-ngaku pacar kamu. Nggak taunya mau minta makan toh,” kata saya kecewa.

Cinta hanya nyengir sambil menahan lapar dan dahaga.

Kemudian saya mengajak Cinta ke dapur. Ketika saya sibuk masak, Cinta ikut ngerecokin.

“Kamu pasti nggak bisa masak,” vonis saya.

“Bisa,” elak Cinta.

“Masak apa? Masak air?” kejar saya.

“MASAK BODO!” Cinta meleletkan lidah.

Saya melengos.

“Nggak ada yang bisa saya bantu ya?” tanya Cinta yang mati gaya.

“Ada. Tetangga saya lagi bangun rumah tuh!” ucap saya asal.

Kemudian Cinta beneran ikut bantu bangun rumah. Cinta ngaduk semen dengan telaten. Selesai saya masak, Cinta selesai bikin satu bedengan.

Ketika saya tawari makan, Cinta sedang ngaso sambil ngerokok samsu.

“Ayo, Ta. Makan dulu,” ajak saya.

“Bentar, Ga. Sebats dulu,” ucap Cinta santai.

Malamnya, saya mengajak Cinta ke sebuah kafe. Di sana ada acara stand up comedy. Kebetulan saudara saya yang jadi MC. Cinta pun dipaksa open mic.

“Selamat malam. Pernah nggak kalian ketemu ibu-ibu bawa motor matik nyalain sein kiri, tapi belok ke kanan?” Cinta masuk ke bit pertama.

Penonton hening.

“Menurut saya, ibu-ibu itu masih mending daripada Rangga. Rangga nyalain sein ke kiri, malah lari ke hutan, lalu belok ke pantai.” Setelah melempar punchline yang tumpul, Cinta ketawa-ketawa sendiri.

Penonton masih hening dan mencari-cari dimana lucunya. Singkat kata, Cinta nge-bomb.

Malu, saya tinggalkan Cinta dan pulang duluan ke rumah.

Sejak itu, Cinta menjauhi saya di sekolah. Tiap saya telepon, nggak diangkat. Giliran saya nggak nelepon karena nggak punya pulsa, dia kirim SMS minta ditelepon. Ngeselin banget.

Sampai akhirnya, saya pamit ke Pak Wardiman karena saya harus pergi ke Amerika.


"Saya mau kuliah di Washington. Biar malamnya, saya bisa main ke Las Vegas," pamit saya.

"Kayak lirik lagu Kangen Band," komentar Pak Wardiman.

Ketika saya berpelukan dengan Pak Wardiman, salah satu teman Cinta yang bernama Karmen memergoki. Kabar saya yang ingin ke Amerika sampai ke telinga Cinta. Akhirnya, Cinta bersama teman-temannya mengejar saya ke bandara.

Teman-teman Cinta terdiri dari empat cewek dengan kepribadian berbeda. Karmen si tomboy hobi basket yang tiap marah bawaannya pengen nimpa orang, mirip Squash di game Plants vs Zombies. Milly si lemot yang ketika teman-temannya sedang bahas fitur-fitur iPhone 6 Plus, dia masih nanya gimana cara mindahin foto pake inframerah. Alya si gadis rapuh yang kesehariannya diisi dengan mendengar pertengkaran ayahnya yang merasa diabaikan karena ibunya asyik nonton Uttaran. Dan Maura yang paling cantik dan seksi. Seksi pembinaan dan kaderisasi.

Tapi karena mobil Milly kejebak di parkiran, mereka membawa lari mobil milik pelajar culun bernama Mamet. Ketergesa-gesaan membuat Cinta seperti preman di game GTA (Grand Theft Auto).

Ketika di bandara, Cinta ditahan oleh petugas bandara. Tapi Alya bisa mengalihkan perhatian petugas bandara dengan menunjukkan trik sulap memasukkan handphone ke dalam botol. Saat petugas bandara bengong, Cinta pun nyelonong.

“Untuk terakhir kalinya, saya mau jujur. Saya nggak marah sama kamu karena ninggalin saya sewaktu open mic. Saya marah sama diri saya sendiri karena saya nggak serius nulis materi.” Cinta menahan kepergian saya.

“Tapi saya tetap harus pergi, Ta.” Saya siap-siap angkat koper.

“Gimana kalau sebelum pergi, saya cium kamu dulu?” tawar Cinta. "Biar kayak di film-film Barat."

Saya memejamkan mata seperti Sadam ketika dicium Sherina di Bosscha.

Ketika Cinta mencium jidat saya, jidat saya terasa panas dan melepuh. Ternyata Cinta nyium saya dengan rokok samsu. Itu sih bukan nyium, tapi nyundut.

Sejak itu, saya memutuskan untuk tidak pulang lagi ke Indonesia. Saya takut dianiaya oleh Cinta untuk kesekian kalinya. Biarlah posisi saya digantikan oleh Mamet.

11 comments:

  1. astagfirulllaaahhh....baca ini pagi2 rusak semua dandananku mbaaakk... ngakak sampe mbeleerr.. XD sebats dulu!

    ReplyDelete
  2. Aduh nonton vlognya berasaaa.. emmm berasa lebaay deh.

    ReplyDelete
  3. Thanks, La, udah bagi tulisannya si Haris itu hahahahaha. Gue jadi mampir blognya, terus baca-bacain jokenya, ada yang garing, ada yang kocak abis sampe bikin suami gue bingung kenapa bininya ketawa sendiri pagi2.

    Gue nonton AADC pas masih kuliah, itupun udah lewat bbrp lama karena dibawain filmnya dari Indonesia sama temen. Pas nonton sih biasa aja, soalnya dulu gue gak sempet ngalamin peristiwa gremet-gremet di sekolah. Maklum perempewi semua, paling mentok ngecengin guru (yang gak ganteng). Cuma buat tahun segitu, setelah era film-film ancur di Indonesia, itu film rasanya jadi berkualitas banget. Lagu-lagunya juga enak dan melegenda. Gue sempet nyanyi lagu Bimbang pas acara malam gembira Permias dulu dan banyak yg tau lagu itu walaupun kita gak tinggal di Indonesia. Sebegitu fenomenalnya AADC!

    ReplyDelete
  4. SEBATSSS DULUUUU!!! KEZEELLLLLLLL!!!!!!

    ReplyDelete
  5. Gue termasuk generasi yang ga nonton AADC 1 di bioskop. And yes, soalnya pas itu masih kelas 1 SD haha! Tapi gue ga ketinggalan sama euphorianya AADC 2 dan bela-belain nonton premier hari ini padahal besoknya ada deadline proposal skripsi #curcol
    Dulu gue juga dapet nonton AADC sepotong-sepotong di TV. Trus pas line ngerilis mini drama sekuelnya AADC, rasanya seneng banget. Berasa sendirinya yang balikan sama mantan lol
    Dan untuk menyambut AADC 2 ini gue sampe bikin acara nobar bareng sama anak kosan :')))) *harddiefansalert
    Gue ga ngerti juga sih kenapa gue se freak itu. Padahal kalo dipikir2, setting film AADC 1 udah jauh beda sama momen2 yang gue rasain zaman SMA. Mungkin karena saking kerenya akting Nic, sampe bikin gue yang hopeless romantic ini percaya kalo satu purnama di Jakarta dan New York itu sama hahaha
    Jadi intinya, masih ada kok anak diluar generasi 90an yang juga cinta sama AADC. Bikin tulisannya di Youthmanual dong, Kak Lei! :))

    ReplyDelete
  6. “mmm... yaudah ambil gope sisanya kasih saya ya, Pak!” maaak knp Rangga jd matre LOL.. Kocak banget inih... Emang ya generasi sekarang dikit2 upload hahahahaha.

    Tenang Kak Lei, aku anak tahun 90an, you’re not aloneeee :P

    thanks for sharing this.. :D

    ReplyDelete
  7. "Sakit, anjing"

    Bwahahahaha ngakak teguling guling.

    ReplyDelete
  8. Hahaha Mbak Lea bisa ajaaa XD

    Duh jaman segono, film remaja dengan tokoh SMA pun pake adegan ciuman :3 :3

    ReplyDelete
  9. nyeeeeehhhh... saya belum nonton yang AADC 2... antriannya kok ya penuh ama anak-anak abegong ya?? mamak-mamak jaman AADC 1-nya mana nih???

    ReplyDelete
  10. Hai lei, jangan merasa tua sendiri dong, soalnya AADC muncul pas gw kuliah. Nah, loh, lebih tua lagi kan ha3. Dan sekarang blom nonton AADC 2 soalnya temen2 yang diajak nonton bingung mau dititip ke siapa anak2 mereka ha3. Penontonnya udah emak2 nih :))

    ReplyDelete
  11. NGEROKOK SAMSU...... *udah ga bs ngakak lagi*

    ReplyDelete