Mar 16, 2015

Aku Diponegoro (part 1)

IMG_6867

Before we start, let’s flashback for a little bit.

Pada Juni 2012, Goethe-Institut Indonesien menggelar pameran berjudul Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia di Jakarta.

Pameran ini memamerkan lukisan-lukisan karya Raden Saleh, selama dua minggu di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

IMG_0107

IMG_0038 

IMG_0068

I'm a huge fan of visual art, tapi dari semua jenis bentuk seni rupa, gue paling cuintaaaaa sama lukisan Eropa klasik dari abad 19 kebelakang. Alhasil, jantung gue berdegup kencang—kayak orang dikejar utang—ngeliat karya-karya Raden Saleh yang sangat bergaya Eropa klasik ini.

(FYI, Raden Saleh tinggal dan belajar melukis di Eropa selama 20 taun).

IMG_0012

IMG_0031

IMG_0030

IMG_0026

IMG_0036

IMG_0067

Selain itu, gue juga kagum, lho, dengan preservasi lukisan-lukisan indang. Karya-karya Raden Saleh dibuat pada pertengahan abad 19. Hampir… 300 taun lalu!

Kalo dibandingkan dengan lukisan-lukisan Eropa, usia lukisan segini tuh biasa aja, sih. Tapi dalam anggapan gue, Indonesia adalah bangsa yang kurang menghargai sejarah seninya, sehingga gue bersyukur lukisan-lukisan Raden Saleh ini terjaga baik sampai bisa mencapai umur 300 taun, dan bisa gue saksikan live pada tahun 2012.  Merinding! *kecilin AC*

IMG_0081
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang legendaris.

IMG_0074

IMG_0096 

All in all, the exhibition was utterly amazing. Hati gue hangat sekali bisa ngelihat lukisan-lukisan sekaliber ini di tanah air sendiri.

Selama dua minggu pameran, total 20,000 pengunjung ngejuplek di Galeri Nasional, termasuk gue, yang waktu itu lagi hamil 8 bulan bak kudanil, keringetan dan tergopoh-gopoh sambil nganga dari satu lukisan ke lukisan yang lain.

Raden Saleh is such a nation’s pride
:'}

***

Awal taun 2015 ini, Goethe-Institut Indonesien kembali menggelar sebuah eksebisi berjudul Aku Diponegoro: Sang Pangeran Dalam Ingatan Bangsa.

Sesuai judulnya, eksebisi ini memamerkan karya-karya seni dan artefak yang berhubungan dengan Pangeran Diponegoro.

IMG_6867

Akika tuh, yah, tsintaaaaaa sama museum seni. Bukan cuma yang di luar negeri, tapi juga yang di dalam negeri. Gue lumayan rajin datang ke berbagai pameran seni di Jakarta, tapi dengan sangat mudah gue nyatakan bahwa Aku Diponegoro adalah pameran lokal terkeren yang pernah gue datangi, so far.

Seberapa keren, sih? Well, gue sampe tiga kali datang ke pameran ini—sendirian, supaya khusyuk—dan di salah satu kunjungan tersebut, gue ikut sebuah tur terpandu bersama salah seorang kurator pameran ini, Dr. Peter Carey. Lemayan dedikasi nggak, sih?

Hebatnya, di setiap kunjungan, selalu ada hal baru yang gue temui. Saking berbobotnya pameran ini, kayaknya ada ratusan detail yang nggak mungkin ketangkap dalam sekali kunjungan.

IMG_6947

IMG_6953

IMG_6955

Gue hampir nggak mau berbagi cerita kunjungan gue di blog ini. Pertama, karena gue yakin, tulisan gue nggak akan bisa mewakili kehebatan Aku Diponegoro sepenuhnya.

Kedua, karena subjek dalam pameran seni ini adalah pahlawan nasional Indonesia. Otomatis, pameran ini kental dengan studi sejarah kolonialisme di tanah air. Kalo gue tulis tentang itu disini… NGANA-NGANA PADA BOBOK NGGAK, SIH?! Jangan-jangan, liat muka Pangeran Diponegoro aja jadi pada ngantuk, karena inget buku PSPB ((PSPB!!!)). Ngaku!

Gue nggak pengen blogpost tentang Aku Diponegoro malah bikin orang bocen. Jadi sempet mikir, nggak usah tulis disini, ah…





… but who am I kidding, right? This exhibition is a friggin’ national treasure, of course I have to share it!
*jiwa penulis menggelora*

Gue akan berusaha membagi pengalaman gue dengan sesimpel mungkin, supaya nggak pada ocen. Kalo tertarik, please don’t stop reading midway and please don’t fall asleep, ya.

I promise you, (our) art and history can be interesting.

***

Pameran Aku Diponegoro ini dibagi menjadi tiga bagian.

Bagian pertama:

Diponegoro dan Mulut Sejarah Seni Indonesia: Pahlawan “Invented”

Area ini memamerkan lukisan-lukisan klasik Pangeran Diponegoro, karya seniman-seniman legendaris Indonesia, seperti Raden Saleh dan dan Basuki Abdullah.

Disini, kita bisa liat bahwa tiap seniman punya ‘interpretasi’ masing-masing terhadap Pangeran Diponegoro—ada yang menggambarkan Diponegoro sebagai pemimpin yang kuat, sebagai ikon negara, sebagai santri, dan sebagainya.

IMG_6969

IMG_6876

Berikut adalah beberapa karya favorit gue di area ini:

Pangeran Diponegoro Memimpin Pertempuran 

Oleh Basuki Abdullah, 1949

IMG_6919

IMG_6875

Lukisan ini adalah potret Pangeran Diponegoro dengan pose tipikal pemimpin.

Pada lukisan ini, Pangeran Diponegoro tampil bersorban, berbaju tunik, dan sedang mengendarai kuda kesayangannya, Kyai Gitayu, nyebrang lautan api. Isshhhh… Keren banget, ya. Kalo di eranya, mungkin lukisan ini udah dijadiin poster idola di majalah Kawanku.

Ceritanya, sih, do’i lagi mimpin perang revolusi, tetapi pasukannya nggak keliatan karena berada jauh dibelakangnya.

Lukisan potret pemimpin memang biasanya hanya menampilkan tokoh utamanya, sementara tokoh-tokoh lain sering nggak dianggep. Aciaaan.

Yang menarik, karya ini tertanggal 27 Desember 1949, hari dimana Belanda secara de jure menerima kemerdekaan Indonesia. Tapi sebenernya lukisan ini baru selesai April 1950. So I guess… the fake date is a symbolic gesture? Untuk nge-ceng-in Belanda, “Kita menang lhoo, weeekkk…”?

Penangkapan Pangeran Diponegoro

Oleh Raden Saleh, 1857

IMG_0081

Di pameran Aku Diponegoro, lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro ini nggak boleh dipotret, jadi kita ambil gambar jelasnya dari internet aja, yaaa. Click the image for the original source.

Ketika Pangeran Diponegoro meninggal pada tahun 1855, Raden Saleh—yang waktu itu masih tinggal di Eropa—denger kabar tersebut, lalu memutuskan untuk membuat sebuah lukisan tentang beliau.

Raden Saleh kemudian melukis adegan penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang, yang terjadi pada tahun 1830.

Menurut pemberitaan Belanda, perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda kelar karena beliau menyerahkan diri ke Belanda. Namun kata Raden Saleh, “Bohooooong! Kamu bohem!”

Raden Saleh yakin—juga denger-denger gosip—bahwa Pangeran Diponegoro sama sekali nggak menyerahkan diri, melainkan dijebak Belanda. Awalnya Diponegoro pura-pura diajak negosiasi damai, tau-tau ditangkap, trus diasingkan sampai akhir khayatnya.

Maka dari itu, di lukisan ini, Raden Saleh membuat ‘kode-kode halus’ bahwa sebenernya ia mendukung Pangeran Diponegoro. Misalnya, Diponegoro dilukis sebagai sosok yang gagah, dan ia berdiri sejajar dengan Jendral De Kock, bukan dibawahnya.

Selain itu, di lukisan ini, fisik orang-orang Jawa digambarkan proporsional, sementara fisik para jendral Belanda digambarkan nggak sinkron, dengan kepala yang kegedean. Dalam pemahaman Jawa, hal ini membuat para jenderal tersebut terlihat seperti monster Kala.

Adegan penangkapan pada lukisan ini adalah hasil ngayal Raden Saleh, soalnya of korsss beliau nggak berada di TKP. Tapi Raden Saleh denger cukup banyak gosip politik untuk bisa menggambarkan adegan penangkapan yang realistis.

Walaupun adegannya berbasis ngayal, setiap muka di lukisan ini didasari oleh orang-orang nyata, terutama para jendral Belandanya.

Mau liat mukanya Raden Saleh? Di kerumunan, cari tiga pemuda yang bersorban putih, berjaket pink, biru, dan ijo, berkumis kelimis, serta pasang ekspresi khawatir. Mereka adalah gambaran dari Raden Saleh sendiri.

Click the image for the original source

Penangkapan Pangeran Diponegoro adalah lukisan pertama yang mengangkat tema sejarah politik Indonesia. Lukisan ini lalu dihadiahkan ke pada Raja Belanda, Willem III, tapi Raja nggak sadar bahwa lukisan ini mengandung kritikan kepada Belanda yang nangkap Diponegoro secara nggak etis.

Tahun 1978, Belanda mengembalikan lukisan ini ke Indonesia.

Penyerahan Diponegoro / The Submission of Diponegoro

Oleh Nicolaas Pienemaan

IMG_6890

IMG_6891

This painting is LITERALLY the antithesis of Penangkapan Pangeran Diponegoro.

Pienemaan adalah pelukis favorit keluarga kerajaan Belanda, dan ketika Jenderal De Kock pulang ke Belanda dari Indonesia pada taun 1830, ia minta Pienemaan untuk melukis adegan “penyerahan” Diponegoro sebagai “trofi kemenangan” De Kock atas Diponegoro.

Lewat lukisan Pienemaan, De Kock kepengen muji diri sendiri, seolah-olah dese berhasil membuat Diponegoro menyerah, padahal Diponegoro ditangkap dengan cara ditipu.

Kalo menurut versi De Kock, Diponegoro menyerahkan sendiri, dan sang jendral “terpaksa” mengasingkan Diponegoro agar beliau berhenti bikin huru-hara revolusi, demi ketenangan rakyat Jawa.

Cih! Namanya juga sejarah, ya. Subjektif dan bisa diputer-puter sesuai kepentingan.

Di lukisan ini, Diponegoro dan pengikutnya digambarkan mirip orang Arab—berkulit hitam, berkumis dan berjenggot tebal—karena Pienemaan nggak tau wujud asli orang Indonesia seperti apa.

Trus, nggak seperti di lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, disini Pangeran Diponegoro berdiri di anak tangga bawah, nggak sejajar dengan De Kock. Gestur sang jendral pun tampak jumawa tapi (ceritanya) penuh simpati, sementara Pangeran Diponegoro dan pengikutnya keliatan pasrah dan nggak berani ngelawan.

Adding to the insult
, tampak juga bendera Belanda, berkibar gagah ditiup angin dari barat.

Lukisan ini aslinya berada di Belanda, jadi yang hadir di pameran Aku Diponegoro hanyalah kopinya, di-display di sebuah lightbox. Gambar diatas diambil dari internet, click the image for the original source.

Raden Saleh sama sekali nggak percaya dengan lukisan ini, maka 20 tahun kemudian, ia membuat versinya sendiri. Lahirlah lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.

***

To be continued ke area kedua dan ketiga pameran ini. Are you snoozing yet?

22 comments:

  1. aaaah seru.. serasa baca konspirasinya Dan Brown gitu.. harusnya dulu yang nulis buku PSPB ((PSPB)) mbak Lei aja, biar ga bosen ngapalnya hahaha..

    ReplyDelete
  2. wah mbak, aku juga dateng ke pamerannya. emang ga cukup sekali ke sana ya mbak. hehe

    salam kenal dr silent reader

    ReplyDelete
  3. Ceritanya minggu lalu, ultah gw yang ke 3.0. trus gw menghadiahi gw pergi ke Aku Diponegoro. sendirian. Di sana gak taunya ketemu sama temen gw yg kerja di GalNas, akhirnya diceritain lah satu persatu karya2 itu.

    Lukisannya Sudjojono yang berjudul "PASUKAN KITA YNG DIPIMPIN PANGERAN DIPONEGORO" konon katanya dijual di Sotheby's seharga 89M. dan udah laku dibeli sama orang Indonesia -yang dirahasiakan namanya.
    Leija, it's that youuu? yang beli. hehehe

    Daaan emg bener bgt. ini keren amaat pamerannya.Lukisan Penangkapan Diponegoro dibikin banyak versi. ada yg versi tin-tin, ada juga yang pake pensil. Boook, itu yg bikin pake pensil itu kan emg pernah kuliah di Belanda, jadi dia nyari2 tau wajah2 asli meneer yg ada di lukisan itu. jadi, lebih jelas muka-muka nya di karya dia.

    aah, keren bgt emaang. cm pas kesana banyak anak2 SMP yang cm foto-foto selfiee tanpa mau liat2 lebih deket karya2 itu.

    ReplyDelete
  4. Waaah Lei, gue juga datang ke pameran lukisannya Raden Saleh dan ternganga-nganga liat lukisannya yang bagus dan detail banget... Sampe merinding ngeliat lukisan-lukisannya.

    ReplyDelete
  5. waaawwww lanjutin dongengnya, lanjutin!

    ReplyDelete
  6. Lukisan Pangeran Diponegoro yang ditangkap itu kayany pernah ada di buku cetak sejarah smp deh. menarik deh baca tulisannya ga ngebosenin ko.
    Jadi kangen ke Goethe lagi, banyak acara bagus2 dan kangen mie yaminnya.

    ReplyDelete
  7. Jadi tambah penasaran sama isi pameran ini kak Lei, pasti epic :D

    ReplyDelete
  8. Ahhhhh!!! THE post that flushes me out of my lurker status! Keren banget ceritanya, tadi jd langsung google2 supaya dapet lebih bnyk cerita. Shame I live in Bandung. Ditunggu posting lanjutannya!

    ReplyDelete
  9. baca ini ga berasa dicekokin sejarah mbak Lei, malah jadi kaya dongeng :)
    ditunggu part 2 sama 3 nya ya

    ReplyDelete
  10. Ceritanya begini mah ngga bakalan bikin bobok :D (nungguin part 2)

    ReplyDelete
  11. *nyimak*

    Lanjut La.....♥♥♥♥

    ReplyDelete
  12. thank you Mbak buat postingnya. tanpa sadar ternyata aku suka banget posting yang informatif gini ditambah lagi jadi nambah pengetahuan soal negara sendiri.

    aku suka sekali sama info-infonya yang detail.

    gak sabar buat lihat part 2 nyaaaaa :)

    ReplyDelete
  13. Gue sampe buka ulang loh di PC demi ngeliat ukuran lukisannya biar kelihatan lebih gede.

    Jadi memang bener ya, segala sesuatu itu tergantung di sisi siapa media yang mengemasnya. No wonder pas pemilu para media diperebutkan untuk membangun citra masing-masing calon. Soalnya kalau kita ngga paham backgroundnya, bisa aja ketipu sih ya sama pencitraan dari media tersebut.

    ReplyDelete
  14. keren pamerannyaa :D jadi pengen mudik hihi

    kata bokap,leluhur nya nyokap ada yg ikut perang bareng diponegoro..jadi penasaran apakah beliau ikut kelukis hihi

    ReplyDelete
  15. Bagian favorit gw di pameran ini adalah : puisi Diponegoro karyanya Chairil Anwar.

    Di masa pembangunan ini, tuan hidup kembali
    dan bara kagum menjadi api

    Waktu SMP, gue apal mampuus dong dgn puisi ini.
    pas kmrn ke sini pun, liat puisi ini terpampang langsung deklamasi dong guee

    ReplyDelete
  16. Halo mbak lei. Selama ini silent reader, tapi yang untuk yang satu ini ga tahaaaaan komen!

    Bendera belanda tertiup angin barat! Hih kok aku baru sadar!

    Baca tulisan mbak Lei sama merindingnya dengan berdiri depan lukisan-lukisan itu. 'Atmosfer' Aku Diponegoro bener2 muncul lagi. Aku suka,mbak!

    ReplyDelete
  17. Makasih Lei udah bikin tulisan tentang pameran seni kaya gini. sangat informatif.. Khususnya utk aku yang tinggal di daerah. Menambah wawasan, menghibur. Meski ga bisa dateng tapi bisa tau banyak berkat tulisanmu.
    Ga bikin bosen ko! Malah bikin penasaran utk baca lanjutannya..

    ReplyDelete
  18. Jeng Lail, ada rencana ke Pameran Merging Metaphors taak?

    ReplyDelete
  19. Yay, glad you all enjoyed it! <3

    Berpendar: Tau aja gue abis beli lukisannya Sudjojono! Hahaha. Ah gila keren abisss...

    Ibukasual: Pengen siiih, tapi nggak jadi agenda wajib. Gue biasanya selalu dateng ke pamerannya GalNas, dari mulai Trienal Patung sampe Aku Diponegoro ini, tapi Merging Metaphors masuk ke kategori "kalo sempet" aja hehe...

    ReplyDelete
  20. Haha.. setuju!! "Namanya juga sejarah, ya. Subjektif dan bisa diputer-puter sesuai kepentingan" sering banget Gw sm Suami komen kayak gini tiap denger / baca/ nonton cerita sejarah. ya sejarah indo ya sejarah luar. daann... meskipun udah tau kalo cerita sejarah itu campur dan rancu, tapi tetep lho.. Gw sama suami duduk manis kalo nonton History Channel.. huehee..

    ReplyDelete
  21. Seruuuuu, nggak bosan sama sekali. Waktu itu saya sempat hadir di acara pameran lukisan yang pertama, yang khusus karya Raden Saleh, dan paling lama di depan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, termasuk melihat sketsanya. Sayangnya waktu pameran Aku Diponegoro gak bisa datang, karena harus tugas di laut. Sedih.

    Jadi senang banget, bisa baca sekilas ulasan pamerannya di sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Bart!

      Waah, senang kalo suka baca postingannya. Thank you! Yap, seperti yang ditulis di atas, saya juga datang ke pameran yang pertama, "Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia" tahun 2012. Seru ya!

      Delete