Mar 8, 2013

On The Healthy Road... Part 2

Alhamdulillah, rutinnya bukan olahraga main catur (di komputer), melainkan olahraga beneran.

Yang pertama… ZUMBA!

Adeeeuh, masa kini banget nggak sih, mainannya Zumba?

Gue mulai rutin Zumba sebulan lalu, sejak insiden teriakan penjait “MELARNYA GEDE BANGET!” itu, lhooo. Ceritanya hati gue terluka banget, dan memutuskan untuk rajin olahraga once and for all.

Awalnya gue mencoba lari, since I figured it’s the easiest sport to start. Nyoba tiga kali, langsung kesel dan udahan. Dari situ gue memutuskan bahwa kalo mau rajin (dan bahagia) berolahraga, gue kudu mengumpani diri dengan olahraga yang memang gue sukai, meskipun mungkin usaha memulainya nggak semudah lari. The easiest isn’t always the best for each of us, ‘kan.

Kenapa pilih Zumba? Karena kriterianya cocok dengan tipe olahraga yang gue sukai: berkelompok, heboh, dan pake musik-musikan. Alhamdulillah, ada studio Zumba yang lumayan deket dari rumah. Cusss, gue langsung daftar, dan… langsung kepatil! Nggak salah pilih olahraga, niiih. Dua minggu pertama, jumba-nya 4x seminggu, bok! Cieee, euphoria niyeee…

So, what is Zumba, actually?

Seperti yang udah gue duga sebelumnya, Zumba tuh sebenernya erobik-erobik juga. A glorified aerobic, kali ya. Tapi setelah mengikuti 3-4 sesi, gue baru menyadari, memang ada beberapa perbedaan dengan aerobik biasa, diantaranya:

1. Yang paling obvious, Zumba ini ber‘aliran’ Latin, baik musiknya maupun gerakannya. Ini berarti, dalam setiap sesi, pasti ada gerakan chachacha, salsa, bachata, reggaeton, merengue, dan sebagainya. Kadar kekentalan Latinnya, sih, berbeda-beda tergantung instruktur. Misalnya, studio gue punya instruktur asal Colombia, sehingga gerakan dia Latin bangeeet. Ada juga instruktur yang kayaknya nggak doyan-doyan amat sama Latin, jadi unsur Latinnya cuma ‘diselipin’. Sisanya pake gaya disko 80-an atau ala-ala SKJ ‘94.

Begitu juga dengan musik. Kalo dapet instruktur yang seleranya asik, maka satu sesi Zumba lagunya juga asik-asik. Serasa ajojing di pesta rakyat Argentina deh, serundyeng maaak! Yaaah, walaupun pasti terselip juga sih 1-2 lagu reggaeton norak macem Gasolina-nya Daddy Yankee. Como le encanta la gasolina! Ahay! *siram bensin*

Tapi kalo dapet instruktur yang masih terjebak di aliran Berty Tilarso, maka bisa jadi Anda harus bagoyang dengan irama lagu Lambada atau I Wanna Dance With Somebody. 80s disco yaaa…

But all in all, Zumba is Latin.

2. Nggak ada instruksi gerakan, nggak ada jeda. Huwaaat?

Kalo di kelas-kelas aerobik lain, biasanya kita ‘sedikit’ diajarin gerakannya terlebih dulu sama sang instruktur, dengan tempo lambat, sebelum pasang musik dan masuk ke tempo cepat. Gitu ‘kan?

Nah, di kelas Zumba nggak ada. Begitu mulai, langsung pasang musik dan mentasss! Jadi nalar kita harus cepet banget dalam mengkopi gerakan sang instruktur, soalnya dia nggak bakal memandu ataupun mengkoreksi. Mulutnya terkunci rapat pat pat.

Selain itu, kelas Zumba juga nggak kenal jeda. Ada deng, tapi jedanya sadis. Cuma 30 detik. Maksimal banget 60 detik. Seringkali, disaat ‘jeda’ itu, gue baru jalan ke arah botol minum, si instruktur udah teriak, “5! 4! 3! 2! Get back to your positions!” Batal minum, deh. Setaaaaan!

Makanya, kalau dilihat sekilas, kelas Zumba emang kayaknya heboh banget. Soalnya ya gitu, nggak ada instruksi dan jeda, maka nggak ada leyeh-leyeh.

3. Sebenarnya, Zumba terpecah lagi menjadi beberapa ‘cabang’ lainnya. Misalnya, Zumba Gold (khusus untuk manula, dengan gerakan yang nggak terlalu heboh), Zumbatomic (khusus untuk anak-anak), Zumba Toning (Zumba dengan alat sejenis dumbbell, untuk membentuk otot-otot tertentu), dan sebagainya.

Di studio gue, selain ada Zumba Fitness (zumba yang biasa), juga ada Zumba Toning. Gerakan Zumba Toning relatif lebih santai (ya iyalah, kalo gue disuruh joget reggeaton full power pake dumbbell, gue suruh instrukturnya telen nih dumbbell!), tapi penggunaan ototnya lebih berasa, jadi nggak sekedar kardio-kardio kuras keringet aja. I like taking both classes, biar hidup ini balan ya, ceu.

4. Zumba nih sebenernya nama merek, ya. It’s an international brand name. Jadi mereka pun jual pakaian Zumba, lho. Ada celananya, sports bra-nya, kaosnya, bahkan sepatunya. Apa bedanya dengan pakaian fitness biasa? Mmmm… Ada logo Zumbanya. Trus? Udah. Ahahaha. Nggak ada fitur khusus, kualitas pun keliatannya dibawah merek-merek sportswear pada umumnya. Jadi, jangan kemakan taktik marketing, ya. Pake aja pakaian fitness biasa, nggak harus pake yang khusus Zumba, kok.

Begitulah kira-kira perbedaan-perbedaan Zumba dengan kelas aerobik standar.

Setelah sebulan rajin Zumba, Alhamdulillah, gue tetep suka dan hepi. Selain karena dinamis, salah satu hal yang membuat Zumba terasa ‘berwarna’ adalah karena pesertanya  unik-unik. 

Di studio gue, pada umumnya, peserta Zumba tuh ibu-ibu banci tampil yang bisa gue golongkan menjadi kategori-kategori berikut:

Jago joget, banyak gaya, banyak aksi: Mereka adalah ibu-ibu lincah yang jago banget Zumbanya. Bisa mengikuti segala gerakan—salsa, bachata, merengue, chachacha—dengan luwes sambil tersenyum. Seneng deh liatnya. Keliatan lah, mereka adalah seasoned players.

On the downside, penampilan mereka bak kembang api. Meriah banget, tapi nggak enak dipandang mata. Biasanya pada pake sports bra warna neon, celana training cutbray warna neon yang nggak mecing sama atasannya, full make-up, dan pake krincingan di tangan. Matik lo.

Trus kalo lagi hot, mereka suka teriak-teriak sendiri terbawa suasana, seperti, “Haaayyyyaaaah!” atau “Ayayayayay!” atau “Arrrribaaa!”, bikin orang disebelahnya syok. Curiganya, mereka-mereka ini sebenarnya para penari GSP, deh.

Nggak jago joget, banyak gaya, banyak aksi: Mereka adalah ibu-ibu yang rutin ber-Zumba-ria, tapi nggak jago. Males banget deh, ngeliat gaya Zumbanya. Either gerakannya suka ngasal, atau males-malesan bin letoy. Keliatan banget, deh, mereka takut keringetan atau tatanan rambutnya rusak, jadi geraknya nggak full power. Dikit-dikit ngaca. Bahkan sambil Zumba, mereka suka sambil nggosip sama temen sebelahnya!

Pada umumnya, ibu-ibu tipe ini tampak masih muda bin modis, dan atributnya elit semua—Nike, Victoria Secret, Lulu Lemon dalam warna-warna gonjreng. Kadang mereka lebih mengutamakan penampilan daripada performa. Masa’ ada yang pake hotpants jeans? Bae-bae ledes lho, Mbak…

Gue nggak masalah ya, pada mau pake baju apa. Yang masalah, mereka suka merasa engkongnya yang punya studio, sehingga mereka selalu ngotot ambil posisi paling depan. Bahkan kalo datengnya telat, mereka tetep nyelak dan nyempil ke depan, seenaknya menggeser yang udah dateng duluan. Mending kalo gerakan mereka bagus. Lah, ini nggak enak dipandang. Nggak bisa dijadiin panutan peserta dibelakang mereka. Cekek!

Contoh lain kelakuan seenak jidat: Pada suatu hari, seharusnya jam 9 pagi tuh jadwalnya kelas Zumba Toning, lalu jam 10 Zumba Fitness. Eh, ujug-ujug ada yang protes, “Aduh, ngantuk nih kalo Toning duluan! Tuker aja lah, Fitness duluan!” Lalu disautin dengan meriah oleh geng ibu-ibu sesamanya. Dan entah kenapa, instrukturnya manut. Ulek juga nih, pake dumbbell!

Nggak gaya, tapi jago joget: self-explanatory :) Menyenangkan banget lah, mereka-mereka ini. Baju dan perlengkapan biasa aja, nggak ngotot ambil posisi di depan, tapi goyangnya endeus diliat. Lanjutkan, sis!

Nggak gaya, nggak jago, tapi semangat: Golongan ini juga menyenangkan, deh. Biarpun nggak jago dan gayanya sederhana, mereka semangat banget ngikutin gerakan instruktur, cuek aja kalo salah-salah dan gerakannya awkward. Malah jadi ketawa-ketawa akhirnya. Yang penting kalori kebakar, hati senang! Zumba’s mission accomplished! I have full respect for them.

Terlepas dari berbagai peserta Zumba yang bentukannya unik-unik di studio gue, Alhamdulillah, gue masih betah dan konsisten. Boleh yaaa, bangga sedikit!

Gue belum pernah ngukur-ngukur sih, apakah badan gue udah mengecil semenjak rajin Zumba (soalnya takut ternyata nggak ada perubahan, hihihi). Buat gue, yang penting happy dulu. Kalau udah happy, nanti olahraga ini bisa jadi ‘agama’. Kalo udah jadi agama, Insya Allah baru akan ada perubahan bodi yang signifikan. Aaamiiin.

Di awal-awal, gue bisa Zumba seminggu 4x, tapi sekarang turun menjadi 2x saja. Soalnyaaa, gue selingin sama…

YOGA!

Yes! I’m back to yoga. Udah dijelasin di postingan sebelumnya ya, bahwa dulu gue rajin yoga. Pernah ada periode dimana gue bisa ikut kelas yoga sehari dua kali, setiap hari. Tapi kalo lagi males, bisa absen berbulan-bulan. Inilah yang menyebabkan gue nggak jago-jago: nggak pernah kontinyu. Selalu terputus.

Akibatnya, badan gue nggak lentur-lentur, meski gue udah sampe apal banget sama segala asana atau pose-pose yoga. Apal berikut nama Sanskritnya, chuy! Chaturangga! Surya namaskar! Trikonasana! Gyan mudra! Dan favorit kita semua, savasana :D

Tapi gue nggak kecewa. Karena, sama seperti Zumba (atau olahraga apapun, sih) gue nggak pasang target fisik untuk yoga. At least, belum. Misalnya, dalam sebulan, gue harus udah bisa headstand dan turun 5kg. Mana mungkin lah yaaaw… Untuk sekarang, target gue adalah merasa lebih bugar dan lebih hepi selepas tiap latian. Udah, gitu aja dulu deh.

Alhamdulillah, gue memang selalu hepi selepas latian. Mungkin karena pada dasarnya, gue punya respect yang tinggi terhadap yoga. Gue sukaaaa banget sama filosofi-filosofinya. Malahan, kalo lagi yoga, gurunya ‘kan memandu kelas sambil menyelipkan kata-kata mutiara yah, misalnya, “Do this pose mindfully, be peace with your inner self, let go all of your anger…” Trus saking diresapinya, airmata gue suka netes. AHAHAHAHA. Begini deh, kalo drama queen ikut yoga.

Dengan yoga, gue merasa mendapat asupan rohani (duileee…), nggak hanya tempaan fisik.

Gue juga suka yoga karena ini olahraga non kompetitif. Nggak pernah ada ‘kan, lomba yoga? Karena kita nggak pernah latihan untuk melawan saingan, tapi lebih ke ‘melawan’ diri sendiri—melawan rasa nafsu pengen buru-buru jago, melawan hasrat pengen tengok-tengok dan bandingin diri dengan peserta lain. All you need to do is listen to your body. Don’t be in pain, but don’t be too comfortable.

Gue udah pernah nyoba berbagai jenis yoga: Ashtanga-Vinyasa (langganan—soalnya paling gampang), Hatha, Power Yoga, Yin, tapi yang paling gong dan esktrim tentunya Bikram Yoga. Makjaaan, curiganya pencetus yoga ini nih Malaikat Maut, deh. Nyiksanya nggak ketulungan.

Apa dan bagaimana itu Bikram Yoga, Google-Google sendiri aja, ya. Yang pasti, YA memang seekstrim ya, YA memang sesadis itu, dan pingsan-muntah dalam percobaan pertama adalah hal yang wajar. Yoga apa pelatihan Nazi, sih?

Gue pertama (dan terakhir kali) Bikram Yoga tuh udah lama banget. Ada kali ya 6 tahun lalu? Cuma pernah tiga kali, trus nggak kuat. Sekarang tergelitik banget untuk nyoba lagi, tapi mengingat badan dan stamina udah jompo, gue takut literally meninggal di atas mat yoga. Kayaknya kurang khusnul khotimah, ya...

Tapi kok, makin kesini, gue kok makin pengen ya? Mungkin karena Bikram Yoga tuh sensasinya aneh. Bikin super capek, lemes, dan pengen muntah, tapi ada efek nagih setelahnya. Rencananya, gue mau rajin Vinyasa Yoga dulu sampe basic gue kuat, trus baru deh, menantang maut cobain Bikram Yoga lagi (walaupun kata orang-orang, biar kata lo rajin yoga biasa, tetep bisa pingsan pas Bikram. Die!)

Doain aja, ya. Kalo si Bikram udah diicip dan mampu dirajinin, Insya Allah gue tulis disini.

Jadi, itulah olahraga-olahraga yang sedang gue tekuni sebulan terakhir, dengan jadwal 2x Zumba, 2x yoga (any style) dalam seminggu. Pola makan masih kayak babi, tapi setidaknya babi insaf lah. Kalo dulu nasinya tiga centong, sekarang secentong cukup, hamdalah.

Semoga singset, dan salam olahraga!

12 comments:

  1. mo berbagi cerita, ada temen yg berhasil nurunin berat 8kg dalam kurun waktu 4 bulan dengan zumba, diselingi lari di treadmill
    dia sih zumba nya liat di youtube gtu selama 1 jam :D
    moga sukses mbak :D

    ReplyDelete
  2. widiiiih pas bener lagi cari cari info soal Yoga di Jakarta!
    Thanks for sharing, dan semoga semakin rutin olahraganyaa

    ReplyDelete
  3. Halo mbak Leija,

    aku dah lama jadi silent reader, tapi sekarang mau komen karena topiknya zumba sih hehe..
    Aku juga suka bgt zumba, gara2 temenku zumba instructor di Sana Studio. Gerakannya asik plus fun juga jadi betah, tapi kalo udah lemes, kadang-kadang suka ngelirik jam dinding jg sik hihihi.

    Sekarang lg hamil jd libur dulu, mungkin Juni taun ini mulai lagi. Pengennya sih privat zumba lg sama temenku, tapi lg nyari temen 4 orang lagi.

    Jadi penasaran jg nih sama bikram Yoga :)

    ReplyDelete
  4. jadi pengen ikutan zumba nih kak, lagi nurunin berat badan soanya

    ReplyDelete
  5. Astagaaaa... Arriiibaaaaa =))))
    *pake mahkota berisi nanas dan buah-buahan tropis lainnya*

    Baca ini keinginanku untuk aerobik tersulut lagi, huahahaha. Deskripsi pesertanya Zumba dapet banget, kayaknya di semua kelas senam/aerobik/sejenisnya ada aja ya yang begitu :))

    Selama ini kirain ada yang salah denganku karena boseeen banget kalo olahraga di rumah atau lari-lari muter kompleks. Rasanya enek dan sebel.
    Kini aku tahu mengapa... xD

    ReplyDelete
  6. gw sudah menduga pasti Zumba dehhh... *telat komen*

    ReplyDelete
  7. Kalo udah bikram, pasti napas jadilebih panjang buat lari *kompor*

    ReplyDelete
  8. Qonita: WOWWW, metabolisme temennya bagus yaaah. Dia ngejaga makan nggak? Aku lumayan rajin, tapi makan bablas terus, trus kagak kurus-kurus... Malah naik! :(

    Bestimitation: Aaamiin, senang turut membantu yaaah...

    Nitya: Hahahaha iya samaaa, kalo udah lemes, nggak berhenti lirik jam yah! Bengek banget napas ngikngikngik. Wah, bisa ya Zumba private? Tapi kan seruan rame-rame di studiyooo hehehe.

    Cobain deh Bikram. Either kapok atau nagih hihihi.

    Aisyah: Sok atuuuh ;)

    Ms Plaida: Hahahaha seru bukaaan *pasang beha batok kelapa* Iya, solo cardio is not for everyone, jadi kita emang kudu rajin cari-cari olahraga yang cocok yaah.

    Ov: Iya duoong, you know me so well Vi :))) Ih, gue dikomporin kayak apa juga ogah lari deh! Lari aja dari kenyataan!

    ReplyDelete
  9. katanya sih pas malam dia ganti ama buah gitu, pagi ama siang nya makan biasa tapi ngurangin ngemil dan tiap malam emang bocahnya olahraga muluk.
    mungkin karena rajin dan konsisten kali ya makanya sukses hihi
    tapi kan mbak leija masih menyusui ya? kayaknya jangan batasin makan dulu, moga tetep turun dan sehat :D

    ReplyDelete
  10. Salam Kenal sis
    klo manfaat dari senam zumba itu apasaja ya sis?
    dan klo di daerah surabaya toko baju senam zumba itu dimana tempatnya?
    Trims sis

    ReplyDelete
  11. jadi pengen ikutan senam zumba nich mbak,,,, oy untuk zumba sendiri dmna ya tempat jual baju senam terbarunya????

    ReplyDelete
  12. seruuu banget mbak denger critanyaa..jadi makin pengin blajar zumbaa nieh. btw klau cari baju senam crystal untuk zumba di jakarta eaa?

    ReplyDelete