Jul 4, 2012

Turning Japanese - Day 6

National Museum of Nature and Science (Ueno), Sunshine City (Ikebukuro) - 27 April 2012

Bangun pagi, hal-hal pertama yang kepikiran adalah:

1. Apa kabar kakiku? Karena udah berhari-hari di-abuse, kemaren malemnya saya terpaksa mulai ngeluarin persenjataan dari Jakarta…


 ... koyo cabei FTW!

2. Pokoknya hari ini nggak boleh pake keujanan. Akika bosanova! Bosan keujanan di Tokyo!

Emang bener kata orang—you can’t win them all. Sama halnya dengan milih timing plesiran. Menurut saya, akhir April tuh pas untuk ke Tokyo. Nggak terlalu panas, nggak terlalu dingin, bukan high-season, (ternyata) masih ada sakura mekar, tapi sayangnya ujan melulu.

Hari ini harusnya kami main ke Kamakura, sebuah kota kecil di luar Tokyo. Konon, Kamakura nih cantek berats. Masih deket sama pemandangan alam ijo royo-royo, karena ada gunung, ada pantai, sampe hutan kecil. Jadi nggak kota banget kayak Tokyo. Kami ‘kan udah lima hari di Tokyo nih, jadi udah agak blenek sama hiruk-pikuk kehidupan metropolitan. Jadi cucok lah mabur sehari ke Kamakura.

Kamakura juga terkenal dengan kebudayaan shogun dan kuil-kuilnya yang bersejarah, seperti Kyoto. Malah kata orang, it is like the Kyoto of Eastern Japan. Bedanya, dari Tokyo ke Kyoto tuh agak jauh, sementara kalo ke Kamakura cukup 1-2 jam aja naik kereta (keretanya juga kereta biasa, bukan shinkansen). Bagi kami yang nggak punya waktu ke Kyoto, tek-tok ke Kamakura lumayan banget jadi pengganti.

(by the way, boleh tengok cerita singkat soal Kamakura from one of my favorite blogger :D)

BEGITULAH RENCANANYA! Tapi pas ngecek ramalan cuaca pagi ini, daaarrr… bakal ujan seharian aja, gitu. Huhuhu. Ogeng deh, ya. Kalo ke Kamakura ‘kan kami bakal di-outdoor terus.

Cepet puter otak! Kemana nih enaknya, kalo nggak ke Kamakura? Utak-atik schedule dikit, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk ke Ueno.

Ueno adalah suatu daerah di Tokyo yang popular sebagai pusat rekreasi warganya. Disana ada taman kota (nggak secantik Shinjuku Gyoen National Garden sih, tapi lebih rame), ada bonbin kecil, dan ada banyak museum. Museum-museum di Ueno inilah yang menjadi target operasi kami hari ini. Karena indoor ya, bok.

Setelah dipelajari, museum di Ueno yang kayaknya paling sip untuk dikunjungi adalah National Museum of Nature and Science. Katanya sih bagus. Okelah kalo begitu, yuk mari Mas! Mbakyu!

***

Jam 11 kami berangkat ke Ueno area. Bener aja kata si ramalan cuaca. Baru sampe di stasiun kereta Ueno, kami langsung disebut mesra sama ujan rintik dan angin kenceng. Spontan buka payung AB Three dan melangkah cepat ke museum tujuan.

IMG_0104

IMG_0063

Seru nggak National Museum of Nature and Science-nya? Seruuu… TAPI (selalu ada tapi) hari ini kebetulan lagi ada banyak anak-anak sekolahan karyawisata. Umumnya anak-anak SMP-SMA, plus sedikit anak SD. Kayaknya hari Jumat tuh hari karyawisata nasional ya, karena kawasan museum Ueno ini padet-det-det banget sama mereka. Kalo Ueno “doang” udah segini penuhnya, kebayang Disneyland sumpeknya kayak apa hari Jumat gini. Hiiii! Selamet ya, yang lagi disana!

Trus apakah anak-anak sekolahan Tokyo lebih sopan, kalem dan menyenangkan daripada ababil Jakarta? TINTA DEH, NEK. Saya rasa remaja dan pre-teen sepenjuru dunia tuh cetakannya sama semua, deh... nyebelin. Aduuuh, maaf-maaf ya dedek-dedek. Tante Kakak emang suka pusing sama kelakukan kelian, gimana dong? Abis, kenapa sih kalo jalan harus pada nggrombol, ngalangin orang lain? Trus kalo ngomong kenapa harus teriak-teriak, macem engkong ente yang punya museum?

Anak-anak ceweknya juga deh, nih. Hobinya nge-monopoli cermin kamar mandi, kasar, trus lomba mendek-mendekin rok mulu *lupa diri sendiri juga begitu jaman SMA*.

Anyway, setelah bayar museum fee dan taro tas di loker, tujuan pertama kami adalah Theater360, yaitu sejenis teater IMAX mini. Kerennya pol! Ruangannya berbentuk kubah, para pengunjung bebas berdiri, nggak duduk, dan layarnya 360 derajat. Lantainya terbuat dari kaca tembus pandang, jadi film-nya full terproyeksi dari langit-langit sampai lantai. Jadi, misalnya kita lagi nonton tayangan tentang galaksi Andromeda, ya udah, langsung berasa melayang di luar angkasa.

Sayang banget, narasinya hanya dalam bahasa Jepang. Terjemahannya dikira-kira sendiri aja deh ya, pake indera keenam!

Kelar dari Theatre360, kami baru menjelajahi isi museum. National Museum of Nature and Science ini terbagi menjadi dua kawasan—Japan Gallery dan Global Gallery. Pertama, melipir ke Japan Gallery dulu.

IMG_0045

IMG_0048

IMG_0052

Sesuai namanya, kawasan ini menampilkan natural history Jepang. Misalnya, flora-fauna asli Jepang, archipelago dan sejarah geologis Jepang, sampai ke sejarah penduduk—mulai dari manusia purbanya.

Kedengerannya agak-agak zzzz, ya. Emang sih, HAHAHA! Eits, sebenernya semua museum edukasi juga pasti berpotensi jadi membosankan (kecuali sex museum, kali).

IMG_0013

IMG_0009

IMG_0040
Nggak di Gondrong Petir, nggak di Jepang, simbol status tetep ayam jago, ya.

IMG_0043
Denger-denger, museum ini nyimpen awetan mayat Hachiko asli. Is this you, Hachi?

IMG_0025

IMG_0024
Hihihi... Awwwkward...

IMG_0018

Back in the old, simple days...

IMG_0029

IMG_0031

IMG_0035
Ini anak pasti dimarahin karena rambutnya begitu amat, deh...

Trik supaya nggak bosen di museum, kalo saya sih, kudu sewa audio guide. Dese semacem walkman yang memberikan narasi untuk setiap display / exhibit yang dipajang. Berdasarkan pengalaman pribadi, semua museum di negara maju PASTI nyediain audio guide dalam bahasa Inggris. Kebayang sih, kalo jalan-jalan ke museum tanpa audio guide, pasti bawaannya mau bobok. Cuma liwat-liwat doang. Tapi dengan audio guide, kunjungan ke museum jadi jauuuh lebih bermakna dan lebih ngebekas di otak. At least, you'd get something from the museum. Selain foto-foto, ya!

Audio guide National Museum of Nature and Science ini canggih, deh. Pake sistem GPS, gitu. Jadi kita nggak usah mencet apa-apa, tinggal berdiri di depan sebuah display, nanti narasi di audio guide-nya akan menyesuaikan dengan display yang sedang kita liat. Futuristik, yaaa (untuk ukuran Endonesi sih... zzzz)

IMG_0017
T with his audio guide

Then a quick lunch at the museum's cafeteria.

IMG_0056

IMG_0054

IMG_0059

Teteup ya maaak, didominasi sama anak-anak sekolahan yang hobi teriak-teriak bareng gerombolannya masing-masing. Bener-bener serasa kantin sekolah sendiri, deh! Bisa nggak sih, mereka gue dorong domino? Dorong satu bocah, trus nimpa temennya, trus nimpa temennya lagi, teruuuus domino sampe pintu depan?! *kelakuan ibu peri banget, yaaaa...*

Anyway, kelar makan, lanjut ke Global Gallery. Lagi-lagi, sesuai namanya, Global Gallery ini menampilkan display biota dari penjuru dunia. Kalo Japan Gallery tadi ‘kan ngebahas biota Jepang aja tuh.

IMG_0065

IMG_0068


IMG_0073
Apakah ini anak jerapah? Bukan, ini janin jerapah! Janin doang gedenya udah semeter, maaak... Bless his mother.

IMG_0077

IMG_0081

IMG_0083

IMG_0085

IMG_0089
Spot the new species!

Langsung nyesel kenapa nggak ke Global Gallery duluan. Tempatnya kece bingit! I’m very much impressed with this part of the museum. Saya bilang sih, dibanding museum natural history sejenis di negara-negara lain (ciyeee...), National Museum of Nature and Science ini so far paling kece, dengan display paling bersih dan menarik. Heibaaaat. Mana masuknya cuma 500 yen.

IMG_0094

IMG_0093

IMG_0095

IMG_0096
Real (deceased) pandas from Ueno Zoo next door

IMG_0097


IMG_0102

Jam 3 sore, kami udahan ber-museum-ria.

Kemudian hening.

Masalahnya, masih early untuk pulang, tapi museum-museum lain di Ueno rasanya kurang seru. Mau nongkrong di taman, kok ya masih gerimis mengundang. Kemana dong yaaaa…

Kalo mental orang Jakarta pastinya kemana hayooo? Ya, ke mall dooong…. Hahahaha! Gagal deh mau full sok berbudaya di Tokyo.

Mall pilihan kami sore ini adalah Sunshine City di daerah Ikebukuro. Kenapa Sunshine City? Karena konon mall ini geda banget-nget-nget, sampe kayak kota mandiri. Bahkan mereka nggak cuma punya pertokoan, tapi juga museum, planetarium, observation deck, dan city aquarium sejenis Sea World. Banyak ya...

Sampe sana, saya emang ngerasa mall-nya geday berat. Saking gedenya, banyak spot-spot yang mati alias sepiiii banget, nggak ada pengunjung.

Di Sunshine City ini kami jalan-jalan di pertokoannya aja, nggak ke museum, aquarium, dan endebra-endebre lainnya itu. Udah capek dan mulai malem, soalnya. Kalo tiba-tiba tutup dan kami kekonci di dalem ‘kan nggak lucu, ya *kebanyakan nonton film*

Singkat cerita, kami mampir ke Disney Store (seperti di Disney Store Shibuya, disini juga bisa beli tiket Disney theme parks), Uniqlo, Babies R Us, dan beberapa toko brand Jepang yang bukan international retail. Biar mampir sana-sini gitu, kami nggak beli apa-apa kecuali tas kerja kulit buat T, yang emang udah sangat dibutuhkan (dear 7-years-old ugly Puma bag, akhirnya bisa kulempar dirimu ke pembakaran sampah!)

IMG_0106

IMG_0109
Disney Store, Sunshine City

Persinggahan terakhir kami di Sunshine City ini nih yang agak gong—Namco Namjatown. Namco Namjatown adalah sebuah area di lantai atas Sunshine City, yang bertemakan Namco. Tau Namco nggak sih? Kalo nggak salah, doski tuh perusahaan gim ya, kayak Nintendo atau Sega.

Untuk masuk ke dalam Namco Namjatown, kita harus bayar entrance fee. Nah, kalo udah bayar entrance fee gini, harusnya ada sesuatu yang seru ya di dalamnya. Apakah benar?

Nggg… gimana ya… Seru kali ya? Tapi… aneh… Hahaha, bingung deh. I still don’t understand the Japanese and their concept of ‘mall entertainment’. Pada intinya, Namco Namjatown ini isinya macem-macem. Ada foodcourt yang khusus ngejual gyoza, ada foodcourt khusus es grim, ada pun foodcourt khusus kue dessert. Bukan cuma makanan, tapi disini juga ada semacam playground kecil untuk anak-anak, game arcade, rumah hantu walkthrough (KENAPA SIH INI ADA DIMANA-MANA?! Bikin parno!), museum kucing (?) dan banyak lainnya.

Kedengerannya seru, ya. Tapi kalo liat hawa tempatnya, rasanya kok gloomy-gloomy gimanaaaa, gitu. Pencahayaannya gelap, pengunjungnya agak sepi, dan nggak ada petunjuk dalam bahasa Inggris SAMA SEKALI. Bikin kami agak bingung, ini mau kemana. Pokoknya hati jadi nggak endeus. Sama kasusnya kayak waktu kami terdampar di sebuah lantai di Decks Tokyo Beach, Odaiba. Tapi kali ini tempatnya lebih creepy…

Anyway, karena udah bayar entrance fee, coba diicip bentar deh. Kami makan gyoza—yang meski udah dianalisa pake kekuatan batin, ujung-ujungnya masih curiga ini gyoza babi, zzzz—dan es grim di foodcourt specialty masing-masing. Lumayan kenyang, walau batin nggak tenang.

IMG_0112

IMG_0114

IMG_0115
Foodcourt gyoza, yang di-setting seperti lorong jajanan di jalanan Jepang

IMG_0118
Katakan padaku, hai tukang kayu... babi bukan sih?

IMG_0117

IMG_0120

IMG_0122

IMG_0135


Boleh ya, kakak, coba es grim rasa beginian.... Hiii!

IMG_0125

IMG_0123

IMG_0124

Trus, karena mati gaya, kami memutuskan untuk keluar aja dari Namco Namjatown ini. No thanks to the lack of English signage, kami sempet salah jalan. Turun pake eskalator, kirain menuju exit. Ternyata... malah masuk ke rumah hantu! SETAAAAN! (literally)

Kampretnya, akses rumah hantu walkthrough ini cuma satu, yaitu eskalator turun itu tadi. Nggak ada eskalator naiknya! Kalo mau keluar, hanya ada satu pilihan: maju terus menembus si rumah hantu keparat sampe exit. Elo aja ama mbah lo, gue mah ogaaaah! *ngompol*

Trus gimana jadinya?! Asli yah, tadinya saya mau nekat naik keatas lagi pake eskalator turun itu. Jadi manjat melawan puteran anak tangga, kayak di filem-filem Warkop. Ahahaha... BODO! Wong depan muka gue udah ada boneka lifesize berbentuk mayyit. Akika harus kabur!

Tentu saja aksi manjat eskalator ini ditentang Teguh. Bisa-bisa ntar treadmill-an, alias nggak nyampe-nyampe, trus bumilnya kontraksi.

Sebelum saya sempat menjalankan aksi bunuh diri tersebut, Alhamdulillah, ada keluarga Jepang lain dateng. Kayaknya mereka juga salah jalan, tapi karena mereka paham signage bahasa Jepang, mereka tau emerjensi exit dimana. Langsung deh kami ngintil!

Meskipun tetep harus masuk ke rumah hantunya dulu, etlis kami nggak harus jalan all the way through. Langsung ambil short cut keluar liwat emergency exit.

Huaaaaa… Sampe luar rasanya mau mokat! Lebaaay banget, padahal pas jalan singkat menuju emergency exit, nggak sempet ada aksi ditakut-takutin sama sekali. Cuma gelap-gelapan aja.

Udah deh, cao aja dari tempat terkutuk ini. Dadah, Namco Namjatown!

Sempet pipis dan mampir ke drugstore bentar—liat-liat mekap demi menenangkan hati yang deg-degan—lalu pulang ke hotel tercintah. Dari Ikebukuro ke Shinjuku lumayan jauh ya maaak, 16 stesyen aja dulu.

Sampe hotel, karena capek parah, saya nekat rendeman air panas yang konon nggak bagus buat bumil. But what can I say, yaaa… Selama hamil ini saya teteup makan kambing, duren, indomie, dan bahkan main bulutangkis. Sekalian aja deh rendeman air panas! Hihihi. Kesleboran ini kurang bagus untuk ditiru, ya. Sehat terus, Yaya!

7 comments:

  1. Bener ya ternyata, penisnya orang Japan cilik!

    Ngomongin rumah hantu, gue sampe deg-deg-an sendiri bacanya, apalagi udah ditunjukkin boneka kunti jepang di postingan sebelumnya. Kayaknya bakal pura-pura bengek, semaput, atau apa lah daripada disuruh masuk!

    ReplyDelete
  2. Saya yakin seyakin-yakinnya baby yaya kelak pasti jadi anak pemberani wong sejak hayat masih dikandung badan sering diajak mamahnya nyasar ke rumah hantu melulu.

    ReplyDelete
  3. Sunshine city tuh yg suka ada di komik2 bkn sih? Ngarang ya gw :p

    Masa ga blh rendeman air panas pas hamil?lah gw dl hampir tiap minggu. Apa jgn2 gr2 itu azka jumpalitan ya?haha

    ReplyDelete
  4. itu emm kenapa manusia purbanya detail amat sampe ke bulu-bulunya *tutup mata*

    berat ya jadi ibu jerapah, semeter gitu, gw ngebayanginnya langsung sesek napas.

    ReplyDelete
  5. insyaalloh the happy baby Yaya akan sehat2 terussss sampe lahiran, sampe gede. dan gedenya ntar, pastinya dibawah bimbingan dan arahan dari Ibu-nya, ga akan jadi remaja gengges ya nak, hehehe. AAMIIN.

    ReplyDelete
  6. Hidup KOYOOOOOO!! Eh tapi kok katanya, ada beberapa koyo yang gak bagus buat bumil loh... Ah udah lewat, buktinya si Yaya baek baek ya hihihi...

    Anyway, babi or bukan babi, yang penting niatannya La. Niatan untuk menghindari itu udah nomer 1 :) Masak lu mau dibiarkan kelaparan dan cuma makan eskrim doang? hahaha...

    And last but not least: CRAP! tadi orang sebelah gue di office nyangkain gue lagi liat porn site lantaran pas dia nengok, ada gambar si bapak purba lagi pamerin anunya itu.... HUAAAAA...

    ReplyDelete
  7. Gemma: Hoahahaha... Ih paling cepet deh kalo soal fenis-fenisan.

    Sama banget Gem! Gue gondok berat pas masuk jebakan betmen ruhan itu! Tangannya Teguh sampe gue peres-peres, padahal sebenernya diana juga nggak salah apa-apa. Mau pura-pura pingsan juga, depan gue boneka mayyit persis, nggak endeus banget lokasinya!

    Pipijojo: Aamiiin, tapi sebenernya ibunya lho yang gondok. Kenapa juga nggak nyasar ke gudang duit, misalnya...

    Dhita: Hahaha kurang faseh gue sama komik Jepang, dhit. Coba ditanya ke Ratu Manga Indonesia, si Frida!

    Ooo gitu, lo tiap hari rendeman air panas dhit? Soalnya gue beberapa kali baca, katanya nggak bagus... Tapi kayaknya itu utk hamil muda siiih

    Emaknyashira: Hihihi, kayaknya aku agak salah ya majang foto telenji itu disini :D

    Ndutyke: Aaamiiiiinnn!!! :))

    Leony: Hahahaha sip sippp... I hope God would think the same way :D

    HAHAHA mak! Lagi-lagi, kayaknya gue salah deh mejeng itu foto telenji... Mana ekspresyongnya senyam-senyum tak berdosa gitu ya

    ReplyDelete