May 17, 2012

Happy (Belated) Mother's Day

Lompat dulu yaaa, dari postingan Tokyo ke postingan ibu-ibu :D

Lucu deh. Makin hamil tua, saya merasa makin nggak judgemental terhadap metode parenting ibu-ibu.

Emang dulu judgemental? Iya dooong… Hihihi. Nggak sampe jadi Mak Lampir sih, tapi setiap ngeliat anaknya temen / sodara yang mempunyai habit ‘nggak sesuai’ dengan teori yang saya tau, pasti terbersit rasa “Ih…” dalam hati. Sesedikit apapun. Dalam hati, ya. Bibir sih terkunci rapet, menyunggingkan senyum (palsu).

Soal teori.

Selama hamil, saya banyak menimba ilmu per-mak-mak-an. Sumber pertama saya adalah sumber lokal, utamanya forum ibu-ibu, serta berbagai seminar / talkshow / kelas edukasi. Sumber lokal nih biasanya garis keras. As in, teorinya mantep, tapi kurang fleksibel. Pokoknya kudu ASI! Titik! Kudu vaginal birth! Titik! Saya—calon ibu awam yang masih sepolos kertas putih—spontan terpengaruh. Angkat bambu runcing sambil teriak, “SETOJOOO!”

Meski demikian, saya nggak mentok di sumber lokal. Saya lalu hobi main ke website parenting bule semacem BabyCenter, Babble dan sejenisnya. Dan karena saya IRT yang sempet bedrest pas trimester 1 (baca: nggak ada kerjaan), kenyang lah saya melalap berbagai buku bule tentang parenting & childcare selama hamil.


#sekaliguspamer #padahalyangdibacabarudua

Secara penyajian, sumber bule umumnya lebih menarik hati ya. Bahasanya santai, metodenya fleksibel, mana grafisnya lucu-lucu. Nggak menampilkan foto Ayah-Bunda ala sinetron, seperti umumnya sampul buku-buku lokal.

Tapi kok… kok… kok… banyak teori yang ‘bertentangan’ dengan sumber lokal? Misalnya, LDR yang sering diagung-agungkan oleh ibu-ibu menyusui itu bukan patokan, dan bisa aja nggak pernah terjadi sama sekali. Trus, one of my favorite books stated that you can give solids to your baby when s/he hits 4 months old, dengan kondisi tertentu. Dengan kata lain, MPASI nggak haram diberikan dibawah 6 bulan. Ih, kalo disini, mana berani saya ngasih MPASI di usia 4 bulan di depan ibu-ibu ‘garis keras’? Bisa diulek pake tetek.

Ternyata, pendapat berbagai ahli di Barat pun sangat beragam. Soal ASI aja, ada yang santai banget bahkan cenderung pro-formula, ada yang garis keras seperti www.nbci.ca. Benar-benar nggak satu suara.

Karena pusing kebanyakan baca pendapat, saya memutuskan untuk ber-“YASTRALAHYAAAA,” alias santai aja. Saya tetap menyerap ilmu para ‘garis keras’ sebanyak-banyaknya, tapi dalam hati saya yakin, bayi-bayi nggak akan mati karena minum formula, ngempeng pacifier, kena puyer, dan makan MPASI di umur 4 bulan.

Menurut saya nih, yang poaling penting adalah kita punya prinsip, tapi tetap fleksibel. Contoh: saya mau ngasih Yaya ASI eksklusif. Kalo ternyata dia sampe ‘kena’ formula dan mentah-mentah menolak tetikadi ibunya, ya udah, formula dulu. TAPI trus sayanya juga mau relaktasi, belajar latch-on lagi pake lactation aid (ceile), meski katanya kudu stok sabar sampe langit ke-7. Pokoknya tambeng, kalo kata orang Betawi. Dan nggak pake cengeng! (sekali lagi, ceile. Mari kita lihat kenyataan nanti…zzz…)

Nah, di sisi lain, buat ibu-ibu yang 'nggak bisa' ngikutin parenting 'ideal', masukan saya nih ya Buuu… No need to be defensive and explain your actions!

Saya sering ketemu temen yang baru melahirkan, trus saya tanya,
“Gimana lahirannya? Lancar?”
“Lancar sih, tapi gue sesar… trus nggak IMD… trus bayinya sufor … soalnya blablablablabla…” Pembelaannya panjaaaaang bener.

Rasanya ingin kutaruh telunjukku di bibir dese sambil berkata, “Sister, you don’t have to explain and defend your actions. I understand you. Namaste.” Lalu mengatupkan tangan ala Dalai Lama.

Yabeeeees… Gue suka capek denger pembelaan ibu-ibu seperti itu. Ternyata ya, ibu-ibu yang membela diri bisa sama annoyingnya dengan ibu-ibu ‘ideal garis keras’ lho. Nggak harus begitu, deh. Makin kesini, semakin boanyak kok ibu-ibu pinter yang pikirannya terbuka dan berwawasan luas. Nggak semuanya ‘garis keras’. Therefore, such statements and defense are unnecessary.

Jadi emang bener, cara membesarkan anak tuh ada 1001 macam. Coba ulik gaya parenting di berbagai belahan dunia kali yaaa... Jangan cuma kenal ‘tren’ di Indonesia, apalagi cuma Jakarta. You should learn about American parenting, French parenting, Chinese parenting, Zimbabwe, Trinidad & Tobaggo, Pantai Gading, Islandia, bebas lah. You will find out that there’s no ‘wrong’ parenting, selama niatan kita baik untuk si anak. Insya Allah, pikiran akan lebih santai dan nggak terbebani.

Daaan, menurut saya, banyak baca juga bisa menjadi ‘filter’ kalo kita ikut seminar-seminar. Suka merasa nggak sih, seminar-seminar gitu kayak suka berusaha menghipnotis?  Hihihi.

Dengan bekal wawasan sendiri, kita jadi bisa memilah, mana teori yang mau diadopsi, mana yang nggak. Kita jadi punya pendapat, nggak terima mentah-mentah segala materi seminar yang disajikan.

Because every perenting style is different… katanya. Happy (belated) International Mother's Day. Wassalam!

22 comments:

  1. IMPLISIT!!!!!!!!!!! (orang 1)

    Yabeeeeess?? (orang 2)


    Intinya kalo gagal menuruti apa yg ideal di masyarakat: "yastralahyaaa", ngga usah defense mechanism mode on ngajak perang gitu dong ah. (tapi tipikal mak-mak emang begitu sih, termasuk go'ut, hohahoha)


    kthxbai.

    ReplyDelete
  2. Iya. Akupun makin smakin ingin pny anak jg lbh berusaha toleran sama gaya parenting orang lain. Padahal dulu.... Wuuu... Kalo denger ada anak ketjil di restoran pukul2 piring pake sendok garpu (dan DIBIARKAN oleh ortunya), lgsg gw pelototin ala Lely Sagita deh :))

    ReplyDelete
  3. yes i agree. yg defensive sama annoyingnya dgn yg garis keras hihihi

    ReplyDelete
  4. Hahahahah.. gue belum kawin, boro2 punya anak. Tapi orang-orang jakarta di sekitar gue uda semacam ini deh rata2. Macam pada punya template list pertanyaan yg mau ditanyain tiap nengok orang hamil..hihihihi.

    ReplyDelete
  5. aduh aduh ini sama banget deh sama gue. gue juga mulai beralih dari website dan sumber2 lokal ke sumber2 semacam babycenter dan thebump.com. entah ya, rasanya lebih friendly dan dimengerti sebagai calon ibu baru yang banyak parnonya :D

    bukan berarti yang lokal jelek lho ya, tapi kayaknya approach gue akan sama kaya lo Lei. teori boleh bilang apa aja, tapi yang nanti di lapangan ngejalanin kan gue yah... ya disesuweyken sajalah ya. and yes, i don't wanna explain my actions because it's none of anybody's business hahahahahhaa!

    aahh tos perut dulu lah kalo gitu :D

    ReplyDelete
  6. SETUJU!!

    Sebagai mak-mak yang lahiran caesar, tidak IMD, dan si baby sempet dikasih sufor selama seminggu, saya ngerasain gimana rasanya dibejek-bejek sama ibu-ibu garis keras itu #dibejeknyagakpaketetek.

    Awalnya emang sutris berat. Kalo ada temen yang nengok, langsung nyerocos ngejelasin kenapa begini, kenapa begitu. Cape sendiri loh. Tapi akhirnya sih bisa santei juga. Tokh, anak gw sehat-sehat aja. Pinter-pinter aja. Cantik-cantik aja kayak emaknya #eaaa

    Jadi emang jeung Lei, kita kudu punya prinsip sendiri dalam hal ngegedein dan ngedidik anak. Nyerap ilmu boleh, harus malah. Tapi penerapannya tergantung kondisi kita dan anak deh, IMHO loh.

    Smoga lancar hamil dan lahirannya ya say #kisskiss

    ReplyDelete
  7. Kalo kata mertua gue: "Daripada tuh anak mati kelaparan, ya udah lah, pake formula gak apa-apa. Jaman dulu Mami gak kenal tuh yang asi eksklusif. Kalo pas keluar ya mami kasih, kalo nggak? Masak mau dipaksain? Buktinya anak mami gak ada yang bego kan?"

    Other story, gue waktu lahir di vacuum, ini kepala lecet semua. Nyokap udah stress berat, takut anaknya jadi bloon. Ternyata? Gak kebukti kan? (eh gue gak bloon kan? ha ha ha)

    ReplyDelete
  8. Gemma: HAHAHA Gemma! Cubit ya pipinya pake tang! Tapi ya ember, begitulah primal instinct bunda-bunda. Kalo gue lahiran sesar, ngakunya normal aja ah...

    Ndutyke: Hahaha, iya, tapi beda lho! Gue males nge-judge kebiasaan anak yg nggak merugikan orang lain (minum sufor / ASI, makan MPASI-nya apaan, dll), tapi gue masih SEBEL BERAT sama wild kids yg kelakuannya ngerugiin orang lain (kasar, dorong-dorong anak lain, dll) (lalu lirik Sophia).

    Jadi kekesalan lo terhadap bocah-bocah berisik, masih terjadi sama gue juga. Yuk, Lely Sagita-in mereka...

    Mircit: Hihihi, maunya sih seimbang berada di tengah-tengh aja ya #sulit

    Nyun: Kayaknya itu karena nggak tau mau ngomongin apa lagi sih ya. Coba ajak nggosipin artis, ibunya juga bosen kali ya jawab pertanyan sama berulang-ulang kekekek.

    Miund: Hahaha... aaah, udah deh gue nggak usah pake komen lagi. Pokoknya kitorang sepemikiran! Tos perut!

    Lani: Samaaaa... aaah kita sepemikiran juga! Ya itu, pengennya sih kita berada di tengah-tengah ya. Santai, nggak ekstrem, juga nggak defensif. Tapi sulit mak! Sabar ya Mbaaak, kita sama-sama berjuang terus jadi ibu :) #kisskissback

    Leony: Hahaha enggaaaak lo nggak bloon! Agak 'geser' sih iya! Hahaha. Iya nih... lama-lama dunia anak-anak bisa rasis kayak AfSel jaman apartheteid deh. Dibedain antara bayi sufor dan bayi ASIX :D

    ReplyDelete
  9. setuju ..
    dulu gw sempet berada di garis keras tapi seiring waktu (baca anak makin besar dan sudah punya pendirian sendiri) ternyata semua lebih enak dibawa santai.
    yang penting kita tetep usaha yang terbaik, hasilnya terserah tapi tetep berdoa semoga tetep baik :)

    ReplyDelete
  10. Mbak, permisi ijin komeng...hehehe...

    trus..trus...ada yg bilang gini...I am not a kind of 'crocodile/tiger/lion (whatever lah yg garang2) mom, anakku aku bawa ke dokter mskpun baru panas sehari, drpd nti menyesal, ini anakku jd keputusan ada ditanganku'
    tapi dibahaaaasss terus di socmed soal ini, kaya cari temen n pembenaran. Semacam ketakutan di bully n dibilang ga RUM, over treatment blablabla ya...n menurutku justru ini denial terparah. Hidupnya bergantung apa pendapat orang. Biar tetep keren, kece, famous n what so called ibu masa kini....sad :(
    Investigasi aja ibu2 Nazis itu n reveal the biggest hypocrisy in this world....*kalem*

    ReplyDelete
  11. Neik, gue juga gituuu..
    Mau curhat curhat kecil.
    Standar Austria tuh MPASI di umur 4 bln. Jadi pas gue cek up rutin buat Saif, dokternya (yg ganteng turunan Iran, Persia bow! #ups melenceng) bilang kalo Saif bisa dikasih buah pas umur 4 bln. Perkenalan dg buah pun cuma 1 - 3 sendok kecil di makan siangnya dia aja.

    Nah secara gue juga dulu berprinsip pure ASIX 6 bln, gk pake tapi. Eh tapi tapi tapi, kok si dokter nyaranin begini sih? Dan dia ngomong dg berdasarkan brosur dari pemerintah (bukan karna pengamatan dese sendiri). Secara jg ya Saif naik beratnya jg ok, tapi emng pemikiran pemerintah Austria untuk ngenalin makanan lain di umur mulai dari 4 bln.

    Gue konsul dah tuh omongan dokter ke temen yang juga dokter (di Indo). Eh dia dg judes bales "Ooh gue sih ngikut WHO, lo buka deh mommiesdaily, baca buku, dsb dsb biar pengetahuan lo banyak". Dalem hati gue, gue jg member FD kok, pas gue hamil jg rajin ngubek thread sana. Tambahan, lah pan gue kerja juga sepayung sm WHO, bedanya gue nuklir dese kesehatan. Jadi gue kagak tolol amat gitu lho..

    Asli kaget gue dpt komen begitu, kesannya gue mak bego yang nerima omongan dokter plek-plek. Satu hal lagi, cara dia ngomong tuh ngeremehin Austria di bidang kesehatan dan masalah ngebesarin anak..
    Dan speaking about mommies and kids, Austria punya buku Mutterkindpass (Passport Ibu-Anak) yang tiap ibu harus punya, isinya perkembangan kehamilan dari usia 5 minggu smpe si anak usia 3 tahun. Lengkap dari tes TORCH 3x di masa kehamilan, daftar imunisasi sesuai standar WHO (speaking about WHO nih) dg cap dan ttd kita sbg bukti tiap si bayi dapet vaksin, detail organ screening (btw ini bukan USG 4D ala Dr. Bambang di Menteng yg ngantri sm teler) yg detail dari posisi ginjal, peredaran darah, jantung, jumlah jari, posisi kuping, dll, sampe ya detail brp ml darah keluar pas si ibu lahiran..

    Anways (setelah ngoceh ngelantur smpe lupa point awal) akhirnya umur 4 bulan 3 minggu, gue kasih deh nih si gundut cobain pisang, stroberi, sama wortel. Alhamdulillah sampe skrg Saif gk ngeliatin tanda alergi, gk kaget, dan malah bisa mulai mencerna tekstur halus.
    Seriously para ibu ibu monster di luar sana need to chillaxing deh kyknya..

    ReplyDelete
  12. Resna: No comment selain setuju! Idealnya sih begitu ya :) Prakteknya... Bismilah dulu hihihi. Emang bakal makin luwes seiring waktu aja ya, Mbak

    Anonymous: Aduh, sebenernya kesian juga sih. Mereka yang defensif itu pasti sebenernya galau, dan nggak PD dengan keputusannya.

    Dan menurutku, solusi kegalauan ibu-ibu itu gampang bgt lho: NGGAK USAH SHARE DI SOCMED. Kalo emang dia menghadapi masalah yang sensitif, dan khawatir keputusannya bakal di-judge, ya nggak usah ngomong di socmed kan? Soalnya pasti bakal ada aja yg nge-judge... meskipun dalam hati... menurutku, yaaa :D Salam kenal ya Mbak. Oya, kalo pake anonymous, kadang-kadang suka masuk spam nih...

    Amy Iljas: DARRRR!!! Eh sebelumnya, I know youuu! Hahaha. Gue emang jarang ngomong di forum, tapi sebenernya selalu rajin ngubek, termasuk forum MD. And I'm so familiar with you and Saif's name. Eeeh ternyata amyiljas yang dari Vienna itu yaaa, baru ngeh deh hahaha.

    Menurut gue, cerita lo emang salah satu bukti bahwa mother's knows best lah ya. Setiap bayi nggak selalu harus ngikutin aturan yang sama, toh yang ngawasin tumbuh kembangnya si ibu. Cumaaa... emang kita kudu pasang 'tameng' atas omongan-omongan yang bisa bikin sakit hati. Nggak mungkin lah ya, lo ngasih MPASI di 4 bulan atas dasar referensi sekilas-sekilas aja!

    Gue pun khawatir sih, apa ya kata orang atas keputusan-keputusan gue nanti (padahal I shouldn't)

    Anyway, IRI DUEEEH sama standar kesehatan ibu-anak Austria! Hihihi. OK banget sampe dapet screening komplit. Gue juga sempet USG 4D mahal be'eng. Kirain bakal dapet analisa gimanaaaa gitu, tapi ternyata nggak jelas juga fungsinya apa selain nyeneng-nyeneng-in neneknya zzzz.

    ReplyDelete
  13. Hi Lei,
    Salam kenal dah lama jadi silent reader lo. Setuju banget deh sama prinsip lo.

    Gue termasuk yang ikut ikutan idealis pas hamil karena kebanyakan baca blog ibu ibu "sempurna" ala Indonesia dan kemudian sedih bgt saat anak umur dua hari harus minum formula.

    Dan kalo liat sekarang, gw sampe ketawa sendiri, ngapain juga gw musti selebay itu hanya soal formula.

    ReplyDelete
  14. Dagu jatoh ke tanah pas liat daftar bukunya...

    Tapi pas baca "#sekaliguspamer #padahalyangdibacabarudua"

    Langsung zzzzz....wekekekeke...

    ReplyDelete
  15. Pas temen gue nyebut mommiesdaily, di otak gue cuma mikir untuuunggg gue blom pernah ktemu nih org di forum hahahaha..
    Secara kalo sharing di forum kan jarang tuh ada momster begitu :D

    Dan satu lagi, ada lho ibu yg bangga (baca: tengil) bisa lahiran normal. Sehingga banyak temen gue juga yg kalo ditanya begitu pasti ada pembelaan, contoh:
    Gue udh maksa normal smpe terakhir, tp bukaan 4 udh 12 jam akhirnya caesar deh, mata gue minus 6, dsb..
    Pdhl sih itu kan keputusan pribadi yah gk perlu kita hakimi. Dan i believe every woman born to be a mother, walau tuh bayi lahir caesar, normal, atau bahkan gk lahir dari rahimnya sendiri.

    Anyways hahaha iyaaa im that Amy di FD. Gue tp gk sering nongkrong di thread mak mak, seringnya thread galau hahahahahaa..

    ReplyDelete
  16. Mothers know best laaahhh. Gausah gentar ngeri diulek tetek. Tetek kan empuk, kecuali tetek hulk. Kayanya keras, ijo pulak. Hiii

    ReplyDelete
  17. Hildha: Hai Mbak, makasih ya udah mampir :) Iya, pastinya kita pengen yang terbaik tanpa harus jadi momster ya. Tapi seperti yang aku bilang, kayaknya baru bakal terjadi seiring dengan waktu berjalan deh. Ibu baru sih kayaknya nggak bisa brenti parnoan hehehe...

    Nuri: Hahaha, udah dibaca semua siiih... Tapi yang khatam dengan jujur baru 2. Sisanya cuma dibaca dua halaman, trus buat ganjel-ganjel lemari...

    Amy: Beraaaat memang. Ah, aku jadi baca-baca postinganmyu nih ah di MD, sekaligus orek-orek pengalaman hehehe

    Risti: Mbak Ristiiiii... Anda dapet juara sebagai komentator paling nyambung! *kalungin medali*

    ReplyDelete
  18. Maaf mba...kok jadi kepencet anonymus ya....hihihi...my name is Linda...once juga pernah jd ibu2 textbook nih...tp sekarang ud bisa nyantaiiii kaya dipantaaaiiii....

    Baca, denger pendapat orang, cari masukan itu penting kok...tapi jgn smpe jd puyeng...cukup buat guidelines aja...

    Ehh lg heboh vaksin nih...hihihihi...seru ya...anak kok dibuat coba2...

    ReplyDelete
  19. topik paporit! soal anak beranak. oot, tak mengkoleksi buku 'what to expect' ya Lei?
    gue termasuk yang defensif kalo ngadepin orang2 yang suka nge-judge. soale emang hobi adu argumen ajah. haha.
    satu hal yang gue seneng bagi ke dunia (siap2 ditimpuk member AIMI) adalah keputusan memberhentikan ASI saat si bayi udah tumbuh gigi. soalnya gak pengen puting lecet berdarah aja. haha.

    good luck till you meet Yaya NG yah!

    ReplyDelete
  20. Fina: Soalnya orang-orang banyak yang referensinya What To Expect Fiiin. Kalo bacaan gue beda, jadi bisa saling kasih masukan bukan? ;)

    Eh, emang sebelum gigi anak-anak tumbuh, lo nggak pernah lecet Fin? Sungguh canggih latch on-nya hihi

    ReplyDelete
  21. oh iya ya.. if you see from that point of view. oot, filmnya bagus gak sih? hihi.

    soal latch on, gue beruntung diberi puting dan areola yang ideal dan pas dengan ukuran mulut bayi2ku. anak pertama doang yang ngaco, gue baru netekin di hari ke 2. hari pertama full formula ajaaah. *gubrak* dan saat itu masi belum nemu posisi oke. di hari ke 3, dan hingga anak ke 3, lantjar tante. Lesson learn, oprasi payudara seblum mlahirkan? hwuaahaha

    ReplyDelete
  22. Aih gilaaak itu bukunya banyak beeng! Gue beli 1 serial dr. Sears aja samsek gak gue sentuh. Buku Hypnobirthing cuma baca beberapa lembar. Lebih demen gugling, bacain forum, baby center sih. Gretong, hehehe :P

    Tapi setuju Lei. Gue pernah dalam fase idealis garis keras koq. Pas baruuu banget punya anak dulu lah. Lama-lama gue bisa lebih santai, gak judgmental dan gampang bikin prejudice ttg orang lain.

    Kayak peribahasa itu lho, "Tong kosong berbunyi nyaring." Biasanya yang awam, gak tau apa-apa atau cuma punya pengalaman seiprit emang lebih sotoy. Giliran pengetahuan dan pengalaman segudang kayak sufi, rendah hatinya luar binasa :)

    ReplyDelete