May 20, 2012

Turning Japanese - Day 2

Haneda, Citadines Shinjuku Hotel, Shibuya - 23 April 2012

Rise and shine! It’s bright and early in Tokyo City! Not.

Pertama, nggak ‘rise’ maupun ‘early’ sih, soalnya pas bangun udah jam 9 lewat. Kedua, nggak ‘shine’ atawa ‘bright’ juga, karena—sesuai prakiraan cuaca—cuaca mendung gerimis.

Tips: di musim transisi seperti April-Mei ini, cuaca Tokyo suka labil—entah cerah atau ujan. Nah, sering-seringlah tengok prakiraan cuaca di internet. Ketepatannya sekitar 80%, lhooo... We love weather forecast, it’s the first thing we check after waking up. Geek!

Karena nggak dapet breakfast dari hotel, maka yang nggak hamil (alias T) ditugaskan beli susu dan sandwich di Family Mart sebrang jalan. Bagi yang ogah pusing soal makanan di Tokyo, andelin aja convenience store semacem 7-11 yang tersebar di seantero Jepang. Pilihannya banyak, enak, dan murah!

Kelar sarapan, kami mandi, beberes, dan check-out jam 11 siang.

Kemana kitorang? Balik lagi ke bandara Haneda, untuk ngejar Limousine Bus menuju Citadines Shinjuku, hotel kami berikutnya.

Nggak tau kenapa namanya Limousine Bus, karena doi sebenernya bis biasa. Limousine Bus adalah layanan transportasi bandara, yang menghubungkan Haneda dan Narita ke berbagai area Tokyo. Terserah mau ke Shibuya, Ikebukuro, Akihabara, bebas deh. Kalo kata T, ini Damri-nya bandara Tokyo.

So the plan was: naik shuttle bus hotel balik ke Haneda (5 menit) – naik Limousine Bus ke Shinjuku (30 menit) – naik taksi ke hotel (10 menit).

Alhamdulillah, lancar car car! Semua on time dan nggak pake nyasar!

Satu hal yang ngebantu banget adalah peta hotel Citadines Shinjuku yang saya print dari Jakarta, dalam dua aksara, Jepang dan Latin.

Soalnya, hotel kami ini agak susah dicari. Sopir taksi yang mangkal di Shinjuku pun sering nggak tau letaknya dimana. Maka langkah yang paling bener adalah nunjukkin peta hotelnya, tapi HARUS dalam dua aksara: Jepang dan Latin. Nggak semua orang Jepang faseh aksara Latin.

Kalo sopirnya paham (alias nggak pake muter-muter), perjalanan dari pemberhentian Limousine Bus Shinjuku sampe Citadines Shinjuku harusnya cuma 10 menit, dan argo taksinya nggak lebih dari 900 yen.

Argo kami TEPAT 900 yen. Leganya mak byar!

Nyampe hotel sekitar jam 12 siang, jauh sebelum waktu check-in. Tapi Alhamdulillah, kamarnya udah siap.

In short, we love, love, love Citadines Shinjuku. Nggak sia-sia yaaa, browsing dan comparing belasan hotel Tokyo sampe bolamata gue salah urat! 

Things We Love About Citadines Shinjuku
  • LUAS. Untuk standar Tokyo, ukuran kamarnya masuk akal banget. Umumnya, hotel-hotel sekelas Rp 1-1,5 juta / malem di pusat kota Tokyo kamarnya segede kandang burung
  • Kamarnya modern, bersih, dan layout-nya sangat functional. Celah sekecil apapun, pasti dijadiin rak / storage. Jadi barang-barang kami bisa tersimpan rapih, nggak bergeletakan dimana-mana
  • Fasilitas kamar lengkap. Dari mulai peralatan dapur, setrikaan + papan, sampe DVD player
  • Masih masuk budget
  • Ada coin laundry. Horeee, bisa nyuci!
  • Bagi yang punya anak, mereka nyediain babysitter service juga, lho
  • Staffnya super ramah, helpful, dan jago bahasa Inggrisny
  • Lokasinya di Shinjuku, gampang kemana-mana
  • Deket ke berbagai convenience store, apotek, dan tempat makan
Ada yang bilang, kelemahan hotel ini adalah jaraknya yang agak jauh dari stasiun subway terdekat. Seeuuus, jangan manja deh, seus. Cuma jalan kaki 3 menit kok! Kalo lagi loyo, 5-7 menit deh.

IMG_0098
Someone's lounging like a baws! Itu sofanya bisa ditarik jadi sofa bed, lho

IMG_0102

IMG_0099
Horeee, punya lemari! Koper jumbo kita umpetin dulu di pojokan.

IMG_0103
Desk area

IMG_0497
TV with DVD player

IMG_0496
Kitchenette komplit. Ada kompor, microwave, exhaust fan, panci, kulkas, sutil, set sendok - garpu - piring - mangkok - gelas. Inilah surganya ibu-ibu.

IMG_0100
Wastafel yang terpisah dari kamar mandi...

IMG_0495
... karena kamar mandinya ketek bana, hihihi

Bebenah kamar dulu, trus capcus ke Shibuya.

Perjalanan dari hotel ke Shibuya sih deket, tapi rada remfong karena kudu perang melawan angin dan gerimis. Sebenernya di akhir April, Tokyo udah nggak dingin. Normalnya 17-20 derajat Celcius lah. Tapi kalo lagi gerimis, langsung drop jadi 12 derajat. We could handle the chill, no problemo (maklum, reptil. Darahnya cucok sama yang dingin-dingin), tapi becek dan anginnya mana tahaaaan...

IMG_0104
Welcome to Shibuya!

IMG_0115

Di Shibuya ada apa? Nggg…. Nggak ada apa-apa. Hihihi. Shibuya itu sebenernya hanya terdiri dari gedung-gedung pertokoan dan kafe. It’s really just another version of Orchard Road or Causeway Bay. Yang bisa dinikmati dari Shibuya adalah people-watching-nya 'kali yaaa. And also noticing the many little unique things.

For serious shoppers, bisa melipir ke daerah Omotesando, yang tetanggaan sama Shibuya. Disebut-sebut sebagai Champs-Elysees-nya Tokyo, karena Omotesando adalah gudangnya high-end brands seperti Burberry dan Prada. Bagi yang nggak suka shopping, ke Omotesando tetep seru kok, karena arsitektur bangunan butik-butiknya super unik.

Prada Omotesando, picture from here

 TOD'S Omotesando, picture from here

Ahenda kami di Shibuya sore itu adalah: cari makan, nongkrong di Starbucks (jauh-jauh cuma ke Setarbaaak? You’ll see why later), dan beli tiket Tokyo DisneySea di Disney Store Shibuya. Tadinya juga berniat foto sama patung Hachiko di Shibuya Station, tapi mengingat edannya Shibuya Station pas rush hour ntar… pikir-pikir dulu ya, ceu.

Berhubung sampe di Shibuya udah jam 2.30 sore dan kami belum makan, Yaya ngoamuk kelaperan di dalem perut. Aiiih, gaswat! Mata ibunya langsung jelalatan cari department store terdekat, dan langsung meluncur ke basementnya.

Tips: kalo mau makan enak tapi males ke restoran, coba mampir ke basement department store besar, seperti Isetan, Takashimaya, Seibu, dan banyak lainnya. Basement depstore ini disebut 'depachika'. Depachika spesialis ngejual berbagai makanan, mulai dari bento, snack, goreng-gorengan, sampe cake-cake biang diabetes yang bentuknya lucuuu banget. Porsi dan rasa sudah pasti lebih mantep daripada makanan convenience store.

Tapi jangan lupis, sistemnya take-away yah. Nggak ada bangku-meja. Karena pelanggan depachika  umumnya adalah para pegawai yang nggak sempet masak. Beli take-away aja buat di rumah.

Setelah ngebungkus dua bento plus salad, kami naik lagi ke atas, lantas makan di pojokan deket stasiun. Berdiri pula bok, gegara nggak ada tempat yang bisa didudukin. Becek semua! Berakrobat lah suami-estri ini saling titip pegangin payung, saling nyuapin, dan ditutup dengan saling ngaduk tas, nyari tissue basah. Mesranyooo...

Kelar makan, kaki spontan geter-geter karena pegel. Langsung jalan menuju destinasi berikutnya, yaitu Starbucks di Tsutaya Bookstore Shibuya.

Kenapa oh kenapa, jauh-jauh ke Tokyo, malah cuma ke Setarbak? Karena konon, Starbucks di Tsutaya Bookstore Shibuya ini sepetsial. Bukan karena pake telor, ceu, tapi karena lokasinya.

Jadi, Shibuya ini punya penyebrangan jalan multijalur—nama kerennya pedestrian scramble—terbesar dan tersibuk di dunia. Suasana di sekitarnya juga seru, penuh dengan billboard dan neon signs. Kalo malem, ramenya mirip-mirip Times Square NYC, deh.

Nah, Starbucks ini terletak di lantai 2 Tsutaya Bookstore Shibuya, dan katanya adalah tempat terbaik untuk ngeliatin Shibuya crossing tersebut. It’s also one of the busiest Starbucks in the world.

IMG_0122
Gedung Tsutaya Bookstore Shibuya. Noh, Starbucksnya di lantai 2.

IMG_0121
About to cross the crossing ourselves

Dan bener dong, sampe di Starbucks, nggak ada tempat sama sekali. Pinuuuh pisaaaan... Padahal space-nya udah dipepet-pepet, dan bangkunya adalah stool-stool kecil. Bukan kursi-kursi gede ber-jok gitu.

Alhasil, setelah beli minum dan kue, kami kudu hunting kursi dengan sistem neror: nyari customer yang naga-naganya udah mau kelar, trus berdiri di belakangnya sampe dese merasa terusik dan minggat. Hoahahaha!

Berkat kegigihan (meneror) dan baca bismillah 100x, akhirnya dapet tempat menghadap jendela, persis mengarah ke Shibuya crossing. Super strategis. Scooore!

IMG_0125

IMG_0129
Shibuya crossing

Mungkin T merasa perjuangan nyari kursi di Starbucks ini agak berat, jadilah dia ngotot nggak mau beranjak sampe… 3 JAM! Zzzz, sekali lagi zzzzz...

Dia sampe bolak-balik nambah minum, dan pura-pura buta kalo ada customer lain nungguin kami. Judulnya, you don’t mess with a Minang-ogah-rugi deh ya -__-" Padahal gue sendiri udah garing melototin zebra cross. Pantat pun udah cekung, kelamaan bertahan di kursi keras. Demi gengsi!

Setelah 3 jam, akhirnya udahan juga nongkrong di Starbucks-nya. Lantas lanzuuut ke Disney Store Shibuya. Disney Store Shibuya adalah salah satu toko merchandise Disney di Tokyo yang punya counter tiket Tokyo Disneyland dan Tokyo DisneySea. Besok ‘kan ahendanya mau ke Tokyo DisneySea, dan sesuai dengan aturan yang saya anut, saya musti beli tiket Disney park sebelum hari H! Daripada refot ngantri di loket pas hari H, mending beli duluan ya, kakak.

Maka melipir lah kami ke Disney Store ini. Tempatnya sih kecil dan merchandise-nya standar-standar aja, tapi bentuk luar-dalemnya lucuuu sekali.

Disney Store Shibuya
Picture from here

Beres beli tiket Tokyo DisneySea, kami berguling ke Tokyu Hands, mumpung udah deket.

Tokyu Hands tuh apa? Gini deh, seandainya Toko Sagala Aya-nya Padhyangan Project itu beneran ada, bentuknya pasti kayak Tokyu Hands. Jadi, intinya ya itu… toko sagala aya (nggak membantu ya...).

Tokyu Hands adalah sebuah toko besar yang menjual segala kebutuhan sehari-hari. Mungkin rada mirip ACE Hardware atau Home Depot, tapi Tokyu Hands jauh lebih lengkap dan besoar.  Setiap lantai didedikasikan untuk kebutuhan spesifik, nggak cuma menyediakan home appliances.

Contoh, lantai dasar Tokyu Hands Shibuya ini menjual Travel Accessories. Bukan sekedar koper atau bantal leher, lho, tapi ada juga pernak-pernik yang membuat saya mikir, “Kok bisa ada sih?”. Misalnya, cover sepatu karet. Jadi kalo kudu jalan kaki pas hujan, kita bisa ‘ngebungkus’ sepatu kita pake cover ini. Kayak sistem ngebungkus kaki pake plastik kresek, tapi versi elit dan customized, hihihi. Trus ya, ada koleksi payung lipet dalam warna-warna Pantone! Lengkap berjejer di satu dinding, dari mulai warna muda sampe tua, sesuai kode Pantone masing-masing. Apa siiiiih?! Nggak penting tapi kok lucu?!

Di lantai Personal Stationery, berbagai notes, bolpen, sampul buku, map, dan perlengkapan tulis-menulis lainnya bergeletakan heboh. Moleskine notebooks dan passport covers warna-warni yang biasanya disusun rapih di Aksara, disini ngejublek begitu aja. Cuek-cuek-nggakbutuh niyeee…

IMG_0137

IMG_0138
T wants this!

IMG_0139
Kenapa ya, Converse digantung bareng tempat pensil...

Silahkeun tengok floor directory-nya di-sindang. Komplit dan heboh ya maaak. Tagline-nya aja "When You Visit Us, You Find What You Want." Idih, gahar amaaat... Dijamin nih? Kalo mau cari jodoh dan skripsi palsu gimana hayooo?

IMG_0140
Belasan rak stiker di lantai Crafts & Design

IMG_0141
Mainan nona-nona favoritnya Miund, hihihi

IMG_0143

IMG_0142
Lantai khusus tas. Jangan dikira mursida ya. Tas-tas kerjanya mahal bok! Jetian! Real patent leather!

Lantai favorit saya adalah lantai paling atas, yang dedikasikan untuk Hobbies. Jadi apapun minat Anda, onderdilnya ada disini. Misalnya, buat yang suka science history, disini ada buku-buku astronomi, puzzle molekul, sampe model kerangka dinosaurus. Buat yang suka berkebun, ada bermacem-macem sarung tangan, spray buat nyiram, bibit, dan berpot-pot taneman mungil... You get the idea lah yaaa.

IMG_0157
Geek corner!

IMG_0152

IMG_0153

IMG_0155
Cem-macem taneman

Lantai Hobbies ini digabung dengan sebuah ‘warnet’ (with huge iMacs) dan kafe bernama Hands Café.

IMG_0146

IMG_0145

IMG_0147

Makanannya sih minimalis, cuma jus, kopi-kopian, dan sandwich. Tapi karena tempatnya pewe banget dan udah jam 7, we decided to have dinner here. Lumayan kenyang.

Selesai makan dan liat-liat di Tokyu Hands (yes, my friends, we didn’t buy anything), di luar udah gelap. DAN MASIH AJE GERIMIS! Pret.

Sebenernya Shibuya di malem hari tuh seru dan rame banget, tapi karena bumil udah mau pengsan DAN MASIH GERIMIS!, mending langsung pulang ke hotel deh.

Oya, sempet mampir ke Lawson buat beli tiket Fujiko F. Fujio museum, yang akan dimampiri lusa.

Sebenernya, si tiket kudu dibeli di semacam mesin ATM bernama Loppi, yang hanya tersedia di Lawson. Tapi karena si mesin nggak punya pilihan bahasa Enggris, mau nggak mau harus minta bantuan staff yang ada.

Berhubung saya ngerti sepatah dua patah kata Jepang, maka saya yang didorong-dorong T buat ngomong. Asem, ente! Tapi yaaa… walopun rada paham Japanese phrases—dan bahkan bawa kertas sontekan kalimat—tetep aja language barrier-nya berat banget. The staff speaks zero English! Zero! Udah kayak main Komunikata deh, gelagapan a i u e o, ditambah gerakan-gerakan the chicken dance dan ngomong "Gomennasai, wakarimasen" ("Maaf, saya nggak ngerti") seribu kali.

Hamdalah, sebelum sempet terjadi aksi jambak-jambakan, akhirnya tiket berhasil kubeli, horeee!

Sampe hotel langsung bebenah, mandi, lalu berbaring di kasur sampe liwat tengah malem, dengan tatapan kosong. Hihihi. Hello, jetlag.

Until tomorrow!

PS. For more travel pictures, si anak bawang See, Shoot is updated. Kthxbai.

17 comments:

  1. Shibuya crossing cakep yaaa kalo pada payungan, warna warni gituuu. Trus tokyu hands ini mungkin seperti rak barang2 jepun lucu2-gak penting yg ada di karfur ya. Only bigger, a lot bigger sampe jualan mainan nona nonaan yg kepalanya gampang putus. Ih seruuu... Next post!

    ReplyDelete
  2. penasaran, di Jepang itu beneran ada gak sih sorak sorai semacam "selamat dataaaaaang" atau "terima kasiiiiih" waktu ada tamu masuk atau keluar toko/restoran

    ReplyDelete
  3. itu 3 jam di Starbucks ngapain aja mba? liatin orang nyebrang pake payung transparan warna-warni? hehe..
    *backsound lagu AB Three* :D
    eh mba ke museum Fujiko F Fujio toh.. mau iih..

    ReplyDelete
  4. Klo liat printilan Jepun2an yg dijual di Sogo, orang Jepang tuh emang kreatip bgt ya. They produce even the simplest thing. Kayaknya Itu toko lebih pas kalo tagline-nya: "When You Visit Us, You Find What You Dont Need....." laper mata gak siiiiih? :))

    ReplyDelete
  5. HOMAGAH NONA NONAAA =)))

    ih gw pasti kalo ke sana yg ada nangis kokosehan di depan raknya sampe dibeliin =))

    eh hotelnya tsiamiks banget, menyenangkan gitu kayanya bisa buat berempatan kali ya?

    ReplyDelete
  6. Risti: HAHAHA kepala cepet putus! Kalo yang ini kayaknya agak mutuan, jadi susah deh mutusin kepalanya... Iyaaa, Shibuya crossing tuh keceee. Lebih kece kalo malem sih :D

    Seerika: ADA BANGET!!! :)) Emang tradisi aslinya begitu yah. Cuma mereka teriaknya pake nasal noise yang super cempreng, dan semangat 45 kayak mau perang, "IRRAISEMASHEEEEE!!!" *jantung copot*

    Anti: Iya *muka datar* Kejem ya suamiku, aku dijadiin tahanan Starbucks 3 jem...

    Ndutyke: Banget banget banget. Hahaha.... Japanese kan emang rajanya pencipta barang-nggak-penting. Tapi lucu! Pengen!

    Miund: KOKOSEHAN!! :)) Hotelnya ciamiks berat Uuund... Bisa kok ber-4, meski bakal sempit yah. Ber-3 tuh oksbangs deh. Buat bawa anak-anak pun ideal yah!

    ReplyDelete
  7. Lei sushi review donk donk donk. ramen ramen!! sashimi sashimi! hohoho.

    OOT dikit Lei, waktu gw ke Melb taon lalu nginep di Citadines juga, penampakan yang elo fotoin persis plek sama Citadines Melb. Hebring juga ya standard mereka dr keran + toilet bowl + dapur / meja / kasur / lampu semuanya sami.

    ReplyDelete
  8. Mba Lei, salam kenal, mau nanya, maap ya klo nanya nya agak ndeso dkit, hehehe.. Kalo disana klo nginep di hotel yg cm buat 2 org tp dimasukin 3-4orang klo ktauan mereka agak ketat ga yah peraturannya? Soalnya cek2 hotel beberapa ada tulisan pajak kota yang diitung per orang, dan ngitung bolak balik, lebih murah di hotel kayanya daripada hostel (tp dgn catatan hotel nya dimasukin rame2 n patungan gt, hahaha) *Ga mau rugi :D

    Mohon pencerahannya :D

    ReplyDelete
  9. Fabz: Hahahaha! Adeeuh, sungguh minta maaf sekali, petualangan kuliner gue di Tokyo nggak gitu seru bok :( Pertama, karena gue hamil (jadi nggak bisa makan aneh-aneh). Kedua, karena keterbatasan waktu, makannya serba grab-n-go aja. Nggak seru yah?

    Iyaaa, Citadines emang standarisasi dunianya ketat. Di Jakarta juga sempet ada Citadines (sekarang ganti nama jadi Morissey), dan layout kamarnya persis begini.

    Filand: Haaai... you are very correct, hotel di Jepang tuh diitungnya per kepala, bukan per kamar. Nggak bisa selundup-selundupan orang deeh :D Jadi, kalo nginepnya bertiga, rate kamarnya akan lebih mahal daripada nginep berdua, meski kamarnya sama aja. Mereka punya rate untuk 2 org, 3 org, dst.

    Hostel maksudnya ryokan bukan? Beuh, ryokan emang mihiiil! :D Kalo backpacker hostels gitu nggak tau ya hehehe... Emang mendingan di hotel, tapi yang murmer. Tetep sih, semurmer-murmernya, kamarnya nggak bisa diamprokin rame-rame :(

    ReplyDelete
  10. ih ih iiiihh tokyu hands! kalo aku pasti mandek dan gak mo pulang di lantai personal stationery deh mbaaakk! LUCU TINGKAT DEWAAAA semua pritilan yang ada di lantai itu pasti! akan aku masukin ke salah satu list perjalanan kalo aku ke jepang! *AMIIINN*

    fujiko museum itu juga lucuuu banget! ada segala pintu ajaib.. pipa-pipa besar di taman baseballnya giant.. dan masih banyaaak lagi!

    gak belanja buat pritilan yaya mbak? kan disana semuanya lucu-lucu dan menggemaskan *termasuk harganya pun menggemaskan*! :P

    tak sabar nunggu post selanjutnya! ditungguuuu..

    ReplyDelete
  11. 3 jam di starbucks berapa kali pipis tuh? :P
    Konsep tokonya semacam palugada yak (apa yg lu mau atau gak mau gw ada)
    ayoo musiem fujiko fujio nya direview. Kan aku dulunya penggemar doraemon.
    *segera menuju lawson benhill untuk merasakan suasana jepun*

    ReplyDelete
  12. Ednasari: LUCU SANGAT MEMAAAANG! :)) Belanja siiih, tapi mostly baju-baju Yaya aja. Nggak tega belanja printilan! Soalnya ntar pasti bingung, di rumah malah nyampah :D Tapi Teguh beli useless printilan banyak bgt buat oleh-oleh :D

    Emaknyashira: Berapa kali? Ratusan! Lebih! Banyak lah pokoknya kekekek...

    ReplyDelete
  13. Jadi inget, waktu pas nyokap hamil gede, bokap ke Jepang, beliin baju lucu2 buat gue, yang saat itu modelnya gak ada di Indonesia. Dan emang bener, sampai sekarang beberapa masih disimpen sama nyokap, dan liat baju-baju itu, gue suka terharu... Geez, I was that small before! Yaya is very lucky udah travel duluan ya di perut ibunda.

    Haduh, kalo di Jepun mah, convenience store juga makanannya kelas wahid, lebih rapih daripada di resto jepang di Indo! Lawson di Jakarta juga udah mulai banyak yah hehe, pake jualan Onigiri sama Oden segala tuh.

    Lah, elu ke Jepang thok pake acara Jetlag?? Bukannya selisih gak banyak Jepang sama Jakarta ? Elunya kali yang terlalu semangat mpe ga bisa tidur?!

    ReplyDelete
  14. Aaaahhhh kamarnya bagus dan luuuaaaassss!!! Jauh banget bedanya sama kamar hotel ik yang segede lubang kenistaan *gede dong berarti*

    Daaannn gue nongkrong juga tuh di starbak situuu.. hahahaha! bedanya gue malem-malem.. padahal eki pas diajak gak mau, katanya mosok jauh-jauh nongkrognnya di starbak2 juga yaaa... tapi emang kalo udah duduk di sebelah jendelaaa huwaaaawwwww!!! Shibuya crossing langsung tampak syantik yaaa..

    Hahaha aduh baca postingan ini langsung iba sama diri sendiri juga deh... kalimat "gomenasai wakarimasen" emang udah kalimat kuncian ya tiap diajak yapones ngobras jepang..

    Tapi seru yaaaa.. aku pengen lagi deh!

    ReplyDelete
  15. Leony: Kalimat terakhir lo nanya apa nuduh sih Le, semangat amat?! *asah golok* hahaha... Secara teori sih, it's hard to be jetlagged, tapi nyatanya nggak bisa tidur aja tuuh... Tauk kenapa. Keliwat excited juga nggak sih!

    Iyaa di convenience store Jkt juga skrg banyak makanan Jepang ya :D 7-11 yg duluan nongol juga jual onigiri. Maunya belanja anu-itu buat bebe, terutama pernak-pernik non-baju-nya tapi mana muat koperku (dan dompetkyuu) kikikikik

    Fry: Mau lagi bangeeet! Aduh kapan sih Supseks kumpul lagi, nanti kita cerito-cerito tuker pengalaman biar yang lain sirik!

    ReplyDelete
  16. Gue lagi ngubek-ngubek blog lo nih, Lai, buat cari inspirasi tentang Tokyo Trip. Very helpful hehe. Thanks yah :)
    Btw, Citadines-nya kurang lebih sama yah kayak yang di Bangkok.

    ReplyDelete
  17. Hai mba mau tanya dunk.. Kalo akses dari shinjuku jr station ke citadines jauh ga yah kalo ditempuh berjalan kaki? Makasih yah..

    ReplyDelete