Aug 9, 2011

Bali yang Berbeza

Alkisah, setelah dari Singapura, saya capcus ke Bali.

Banyak duit nih ceu? Sebenernya perencanaan ke Bali ini jauuuh lebih duluan daripada Singapura, karena trip kali ini adalah dalam rangka melepas Angga, seorang sahabat baik yang akan sekolah ke Eropa. Farewell getaway, ceunah. No husbands / wives, no partners, hanya geng. Cie, geng.

Angga has always been a fan of spiritualism (different from being religious ya. Maneh teh saumnya berapa hari doang ya kalo Romadon?). Sukaannya meditasi, baca chakra orang, dan beli batu azimat berduri dari Shambala hihi.  Tapi kalo di kantor, ya balik tikam-tikaman sama koleganya, dan kalo weekend mabok lagi... mungkin itu ya namanya keseimbangan orang ibukota.

Dan menurut Angga, Bali adalah keseimbangan. Kalo mau menenangkan diri, belajar dari alam, hidup sehat -- ke utara lah. Kalo mau hedon, letting out your inner whore, dan ngeceng di pantai bauk -- ke selatan lah.

Sebagai manusia, kita butuh keduanya. Tapi kayaknya, kita udah kebanyakan menikmati unsur 'selatan' di Jakarta. Badan jadi penyakitan, apalagi penyakit hati. Maka, dengan semangat Julia Roberts, berangkatlah Angga ke Ubud dengan misi spiritualisme. Om namaste narayan!

It Ain't As Lame As You Thought It Would Be...


Angga berangkat duluan, sementara saya dan teman-teman nyusul. Jadi kami cuma 3-4 hari disana, sementara Angga... hampir sebulan. Totalitas deeeh...

Maka nggak heran deh pas dia SMS, "I have not eaten animals for days, I do yoga everyday, I've lost my desire for alcohol, and I just finished reading a 400-pages novel by myself comfortably. I'm content being alone here." CIEEE.

Akhirnya saya pun ikut terseret 'holistic' holiday a la dese. Awalnya sih udah di-ceng-in oleh banyak temen di Jakarta, "Aduuh, mana tahan lo makan rumput tiap hari!" "Nggak bosen?" dll. Standar ya.

Tapi, tanpa disangka, I LOVED IT.

Sungguh, it was reaaaally NICE being half-sabbatical, half-hippie selama di Bali, tempat wisata yang biasanya 'cuma' diasosiasikan dengan pantai + party oleh banyak orang. Saya malah nggak ada kangen-kangennya acan sama Seminyak dan bau pantai.

Saking senengnya, saya udah berencana mengulangi lagi trip serupa. Dan siapa tau Anda pengen ikutan, here's roughly how Angga (and I, for a short time) did it:

Where We Stayed


Seperti yang udah disinggung -- Ubud. Sebenernya suka-suka Anda ya... Bedugul mungkin lebih adem, Amed mungkin cocok buat para diver, masjid di Denpasar mungkin cocok buat yang bokek. Tapi menurut saya, Ubud paling sagala aya. Komplit banget buat turis.

Plus points Ubud buat saya: kemana-mana dekat, fasilitas lengkap, kulturnya masih kental, bule-bulenya lebih mapan (dadah ostrali-ostrali bersinglet Bir Bintang! Dikira naksir kali kita?), dan lebih bersih. Pernah jalan di Legian hari Minggu pagi-pagi buta nggak? Menurut Angga, mambu-nya bener-bener busuk, akibat limbah bekas malam mingguan. Alkohol, muntah, dan dosa udah nyaru jadi satu kali ya.

We slept at: lekong-lekong di Mawar Homestay (Rp150,000/malam), pereu-pereu di Bucu View (Rp600,000/malam).


Good morning from Bucu View. 'Segeran' ya? *gampar*
('segeran' selalu = gendutan. Jangan GR ya kalo dipuji demikian...)

What We Ate

This is interesting. Saya tau sih, komunitas eco-friendly tuh menjamur di Ubud, sehingga disana banyak restoran sehat. Tapi saya nggak tau ada sebanyak itu... dan seserius itu.

Seserius apa? Seserius nggak menyediakan sedotan. Iyes benar, sodara-sodara. Jadi apapun minuman yang kita pesen, termasuk jus semangka yang bakal ninggalin kumis, jangan harap kita dikasih sedotan. Alasannya simpel sekali: say no to plastic :)

Ciri lain dari restoran-restoran Ubud adalah, menu sehatnya nggak palsu *lirik Healthy Choice*. Minyaknya beneran rendah lemak, dan bahan-bahannya 'murni'. Misalnya, di menu vegan, bahan-bahannya ya vegan beneran. Nggak ada suwiran ikan nyempil. Atau dressing mayones.

Cara-cara mereka mengolah menu vegetarian juga kreatif. Saya nggak pernah sekalipun makan salad atau lalap disana, tapi saya makan macem-macem hidangan tahu, kacang-kacangan dan umbi-umbian. Diolah jadi high cuisine bisaaa, jadi burger bisaaa. Sepinter-pinter tukang masaknya deh. Dan endeus! Serius enak. Ternyata puasa daging dan micin tuh nggak bikin tiwas lho...

Tiga menu terunik yang saya cicipin di Ubud adalah: semacam wine yang terbuat dari buah naga, kombucha tea, dan no bake cakes. Bikin kue kok nggak dipanggang? Karena untuk manggang, kue perlu tepung, dan tepung itu racun (kata nutritionists). Alhasil, mayoritas dessert cakes di Ubud dibuat dari bahan-bahan yang lebih sehat, tanpa tepung, dan dimatangkan di.... freezer (I think). Jadi cuma di-freeze, nggak dipanggang.

Rekomendasi kue-tanpa-panggang saya adalah cheese cake di Bali Buddha. Serious yumster, dan nggak ada bedanya dari cheese cake 'beracun' yang biasa.


 No bake cakes from Bali Buddha! Yumster.
(Image from Google)

We ate at: Sari Organics, Kafe, Juice Ja, Bali Buddha, Minami, Bollero dan Tutmak. Kecuali tiga  restoran terakhir, yang lain bertipe 'nggak menyediakan sedotan'. Bahkan Sari Organics punya sawah sendiri (yang diserang siang malem sama hewan, karena 'kan nggak pake pestisida. Hebatnya, si pemilik kalem aja, karena katanya, "Santai aja, hewan 'kan juga butuh makanan..." Waaaw)


Untuk mencapai Sari Organics, tamu harus jalan sekitar 1 KM melewati sawah lewat jalan setapak  yang cuma muat satu orang. Kalo ada motor papasan? Lompat ke subak. Kalo malem, siap-siap bawa senter.
(Image from Google)


... but then look at the damn view. Gorj.
(Image from Google)


My boys being hot at Minami (and pretty much ruining its ambiance)

How We Got Around

Angga ngelarang sewa kendaraan bermotor! Walaupun do'i berkelit demi kesehatan, saya sih curiganya karena sewa mobil mahal, sementara do'i nggak bisa naik motor hihi.

Tapi pada akhirnya, saya bersyukur kami kemana-mana naik sepeda. Pertama, bike rent is damn cheap. Kedua, Ubud emang gampang dijelajahi dengan sepeda kok. Ubud tuh kemana-mana deket. Ketiga, kapan lagi gue bisa olahraga tiap hari gini di Yakarta?

Pernah sih, sekali waktu nyasar SAMPE SAYAN (yang tau Ubud, pasti tau betapa jauhnya Sayan ini) dan terpaksa muter ke jalanan yang tanjakannya syaithonirrojim demi mencapai Minami. Meski sempet trauma marissa dan pengen cubit-cubit pipi Angga (pake tang) gara-gara itu, Alhamdulillah, intinya bodi saya jadi seger karena sepedaan terus selama di Bali.


I wouldn't have it any other way. Hidup sepedah!

What We Did


Saya sampe heran, buat apa Angga buka kamar kalo tiap hari, siang-malam, kerjaannya ngendon di The Yoga Barn melulu. Nginepnya disana aja sekalian!

The Yoga Barn adalah sebuah yoga center di Ubud. Kompleksnya sangat alami, luas, terawat, dan terbuka. Pengelolaannya juga profesional dan 'bule' banget. Semua instrukturnya foreigner, skillful, dan atentif kepada peserta kelas mereka.

Kelas yoga yang utama terletak di lantai dua. Bentuk ruangannya seperti aula tak berdinding, jadi plong terbuka kayak saung sunda ditengah rimbunan pohon lebat. Alhasil, angin seger berhembus tanpa henti, sampe kita boleh yoga sambil selimutan kalo dirasa masup angin. Dan setau saya, kelas-kelas yoga di The Yoga Barn sama sekali nggak menitikberatkan kepada "supaya kurus, supaya singset" tetapi kepada "supaya sehat, supaya damai."

Alhamdulillah. Setau saya, emang itu tujuan utama yoga.

Aturan disini juga ketat: kalo lagi nunggu kelas, ngomong kudu bisik-bisik, jangan rusuh, dan yoganya harus menghadap patung Ganesha yang terletak di depan kelas.

 


 Images from Google

Yoga di The Yoga Barn membuat saya kepengen melakukan satu hal.... ngebakar kartu membership gym saya. 

Mereka nggak salah sih, tapi suasana yoga di gym dibanding dengan di The Yoga Barn jelas bagai langit dan bumi. Di gym, kita dikekeup di ruangan tertutup penuh cermin, yang membuat kita jadi kompetitif sama temen sebelah. Angin yang berhembus adalah angin AC, dan nuansa yang tercipta adalah "ayo yoga biar kurus." Pret. Kelar-kelar bukannya damai, malah gusar nimbang berat badan. Makan nih yoga mat!

And variety is a big thing! The Yoga Barn nggak cuma menyediakan berbagai kelas yoga, tapi juga kelas-kelas holistik lainnya seperti:

  • African dance, dengan instruktur asli Senegal, dan musiknya pake jembe beneran. Keren pisan!
  • Biodanza, yang sekilas mirip kelas aktifitas orang gila ("Kamu adalah api!!! Melompatlah seperti api!!! You are a bird, fly, fly free as a bird!!!") tapi sebenernya adalah kelas dansa psikologis, yang memberikan pengalaman terbaik yang pernah gue rasain,
  • Kirtan, yang dalam bahasa Sansekerta berarti 'to repeat'. Dan memang, di kelas ini peserta hanya chanting lirik-lirik lagu sansekerta. Mirip kalo lagi pengajian habib-habib, dzikir 'laailahailallah' berulang-ulang sampe kayak kesurupan. Hihihi. Don't worry, Kirtan's a lot of fun. Angga loved it.

Biaya yoga di The Yoga Barn rata-rata Rp60,000/kelas, kecuali kelas-kelas khusus. Kalo bokek dan pengen aktifitas yang lebih tenang, ada banyak tempat meditasi gratis tersebar di seluruh Ubud.
    If spiritualism is not your thing, you can always go rafting, take cooking class, take biking tour, hiking, shopping... aaah, I love you, Ubud.

    But Don't Worry...

    Ubud's not that hippie. Banyak banget restoran hedon dan bar-bar dodgy buat mabok, bagi yang suka hihihi. 

    Tempat 'hedon' favorit saya adalah Cafe Havana. Konsepnya mirip almarhum Salsa Kafe yang dulu ada di Kemang. Disana kita bisa ngupi-ngupi, ngemil makanan Cuba, sambil ditemani live music bernuansa Latin. Dan kalo pengen, silahkan bajoget salsa dengan kagok di lantai dansa kafe. Nggak punya partner? Semua pelayan Cafe Havana udah dilatih nari salsa sampe ngelotok! They're really good and fun to dance around with. It's cheesy, it's fun, it's norak, and Cafe Havana's desserts are muy bien. Ay!

    Jangan lupa, kalo eneg sama makanan sehat dan kangen makanan sampah, selalu ada Bebek Bengil, Laka Leke, Bu Oka, Naughty Nuri's, dan banyak lainnya.

    And The Result...

    I never, never, ever felt this good in a long time. Waktu di Singapura, saya sakit-sakitan. Mulai dari demam, radang tenggorokan, sampe sakit hati akibat HSG terkutuk. Pulang ke Jakarta, besoknya kudu berangkat lagi ke Bali. So pasti saya takut pingsan di Ubud. Tapi setelah mulai makan sehat, menghirup udara segar, dan sepedaan kemana-mana, Alhamdulillah, I felt as healthy as a young ox.

    Padahal awalnya saya meragu lho -- meragu bisa tahan liburan holistik, dan meragu ada efeknya. Ternyata efek hidup sehat yang banyak digemborkan tuh nyata, teman-temin. Bukan cuma secara fisik, tapi juga secara psikologis. Lebih banyak ketawa, lebih sabar, lebih pasrah, dan lucunya, jadi ingin menyempurnakan sholat. Secanggih-canggihnya The Yoga Barn, saya udah duluan kenal sholat sebagai bentuk meditasi :)

    And I was only in Ubud for 4 days. I can't wait for my 2 weeks getaway :)

    22 comments:

    1. Leija... mungkin ini yang namanya 'meant to be'. Tau gak, sesorean eke rempong cari2 tempat nginep buat ke Ubud bulan September nanti. Udah sampe dalam taraf menyerah karena tujuannya emang gak pengen nginep mewah. Pengen nyari tempat-tempat lucu yang blusukan ke dalem-dalemnya Ubud tapi gak nemu-nemu. Sampe nanya2 di Twitter, belom ada yang sreg juga... and that is until I checked my Google Reader and found your freshly-written piece. Gak cuma dapet referensi hotel, eh malah dapet rekomendasi tempat makan segalaaaaa!!! Aku bahagiaaa :D langsung booking di Bucu View dan suamiku langsung approve tanpa ribet-ribet :D

      Makasih yaaa, guidenya berguna banget. Langsung aja page-nya dibookmark :D *cium Leija*

      ReplyDelete
    2. ya ampun kerennya... BTW di Bandung ada loh yoga yang "yang penting sehat, biar rileks" bukan "biar langsing" langsing itu bonus. Waras yang terutama

      ReplyDelete
    3. ih kamu kayaknya kalo cerita lewat blog lebih seru ya! Aku mau ikut trip berikut!

      ReplyDelete
    4. Miund: Teteh Miund! Wah, berjodoh ini namina! Sama-sama yaaa, senang bisa membantu. Soal penginapan di Ubud, menurutku kendalanya satu: MAHAL. Yang pasti jauh lebih mahal dibanding Selatan ya. Di Legian, penginapan 200rb udah dpt nyaman banget, sementara di Ubud dapet sekasur sama kutu busuk zzzz. Untuk harga Bucu View pun, kalo di Selatan udah dapet yang mewah deh kayaknya.

      Tapi Bucu View bajuuus kok! Bagi aku yang bersepedah, jalan masuknya yang terjal agak mematikan sih hihi. Relatif bersih, ada AC, ada TV, landscapenya OK, pelayanannya bagus, anduknya bersih (penting sekali ini hihi). Tapi karena alam terbuka, bangun tidur kadang suka ada laron di rambut, trus air panasnya lemah, hihihi. Tak apa lah ya.

      First options-ku kalo penginapan murmer di Ubud sebenernya Alam Shanti, Alam Jiwa atau Tegal Sari. Seriously murmer, tapi cepet buanget fully booked. Coba-coba peruntungan aja Teh!

      Kalo mau tanyak-tanyak lagi silahkeun email aja yaaa *ketjoep balik* I'm a big Ubud fan since the last few years wuhuuu.

      Capcaibakar: Keren yah? Wah, dimana itu tempat yoga yang di Bandungnya? Secara bentar lagi mudik kesana, kayaknya kudu dimangfaatkan

      Teguh: Lah makanya temenin aku dua minggu disana!

      ReplyDelete
    5. Lei, thanks yaaa, ntar pas libur september ini ada planning ke bali. N gw pengen ngerasain bali yang lain daripada biasanya. Bisa nih buat alternatif menikmati Bali dari sisi lain (bukan dunia lain loh...hehee...)...skali lagi teeenggkyuuu....

      gw ngakak pas u mau....ngebakar kartu keanggotaan gym...mulesss....

      ReplyDelete
    6. penasaran, kenapa yoga-nya harus ngadep patung Ganesha?

      ReplyDelete
    7. Ahhh...anda tampak segar mempesona... *gak gendut!* Wah enak juga yah Ubud. Lei, aku bingung, buat short honeymoon right after the Wedding, tadinya mau ke Bali, tapi mendadak ada ide leyeh2 di Langkawi. Have you ever been there? Bisa kasih short review better mana ? *konsultasi gratis*

      ReplyDelete
    8. alo lei
      salam kenal ya
      i've been many times to southern bali, but never spent days in ubud!
      next gue ke sana pengen ngikut itinerary elo ah hihihi
      thanks for sharing!
      ~RiYa~

      ReplyDelete
    9. Lawaila i am so coming in the next trip. Sebulan sebulan deh!

      ReplyDelete
    10. Ah sungguh iri, pingin deh liburan yg kayak begini.. *keluh 2juta kali*

      komen dari ttttt itu mister Teguh suami nyatamu ya la? cute cute cute *cubit tete*

      ReplyDelete
    11. Katrin: Haha sama-samaaa. Semoga senang yaaa.

      Bowo: KALO NGGAK SALAH nih, karena Ganesha adalah simbol keseimbangan dunia, sehingga Ganesha menjadi common dijadikan arah meditasi. Kurleb-nya gitu deh.

      Leony: Yaaah, gue belum pernah ke Langkawi, Le. Tapi coba liat link blog temen gue Shoumie (on your right bar) karena do'i dulu honeymoonnya ke Langkawi tuh. Hope it'll help!

      Riya: Aaaah, your missing out a lot! Hehehe. Ini juga pengalaman baru kok buat gue. Soalnya sejak pertama kenal Ubud pas SMP sampe sekarang, aktivitas gue lebih ke physical adventures kayak rafting, hiking, bike touring, bobo-bobo di sawah dll. Kenal aktivitas begini jadi refreshing deh...

      Lisa: Capcus uniiiii....! Aku masup kopermu ya!

      Gemma: Cobain yuk Mbak Gemma kalo Yardan gedean dikit. Hahaha, iya tuh suami nyataku yang menggemaskan. Tau aja nih bulan Ramadhan teteknya makin gendut!

      ReplyDelete
    12. Ih seru yaaa!! Pengen juga deh nyobain sapedaan di Bali. Tapi disana ada sepeda tandem gak sih la? Soalnya kan aku tak bisa naik sepeda ya, jadi harus sepeda tandeman.. yang depan gowes beneran, gue yg di belakang gowes-gowesan...

      ReplyDelete
    13. Frimin! Believe it or not, gue dua kali menyaksikan ABG-ABG ketawa-ketiwi naik sepeda tandem di Ubud, tentunya sambil hampir nabrak melulu! Masak kalah sama ABG? Anyway kalo nggak bisa naik sepeda roda dua, coba naik sepeda roda satu aja dulu...

      ReplyDelete
    14. hahahahaa.. bakar kartu gym? *bantu nyalain korek*

      dessert cakes-nya terlihat endeeuuss bgt!
      okt gw ke bali dan akan menyempatkan kesana, cake tanpa tepung itu bagai surga bagi gw yg pantang tepung2an. hiks..

      btw, blogwalking and am loving this blog so much :)

      ReplyDelete
    15. Nisa: Yiuuuk marii :) No bake cakes ada banyak sih, tapi yang aku suka di Bali Buddha itu. Cobain juga carrot cake dan blueberry-nya ;) Cerita-cerita yaaa, have fun!

      ReplyDelete
    16. nais inpo mbak
      mana tau kapan kapan dapet liburan gratis ke bali
      #liriksuami

      ReplyDelete
    17. I can feel the peace.. padahal cuma baca tulisan. Apalagi ngerasain langsung *irrriii*

      ReplyDelete
    18. Nuri: Hahaha makasih :) Emang damei kok damei...

      ReplyDelete
    19. aduhhh rasanya pengen langsung terbang ke Bali dan sepedaan abis baca ini, hihihihi.... trus nyobain resto2nyaaaaaa *eh tetep* tengkyuuu lei, jadi ada reperensi baruuu hihi,....

      ReplyDelete
    20. Keke: Terbang dan sepedaanlah! Hihihi. Emang enak kok Kee :)

      ReplyDelete
    21. seru banget sih kayaknyaaa.. mauuuuuu!!!

      ReplyDelete