Dec 25, 2019

Selamat Datang 2020, Selamat Datang Kepanikan


Alkisah pada suatu malam, menjelang akhir tahun 2019 ini, seorang anak manusia menatap rembulan—yang buram karena tertutup awan polusi ibukota—lewat jendela kamarnya, sambil merenung, “Umur gue udah segini, tapi hidup, kok, masih nggak jelas aja, sih?”

Bagi yang kurang konek, si anak manusia itu adalah gue.

Tahun 2020 nanti, umur gue resmi lebih deket ke 40an daripada ke 30an, dan gue panik banget. Di bulan Mei 2017, gue menemukan uban perdana gue, dan bulan ini, gue mencabut uban kedua gue. Sekali lagi, gue panik, karena harus diakui gue adalah golongan orang-orang klise yang menolak tua.

Penyebab kepanikan gue banyak. Sebagian besar bukan konsumsi publik, sih, jadi nggak akan gue jabarkan di sini (“Huuu…”). 

But here’s what I can tell you: penyebab utama kepanikannya adalah karena gue merasa gue belum punya pencapaian apa-apa, dengan tolak ukur apapun. Duit kek, validasi masyarakat kek. Apalah. Gue sampe sebel banget sama pertanyaan, “Sekarang lagi sibuk apa, La?” Karena jawaban gue hanyalah, “Sibuk ngabisin duit suami dan bokap aja, nih.” Itu jawaban beneran, lho. Tinggal perkara mau dilontarkan ke si penanya, atau disimpan dalam hati aja.

(by the yes, this is a trust-fund baby whine)

Beberapa waktu lalu, di Instastory-nya, Reza Chandika bilang, salah satu pertanyaan basa-basi yang dia sebelin adalah, “Waah, kok sekarang tambah jerawatan, sih?” Dan jawaban pamungkas RezChan adalah, “Maklum, deh, soalnya sibuk wara-wiri terus ngejar karier. Lo sendiri makin mulus, nih. Di rumah aja, ya?” Jleb. Kalau gue adalah si penanya dan diberi pertanyaan balik demikian, sih, gue bakal ngangguk sambil meneteskan airmata, karena gue emang di rumah-rumah ajeeee... and I hate it so much.

Jadi singkatnya, penyebab kecemasan tinggi gue adalah karena di usia yang sudah sedemikian matangnya, gue nggak punya pencapaian apa-apa. Kalau gue disuruh bikin resume, Wallahi isinya kosong melompong. At least, career gap-nya gede banget.

Yang bikin tambah pedih, sekarang ini gue makin banyak dikelilingi oleh tokoh-tokoh masyarakat yang prestasinya luar biasa, tapi usianya se-gue atau lebih muda. Halo, assalamu’alaikum, Nadiem Makarim? Sanna Marin? Alexandria Ocasio-Goddamn-Cortez? Bisa rem dikit nggak prestasinya? You guys are giving me mini anxiety attacks every day. Apalagi—seperti yang pernah gue tulis di sini serta dibahas di episode Kejar Paket Pintar ini—sekarang kita hidup di budaya meritokrasi. Menurut budaya meritokrasi, kalau kita sukses, semua berkat kerja keras kita. Nah kalau kita gagal, berarti gara-gara kemalasan kita juga, dong? Gimana nggak anxiety attack, kalau tiap hari gue hidup di bawah gaung pesan subliminal, “You’re a lazy loseeeerrr...

Maka, apa yang bisa gue lakukan? Selain mencoba ngelamar jadi kasir Alfamidi, gue berkesimpulan bahwa gue harus bikin prioritas dalam hidup (wow, nggak revolusioner banget). Apa aja, sih, hal-hal yang perlu gue prioritaskan?

Kesimpulan gue adalah:

Menulis

Gue nggak pernah punya prestasi apapun dalam menulis. Misalnya, menang lomba nulis cerpen se-RT/RW, nerbitin novel, atau punya cerpen yang dimuat koran. Tapi kalau mengutip tokoh Suster Mary Clarence di Sister Act 2, “If you wake up in the morning, and you can't think anything but singing, then you should be a singer, girl.” 

There were times when I wake up in the morning, and I can’t think anything but writing. Alhasil bermodalkan kata-kata Sister Mary Clarence, gue mau menganggap diri gue sebagai penulis beneran. Nggak apa-apa, halu aja dulu.

Dengan demikian, di 2020 nanti, gue harus memprioritaskan menulis. Jadi, misal, gue mendapat kesempatan bergabung di dua proyek seru, satu di bidang fotografi, satu di bidang tulis-menulis. Wah, dua-duanya minat dan pesyenku ‘kan? Tapi gue harus memilih proyek yang ada hubungannya dengan tulis-menulis.

Kalau secara hobi-hobian, pengennya KPI-nya, nih, dalam seminggu, gue menelurkan sekian-sekian blogpost (hahaha, nggak berani nulis angkanya takut ingkar janji lagi). Dan dalam sebulan, gue juga punya sekian-sekian artikel untuk media massa. Media massa hoax cyber army juga nggak apa-apa, deh (… jangan, sih…). Siapa tau besok lusanya udah bisa masup The New York Times. Sekali lagi, halu aja dulu. 

All in all, I need to make writing a priority sehingga mindset gue—yang penuh dengan sekitar 362,738 minat dari berbagai bidang ini—akan jadi lebih terarah, dan semoga hasil tulisan gue membawa gue ke jalur hidup yang lebih seru, asik, dan berduit. Poin terakhir yang paling penting! 

Gerak tubuh 

For me, movement is life. You don’t move, you die. Home sapiens itu ditakdirkan untuk bergerak terus, tiap hari, menggunakan tiap otot dan sendi yang dikaruniakan Tuhan. Soalnya, pas jaman purba, kalau homo sapiens nggak gerak, dia bakal mokat karena nggak berburu cari makan! Atau justru dimakan macan, ya.

Gue sendiri berusaha menjalani betul takdir tersebut, jadi gue nggak menganggap gerak / olahraga sebagai kewajiban atau pengorbanan demi ina inu ina inu. Jalanin aja, entah itu bolak-balik gotong ember cucian, atau ngebanting battling rope di sasana bootcamp. Beban boleh ada di barbel, tapi jangan ada di pikiran. Widiiih...


Tapi gerak tubuh memang selalu bikin gue hepi, sih. Bahkan selama hampir dua tahun terakhir, sumber duit jajan gue dari mengajar kelas olahraga 'kan.

Sejujurnya, karir di bidang olahraga itu sulit. Pertama, karena ada batas waktunya. Menjelang usia paruh baya nanti (yang mana bentar lagi, oh no!), gue nggak akan bisa lagi ngajar Zumba dengan semangat semeledak sekarang ini. Bisa copot dengkulku, kak. Maka jendela karir gue rada sempit.

Kedua, karena jenjang / tangga karir instruktur olahraga, tuh, nggak jelas. Harus kita susun sendiri. Setelah jadi instruktur, trus apa? Apakah mau jadi Mastertrainer? Mendalami sports science? Mengelola studio sendiri? Gitu ‘kan kira-kira.

Gue sendiri sempat merancang dan mencoba menaikkan level karir gue dalam dunia olahraga ini, tapi belum sukses. Walaupun jujur, dalam hati gue memang masih nyaman gini-gini aja—jadi instruktur dari kelas ke kelas. Oke, Laila, di 2020, genjot sedikit ambisimu!

Jadi di 2020, gue harus memprioritaskan hal-hal yang sekiranya bisa membuat gue jadi instruktur atau aktivis olahraga yang lebih baik. Mulai dari rajin mendalami hobi menariku, ikut aneka rupa kelas olahraga dengan aneka rupa instruktur, belajar mengelola kelas dengan lebih baik, sampai mungkin…. mungkin, yaaa…. belajar sports science. Glek. 

Podcasting

Kasian ya, Kejar Paket Pintar udah dua tahun usianya, tapi tetep aja nggak ada pendengar dan duitnya, hahaha. Malu sama Reza Chandika, yang baru aja setahun lalu dijadiin tamu KPP, eeeh… ujug-ujug dese bikin potkes sendiri, trus sekarang billboard Rapot x PhD udah ada dimana-mana. Melejit, kak! Jujur, rasa sirik itu ada! :D

Kejar Paket Pintar started out as a hobby, so initially, we never had the intention to capitalize it. Sampai sekarang, kita belum terlalu kepikiran ngeduitin KPP, tapi kami ingin ada pertumbuhan. Gue dan Dara pun sempat punya segudang rencana untuk Kejar Paket Pintar. Kami coba beberapa kali mengkalibrasi diri, merancang skema monetisasi, bikin proposal kerjasama ala-ala, dan banyak lainnya. Sulit ternyata. Gue dan Dara pun nggak selalu kompak seiya sekata dalam hal visi-misi, skala prioritas, apalagi jadwal. Belum lagi perihal teknis yang suliiiiiiit banget untuk dijalankan oleh two-man show begini.


Tapi ada dua pencapaian yang patut kami rayakan di 2019:

a. Kejar Paket Pintar masih ada dan nggak bubar, meski update episode-nya sekali sebulan.

b. Kami berhasil bikin tiga episode yang formatnya semi dokumenter!!! (boleh di cek di sini, sini, dan sini).

Ini adalah impian lama gue, setelah gue bosan setengah mati sama podcast berformat talkshow / diskusi berkualitas medioker. Alhamdulillah, tahun lalu kami berhasil mewujudkannya, meski dengan fasilitas dan pengalaman minim. They are a result of a teamwork between me and Dara, tapi gue mau apresiasi diri sendiri dikit leh yaaaa, karena 2/3 dari episode-episode tersebut gue kerjakan sendirian, berhubung waktu itu Dara business trips non-stop. Dia bisa, lho, sebulan di Eropa, trus lanjut sebulan di Sumatra. Kerangkeng, nih, ya si besneswomen.

Episode-episode tersebut jauh dari sempurna, tapi merupakan awal yang baik. Udah dengerin belom? Dengerin, dong. Faedah banget kok, janji.

Walaupun di tahun 2019 Kejar Paket Pintar masih jadi podcast nirlaba (tho not intentionally :D) dan nirpopularitas, gue pribadi pengen menjadikan hobi-hobian-tapi-serius ini sebagai prioritas, agar Kejar Paket Pintar punya pertumbuhan yang signifikan di 2020. DARA ARE YOU WITH ME?!

---

Happy New Year 2020! Let’s make it as awesome as Queen Beyonce, yang lagi belanja di Indomaret aja keren banget.

6 comments:

  1. you go girl... write a lot in independent publisher, saya juga pgn banget jadi novelis masih di taraf bikin buku di nulis buku hihi..

    ReplyDelete
  2. Duh ternyata mau usia berapapun anxiety mah tetap ada ya. Tapi aku setuju sekali lhoo tentang hobi yang dibikin serius dan sebagai prioritas. Tahun ini aku memprioritaskan blog banget dan meskipun nggak populer tapi tetep aja seneng kalo ada email/dm yang masuk bilang kalo postinganku relatable dengan mereka terus jadi saling curhat deh, kan gimana yaaa (':

    Pokoknya 2020 kita-kita harus makin keren cem Mbak Beyonce yaaa!

    ReplyDelete
  3. Aku sekarang juga udah kepala 3 dan mengalami kekhawatiran yang sama dengan kamu. Aku punya prestasi di bidang A, tapi bidang itu ternyata kurang menghasilkan, prospeknya kurang bagus. Terus di bidang yang aku suka, yaitu tulis menulis, aku belum punya prestasi apa-apa. Sementara temen-temen seumur aku udah pada punya perusahaan atau gendong anak. Jiahhh.

    Anyway, salam kenal ya. Kalau ada waktu, silakan mampir ke blog saya juga.

    ReplyDelete
  4. Huaaa, senangnyaaa akhirnya mba laila nulis lagiiii!!

    ReplyDelete
  5. Laila, this was my everyday anxiety for 7 years hahahahaha.... Aku tuh hidup dengan bucket lists dalam segala sisi hidup bertahun-tahun, ticked almost every box (they are very modest goals, maybe even mediocre so I happened to tick them all!) and yet I felt so empty even after I ticked all those boxes. So, menurutku (and this is sotoy as fuck) yang penting bukan berprestasi atau membuktikan diri tapi menemukan something meaningful yang membuat kita happy dan lebih bagus lagi kalau bikin dunia juga happy. For me, it is volunteering. Ngajar anak-anak di perbatasan. Menggalang dana buat mereka. Tiap hari mikirin apa yang bisa dilakukan untuk mengubah hidup mereka lebih baik. Memberi kesempatan anak-anak gak mampu untuk sekolah lebih tinggi. Satu demi satu rupiah, satu demi satu anak. Maybe we won't get recognised like Butet Manurung, but who cares (I don't). We make a change however small and that what matters to me right now. Ofkors aku juga masih galau selalu dengan hidupku yang gak ada prestasinya ini bahahaha, tapi mengalihkan energiku buat orang lain bikin hati lebih damai sih. Biar gak liat Nadim Makarim atau Maudy Ayunda terus. Ahahaha.

    ReplyDelete
  6. Mbak Laila, aku pun ngerasain hal yang sama. Tapi setelah baca tulisan ini aku merasa kalau pencapaian dirimu kelihatan banget koook. Terutama di bidang gerak tubuh. Aku jadi cari blog post-ku tentang Mbak Laila yang baru mulai belajar nari di tahun 2015 dengan hashtag #dansayoLaila hahaha. Inget gaak? Dan aku ngeliat banget perubahan dari fisik sampai gerakannya tuh udah luwes banget. Aku jadi menyesal kenapa dari tahun 2015 cuma seneng liatnya doang, kenapa gak ikutan olahraga juga. Pasti sekarang aku sudah punya abs di peruttt huhuhu.

    Jadi aku ambil kesimpulan bahawa perubahan itu ada, hanya saja kita belum anggapnya pencapaian aja. *Sambil deg2an mikir gue udah mencapai apa yaak? hehehehe.

    Tetap semangattt :)

    ReplyDelete