Jun 10, 2018

Hal-hal Yang Pasti Terjadi Kalau Punya Cah Lanang Gondrong

DSCF1140

Kadang gue bertanya: apakah gue sebenarnya punya jiwa aktivis persamaan gender?

Lho, kok pertanyaannya tau-tau berat? Soalnya, gue selalu suka dengan hal-hal yang berbau unisex atau gender neutral. Entah kenapa, hal-hal gender neutral punya pesona buat gue, sehingga gue terapkan ke anak sendiri. Nama anak gue aja Raya, yang bisa juga jadi nama anak perempuan. Gue pun lebih suka kalau Raya pakai baju yang gender neutral. Misalnya, kaos polos atau bermotif klasik seperti stripes atau polkadot, bukan kaos bergambar robot segede gaban, seperti harus banget membuktikan kelaki-lakiannya.

Termasuk soal rambut.

Sejak bayi, gue selalu berusaha mengondrongkan rambut Raya. Alasan pertama, sih, sejujurnya karena waktu bayi, rambut Raya tipis banget. Jadi gue merasa rambut dese akan kelihatan agak tebal kalau digondrongin (padahal nggak terlalu ngaruh, deh, eboook. Percayalah, kalau rambut tipis digondrongin, kulit kepala yang tampak takkan berbohong).

DSCF1013

Alasan kedua, karena gender-neutral-ness itu tadi. Gue merasa ada subtle coolness kalo rambut anak laki gue gondrong. Plus, sejujurnya—dan hal ini sudah disetujui oleh keluarga inti gue—Raya lebih lucu gondrong dibandingkan cepak, karena tekstur rambutnya ikal menuju keriting. Pokoknya lucu banget, deh, anak guwe! (mulaaai… ibu subjektif…)

Kegondrongan Raya sebenarnya on-off. Dia mulai gondrong ketika berumur 2-3 tahun (sampai bisa dikuncir), sempat cepak di umur 3-4 tahun, dan sekarang mulai gondrong lagi.

Dari pengalaman gue, berikut adalah empat hal yang selalu terjadi kalau punya cah lanang berambut gonjes:
1. Disangka anak perempuan. Ini sudah pasti, terutama kalau anaknya masih batita, karena muka bocah batita umumnya masih nyaru antara cewek atau cowok. Dulu, Raya sering banget dikira anak perempuan. Ketika Raya berusia tiga tahun, kami pergi ke Copenhagen. Setelah check-in di Airbnb, kami ngobrol dengan si pemilik apartemen yang selalu me-refer Raya dengan pronoun she’. Berhubung mental Endonesia ini kagak enakan, gue diam aja nggak mengkoreksi. Tetapi begitu si pemilik apartemen bilang, “Your daughter will love Copenhagen!” Ebok dan Papa harus angkat suara, “He’s a actually a boy…” Dese pun terkezut, lalu komen sembari nggak enak, “Ya ampun, anak lo tampilannya hipster banget!” Mmmm… thank you, I guess?


2. Para tetua pada protes halus. Ini juga pasti. Kecuali kalau para kakek-nenek atau om-tantenya berpandangan liberal, ya. Keluarga besar gue dan T, sih, kebetulan konservatif semua, sehingga setiap ketemu Raya, mereka akan komentar, “Ngg… Ini mau digondrongin, nih?” dengan tatapan kurang setuju.

Gue selalu kepengen Raya punya rambut yang betul-betul gondrong sebahu atau seleher bawah, seperti Jett dan Ozma-nya Mbak Regina Kencana idolaku, atau si kembar Max dan Dex anaknya Lizzie, tapi sampai sekarang hal ini belum kesampaian karena protes-protes para tetua tersebut. At some point, rambut Raya selalu harus di-trim kabeh, jadi belum pernah gondrong-gondrong amat.

DSCF1116

3. Styling his hair is a pain in the ass. Mentang-mentang anak laki, bukan berarti rambut cah lanang bisa dipanjangkan begitu saja tanpa dipikirkan styling-nya, lho. Salah styling, Raya jadi bisa kelihatan cupu. Gue pernah bawa Raya ke salon, dan gue minta rambutnya di-trim, tanpa membuatnya jadi cepak. Pokoknya harus tetap gondrong. Hasilnya? Rambut Raya dipotong model bob, trus di-BLOWEUS, MAK. Keriting berantakannya hilang, dan sepanjang hari, rambutnya tampil manis seperti rambut anak perempuan di buku-buku Enid Blyton. TIDAAAAK :)))

Juga ketika Raya kegerahan, gue kadang bingung rambutnya musti diapain. Dikuncir? Dijepit pakai jepit klip gue? Gimana kalau nanti tambah gondrong? Digelung?! Dikepang?! Nanti anakku jadi ayu?

DSCF1126

4. Rambutnya cepat lepek. Ini juga satu hal yang pasti banget. Tinggal di negara tropis, rambut dan kulit kepala siapapun akan cepat keringetan dan lepek. Apalagi rambut dan kulit kepala bocah laki seperti Raya, yang lagi aktif-aktifnya main dan berkegiatan fisik di luar ruangan.

Tahun lalu, gue berkenalan dengan Zwitsal Kids Active Shampoo tanpa sengaja. Ceritanya gue lagi packing buru-buru untuk pergi ke Bali sekeluarga. Ternyata toiletries Raya habis, sehingga gue terpaksa ngembat Zwitsal Kids Active Shampoo punya ponakan gue yang kebetulan lagi ada di rumah, hahaha. Maap, yak.

Foto 2 Blog Approved

Eh, ternyata samponya cucok untuk Raya. Rambut ikal semi gondrongnya jadi halus, nggak keset bin kusut berkat kandung pro-vitamin b5nya. Trus, yang paling menyenangkan, rambut Raya juga jadi nggak gampang lepek dan bau. Belakangan gue baru tahu Zwitsal Active Kids Shampoo mengandung formula anti bau matahari. Wangi melonnya pun lebih kuat dan lebih tahan lama, nggak hanya samar-samar. Walaupun Zwitsal adalah produk klasik yang identik dengan bayi, formula produk untuk “anak gede”-nya tentu disesuaikan, termasuk formula yang lebih efektif untuk menangkal kelepekan dan keaceman bau matahari.

Lucunya, keponakan gue justru suka dengan sampo ini karena kemasan Boboiboy-nya. Raya sendiri nggak ngikutin Boboiboy, tapi yang penting dia cocok dengan samponya. Ibu pun syenang, karena program menggondrongkan rambut anak jadi lebih lancar.

Kibarkanlah rambutmu, anakkuh!

DSCF1238b

2 comments:

  1. Etapi mbak Lei, sebenarnya gondrong=unisex itu nggak juga loh, soalnya di dunia orang dewasa, yang gondrong dan tatoan itu malah dianggap lebih laki ya gak sih. Makanya para rocker itu pada gondrong-gondrong yekan (pemahaman gender yang cetek I know hahaha).
    Dan kalau mbak Lei beneran aktivis gender ya kagak apa lah anak lakik dikepang, kan syapa tau jadi tren hipster baru setelah man bun. Man braid, that is (lalu inget film cina bersetting dinasti ming dan jet li dengan kepang berkibar).

    ReplyDelete
  2. mbak seperti suami aq nih, anaknya pengen banget di gondrongin tapi selalu gagal karena sama nenek-kakeknya selalu berhasil di bawa ke salon untuk di potong rambutnya, padahal anaknya selalu diajarin untuk nolak di bawa kesalon sama nenek-kakeknya... kalo aq sih suka-suka aja anak lanang di gondrongin atau di cepak..

    ReplyDelete