Feb 22, 2018

Kadang Pencerahan Besar Datang Dari Kemasan Kecil

DSCF4546

Sekitar dua minggu lalu, gue baca sebuah esai di MenRepeller yang ditulis oleh seorang perempuan yang mengalami kecelakaan kepleset di kamar mandi sehingga melumpuhkan kakinya. Per esai itu dimuat, dia sudah sembilan tahun lumpuh, dan esainya bercerita tentang perjalanannya untuk bangkit, kembali hidup “normal” dan produktif meski dengan disabilitas.

Dan ini satu paragraf dalam cerita dia:

I once volunteered at a junior wheelchair sports camp with a bunch of different groups, and a little girl came up to me and asked, “What is the nature of your disability?” She was so gracious. I told her that I have a spinal cord injury.

She looked at me and went, “Oh my gosh, that’s amazing!”

No one had ever said that to me. Normally they say, “I’m SO SORRY.” But she thought it was amazing. I was so confused, and then she said, “So that means you got to dance?”

I almost cried on the spot. She wasn’t jealous. She was just happy for me, and she thought it was magical that I had danced with my legs before, even though I couldn’t anymore.

Si anak kecil nggak merasa kasihan, tuh, terhadap si penulis karena si penulis nggak bisa menari lagi. Si anak kecil malah senang karena si penulis pernah merasakan bisa menari, berhubung si penulis “cuma” lumpuh sembilan tahun terakhir, nggak seumur hidupnya. Ya olooo, cirambaaay... Ini anak kecil apa malaikat pemberi wahyu, sih? 

Gue juga sempat browsing sebuah buku (baca: numpang baca gratisan di toko buku) non-fiksi. Gue lupa bukunya apaan, tapi gue ingat, di dalamnya ada sepenggal percakapan antara seorang ibu dan anaknya yang berumur 4 tahun. Pekerjaan si ibu adalah art teacher for adults, dan convo-nya kurang lebih gini:

Anak: “Bu, pekerjaan ibu apa?”
Ibu: “Art teacher.”
Anak: “Ngapain itu?”
Ibu: “Well, salah satunya adalah ngajarin orang-orang menggambar.”
Anak: “You mean they forget how?!

Bagi si anak, menggambar—atau membuat apapun untuk mengekspresikan diri—adalah hal yang senatural bernapas. Everyone does it instinctively, dan nggak ada yang namanya benar/salah, bagus/jelek di dalamnya. Jadi ngapain harus diajarin lagi? Awww.

Cerita terakhir datang dari anak gue sendiri.

Pada suatu hari, di jalan menuju pulang dari sekolahnya, Raya menemukan sebuah spanduk penyambutan pulang Rizieq Shihab (yang akhirnya nggak jadi pulang ke Indonesia itu). Spanduk itu tentunya memajang foto Rizieq Shihab sedang berorasi dengan berapi-api.

Kebetulan Raya lagi dalam fase suka sama dinosaurus, dan gue menjelaskan bahwa bahan bakar di bumi utamanya datang dari fosil dinosaurus, tapi sekarang persediannya sudah tipis banget. Makanya kita nggak boleh boros fossil fuel, dan harus mulai cari bahan bakar lain yang sustainable.

Ngeliat spanduk itu, Raya komentar,

“Kenapa orang itu marah-marah, Bu? Dia lagi ngingetin kita, ya?”
“Ngingetin apa?”
“Ngingetin orang-orang supaya jangan banyak-banyak pake bensin dinosaurus?”

Ahahaha, gue antara mau ngakak dan miris. Don't you wish Rizieq IS being passionate about environmental issues, instead of whatever he's into now?

 ***

Kita semua pernah jadi anak-anak, dan kita semua pasti pernah punya innocence sejenis anak-anak di atas. I wonder when exactly did we lost them?

7 comments:

  1. Matanya Raya itu matanya laila banget yak :D *komengapenting
    berarti Raya care bgt sama enviromental issues yaa, dan mengira semua orang sama seperti dirinya, so sweet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin... :) polosnya itu lho yg manatahan :D

      Delete
  2. Sebenernya tergantung persepsi yg denger ya. Kalo yg ngomong anak kecil emang biasa org yg denger lebih netral dan berpikir positif. Coba itu org gede. Bisa lain ceritanya kalo abis diceritain gimana lumpuh trus di komentar in that's amazing. Langsung ditabok mungkin hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. 'kan ada keterangan "'So that means you got to dance?'"-nya koh :)

      Delete
  3. I've been thinking about growing old lately; it saddened me knowing that I too, can grow old *duileh*, but this post somehow lights me up for some strange reasons :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow thank youu... may I know why it lights you up, tho? :)

      Delete
    2. Knowing that I've lived my early adulthood pretty well. Some, they didn't get the chance (lost some friends to CA early this year), we're not in in our 40s and still at our peak of a productive life. So instead of worrying about how OLD I'm right now, I'd better cheers all those years, knowing that I survived--not all happy and glam, but yeah, survived :) *lah jadi panjang*

      Delete