Oct 3, 2017

Insecurity Issue: Jerawat


Kecuali elo sesempurna Amal Clooney, semua orang pasti punya sumber krisis pedenya masing-masing. Sumber krisis pede terbesar gue sendiri ada dua, dan hari ini gue akan membahas soal salah satunya: jerawat!

Pertarungan gue dengan kulit sebenarnya sudah dimulai sejak gue kecil.

Ketika gue kelas 2-3 SD, gue kena eksim yang semakin lama semakin parah. Ruam-ruam merah dan gatal muncul di semua lipatan badan gue, sampai ke kulit kepala, telinga, bahkan akhirnya wajah. Ruam-ruam eksim itu awalnya kering, tapi kalau digaruk jadi basah, trus berdarah. Hiiii.

Nyokap memboyong gue ke delapan dokter kulit di Jakarta, dan nggak ada yang sukses menyembuhkan eksim gue secara jangka panjang. Sampai akhirnya gue dibawa ke seorang dokter kulit di Singapura, baru, deh, eksimnya betul-betul bisa dikontrol. Inces sedari kecil banget, yaaa, dokternya harus di Singapura.

Selain eksim, ketika SMP, gue juga mulai jerawatan. Nah, ini dia, nih, hantunya.

Berbeda dengan eksim gue yang akhirnya sembuh total pas gue SMA, jerawat gue bertahan terus sampai sekarang, dua puluh tahun sejak gue pertama kali jerawatan. Dua puluh tahun! Begitu jerit ibunda Kiki Fatmala.

Jerawat yang hadir di muka gue ada berbagai macam, mulai dari blackhead, whitehead, pustule, papule, sampai cystic acne segeda gaban. Semuanya nyebelin, semuanya awet, semuanya bikin sakit jiwa raga.

Gue tentunya gemes, tapi nyokap ternyata lebih gemes lagi. Maka pas gue kelas 3 SMP, beliau membawa gue ke dokter Rudy.

Bagi orang-orang jerawatan “angkatan lama”, mungkin kenal sama dokter Rudy di RS Medistra. Kalau nggak salah, namanya Rudy Suhendra? Setahu gue, beliau adalah (salah satu) spesialis kulit pertama yang mengobati jerawat dengan krim chemical peeling dan ekstraksi sadis. Dulu dokter Rudy beken banget karena metodenya dianggap ampuh, tapi juga sinonim dengan kekejaman pada kulit.

Jaman dulu, ilmu tentang chemical peeling dan ekstraksi pastinya belum sebagus sekarang. Jadi bisa ditebak, kulit gue babak belur karena efek kerja krim peeling yang keras, dan ekstraksi-ekstraksi keji yang membuat muka gue berdarah-darah.

Maka dari dulu banget, sudah tertanam di benak gue bahwa beauty IS pain. Telen aja, beb!

Apakah dokter Rudy sukses membuat wajah gue berhenti jerawatan? Nggak juga. Zzzz. Pertumbuhan jerawat aktif gue sempat tertahan, tapi sama seperti dokter-dokter kulit lain yang pernah mampir dalam hidup gue, dokter Rudy hanyalah solusi sementara.

But life goes on, shay! Mau nggak mau, gue harus menjalani hidup—termasuk melewati masa remaja—bersama sohib-sohibku, para jerawat. Berbagai solusi ditempuh, tapi hormon sialan gue membuat gue nggak pernah bisa sepenuhnya lepas dari jerawat. Semakin tambah umur, elastisitas kulit gue juga semakin berkurang, sehingga acne scars dan bopeng juga semakin banyak.

Apalagi, pas SMA, nyokap memperkenalkan gue kepada kesalahan terbesar yang pernah gue lakukan terhadap kulit gue (wow, dramatis), yaitu ekstraksi rumahan. Duh, apakah itu?

Jadi, pas gue SMA, nyokap memutuskan untuk meng-ekstraksi kulit gue sendiri. Mungkin karena tahun segitu salon facial yang mumpuni nggak sebanyak sekarang. Atau mungkin dese pelit aja kalau gue kudu facial sering-sering. Namun di saat yang bersamaan, nyokap gemes melihat komedo gue yang bertumpuk.

Alhasil, beliau nekat jadi terapis ala-ala. Dengan alat ekstraktor khusus dan jarum pentul yang di-”sterilkan” dengan alkohol atau dibakar pakai api (!!!), kulit muka gue pun diobrak-abrik.

Apakah nyokap seorang terapis beneran? Tentu tidak. Pernah belajar soal kulit atau facial? Boro-boro. Punya pengalaman otodidak mengekstraksi jerawat dan komedo? Apalagi. Modalnya apa, dong? Ya, cuma kegemesan dan ke-otoy-annya sendiri.

Bisa ditebak, estraksi rumahan begitu bikin kondisi kulit wajah gue semakin parah. Selain karena teknik ekstraksinya suka-suka nyokap, juga karena dia nggak menerapkan after care setelah kulit wajah gue dikoyak-koyak.

Ngeri nggak, tuh? Ngeri banget. Yang lebih ngeri lagi, sih, kok gue mau-maunya aja dibegituin? Rutin, pula! Nggak heran kalau facial KW nyokap ini malah sering membentuk jerawat baru.

Sementara itu, kunjungan gue ke berbagai dokter kulit jalan terus, sehingga dari waktu ke waktu, gue selalu kembali lagi ke krim chemical peeling. Di periode SMA ini pun, gue mulai berkenalan dengan suntik steroid, laser, dan pil Roaccutane yang kontroversial.

Struggle ini terus berlanjut sampai sekarang, belasan tahun kemudian. Nggak pernah, deh, gue bisa betul-betul mulus dan bebas dari jerawat jenis apapun dalam jangka waktu lama. Paling banter tiga bulan. Maka pada akhirnya, gue berusaha menerima bahwa noda-noda di wajah yang nggak akan hilang meski muka gue dicelup Bayclin ini adalah bagian dari diri gue. I kinda have no choice, I guess?

Januari-Juli 2016

Dara dari Female Daily pernah menulis tentang life lessons yang dia dapatkan sebagai orang yang berjerawat, and the points are all so true. Karena nggak mau kalah, inilah versi gue.

So what has living with acnes made me become?

1. Membuat gue lebih jaga mulut

Hampir semua orang berjerawat yang pernah gue ajak ngobrol—atau baca kisahnya—menyatakan hal yang sama: momen paling menyakitkan bagi mereka adalah ketika dikomentari.

Komentar yang mampir ke telinga umat berjerawat bisa beragam. Ada yang tanpa tedeng aling-aling (“Kok jerawatan gitu sih, lo?”), ada yang nggak sensitif, (“Diobatin dong, jerawatnya.” Eh, mz/mba, usaha ngobatinnya udah sampai ke ujung dunia, lho!), ada yang sok solutif padahal nggak (“Makanya jangan terlalu stress, deh...”).

Walaupun yang komen-komen begitu umumnya adalah para manusia beruntung yang nggak jerawatan, komen-komen nyebelin nggak hanya datang dari cangkem teman, lho. Komentator tersadis dalam hidup gue justru nyokap gue sendiri.

Nyokap gue selalu senewen berat kalau sesuatu nggak berjalan sesuai harapannya. Tragisnya, gue adalah salah satu hal dalam hidup beliau yang nggak sesuai harapannya, berhubung kulit gue—anak perempuan sulungnya—nggak mulus. “Gimana mau dapat suami?” begitu katanya dulu (what the…)

Semasa remaja, gue kadang malas-malasan merawat wajah. Wajar, dong. Capek, bosqueee. Maka di benak nyokap, dia harus memecut gue dengan kalimat-kalimat sadis, supaya gue terpicu. Misalnya, “Mamah, tuh, geli banget liat muka kamu. Kadang Mamah ngayal bisa ngelupas seluruh kulit wajah kamu.” BUSET, MAH. Trus, kalau gue lagi diskusi serius sama do’i, matanya malah akan jelalatan mengamati wajah gue, bukan memperhatikan omongan gue. Dan ketika gue konfirmasi, “Mamah lagi ngeliatin jerawat aku, ya?” Dijawabnya, “Iya.”

Hatiqu terluqa!

All joking aside, sampai sekarang, beberapa kalimat nyokap masih terngiang di kepala gue, dan masih bikin sakit hati kalau diingat-ingat.

Nah, karena kami tahu betul rasanya sakit hati karena komentar-komentar terhadap fisik, umat berjerawat biasanya sangat jaga mulut dan hati-hati kalau mau berkomentar tentang (fisik) orang lain.

Gue pribadi melatih diri untuk betul-betul tutup mata terhadap fisik seseorang, dan langsyung aja menilik sikap dan wawasannya. Subhaaa? Nallaaah…

2. Membuat gue susah menerima pujian

Apa sih yang lebih gawat dari acne scar? Confidence scar, alias krisis percaya diri.

Pada dasarnya, gue adalah orang yang anxious berat, alias gampang cemas. Ditambah hidup puluhan tahun bersama jerawat, ya kelar, deh. Rasa percaya diri gue jadi serapuh sepatu kaca Cinderella dan nggak bisa diperbaiki dengan Rexona sebanyak apapun.

I cannot see past myself, but as a spotty girl. Setiap kali gue ngaca, yang gue lihat hanyalah jerawat-jerawat gue, bekas-bekasnya, dan betapa buruknya semua itu. Gue nggak bisa melihat bahwa gue sebenarnya lucu (ih, ngaku-ngaku), lumayan pinter (ih, ngaku-ngaku), dan pernah dibilang mirip Claire Danes (wow, halu).

Akibatnya—seperti yang pernah gue ucapkan di sini—gue kurang suka kalau gue dipuji fisik. Dulu gue sering merasa, kalau gue dipuji “cantik”, orang yang memuji gue ada maunya, agak rabun, atau sedang mengasihani gue.

Compliments make me anxious and overthink
. Sebagai contoh, kalau gue lagi pakai make-up, trus gebetan gue bilang bahwa gue cantik, maka dengan senewennya gue akan mikir, “Apakah gue dipuji karena gue lagi dandan? Apa jadinya kalau dia lihat gue tanpa make-up nanti?”

Maybe I have acne dysmorphia? Gejalanya, sih, ada semua.

Tapi belakangan ini, gue berusaha menerima bahwa gue nggak jelek-jelek amat. Dan kalau kata T, “Nggak usah GR dan self-centered, deh. Orang punya masalah hidupnya masing-masing, dan mereka terlalu sibuk untuk merhatiin jerawat kamu.”

SADIS TAPI BETUL. Thank you, suami mulut cabeku.



3. Membuat gue nggak suka cermin dan cahaya terang

Punya kulit yang nggak paripurna jelas bikin gue males memandang wajah gue sendiri, alias ngaca. Setiap ngaca, tuh, rasanya kepercayaan diri mblesek. Sampai detik ini, gue nggak suka ngaca, apalagi di bawah harsh lighting alias pencahayaan yang “keras”—seperti misalnya cahaya lampu neon—karena pencahayaan tersebut jadi meng-highlight setiap lekukan, bruntusan, dan noda kulit gue.

Tetapi ketidakpercayaan diri gue ternyata cukup mengakar, sehingga selain ngaca, gue juga nggak suka dengan cahaya terang. Kenapa? Karena orang-orang jadi bisa liat komuk gue dengan jelas, dong!

Maka jaman pacaran, gue lebih suka pergi malam dan pergi ke tempat dengan pencahayaan minim (ini krisis pede atau niat mesum, sih?). Dan kalau perempuan lain mungkin seneng ditemani pacarnya ke department store—yang bermandikan lampu neon—gue mah ogah.

Ketidaksukaan gue terhadap cahaya terang ini kemudian merembet jauh. Sampai sekarang, gue nggak suka cahaya terang di situasi apapun. Misalnya, tiap pagi, T paling rajin buka semua jendela lebar-lebar, sehingga cahaya matahari langsung memenuhi kamar. Bagus, dong? Iya. Tapi ternyata gue terganggu dan sering protes, minta jendelanya ditutup sedikit.

Sebegitu nggak nyamannya gue dengan cahaya terang, ya, padahal gue sudah nggak dalam posisi untuk malu kepada T, orang yang pernah melihat gue melahirkan, dan sering pup depan gue dengan santainya! Duileee.

Some insecurity last a long time, I guess? Atau mungkin gue memang punya acne dysmorphia?

4. Membuat gue lebih berani

Gue ngerti, mengeluh panjang-lebar soal jerawat adalah kelakuan privileged brat. Kenapa, sih, harus ngeluh sampai 2,000 kata begini? Seenggaknya lo masih sehat walafiat, La. Kalau mau ngeluh soal wajah, ingat-ingat Novel Baswedan, deh.

Paham banget. Meskipun begitu, nggak bisa disangkal juga bahwa jerawatan itu nggak enak. I mean, c’mon. Literally the first thing people see on you is your face. Bukan kaki, apalagi kepribadian dan inner beauty. Jadi punya “cacat” di muka, tuh, bisa menghantam rasa percaya diri.

Alhasil, harus hidup dengan jerawat, tuh, menempa keberanian juga, lho. Gue harus bisa melawan malu dan rasa kepengen ngumpet di depan umum.

Dengan kecanggihan make-up jaman sekarang, jerawat memang bisa disamarkan. Masalahnya, gue sering capek dan bosen harus nge-prep muka sebelum keluar ke muka publik. Jadi kadang jerawat-jerawatnya gue diemin aja. Kubiarkan mereka apa adanya, tanpa kututupi. Go! Go see the world, my zits!

Tahun lalu, jerawat gue meradang parah selama setengah tahun. Radang tersebut mencapai puncaknya pas Lebaran. Padahal Lebaran pasti jadi ajang tampil dan kumpul-kumpul, ‘kan? Tapi karena saking muaknya, gue nyerah dan nggak dandan pakai base make-up (foundation, concealer, dsb) setitikpun. Mama mertua gue sampai gemes dan akhirnya pecah komen, “Jerawatnya nggak mau ditutup dikit?” NGGAK MAMA, MAKASIH, YA.

Maka dengan kondisi jerawatan parah, gue menghadapi acara silaturahmi seharian. Dalam seumur hidup gue yang cemen ini, saat itu gue merasa pemberani banget. Serasa William Wallace mau terjun ke medan perang di Braveheart. Allahuakbar!

Kalau kita berjerawat, dandan menjadi suatu beban kewajiban untuk menutupi kondisi kulit. Karena kalau nggak dandan, kita takut akan memberi impresi negatif ke publik, atau di-judge “Nggak pernah cuci muka, ya?”

Padahal menurut gue, hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip utama dandan. Memakai make-up seharusnya adalah sebuah pilihan. Kalau kita lagi kepengen, silahkan. Kalau nggak, ya nggak apa-apa, dan seharusnya kita hepi-hepi aja.

Dandan seharusnya menjadi kegiatan yang menggembirakan. Make-up is fun, when it is a choice, not a chore. Namun untuk orang yang berjerawat, make-up menjadi sebuah kewajiban, dan bagi gue, hal ini melelahkan jiwa raga.

Jadi secara berkala, walaupun lagi jerawatan parah, gue nggak mau dandan sama sekali kalau keluar rumah, dan hal ini tentunya menempa keberanian.



5. Membuat gue lebih sabar

Jerawat itu sadis. Dia nggak peduli, usaha seperti apa yang lo lakukan, berapa uang yang lo keluarkan, acara atau orang penting apa yang lo harus hadapi. Pokoknya, kalau dia mau datang menyerang, ya dia akan datang.

Contohnya, nih.

As mentioned, tahun lalu, gue mengalami cystic acne breakout parah selama setengah tahun. Segala daya dan upaya telah gue kerahkan untuk menaklukkan breakout tersebut. Nggak ada metode yang nggak gue coba, tapi gagal semua. Sebelum nekat mengamplas muka sendiri, akhirnya jerawatnya gue diemin aja, deh. Eh, trus malah berangsur-angsur sembuh sendiri! Ngerjain banget, deh. Yo weis, sakarepnya.

Cerita kedua terjadi menjelang gue nikah. Waktu itu gue nggak breakout, sih. Tapi namanya juga calon manten, ya. Pas hari-H, pengennya semulus mungkin, dong. Maka nyokap, dengan segala kegemesannya, membawa gue ke seorang dermatologis di Singapura yang punya moto, “I can make your skin as smooth as a baby’s butt!” Okedeeeh, kusuka kepercayaan dirimu, dok!

Dermatologis ini pernah merawat kulit wajah beberapa sepupu gue yang mau manten, dan sakseys. Nyokap ngiler, dong.

Ternyata, bukannya mulus, perawatan dokter tersebut malah bikin gue breakout parah! Nggak cocok, siiis. Gile lu Ndro, udah jauh-jauh ke Singapura juga. Mahalnya juga jangan tanya. Untungnya, perawatannya bukan pake duit gue. Sialnya, datang ke dermatologis ini ‘kan bukan kemauan gue juga.

Akhirnya gue musti ke dermatologis lagi di Jakarta, membenahi breakout yang terlanjur terjadi. Hiks. Sabar ya, La (iyeeee…)

6. Membuat gue nggak terjebak dalam narsisisme fisik

Hidup seseorang yang berjerawat biasanya, kurang lebih, didikte oleh jerawatnya.

Sebagai contoh, gestur tubuh gue bisa didikte jerawat, lho.

Misalnya, kalau gue lagi jerawatan di pipi sebelah kanan, maka gestur tubuh gue otomatis mengutamakan sisi kiri wajah. Kalau difoto, maunya yang sebelah kiri aja. Kalau duduk di mobil bareng teman/pacar, maunya duduk di sebelah kanan, supaya dia duduk di sisi kiri gue aja. Posisi badan gue pun jadi agak bungkuk, dan wajah cenderung nunduk.

Hari-hari gue pun ikut didikte oleh jerawat. Bagi orang berjerawat, hari yang indah adalah ketika di hari tersebut, nggak ada jerawat baru muncul. Sebaliknya, hari yang buruk adalah ketika ada jerawat baru nongol, padahal jerawat-jerawat yang “sebelumnya” masih dalam proses pengobatan.

Lelah nggak, hayati? Banget. Ada banyak hal lain di dunia yang lebih perlu energi dan perhatian gue, tapi, lagi-lagi, masalahnya the first thing people see on you is your face. Gimana jerawat nggak jadi kepikiran?

Maka di saat gue berjerawat, gue biasanya fokus kepada hal-hal lain di luar fisik manusia. Gue akan menghindari Instagram dan rakyatnya yang kece sempurna semua. Gue akan membabibuta baca-baca berita, soal kemanusiaan, soal penemuan-penemuan ilmiah… APAPUN kecuali soal hal-hal fisik.

Kemudian gue akan melakukan self pep-talk bahwa kepribadian gue jauh lebih penting daripada fisik, dan identitas gue nggak didefinisikan oleh komuk doang. Daripada mikirin jerawat dan kelamaan pity party, lebih baik gue mikirin apa yang gue bisa pelajari dan lakukan hari ini.

Berhasil? Kadang iya, kadang nggak. Tapi seenggaknya, karena wajah gue nggak sempurna, gue jadi selalu “diingatkan” bahwa ada banyak hal lain di luar urusan narsisisme fisik.

IMG_7492
Kondisi kulit terbaiq, Maret 2015. Tetap ada bantuan make-up? Tetaaap. 
Tetap ada bantuan manipulasi editing foto? Tetaaap.

***

Sebenarnya, gue sangat menerima konsep “embrace yourself 100%”. Seperti kata Lady Gaga, “I’m beautiful in my way / ‘cause God makes no mistakes / I’m on the right track, baby / I was born this way.

Setuju, Mbak Gaga. Makanya, gue bisa menerima badan gue yang pendek-bantet, dada gue yang sudah melorot sampai perut (terimakasih, menyusui!), dan kulit mata gue yang super keriput, akibat hobi ngakak dan ngucek mata.

Sayangnya, jerawat dan kulit jelek susah sekali gue terima, karena gue merasa jerawat itu seperti penyakit—seharusnya bisa dihindari, seharusnya bisa diobati. It is not something I am born and die with. Apalagi kalau jerawat sampai meninggalkan bekas atau bopeng. Berarti ‘kan gue yang nggak bener menanganinya? Maka ada perasaan, “Ini salah lo, La.”

Memang bisa diperdebatkan, sih, bahwa orang yang jerawatan sepanjang hidupnya punya hormon tertentu yang membuat kulitnya acne-prone. So in other words, I was also born this way. 

But for the longest time, gue susah menerima hormon dan kondisi kulit gue.

Sekarang ini, gue berusaha jadi lebih bijak. Seperti yang udah gue sebutkan, ngeluh panjang lebar tentang jerawat emang kelakukan privileged brat banget, alias MANJA. Jerawatan memang nggak enak, terutama karena gue hidup di era media sosial dan self-comparison yang tajam. Tapi ya udah, deh, La. Please see the bigger picture! Dan bersyukurlah. Nggak ada yang nyerang muka lo pake air keras ‘kan? *emosi sama diri sendiri*

Thanks to my hormone, there’s a chance I will still be living with acne until I’m 40-50 years old. Jadi kalau takdir gue memang harus kenceng merawat kulit terus-terusan, nikmatin aaa…? Jaaa.

Selain itu, gue rasa Tuhan harus adil. I guess I’m a pretty awesome person (huek). Bisa ngelawak, bisa joget hobah, nggak bego-bego amat, pinter tektokan tebak-tebakan Lupus, pernah dibilang mirip Claire Danes (diulang lagi, ya), Najwa Shihab, Salma Hayek (halu banget, but I swear to God someone claimed this), Christina Ricci, sampai Nikka Costa kecil (?). 

Kalau kulit gue bak pualam tanpa pori-pori, gue bakal sempurna banget, sehingga terjadi ketidakadilan di kaum wanita, hahaha. Seperti Reza Rahardian, yang bisa di-cast jadi tong sampah sampai tiang listrik, berkat keparipurnaan ektingnya. 'Kan jadi nggak adil buat PARFI? ((PARFI)).

To my adult acne prone sisters: we got this, don't worry.

28 comments:

  1. Walaupun kondisi mukaku udah membaik, tapi aku juga masih takut liat kaca di depan umum. Apalagi kalo ga pake makeup. Memang rasa insecure yang disebutkan di atas tuh pasti dirasain banget sama yang struggling ama acne.

    Tapi ya... Mungkin kalo pembaca blog ini ketemu Mbak Laila, kayaknya gak bakalan perhatiin jerawat deh. Seperti yang disebutin di atas, Mbak Laila punya charm yang lain, yang bikin orang ga peduli lagi sama yang namanya jerawat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komennya manis banget, sih, ya ampuun. Lia, aku doain masuk surga, lho!

      Delete
  2. Mbak lei. Ih akupun. Sampai skrg gak pernah bebas bas bas dari jerawat.. walau udah membaik dari beberapa tahun belakangan. Dan membaiknya ketika beneran brenti dokter kulit.. trus skin care yang dipake minimalis. Mungkin tiap orang beda2 ya caranya. Walau demikian yaaa.. gak pernah bersih sih muka. Jadi yaaa terima aja. Kadang maleees bgt pake skin care routine toh kayaknya gak bikin membaik ya.. sama make up. Aku jarang pake make up kecuali pensil alis sama lipen aja. Tapi justru jarang make up gtu malah bikin kulit membaik. Trus abis itu pingin make up lagi. Trus abis itu jerawatan lg. Curhatnya jadi panjang beneeeer...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Tapi kalau punya kulit bagus, 'kan nggak perlu base makeup. Sirik banget deh sama orang-orang yang bisa begitu (lirik Tara Amelz)

      Delete
  3. Yaampun.. Ini aku banget deh.. jerawatan dari SD.. gak pernah lepas dr dokter kulit dan ratusan kali facial.. ga pernah suka ngaca, dan heran kenapa cewe2 lain kok suka bgt ngaca ya.. aku jadi orang yg intovert dan gak pede sama sekali.. remaja2 lain mulai nyoba dandan, aku masih berkutat sama jerawat.. takut mo dandan karna malah makin memperparah kondisi kulit.. Dan yg paling parah breakout aku itu pas lagi nyusuin anak pertama.. itu parah bgt breakout semuka.. dan bingung musti diapain karna masih menyusui.. huhu..

    Akhirnya di umur 30something ini jerawat udah jarang muncul, paling sesekali aja.. skin care yg dipake yg natural dan bbrp produk korea.. kalo ditanya apa sih yg bikin jerawat bisa ilang, aku tetep ga bisa jawab karena ya lama2 gak diapa2in memang ga muncul aja.. mungkin hormon penyebab jerawat itu udah hilang dr tubuhku.. yeah jerawat itu emang kaya misteri dan kasus tiap orang beda2..

    Haduh maaf mbak Lei, aku jadi curhat.. hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya kasusku sama deh sama kamu. Hilang-munculnya jerawat agak misteri, walaupun udah eksperimen sama skincare, pola makan, dan gaya hidup. Hormon nggilaniiii.

      Delete
  4. Mula mula jerawatan parah itu pas hamil dan terus berlanjut selama menyusui. Yaudala wajar kali ya, karena hormon. Dan saat itu coba beresin pake product skincare yang di jual bebas.. kadar PD gimana?? amblas.. bahkan ada selentingan yang ngomong kalo emang lah jadi jelek, kan udah ibuibu. duh nyes banget ya

    Beresin dulu deh sesi menyusui nya.. di tunggu 2 bulan sampe 1 thn lebih kok tetep aja ya.. jerawat masih pada hangout gitu. sedeeeh mo di rawat gimana pun juga hasil NIL.

    ada 1 temen yang dah lama ga ketemu,, begitu ketemu kulit dia licin book.. terus tanpa ba bi bu.. dese suruh gw ke dokter kulit dia.. begitu liat muka gua kok dah bisa menerawang isi pikiran gua gitu yah..

    okela di coba ke dokter kulit. Trus sampe sana sama dokter di suruh minum Rocutane, dan belio bilang ga boleh hamil. kecelakaan dan hamil pun belio bilang ga bole.. kalo sampe kecelakaan hamil, janinnya harus di GUGURIN... oh emji.. lemez dan nyaris nanges.. Eike mundur.. cuma ambil salep jerewi aja, yang relatif aman u janin..

    abis itu gw iklasin dah.. bebas deh jerawat mo dateng mo pergi.. gua kaga mo stress-in..
    gua mulai ambil sikap untuk lebih bisa nerima diri gua apapun juga..

    berdamai dulu aja neng.. ga pengen tll keras menghakimi, ato buat standar acceptance diluar logika. (PR banget)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Roaccuatane tuh giling, sih. Memang katanya bisa bikin bayi deformed, bahkan terlahir tanpa batok kepala katanya. Astaghfirullaahhh.

      Delete
  5. Mbak Lei, I Feel U. Semua poinnya pernah saya lalui. Kulit saya juga bermasalah, dari kecil saya alergi berbagai sabun, mulai dari sabun mandi merek tertentu apalagi sabun cuci dan cairan pembersih. Sempat kena eksim parah di sela-sela jari kaki sampai berdarah-darah, harus dikompres rivanol dan tidak bisa pakai sepatu. Sariawan di bibir bawah berubah jadi daging tumbuh yang harus dioperasi kecil.

    Anehnya, begitu saya puber dan berjerawat (lumayan parah), Justru sikap Ibu saya berkebalikan. Sebagai seorang praktisi kesehatan yang sedikit-sedikit berobat ke dokter, Ibu saya enggan membawa saya berobat. Alasannya masih terngiang sampai sekarang : "Kalau ga jerawatan namanya bukan remaja!"

    Ya, udah selama SMP saya cuma bisa ngerasa hopeless. Insecure jangan ditanya, apalagi waktu seorang teman ayah saya yang bertamu ke rumah pernah berkomentar : "Nisa jerawatan karena sering mikir aneh2 (jorok)". Rasanya antara pengen nangis sama ngamuk, ga terima (sama nasib) sambil merutukki kenapa Ibu ga pernah mau mengobati wajah saya yang meradang.

    Untungnya teman sebangku saya di SMA memiliki problem sama dan sering ke dokter kulit. Mengikuti nasehat dokternya saya berikhtiar sendiri mulai dari rutin makan tomat mentah setiap hari diselingi jeruk nipis, nyoba bikin masker sendiri macem2, berdoa minta jerawat hilang dari muka bumi (bukan cuma muka saya hoahahahaa). Untungnya lumayan berhasil, jerawat agak mereda.

    Giliran adik saya yang mulai jerawatan, ibu saya sibuk membawanya berobat bahkan hingga ke pulau lain. Adik sampai mencoba perawatan dr.Joko waktu ia main ke Semarang, kota tempat saya berkuliah. Obatnya memang tocker dan ampuh mengusir jerawat adik yang waktu itu lebih parah dari saya.

    Long short story, saat adik saya sudah pulang dan ingin memperpanjang krim malam-paginya, saya yang diminta tolong membelikan ke semacam toko cabang milik dokter itu. Dengar-dengar yang menjaga ialah kakak kandungnya dan sekali melihat wajah kita, ia sudah tahu kode krim apa yang sudah diresepkan adiknya sebelumnya. Maka, menjadi salah satu komplimen terbesar yang saya terima dalam hidup ini dikala ibu penjaga itu pertama kali menyapa saya dengan perkataan : "Untuk apa beli krim lagi dek? Wajahnya sudah mulus gitu".

    Jadi baper, ternyata aaya masih inget semua komentar yang berkaitan dengan jerawat2 saya sampai sekarang meski sudah belasan tahun berlalu. Huhuhuuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagi mantan pejuang jerawat, sebenarnya bekas psikologis masa-masa perjuangan lebih dalam daripada bekas di wajah, ya. Peluk erat!

      Delete
  6. Senang tapi berkaca-kaca membaca ini

    Pas kuliah melewati pengkaderan (dengan mayoritas cowok di jurusan) membuat saya banyak melihat senior-senior ini (cewek maupun cowok) yang suka sekali memperlakukan berbeda karena tampilan fisik yang menarik. Waduh jadi argumen yang baik ternyata bukan segalanya...

    membaca tulisan ini sebagai pengingat, memang Tuhan Maha Adil, kesempatan berobat ke dokter kulit dan mencoba macam-macam skincare bukan hal yang bisa diakses semua rekan seangkatan saya saat itu (yeuh privileged brat). Tapi setidaknya saya tahu, tidak banyak 'noise' saat saya berbicara bukan karena saya berwajah mulus (dan memenuhi standar cantik), namun semata saya bisa berbicara.

    Wah, kalau dianugerahi kulit normal dan tidak acne-prone, mungkin saya sudah jadi manusia paling pongah sedunia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Tapi setidaknya saya tahu, tidak banyak 'noise' saat saya berbicara bukan karena saya berwajah mulus (dan memenuhi standar cantik), namun semata saya bisa berbicara."

      Seneng banget bacanya!

      Delete
  7. mbak... aku mau pelukan teletabis sesama acne prone, boleh ? *peluk kenceng*
    aku bahkan bisa dibilang sampe pasrah menghadapi battle ini lho
    apalagi abis lahiran kemaren, cuci muka aja pake sabun mandi LOL

    tapi mba menurut pengalamanku, dengan adanya jerewi2 kecil di mukaku, itu juga bisa jadi people filter lho
    contoh paling nyata, pas ketemu keluarga calon suami, udah langsung aku tandain tuh uni dan tante yang komentar sinis soal jerawat, langsung ketauan yang mana mulutnya nyablak dan mikir pake dengkul
    begitu juga di pergaulan, langsung keliatan yg mana menilai orang dari fisik
    dan biasanya, later in life, orang2 kayak gini jadi 'sasaran tembak'ku ahaha

    but still... if I can choose, aku tetep milih kulit sehat yang low maintenance ❤

    ReplyDelete
  8. Sama banget. Mana pori-pori di idung segede dosa. Sempet kepikiran oplas, minta dokter numpuk kulit muka pake kulit punggungku (secara punggung lebih mulus dr muka zzz) tp ya ga bisa asal goblek gitu jg kan.

    Untung pacar pengertian tiap ku ajak selfie dengan kalimat pembuka "Sayang, fotonya pake Camera360 filter Rosy gapapa ya?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, nggak bisa asal goblek, dan nggak bisa petik pohon duit, qaqaaq...

      Delete
  9. Kak Laila! Hahahaha kok aku jadi pengen bikin part II trus curhat lagi? *ra uwis uwis*

    Rada heartbreaking juga baca yang "Make-up is fun, when it is a choice, not a chore." -- because that's how I feel almost everyday hahaha. Tapi yaudalah! Allah Maha Adil kan? Kalo kulit mulus nanti jadi sempurna banget kita? Chanda.

    Very great article kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin dong Dar, artikelnya! Hehehe. Dan kamu suka merasa gini nggak sih: mending nggak punya makeup sama sekali, tapi punya kulit mulus? Or is it just me?

      Delete
  10. Kak, waktu SMP aku jugak kenak penyakit kulit gitu. Hampir di seluruh badan lah. Kalok di muka, bagian kening deket rambut yg parah banget. Mana berair trus baunya menjijikkan gitu. Qucedila :(

    Uda cobak mandi pakek rebusan daun kapuk lah, minum obat dokter lah. Gak mempan jugak. Sembuhnya gegara balurin isi kapsul *lupa namanya* campur minyak makan. Sembuh. Gak sampek 10rb biayanya. Wkwkwk.

    Pas uda gede jerawat dateng pas mens doang sik.

    Tapi kupunya mantan pacal yg jerawatan parah. Merah merah sampe yg ada matanya giti penuh satu muka. Sembuhnya dia cuci muka pakek sabun cap telepon (di Medan buat nyuci baju). Heu. ._.

    ReplyDelete
  11. Topik yang dekat di hatiiiii....
    Oh so truee yang ga bisa nerima pujian fisik. Soo awkward. Ni orang ga usah gombal deh. Insekyur. Insekyur.

    Kasus jerawat gw udah mendingan sih La. Mendingan yaa.. ga selesai. Gw sudah mengikhlaskan akan hormone ini sampai kutua nanti. *sekarang belum qaqa?

    2 tahun ini gw didera dermatitis atopi tanpa akhir. Yang paling sedih, ada yang di sekitar bibir aja lhooo.... bener2 terpampang nyata. Dan as if itu ga cukup, jadi bibir, lalu ke arah luar di"lingkari" dermatitis atopi, di luarnya lagi dilingkari jerawat. Gustiiiii
    Gw sudah patch test kan. Sudah gw hindari semua alergen. Debu aja gw berusaha tangkis dengan handuk sekali pakai, seprai ganti per 3-5 hari, meja kantor gw lap pake yleo thieves. Cumuk? Religiously. Diet makanan, ampe yoyo.
    Akhirnya memang gw (dengan sotoy) simpulkan ini akibat pikiran. Dan ada yang sarankan let it go, ga usah stress. Well how can i. As a true 23 sept libra. Semua ditimbang. Ditimbang.. ditimbang...

    ReplyDelete
  12. Jujur nih la gw udah lama ngikutin blog&sosmed lo, tapi jerawat itu bukan 1st thing yg gw notice (lewat foto bahkan dr foto close up pun g keliatan kok) kalo lo g komen bahwa lo struggling with acne mungkin gw g akan nyadar..tapi gw setuju sih, gw malah baru2 aja bermasalah sama jerawat di usia 31!! Di saat gw malah mulai merawat muka ala2 korea, kan jd sebel ya mo nerusin apa g nih?? Diluar itu gw pun selalu berjuang sama uneven skin tone dr abg..disaat cw2 laen bisa mulus cuma pake ponds atau krim mercuri ini itu gw kok g mgaruh yaaa, udah ke dr titi dr wong pake krim ini itu muka gw ya gitu2 aja g jd mulus kenceng tanpa pori2 bak alien tapi gw juga mikir tiap orang ada masalahnya oke muka gw gini2 aja tapi alhamdulillah hidup gw masih nyaman, intinya count my blessing sih

    ReplyDelete
  13. Gw pernah mengalami masa2 suram dengan jerawat. Waktu umur 24 tahun, kena cacar yang parahnya di muka.
    Abis selesai cacar, perawatan lah ke sebuah klinik kecantikan terkenal. Bukannya membaik malah bikin muka (seumur2) jerawatan parah separah2nya banget semuka2. Sampe kalo jalan gw nunduk karena malu sama muka (temen gw sampe menyadari perubahan perilaku gw), Setiap ada pertanyaan ada apa dengan jerawat & muka gw, bikin hati nelongso. Akhirnya berobat ke dokter kulit sebuah rumah sakit, walopun perawatan awalnya sebenarnya gw tidak merekomendasikan. Tapi muka Hamdallah membaik *sujud syukur*.
    Tapi semenjak itu, gw gak banyak komplain soal jerawat yang muncul dikit2, pasrah punya muka bopeng2 bekas jerawat & cacar. Karena bisa sembuhin jerawat yang parah banget itu aja udah syukur banget.

    ReplyDelete
  14. Aduuh ini mewakilkan isi hatiku sekali mbaa! Hahaha, tos dulu lah teman seje(ra)wat!

    Jerawatan sejak usia 14 sampai 28 th membuat aku sudah melewati fase denial, anger, bargaining sampai sekarang udah acceptance. Jerawat juga mengajarkan aku banyak hal, paling utama untuk ngga ngandelin fisik buat tetap bisa berkembang dan bahwa bahagia itu sederhana, sesederhana ga dikomentarin ttg muka pas baru ketemu orang ;p

    ReplyDelete
  15. Mbaaa.. aku juga jerawatan parah dari jaman SMP. Udah langganan sebulan sekali musti ngelupasin kulit klo ga tuh jerawat udah kayak bisul gede-gede banget. Sampe akhirnya aku pindah ke Jepang yang udaranya bersih plus pake skincare sini barulah kulit wajahku alhamdulillah membaik. Eskatu emang ga bisa boong 😜

    ReplyDelete
  16. Hi La, salam kenal!
    Pernah coba terapi green juice gitu nggak sih? Mungkin ngaruh, eh tapi mungkin loh hahaha. I have this one friend yang terapi ngejus doang dua minggu trus kulitnya ikutan cling dan menurut testimoni dia sih ya karena jus itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haai, diet green juice belum pernah. Pernahnya nyoba mengeliminasi garam, tepung, gula, dan dairy. Sampe skrg juga membatasi dairy, sih. Dari dulu penasaran sama diet/detox jus, sih.

      Menurutku, kalo temenmu jerawatan karena bakteri/pengaruh luar, mungkin banget bisa sembuh karena diet spesifik. Tapi kalo jerawatannya karena hormon sejak puluhan tahun lalu kayak aku, agak ragu bisa sembuh tuntas hihihi.

      Delete
  17. iya ih mirip Najwa Shihab.. Hai mbak Nana

    ReplyDelete
  18. Kalau kata ibu saya yang sukaq bermasalah sama kulit itu biasanya kurang makan yang pahit. Maka waktu bermasalah kulit dulu saya dicekoki minuman rebusan daun pahit kalau bahasa minangnya ampadu tanah, ga tau apa bhasa indo nya. Ampuh!!! Cuma perjuangan pahitnya lumayan. Menurut saya mbak mirip Indah Nevertari deh

    ReplyDelete