Jul 14, 2017

Sehari Semalam di Kota Kenang-Kenangan (part 2)

DSCF8331

SAMBOENGAN INI.

Malam

Selesai dari Mang Udjo, hujan sudah selesai, menyisakan becek dan kubangan dimana-mana. Waktu juga hampir maghrib, sehingga kami langsung cau ke hotel. 

Sekarang gue mau sedikit memuji kemampuan browsing gue, leh yha, gaes.

Seperti yang gue sebut sebelumnya, gue nge-book hotel di Bandung secara dadakan. Normally, I can’t do this, karena bagi gue, nggak gampang menemukan penginapan yang pas. Sebagai bekgron, tanggal ulang tahun gue, tuh, tepat di irisan rasi bintang Virgo dan Libra. Maka sifat gue pun beririsan antara perfeksionis dan penuh pertimbangan. Alhasil, kalau memutuskan segala sesuatu suka pake hidup dan mati, termasuk sesepele memutuskan penginapan saat travelling.

Jadi bukan karakter gue, deh, untuk memutuskan tempat menginap pake capcipcup, seperti kali ini.

Tapi Alhamdulillah, pilihan hotel gue oke banget! *idih, GR*

Nama hotelnya Ivory by Ayola, berlokasi di Jalan Bahureksa, dengan rate 400 ribuan semalam. Hotelnya kecil, tapi interiornya lucu dan nyaman. Restoran alfresco-nya juga gemes banget buat duduk-duduk pagi-sore-malam *lalu gelege'an masuk angin*. Hotel Bandung rasa Seminyak banget, deh.

Kamarnya kecil dan sederhana, tapi cukup banget buat bertiga. Kami juga nggak ada complain tentang fasilitas ataupun sarananya.

Hotel Ivory berlokasi di dalam kompleks—bukan di pinggir jalan raya—sehingga nggak bising dengan suara kendaraan. Lokasinya ideal banget karena, ehm, dikelilingi berbagai tempat makan yang seru. Mulai dari warung sampai restoran masa kini. Malah katanya, tepat di seberang hotel, ada food court yang menjual jajanan super endeus. Ada sekitar lima orang merekomendasikan pujasera itu ke gue. Sayang, kami nggak sempat nyobain.

Yang bikin tambah hepi, di dekat hotel ini ada hostel/penginapan B&B yang oke untuk sopir gue. Sejujurnya, gue merasa agak mubajir kalau harus reservasi satu kamar di Ivory, khusus untuk si Mas Sopir sendirian. Untung ada penginapan tersebut. Bentuknya penginapan rumahan sederhana, tapi bersih dan layak banget. Rate-nya sekitar 150 ribuan, dan waktu tempuhnya cuma lima menit jalan kaki dari Ivory. Cucok, eym! Bungkus!

(tapi maaf banget, gue lupa namanya :D)

Tepat jam 6 sore, gue, Raya, dan Mas Supir sampai di hotel, sementara T baru selesai meeting di Pasteur.

Nggak lama setelah gue dan Raya check-in, Papa T juga sampai di hotel. Kami langsung cusss, cari makan malam.

Sebenarnya malam itu gue masih kenyang, gara-gara makan siang akbar di Warung Inul sebelumnya. Meski demikian, gue tetap ingat nawaitu gue dari Jakarta, yaitu makan-makan “jorok” yang sepenuhnya menyalahi prinsip clean eating.

Malam itu, idaman utama gue adalah mie yamin, trus kepengennya dilanjut dengan Sate DJ atau Cuangki Serayu, lalu martabak manis yang mentega wijsman-nya netes-netes. Subhanallah, kakaaa.

Setelah galau-galau menentukan pilihan, akhirnya kami menetapkan makan yamin di Mie Naripan…

DSCF8312

DSCF8320

DSCF8324

… yang ternyata sama sekali nggak halal. Ahahahaha… astaghfirullohaladziiim.

Mie Naripan ini direkomendasikan oleh seorang teman di kantor lama. Dia bilang, “Kak, makan yamin di Naripan aja! Kayaknya ada pilihan topping babi, sih, tapi yaminnya sendiri aman, kok. Minta topping yang non-babi aja, Kak!”

Karena dibutakan oleh napsu makan mie yamin, kutelan saja lah ucapannya. Browsing pun nggak.

Eeeh, sejurus setelah gue nge-post adegan makan-makan kami di Instastory, langsung masuklah bertubi-tubi Direct Message dari beberapa teman dan followers, “Mbaaaak… Mie Naripan nggak halal! Itu kuahnya babi semua!”


Yang bikin tambah sebel, menurut gue rasa Mie Naripan begitu-begitu aja. Cukup enak, tapi nggak wow banget. Nggak halal pula. Kalau nggak halal tapi enak, ‘kan mendingan, hahahaha.

(FPI, jangan persekusi aku, ya.)

DSCF8326

Bottom line, Mie Naripan nggak 100% enak, tapi 100% haram. Cedih.

Yang bikin tambah cedih, setelah makan yamin Naripan, kami terlalu kenyang untuk jajan-jajan lagi. Padahal gue masih kepengen banget nyobain Sate DJ dan Cuanki Serayu, meski cuma karena azaz penasaran.

Maka dari Mie Naripan, kami pulang aja, mandi, berdoa Gusti Allah mengampuni keteledoran kami (aamiin), trus tidur.

Kamis pagi

Wakey, wakey, rise and shine!

Pagi ini, gue ngajak T dan Raya ke salah satu kafe Dago Pakar. Pasti pada kebayang, ya, kafe yang kekmana, berhubung tempat model begini belakangan sedang menjamur. Sejenis Armor Coffee, Jungle Preanger, Waroeng Pinus, dan sebagainya.

Biasanya gue menghindari tempat-tempat makan kekinian trendi masa kini, karena seringkali penuh dan overrated, tapi kali ini gue penasaran. Pilihan kami adalah Waroeng Pinus, karena saat weekday begini, ternyata dia kafe di kawasan Taman Hutan Raya / Tahura yang bukanya paling pagi, yaitu jam 8. Trus, kalau datang pagi-pagi weekdays gini, seharusnya sepi dong, ya.

Benar aja. Pas kami tiba jam 8 kurang dikit, Waroeng Pinus yang terletak dekat pintu masuk Taman Hutan Raya ini masih sepiiiii banget…… soalnya masih tutup. Yeee, siapa suruh terlalu ‘mangat!

Ya udah, mumpung udah di sini, kami memutuskan jalan-jalan dulu.

Terakhir kali gue ke Tahura, tuh, sewaktu gue masih kecil. Mungkin SD, ya. Jadi gue udah lupa banget, hutan kota ini seperti apa…

DSCF8328

… dan ternyata menyenangkan sekali, ya! Adem, rindang, dan segar. Baru berdiri-berdiri lima menit aja, badan udah berasa lebih sehat. Landscape-nya mungkin nggak se-polished Kebun Raya Bogor—namanya juga “hutan”, bukan “kebun”—but the freshness is much more raw and intense. Pasti karena vegetasinya lebih rindang, dan udaranya lebih sejuk. Pokoknya senaaang sekali.

DSCF8333

Kami jalan-jalan sebentar di Tahura, sampai akhirnya Raya merengek kepengen lihat rusa. Memang, di Tahura ini ada kandang rusa, sekitar 2-3 KM dari gerbang masuk utama.

Awalnya kami mau jalan kaki aja ke sana, tapi niat mensana incorporesano ini ditentang oleh para mamang ojek yang mangkal di gerbang, “Jangan jalan, Buk! Pak! Naik ojek aja!”

Okelah. Pas ditanya, harga ojeknya berapa, dijawab, “Musti dua motor. 150 ribu, ya.”

Waaaw, mahal! Darah Minang Bapak T langsung menggelegak, dan pertempuran nawar harga pun terjadi. Gue pernah cerita nggak, sih, bahwa T jago neken harga? Minimal “mengintimdasi” orang untuk ngasih bonus. Pokoknya kejam, deh.

Namun akhirnya, bargaining T nggak sukses-sukses amat. Gue lupa angka persisnya, tapi harga akhirnya nggak jatuh jauh dari sratus mapuluh rebu tadi. Kami pikir, ya udahlah. Toh dua motor, dan ditungguin untuk bolak-balik, kok.

Ternyataaa… jarak dari gerbang utama Tahura ke kandang rusa memang jauuuuh. Trek-nya menantang pula. Dan berhubung sehari sebelumnya hujan besar, ada banyak kubangan dan ranting pohon tumbang. Kalau jalan kaki, baru 1/5 jalan aja, kami pasti udah nyerah. Jadi harga ojeknya cukup fair, kok. Sori sori yah, mang :D

And it’s all worth it, karena kandang rusa di Tahura ternyata kece banget! Rusanya banyak, aktif, dan pemandangan latar belakang kandangnya cantik gemah ripah loh jinawi. Mana sepi pula, nggak ada pengunjung lain samsek. Hati adeeem bukan kepalang.

DSCF8365

DSCF8381

Sang bapak penjaga kandang pun nggak berhenti menyediakan makanan rusa, sehingga Raya puas banget ngasih makan rusa-rusa tersebut. 

DSCF8354

DSCF8343

DSCF8340
 
Si bocah, sih, udah pasti betah banget, karena gue memang curiga anak introvert ini adalah titisan Nabi Sulaiman—bisa bicara sama hewan. Abisnya kalau berinteraksi sama sesama manusia, do’i suka malas dan jutek. Tapi kalau sama hewan, bisa ngobrol batiniah berjam-jam :D

DSCF8361

DSCF8384

Intinya, kami sungguh betah dan adem lahir batin. Kalau bawa sleeping bag, rasaan mau nginep aja, deh. Bobok bareng rusa.

DSCF8349

Namun, tentunya, kami musti balik.

Langsung pulang? Tentu tidak. ‘Kan tujuan utama ke Tahura ini belum kesampaian, yaitu nyicip salah satu “kafe hutan pinus”-nya. Maka kami balik ke Waroeng Pinus.

DSCF8388

Secara bentuk, kafe ini terdiri dari sebuah pondok kayu, dikelilingi oleh teras serta seating area, dan “dipagari” oleh bermacam tanaman.

Alhasil, berkunjung ke Waroeng Pinus serasa bertamu ke sebuah rumah mungil di tengah hutan. Apalagi, pas kami di sana, sedang ada bapak-bapak yang kucurigai adalah pemiliknya, lagi nongkrong bareng sekelompok geng sepedahannya. Bawaannya pengen ketok pintu, trus nyapa “Punteeen… assalamu’alaikuuum…” sambil lepas sendal.

DSCF8391

DSCF8397

Katanya, Waroeng Pinus adalah salah satu usaha koperasi ITB angkatan ‘80. Di sekitar kafe ini juga ada budi daya hidroponik dan galeri workshop kayu, yang merupakan bagian dari koperasi ITB '80.  Meja dan kursi di Waroeng Pinus pun hasil kerajinan mereka.

Gue, T, Raya dan Mas Supir memilih duduk di area teras yang menghadap lembah. Meski ada bapak-bapak (alumni ITB?) geng sepedahan yang merokok, area outdoor-nya tetap terasa segar banget. 

DSCF8399

DSCF8393

DSCF8395

Plus, gue jadi bisa… nguping. Soalnya pembahasan bapak-bapak tersebut tetep Pilkada DKI Jakarta dan Ahok, lho. Pake bahasa Sunda totok :))) Sungguh, Pilkada rasa Pilpres.

Menu makanan Waroeng Pinus ini beragam, mulai dari panganan Indonesia (bandrek, cireng, bubur ayam, dll.) sampai Barat (poffertjes, cream soup, spaghetti, dll.). Rasa pesanan-pesanan kami cukup oke, walaupun nggak istimewa. Gimanapun juga, daya tarik utama warkop-warkop Tahura ini adalah lokasinya yang di tengah hutan pinus.

Overall, Tahura dan sekitarnya menyenangkan sekali, deh. Trus, seperti biasa, kalau gue dan T lagi menikmati suatu area, kami langsung lebay, “Apa kita pindah rumah aja ya, ke Dago Pakar?” Molaaai. Hepi di Bandung, pengen pindah ke Bandung. Hepi di Bali, pengen pindah ke Bali. Hepi di Amerika, pengen pindah ke Amerika!

I wished we could stay longer, tapi apa daya, waktu check-out hotel semakin dekat. Kami pun balik ke hotel, mandi, beberes, dan pulang.

***

Walau cuma sehari semalam di kota kenang-kenangan ini, ternyata hati bahagia dan puas, khususnya karena a) nggak macet b) rencananya serba dadakan, tapi nyaris sakseis semua, dan c) tempat-tempat yang dikunjungi belum pernah dikunjungi sebelumnya.

Dan mungkin karena—mengutip grafiti di kolong sebuah flyover—"...Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum"-- M.A.W Brouwer.

Sampai jumpa lagi, ibukota Priangan!

15 comments:

  1. Aku tetep setia menanti lanjutan cerita jalan2 ke Orlando nya loh Mbak, bahkan aku pun Masih berharap vakansi Disney berlanjut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduuuh, jadi terharu sama kesetiaannya, sementara akunya lelet dan nggak konsisten haha. Maafkaaan. Pelan-pelan (tapi pasti) ya.

      Delete
  2. Hallo Kak Lei idolaque.. :p
    Seneng deh baca klo ka lei hepi di daerah asalku.. muehehe.. klo ke bandung lagi mau atuh patepang.. quote nya "Mungkin, Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum"-- M.A.W Brouwer

    ReplyDelete
    Replies
    1. AAAH, nah iya itu ya kutipannya! Terimakasiiih, segera diralat :D

      Delete
  3. Akhirnya update, juga. Allahuakbar! x)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. *tembak mercon confetti* Gila ya, mau jadi blogger macem apa gue, kok lelet sekali

      Delete
  4. Mbak, sebagai penggemar Disneyland, aku masih setia menunggu update vakansi Disney. Buat bekal kalo ada rejeki ke sana, tinggal Disney Amrik yang belom. Hmm, Shanghai juga sih, tapi biarkanlah hahaha..

    I always love your writing! Bahkan yang random sekali pun :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so much! Iya, sejujurnya agak beban menyelesaikan tulisan seberat, se-intens, dan sepanjang Disney trips (any Disney trip), apalagi kalo ditulis dengan detil. Semoga alon-alon asal kelakon ya. Kalo tulisan random sih lebih gampang, hahaha.

      Delete
  5. duh Ivory by Ayola emang laff banget yaah ❤❤❤ aku juga suka bangeeet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng yaaa! ❤❤❤ Lokasinya sih oke banget

      Delete
  6. Alhamdulillah udah posting! Ibu hamil happy!

    ReplyDelete
  7. Hihihihi baru mo komen, mie naripan kan ngga halal :D ternyata bawahnya dibahas... dan emang ngga enak2 banget huakakaka aku pun soalnya pernah nyobain sebelum tau itu mie kagak halal :D

    ReplyDelete
  8. Haii Kak Lei... eeh kemaren aku abis nginep di Ivory jugaa looh, trus baca ini... emang hotelnya murah dan keceeh, pleus ada gulingnya, jarang kan yah hotel yg kasih guling...
    terpujilah, yang punya hotel Ivory..
    btw kurangnya 1, hotelnya itu gak kedap suara kemaren dikamar sebelah aku ada bule lagi berantem entah pacaran atau suami istri, aku sampe telp resepsionis saking ganggunnya karena berantemnya intens gitu kayak 1 jam gak kelar2.. :)))

    ReplyDelete
  9. Aku mau ke Bandung bulan depan, Waroeng Pinus fix masuk list (dan tentunya Tahura juga :D). Udah lama bangett nggak ke Bandung, kayaknya banyak tempat-tempat baru yang seru yah. Pertanyaan nggak penting: FO masih jaman nggak sih? Hauhaha

    ReplyDelete