May 5, 2017

Ame Siape? Amerika! 2017 - Part 2: Labbaik, Tanah Suci Orlando


Setelah belasan jam terbang, akhirnya kami sampai juga di bandara Chicago O’Hare, jam 8.30 pagi waktu setempat. Alhamdulillaaah… Assalamu’alaikum, ya Ameriqa!

Nggak tau kenapa, selama di Amerika Serikat, gue sering menemukan bendera Amerika berukuran raksasa dipasang di berbagai tempat. Mulai dari depan rumah orang, pinggir jalan raya, sampai bandara, termasuk bandara Chicago O’Hare ini.

Jadi, pas lagi turun eskalator ke customs alias imigrasi, kami disambut penampakan bendera Amerika Serikat segede sprei king size. Jujur aja, gue langsung merindiiiing disko. Selain karena emang kena udara dingin (#krikkrik), juga karena ada perasaan, “Ini mimpi nggak, sih?!”

Menurut gue, setiap orang pasti punya travel bucket list masing-masing. Ada yang pengen lihat Tanah Suci, ada yang pengen ke Korea, ada yang pengen ke Italia, dan sebagainya. Tapi gue yakin, di dalam lubuk hati terdalam, setiap orang Indonesia sebenarnya kepengen nyicip ke Amerika.

Pasalnya, kita dibesarkan dengan kultur Amerika yang kental. Salah satu (atau semua?) film, buku, seri TV, musik, aktor, tokoh politik, entrepreneur, makanan, minuman, pakaian dan sepatu favorit kita pasti ada unsur Amerikanya. Jadi, secara subliminal, kita tuh sebenernya “Amerika banget”. Seenggaknya, gue merasa begitu.

Kalaupun ada orang yang seleranya sekarang nggak terlalu Amerika, kemungkinan besar pas dia masih ABG, “cinta pertamanya” terhadap suatu film, musik, atau artis teteup yang berasal dari Amerika. Dan kalau kata orang bijak, first love never dies. Duile.

Alhasil, selama di Amerika, gue nggak henti-hentinya membatin, “Orang sini ngomongnya kayak di film-film semua, ya? Eeeh, itu fastfood yang ada di film anu! Oooo, itu minuman yang disebut di lagu inu. This is Beyonce’s favorite snack!!!

Bener-bener norak, deh. Kalau gue perginya sama Kenny @kartupos, pasti gue udah dijorokin ke Grand Canyon.

Oke, itu sisi noraknya.

Di sisi manisnya, datang ke Amerika rasanya seperti pulang ke rumah, lho. Karena ya, itu tadi—kita dibesarkan dengan kultur Amerika yang sangat kuat. Kalau kita travelling ke negara asing, pasti ada lah momen culture shock-nya, setitik dua titik. Tapi di Amerika, gue merasa perasaan “culture shock” tersebut sangat minimalis. Karena itu tadi. Everything looks, sounds, and feels familiar.

So, arriving at USA gave me that bittersweet feeling of coming home. 


Ciyeee, pereus banget.

Jadi wajar, dong, kalau gue punya perasaan “Apakah aku bermimpi?” pas disambut bendera Amerika di bandara.

---

Perasaan terharu dan bittersweet ini tentunya bercampur dengan perasaan parno, karena kami harus melewati customs alias imigrasi dulu. Perihal imigrasi Amerika Serikat ‘kan infamous banget, ya. Apalagi kami tiba di USA ketika ribut-ribut "Muslim ban" masih berlangsung. Nano, gelak.


Karena pagi itu customs lagi sepi, kami langsung menghadap petugasnya tanpa perlu antri lama. Perawakan si petugas geda banget, dan setelan mukanya agak galak. Tapi yastralah. Basmalah aja.

Awalnya standar. Dia nanya-nanya beberapa hal, termasuk perihal kami mau kemana aja.

Oya, walaupun kami maju ke konter customs-nya langsung bertiga—nggak satu per satu—jubir kami Teguh doang. Soalnya gue, seperti biasa, terlalu krisis pede untuk ngemeng.

Eeeh, pas Teguh bilang kami mau ke Savannah dan Charleston, muka si petugas ini jadi nggak endeus, dan sikapnya langsung agak curigaan.

Waduh, waduh. Tebakan gue, si petugas curiga gara-gara Savannah dan Charleston bukanlah destinasi turis umum. Apalagi turis-turis kelas menengah dari Asia Tenggara gini, yang biasanya mungkin ke NYC, LA, San Francisco, Las Vegas, Boston aja.

Trus, T ditanya-tanya—ngapain ke Savannah dan Charleston? Ada apa di sana?

Sialnya, gara-gara T nggak ikutan trip planning sama sekali, dese kagak paham Savannah dan Charleston. Nah, ‘kan! Alhasil, T berkali-kali menjawab, “Kami ke dua kota itu karena kami akan nyetir dari Orlando ke Chicago. Sekalian lewat, deh.”

Bak atlet bulutangkis, si petugas langsung menangkis jawaban T tersebut. Kis! Dia sampe ngambil kertas dan pulpen, dan menggambar peta Amerika. Do’i bilang, “Aneh banget kalo lo road trip Orlando-Chicago, tapi bela-belain mampir di Savannah dan Charleston. ‘Kan jadi jauh? ‘Kan mendingan lewat blablabla?”

T cuma bisa gelagapan, dan kembali mengulang kalimat “We’re going on a road trip” lima kali, sampai si petugas kelihatan kesel. Berasa lagi ngajak ngomong monyet kali, ya.

Saat itu gue gondooook luar biasa. Soalnya gue merasa bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan elaborate dan baik. Gue bisa menjelaskan, bahwa kami sengaja mau mengunjungi Savannah dan Charleston, karena dua kota itu udah terkenal akan kecantikannya. Juga karena kami ingin melihat the heart of America, bukan cuma kota-kota besarnya aja, blablabla. Pokoknya pereus-pereusan, lah. Dan tentunya, gue fasih banget sama tempat-tempat terkenal di Savannah dan Charleston yang bisa dijadikan bahan gombalan, kenapa kami kepengen ke sana.

INI SEMUA GARA-GARA TEGUH MALAS TRIP PLANNING. Kesaaaaal!

Tapi gue juga kesel sama diri sendiri, berhubung gue nggak berani ngomong ke si petugas imigrasi. Gue cuma bisa mematung menyaksikan T dicecer si petugas, sementara T cuma bisa a-u-a-u dengan Singlish-nya. Sampai sempet-sempetnya gue mikir, “Harusnya gue berani ngomong! My accent is American!!!

Apaan coba? :D

Setelah membolak-balik dokumen kami, akhirnya si petugas mengeluarkan kata pamungkas, “Follow me, please.

Njiiiir, lemes shaaay. Kejadian juga, deh, dipanggil ke “ruang belakang” alias ruang interogasi customs. Hati gue langsung nggak karu-karuan, tapi hanya bisa pasrah.

Sebenarnya dalam hati gue tau, eventually we’ll be okay, karena dokumen kami lengkap, dan kami nggak melanggar aturan. Tapi gue cemas kalau kami ketahan lama. Jangan lupa, abis ini musti ngejar pesawat ke Orlando, lho. Nggak kebayang kalau musti pake acara ketinggalan pesawat, trus harus beli tiket baru. Gusti, ke Amerika ‘kan bukan pake duit monopoli.

Kami bertiga duduk di ruang tunggu kantor imigrasi. Di ruang tunggu ini, ada beberapa orang lainnya yang kayaknya lagi “antri” untuk diinterogasi. Of course, none of them are white (#whitesupremacy). Ada sepasang bapak-anak Hispanic yang sepesawat sama kami dari Seoul ke Chicago. Ada seorang Korea, yang kalau berdasarkan hasil nguping, adalah seorang pro-golfer yang mau turnamen di Amerika. Dan ada seorang ibu-ibu orang Muslim India yang kelihatan panik dan heboh sekali.

Okay, this would make me sound intolerant to my own religion, but I’m gonna say this—gue lumayan sebel sama si ibu-ibu, karena dia nunggu sambil nangis-nangis, berdoa histeris, bahkan sujud-sujud di lantai. I understand people panics sometimes, tapi dengan gestur yang dia lakukan, gue khawatir orang Islam jadi makin dipandang dengan prejudice. Toh si ibu-ibu bukan sedang sholat, kok. Berdoa dengan tenang dan dalam hati ‘kan iso, yo. Allah ‘kan Maha Mendengar.

Gue takut gestur ibu tersebut bikin para petugas nggak nyaman, dan gue, sebagai sesama Muslim, jadi kena imbasnya dalam situasi ini.

Singkat kata, hati gue rasanya kayak beras diayak pake ayakan bolong. Awur-awuran. Cemas, panik, dan sebel bercampur jadi satu.

Tapi ternyata, nggak sampai 15 menit setelah taro pantat di ruang tunggu kantor imigrasi ini, nama kami dipanggil (“Disneyworld! Disneyworld family!” LOL, so they’ve definitely checked with Disney), trus kami dibolehin pergi.

Tanpa diinterogasi.

Udah. Gitu doang.

Hahahaha, anti-klimaks, ya! Memang kalau dipikir-pikir, waktu itu kepanikan gue lebay, padahal nggak ada apa-apa. Alhamdulillah.

---

To recap, kami tiba di Chicago jam 8.30 pagi, sementara pesawat kami ke Orlando terbang jam 12.30. Pesawatnya nggak connecting, jadi kami kudu keluarin koper dulu dari Korean Air, trus check-in lagi ke American Airlines.

Selama menunggu, kami makan, nyempetin nyari popok atau celana dalam buat Raya (Ibu pantang menyerah!), nemenin Raya lihat-lihat pesawat, trus bergelimpangan kelelahan di boarding gate.

Gue inget banget, pas lagi nunggu boarding pesawat menuju Orlando ini, jiwa raga gue lodoh sekali. Ngantuk, pusing jetlag, laper tapi nggak napsu makan, pegel, lepek, lengket, plus sensi. Nunggu masuk pesawat rasanya lamaaa banget. Pengen rasanya lari ke menara air-flight controller, trus teriak bencong di mikrofonnya, “Akika capuuuung…! Capcaaaay…!”

Maka ketika akhirnya boarding, kami bertiga langsung semaput tidur di kursi pesawat. Gue inget banget, tidurnya juga agak merana karena kedinginan dan posisinya nggak enak #ngeluhmelulu.

Maka sementara penumpang lain pada duduk manis sambil baca-baca majalah, mimik manja, atau ngemil kacang, tiga turis bauk ini bergelimpangan seenaknya, sibuk cari posisi enak, trus molor tak sadarkan diri. Kaki naik ke sandaran tangan, kepala di bawah, nggak jelas banget, deh. Apalagi ini ‘kan flight siang, ya. Jadi penumpang lain mah seger aja, nggak ada yang pingsan gini, hihihi.

---

Setelah 1,5 jam perjalanan, kami pun tiba di Orlando International Airport.

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh, ya Tanah Suci Orlando. Labbaik!


Pas mendarat, Raya masih tidur, jadi dia harus dibopong dulu. Walaupun repot banget karena musti geret bayi raksasa dan koper-koper yang nggak kalah raksasa, hatiku gembira luar biasa.

Gimana nggak? Akhirnya kami sampai di Orlando! Tempat ini rasanya warbiyasak jauh dari gapaian, tapi nggak pernah berhenti gue impikan dan idamkan. Alhamdulillah, kejadian (lagi), and this time, with my family. Allah baik sekali *cium tanah*

Kelar urusan koper, kami ke terminal bis Magical Express, yang akan membawa kami ke kawasan Walt Disney World, dan langsung ke hotel.


Apa itu Magical Express? Magical Express adalah shuttle bus penghubung Orlando International Airports, dengan hotel-hotel di kawasan Disney. FYI, di kawasan Walt Disney World, ada 21 hotel resmi.

Bentuknya kayak bis pariwisata antar kota. Besar, kursinya kayak kursi pesawat, ada toilet dan TVnya, dan ada tempat penyimpanan koper di bagian bawah bis. Setiap turis yang menginap di hotel resmi Walt Disney World  berhak naik bis Magical Express gratis, dari dan ke bandara. Asalkan booking dulu aja sebelumnya.

Bagi para fans WDW, naik Magical Express ini big deal banget, karena naik Magical Express secara resmi menandai dimulainya petualangan kita di WDW. Fans WDW biasanya kampungan banget, lho, di dalam Magical Express. Misalnya yang, “Wooow, kursinya nyaman banget!” (padahal biasa aja) atau “Wooow, seneng banget bisa sambil nonton Donal Bebek!” (padahal di rumah juga sering).

Intinya, Magical Express sangat memicu perasaan ‘this is it! We’re going to Walt Disney World’ yang penuh euforia.

Gue pun kepengen Raya bisa merasakan euforia naik Magical Express ini. Kebetulan, pas kami naik, Raya bangun dari tidurnya. Apakah gue berhasil menularkan perasaan euforiaku padanya?

TENTU TIDAK. Hahahaha. Dese lempeng-lempeng aja. Wajar, sih. Selain karena mood anak gue nggak bisa diganggu gugat (Raya bukan tipe anak yang kalau bete, bisa di-distract sama mainan, misalnya. Bete ya bete aja), juga karena seluruh perjalanan ini tentunya terasa overwhelming bagi anak umur 4 tahun.

Kebayang nggak, sih? Raya baruuuu aja excited dan hepi naik Korean Air, eh udah harus tegang di imigrasi, eh udah harus naik pesawat lagi, eh udah harus naik bis Disney lagi. Boro-boro mudeng, ya. Nggak mungkin gue bisa maksa Raya ikutan excited di Magical Express. Hatinya aja masih ketinggalan di (pramugari) Korean Air.

Tapi nggak apa-apa. Walaupun gue heri—heboh sendiri, hepi sendiri—hati gue tetap hangat sekali, akhirnya bisa duduk di Magical Express yang magis ini.

Berkali-kali gue salim tangan penuh takzim ke T, karena udah ngebawa kami sekeluarga ke Walt Disney World, hutan beton kapitalis yang amat kucinta. Terimakasih, Papa

Kami pun meluncur di jalan raya Orlando, melewati gerbang kompleks Walt Disney World yang legendaris *jejeritaaan!*, lalu akhirnya sampai di “rumah” kami selama 10 hari ke depan—Pop Century Resort, Walt Disney World…

… and we welcome ourselves home.

(images are from here, here, here, here, here)

8 comments:

  1. gua juga mau dong ke WDW... kapan ya.. hehehe.
    lha kenapa juga kok lu gak berani ngomong di imigrasi?

    ReplyDelete
  2. Ah, setuju pisan tentang kite yang sebenarnya "Amerika banget". Walaupun Amerika nggak termasuk top 5 dream destination aku, tetep aja aku penasaran NYC tuh kayak apa. Pingin banget nyambangin Shake Shack, aaaack!

    Duh, situasi di custom menegangkan sekali yah. Jadi inget film The Terminal deh.

    Btw, selamat kak T! Pahalanya pasti gedaaa yaa di surgaa *amin*

    ReplyDelete
  3. FINALLY, new update dan terjawab juga kenapa ditahan di imhrasiii!!!
    wakakakakkaka, duh ya Allah kzl gemeshh yaaaa sama urusan bisa jawap tapi gak pede ituuu, terus in the end selalu menyesal karena "NAPA GAK JAWAP AJA SIH ASTAGA" hahahaha aku pun sering begitu, pft.

    ditunggu update berikutnyaahh~

    ReplyDelete
  4. Setujuuuu! Dibesarkan dgn serial tipi Mekgaiver, Mission Impossible, dll.... kayaknya emg kitorang mah gimanaaah gituyah sama Amerika. Benci tp ingin, muak (sama Trumpi) tp penasaran.

    ReplyDelete
  5. ya ampun aku setuju sekali nih, penggemar setia friends, sex and the city serta the office buat aku pengen sekali sebenarnya kesana, cuma belum punya nyali aja nih hahahahha. dan masa abg di penuhi dengan muka backstreet boys serta nick carter dikamar, yang mana asalnya dari orlando dari kecil ini impian banget hahahaha. tapi herannya udah pernah ke Eropa beberapa kali dan ke NZ kenapa ga pernah kesampaian untuk ke amerika huhuhu

    ReplyDelete
  6. i feel youuu... di otak kok padanan kata inggris dan grammar kayaknya cakep dan soooo american, tapi giliran disuruh ngomong langsung minder..

    ReplyDelete
  7. Labbaik! Akhirnya sampe di Orlando. Berapa hari di WDW?

    ReplyDelete
  8. aaakk leijaahhh mana lanjutan post nya doong di disneyand orlandonya..seruuuu bgt kynyaaa

    ReplyDelete