Apr 7, 2017

Kutipan-Kutipan Favorit


Joanna Goddard, blogger favorit gue, beberapa hari lalu nge-post sesuatu yang personal. Sebenarnya nggak jelas, sih, dia curhat tentang apaan, karena intinya sangat tersirat. Biarpun begitu, post-nya terasa inspiratif buat gue. Nggak tahu kenapa.

Belakangan gue menyadari bahwa alasannya karena post tersebut—termasuk komen-komen pembacanya—mengandung sejumlah kutipan yang relatable banget buat gue. I’m not a quote-girl at all, tapi yang indang-indang suka, deh.

Siap menyambut postingan sok bijaksana eleus-eleus?

1. “Social media doesn’t show everything.”

Kita semua tahu bahwa media sosial cuma menampilkan secimit cerita dari kehidupan seseorang. Udah secimit, ditangkap dengan kamera bagus, difilter pake VSCO pula sebelum di-post! Makin nggak representatif, deh, sama kehidupan sebenarnya.

Meskipun begitu, kita—termasuk gue—tetap sering terbuai, dan menganggap medsos si A, si B, atau si C mewakili kehidupan mereka secara keseluruhan.

Tapi makin kesini, gue makin sering mendengar tentang perjuangan orang-orang yang di medsos tampak sempurna. Si A ternyata gay, si B ternyata udah nikah siri, si C ternyata cerai, si D jatuh cinta sama cowok/cewek beristri, anaknya si E ternyata punya mental illness, si suaminya F ternyata sakit keras, dan sebagainya. Sering banget.

Semakin sering gue mendengar berita-berita demikian, semakin rontok kredibilitas sosial media di mata gue. Ya Allah, life is truly imperfect, dan sosial media memang betul-betul terkurasi, ya. Bukan fake, sih, tapi terkurasi.

Apakah medsos gue juga terkurasi? Pastinya, walaupun gue tetap berusaha se-real mungkin. Misalnya, karena gue nggak merasa mabuk cinta sama T, ya ngapain post foto dengan caption gombal? (platonic love for lyfe, yo!).

Instagram bisa tampak sempurna, tapi nggak ada manusia yang sempurna. Di balik feed yang HQQ, there are so many pains, struggles, and battles that we don’t know about. Jangankan sempurna. Gue malah yakin, nggak ada orang yang benar-benar bahagia.

Jadi kalau ditanya, apakah gue mau menukar hidup gue dengan hidupnya Syahrini, yang bisa terbang keluar negeri naik first class sebulan dua kali?

Dulu respon gue adalah… ya, mau lah! :D

Tapi setelah dipikir-pikir, apakah gue juga bakal sanggup menanggup beban hidupnya Syahrini, yang mungkin gila-gilaan banget, dibalik pembawaan publik dese yang carefree? Kayaknya nggak bakal.

So we’ll keep our own lives
masing-masing aja, deh, dan nggak usah dibanding-bandingkan. Kalau kata Mark Twain, “Comparison is the murder of joy.” Kalau kata Nike Ardilla, “Dunia ini panggung sandiwara.” Apa, sih?!

2. “The goal in life is wholeness.” –Hugh McKay


"I actually attack the concept of happiness. The idea that—I don't mind people being happy—but the idea that everything we do is part of the pursuit of happiness seems to me a really dangerous idea and has led to a contemporary disease in Western society, which is fear of sadness.

It's a really odd thing that we're now seeing people saying "write down three things that made you happy today before you go to sleep" and "cheer up" and "happiness is our birthright" and so on. We're kind of teaching our kids that happiness is the default position. It's rubbish. Wholeness is what we ought to be striving for and part of that is sadness, disappointment, frustration, failure; all of those things which make us who we are." 

—Hugh MacKay, penulis The Good Life

.

Dalam hidup, kita didoktrin untuk harus selalu mengejar kebahagiaan, padahal sebenarnya jangan begitu.

 Sebagai manusia, kita harus mengalami dan meresapi segala macam emosi—sedih, kecewa, marah, bahagia—supaya kita jadi berkembang dan semakin kuat. Maka perasaan ‘sedih’ jangan dihindari. Terima aja. We’re human. Kejarlah wholeness (keseluruhan), bukan cuma happiness alias kebahagian.

Gue suka banget sama konsep “wholeness” ini. Sayangnya, konsep ini sering kedistorsi sama medsos.

Ada ribuan postingan Instagram dan Pinterest yang memajang kata-kata mutiara seperti “Be happy!” atau “Happy girls are the prettiest!”. Pokoknya, menurut medsos, rasa sedih adalah sesuatu yang harus dihindari. Kalaupun dialami, harus buru-buru dilupakan.

Padahal setiap manusia pasti mengalami momen “nggak enak” dari waktu ke waktu. Kalau kita nggak terlatih menghadapinya, kita akan selalu berusaha membuat perasaan sedih kita jadi “kebas”, dengan cara kabur ke medsos lagi, belanja lagi, makan-makan lagi, jalan-jalan lagi.

Experiencing negative feelings is part of living and growing, dan wajar banget untuk dialami.

Oh, trus, ini mungkin OOT sedikit, tapi gue rasa ada hubungannya:

Kalau Lambe Turah (dan bala-balanya) mendengar bahwa si anu ternyata gay, si inu ternyata korupsi, si itu jatuh cinta sama orang beristri, dan sejenisnya, pasti hal-hal tersebut akan mereka sebut sebagai “aib”.

Belakangan, gue nggak suka menyebut hal-hal tersebut sebagai aib, karena kata “aib” punya konotasi negatif. Mungkin bisa disebut sebagai cobaan, rintangan, perjuangan, struggle, pain, tapi bukan aib.

Nggak ada manusia yang kepengen mencoreng mukanya sendiri, kok. Semua orang pasti berusaha menjalani hidup “selurus” mungkin, sampai mereka nggak tahan terhadap sesuatu, atau menemukan rintangan yang di luar kuasa mereka.

Maka kalau ada orang-orang yang mengalami hal-hal tersebut di balik layar medsos mereka, pasti mereka juga nggak menjalaninya sambil ongkang-ongkang kaki, tapi sambil stres dan struggling. Berarti mereka sedang mengalami sisi “berat” dari hidup, yang akan membuat mereka menjadi “wholesome”.

Yang penting kita jangan jadi kayak bala-bala Lamtur, dan komen alay, “Wah, si A cerai / gay / selingkuh? Ya Allah, matiin aja deh orang kayak gitu!”

Wow, atur nyawa orang banget?


3. “Loneliness does not come from being alone, but from being unable to communicate the things that seem important.” -Carl Jung

Bener banget, ya?

Kita bisa punya lusinan teman crème de la creme, suami mumpuni, serta sahabat yang asik diajak tawa-tiwi gemes. Tapi kalau mereka nggak bisa jadi tempat berbagi our deepest fears, deepest sadness, deepest hope, or deepest happiness, we will always feel lonely.

Gue selalu yakin perasaan ”kesepian karena nggak dipahami” semacam  ini bisa memicu stres, depresi, serta memunculkan kepribadian alay yang hobi curcol pake username Facebook.

Yang terakhir itu, tuh, yang paling bahaya! :D

4. “(Find your) Thin slices of joy.” -Chade-Meng Tan

Menurut Chade-Meng Tan, mantan happiness guru-nya Google, kebahagiaan nggak selalu disebabkan oleh hal-hal “besar”. Misalnya, bahagia karena suami penuh cinta dan kaya raya, karier sukses, anak lucu dan pintar. Wah, warbiyasak, tuh. Warbiyasak nggak realistisnya.

Kata Chade-Meng Tan, kebahagiaan bisa datang dari momen-momen kecil sepanjang hari. Misalnya, “Right now, I’m a little thirsty, so I will drink a bit of water. And when I do that, I experience a thin slice of joy both in space and time,

It’s not like ‘Yay!' It’s like, ‘Oh, it’s kind of nice.’

Ini adalah konsep yang nggak asing. Pasti sering, dong, mendengar nasehat bijak, “Syukurilah hal-hal kecil.”? Tapi belakangan, gue merasa nasehat ini semakin penting untuk dipegang.

Gue merasa hidup gue—terutama 2-3 tahun terakhir—nggak stabil. Ada beban pribadi yang diam-diam gue tanggung dalam hati. Beban ini kadang terasa enteng, kadang berat. Gitu terus, on-off setiap hari, tapi selalu ada.

(btw, I'm sure everyone always has “stuff” going on. We just don’t always talk about it.)

Minggu ini, beban pribadi tersebut lagi terasa berat, sehingga gue semakin bergantung kepada “thin slices of joy.” untuk “menyelamatkan” hari-hari gue.

Beberapa hari lalu, gue bangun pagi lebih dulu dari Raya. Raya masih tidur pulas di kasur, dengan posisi sedemikian rupa, sehingga matahari dari kisi-kisi jendela menimpa wajahnya dengan pas. His face shone like a warm lantern on a dark night, and at that moment, I looked at him and thought, “He is such a beautiful boy. I am tremendously grateful for him.”

Malamnya, T pulang kantor agak larut. Pas dia masuk kamar, gue dan Raya udah tidur, tapi trus gue setengah kebangun, karena samar-samar ingat bahwa gue niat puasa keesokan harinya. Dengan setengah ngigo, gue minta T ambilin makanan di kulkas bawah untuk sahur. Instruksinya spesifik, tapi disampaikan dengan ngelantur, “Pokat satu… gula merah… di pantry… daging digulung roti yang Primarasa…”

Apaan, coba?

Ditengah kengantukan dan kengigoan gue, yakin, deh, rekues-rekues tersebut nggak bakal ke-deliver.

Ajaibnya, ketika sahur tiba, segala pesanan gue tersebut tersaji sempurna di kamar! T yang suka nggak mudeng dan budek dikit, bisa menerima instruksi dari gue yang setengah ngelindur.

Those simple moments, my friends, are some of my “thin slices of joy”.

Dan ternyata, semakin berat beban yang gue bawa, semakin banyak "thin slices of joy" yang gue temukan dalam keseharian.

Mungkin secara bawah sadar, it’s my way to cope.

***
Namaste!

(images are from SUKU Home. Photography by Leandro Quinter, styling by Karin Wijaya - one of my most favorite creative talents of all time - model by Lutesha).

35 comments:

  1. Seperti kata Jane Fonda, 'We are not meant to be perfect. We are meant to be whole'. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuul...

      PS. Emailnya lagi dibales ya :)

      Delete
  2. Lailaa.....aku rindu deh ingin bercengkerama denganmuu....*peluk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. BuAnin aaah... 'kan I'm just a Whassap away :D Mudik tanggal piro?

      Delete
  3. intinya emang selalu be thankful ya... positive thinking dan gak take anything for granted... niscaya hidup mu akan lebih bahagia... :D

    ReplyDelete
  4. Your post saved my life. Forever grateful. Thank you

    ReplyDelete
  5. Difilter pake VSCO pula 》》*kesindir* ((:

    Mba Leiii, peluk dulu boleh yah! Ini tulisannya mewakili perasaan sekali. Baru aja kemarin bilang ke suami kalo aku bosen hidup kek gini. Pengen jadi si A aja kerjanya nyapa "hei guys" di Youtube terus dapet uang, femes pulak. Cuma kalo dipikir bener ya, we don't want to be somebody else, sebenernya kita pengen jadi diri kita sendiri... better version maybe.

    Marilah kita berjuang di panggung realita ini yah. Thanks for writing this, Mba. Much much needed! (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama... pernah juga kepikiran pengen kayak youtuber atau selebgram yg kerjaannya diendorse mulu... tapi dipikir2 lagi keinginanku jd seperti mereka malah bikin stres.. tapi bener kata mbak lei makin berat beban malah ada aja yah "thin slices of joy" yg bisa ditemuin.. tapi tergantung orgnya lagi apakah dia mau liat the thin slice of joy yg dia punya atau malah dia tetap fokus sama apa yg org lain punya... thanks for sharing this!

      Delete
    2. HAHAHAHA AKU JUGA KAK, sempet kepikiran jadi influencer / selebgram / Youtuber apapun itu kok enak juga. Selain easy money, "suara"ku juga jadi bisa didengar massa yang luas. TAPI kalo mikirin privacyku yg bakal berkurang, bhay! Males! Hahaha.

      Coba deh benar-benar perhatiin beberapa selebgram / Youtuber. Mereka sering bgt komplain harus berhadapan sama hater, komen2 konyol, dll. Memang lagi-lagi, banyak duka yang nggak ditampilkan yaaa. Setuju banget sama Jane, paling oke kalo kita jadi a better version of ourselves :)

      Delete
  6. Kita tidak akan bisa menghargai kebahagiaan jika kita tidak tahu atau tidak pernah mengalami yang namanya sedih. Ahzek. Sotoy beudh. =))

    ReplyDelete
  7. nahh bener banget itu yang thin slices of joy buat emak2 macam gue urus 2 anak sendirian kadang kesepian karena gak dipahami sekitar itu emang ngaruh banget , misal liat anak tetiba mau abisin sayur dipiring tanpa dipaksa...OMG langsung deh kaya ada sedikit secercah harapan di dada aka percikan bahagiab ( halah bahasanyaa ;p biar kata dikiitt aja iya dikit aja tapi itu dah buat happy..trus beberapa menit kemudian balik lagi deh betenya ahahahah. ahh manusia kadang terlalu complicated..



    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Mbak Nisa! Derita IRT tuh umumnya loneliness, terutama loneliness batin kayaknya, ya. Trus hal-hal sepele rasanya besar, apalagi yang berhubungan sama anak :D

      Delete
  8. ya ampun, yang konsep wholeness itu mengena ya. gue juga baru sadar, kalo memang sedih itu harus dihadapin dan dirasain, sepenuhnya (bukan di-glorified ya). karena kalo takut sedih, dilariin terus, akhirnya kejer-kejeran, dan suatu hari snap malah repot. seperti quote di vanilla sky, the sweet is never as sweet without the sour :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ntap lah kalo mb Maris, mah *jempol*

      Delete
  9. Ya ampun mbak, post ini ngena banget dan mewakili perasaan, khususnya yang konsep wholeness itu. Thank you mbak, udah nulis post ini..

    ReplyDelete
  10. Aaaah dalem banget postingan kali ini,

    Ijinkan saya memposting quote favorit tentang "happiness"

    If I could push a magic button and choose either happiness or success for my children, I’d choose happiness in a second. -Amy Chua

    Lalu di novel suaminya Amy chua yang judulnya The Interpretation of murder gue menemukan paragraf ini :

    “THERE IS NO mystery to happiness. Unhappy men are alike. Some wound they suffered long ago, some wish denied, some blow to pride, some kindling spark of love put out by scorn--or worse, indifference--cleaves to them, or they to it, and so they live each day within a shroud of yesterdays. The happy man does not look back. He doesn't look ahead. He lives in the present.”

    “But there's the rub. The present can never deliver one thing: meaning. The way of happiness and meaning are not the same. To find happiness, a man need only live in the moment; he need only live for the moment. But if he wants meaning--the meaning of his dreams, his secrets, his life--a man must reinhabit his past, however dark, and live for the future, however uncertain. Thus nature dangles happiness and meaning before us all, insisting only that we choose between them.”
    ― Jed Rubenfeld



    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus sekali kutipan dari Rubenfeld-nya :) Dan very very true, soal happiness vs meaning. I've seen many happy, go-lucky people whom I envy, tapi di saat yang bersamaan, mereka seperti lacking depth. Entah emang nggak kepikiran atau nggak mau mikirin (masa lalu, beban hidup, dll). Thank you for sharing!

      Delete
    2. aduh setuju banget sama kutipannya..

      "But if he wants meaning--the meaning of his dreams, his secrets, his life--a man must reinhabit his past, however dark, and live for the future, however uncertain."

      dan tanpa sadar aku juga suka ngerasa ada orang2 yg bubbly tapi lacking depth (atau seenggaknya terlihat lacking depth). ngeliatnya bikin mixed feeling hehehe..

      thanks anon & kak laila :)

      Delete
  11. I am a big fans of Joanna Goddard, including her twin sister, Lucy, and her late husband, Paul Kalanithi who wrote "when the breath becomes air" (sksd banget ya..). Mereka semua selalu bisa menulis sesuatu yang ngena begini, 'sesimpel' enjoying thin slices of joy, sampai enduring tremendous pain, tapi bener.. semuanya itu bagian dari idup yah sis, kalau gak sedih, gimana tau rasanya seneng yekan yekan? makasih mbak lei udah nulis ini disini, nike ardila must be proud of youu! ((DUNIA INI PANGGUNG SANDIWARA))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Truth! Tapi aku kayaknya nggak sanggup baca bukunya Paul. Too heavy on the heart :(

      Nyanyi dulu aja deh! "Dunia iiiiini penuh peranan... Dunia iiiiini bagaikan jembatan kehidupan... Mengapa kita... bersandiwara?" Kenapa hayo...

      Delete
  12. Enel anet nih MbaLei, esp nomor 1 dan 2. Baru banget kemaren gw nonton video Ricky Gervais yang ngomong, 'Reading Twitter is like reading a toilet wall,' dia pun bilang, 'In Twitter, you find your mob, you say things you wont't say in street on twitter.' Lalu gw menemukan artikel ini https://www.1843magazine.com/technology/be-your-selves , bagian orang nyeritain pengalamannya ke satu orang dan ke audiens lebih besar sungguh berbeda, bener banget kalau semuanya terkurasi. Terus gw jadi kontemplasi soal gw dan sosial media *tapi sedetik kemudian gw kembali ribut di Twitter* *cih*

    Yang nomor 2 pun gw setuju. Saking kuatnya konsep mengejar kebahagiaan, justru kadang kita not living in the moment, we're not present. Gw setuju dengan apa yang dipaparkan di sini (https://www.nytimes.com/2016/10/30/books/review/america-the-anxious-ruth-whippman.html) *ini kenapa jadi bagi2 link begini* The problem with our quest for happiness is that, apparently, it’s making us miserable.

    Poin 3 dan 4 juga enel anet *ya semuanya aja!!*

    Udah ah, MbaLei, kau idolaku!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih kayaknya seru artikel-artikelnya, kubaca-baca dulu yaaa. Tengkyuh! :-* (PS. jadi pengen bikin article club nggak sih?)

      Delete
  13. mbaaaak...aku suka banget sm postingan mbak yg ini...aku butuh baca ini dr kmr2...
    makasih ya mbak cantik. salam kenal. i'm your fans :)

    ReplyDelete
  14. Mba Lei. Selalu jadi silent reader tapi selalu sukaaa sama tulisannya. Bermakna dan jujur. Keep inspiring ya mbaa :)

    Setuju sama semua quotes2 d atas dan termasuk cita2 jadi influencer/selebgram :p

    Bener banget yang utuh ituu, karena bisa ngerasa/tau apa itu bahagia kalau udh pernah ngerasa sedih/kecewa/kurang. Spt nya thin of joy nya. Pas haus minum ngerasa enaak, kalo gak haus terus minum biasa aja.

    ReplyDelete
  15. Dulu waktu Mbak Lei tulis tentang jangan mengejar kebahagiaan aku termasuk yang gak setuju. Karena menurutku perlu diucapkan untuk menciptakan pikiran yang positif (di duniaku yang penuh cobaan ini, halaaah hahaha).

    Tapi aku akhirnya lebih mengerti alasannya di tulisan yang sekarang.

    Suka juga sama konsep find your thin slice of joy. Aaaahhh makin sukaaa sama tulisan di sini :)

    ReplyDelete
  16. Baca postingan ini setelah pilkada dki, sedih jagoan kalah tapi seperti kata Hugh McKay kucoba untuk menerima kenyataan hidup ini bukan cuma senang tapi juga sedih, kecewa dan perasaan negatif lainnya...

    ReplyDelete
  17. Gue sengaja baca ulang postingan ini karena lagi "butuh"
    mari bernyanyi "syukuri apa yang adaa, hidup adalah anugerah"
    *jejeran sama rian demasip*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peyuk peyuk Mamah Etty! Cepat enakan yaaa...

      Delete
  18. Kak Leija, ini postingannya bagus sekali. Am one of your silent reader.
    (Sedikit curcol) Sekarang gw lagi hamil muda dengan satu toddler 1 tahun dan emosi amat sangat ga menentu. Setiap hari rasanya semuaaa berat sekali dijalanin, blame on hormones! Tapi baca ini akhirnya gue tau "(Find your) thin slice of joy" atau kalo istilah agamanya "syukurilah hal- hal kecil", ini reminder gue kalo besok2 setres mual sepanjang hari + anak susah makan + suami ga mau bantuin cebok anak pup.
    Thanks for inspiring topic :)

    ReplyDelete