Jan 6, 2017

Blogging Tips: "Mandiri" Dari Respon

tips blogging

Beberapa bulan lalu, gue ngasih materi Blog Writing Class, dalam rangkaian acara Blogger Workshop-nya Female Daily.

Saat itu, gue menggelontorkan sejumlah tips blogging. Tapi sejujurnya, gue nggak menyampaikan satu tips favorit gue, yaituuu….

preambule dulu, deh #eaaaa

Monmap, preambule-nya bakal panjang, nih!

PREAMBULE (duile, ditulis)

Berkarya tanpa direspon itu memang nggak enak.

Coba kalau ada penyanyi manggung, trus nggak ada yang nepokin. Sakit hati nggak, sih? Bisa-bisa dese langsung banting mic, lalu mangkir. Tepuk tangan adalah bensinnya performer. Sementara komen dari publik adalah bensinnya blogger. Betul? (“Betuuul…”)

Malah kayaknya blogger mending terima banyak komen di blog, deh, daripada terima banyak duit dari blog, tapi blognya sepi komen (“Lo aja kali, Laaa… kita mah mau duit!” ujar para blogger lain)

Jadi wajar kalau ada blogger baru yang patah semangat, lalu akhirnya berhenti nge-blog, kalau hari demi hari, nggak ada yang mampir atau berinteraksi di blognya.

Apakah gue sendiri patah semangat kalau nggak ada yang komen di blog gue? Lumaaayan, tapi nggak terlalu, karena udah terbiasa untuk cuek.

Kok, bisa? Soalnyaaa…

1. Gue mulai nge-blog ketika blogging bukan suatu kegiatan yang populer. 2003, men… *insert suara dinosaurus*

Waktu itu, blogging hanya dilakukan oleh segelintir orang. Trus, jaman itu, “menjadi beken dan kaya lewat internet” adalah konsep yang masih asing.

Otomatis, dari awal, gue nge-blog bukan karena pengen terkenal, apalagi dapat duit. Dulu gue nge-blog karena pengen nulis di ruang publik aja. Saking nggak pengen beken, dulu gue nggak pernah mencantumkan nama asli, jarang nge-post muka sendiri, dan biasanya menyebut nama teman dan keluarga dengan inisialnya aja. I was already paranoid about internet before being paranoid about internet was cool. Ciyan, yah.

Singkat kata, dulu gue mulai nge-blog dengan mindset nggak peduli, apakah ada yang baca blog gue atau nggak.

2. Di Youthmanual, gue harus nulis artikel setiap hari. Dulu malah dua kali sehari.

Kadang gue memproduksi artikel yang gue rasa basi berat dan sekedar untuk memenuhi target, tapi kadang gue memproduksi artikel yang menurut gue beneran oke.

Sedihnya, artikel-artikel yang (menurut gue) oke tersebut seringkali nggak laku. Pembaca kita nggak ada yang share, ataupun komen. Pokoknya tenggelam aja di dunia maya, padahal udah susah-susah ditulis. Uuuutayang, kacian…

Apakah gue sedih? Iya, sih. Tapi kalau gue kelamaan sedih atau ngambek, gue jadi nggak kerja-kerja. Deadline ‘kan nggak peduli, apakah gue sedih atau nggak. Kalau artikel gue nggak laku, ya telen aja. Yang penting besok harus udah ada artikel baru lagi! Cetar!!!

Akibatnya, gue semakin nggak baperan dan bisa cepat move on kalau tulisan-tulisan gue—termasuk di blog—nggak ada yang merespon.

Tapi apakah nggak mendapat komen atau respon dari publik selalu berarti negatif?

TENTU TIDAK! ‘Kan ada Combantrin!

*lawas*
*ketawa berarti tua*

Menurut gue, justru ada beberapa faedah yang bisa kita rasakan, kalau blog kita NGGAK ada yang baca ataupun komen, yaitu:

1. Kita jadi bisa bebas merdeka mau nulis apa aja, tanpa khawatir dengan respon yang akan kita terima.

Kita jadi nggak kepikiran, apakah blog post kita akan menyinggung, menghibur, lucu, garing, atau berfaedah untuk publik. Kita bisa cuek, karena kita nggak merasa punya audiens.

2. Kita jadi bisa melatih diri untuk lebih produktif.

Pernah nggak elo bikin post atau konten, trus post itu lakuuuu banget, bahkan jadi viral? Kalau pernah, berarti elo pernah merasakan sensasinya menjadi “tenar sesaat”.

Nah, biasanya, ketika kita “tenar sesaat”, kita jadi nggak bisa move on. Post tersebut—berserta komen-komennya—dibaca-baca melulu. Rasanya orgasme, deh, ngeliat statistiknya. Kita pun jadi agak mabuk kepayang, dan berpikir gimana caranya bikin post yang viral seperti itu lagi.

Kita malah bisa jadi nggak produktif, karena nggak terpicu untuk membuat ide-ide baru, berhubung kita berpatokan ke post yang viral itu melulu.

Sebaliknya, kalau blog kita nggak ada yang komen, kita juga jadi bete, malas nge-blog, sehingga ujung-ujungnya nggak produktif juga, hihihi.

Dapat banyak komen salah, dapat sedikit komen salah! Apa sih, maunya? :D

3. Kita jadi nggak diperbudak oleh “tuntutan publik”.

Gue perhatikan, ada beberapa blogger / vlogger / content creator yang tampak terlalu tergantung kepada “tuntutan publik”. Akibatnya, tulisan mereka jadi terlalu “aman” (karena takut dikritik), dan konten mereka jadi terlalu berpatokan kepada “tulislah apa yang ingin dibaca publik” (gue nggak suka, lho, sama saran ini. More about this later on). Trus, kalau nggak dapat engagement atau komen, mereka jadi malas-malasan untuk nge-post.

Sekali lagi, gue paham, sih, bahwa semangat berkarya kita bisa padam kalau nggak dapat “bensin” komen. But in my opinion, if you are a true blogger / content creator, you will always want to write and create, with or without audience.

Tadi gue sempet menyebutkan bahwa gue sebel sama saran “tulislah apa yang ingin dibaca publik”. Soalnya, menurut gue, konten terbaik adalah konten yang jujur dan sesuai passion kita. Hal ini gue saksikan sendiri berkali-kali, deh. 

Contoh pertama, Agung Hapsah.

Agung adalah vlogger anak muda, tapi konten vlognya nggak seperti konten vlog kebanyakan dedek-dedek jaman sekarang (yang mayoritas isinya cuma cerita keseharian, cerita jalan-jalan, atau bikin challenge ini-itu). Agung often talks about geeky technology stuff. Tapi berhubung passion Agung memang di situ, vlognya tetap keren dan berbobot, karena dibuat dengan sepenuh hatinya.

Contoh kedua, post ini.

Hari gini, orang mainnya udah ke Disneyland dan Universal Studios, seus. ‘Ngapa gue malah ngomongin Dufan? Emangnya berfaedah? Logikanya enggak. Tapi karena gue suka banget sama industri amusement park dan karena gue memang sayang Dufan, post tersebut gue buat dengan sepenuh hati, sehingga Alhamdulilah, ada aja yang merespon. Ciyeeee.

Intinya, jujur itu penting. Kejujuran juga akan menunjukkan, kita content creator yang seperti apa. Berkualitas atau nggak? Awkarin kayaknya jujur banget, tuh, kalau nge-vlog. Tapi jadi kelihatan juga ‘kan, dia content creator macem apa.

Bicara soal Awkarin, artikel ini bisa jadi viral, salah satunya karena gue tulis tanpa kekhawatiran terhadap respon publik. Pas gue baru tau siapa itu Karin Novilda, gue langsung gemeeeees banget pengen nulis tentang dia. Gue juga mikir, “Bodo ah. Gue mau nulis pendapat gue sejujurnya. Toh belum banyak orang yang baca Youthmanual, so nobody will read it, anyway. Bebashin, shaaay… lemesin!”

Maka lahirlah artikel tersebut, yang pada masa itu merupakan artikel pertama yang terang-terangan menyatakan kontra terhadap Awkarin.

“Keuntungan” ini nggak dimiliki oleh media-media besar yang pembacanya banyak seperti Hai Online atau Provoke, sehingga tulisan-tulisan mereka tentang Awkarin mereka cenderung “aman” dan netral. Mungkin mereka mikir, “Kalau bala-bala Awkarin protes gimana? Kalau Om Oka baca gimana? Nanti kita digebukin satu Takis!” (eits, waktu itu Karin belom kenal Takis, apalagi Om Oka, ya)

My point is, menulis tanpa ketakutan dan beban itu menyenangkan sekali, dan bisa mendorong kita untuk membuat tulisan / vlog / konten yang jujur (tapi jujur yang terdidik, ya. Bukan yang asal goblek) dan “datang dari hati”.

I promise you, it can lead you to great things.

INTINYA, TIPS NGE-BLOG-NYA ADALAH…

Sekali-kali, coba, deh, untuk…. matiin fitur komen dulu. Jeng jenggg! Sementara aja.

Tujuannya, supaya kita bisa memaksa diri kita untuk terus menulis secara “mandiri”, tanpa tergantung dengan dengan pembaca. Jangan hanya termotivasi oleh respon. Try to motivate ourselves from within, alias coba untuk terus semangati diri sendiri, walaupun nggak ada orang yang komen di blog kita. Just write, write, write what excites you, sesuka hati, tanpa takut tulisan kita akan dicela publik.  Toh, kanal “mencela”nya udah dimatikan.

Tentunya, kita juga jadi nggak bisa mendapat respon positif, ya, but I still think this is a good thing, supaya kita terbiasa menulis karena memang ingin menulis, bukan karena ingin dipuji atau diberi validasi. Ihiiiy... ntap, gan.

Mematikan komen atau interaksi dengan publik secara permanen bukan hal yang oke juga, sih.  Jadi cukup sementara aja kali ya, terutama kalau hati masih galau-galau nggak pede gimanaaa, gitu. Yang penting, sampai kita bisa melepaskan "ketergantungan" terhadap respon dari pembaca. Ihiiiy, ntap... gan (2).


(image: missmoss.co.za)

32 comments:

  1. Mau komen oot dari tema. Tapi tadi nyinggung soal tulisan Dufan.

    Tertarik banget sama tulisan-tulisan berbau sejarah di blog ini. Dimana kalo di blog lain kadang aku susah cernanya. Makanya aku nge-fans, kak! :D

    Pr banget juga buat aku untuk nemuin keunikan dari diri sendiri sekaligus bisa kasih value buat pembaca.

    Mungkin karena terbiasa kebawa arus ya. Bukan berarti gak real sih, cuma mainstream aja. #sedih :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, nggak ada masalah banget kok ngebahas topik-topik mainstream! Aku bener-bener nggak menentang hal itu. Walaupun mainstream, tapi kalo disampaikan dengan sepenuh hati tanpa beban dari pirsawan ((pirsawan)), pasti hasilnya oceh :D

      Delete
  2. Noted banget Mba Leija, itulah mengapa aq bataah banget mantengin setiap post baru di blog ini, tulisannya antimainstream. Karena aq pun suka bosan dg tulisan2 normatif yang aman2 aja. ada blog yang tulisannya galak tapi menurutku posisinya tetep cari aman, jadinya yaa tetap membosankan. Meskipun kalau disuruh antimainstream kayak dirimu aq belum bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Tia! :D Tapi aku nggak anti-mainstream, lhooo. Cekidot komenku untuk Lia di atas, yaaa.

      Delete
  3. Samaa, udah ga sedih kalo ga ada yang komen, tapi ya seneng banget sih kalau ada yang mampir.
    Postingan yang paling aku suka dan paling lemes biasanya malah sepi komennya, tapi karena nulisnya pake hati, aku seneng tiap baca ulang. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting kitanya puas dan hepi, yah!

      Delete
  4. Jadi teringat 1 artikel Laila A. di YM tentang satu isu sensitif kemudian belakangan diserang komen komen yang aku bacanya errrr errrr (udah kaya lagi maen fb) :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, tapi lumayan yaaa, traffic artikelnya jadi meningkat :D

      Delete
    2. Artikel yang mana, qaqa? Mau baca donk...

      Delete
  5. Hasil nggak pernah mengkhianati usaha lah yaa pokoknya! You lift me up when I need it the most kak Leeiii! *Sodorin Jon Snow*

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Hasil tidak pernah mengkhianati usaha"
      Aku suka banget sama kalimat yg satu ini, Ratri =)

      Delete
    2. *nyanyi Josh Groban you raise me up* :D

      Delete
  6. MBA LEI IDOLAKU!! (Dari jaman wedding-prep blog sampe udah jadi let the beast in dot com.)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halah halah :D Hahaha makasih yaaa...

      Delete
  7. Ahhh kok ini menyuarakan apa kata hati sekali sihh, bedanya aku masih gengsi banget matiin kolom komen *suka dikomenin soalnya* ((:

    Ini kenapa sukaaa banget sama blog ini dari pertama kali berkunjung. Teruskannn, Mba Lei! Thanks for writing this anyway!

    ReplyDelete
  8. Dalam hal ini mungkin gw agak mirip sama Mba Lei ketika awal ngeblog, 'I was already paranoid about internet..'(bedanya jaman gw mulai ngeblog, internet udah populer). Awal ngeblog nerves abis kalau ada yang baca/mampir, mending ga usah. Gw awalnya nulis karena sedang ada di salah satu lowest point, mau cerita ke temen, udah senep kali mereka dengernya, mau ditahan bisa-bisa gw nenggak lisol *lebay, pret X)*. Yaudalah nulis, lagipula gw merasa lebih bisa berekspresi dalam bahasa tulisan ketimbang lisan, lumayan rasanya agak plong. Mungkin itu salah satu alasan kenapa ngeblog masih jalan sampai sekarang, karena ngerasa butuh. Begitu juga instagram, awalnya ga mau pake nama, cuma pasang username, karena takut ditemukan sama temen. Yes I am that pathetic for no reason..hahahahaha *ketawa getir*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbeeerrr... sama bangettt! Aku juga selalu sibuk nge-set blog dan sosmedku supaya nggak gampang ditemukan hahaha. Kapan kita bekennya, nih?! :D Mungkin kamu kayak aku ya, cenderung introvert? Tapi aku mending safe than beken-tapi-lalu-sorry sih, because internet IS scary, dan netijen jaman skrg lebih skeri lagi :D

      Delete
  9. Wah, ternyata kita mulai ngeblognya pada waktu yg kurang lebih sama ya. Gua juga mulai ngeblog di tahun 2002-2003 di multiply, waktu itu masih suka komen-komenan sama Raditya Dika di blognya hahaha. Terus tahun 2005 blognya pindah ke Friendster, isinya murni galau semua hahaha. Tahun 2009 baru pindah ke blogspot, dan terus rutin nulis hal-hal yg personal, sampai hari ini.

    Blog gua, ada kalanya sepi kayak kuburan *masukin suara jangkrik*, ada kalanya banyak yg komen, sampe kadang ada yg bertengkar di kotak komentar blog gua pula hahaha. Tapi ya intinya, seperti yg lu tulis di atas, gua sadar bahwa gua ngeblog itu bukan untuk dikasih komen. Gua nulis hanya karena gua pengen nulis. Kalo tulisan kita bermutu, pasti ada aja yg respon.

    Terus berkarya dan terus jadi diri sendiri ya. Blog seperti punya kita ini, jaman sekarang jumlahnya udah tidak sebanyak dulu, dan karena itulah, berharga =)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iiiih sama bangeeet. Dulu gue juga anak Multiply hahaha. Iyes, setuju banget sama kalimat terakhirnya *tos dada sama Claude* tengkyu yah!

      Delete
    2. *ikut tos dada betigaan* Keven daku padamuh!

      Delete
  10. Aku gak pernah tau kalo komen itu penting yah buat seorang blogger lei. Aku keseringan jadi silent reader walopun sebagus apapun tulisan blogger itu. *tutup muka*
    Mulai sekarang diusahain rajin ninggalin komen deh. Hihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya, tapi paham banget, kok. Dulu aku juga males banget komen di berbagai platform sosmed. Mungkin karena org Indonesia cenderung punya sifat submisif adem-ayem diem-diem aja ya? Sementara kalo bule (Amerika) selalu berlomba-lomba kasih komen dan pendapat. Eh, tapi bukan berarti kamu harus komen tiap saat sih, cuman blogger emang biasanya jadi lebih rajin kalo rutin dikasih komen hihi. Thank you yaa.

      Delete
  11. Sebagai pembaca blog yang ga punya blog sendiri, aku malah suka minder lho Mbak kalo mau komen2 gitu..terutama kalo mau komen di blog-blog paporit yang bloggernya sendiri udah femes (Mbak Lei contohnya)

    Aku justru mikir, kalo komen begini-begitu bermutu gak ya? dianggap sok kenal gak ya? dianggap jayus gak ya? *jayuuuusssss :D
    ujung-ujungnya jadi silent reader tapi teteuup kok sering promosiin blog-blog paporit ke temen-temen..hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... jangan mikir gituuu. Komen-komen aja kok, bukan ngisi jawaban ujian :D Thank you kali ini nggak jadi silent reader, yah.

      Delete
  12. ga usah ampe blog entry dpt komen, komen gw diblog orang dikomenin/reply ama penulisnya aja udah sueneng banget.. I have to say tulisan kamu itu sudut pandangnya suka beda dgn mainstream, edgy fierce gitulah, jd seneng baca blog entrynya... nah kalo gw kok kalo mo nyoba2 edgy2 gitu jatohnya jd edgy/pinggiran yaa :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha... hati-hati jatoh, ah, kalo terlalu minggir :D Thank you ya Mbak Mawar!

      Delete
  13. Baru tau loh kalau komen itu dianggap penting sama blogger-blogger. pantesan aja ya blog orang panjang-panjang banget yang komen.

    Dari dulu suka nulis blog karena seneng aja nulis dan bagi-bagi pengetahuan. Dari dulu gue jg selalu jadi silent reader karena menganggap ya ngapain komen kalo ga penting (sampe skarang tetep gitu sih) Makanya ga pernah sedih blog gue ga ada komennya. Mikirnya kan yang penting dibaca orang dan moga-moga berguna.

    Salam kenal mbak leija. Ini saya komen sambil mikir duh ngapain komen ya, kayak ga penting.

    ReplyDelete
  14. Hihihihi....
    Baru aja terjadi sama aku, mbak Lei!
    Dapat 2 komentar di postingan, langsung semangat membara untuk nulis lagi. Padahal mood nulisnya lagi ngejogrok dua bulanan. Nasib nasib....!

    Semangat, Mbak Lei!
    Dtunggu postingan berbobot selanjutnya...

    ReplyDelete
  15. Aku pernah berada di masa, semangat ngeblog dan posting hal2 berguna, semangat ngeblog tapi isi postingan receh semua, ampe kena fase writer's block hahaha. Cuma ya itu, sempet haus komen juga tp yastralah, wong blog = diary online, ada yang komen ya syukur gada yg komen ya aku ra popo.

    Tapi tetep semangat liat statistik naik terus :) wkakaka

    ReplyDelete