Oct 4, 2016

Apakah Dunia Cuma Milik Seleb Internet yang Kece dan Eksis?


Kalau seminggu hampir berlalu, tapi trus nggak ada blogpost baru...
... percayalah, rasanya kayak konstipasi.

So many things to write, so very little time! Arrrggghhh, klasik banget, ya. Jadi maafkan, kali ini gue mau mengisi blog gue dengan langkah pemalas, yaitu me-repost tulisan gue dari Youthmanual.

Ada beberapa artikel Youthmanual yang menjadi favorit gue seperti ini, ini, dan ini (walaupun nggak laku dan nggak viral juga... *kibar bendera putih sama kemalasan membaca dedek-dedek* *teropong seleranya*) dan artikel ini adalah favorit terbaru gue.

Topik media sosial selalu jadi topik favorit gue, terutama karena sekarang ini, media sosial magnifies and glorifies everything and everyone, dari mulai orang-orang yang benar-benar berbakat dan bekerja keras, sampai orang-orang yang modal tampang doang, dan tentunya everyone in between. Ajaib, lho, kalo dipikir-pikir. 

Topik ini pernah gue bahas dengan panjang, lebar, dan awur-awuran di sini, tapi kemudian ide tersebut gue coba olah lagi menjadi tulisan yang lebih ringan, sehingga (semoga) bisa lebih dicerna dedek-dedek. Aamiin? Aamiiin...

Apakah Dunia Cuma Milik Seleb Internet yang Kece dan Eksis?

Makin ke sini, manusia makin hobi marah-marah di Internet ya, gaes? Pokoknya, setiap ada hal yang nggak sreg di hati netizen—mulai dari hal besar seperti politik, sampai hal sepele seperti jingle lagu tahu bulat—pasti digembor-gemborkan di segala online platform.

Minggu lalu, netizen di negara barat kembali marah-marah, kali ini tentang Kendall Jenner.

Melihat judulnya aja, langsung bosan nggak, sih? Kendall Jenner lagi, Kendall Jenner lagi. Memangnya nggak ada subjek omongan lain ya, selain keluarga Kardashian?

Tetapi setelah menelaah isunya, saya jadi merasa harus menulis sesuatu untuk menanggapi hal tersebut.

***

Ceritanya, beberapa minggu lalu, Kendall Jenner menjadi model pemotretan fashion majalah Vogue edisi Spanyol. Dalam pemotretan tersebut, Kendall “berperan” sebagai penari balet. Dia melakukan pemotretan di studio tari, mengenakan pointe shoes khusus balet, leotard, dan rok tutu.

Pemotretan tersebut menuai kritik dari kalangan para balerina, karena Kendall bukan penari.


Lah, memangnya kenapa kalau dia bukan penari?

Karena, akibatnya, segala pose yang dilakukan Kendall jadi salah. Posisi kakinya salah, posisi tangannya salah, pokoknya segala detil gerakan yang dia lakukan nggak mencerminkan gerakan seorang balerina.

Awalnya, saya merasa kritik dari kalangan penari ini lebay. Well, Kendall Jenner 'kan model profesional? Kalau dia diinstruksikan harus jadi "balerina", ya dia harus jadi balerina, dong.

Tetapi kemudian saya membaca surat terbuka dari seorang balerina Amerika Serikat, menjelaskan kenapa para penari geram terhadap Vogue dan gemes terhadap Kendall.

Saya pun jadi lumayan paham dan berempati.

Saya coba wakili perasaan penari tersebut di tulisan ini, ya.

Vogue adalah sebuah majalah yang sangat bergengsi. Bisa tampil dalam majalah Vogue tentunya adalah sesuatu yang warbiyasak. Semua orang—apalagi cewek-cewek—pasti ingin masuk Vogue, termasuk para balerina.

Maka mereka sedih, ketika Vogue Spanyol membuat suatu pemotretan yang berkonsep “balet”, tetapi nggak menggunakan balerina “beneran”—minimal, model yang bisa menari dan pernah les balet—
sebagai modelnya.


 Kelly Tandiono, seorang model Indonesia, adalah contoh model yang memang pernah belajar balet. Ini adalah pemotretannya untuk sebuah majalah lokal.

Mereka kecewa karena Vogue nggak memilih penari sungguhan yang sudah belasan tahun berlatih sebagai balerina, yang tahu teknik balet yang benar, dan tahu cara menampilkan detil teknik tersebut di depan kamera.

Sebaliknya, Vogue Spanyol memilih Kendall Jenner sebagai model pemotretan ini, (kemungkinan besar) karena dia sedang sangat naik daun.

FYI, Kendall bukan penari, nggak pernah les balet, dan—menurut para balerina—menampilkan detil-detil yang salah di setiap posenya.


Bayangkan kalau kamu sangat hobi menyanyi dan memang benar-benar berbakat. Kamu pun sudah belasan tahun ikut les vokal, rajin ikut kompetisi dan perlombaan, serta aktif di paduan suara sekolah. Singkat kata, sudah usaha mati-matian.

Suatu hari, seorang vlogger beken datang ke sekolah kamu, mencari penyanyi untuk diajak kolaborasi di videonya.

Tetapi akhirnya yang dipilih adalah teman kamu, yang suaranya pas-pasan banget dan nggak pernah les vokal, tetapi memang kece, cantik, populer, dan punya banyak follower Instagram.

Kamu bakal sakit hati nggak?

Faktanya, di era media sosial ini, “kecantikan” dan “kepopuleran” semakin mengungguli “bakat”, dan hal ini rasanya nggak adil untuk orang-orang berbakat.

Nggak heran kalau Awkarin dihujat habis-habisan saat dia ditampilkan dalam video klip Bad bersama Younglex.

Younglex sendiri memang telah lama konsisten sebagai rapper, tetapi Karin bukan seorang penyanyi ataupun rapper. Menurut banyak pendapat, suaranya nggak enak, bahkan offbeat. Jadi kenapa harus Karin yang menjadi pendamping Younglex? Padahal di luar sana ada banyak penyanyi atau rapper perempuan lain yang jauh lebih berbakat. Apakah hanya karena Karin beken?

Fenomena ini juga banyak terjadi di dunia blogging Indonesia. Ada banyak blogger yang sudah belasan tahun menulis—dan berusaha menyempurnakan skill menulisnya di platform blog—namun nggak pernah tersorot, apalagi diajak kerjasama atau dilejitkan oleh brand-brand besar.

Sebaliknya, ada bloggers yang baru muncul 1-2 tahun terakhir, tetapi langsung melejit dan mendapat endorse kanan kiri, mungkin karena penampilannya "menjual", aktif di medsos, dan punya banyak fans.

Kini fashion bloggers "suaranya" semakin lebih didengarkan daripada perancang busana dan editor majalah mode yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia fashion. Akhirnya berantem, deeeh...

Lagi-lagi, inilah efek dari selebriti internet. “Kepopuleran” jadi semakin mengungguli “bakat”,

Trus, gimana dong nasib orang-orang yang benar-benar berbakat? Orang-orang yang skill, sikap, dan otaknya cemerlang? Mojok dan tersisihkan oleh para kaum kece dan beken? Sedih banget :(

Contoh lainnya, nih, dikutip dari artikel ini.

Tahu Diane von Furstenberg? Beliau adalah desainer legendaris berumur 69 tahun, yang menciptakan baju bergaya wrap-dress yang menjadi iconic sampai sekarang. Fashion brand-nya sudah mendunia, dan baju-baju rancangannya sudah dipakai seleb internasional, mulai dari Madonna, Jennifer Lopez, sampai Michelle Obama.


Di Instagram, follower Diane “hanya” 1.5 juta orang, sementara YouTuber remaja Bethany Mota punya 5 juta follower. Sejak pertama kali nge-vlog tahun 2009, kepopulerannya Bethany sekarang sudah super melejit, sampai dia bisa tampil di acara Dancing with The Stars, kerjasama dengan label Forever 21, sampai masuk dapur rekaman segala.

Walaupun Bethany kece, baik, menarik, dan tampak punya kepribadian yang asyik, Bethany Mota bukan icon. Gimana mau disebut icon, kalau dia nggak punya karya?

Selain punya vlog dan video klip sendiri, apakah Bethany punya perusahaan fashion sendiri, menciptakan lapangan kerja untuk ribuan orang, dan menjadi mentor bagi puluhan karyawan perusahaannya, seperti yang dilakukan Diane von Furstenburg setiap hari?


Bethany memang cantik dan seru. Tapi cantik, stylish, dan rajin eksis nggak lantas membuat seseorang pantas dibilang icon dan “influencer” masyarakat.

Selain itu, gara-gara para selebriti internet dan medsosnya, kita kadang "lupa" bahwa motto “live life to the fullest” bukan berarti travelling setiap bulan seperti Rachel Vennya, dan #bodygoals bukan berarti punya perut setipis kertas.

Kita mungkin tahu, tapi kita jadi sering “lupa”, dan jadi susah membedakan hal-hal yang hanya enak dipandang mata sesaat, dengan hal-hal yang memang inspiratif dan harus jadi panutan untuk jangka waktu lama.

***

Bagi saya, pesan yang bisa ditangkap dari Kendall, Awkarin, dan Bethany ini adalah, punya #goals “menjadi beken dan awesome” memang seru, tetapi #goals “menciptakan hal-hal beken dan awesome” nggak kalah penting.

Apa jadinya kalau misalnya, belasan tahun lagi, #goals SEMUA anak muda adalah menjadi selebriti internet, sehingga jarang ada yang mau bekerja di balik layar? Nanti siapa yang akan jadi CEO, insinyur, ilmuan, desainer, seniman, produser, dokter, dan pengacara?

Pesan terakhir saya adalah untuk para brand, nih, mulai dari brand besar sampai online shops Instagram: saya paham, kok, kalian ingin mendapatkan profit sebesar-besarnya, dengan menyorot dan meng-endorse sosok sebeken-bekennya.

Tapi ayolah, jangan hanya mencari sosok yang enak dilihat dan sudah beken, tetapi juga sosok yang benar-benar inspiratif, atau punya karya nyata (THIS is a cool example).

Ada yang bilang, profesi guru di Indonesia kurang diminati, karena insentifnya kurang besar. Makanya, pemerintah harus menaikkan gaji dan gengsi guru, supaya banyak orang ingin jadi guru (yang baik).

Sama halnya dengan anak-anak muda yang rajin, giat, pintar, berbakat (bukan hanya berbakat tampil di depan kamera, lho!). Kalau mereka nggak diberikan insentif dan “panggung” yang layak, jangan heran kalau anak muda sekarang lebih kepingin menjadi selebriti Internet, supaya bisa dapat banyak fans, bisa aji mumpung jadi penyanyi, dan di-endorse jalan-jalan keliling dunia.

12 comments:

  1. Kak, jika dirimu tak posting blog barang seminggu...aku biasanya cuss ke youthmanual buat baca artikel artikel terbaru by Laila A dan berharap dedek dedek gemes juga ikutan baca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Subhanallah walhamdulillah, terimakasih yaaa aku selalu ditunggu, jadi serasa tukang sayur :)))

      Delete
  2. Hahaha setuju bgt sama yg di atas. Youthmanual emang jd tempat pelarian kalo kangen tulisan Mbak Lei ((: eh tapi emang seneng sama artikel" di YM sih, pembahasannya kece", risetnya top. ((kapan" nulis lagi ahh buat YM))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eeeh, ditunggu banget lho Jane! Artikel kamu waktu itu juga ada yang komen-komen, nanyain soal profesi barista haha

      Delete
  3. Kak~ aku jarang komen di blog ini, tapi sebenarnya sering mengutip perkataanmu yang keren-keren. Jadi keingat satu hal yang pingin aku tuliskan dari kapan hari, baru sempat dituangkan hari ini disini: Belajar dari Haters Oki Setiana Dewi: Tentang Hijrah, Popularitas, dan Memberikan Panggung untuk 'Selebriti' :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, keren, thank you for sharing ya!

      Delete
  4. Baru selesai bacain semua tulisan Mbak Lei di YM sampe page 20. Keren-keren!

    Melly

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kok jadi pada salah fokus ke Youthmanual gini :))) Tapi makasih banyak ya Melly :-*

      Delete
  5. Speaking of internet celebs, can you do a blogpost on your favourite influencer? Reading from this post, I'm sure there's more underrated influencer that deserves more love!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm I don't kow about underrated influencer, cuma aku sering nemu individu-individu yang keren, jenius, menyenangkan, dan inspiring banget, tapi personal branding / online presencenya lemah, sehingga nggak "beken". Kalo mereka disandingkan dengan overrated influencers, aku jadi gemessss banget!

      Delete
  6. bener banget, semua hal dan karya yang positif apapun bidangnya harus dikasih panggung lebih :)) satu sisi, aku juga rekomen mereka yang berprestasi juga harus cerdas berkomunikasi atau mungkin memang ada yg ngerjain personal brandingnya keluar (kalau2 ngarepin org dr luar kasi panggung, kadang mediapun sukanya yg negatif >.<). laff bgt artikelnya mbak as always!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, ini insight yang bagus banget sih Mbak. Memang, kalo kita wannna get noticed, personal branding dan cara berkomunikasi memang harus dirapihin. Thanks mbak PR kesayangan!

      Delete