Jul 19, 2016

Pada Suatu Hari, Saya (Hampir) Nonton Ngaben

DSCF3965

Salah satu perhelatan seni budaya yang sudah lama sangat kepengen gue saksikan adalah upacara adat di Bali. Upacara apa pun itu. Entah itu upacara Galungan, parade Ogoh-Ogoh, Omed-Omedan, apapun. Upacara bendera sekolah dasar di Bali pun mau gue tonton. Siapa tau pengibaran benderanya diiringi gamelan? #mulaingigo

Tapi kenapa upacara adat? Dan kenapa harus di Bali?

Pertama, supaya gue bisa pamer anti-mainstream di media sosial. Hahaha. Yang lain nongkrong di kafe, aku nongkrong sama pedanda. Kalcer banget nggak, sih? ("Enggak.")

Kedua, karena gue cukup sering ke Bali, tapi nggak pernah sekalipun berjodoh dengan satupun upacara adat di sana. Bahkan upacara skala kecil. Masyarakat Bali terkenal sering bolos kerja karena dikit-dikit harus upacara adat bareng keluarga atau banjarnya, lho, tapi kenapa gue nggak pernah lihat?

Gemesnya lagi, gue nggak pernah bisa datang ke Bali saat lagi hari besar mereka, baik Galungan, Kuningan, atau apapun. Padahal kalau masyarakat Bali mengadakan upacara adat di hari besar mereka, serunya nggak nangggung. 'Kan jadi tambah penasaran, yaaa.

***

Akhirnya pada suatu hari, dewa-dewa Pulau Dewata mendengar doaku.

Beberapa waktu lalu, gue, T, dan Raya pergi ke Bali, dan seperti biasa, kami membasiskan diri di Ubud. Pada suatu malam, setelah kami nonton pertunjukan Tari Legong dan Barong di Puri Ubud, kami jalan melewati alun-alun Ubud Central. Di sana, kami melihat ada sekitar selusin patung berbentuk bermacam-macam binatang aneh dipajang.

Semua patung binatang tersebut berwarna hitam atau merah polos, dengan ornamen emas. Ada binatang yang bentuknya jelas, seperti lembu, ada juga binatang yang bentuknya serem dan nggak jelas, seperti hibrida singa/naga/garuda/mantan gue. Entahlah.

DSCF3758

Mengikuti jejak turis lainnya, reaksi pertama gue tentunya foto-foto centil di depan patung-patung binatang aneh tersebut. Setelah foto-foto, baru gue nanya ke sekumpulan bapak-bapak yang nongkrong di situ. “Pak, ini patung apa?”

Dijawab, “Buat Ngaben.”

Oh. Jadi ternyata, dari tadi gue foto-foto centil di depan sarcophagus, alias peti mati yang akan dikremasi. Baiklah *melipir*

DSCF3760
Dik, sebenernya kamu itu lagi foto-foto di depan...

Payahnya, gue nggak nanya-nanya lebih lanjut. Ngaben siapa? Kenapa patungnya ada banyak? Ngabennya kapan? Di mana?

Keesokan harinya, saat kami sedang makan siang, tiba-tiba lewat iring-iringan masyarakat Bali yang berpakaian rapih dan berarakan membawa sajen. Ada apa, sih? Lagi persiapan apa? Tapi lagi-lagi, gue nggak nanya-nanya ke siapa-siapa. Pantes nggak cocok jadi wartawan.

DSCF3883

DSCF3910

DSCF3898

Sampai keesokan harinya lagi, gue, Raya, dan T belanja di sebuah toko kerajinan di Ubud. Sambil bebelian, kami ngobrol bareng bapak pemilik toko. Nah, ceritalah beliau bahwa besok akan ada Ngerit alias Ngaben masal di Ubud, yang diadakan sekitar 3-5 tahun sekali. Ya amplop, pantesan beberapa hari ini Ubud kok hawa-hawanya rame banget!

Karena melihat gue excited, si bapak pun membagi sekelumit informasi, seperti mulainya jam berapa, dan lokasinya dimana. Gue berterimakasih, lalu pamit pulang.

Meskipun gue masih agak bingung karena merasa nggak punya info yang cukup (apakah prosesinya terbuka untuk umum? Kalau ya, apa ada syarat-syarat tertentu untuk ikutan dalam prosesi?), gue tetap berniat mau menyelinap di acara Ngaben masal ini! *tonjok tinju ke udara*

***

Keesokan paginya, gue bangun dengan sigap dan langsung siap-siap. Sarapan banyak? Siap. Batre dan memory card kamera? Siap. Hape? Siap. Sendal jepit tahan banting? Siap. Mental fotografer ala-ala? Siap.

Persiapan-persiapan tersebut bukan (cuma) karena gue lebay, tetapi karena timing Ngaben masal ini sebenarnya riskan banget. Siang hari itu, kami harus check-out dan pulang ke Jakarta, sementara prosesi pembakaran Ngaben akan dilaksanakan sekitar jam 12-1 siang. Pesawat kami, sih, terbang sore. Tapi check-out hotel-nya tetap maksimal jam 1 siang. Bentrok banget, deh.

Maka dengan berat hati, gue menyiapkan hati untuk kemungkinan nggak menyaksikan kremasinya, meskipun sebenarnya gue pengen sekali. Bahkan kalau bisa, ikut ke laut untuk lihat pembuangan abu.

Dan untuk menambah kegalauan, pagi hari itu, hujan turun deras di Ubud dan nggak menunjukkan tanda-tanda reda sampai jam 10 lewat. Gue sampai sempat senewen, pasrah mau ganti piyama, trus turu maning bae.

Tapi jam 10.30, langit cerah dan matahari bersinar terang. Hujan berhenti! Hore! Gue pun langsung memacu Pak Kusir (baca: T) untuk memacu kuda kencana kami (baca: Avanza sewaan), dan nge-drop gue di pusat kota Ubud, depan Puri Saren Agung. Setelah itu, gue berpisah dengan T dan Raya, yang nanti akan ketemu gue lagi di suatu titik temu.

***

Pagi itu, Ubud chaos!

Sebenernya, Ubud—yang sehari-harinya memang biang macet—sudah terasa kacau dan super macet sejak H-2 Ngaben masal ini. Penyebab utamanya karena beberapa jalanan mulai ditutup.

Tapi pagi hari ini, kekacauan Ubud tambah rusuh karena para polisi yang mengatur lalu lintas di sekitar Puri Saren Agung sibuk teriak-teriak di megaphone dan speaker, “Mobil jangan berhenti! Jangan liat-liat, Pak! Macet! Maju teroooos!”

Biarpun begitu, gue tetap bahagia, karena setibanya di depan Puri Saren Agung, gue disambut oleh pemandangan indah ini…

DSCF3950

DSCF3948

DSCF3902

Kece, ya?

Trus, ternyata angan-angan gue untuk menyelinap ikutan prosesi Ngaben ini hanyalah angan-angan semata. Menyelinap apaan? Wong ternyata ada ratusan turis yang pada santai aja mengikuti prosesi ini, dan nggak ada satupun warga Bali yang peduli. Hihihi.

Jadi, ada banyak sekali wisatawan yang sudah tahu tentang kremasi masal ini sebelumnya. Dan seperti gue, mereka semua datang berbondong-bondong untuk menyaksikan keriaan yang (bagi kami) sangat eksotis ini.

DSCF3932

DSCF3945

Sarcophagus yang akan dibakar. Mewah, ya? Padahal ini sarcophagus rakyat jelata, lho. Nggak kebayang kalau pas Ngaben Agung, ngabennya anggota kerajaan Bali, yang sarcophagusnya bisa setinggi 20 meter, dan menghabiskan dana sampai satu em(ber).

DSCF3934
Banyak turis asing yang tampak siap mengikuti prosesi ini. Saking siapnya, pakaian mereka bisa lebih ke-Bali-Balian daripada warga Bali asli, lho. Banyak bule yang pakai kain, ikat kepala, dan kebaya lengkap. Padahal mungkin mereka kebetulan baru tahu soal Ngaben ini, trus niat syoping baju dulu.

Kalau mau nonton Ngaben, memang kita harus banget pakai sarung Bali? Untuk menunjukkan sikap hormat, mungkin sepantasnya iya, tapi sebenarnya nggak wajib. Malah siapapun yang memakai baju apapun boleh ikutan, kok, termasuk yang bercelana pendek dan tengtop. Pasalnya, lokasi Ngaben adalah di pemakaman, bukan di pura yang mewajibkan pakaian adat.

Meskipun begitu, para ibu-ibu penjual kain sepanjang jalan Ubud tetap jadi makmur, karena mereka sukses “nakut-nakutin” banyak bule untuk beli sarung kalau mau bisa nonton Ngaben. Per kain dijual 250 ribu! Inilah yang namanya taktik pemasaran.

DSCF3937

DSCF3940
Siapakah cowok-cowok keren Bali ini? Setelah diulik, ternyata mereka adalah anggota keluarga kerajaan Ubud. Trus, belakangan gue baru tahu bahwa ada Pangeran Tjokorda Bagus Dwi Santana Kerthyasa a.k.a. Tjok Gus terselip di antara mereka *kipas-kipas*

DSCF3942

DSCF3968
#Gangsters of Gianyars

Sekitar jam 11 lewat, gamelan mulai bertalu-talu, dan upacara Ngaben masal pun dimulai. Satu persatu, puluhan sarcophagus aneka rupa dan ukuran ini diangkat, diputar-putar diiringi jeritan-jeritan pemuda-pemuda yang menandunya (konon untuk membuat arwah jahat jadi bingung/pusing), trus diarak menuju setra (pemakaman) lokasi pembakaran. Meriah, sakral, dan mengundang haru turis-turis kagum, termasuk gue.

DSCF3982

DSCF3978

DSCF3985

DSCF3958

DSCF3961
 DSCF3964

Setelah sekitar 30 menit mengikuti arak-arakan sarcophagus, gue akhirnya bergabung dengan rombongan yang berjalan ke pemakaman, dan ketemu T dan Raya dalam perjalanan ke sana.

Kami pun bergabung dengan lautan manusia—warga maupun turis—yang umpel-umpelan, saling bertukar keringat, masuk ke dalam setra. Semua berusaha berdiri sedekat mungkin dengan sarcophagus yang satu persatu mulai dijejer untuk dibakar.

DSCF3987

DSCF4016

DSCF4022

DSCF4031

Sayangnya, sesuai perkiraan, kami nggak bisa menyaksikan keseluruhan prosesi.

Sampai jam 12.30, sarcophagus belum juga dibakar, sementara kalau kami nggak buru-buru check-out, bisa-bisa kena extra charge oleh hotel :( Seandainya pagi tadi nggak hujan, mungkin Ngaben ini bisa dimulai lebih awal, ya.

Yang bikin gue sedih bukan cuma karena gue nggak berkesempatan melihat keseluruhan upacaranya, tapi karena gue nggak sempat mendapat jawaban tentang sejuta simbol dalam acara ini. Kenapa ada sarcophagus yang harus ditunggangi anak kecil saat diarak? Siapa ibu-ibu yang membawa puluhan sajen ini? Apa makna chanting yang didengungkan para pedanda saat sarcophagus masuk setra? Gimana pembagian kasta dalam Ngaben ini? Berapa biaya yang dikeluarkan per keluarga? Mengapa begini, mengapa begitu? Aku ingin taaahu... semua ini itu #yousingyoulose

DSCF3992

DSCF3996

DSCF3998

DSCF4009

Tapi yang namanya prosesi adat Indonesia memang selalu bertele-tele dan ngaret *lirik semua prosesi akad nikah se-Indonesia*. Sebagai orang Indonesia, gue udah cukup terlatih menghadapi kebertele-telean dan ke-ngaret-an logistik ini. Tapi para turis mancanegara, sih, kayaknya pada pegel banget nungguin inti acara.

Maka dengan gontai, gue—bareng Raya dan T yang mukanya udah asyem kebosanan. Oh, pria-priaku yang nggak berbudaya!—meninggalkan areal pemakaman, sebelum benar-benar bisa melihat upacara Ngerit ini secara keseluruhan.

***

Biarpun begitu, gue tetap hepi, juga kagum terhadap masyarakat Bali.

Bukan cuma kagum terhadap budaya mereka yang begitu indah, detil, dan mahal, tapi juga kagum dengan sikap mereka yang terbuka banget kepada pendatang. Bahkan untuk upacara sesakral Ngaben pun, mereka terbuka mengajak turis dan pendatang untuk gabung. Mereka nggak tersinggung, caper, atau kamseu terhadap wisatawan yang ingin ikut jadi bagian prosesi ini. Sebaliknya, semua turis yang bergabung juga bersikap sangat hormat.

Nggak heran kalau budaya dan pariwisata Bali tetap jadi ikon Indonesia. Memang, membuka diri kepada dunia pastinya membawa segudang risiko, tapi secara keseluruhan, masyarakat Bali nggak takut budayanya habis tergerus globalisasi. And I think it won’t, because the more you give, the more you receive.

**Semua foto diambil oleh gue sendiri dengan susah payah. Please don't use them without permission. Terima kasih!

13 comments:

  1. Your insta would look cool! :D Kalo aku pengen banget tuh liat prosesi adat pernikahan Bali yang katanya panjaaaang banget. Pernah liat di Youtube tapi rasanya gak seru kalo gak liat langsung :D

    ReplyDelete
  2. sukak sama rangkaian kalimat ini lho mba: Ada binatang yang bentuknya serem dan nggak jelas, seperti hibrida singa/naga/garuda/mantan gue. Entahlah...

    bagian "mantan gue" nya, haha...

    cerita dan foto2nya keren bangeeet lah pokoknya. btw berarti waktu H-x itu peti2 yang ada patungnya udah ada mayat didalamnya kah? hiiyy sereem juga ya

    ReplyDelete
  3. Setujuuuu! Your photos look so cool and colorful hahahaha.

    Gapapa, mbak. Walaupun dapet info dari brosur atau apapun aku tetep cintah (pake h!) sama tulisanmu Mbak Lei :D

    ReplyDelete
  4. Tiap upacara di Bali tuh emang bener-bener ye, sarat makna. Di facebook pernah ada yang ngepost video ngaben bangsawan dan arak-arakannya lebih guedee dari ini.

    BTW entah kenapa kok aku suka merinding disko kalo liat patung-patung lembu item buat Ngaben - even dari foto lho!-, padahal ga ada unsur negatif-negatifnya acan dan maknanya ya buat jadi kendaraan si arwah. Anyway thank you for sharing kak Lei!

    ReplyDelete
  5. Aku jadi kangen Baliii (':

    Setelah pindah ke Bali beberapa waktu lalu, aku sekeluarga juga jadi suka merhatiin kebiasaan budaya mereka, khususnya si mama, sekarang suka heboh deh tiap kali ada arak-arakan lewat di jalan, hahaha.

    Nggak pernah liat Ngaben masal macam gini sih. Tahun 2014 kemarin liatnya parade Ogoh-Ogoh semalam sebelum Nyepi. Itu dasyattt banget ya Ogoh-Ogohnya! Orang Bali emang royal banget kalau soal kebiasaan budaya mereka. Pernah iseng tanya, bikin Ogoh-Ogoh setinggi lima meter aja katanya satu banjar butuh 10 juta. Anggap ada 1,000 banjar jadi total biayanya... *hampir nggak muat angka nol di kalkulator* ((:

    Btw, cakeppp Mbak Lei foto-fotonya. Aku mampir hari ini kirain ada hubungannya sama postingan terakhir di IG, HAHAHA

    Laff laff! <3

    ReplyDelete
  6. lo mau bergabung sama gerakan #cetektapiintelek gue gak Lei? :))))

    ReplyDelete
  7. my best friend is a Balinese, he married a Balinese woman and I attended their wedding. it was as exhausting as my own (javanese) wedding, 7 hari baru kelar semua prosesi, dan acaranya bok, 3 hari 3 malem (komen gw: ini lu nikah ama nyi blorong apa gimana sik 3 hari 3 malem gini) hahahaha... but it was the most beautiful wedding I attended. walaupun kalau kali2 dia mau memperbarui sumpah (ala2 beckham gitu) atau kawin lagi, gw gak akan dateng. lelah bok. ngabisin cuti pulak.

    ReplyDelete
  8. Ngakak nyembur pas liat foto si dedek centil berpose di depan... #ahsudahlah. :)))))

    Tapi ikutan syuka liat foto2nya, beruntung ya bisa liat prosesi Ngaben :)

    ReplyDelete
  9. Gue pernah komen di setatus soal bali waktu bulan puasa lalu,yang apa2 dibandinginnya sama bali isu saranya, dari nyepi,azan sampe makan babi/sapi.

    Why you people are so sirik sih?

    *maaf nyampah dan ga nyambung*

    Tapi kalo mau disambungin sama postingan mbak Lei di atas, the more you give the more you receive.. the more people get sirik. *langsung grammar kelar

    ReplyDelete
  10. mbak lei kenapa nggak checkout dulu dan barangnya disimpen di mobil
    *dibahas*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena aku mau mandi dulu setelah nonton ngaben, baru pulang ke bandaraaa :)

      Delete
  11. La, nulis ini berdua ama orang lain gak sih? Kok 1/3 awal ama 1/3 akhir kyk bukan laila yg nulis sih gaya bahasanya? Hihi 🙊

    Kyknya udah ngeblend banget nih sama dedek2 Youthmanual or dedek2 dancer 😀😀😀 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha gilule, ya gue doang dong yang nulis hihi. Justru ada beberapa humor sarkasme di 1/3 awal ada 1/3 akhir tulisan sini, yang mungkin nggak ketangkep.

      Delete