Jul 12, 2016

Hari-Hari Playgroup

DSCF3056

Apaaa? Anak gue udah mau TK? Perasaan baru kemarin keluar dari perut gue! Huaaa…

But yes, bulan Juli ini, anak gue akhirnya masuk TK, setelah tahun lalu guenya sempet galau dan rempes memutuskan Raya sebaiknya masuk TK mana, berhubung jaman sekarang, TK more or less menentukan SD. Trus, nanti SD menentukan SMP. Dan seterusnya. Oh, peta pendidikan Indonesia….

Anyway, I digress!

Karena bulan ini Raya mulai TK, berarti Raya udah resmi sekolah selama dua tahun penuh. Waktu umur 2, Raya sekolah di kelas Toddler. Waktu umur 3, Raya sekolah di kelas Playgroup.

FYI, sekolahnya Raya masih sama terus, dari jaman dia kelas Toddler sampai TK nanti.

Waktu sekolah Toddler, kegiatan sekolah Raya cukup garing, hihihi. Namanya juga sekolah bayi ya, jadi masih basa-basi. Durasi serta frekuensi sekolahnya pendek banget, dan hampir nggak pernah ada kegiatan apa-apa, which I believe is right juga untuk anak toddler.

Nah, di kelas Playgroup, baru ada, deh, segelintir kegiatan yang agak bermakna.

Kebetulan sekolahya Raya adalah sekolah nasional old-school,  klasik dan sederhana yang udah berdiri sejak tahun 80an (pegel ya, berdiri tiga dekade… #zzz #lawakanlawas). Prinsip-prinsip dasarnya kuat dan cucok sama gue. Salah satu prinsipnya adalaaah… sekolah bocah ya main-main santai aja kaleee, nggak usah kebanyakan ektiviti, hihihi.

Alhamdulillah, gue cocok banget sama prinsip ini. Jadi Alhamdulillah juga, gue (dan Raya) sans ajah ngeliat sekolah-sekolah lain yang tiap minggu mengadakan acara field trip, show and tell, craft projects, performance, dan sebagainya. To each of their own aja, kok.

Anyway, pas Raya udah playgroup, Raya baru mulai menjalankan beberapa kegiatan yang bermakna di sekolahan. Apa sajakah itchu?

1. Karya wisata

Beberapa bulan lalu, Raya pertama kali pergi karya wisata bareng sekolahnya.

Tujuan karya wisatanya adalah Museum Kebangkitan Nasional di daerah Senen. Kegiatannya, sih, cuma piknik di halaman museum, makan-makan, nyanyi-nyanyi, keliling kota sebentar naik bis, trus balik lagi ke sekolah (eaaa, masuk museumnya aja enggak). Total durasi door-to-door-nya tiga jam aja. Sederhana dan basa-bas :D

Kegiatan karya wisata ini nggak bisa gue pamer-pamerin di sosmed, soalnyaaa… gue kagak boleh ikut. Bukan hanya gue, tapi seluruh orang tua murid yang lain. Bahkan nggak ada perwakilan ortu atau chaperone yang boleh ikut.

Selain itu, guru-guru Raya juga pada nggak pegang handphone. Kalau ada emerhensi, kepala sekolahnya ikut, kok, dan beliau lah yang handphone-nya stenbe.

(FYI, sehari-hari, guru-guru Raya memang nggak boleh ada yang bawa hape saat ngajar atau berkegiatan bareng murid. Jadi para ortu nggak bisa ngontak gurunya kapan saja, dan nggak pernah dikasih laporan live report anaknya ngapain aja di kelas. Kalau ada emerjensi, bisa telpon ke kantor sekolahan, kok.)

Karena guru-guru pada nggak ber-hape, maka kalo ada ortu yang cemas karena takut anaknya ngompol, nangis, atau nggak mau makan selama karya wisata… ya, bodo amaaaat, hihihi. Harus yakin dan pede, dong, anaknya bisa pergi mandiri bareng guru dan teman-temannya.

Menurut gue, ini latihan mandiri yang bagus, ya. Nggak cuma untuk anaknya, tapi juga ortunya.

Nah, karya wisata ini adalah kegiatan luar sekolah pertamanya Raya. Alhasil, para ortu pada heboh! Pagi-pagi semua udah siap stenbe di sekolahaan, untuk melepas anaknya berangkat naik bis. Termasuk gue? Ya iya, dooong :D

DSCF3048

DSCF3076

Sesi pelepasan anak karyawisata ini lebheynya warbiyasak, melebihi lebheynya pelepasan rombongan haji. Ada seorang ibu yang beneran keluar airmata, dan ada seorang bapak yang kasih pesan "Nyetirnya ati-ati ya, Pak!" ke Pak Sopir Bis dengan tatapan streng dan mengancam. Nggak kebayang pas nanti melepas anaknya di meja akad nikah, yaaa… Celemmm.

DSCF3067 

DSCF3071

Alhamdulillah, karya wisatanya berjalan lancar, aman sentosa. (Katanya sih) Nggak ada anak yang nangis, rewel, ngompol, atau ngambek makan. Berhubung cah lanangku cuexxx dan introvert, tentu saja dese nggak reliable pas ditanyain, jalan-jalannya seneng apa nggak. Tapi kalo dari hasil potret-potret para guru selama karya wisata, gue menyimpulkan Raya cukup hepi. Ihiiy… Udah bisa pergi sendiri nih, yeee.

2. Hari Kartini

Seperti banyak sekolah lain, pada hari Kartini, sekolah Raya menghimbau murid-murid Playgroup dan TK untuk memakai baju daerah.

Sebenarnya gue termasuk orang yang heran, apa hubungannya hari Kartini dengan baju daerah. Sebagai orang yang sok kritis, biasanya gue nggak suka, nih, sama tradisi-tradisi yang nggak relevan kayak gini. Tapi anehnya, gue sama sekali nggak keberatan dengan tradisi baju daerah pas Kartinian ini.

Kenapa? Karena Raya anaknya tradisionil banget, sis! Nggak tau kenapa, Raya, nih, anaknya Indonesia banget. Nggak suka sama hal yang kebule-bulean, tapi amused banget sama berbagai ritual dan tradisi Indonesia. Cocok, deh, jadi dukun manten.

Dulu gue kira ini hanya sekedar fase, jadi gue belum mau GR. Tapi Alhamdulillah, minat ini bertahan sampai sekarang, tanpa ada dorongan dari siapa-siapa. Dengan demikian, biarlah anak gue belum bisa bahasa enggres sama sekali—bahkan pronounciation Inggrisnya bak pembantu Tegal (“sow!” (maksudnya, show), “fisss!” (maksudnya, fish))—dan punya cita-cita ikutan kakak-kakak rombongan ondel-ondel yang suka ngamen di jalanan, tapi penting akar Indonesianya tertanam kuat. Lumayaaan...

Akibatnya, gue menyambut himbauan berbaju daerah ini dengan gegap gempita.

Biasanya, untuk Kartinian, ortu mendandani anaknya dengan baju adat sesuai garis keturunannya. In Raya’s case, pilihannya adalah baju adat Sunda, Bugis, atau Minang. Atau paling banter, tergantung baju adat apa yang tersedia di tempat penyewaan, hihihi.

Tapi buat gue, Raya HARUS pake baju Betawi.

Kenapa? Karena gue selalu bilang bahwa Raya itu anak Jakarta. Raya lahir dan besar di Jakarta. Raya udah akrab sama suasana Jakarta, mulai dari udaranya yang panas, jalanannya yang macet, orang-orangnya yang seru, aneh-aneh, dan kreatif, sampai aktivitasnya yang dinamis.

On top of that, sejak umur dua taun, Raya cinta banget sama ondel-ondel dan hapal banyak lagu khas Betawi. Pokoknya si bocah lekat banget, deh, sama budaya tradisional Betawi. Rasanya aneh, deh, kalau harus memakaikan Raya baju Sunda, Bugis, atau Minang, sesuai garis keturunannya.

So, baju pangsi it is!



Baju pangsi—alias baju khas Betawi—sebenernya guampang banget dijahit sendiri. Tapi gue bertekad, baju pangsi Raya harus lengkap dengan sabuk haji, peci, dan goloknya. Untuk itu, gue harus cari tempat jualannya. Relain beli aja, deh, bukan sewa. Itung-itung ikut melestarikan budaya Betawi, ya.

Dari hasil Googling, ketemu lah penjual baju adat Betawi di daerah Jl. M. Kahfi, deket Setu Babakan situ.

Yang bikin terharu, menjelang hari Kartini itu, gue lagi terjebak kerjaan banget. Akhirnya yang berangkat ke Setu Babakan bokap gue aja, dong, bareng Raya yang kudu ikut untuk nge-fitting ukurannya. Sore-sore, macet-macet, tapi bokap berangkat aja tanpa banyak tanya atau ngeluh. Bapakkuuu… aylafyu bapakkuuu…

Bokap pun beli baju pangsi pleus segala aksesorisnya, komplit dengan sepasang boneka ondel-ondel dan sendal kulitnya. 

Sebagai pelengkap, pas hari-H, gue gambarin Raya kumis palsu pake pensil alis, dan nggak lupa memakaikan cincin-cincin akiknya. 

DSCF3177 

DSCF3180

Cerita singkat tentang cincin akiknya Raya.

Tahun lalu, gue punya sopir yang sayang banget sama Raya. Nah, Raya suka mainin cincin-cincin akik si Pak Sopir. Maka pada suatu hari, si Pak Sopir pergi ke tukang cincin untuk bikin cincin akik child-size enam bijik buat Raya. Warrrbiyasak.

3. Pentas Seni

Di akhir tahun ajaran kemarin, sekolah Raya mengadakan acara Pentas Seni untuk anak-anak Playgroup dan TK.

Agendanya standar aja, sih. Intinya, anak-anak mementaskan 1-2 lagu yang sudah mereka pelajari sejak beberapa bulan sebelumnya.

Untuk anak-anak Playgroup, Pentas Seninya nggak punya tema atau jalan cerita tertentu. Pokoknya mereka dibagi ke beberapa kelompok, trus tiap kelompok nyanyi dan nari lagu yang berbeda-beda. Udah, gitu aja.

Serunya, Pentas Seni ini super dirahasiakan dari para orang tua. Jadi meskipun para murid latihan berbulan-bulan, sebelum hari-H, para ortu nggak dikasih bocoran sedikit pun anaknya bakal mementaskan apa. Kostum pun diurus sepenuhnya sama sekolah.

Pokoknya ortu tinggal datang, duduk, dan nonton.

Lucunya, anak-anak juga di-brainwash dengan super efektif oleh para guru, untuk nggak membocorkan soal Pentas Seni ini ke para ortu. Jadi, tiap ditanya “Kamu nanti nyanyi lagu apa? Gayanya kayak gimana?” Raya (dan teman-temannya) kayak on cue nggak jawab, jawab tapi asal-asalan, atau mengalihkan pembicaraan. Matanya pake ngawang pura-pura bego segala. Duileee, kecil-kecil... The parents really had to guessed real hard until D-Day. Guru-gurunya canggih, deh. Antara punya ilmu hipnotis Pak Tarno atau ilmu cuci otak agen intelijen.

Seperti ortu rookie pada umumnya, saat hari-H, gue meweeek wek wek ngeliat Raya tampil. Soalnya Raya ‘kan anaknya penuh kecemasan (persis kayak ibunya) dan bukan tipe anak yang suka tampil di depan orang banyak. Jadi gue khawatir, anak gue bakal ngadat di panggung. Minimal keluar air mata buaya.

Selama berminggu-minggu sebelum hari-H Pentas Seni, setiap ngejemput Raya sekolah, gue bakal nanya ke gurunya, “Raya mau latian buat Pentas Seni?” Dan tentu saja dijawab, “Mau, Buuu… Raya pinter dan berani, kok!”

Tapi ‘kan siapa tau sang guru hanya menghiburkyu saza.

Tapi Alhamdulillah, cah lanangku beneran perform dengan lancar, kece, dan nggak pake ngadat. Mukanya tetep kecut, sih, but then again, kebanyakan anak-anak yang lain juga pada gitu, hihihi. Tegang semua, ya.

Bangga!

Selamat jadi anak TK, cayangku. Akhirnya Raya bakal sekolah tiap hari juga, nih. Ibu antara hepi karena jadi punya me-time lebih banyak, dan nelongso karena harus gedombrangan nyiapin dan nganterin Raya sekolah tiap hari, dan lebih pagi pula. Huft. #momlyfe

13 comments:

  1. Mbak Leila...
    Cincin Raya gak nahan deeehhh!
    Berasa kayak adu ayam!:D
    #ehhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, kayak juragan sabung ayam ya :D

      Delete
  2. Aaakkk makin naksir sama sekolahnya Raya.. Tapi kalo dari Cinere mah macet amat pagi2 ke sana T_T

    Selamat jadi anak TK ya Raya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Tante Shanti! Iya yah, dari Cinere mah ribet huhuhu. Salam kiss buat Nara ya, yuk main ke kantor lagi.

      Delete
  3. Halo kak lailaaa...

    Sekian lama jadi SR akhirnya tergerak juga buat coment disini hihi..


    Aku selalu suka sama pemikiran kak laila, memberikan insight baru apalagi mengenai dunia pendidikan..


    Btw, boleh dibisikkan hasil survey sekolahnya kak? Thank youu :)

    Nartie.dteam1411@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo, boleh nanti aku email yaa.

      Delete
  4. laila... kok aku ikut terharu ya raya udah mau TK.. selamat menempu TK ya raya.. semoga semakin membanggakan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaa makasih Pani! Jibril juga nggak kerasa taun depan sekolah ya Pan?

      Delete
  5. Buseeeet itu geng ibu-ibu nganter anak apa senior ospek fakultas? Tsakep-tsakep amat.

    ReplyDelete
  6. Kenapa gue ngerasa si Raya dipakein baju Betawi karena udah ada modal cincin batu akik? Huahhahahahaha... Jadi kayak acara2 fesyen gitu loh, source of inspiration. Selamat naik ke TK ya Raya, semoga makin pintar, dan yang jelas makin baik hati. Btw, gue sama kayak lu, oldschool abis kalo soal milih sekolah. Sekolah Abby pas di Jakarta, isinya main melulu, gak ada tuh belajar angka atau huruf, dan sekolahnya sudah berpengalaman puluhan tahun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muahahaha, tapi beneran dia nge-fans jadi Abang Jampang, kok! Wih, canggih Abbyyy... sekarang ini di Auckland udah lanjut sekolah Le?

      Delete
  7. hallo assalamualaikum kak laila :)
    siaku yg SR akhirnya ikutan komen pas bgt karena lagi cari cari sekolah buat anak.
    aku suka tulisan kak laila karena ditulis dari sudut pandang yg beda apalagi tentang pendidikan anak, keep writing ya kak...
    kalau tidak keberatan boleh ikutan dibisikin juga hasil survey sekolahnya kak?
    makasih sebelumnya :)
    minnitities@yahoo.com

    ReplyDelete