Jan 9, 2016

When in Berlin: Gemäldegalerie


Melanjutkan cerita tentang kunjungan gue ke berbagai museum di Berlin kemaren, kali ini gue mau cerita tentang museum Gemäldegalerie. Cyuuusss...!

(oya, karena gue nggak foto-foto sama sekali, semua foto di postingan ini berasal dari sumber lain, ya)

Apa itu Gemäldegalerie?

Gemäldegalerie (yang artinya adalah "Galeri Lukisan") adalah sebuat museum lukisan klasik Eropa, yang menyimpan koleksi-koleksi lukisan penting dari abad ke-13 sampai 18.



Museum ini terdiri dari 53 hall yang memajang 3,000-an koleksi lukisan, termasuk masterpieces dari pelukis-pelukis legendaris macem Raphael, Titian, Bruegel, Jan van Eyck, Rubens, Goya Boticelli, dan terutama Rembrandt.

(Gemäldegalerie punya 16 lukisan Rembrandt—terbanyak dibandingkan museum-museum lain di dunia—sampe-sampe Rembrandt punya ruangan khusus sendiri di sini).

It’s not Louvre, but this museum is still quite something! 

Kenapa Tadinya Gue Nggak Mau Ke Gemäldegalerie

Karena ada Raya!

Di dunia ini, ada banyak macam museum. Misalnya, museum sejarah, museum sains, dan tentunya museum seni. Museum seni sendiri bisa dibagi lagi ke banyak kategori.

Dari semua kategori museum seni yang ada, gue paaaaaling suka museum lukisan klasik, khususnya yang memajang karya Old Masters alias pelukis-pelukis Eropa sebelum abad ke-19, dari jaman Middle Ages sampai Renaissance.

Persis seperti Gemäldegalerie.

Trus, kenapa, dong, nggak pengen dateng ke Gemäldegalerie?

Sekali lagi, karena ada Raya!

Bok, mana mungkin gue berkunjung ke museum “serius” dalam durasi waktu yang lama (banget) bareng Raya, trus berharap nggak diganggu bocah? Kalo kata Fauzi & Fauzan, "Mimpiii... miiimpi!".

Malah, pada kunjungan ke Berlin ini, gue mencoret Gemäldegalerie dari daftar things to see, karena Gemäldegalerie adalah tempat yang sangat pengen gue resapi dengan khusyuk, tanpa gangguan, dalam durasi waktu yang lama.

Biasanya gue perlu waktu sekitar 2-2,5 jam, lho, untuk keliling di sebuah pameran besar yang nggak gue suka-suka amat. Gimana di museum yang koleksinya gue minatin banget, kayak Gemäldegalerie? Perlu bawa tenda dan sleeping bag nggak, sih, buat sekalian nginep?

But I was with my son, dan Raya nggak mungkin betah berlama-lama di dalam museum “serius” begini. Huftttt.

Prediksi gue, kalo gue nekat dateng ke Gemäldegalerie sambil bawa Raya, pasti durasinya nggak akan lama dan gue akan merasa amat, sangat kentang [kena tanggung -red]. Kalo gue ngerasa nggak puas mengunjungi Museum Gajah, besok-besok bisa balik lagi, shayyy. Kalo gue nggak puas di Gemäldegalerie, balik laginya gimanaaaa?! *korek kantong Doraemon, cari pintu kemana saja*

And that is why, gue tadinya memutuskan untuk nggak ke Gemäldegalerie sama sekali. Abisnya, daripada nanti gue kentang lantas sakit hati, mending nggak usah icip-icip sekalian, deh.

Kayak prinsip menjauhi narkoba, ya? Mbeeer.

Kenapa Pada Akhirnya Gue Ke Gemäldegalerie Juga

Pada suatu hari di Berlin, gue dan Raya kebetulan ngelewatin Gemäldegalerie, and I had nothing else better to do. Maka setelah mengucapkan ikrar sumpah bakal ikhlas kalo kunjungannya kentang, gue memutuskan untuk masuk aja, deh.

Yang bikin hati makin gamang, karena satu dan lain hal, waktu itu gue mengunjungi Gemäldegalerie cuma berduaan Raya. Jadi kalo Raya rewel, kebosenan, pengen pipis atau pup, ya harus gue atasi sendiri di tengah-tengah kekhusyukanku melototin lukisan. Dengan kata lain, resiko kunjungan gue jadi kentang semakin besoaaarrr... groaaarrr...! #momlyfe

Kesan Pertama…


Secara bangunan, Gemäldegalerie looks really boring. Bangunannya nggak mencerminkan atmosfer museum seni, tapi kayak bangunan biasa aja. Apalagi façade-nya Gemäldegalerie cuma abu-abu persegi gitu doang. Membosankan, eymmm. 



Pas masuk pun, entrance dan lobi-nya masih bernuansa kantor pemerintahan. Datar dan nothing impressive.


Tapi isi museumnya, sih, jangan tanya. Gokil banget!

Seperti yang udah gue sebut, museum ini terdiri dari 53 hall yang memajang 3,000-an lukisan, termasuk masterpieces dari Old Masters legendaris. Di main gallery-nya aja, ada 900 lukisan yang dipajang.


Mana sleeping bag-kuuu?! Aku mau minep seminggu!

The Visit

Saat gue berkunjung, kebetulan Gemäldegalerie sedang mengadakan special exhibition, alias pameran khusus, berjudul The Boticelli Renaissance


Sekilas info, Sandro Boticelli adalah seorang pelukis Italia legendaris dari era Renaissance awal.

Dan walaupun elo nggak ngikutin seni-senian, elo pasti familiar sama beberapa lukisan Boticelli. Soalnya, sama seperti banyak pelukis legendaris lainnya, karya Boticelli sering dicetak ulang di berbagai kartupos, kaos suvenir, sampe poster-poster yang dijual di pinggir jalan. Sosok Venus di salah satu lukisan Boticelli aja tercetak di uang koin 10 sen Euro versi Italia, lho.

Ibarat lukisan Monalisa-nya Da Vinci atau lukisannya Sunflowers-nya Van Gogh, karya-karya Boticelli udah jadi memori visual kolektif kebanyakan orang. 

 
Birth of Venus, karya Sandro Boticelli

Primavera, karya Sandro Boticelli


Bagi gue, special exhibition ini entah keberuntungan atau musibah. Pasalnya, tanpa special exhibition sebesar The Boticelli Renaissance aja, Gemäldegalerie udah bikin gue megap-megap tegang, cemas nggak bisa puas liat-liatnya.

Lah, ini pake ditambah pameran khusus sekeren indang! Kzl! Resiko perasaan kentang sudah pasti makin besar!

Dan bener aja.

Pada akhirnya, selama kunjungan gue yang pertama (dan mungkin terakhir) ke Gemäldegalerie ini, gue hanya sempet nongkrong di special exhibition The Boticelli Renaissance, tanpa sempet nyentuh sedikitpun permanent exhibition alias “isi” museum Gemäldegalerie yang sebenarnya. Prettt, pret, pret!

Jadi Gimana Pameran Boticelli-nya?

It was amazeballs. Truly amazeballs. It is very much my kind of thing.

Dan ternyata, The Boticelli Renaissance indyang emang special exhibition yang cukup besar. Dia berlangsung dari September 2015 kemaren sampai Januari ini (it’s still on, Berliners!), dan pihak penyelenggara pun bikin promo yang cukup keren.

Sampe dibikin trailer pamerannya, mak! Adegannya adalah reka ulang karya-karya monumental Boticelli, dengan setting modern di berbagai penjuru Berlin. Kok pandai, sih?



 

Oya, meski pameran ini adalah special exhibition-nya Sandro Boticelli, bukan berarti pameran ini menampilkan SEMUA lukisan karya dese, lho. Cuma sebagian aja. Lukisan masterpieces-nya mah tetep aja berada di museum aslinya, misalnya, galeri Uffizi di Firenze, Italia. Nggak diboyong ke Gemäldegalerie.

Jadi di pameran ini ada apa aja?

Pameran ini menampilan tiga section alias tiga bagian.

1. Pertama, section yang memajang karya-karya modern yang terinspirasi dari karya Sandro Boticelli.

Dengan kata lain, karya-karya seniman masa kini gitu, deh, tapi yang mengadaptasi, mengambil ide, atau "mlesetin" lukisan Boticelli. 


Salah satu karya yang bikin gue pengen pingsan di tempat adalah karya dari David LaChappelle.

Intermejo dikit, yak.

Di dunia ini, cuma ada dua seniman modern yang konsisten gue suka dari dulu sampai sekarang, yaitu pelukis Mark Ryden dan fotografer David LaChapelle.

Selama ini, gue cuma bisa mengamati dan mengelus-elus karya mereka lewat internet atau buku, tapi TANPA SEPENGETAHUAN GUE, di special exhibition The Boticelli Renaissance ini, ada salah satu karya fotografinya David LaChapelle!!!

PINGSAN! BANGUN! PINGSAN LAGI!

Karya David LaChappelle ini—yang merupakan plesetan dari karya Mars and Venus-nya Boticelli—dipajang tepat di depan pintu masuk utama Gemäldegalerie, and I did NOT expect to see a LaChapelle piece in front of me, untuk pertama kalinya dalam hidupku! Depan mata kepala sendiri! Segede-gede bagong pula! Grrrrraaaaaah! *menggelepar*

Mars and Venus, karya Sandro Boticelli

Rape of Africa, karya David LaChapelle. Yes, that's Naomi Campell.


Rasanya pengen ngejerit dan ngeremes tangan seseorang, tapi tangan siapa? Masa’ bule random di sebelahku?

Akhirnya gue cuma bisa nyebut dalam hati, “Ya Tuhan, akhirnya bisa ngeliat karya Lachapelle asli depan mata, tanpa direncanakan… Subhanallah walhamdulillah…” Inner monologue banget, kayak dubbing suara hati tokoh sinetron.

Selain LaChapelle, section ini juga menampilkan beberapa karya seniman modern keren lainnya yang menginterpretasikan atau nge-“plesetin” karya Boticelli.

Birth of Venus-nya Boticelli, versi seniman Tomoko Nagao...

 
... versi seniman Rineke Dijkstra

2. Kedua, section yang menampilkan karya-karya klasik yang juga terinspirasi dari karya-karya Boticelli, baik disadari atau tidak oleh senimannya, dan diakreditasi ataupun nggak.

Bagian ini menampilkan lukisan-lukisan klasik yang BUKAN karya Boticelli, tapi mengandung unsur yang terinspirasi oleh sang maestro. Bukan plagiat, ya, tapi cuma ngambil salah satu unsur lukisannya Boticelli, misalnya, temanya, teknik menggambarnya, atau palet warnanya aja.

Seru, sih, ngebanding-bandingin kesamaan unsur antar berbagai lukisan dengan lukisan-lukisannya Boticelli. Kayak main Spot The Differences gitu, lhooo. Apalagi kesamaan unsur antar lukisannya kadang tipiiiiiis banget. Jadi banyak, tuh, lukisan yang kayaknya sama sekali nggak similar sama karya Boticelli, tapi para art historian bilang terinspirasi dari Boticelli juga. Jangan-jangan art historian-nya pada ngarang, ya? :D


Di section ini, kita bisa liat bahwa ada pelukis yang terang-terangan menyatakan, “Saya ngefans sama Boticelli dan saya terpengaruh banget sama beliau! Jadi untuk lukisan ini, saya memang ngambil beberapa ilmu dari Boticelli!” Mungkin kayak lagu All About That Bass dan Pusing Pala Berbi (syit, itu mah plagiat beneran ya!)

Tapi ada juga seniman yang nggak bermaksud plagiat samsek, cuma nggak sengaja aja bikin karya yang mirip sama karya Boticelli, karena saat ngelukis, secara nggak sadar dia sambil nginget Boticelli. Saking ngefansnya (atau saking bencinya) kali, ya? This happens a LOT in art world sampe sekarang. Jangankan pelukis atau pemusik, blogger aja tulisannya pada mirip-mirip sekarang #eaaaa.

Mungkin kayak lagu Pernikahan Dini-nya Agnes Monica dan jingle-nya Extra Joss jaman dulu, yang intronya tanpa sengaja mirip banget itu (kenapa, sih, daritadi kok perumpaan gue kurang bagus semua?!)

3. Ketiga, section yang menampilkan karya-karya dari studionya Boticelli.

Seperti banyak pelukis besar lainnya, Boticelli punya studio lukis yang menaungi banyak pelukis yang berguru sama dese.

Itulah sebabnya, kalo kita menemukan lukisan “karya Boticelli”, bukan berarti lukisan tersebut berasal dari tangan Boticelli. Bisa-bisa karya tangan pelukis lain yang berada di bawah naungan studio lukis Boticelli. Maka jangan heran kalo gaya lukisan dari “studio Boticelli” nggak konsisten sama semua. Pasti ada beda-bedanya satu sama lain. Ya, wong hasil karya pelukis yang berbeda-beda juga.


Section ketiga ini lumayan waw, sih, karena walaupun nggak semua lukisannya merupakan karya tangan Sandro Boticelli, bagusnya tetep sampe sanubari.

Ada satu lukisan yang mendapat tempat khusus di pameran ini, saking bagus dan sarat maknanya. Trus, semua orang yang berdiri di depan lukisan ini kayak kehipnotis. Bener-bener kayak in trance gitu, bengong di depan lukisannya.

(atau emang pada pura-pura ngerti aja, siiih…)

Puas Nggak, La?

Ya nggak, lah!

Seperti yang sudah gue singgung, pada akhirnya, dalam durasi sekitar dua jam di sini, gue hanycumaa sempet mengelilingi The Boticelli Renaissance, tanpa sempet nyentuh sedikitpun permanent exhibition alias “isi” museum Gemäldegalerie yang sebenarnya.

Alasannya karena Raya udah super kebosenan, dan karena museumnya udah mau tutup, hihihi. Oya, salah satu keapesan gue yang lain adalah… we came late in the afternoon! Tepatnya dua jam menjelang museumnya tutup. Kecel.

Kentangnya luar biasa!

Raya Gimana?

Sejak awal masuk Gemäldegalerie, gue setengah mati berusaha mengkondisikan supaya Raya tidur. Senderan stroller-nya gue recline sampe mentok, hood-nya gue tutup, dan gue keluarin segala mainan Raya (mobil-mobilan, binatang-binatangan plastik, dsb) supaya kalo Raya nggak tidur, minimal dese (diharapkan) anteng pegang-pegang mainan.

Secara keseluruhan, kondisinya, sih, cukup kondusif untuk Raya tidur. Anaknya udah makan, dan suasana Gemäldegalerie juga tenang kayak di perpustakaan. Jadi seharusnya Raya bisa tidur.

Pada prakteknya, NEHI. Anaknya nggak rewel, sih, tapi matanya terang seterang lampu neon, melototin gue sambil menggenggam mainannya yang nggak dimainin. Boro-boro tidur.

Maka sepanjang keliling exhibition, gue ngedorong-dorong stroller dengan tegang warbiyasak. Takut sewaktu-waktu Raya meledak “Bosen, eboooo!!!”. Rasanya bener-bener kayak ngedorong kereta isi bom.

Apalagi waktu itu gue adalah satu-satunya pengunjung Gemäldegalerie yang bawa anak kecil, pake stroller pula. Mau keliling-keliling pun jadi susah, karena dikit-dikit hampir nabrak kaki orang. Kalo ngeliat lukisan yang lagi dikerumunin pun, gue  nggak bisa nyempil ke depan. Harus sabar mandangin lukisan dari belakang aja, berhubung bawa stroller *ambil teropong*

Sebenernya, selama 40an menit pertama, Raya cukup behave karena dia diem aja. Agak senewen, sih, karena dia nggak protes, nggak main sendiri, nggak tidur, tapi juga nggak menikmati suasana. Duduk kekeus aja di dalam stroller, ketularan hawa tegang ibunya, hihihi.

Setelah sejam, Raya ah uh ah uh gelisah, dan mulai menunjukkan gejala awal mau tantrum. Di situ, gue mulai harus puk puk dan kasih pengertian, “Raya tiduran aja yah… “ “Kenapa?” “Soalnya di museum nggak boleh berisik…” “Kenapa?” “Kalo berisik, om-om bulenya marah…” “Kenapa?” “Karena pada mau liat lukisan…” “Kenapa?” Begitu seterusnya sampai akhir jaman.

But I have to say, Alhamdulillah wa syukurilah karena sampai di akhir kunjungan, Raya nggak tantrum. Cuma kebosenan dan sempet minta pup aja. So I had to be grateful about that. It definitely could have been worse!

Nelongso Nggak, La?

Keluar dari Gemäldegalerie—PERSIS seperti dugaan gue—hati gue nelongsooo banget, karena merasa kunjungannya nggak memuaskan. Walaupun hal ini udah gue duga, tetep aja hati nggak rela, hik hik hik.

Mungkin gue kedengeran lebay dan ungrateful, ya, tapi percayalah, gue memang cinta sama lukisan klasik Eropa (do I sound pretentious? Semoga nggak, ya), and so I treasured the chance of visiting such art museums so much.

Pasalnya, untuk bisa menikmati lukisan-lukisan Old Masters, gue yang tinggal di Indonesia ini harus keluar benua Asia dulu. Kalo mau ke Disneyland, seenggaknya masih ada di Tokyo atau Hongkong. Tapi kalo mau liat lukisan Old Masters Eropa secara langsung, kesempatannya cuma ada di Eropa atau Amerika.

Sehingga cuma punya 1,5 jam-an di Gemäldegalerie—tanpa punya kesempatan balik lagi dalam waktu dekat—bener-bener bikin hati gue nelongso. Rasanya kayak pacaran long distance, trus pas ada kesempatan ketemu sama si pacar, cuma bisa ketemu sejam. Kentang amat. Ciuman aja belum sempet, tuh.

Tapi ya, kalo diingat-ingat lagi, sebenernya gue harus bersyukur, sih. Setidaknya gue berkesempatan untuk menginjakkan kaki di salah satu museum lukisan terbaik di Eropa, meski cuma sebentar. I even got the nice LaChapelle surprise!

Trus, yang paling bikin hati bangga adalah Raya yang kuat behave demi nemenin ibunya. Dia tahan, lho, diiket di dalam stroller tanpa hiburan dan terpaksa bengong menatap hood stroller-nya selama sekitar 1,5 jam. I love you so much, kiddo! And Ibu owes you a big one…

… walaupun kalo lain kali Ibu ke museum lagi, kamu tetep nggak diajak dulu, yaaa… yudadahbabay.

10 comments:

  1. Wah keren mba lei, kok aku ga bisa ya menikmati lukisan lama2 gitu, kalo ke museum suka nya liat ke peninggalan macam mummy dan yang berbau gaib.
    Btw, aku baru ngeh kalo lagu pernikahan dini mirip sama jingle extra joss. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti kamu suka ke pameran keliling yang isinya makhluk ghaib macam jenglot dan tuyul gitu yaaa :))) *pernah liat di Cilandak Mall hihi*

      Untuk menikmati lukisan klasik, emang nggak bisa dipandang gitu aja sih. Supaya ngerti, biasanya aku sewa audio guide yang menerangkan sejarah dibalik masing-masing lukisan, juga menjelaskan simbol-simbolnya. Jadinya seru, deh, kayak didongengin. Kalo gak ada audio guide tersedia, biasanya aku tebak-tebak sendiri, atau pas pulang nge-Google judul lukisan dan nama pelukisnya, hihi.

      Delete
  2. waaah mbak lei, Botticelli lagi ada exhibitionnya di met museum tokyoooo :) biar puasss, yuk mareee! hihihi *ratjun*

    http://www.tobikan.jp/en/exhibition/index.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Giliiiing!

      *pecahin celengan ayam*
      *isinya kosong* T___T

      Ah, kalo temporary exhibition gini emang suka mampir di Asia sih, yaaa. Maacih Cynthia!

      Delete
  3. eh..cewe2 jaman dulu perutnya buncit yah..kayak aku sekarang..bwahaha.. #gagalfokus

    ReplyDelete
  4. Udah lama jadi silent reader. Paling suka kalo Mbak Lei (ini sok ikrib) bahas museum, pameran atau eksebisi. Fans berat d mbak pokoknya.


    Dan akhirnya nggak tahan pengen comment diposting ini. Mbak...aku pun penggemar old masters!!!! (pengennya sambil teriak ajak toss sleeping back)

    Saya nggak tau mbak sempat atau nggak, tapi di Museum Islands Berlin ada juga Alte Nationalgalerie yang juga mirip sama Gemaldegalerie..dan kayaknya dari stalking IG mbak sempet ke area itu juga kayaknya. Memang nggak sedahsyat Gemadegalerie si, dia lebih banyak pelukis Jerman, at least gedungnya nggak kayak kantoran :). But it is true, emang susah banget di Indonesia mau menikmati karya old masters.

    Tapi overall Berlin emang surga museum...aku juga museum fan mbak...seringnya suka sakaw gak ke museum, apalagi tinggal di yogya. Endingnya kalo kangen museum perginya ke Ullen Sentalu...

    Ditunggu next museum or art review-nya Mbak.

    ReplyDelete
  5. ohhh gitu ya cara menikmati lukisan.. perlu pemandu.. pantes selama ini ga ngerti-ngerti.. walo udah berusaha berbudaya gitu :P kek waktu main ke museum affandi.. liat lukisan ini dan itu ya ga ngerti feel-nya hehehehehe

    ReplyDelete
  6. Silvi: Hoyaaaaa??? Ya ampun, aku seneng banget dengernya!

    Aku bercita-cita one day pengen ke Florence, puas2in liat2 disana aaaaaa

    Iya, aku sempet ke Museum Island, tapi nggak ke Altes. Aku ke Pergammon. Ceritanya supaya jenis museum yg aku kunjungi variatif, walaupun tetep cintanya sama lukisan sih :D

    Btw aku penasaran deh. Lukisan-lukisan Ulen Sentalu kan bukan lukisan2 lama ya? Tebakanku cuma untuk mengilustrasikan keluarga kerajaan, bener gak ya? Pelukisnya siapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. OMG mbak Florence! Uffizi Gallery! Salah satu wishlist diantara segubrak wishlist museum yang saya pengen. Hermitage Museum, Musee D'Orsay, Rijkmuseum, dan museum-museum keren lainnya. Kayaknya kalo sampe ke Florence, nginep di emperan Uffizi aja rela...

      Oya satu lagi yang suka kalo ada audio guidenya. Asik banget kayak punya guide personal.

      Kalo Ullen Sentalu memang cuman keluarga kerajaan mbak. Jadi kadang nggak jelas pelukisnya siapa. Kalo dari usia ya paling tahun akhir 1800an atau awal 1900an. Lebih banyak ke cerita bagaimana kehidupan royal family Jawa. Yang asik adalah museum ini udah punya audio guide. Walaupun baru diutamankan untuk turis mancanegara.

      Selain itu kalo di Yogya juga ada Museum Affandi mbak. Cuman saya bukan penggemar alirannya beliau, jadi ya banyak gak dongnya. Itu juga kenapa saya nggak begitu suka ke museum modern art. Gak nyampe pemahamannya hehehe...

      Delete
    2. Ya amploopp... kok kamu bagaikan belahan hatiku? :)))

      Soal audio guide, iya banget. Terutama di museum seni, aku agak pantang masuk sebelum ambil audio guide hahaha. Soalnya ada orang yang bisa menikmati seni dari ngeliat bentuknya aja, nah aku gak bisa hahaha... otaknya nggak nyampee... harus tau latar belakang seniman dan/atau karyanya (lewat audio guide). Makanya kemaren di pameran "Aku Diponogoro" hepi bangeeettt krn ada Audio Guide.

      Waah, hebat yaa Ulen Sentalu udah ada audio guidenya. Aku terakhir kesana Lebaran taun lalu, belum ada kayaknya. Lewat pengamatan ngasal-ngasal, aku mikirnya lukisan-lukisan Ulen Sentalu dibuat sekarang-sekarang ini, demi kebutuhan museum. Nggak ya? Abis lukisannya tampak seger semua sih.

      Aku juga kursuk Affandi. Kayaknya kita sukanya yang realis-realis aja ya :))) Modern art aku masih rela kalo bentuknya lukisan atau fotografi (Magritte, Warhol, dll). Kalo bentuknya udah instalasi, video kontemporer dan semacamnya gitu, aku suka pengen ngamuk saking gak bisa menikmatinya hahahaha. Tapi karena di Jakarta adanya eksebisi kontemporer, mau gak mau deeeh...

      Uffizi tunggu akuuu...

      Delete