Nov 9, 2015

6 Miskonsepsi Tentang Berlin

DSCF0596

Sewaktu kami mendapat kesempatan ke Eropa bulan lalu, we could’ve gone anywhere, sih. Tetapi gue memutuskan untuk memasukkan Berlin sebagai salah satu destinasi.

Alhasil, sebelum berangkat, kayaknya hampir semua orang nanyain gue, “Kenapa Berlin, sih?!”

Ada dua alasan utamanya.

1.    Karena emang ada urusan keluarga disana
2.    Karena, dari hasil browsing, Berlin adalah salah satu kota di Eropa yang kids-friendly.

Sebelumnya, gue nggak pernah sekalipun menganggap Berlin sebagai salah satu destinasi impian, Kepikiran juga enggak. Tapi kalo kata Mamah Dedeh, we have to always go outside our comfort zone, don’t we? #bijak

Emang, sih, untuk destinasi wisata, Berlin kayaknya kurang napsuin, ya. Kacian... Kecuali untuk Munich yang memang cantik, seenggaknya 90% kenalan gue hanya ke Jerman untuk urusan lain selain wisata. Ya kerja lah, ya berobat lah, ya sekolah lah. Kalo untuk jalan-jalan ke Eropa, biasanya pada ke Perancis, Italia, Spanyol, Belanda, Inggris dan berbagai negara populer lainnya yang suka ada paket turnya di kantor-kantor travel!

DSCF0170

DSCF0160

Soal kids-friendly, sebenernya penilaian ini subjektif banget. Semua orang punya opini yang beda-beda.

Katanyaaaa... Barcelona juga kids-friendly, karena orang-orangnya pada suka anak kecil dan kotanya menyediakan banyak playground seru. Begitu juga Italia. Katanya orang-orang sana pada doyan gendong anak kecil *lalu mamaknya keasikan nitipin anak, trus lupa bawa pulang :))* dan toleran banget sama bocah-bocah rusuh. Trus, ada yang bilang, Amsterdam is the best for kids. London juga seru karena menawarkan sejuta atraksi buat bocah.

Intinya, semua kota dibilang kids-friendly, lah. Ngemengnya pada disponsori Kementrian Pariwisata masing-masing kali, yaaa… Hih!

Tapi karena emang sekalian ada urusan di Berlin, we went with Berlin!

***

Emang Berlin se-kids-friendly apa, sih? Katanya, sih, Berlin lagi ngalamin baby-boom, jadi penduduknya lagi banyak yang beranak. Akibatnya, segala fasilitas umum jadi dipermudah buat anak-anak. Orang-orangnya pun cukup toleran terhadap ani-ani koci.

Selain itu, jalanan di Berlin itu datar, kayak di Amsterdam. Nggak naik-turun kayak perasaanmu ke si dia #eh. Jadi nyaman, lah, buat stroller. Alhasil, Berlin dinobatkan sebagai kota yang ramah anak kecil.

Ribet, ye? Maklum ya, bok. Gue ‘kan perdana bawa bocah 3 tahun ke Yurop, nih. Sebelumnya, Raya nggak pernah bepergian keluar Asia Tenggara. Apalagi lintas benua, lintas time zone begini. Kalo ke Timezone di mol, sih, seriiing… *krik krik*

Jadi menentukan destinasi yang kids-friendly cukup vital bagi gue, demi kemudahan yalan-yalan dan kewarasan kita bersama.

***

Sebelum berangkat, I was like the Jon Snow of Berlin. I knew nothing about it. Gue banyak browsing, sih, tapi tetep nggak dapet bayangan jelas tentang kehidupan kotanya.

Gue hanya punya sejumlah persepsi dan asosiasi terhadap Berlin, misalnya: Nazi (standaaaar!), Berlin Wall, party town, orang-orang galak, monumen-monumen besar, pabrik mobil, Fahrani Empel (ahahaha), pretzels, dan sebagainya.

Tapi setelah meng-eksplor kota Berlin selama beberapa hari, ternyata praduga gue banyak banget yang salah!

Berikut adalah beberapa miskonsepsi terbesar gue terhadap B-Town. Whoop!

Berliners Are Cold and Stiff

Sebelum berangkat, gue ‘kan banyak baca artikel dan nonton video Youtube tentang Berlin, ya. Dan di setiap artikel serta video tersebut, orang-orang Berlin selalu dibilang cenderung “dingin”, “galak”, dan “kaku”.

Sebenernya, tanpa dikasitau gitu, dugaan gue juga udah demikian, sih.

Lagi-lagi, ini semua akibat asosiasi di kepala gue yang masih ngebayangin Berliners sebagai tentara-tentara Nazi yang merasa ras Arya-nya paling superior sedunia. Idih, La, bisa lebih stereotipikal lagi nggak, sih?! *jitak kepala sendiri*

Jadi gue udah siap-siap aja ngadepin orang-orang Berlin yang kurang ramah.

Ternyata YA AMPLOP, I could not be more wrong!

Orang Berlin itu ramah-ramah banget! Serius, deh, ramahnya pake banget! Mereka selalu senyum, make small talks, nyediain kursi dan ruang untuk stroller Raya di subway, dan super helpful. Oke, mungkin helpful-nya belom setaraf orang Jepang, ya, tapi yang pasti jauh lebih helpful dari dugaan gue.

Pokoknya baik hatiiii, aylaf!

DSCF0149

Lalu gue sadar, bahwa artikel-artikel tentang Berlin yang gue baca kebanyakan ditulis oleh orang-orang Amerika.

As we all know, Americans are super cheery and warm, dibandingkan dengan kebanyakan orang Eropa. Jadi saat menghadapi Berliners, mungkin mereka ngerasanya Berliners itu “dingin”. Tapi bagi gue—sang turis Asia pasrahan yang pasang ekspektasi super rendah—hal tersebut sama sekali nggak gue rasakan.

Berliners Can’t (or Won’t) Speak English

Enggak, tuh. Emangnya di Paris?

*tampak ada dendam pribadi dengan orang-orang Paris*
*mungkin di Prapatan-Ciamis LIA-nya masih sedikit?*

Faktanya, para Berliners yang baik hati pada BISA BANGET ngomong pake bahasa Inggris. Dengan senang hati pula! Mulai dari supir taksi, pelayan restoran, sampai strangers di jalanan. Aksen bahasa Inggris mereka pun gampang dipahami.

Pas baru mendarat aja, supir taksi kami langsung cas-cis-cus pake bahasa Inggris dengan ramah. Tentunya langsung kami puja-puji setinggi langit. Maksudnya, biar do’i makin semangat ngomong pake bahasa Inggris, hihihi.

Trus, dese bilang, 70% orang Berlin bahasa Inggrisnya bagus, kok. Sisanya juga sebenernya paham bahasa Inggris, cuma mungkin ngomongnya aja agak kagok, jadi shy shy cat.

Good, ya? Goooood.

Berlin is A Major Rave City

Gue seriiing banget denger bahwa scene party dan klub malamnya Berlin adalah salah satu yang paling heboh di dunia, terutama klub-klub malam rave-nya gitu, deh.

Trus, gue dengan noraknya ngebayangin, kalo kami keluar malem-malem, kami bakal kena cegat rombongan rave mabok sambil ditodong-todong glow stick, gitu. 'Kan takut! Takut jadi ikutan!

Apose kokondao, sih?! Norak amat bayangan gue!

Needless to say, kami nggak ngalamin hal itu samsek. Scene klub malam pasti ada (dan mungkin besar) di Berlin, tapi emangnya Berlin selebar daun kelooor…?

Sebaliknya, kawasan hotel kami sepiiiiinya minta ampun, padahal lokasinya di kawasan turis banget.

DSCF0610

Berlin is Filled with Refugees

Nah, ini juga nih.

Karena gue anaknya rajin baca berita (ah, masaaa…), gue jadi tau bahwa Berlin adalah salah satu kota yang nerima refugee dalam jumlah terbanyak di seluruh daratan Eropa Barat. Kuota imigrannya di masa krisis ini gede banget.

Ditambah, keberangkatan kami ke Berlin bertepatan dengan puncaknya migrasi para imigran Syria ke Eropa.

Otomatis, gue jadi ngebayangin bahwa jalanan Berlin akan dipenuhi oleh para imigran yang baru-baru ini pada heboh cari suka. Mereka emang bermukim di shelter, tapi ‘kan pasti ada aja yang jalan-jalan keluar shelter untuk cari kerjaan, misalnya. Ya nggak, sih?!

Ya, enggak! Lagi-lagi, emangnya Berlin selebar daun kelooor?!

Selama di Berlin, gue nggak sekalipun ketemu imigran.

Padahal di rumah gue udah komat-kamit latian wawancara mereka, lho, trus mau gue post demi mendongkrak popularitas Instagram gue, ngalahin Humans of New York. Huft, kzl.

*dikira wawancara nggak perlu penerjemah bahasa, La?*
*’kan bisa pake bahasa universal: cinta…*

Berlin Isn’t A Very Cool City (Unlike, Let’s Say, NYC)

Bokkk, aduh bokkk, akika salsabila bengi, deh, soal anggapan ini. Salah banget!

Dulu, secara random gue pernah baca di Instagramnya Fahrani Empel—model Indonesia super edgy bin kontroversial itu, tuh—kenapa dese ujug-ujug menetap di Berlin.

Awalnya, waktu masih di Jakarta (apa Singapura, sih?) Fahrani mengimpikan pindah ke sebuah kota metropolitan yang lively, kreatif, dan diverse. Dengan ciri-ciri seperti itu, kota apa, sih, yang biasanya pertama kali terlintas di kepala? New York City ‘kan.

Pas nyicipin NYC, ternyata Fahrani ngerasa biasa-biasa aja. Mungkin bumbunya kurang cocok, ya. Trus, dese nyobain tinggal di Berlin. Eh, dese jauh lebih sreg dan cocok, sampai akhirnya menetap di sana. Segala bayangan Fahrani tentang kota impiannya ternyata ada di Berlin.

Dulu gue mikir, “Ah, masa, sih?” Biasa lah, orang Indonesia. Taunya Nyu Yok atau LA (Lenteng Agung) doang, akibat felem-felem. Itu aja kebanyakan sok taunya dibanding paham benerannya :))

Tapi setelah mengunjungi Berlin sendiri, I understood what Fahrani meant. I feel you, babygurl! Ahzek.

DSCF0644

Menurut gue, satu hal yang membuat Berlin terasa asik adalah kondisi melting pot-nya.

Seperti NYC, ternyata penduduk dan dinamika kehidupan di Berlin itu amat, sangat diverse, dan hal ini sama sekali nggak gue sangka.

Lagi-lagi, ini gegara sebelumnya kepala gue dipenuhi oleh anggapan bahwa Berlin masih didominasi oleh supremasi bangsa Arya. Okelah, katanya di Berlin udah ada banyak imigran, sampe ada banyak kampung Turki. Tapi tetep aja, gue kira Berlin nggak akan terlalu diverse.

Salah, siiiissss.

Selama di Berlin, gue melihat bahwa kota ini sangatlah diverse. Ada banyak sekali nationalities di kota ini.

Salah satu nationality yang paling banyak gue temui bukan (hanya) Turki, tetapi Amerika. Bukan cuma turis, tetapi juga yang settlers, entah sementara ataupun tetap. Yang pasti, gue seriiiiiing banget papasan sama orang Amerika di jalanan. Tau dari mana do'i orang Amrik? Dari nguping pembicaraan, dong.

*bakat stalker nggak akan ilang*

Bahkan pegawai supermarket aja banyak yang orang Amerika.

Papasan sama orang Indonesia, nggak? Papasan dong, tiga biji. Hihihi.

Banyak orang Muslim juga? Nggak banyak. Tapi banyak BANGET. Asli, jalan sepanjang 500 meter aja gue pasti papasan sama sekitar tujuh orang jilbaban.

Keragamanan ini akhirnya menghasilkan kehidupan yang dinamis juga. Istilah antropologinya, asimilasi (EH, BENER NGGAK, SIH?!). Jadi, sesuai kata Anin, di Berlin yang enak bukan makanan Jermannya, tapi makanan Asia-nya, terutama Vietnam, hihihi.

DSCF0321

Berlin bahkan punya restoran Indonesia yang beken, namanya Mabuhay. Dulu restoran ini menyajikan makanan Indonesia-Filipina, tapi sekarang cuma makanan Indonesia, makanya namanya Mabuhay. Lokasinya di Potsdamer Platz. Catet, ya, buibu!

Apakah ini berarti di Berlin ada banyak restoran halal? Mungkin, ya. Tapi aku tak tahu. Sebagai JGB (Jilbab Gak Bener), gue kalo makan hanya bermodalkan basmalah dan menghindari menu babi. Mayoritas Muslim yang gue amati disana pun demikian. Plis jangan diikuti, and browse for more info, oke?

Kalo tebakan cetek gue, sih, di daerah kampung Turki seharusnya ada banyak restoran halal.

Selain itu, hal yang menambah faktor coolness Berlin adalah karena orang-orangnya sangat stylish. Gayanya keren-keren banget! Sepengelihatan gue, di Berlin jarang ada orang yang berpakaian lusuh dan “nggak niat” (kecuali turis, ya). Bukan heboh, tapi stylish, classy dan berasa “mahal” aja, padahal nggak bermerk, kok.

Pokoknya orang-orang bak keluar dari halaman website The Sartorialist. Is being unfashionable a crime in Berlin?! Like, a real crime yang ada pasalnya? Kenapa kerennya rata gini, sih? Mengintimidasi, deh. Kzl.

DSCF0346

Sebenernya, gue kadang mencibir orang-orang yang dandan kehebohan saat travelling ke luar negeri. Kalo dandanan sehari-harinya emang gitu, sih, lain soal, ya. Tapi kalo orang-orang tersebut gayanya normal-normal aja di Jakarta tapi pas di luneg mendadak jadi fashionista, duuuh, kok kayak nista beneran…

Yang penting nyaman aja deh, ya, apalagi kalo bawa bocah.

In Berlin—maap-maap, nih—I changed my mind.

Jadi, kalo mau ke Berlin, monggo, buka situs-situs fotografi street style luar negeri, contek elemen-elemennya, cocokkan dengan penampilan diri, trus telp deh cici langganan di Mangga Dua. “Ciii, sepatu but item paku-paku metalik lagi ada stok ukuran saya nggaaak?”

Last but not least—Berlin's street art. Kelar. BANYAK dan seru-seru banget!

Berlin is Kids-Friendly

Hmmm, ini dia, nih.

Seperti yang gue singgung di atas, gue cukup antusias pergi ke Berlin karena kotanya dibilang kids-friendly. Apakah benar begitu adanya?

DSCF0205

Kok menurut gue biasa aja, ya? Iya, orang-orangnya ramah, juga cukup toleran terhadap anak kecil. Iya, kebersihannya lumayan. Iya, jalanannya flat sehingga memudahkan untuk bawa stroller. Iya, ada kinder cafes alias kafe khusus bocah tersebar di beberapa area. Iya, ada banyak playground (gratis, tentunya). Iya, ada cukup banyak destinasi wisata untuk anak kecil.

Tapi di Berlin, gue nggak banyak menemukan hal-hal kecil yang seharusnya dimiliki oleh kota yang benar-benar kids-friendly, seperti Tokyo.

Di Tokyo, WC umumnya menyediakan baby seat di masing-masing stall toilet. Jadi kalo mamaknya pipis, bayinya bisa didudukin dan di strap-on di baby seat samping mamaknya tersebut. WC umum Tokyo juga biasanya nyediain toilet / urinal serta wastafel khusus anak-anak, yang ukurannya lebih pendek. Kayak di AEON Mall gitu, deeeh.

Restorannya pun banyak yang nyediain kids menu, kertas-krayon, serta alat makan khusus anak.

Belom lagi keamanannya. Bagi yang belum pernah ke Jepang pun, mungkin sering liat, ya, foto atau video anak-anak TK Jepang pulang-pergi ke sekolah naik subway SENDIRIAN.

Menurut gue, sentuhan-sentuhan kecil seperti itu lah yang membuat sebuah kota menjadi kota kids-friendly yang mumpuni. Di Berlin ada aja, sih, fasilitas umum untuk anak, tapi rasanya kurang merata.

Sederhana, ya, tapi penting.

DSCF0374

DSCF0138
Turis-turis Asia berdarah panas meratapi ke-sembilanan-derajat-celcius ini

Intinya, Berlin is pretty kids-friendly, but not THAT kids friendly *kisbai ke Tokyo*

Tuh 'kan, label itu pasti subjektif.

Tapi secara keseluruhan, did we enjoy Berlin? Seribu kali, IYA BANGET!

DSCF0788

19 comments:

  1. Haduh mbak Leiiiii....
    Racun banget postingan Berlinnya. hix...hix...hix...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuuuusss kesanaaa... *beli tiket bayar pake daun* :D

      Delete
  2. Hola laila.. Biasanya gw silent reader doang tapi kali ini kutaktahan ingin komen.. Haha.. Yes setuju, Berlin itu lively dan diverse banget.. Ga pernah bosen rasanya karena udh dua taun lebih tinggal di sini pun rasanya masih buanyakkkk bgt tempat/activities/events yang belom diexplore.. Dan kegiatan nunggu bus/train setiap hari selalu seru (dan berasa underdressed!) krn berasa lagi nonton runway.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nisaaa.... Ini Nisanya Wawa kan? :D Aduh, seneng deh analisa sotoy gue diamini sama penduduk Berlin beneran. Ih, berarti bener ya, orang Berlin stylish-stylish banget, bukan cuma yang kebetulan gue liat, atau orang-orang yang di Mitte doang hahaha

      Delete
  3. Haloo Mbak Leii.. Thank you for sharing yaaa..

    ReplyDelete
  4. waaaahhh menarik dan asik banget liburannya... :) dooohh ini celengan koin kok belon penuh-penuh yaaaaa, kapan-kapan pingin ke berlin deh.. sebelumnya mah takutttttt kan katanya ada geng neo-nazi yang suka getok-getokin kepala para imigrian :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iya... horor neo-nazi emang nakut-nakutin banget padahal mah nggak adaaa! (atau, keberadaan mereka ya nggak seumum itu hehe).

      Delete
  5. Iyaa nisa nya wawa.. :D Sempet ke daerah Prenzlauerberg atau Friedrichschain nggak, Lei? Walking down the streets in those area bikin berasa naik kasta ke-hipster-an beberapa level! :p Gw tinggal di daerah 'damai' di south west yg banyak oma-opa tapi bahkan mereka pun gayanya pada kece-kece! Heraaaann.. Playground nya padahal byk yg seru2 dan bertema loh (dinosaurs, pirates, jungle, princess, rubberband playground, etc), tapi memang tersebar banget lokasinya dan krn Berlin luas jd mesti bener2 niat siapin waktu buat kesitu, nggak bisa sekalian lewat aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesungguhnya gue lupa ngelewatin daerah mana aja, karena yang diinget nama destinasinya doang hihihi. Prenzlauerberg kayaknya enggak, tapi gue tadinya mau nginep di daerah situu...

      And yes, gue juga denger banget soal playgrounds-nya Berlin yang infamous - banyak dan seruuu. And yes, Berlin luas banget! Bicara soal "daerah turis di Berlin" aja agak bingung, karena daerah turis Berlin kayaknya banyak dan tersebar banget ya.

      Delete
  6. Haai, salam kenal.... saya belum lama menemukan blog ini,...dan langsung suka. Suka sama gaya bahasanya, dan topik yg dibahas. Gak boring, seru, & kocak..! :)
    Btw, boleh tau kamera yang dipake apa dan pake lensa apa? Aseli jatuh cinta sama foto2nya....bagusss <3 <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa terimakasih! Kalo di postingan ini (dan dipostingan sebelumnya), saya pake Fujifilm lensa 23mm. Di semua postingan lain blog ini, saya pake Canon 7D lensa 35 mm. Saya cuma bisa dan nyaman pake fixed lens hehehe...

      Delete
  7. Akkkk Berlin!!! A place to be banget deh MbaLei. Aku sih (ngakunya) suka sama kota kecil yang damai dan cenderung kayak desa, tapi begitu mampir ke Berlin, kok ya betahhhhh. Sempet nanya gimana cara beli tiket kereta, eh bener dibantuin sama mak-mak sampai si tiket keluar dari mesinnya, loh kok baik sih? Emang wetonnya cocok sama Berlin *kemudian kongkow di Kreuzberg*

    ReplyDelete
    Replies
    1. (( Wetonnya cocok )) Ahahaha... tapi iyaaa, aku pun tak menyangka akan betaah, deh!

      Delete
  8. Jerman itu kan terkenalnya justru babi-babiannya, jadi beneran harus memantapkan hati jikalau mesen menu. Lantaran bisa aja tuh kuali bekas masak babi asem manis (ngasal banget ya gue). Gue sendiri bener-bener gak punya bayangan soal Berlin kayak gimana, karena turis-turis Indonesia kan biasanya ke Frankfurt atau Koln. Berlin ini baru belakangan lebih terbuka untuk turis, tapi ternyata pas baca ini, kok kayaknya asyik, cukup nyusurin satu kota aja udah seru banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oooo gitu yaa... *langsung merasa yang gue makan disana ada jejak babinya semua* *sholat tobat*

      Iyaa... turis Indonesia biasanya ke Frankfurt. Atau Munchen lah yang cantik. Pas gue di Berlin, nyaris pas bertepatan dengan Frankfurt Book Fair, jadi kayaknya rame juga disana.

      Delete
  9. Bu Laila hastagah bagus amat tu kulitnya, bagi Sunday Riley dong sesacheeet #salahfokus.
    Aih seru banget Berlin, semoga celengan babi isinya gopeanku itu cepet penuh deh biar bisa ke sana jugakk. Tapi celengan babinya harus segede babi beneran juga kayaknya sih yah :))

    ReplyDelete
  10. lei...boleh tanya tipe kamera fujifilm nya apa yaa? makasih sebelumnya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo, kameraku yang ini Fujifilm XE-2 :)

      Delete