Aug 15, 2015

ArtJog 2015 and OK Video 2015 (Part 4)


Nggak tau kebetulan apa gimana, pameran seni yang gue datengin di taun 2015 ini banyak berhubungan sama sejarah Indonesia, deh. 

Misalnya, pameran Aku Diponegoro kemaren, yang ngebuka mata gue terhadap Raden Saleh, Pangeran Diponegoro, dan kolonialisme.

Begitu juga halnya dengan OK Video 2015, yang mengangkat tema besar Orde Baru, salah satu babak paling signifikan dalam sejarah Indonesia.

Jadi walaupun kamu-kamu nggak pernah baca postingan artsy-fartsy gue (ciyeee, tumben sensi…), kayaknya pas banget kalo gue nulis bagian terakhir dari rangkaian kebawelan ArtJog - OK Video 2015 gue di bulan Dirgahayu Indonesia ini.

Mari Pak, Buk, kita ke…

OK VIDEO 2015

Seperti yang udah gue ceritain sebelumnya, OK Video adalah sebuah “media art festival”. Bingung? sebenernya gue juga Intinya, sih, OK Video adalah sebuah pameran seni kontemporer, jadi karya yang dipamerkan bukan karya seni konvensial seperti lukisan dan patung, melainkan karya-karya yang menggunakan berbagai macam media, mulai dari audio visual, elektronik, kliping, sampe barang-barang loak. Suka-suka aja, lah!


OK Video diselenggarakan dua taun sekali oleh ruangrupa, dan di setiap penyelenggaraan OK Video, mereka selalu mengusung tema yang seru-seru. Taun 2015 ini, mereka ngangkat tema Orde Baru.

image source: okvideofestival.org

Orde Baru, oh Orde Baru. Era yang digawangi oleh mantan Presiden Soeharto ini emang sejuta rasanya, ya. Di satu sisi, pembangunan Indonesia berjalan dengan amat pesat. Perekenomian dan hankam stabil. Rupiah kuat. Berbagai program pemerintah—kayak program KB dan wajib belajar 9 taun—juga cukup sukses.

Tapi di sisi lain, selama Orde Baru, Indonesia harus hidup dibawah propaganda, sensor, dan kontrol gila-gilaan oleh pemerintah. Segala informasi menjadi rancu, ini-itu nggak jelas kebenarannya. Emang iya komunisme itu bejat banget? Emang iya Supersemar itu bener? Kenapa, sih, dulu cuma TVRI yang boleh tayang dan sempet nggak boleh ada iklan?

Pokoknya, Presiden Soeharto selalu mengibaratkan dirinya sebagai “bapak” (misalnya, Bapak Pembangunan), dan rakyat adalah anak-anaknya yang harus selalu “diatur” dan “diajarin”.

Yang paling disayangkan, Orde Baru juga ngewarisin beberapa budaya busuk yang mendarah daging sampe sekarang. Contohnya, KKN. Era Orde Baru dimulai dengan kekerasan (G30SPKI) dan diakhiri dengan kekerasan juga (Tragedi Mei 1998). That doesn’t feel comfortable, does it?

Nah, taun ini, OK Video menyajikan karya-karya seni yang merespon isu-isu Orde Baru tersebut.

Karya-karya dalam pameran ini sebenernya seru-seru banget, tapi karena keterbatasan waktu dan enerkhi, gue cuma bakal ngulas dua karya yang ada. Okeh?

Mella Jaarsma - Lubang Buaya

Lo tau nggak situs sejarah Lubang Buaya itu apa? Pernah kesana? Lubang Buaya itu lokasi kejadian apa? G30SPKI itu sebenernya apa? Apa penyebab huru-haranya? Siapa tokoh-tokohnya?

PASTI LUPA ‘KAN LOOO? :D

Ternyata mayoritas rakyat Indonesia juga nggak inget, at least begitulah menurut ‘riset’ Mella Jaarsma, seniman asal Belanda yang sekarang menetap di Indonesia.

Untuk karyanya yang berjudul Lubang Buaya ini, Mella majang dua kulit buaya di dinding, dengan sebuah lubang menganga di bagian kepalanya. Trus, kita dipersilahkan masukin kepala kita ke dalam lubang tersebut, untuk mendengarkan audio lewat headphone


click image for source

Di sebelah kulit-kulit buaya dan headphone ini, ada dua buah TV yang menayangkan video adegan orang sedang dikerokin. 


Disini gue gagal paham, sih. Apa maksud dari video adegan kerok-kerokan ini? Mungkin bekas kerokan di punggung itu dimaksudkan untuk menyerupai kulit buaya? Buaya sungai apa buaya darat?! *penting* Who knows? Tapi stralahya. Namanya juga seni, harus ada gagal-gagal pahamnya dikit, hihihi.

Balik lagi ke si kulit buaya.

Jadi ternyata audio di dalam kulit buaya ini berisi rekaman wawancara Mella dengan 30 orang Indonesia dari berbagai generasi dan latar belakang, yang ditanyain pertanyaan-pertanyaan yang gue tulis diatas tadi: kamu tau nggak situs sejarah Lubang Buaya itu apa? Dimana? Lokasi kejadian apa? G30SPKI itu sebenernya apa? Apa penyebab huru-haranya? Siapa tokoh-tokohnya?

Jawabannya lucu-lucu menggemaskan, karena hampir nggak ada satupun orang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan yakin, percaya diri dan akurat. Padahal Lubang Buaya dan G30SPKI adalah salah satu sejarah paling berdarah negara kita, sekaligus menjadi awal dari Orde Baru, orde pemerintahan paling lama dan paling kuat (sejauh ini) di Indonesia.

Apakah karena rakyat Indonesia emang udah lupa dengan insiden dramatis tersebut? Atau karena the truth about G30SPKI masih nggak jelas sampai sekarang?

Lab Laba Laba - Si Titik

Si Titik ini sebenernya bukan karya seni as in kerajinan tangan gitu, ya, tapi merupakan hasil riset dari komunitas Lab Laba-Laba.

Alkisah, suatu hari, Lab Laba-Laba ngubek-ngubek gudang arsip Pusat Produksi Film Negara (PPFN), dan mereka menemukan ‘harta karun’ berupa arsip-arsip lama film Si Titik.

Si Titik ini apa?

Si Titik adalah sebuah tayangan anak-anak yang mengudara di TVRI pada tahun 1982. Si Titik bentuknya tayangan boneka, gitu, persis kayak Unyil. Tapi nggak kayak Unyil yang sukses berat, Si Titik justru kandas hanya dalam waktu setaun. Bandingin sama Unyil yang tayang dari taun 1981 sampai 1992 non-stop, sampe ada remake-nya segala.


Alasan kenapa Si Titik nggak bertahan lama sebenernya masih misteri, karena sebenernya standar produksinya lebih niat dan artistiknya lebih bagus. Boneka-bonekanya aja bisa kedip segala… asal jangan kedip sendiri tengah malem, ya. Hiiii.

Apakah karena jalan cerita Si Titik yang terlalu gelap dan agak surealis? Mungkin aja, ya. Mari kita simak garis besar ceritanya:

Titik adalah seorang anak perempuan—yang kira-kira seumur siswi SD—anggota pramuka yang menjadi korban kecelakaan pesawat, trus terdampar di tengah hutan.

Apakah kemudian Titik jadi Tarzan? Nggak, sih. Tapi Titik emang jadi temenan dengan para binatang warga hutan, ngajarin mereka baca-tulis serta melindungi mereka dari para aparat hutan yang serem-serem.


Sekilas, tema utama Si Titik kayaknya kelestarian lingkungan gitu, ya, utamanya karena ada setting hutan yang asri dan permai serta berbagai tokoh hewan.

Benarkah hanya begitchu?

Ternyata tidak! Menurut kurator film dan video Veronika Kusumaryati, Si Titik sebenernya sangat merefleksikan program-program pemerintahan Orde Baru pada taun 70an-80an, dan disampaikan lewat berbagai simbol.

Yeuk, kita bedah simbol-simbol itu! *pasang topi detektif, keluarin kaca pembesar*

Pertama, tokoh utama tayangan ini namanya Titik, yang jelas-jelas merupakan nama Jawa. Jadi kita bisa asumsikan, Titik ini perwakilan warga Jawa.

Kedua, Titik terdampar di sebuah hutan yang kehidupannya masih liar, penuh dengan warga hutan yang asing. Yang menarik, pada sebuah episode, ada adegan yang berlokasi di kantor aparat keamanan hutan (“Pos Pegawai Pertolongan Alam”), dan di kantor tersebut terpajang peta Papua (yang di jaman Orde Baru masih dinamakan Irian Jaya).

Pada faktanya, pemerintahan Orde Baru mengintensifkan program transmigrasi sejak tahun 1970-an. Bahkan sebuah sumber (Levang, 1997:13) menyebutkan bahwa selama tahun 1979-1984, sekitar dua juta jiwa penduduk Indonesia menjadi target program transmigrasi, dan salah satu daerah tujuan transmigrasi tersebut adalah… Papua.

Maka apakah Titik adalah simbol dari Jawa, dan setting hutan adalah simbol dari Papua? Jadi kehadiran Titik di hutan asing ini adalah metafora kehadiran warga Jawa di Papua, gitu? Jrenggg... *gonjreng gitar*



Selain itu, Si Titik bisa juga dilihat sebagai simbol dari pusat pemerintahan di Jawa. Sejak kependudukan Indonesia di tahun 1963, Papua nggak cuma jadi daerah target transmigrasi, tapi juga jadi target operasi-operasi militer yang bertujuan menjadikan warga Papua—yang dianggap primitif—menjadi ‘beradab’. Salah satu caranya adalah dengan program pemberantasan buta huruf.

Pada inget nggak, gimana getolnya pemerintahan Orde Baru memodernkan rakyat Indonesia, terutama di pedesaan? Makanya, selama Orde Baru, pemerintah galak banget menjalankan proyek Pemberantasan Buta Huruf dan program Kejar Paket.

Inget ‘kan tadi gue mention, bahwa di hutan, Titik ngajarin warga hutan baca-tulis?

(by the way, hewan-hewan warga hutan = warga Papua? Political incorrectness to the max!).

Trus, kenapa si Titik harus digambarkan sebagai anak Pramuka, sih? Soalnya dulu Presiden Soeharto juga gencar mencanangkan program Pramuka kepada pemuda Indonesia, karena menurut definisi Orde Baru, salah satu ciri pemuda Indonesia yang baik adalah “bisa bertahan di alam liar”.

Bagi yang pada gede di era 80-90an, pasti pernah ikut kemping jamboree pramuka sembari belajar bikin simpul tali. Minimal pernah ikut ekskul pramuka, deh.

The big question is: apakah Si Titik adalah sebuah mesin propaganda Orde Baru yang dikemas sebagai tayangan anak-anak? Lah, wong isinya semacam dukungan terhadap program OrBa semua, gitu.

Surprisingly, kalo menurut analisa Lab Laba-Laba, sebenernya enggak. Berikut alasannya:

Pertama, kalo diliat dari segi penokohan, tokoh-tokoh dalam tayangan Si Titik ini kompleks, lho. Karakter utamanya aja adalah seorang anak perempuan (girlpower!) yang dengan gagah berani masuk ke hutan, trus menjinakkan warga hutannya dengan cara ngajarin mereka baca-tulis serta hal-hal modern lainnya (contoh: dandan).

Bandingin dengan si Unyil, dimana tokoh-tokohnya adalah anak-anak standar baik, pintar, lagipula patuh. Anak-anak role model era OrBa gitu, deh.

Kedua, setting hutan dalam tayangan Si Titik ini mungkin agak rebellious, lho, untuk ukuran OrBa, karena hutan dan pedesaan sebenernya adalah tempat-tempat yang kurang nyaman bagi pemerintah Orde Baru, sebab hutan dan pedesaan adalah tempat-tempat di mana “rakyat” dulu pernah dimusnahkan (baca: masa-masa gelap pemberantasan PKI). Katanya, mayoritas film horor yang diproduksi pada jaman Orde Baru berlokasi di hutan dan pedesaan, lho. Karena memang di sanalah horor dan ketakutan Orde Baru sebenarnya berakar.

Ketiga, Veronika memaparkan bahwa konflik-konflik dalam cerita Si Titik berkisar seputar kekerasan dalam penguasaan satu kawasan.

Ketika Titik berusaha ngajarin para hewan supaya jadi “lebih pintar”, pihak-pihak lain—misalnya, para aparat—malah selalu kepengen ngejajah hewan-hewan tersebut. Menurut Veronika, beberapa kali sahabat hewan Titik harus terbunuh dan dikeroyok. Malahan, dalam salah satu episodenya, Titik sempet disekap dan dilecehkan. Ngeri amat?!

Dengan demikian, Veronika menilai bahwa Si Titik justru menginterpretasikan tabiat-tabiat propaganda Orde Baru. Nah, kalo modus OrBa dibaca dan dinterpretasikan dengan gamblang lewat tayangan TV begini, pemerintah jadi deg-degan nggak, sih? Jangan lupa, ini adalah Orde Baru, dimana segala informasi untuk masyarakat dikontrol dengan ketat, dan pemerintah menyimpan banyak sekali rahasia.

Mengutip teks penjelasan Lab Laba-Laba di pameran OK Video 2015 ini:

Kalau Orde Baru berdiri di atas darah dan pembantaian ribuan atau bahkan jutaan rakyatnya sendiri yang tergabung dalam serikat-serikat buruh atau petani, organisasi-organisasi wanita atau pun kesenian, maka “Si Titik” mungkin tak sengaja telah berfungsi sebagai semacam gambaran bahwa perang Orde Baru terhadap rakyat itu belumlah usai.

Seru amiiit... Yang bikin lebih 'seru', di akhir tayangan ini, diceritakan bahwa terdamparnya Titik di hutan dan petualangan dia disana hanyalah SEBUAH MIMPI. Anjrit, kzl. Jadi do'i tidur, trus mimpi panjang gitu, kayak Alice in Wonderland. Miiimpiii.... miiimpiii.... *nyanyi Fauzi Fauzan*

Mabok banget, deh, ni serial :D

***

Anyway, sejujurnya, kalo gue menengok kembali sejarah Indonesia lewat karya-karya seni gini, my mind was blown dan mata gue jadi lebih terbuka. Emang, ya, Indonesia tuh bangsa yang dibangun dari sejarah yang kaya, kompleks, dan unik yang mungkin perlu kita tengok-tengok lagi demi bekal menghadapi masa depan. Remember the saying, history repeat itself. Suit suiiit…

Selamat Dirgahayu ke-70, negaraku yang unik!

1 comment:

  1. what?? kenapa semua serial mesti berakhir jadi mimpi sih?? *tetiba inget serial doraemon yang konon salah satu alternatif endingnya adalah nobita cuma mimpi*
    anyway, thanks for sharing ya Lei, gw tertarik banget sama cerita si titik ini. Kayaknya kalau ditonton mungkin bakalan biasa aja, kaya kalau nonton si unyil.. tapi kalau dibahas gini jadi lebih seru! hahaa..

    ReplyDelete