Jun 3, 2015

Aku Diponegoro (part 3)

IMG_6990

I am really bad at keeping series, aren’t I? Dulu janjinya mau nulis bagian ketiga dari pameran Aku Diponegoro ini, tapi fast forward satu abad kemudian, belum ditulis-tulis juga. Hih, janji palsuuu! :)

Ya, ya, ya. Gue sadar utang blogpost gue ada segudang. Berhubung udah mau masuk bulan Ramadhan, maka utang-utang harus segera dilunaskan. Mulai dari utang puasa, utang tukang bakso sampe utang blogpost. Bismillah!

But first, read part 1 here and part 2 here.

***

Sejujurnya, gue rada kesulitan menggali memori tentang bagian ketiga dari pameran Aku Diponegoro ini, soalnya udah lama, ingatan gue pun keburu luntur. Apalagi bagian ketiga dari pameran Aku Diponegoro ini menonjolkan seni kontemporer, dan seni kontemporer bukanlah genre favoritku. Jadilah makin nggak ngebekas di kepala.

But anyways...


Bagian ketiga:
Sisi Lain Diponegoro

Sebenernya, bagian ketiga pameran Aku Diponegoro ini cukup simpel, yaitu memamerkan berbagai benda yang berhubungan dengan Pangeran Diponegoro.

IMG_7006

IMG_7042

IMG_6987

IMG_7015

Benda-bendanya ada yang berupa karya seni kontemporer (komik, fotografi, poster / desain grafis, dsb), benda-benda kuno (contoh, uang jadul yang ada gambar Diponegoro-nya), bahkan benda-benda yang dianggap ajimat. Kalo kata Siti Nurhaliza, azimat berduriiii… *nyanyi*

IMG_6993

IMG_7008

IMG_6996
This Hegemony Life (2012), karya Indieguerillas. Kalo masih inget, Indieguerillas adalah duet seniman yang jadi beken se-Indonesia karena bikin-bikin ilustrasi ala Herge (pengarang Tintin) untuk kampanye Jokowi-JK kemaren. Karya ini sebenernya udah lama dibuat, yaitu taun 2012, sebagai bagian dari pameran Marcel Duchamp. Ceritanya, Indieguerillas pengen membawa seni tinggi (lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro) ke bentuk pop art ala ilustrasi komik gini. Marcel Duchamp sendiri adalah seorang seniman yang selalu pengen meruntuhkan batasan antara "high art" dengan "pop/low art"

IMG_7026
This is a cool piece. Dengan pencahayaan biasa, karya ini tampak begini...

IMG_7027
... tapi dengan cahaya ultraviolet, karyanya berubah menjadi begini...

IMG_7028
... dengan detail aksara Jawa yang (kalo nggak salah) menceritakan tentang babad Diponegoro

Selain itu, pameran Aku Diponegoro punya satu ruangan kheuseus yang beda dari yang lain, karena suasananya yang Miss Tease  alias mistis.

Ruangan ini adalah Ruang Pusaka, yang memamerkan benda-benda pusaka aseli milik Pangeran Diponegoro, seperti pelana kuda, jubah, sampe tombak milik beliau. Artefak berumur ratusan taun gini aja udah menarik, ya. Nah ini ditambah seru dengan suasana ruangannya—gelap gulita, dingin, dan banyak melati disebar aja dolooo… Hiii! Emang prasyarat kuncennya ‘kali ya.

IMG_7022

IMG_7024

IMG_7021

Selain itu, pengunjung yang mau masuk ruangan ini kudu copot alas kaki dulu, trus disarankan “duduk diam dan menghayati” suasana dari Ruang Pusaka ini. Tapi kalo tau-tau duduknya didampingi Suketi lagi ngunyah melati gimana?!

IMG_7085

***

Selain karya dan artefak yang dipamerkan, menurut gue masih banyak hal yang bikin Aku Diponegoro istimeva. Antara lain:

1. Ruangan pamerannya tertata dengan mumpuni


Memang, dalam setiap pameran, unsur-unsur yang harus pertama dipenuhi adalah kebutuhan dasar manusia, deh. Sirkulasi udara harus baik, AC harus adem, pencahayaan harus sesuai dengan aturan dasar lighting untuk pameran, dan pameran ini (tentunya) memenuhi semua unsur tersebut.

2. Karyanya banyak dan memuaskan


Orang Indonesia, tuh, suka gondok kalo datang ke pameran atau museum yang karyanya sedikit, walaupun pamerannya gratis, atau walaupun benda yang dipamerkan dahsyat. Misalnya, telor dinosaurus atau anak genderuwo. Pokoknya kalo barang yang dipamerin cuma dikit, biasanya pada ngomel, “Ih, rugi deh!” Padahal kalo gratis, ruginya belah mane?

Untungnya karya di pameran Aku Diponegoro ini banyak dan masif, baik dari segi nilai sejarah maupun ukuran, jadi rata-rata pengunjung pada puas, deh.

3. Menyediakan audio guide yang informatif, gratis, dan tersedia online

Sungguh, ini adalah hal yang warbiyasak untuk sebuah pameran / museum di Indonesia. I love, love, love audio guide. Setiap berkunjung ke museum (luar negeri), pasti nggak pernah lupa nyamber audio guide-nya.

Soalnya, audio guide bikin kita jadi paham dengan karya yang dipajang secara real time. Mata mandang karya, kuping denger penjelasan. 'Kan manteppp... Selain itu, penjelasan dalam audio guide pastinya lebih komplit dibandingkan penjelasan seuprit yang ditempel di samping karya, sehingga kita jadi jauh lebih paham tentang apa yang kita liat.

Sayang sekali, gue nggak pernah nemu audio guide di galeri / museum lokal lain sebelumnya.

Yang bikin audio guide Aku Diponegoro makin unggul adalah karena bisa di-download di henpon kita masing-masing, dalam bentuk aplikasi. Apps gratis!

Ketersediaan audio guide Aku Diponegoro ini istimewa, karena kayaknya nggak ada pameran / museum lokal lain yang punya audio guide begini. Nggak punya dana atau resources-nya paling ya, tsk :(

4. Menyediakan katalog / buklet yang juga informatif, gratis, dan tersedia online

Tips, nih. Tiap dateng ke pameran, jangan lupa todong resepsionisnya, “Mbak/Mas, ada katalog atau buklet nggak? Saya minta ya?”  Soalnya kalo nggak ada audio guide, catalogue is your second best option.

Fungsi utama katalog adalah menyediakan informasi dasar tentang karya yang dipajang dalam sebuah pameran. Ada katalog yang isinya basa-basi banget—cuma nyantumin judul karya dan senimannya—tapi ada juga katalog yang sarat informasi, seperti katalog Aku Diponegoro ini.

Oya, biasanya pameran seni lokal nggak pernah mungut biaya masuk, tapi jual katalog. Jadi katalognya nggak gratis, gitu. It’s a fair way to make money, kok.

Akan tetapi, katalog Aku Diponegoro nih gratis, dan ada versi online-nya! Hore!

5. Menyediakan guided tour / tur terpandu gratis

Selain menyediakan katalog dan audio guide, pameran Aku Diponegoro juga menyediakan tur terpandu di jam dan hari tertentu. Ada tur yang dipandu oleh volunteer, ada yang dipandu oleh kuratornya langsung. Semuanya gratis, tapi harus booking dulu.

Menurut gue, kalo sebuah pameran atau museum nggak punya duit untuk bikin audio guide ataupun katalog cetak, seenggaknya mereka perlu nyediain tur terpandu, deh. Toh tur terpandunya ‘kan nggak tiap hari, apalagi tiap jam.

Tur terpandu bisa jadi hal yang sangat menyenangkan, karena info dan latar belakang karya disampaikan dengan cara storytelling, dan kita bisa nanya-nanya langsung sama si pemandu. Tapi tur terpandu juga bisa jadi hal yang menyebalkan kalo peserta turnya ngejublek, dan kalo suara pemandunya imut-imut kayak suara David Beckham Mickey Mouse. Kita kudu berjuang nyempil-nyempil untuk selalu bisa deket dengan sang pemandu, supaya omongannya kedengeran.

As mentioned before
, di pameran Aku Diponegoro ini, gue sempet ikut tur yang dipandu langsung oleh salah satu kuratornya, Peter Carey. Sayang, Mr. Carey ngomongnya agak ngebut dan peserta turnya ngejubleeeek kayak rombongan haji. Untungnya, gue udah nyempetin diri baca katalog dan dengerin audio guide, so I still got most of Mr. Carey’s explanation.

IMG_7092

IMG_7097

IMG_7101

Taun 2013, gue mengunjungi pameran Singapore Biennale tanpa katalog, tanpa audio guide, tapi trus nggak sengaja nemu rombongan tur terpandu, dan cuuusss langsung nyempil ikutan. IT WAS HEAVEN SENT. Tanpa sang pemandu, gue nggak akan ngerti blasss karya-karya Singapore Biennale, dan cuma bisa cengok bak domba tersesat.

So if you find one, do try taking a guided tour,
karena setiap karya seni itu patut dicari maknanya. Gue seneng banget, lho, cari-cari makna tiap karya seni yang gue temui. Then I can judge if a work is really inspiring, or just plain bullshit. Fun!

6. Menyediakan sekuriti yang cukup banyak

Pameran lokal—terutama yang memamerkan karya bernilai super mahal—kayaknya wajib nyebar banyak tenaga sekuriti di penjuru galeri, deh. Bukan (cuma) untuk menghalau maling, tapi juga untuk menghalau orang-orang geblek.

Menurut gue, di Indonesia, orang geblek itu lebih bahaya daripada maling, karena mereka ignorant alias nggak sadar akan perbuatannya. Plus, jumlahnya jauh lebih banyak daripada maling.

Ada dua golongan utama orang geblek yang biasanya nangkring di pameran:

a. Orang yang terlalu heboh selfie / foto diri bareng karya.


Menurut gue, tukang selfie tuh merugikan lingkungannya secara mental dan fisik, lho.

Secara mental, jelas mereka membodohi diri sendiri. Begitu menginjakkan kaki di galeri, para tukang selfie biasanya langsung ngeluarin HP atau kamera DSLR (kamera pocket jarang banget, lho. Pokoknya kalo nggak HP, ya DSLR. Vhy?)  trus selfie atau saling foto tiada henti. Sayangnyaaaa karya-karya yang diajak foto nyaris nggak diliat sama sekali, apalagi berusaha diamati. Jadi pas keluar dari galeri atau museum, otak dan pengetahuan kayaknya nggak berkembang. Selfie sih boleh aja, tapi kalo intisari pamerannya dicuekin 'kan sayang ya.

Virus selfie ini menular, lho. Biasanya, kalo satu orang selfie, semua orang ikutan selfie. Akhirnya sebuah pameran yang agung bisa berubah fungsi jadi latar belakang pepotoan belaka. Hello, Me Generation!

Trus, secara fisik, para tukang selfie ini berpotensi ngerusak karya, lho.

Gue pernah berkunjung ke sebuah pameran di Galeri Nasional, dan menyaksikan segerombolan ABG sibuk pepotoan dengan jarak yang terlalu dekat dengan sebuah lukisan, sampe akhirnya lukisan tersebut kesenggol dan nyaris jatoh. Sekuriti dateng, lantas ngomel-ngomel sambil cerita bahwa beberapa hari sebelumnya ada patung seharga sekian puluh juta rupiah pecah, akibat kesenggol orang yang terlalu heboh selfie. Dyaaaar.

Memang, di pameran seni, gue perhatikan orang sering selfie terlalu dekat dengan objek latar mereka. Dangerously close.

Pada mikir nggak, sih, kalo ada karya rusak, biaya kerusakannya harus ditanggung oleh siapa?


Taken candidly at Trienale Patung, Galeri Nasional, 2014

b. Orang yang nggak taat aturan


Pameran besar seperti Aku Diponegoro biasanya menerapkan sekian banyak aturan untuk melindungi karya yang dipamerkan. Misalnya, karya nggak boleh disentuh, dan ada beberapa lukisan yang nggak boleh difoto samsek, karena materi lukisan yang sangat tua rapuh dan sensitif sama flash kamera.

Tapi tetep ada, lho, orang-orang yang colak-colek karya. Ugh. Bahkan saat gue ikut guided tour, ada orang nanya ke Peter Carey tentang sebuah lukisan sambil NGELUS-NGELUS lukisannya bak ngelus kucing. A 19th century painting! Kayaknya jantung Peter Carey langsung coplok ke mata kaki, deh :)))

6. Kaya program

Selain memamerkan karya, Aku Diponegoro juga bikin banyak program lainnya sepergi lokakarya, diskusi, pemutaran film, performance art, dan favorit para ibu-ibu, program untuk anak-anak.

IMG_7103

IMG_7106

Oya, jangan lewatkan fitur yang keren indang, ya!

***

Dengan segala keunggulannya, wajar ya gue—dan puluhan ribu orang lainnya—seneng banget dengan kehadiran pameran Aku Diponegoro di Jakarta. Gue pun sangat menanti kedatangan pameran-pameran non-komersil berkualitas seperti ini lagi.

Nggak harus seni, lho. Gue mau dateng ke pameran sejarah, pameran mistis (mau, kok, liat jenglot dipamerin… Tapi jangan yang tepu-tepu, ya), bahkan pameran senjata. Asalkan berkualitas, aku mau!

Tapi wishlist yang utama, sih, tetep… bawa pameran Game of Thrones kemarih dong, plis! (did anyone see Episode 8, by the way? OHMAYGAT).

11 comments:

  1. Wah GoT disinggung *langsung ngga tahan komen :))))))) MERINDING BANGET NGGA SIH MENIT MENIT TERAKHIR EPISODE 8???? can’t wait for the next episode (dan berharap Sir Alliser nggak geblek ngelarang Jon and other Wildings masuk)

    Thank you for posting kak lei... jadi nambah pengetahuan buat yang ngga dateng ke pameran :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha tahan mbak tahaaan, nanti aku posting full lagi soal GoT ya :)))

      Delete
  2. ASLIIII kelakuan orang geblek dipameran bikin elus dada. Pernah tuh pas pameran ada karya ditaruh di semacam balok gitu, ealaahhh baloknya didudukin -..- gatel banget pengen nylepet orang macam itu zzzz

    Btw, lanjutan kisah liburan di Balinya masih ditunggu ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Didudukin banget! Atau disenderin atau sama sekali dicuekkin :)) Hahaha iya, biasanya kalo ada orang yang nagih blogpost, either blogpost soal Bali atau Vakansi Dinsey :D Bentar yaah...

      Delete
  3. Halo Tante *dikeplak karena manggil Tante* yaudah Mbak deh~ :)
    Mbak Laila aku silent reader selama ini ehehe salam kenal ya
    Suka banget review pamerannya... jadi pengen kesana juga

    Suka suka banget sama lukisannya, keren bisa ada permainan cahaya gitu! (kapan aku bisa gambar kayak begitu /plak)

    Serem banget denger cerita selfie yang sampe ngerusak barang gitu. Coba kalau karya mereka yang dipamerin gimana perasaannya kalau rusak gitu... kira2 mereka gantiin nggak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Syifa :) Makasih udah baca-baca yaa. Rela deh dipanggil Tante, daripada dipanggil Om? *melangkah tertunduk gontai*

      Delete
  4. EPISODE 8 PETJAAAAAAH!!!!! GELA GELA HAMPIR NGALAHIN RED WEDDING INDYANG! Eiya ngeh gak sih kak tiap season pas episode 9 pasti ada aja yang mengezutkan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. TAUUUU! Tapi mari berharap episode 9 besok ini nggak ada Stark yang mokat. Sungguh, hatiku nggak koat. Kalopun ada, biarlah kucing piaraannya Stark aja atau apalah gitu yang mati...

      Delete
  5. ((anak genderuwo)) KZL!!!! :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi penasaran juga kan laaau :)))

      Delete
  6. ada patung papahkuu..ahaha thanks ya Lei...itu kmrn aku yg ambil tu patung paa slese event nya,naruhnya ditas agak serampangan....langsung ditegur sama kurator nya ....ampuuuun Pak eeee....

    ReplyDelete