Feb 14, 2015

#ReadMoreBooks2015: Fragile Things by Neil Gaiman

Before I was a writer, I was a heavy reader. 
But like many people nowadays, I slowly left books for social medias and Internet articles.

I want to change that. I want to bring back my voracious appetite for reading.  Therefore, one of my 2015 resolutions is to read all-year long, without stopping, book after book. And every time I finish one, I will post my thoughts here to motivate me. Hopefully, it will motivate you as well.

***


Title: Fragile Things
Author: Neil Gaiman
Publication Year: 2006

What Is It: buku kumpulan fiksi (puisi dan cerpen) yang mayoritas bernuansa dark dan fantasy.

Why I Chose This Book:


Sejak lulus kuliah, kesanggupan gue untuk baca novel (dan ngikutin sinetron) berkurang drastis, berhubung gue jadi short-attention span berat. Nggak sanggup, dah, ngikutin plot dan penokohan yang panjang-panjang.

Maka gue beralih ke buku-buku kumpulan cerpen.

Gue cinta banget sama cerita-cerita horor, misteri dan thriller yang ‘teror’nya halus tapi mencekam. Bagi gue, yang memenuhi kriteria tersebut dengan sempurna hanyalah karya-karyanya Stephen King. Anaknya, Joe Hill, cukup mendekati.

Gue nggak pernah sekalipun baca novelnya King, tapi justru khatam semua kumpulan cerpennya. AND I LOVE EVERY SINGLE ONE OF THEM.

However, I decided to branch out.


Gue nemu Fragile Things secara nggak sengaja di toko buku. Sebelumnya, gue nggak pernah tau bahwa Neil Gaiman punya buku kumpulan fiksi bertema dark dan creepy pula. Harus diicip dong, ah.

Neil Gaiman BUKAN spesifik penulis cerita horor kayak Stephen King, tapi banyak yang bilang, karya-karyanya yang bernuansa dark cukup bikin merinding, dan sekian diantaranya tercakup dalam buku ini.

Oya, gue bukan pengikut Neil Gaiman secara khusus. Sebelum baca Fragile Things, gue ngikutin karya-karya do'i secara sporadis aja—nonton Stardust, nonton Coraline, baca The Graveyard Book, baca The Sandman sepotong-sepotong, dan sebagainya.

Neil Gaiman adalah penulis legendaris dengan segudang prestasi dan fans-fans fanatik. Tapi, sejauh ini, gue sendiri nggak yakin, whether I like him and his works or not. Will Fragile Things changes this?

How I Felt After Reading It:

Kagum dan bingung.

Nggak semua kisah Fragile Things bernuansa dark dan creepy. Sebagian lain bernuansa fantasy, sebagian lain bernuansa science-fiction, dan sebagian lain murni aneh aja. Nggak tau apakah karena otak gue yang nggak nyampe, atau karena emang konsepnya berantakan *ditombak fans fanatik Gaiman*.

Tapi gue bahagia, karena cerita-cerita creepy-nya Fragile Things merupakan definisi sempurna dari cerita creepy versi gue. Halus, tapi mencengkram hati disaat-saat nggak terduga. Kayak kalo kita lagi hepi-hepi telponan sama pacar malem-malem, tau-tau ujung mata nangkep bayangan anak kecil. In fact, some of the stories are more intense than that.

Hal lain yang gue sukai adalah alusi tingkat tinggi di setiap kisah Fragile Things. Dengan kata lain, setiap cerpen atau puisinya selalu berkaitan dengan karya literatur lain. Kalo kita nggak paham literatur terkait, kita nggak akan paham maksud ceritanya.

Contoh: A Study in Emerald adalah ‘plesetan’ dari cerita A Study in Scarlet-nya Sherlock Holmes, dengan selipan science fiction gaya H.P. Lovecraft. Kalo kita nggak paham dunia Sherlock Holmes dan belom pernah baca A Study in Scarlet, kita nggak akan paham ke-jenius-an A Study in Emerald.

Begitu juga dengan cerpen The Problem of Susan, yang mengandung elemen kental dari The Chronicles of Narnia. Kalo kita nggak tau kisah Narnia sama sekali, kelar deh.

Neil Gaiman is a very, very strong strong reader
, dan alusi di setiap karyanya menunjukkan bahwa referensi literatur dese luas banget. Ish, tau deh, Om Neil, tau deeeh...

Pengetahuan literatur gue sendiri jelas jauh sama Gaiman, tapi gue suka banget ‘memecahkan misteri’ di setiap cerpen dan puisi Fragile Things. Begitu ada alusi yang nggak gue pahami, gue langsung korek Google sambil nebak-nebak, kira-kira cerpen ini referensinya kisah apa.

Makanya gue rada lama ngelarin buku ini. Yabeees, dikit-dikit Google, dikit-dikit Google!

Dengan demikian, setelah baca Fragile Things, pengetahuan gue bertambah tentang Sherlock Holmes, Kisah 1001 Malam, The Chronicles of Narnia, The Matrix, Beowulf, Tori Amos (Gaiman sahabatan sama musisi Tori Amos, jadi beberapa puisi Fragile Things berkaitan dengan lagu-lagu Tori), dan banyak lainnya.

After finishing this book, I decided I like Gaiman
, walau nggak bisa menggantikan cintaku pada Stephen King. Gaiman’s writing skill is, hands-down, amazing. I will grab a copy of American Gods, Anansi Boys, and most definitely his other fiction anthologies.

Favorite Part / Stories:


Layer 1: SUKA BANGET!
October in the Chair (cinta banget!), Closing Time (super creepy), Other People (sepenggal kisah tentang neraka yang bikin gue langsung buru-buru sholat tobat. Apakah gue murtad kalo cerita ini lebih bisa bikin gue takut Tuhan dibandingkan dengan sepenggal ayat suci?), Keepsakes and Treasures: A Love Story (nggak dark banget, tapi amat menarik), Feeders and Eaters, Sunbird (so lovely and brilliant).

Layer 2: Suka aja.

A Study in Emerald, The Flints of Memory Lane, The Facts in the Case of the Departure of Miss Finch, The Problem of Susan, Instructions (satu-satunya puisi yang gue suka di dalam buku ini), How Do You Think It Feels (heartbreaking :'( ), How To Talk to Girls at Parties, The Monarch of Glen.

Sisanya… nggak paham. Zzzz.

Reading Duration:
December 2014 – February 2015

Next Book in Line:
Gone Girl by Gilian Flynn

6 comments:

  1. Hahahaha..mungkin karena pengetahuan literaturku minim banget ya. Waktu baca Anansi Boys, perasaan yang muncul: kesel karena ceritanya bikin kesel, bingung.
    Akhirnya gak ada yang nyantol deh isinya apaan, hahaha.
    Punya akun Goodreads tak? Pengen liat resensi buku-buku lain dari mb Lei :) Atau hanya di blog aja adanya? Ditungguuuu buku-buku berikutnyah..

    ReplyDelete
  2. halo mbak lei, aku silent reader yg jadi gatel pengen komen karena ada Neil Gaiman dibahas di mari :D
    baca review ini jadi penasaran pengen ikut baca (kecuali bagian yg serem) kebetulan memang belum baca yg ini. tapi oh tapi.... belum ada terjemahan bhs indonesianya inih. maklum enggresnya pas²an :((
    Neil Gaiman salah satu penulis favorit, berasa sah² aja baca cerita fantasi kalo yg ngarangnya dia heuheu....
    Kalo buku favorit aku Good Omens, cerita soal datangnya kiamat in a bodor way :))

    ReplyDelete
  3. Good Omens FTW! Bener kata mbak Nonny... bodor abis daaah.. haha..

    Oh, itu ternyata namanya short attention span ya, ngerasa amat sejak punya anak ngga bisa nonton film yang panjang2 (kecuali di bioskop ya, kan kepaksa duduk), jadi beralih ke series yang satu episodenya paling 42 menit-an.

    Neverwhere juga keren mbak.. Gone Girl seru! Asal jangan baca spoilernya dulu kali yaaa..

    ReplyDelete
  4. aRee / winkthink: Masaaa... Anansi Boys mbingungin yah? Huhuhu. Duluuuu buanget, jaman purbakala (aka jaman kuliah) aku punya account Goodreads. Tapi udah nggak pernah dibuka, kayaknya isdet deh hihihi.

    Nonny & Dela: Good Omens! Noted :D Aku baru 60an halaman Gone Girl, hatiku mbruduuuuuul T__T

    ReplyDelete
  5. Oo.. baru tau Neil Gaiman ini. Gw suka banget film Stardust, suka banget Coraline, tapi ga tau benang merahnya disini. Baiklah kalo begitu mari kita menonton Gone Girl...

    ReplyDelete
  6. HEITS!! Gone Girl bukan dari Gaiman lhooo... Kan aku tulis disitu :) Aku bahas Fragile Things-nya Gaiman, tapi terus akan baca Gone Girl, yg karangan Gilian Flynn. Bukan Gaiman :)

    ReplyDelete