Jan 9, 2015

We're Lodoh But Very Happy - End of Year 2014 Bali Trip (part 1)

Sebelum mulai, kasih warning dulu, ah:

Ada tiga kerugian kalo kamu-kamu baca postingan trip report Bali bagian pertama ini. Pertama, nggak ada fotonya sama sekali. Kedua, panjang banget, seperti biasa. Ketiga, postingan ini akan penuh dengan kisah sial. Nggak tau kenapa, hari pertama kami di Bali sungguh dirundung malang, kagak ada hepi-hepinya. ‘Kan aku khawatir, nanti pembaca ikutan sedih… (siapeeee juga yang mau ikut sedih?).

Tapi kalo pada nggak masalah, hokelah! Dengan mengucap bismillah, kita mulai kisah pada tanggal…

29 Des 2014
Day 1:  Hari Seribu Nestapa

Nestapa #1: Kepepet Waktu

7.15 WIB

Di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, kami check-in di counter AirAsia dengan sejuta bismillah. Segala doa—dari doa makan sampe doa masuk WC—dikomat-kamitkan bibir, dan gue yakin, ratusan penumpang lain juga pada mendadak religius. Ya, abis gimana… musibah QZ8501 baru sehari yang lalu!

Beres check-in, kami sarapan somay dan nasi goreng dengan terburu-buru, berhubung udah mepet waktu boarding. Nasi gorengnya sih biasa aja, tapi kok somaynya endes banget?! Katakan padaku, hai tukang kayu, kedai makan seberangnya Starbucks T3 tuh namanya apa sih? #infopenting.

Kelar makan, kami terbirit-birit menuju boarding gate.

Nestapa #2: Obatku Mana?

Menjelang boarding, gue baru teringat sesuatu. Obat mana, ya? Setelah aduk-aduk tas seratus kali, baru terima kenyataan… obat gue ketinggalan di rumah!

Bukan, bukan obat gila :D Jadi, beberapa hari sebelum berangkat, gue kena Urinary Tract Infection alias UTI alias Infeksi Saluran Kemih. LAGI. Sebenernya gue udah sering kena UTI—malah kadang setaun dua kali—jadi udah biasa (ini bangga apa gimana, sih?). Kalo udah nggak mempan diobati dengan banyak air putih dan cranberry juice, biasanya gue baru berobat.

Berhubung mau traveling, sehari sebelum berangkat, gue bela-belain ke dokter dulu, lalu dinyatakan perlu mengkonsumsi antibiotik.

Eh, pas moncong pesawat udah di depan mata gini, antibiotiknya ketinggalan! Gimana siiih…

Maka dalam sepersekian detik, gue langsung gerak cepat bak komandan perang: Whatsapp adek gue, minta tolong cariin obat dan resepnya di kamar, trus fotoin. Gue akan coba beli di Bali bermodalkan foto resep tersebut, tapi kalo nggak bisa, cusss minta JNE-in si obat dengan paket kilat. Mantap! Strategis! Maklum, udah biasa perang. Perang di Facebook.

Alhamdulillah, adek gue kooperatif tanpa ribet, dan nggak lama kemudian, do’i nge-Whatsapp foto resepnya. Semoga bisa dibeli di Bali, yaaa… Hufttt…

Nestapa #3: Pesawat Lelet, Cuaca Jelek

8.30 WIB

Akhirnyaaa… kami sukses duduk manis di dalam pesawat. Langsung berangkat, nih, cuuuy? Yea, you wish. Pesawatnya malah nggak gerak-gerak selama hampir sejam karena alasan teknis! Dan ketika akhirnya terbang, pesawat berkali-kali turbulence. Oh, nasiiib.

Di penerbangan kami ini, ada beberapa bule Amerika yang kalo gue tebak, semuanya New Yorkers, dinilai dari aksen, isi obrolan, tingkat kepedean dan tas Henri Bendel-nya. Padahal mereka nggak satu rombongan.

Selama turbulence, para New Yorkers ini santai banget, asik sama temen masing-masing ngobrolin politik, seni, budaya, ngetik, baca-baca headlines New York Times. Semuanya keren, tampak intelek, dan nggak peduli. Sungguh terbalik dengan penumpang Indonesia yang pada tegang, sibuk ngeluarin buku doa dan/atau minyak angin (termasuk gue. Mabok udara, keleus…).

What a contrasting view.

Trus, udah lah tadi berangkatnya lelet, eh selama penerbangan pun, pilot sibuk muter-muter, menghindari awan gelap yang super tebal. Jadilah, mendaratnya ngaret sekali. Aku pun udah bak pembetes pertama kali naik mobil di ibukota… maboknyaaa, bukan maen! Ketika akhirnya mendarat, seluruh penumpang tepuk tangan dengan hepi/noraknya. Warbiyasak! Semoga cukup sekali aja ya begini!

Nestapa #4: Welcome to Hell on Earth!

12.15 WITA

Bali hujan deras, dan bandara Ngurah-Rai—seperti yang sudah diprediksi—penuh dengan turis barbar dan nggak modis. Selamat datang di Bali pada akhir taun.

Dari dulu gue berprinsip, bahwa timing terjelek untuk liburan ke Bali adalah akhir taun, karena pasti penuh, ujan, dan rate-nya mahal semua. Kalo bukan karena kepengenan Teguh datang kesini akhir taun, gue mah ogah, deh.

Baidevei, bandara Ngurah-Rai makin cantik, ya? Laaaf.

Di pintu gerbang, kami disambut oleh pihak penyewaan baby gear. Inget ‘kan, kami nggak bawa onderdil bayi samsek dari Jakarta? Gue emang berniat sewa di Bali aja, supaya nggak repot. Gue nyewa tiga baby gear yang menurut gue paling vital aja—stroller, carseat, dan sterilizer botol.

Penyewaan baby gear di Bali ada banyak, kelengkapan barang dan harganya pun bervariasi. Penyewaan yang gue pake ini adalah hasil nyari sendiri di Google, bukan atas rekomendasi siapa-siapa. Info lengkap dan review-nya nanti aja, yaaa :)

Nestapa #5: Mobil Nggak Mumpuni


Setelah ketemuan sama pihak penyewa baby gear, kami ketemuan sama penyewa mobil. Seperti biasa, kami ngambil Avanza, tanpa sopir. Teguh LOVES driving outside Jakarta, solely relying on GoogleMap, and discovering new roads. He said it’s a man thing, dan harga dirinya sebagai lelaki akan terluka kalo harus pake sopir. Duileee… kalo lupa ngasih duit jajan ke istri, kok harga diri nggak terluka?

Duuh, interior mobilnya kok agak dekil, ya. Padahal gue udah 723x wanti-wanti ke Pak Wayan—si penyewa mobil—lewat Whatsapp, nggak mau mobil dekil. Tapi yang paling cakep adalaaaah… STNK mobil ini lagi ditilang. Jadi kami cuma bermodalkan surat tilang. Maniz bingitz. Berhubung gue udah capek, I said nothing. Whatsapp Pak Wayan pun males.

Beres serah terima mobil, kami meluncur menuju parkiran, ke mobil sang penyewa baby gear, ambil barang-barang sekaligus pasang carseat... di tengah hujan. RIBET, DEH.

Nestapa #6: MACET AMAT?!


13.00 WITA

Keluar dari bandara, kami kehadang macet parah. Tujuan pertama kami ‘kan Ubud, dan waktu tempuh bandara-Ubud tuh normalnya sejam. Namun di hari yang tidak normal ini, kami baru nyentuh pinggiran Ubud jam 15.00 WITA. Halooooh, anak guah belom makan iniii?!

15.00 WITA

Awalnya, dari bandara kami mau langsung ke villa di Ubud, beberes, baru keluar cari makan. Selain itu, hari ini kami janjian sama Bu Made di villa. Nah, berhubung macetnya segini menggila, terpaksa GANTI RENCANA!

Ketika kami nyentuh pinggiran Ubud jam 15.00, gue menitahkan Teguh untuk berhenti di restoran pertama yang dia temui. Restoran apa aja, terserah, asal di plangnya nggak ada gambar babi gede (kalo gambar babinya kecil, boleh?). Dikit lagi gue bisa makan orang, niiiih… laper banget!

Maka Tuhan pun menuntun kami ke… Bebek Tepi Sawah. Awalnya gue pikir, oh oke, bagus lah, nyampenya disini. Makanannya enak, familiar, porsi gede, tempatnya juga nyaman. Cocok buat makan-makan barbar.

Gue pun nelp Bu Made, ngasitau beliau untuk datang ke Bebek Tepi Sawah aja, jangan langsung ke villa. Do’i oke.

Siiiplah. Things should get better from here, right?

Nestapa #7: Derita di BebTepSaw


WRONG. Meskipun waktu itu udah lewat jam makan, Bebek Tepi Sawah tetep PENUH LUAR BIASA! Penuhnya oleh siapa lagi kalo bukan rombongan turis lokal tercinta? Kami harus nunggu dulu untuk dapet meja, dan ketika akhirnya berhasil duduk, servisnya pun luar biasa lelet. Kami naro pantat di BebTepSaw jam 15.15, makanan baru keluar jam 16.35 *muntah asam lambung kelaperan*

Untungnya, karena restoran ini open-air, luas dan asri, suasana nggak terasa sumpek. Masih kerasa seger. Tapi servis leletnya iku, lho, mana ambo tahan!

Saking capek dan keselnya, gue hampir mewek sambil curhat sama orang-orangan sawah, walaupun gue tau, gue nggak bisa komplain. What can I do? Ini high-season, dan rombongan turis lokal biasanya cuma mengidentikkan Ubud dengan makan bebek, sehingga restoran bebek seantero Ubud pasti begini kondisinya. Kenapa, sih, nggak pada makan yang di cabang PIM aja?! Atau Citos?! *lupa sendirinya juga ikut menuhin BebTepSaw*

Satu-satunya hal yang sangat kami syukuri adalah Raya. Dengan segala kenestapaan bertubi-tubi hari ini, the boy had been very patient. Nggak rewel, nggak nyusahin, dan tetap ceria meski orangtuanya udah pengen tembak-tembakin orang pake bazoka. Makasih, ya, anak sayang :’)

Anyway, kemacetan sore ini ternyata merata di seluruh Ubud. Bu Made pun stuck di jalan (beliau datang dari arah Klungkung), sehingga baru nyampe di BebTepSaw jam 16.35, bertepatan dengan datangnya makanan kita.

Alhamdulillah.

Dengan sekali hirup, makanan gue dan Teguh langsung ba’is. Asam lambung udah kerasa di tenggorokan, kakaaak… Laper sekali, kakaaak… 

Tapi anehnya, walaupun nggak ngemil-ngemil sebelumnya, Raya nggak mau makan. Maksimal cuma mau 3-4 suap. Seriously, son? I know you are a non-eater, but this is EXTREME. Huhuhu. Gue antara patah hati sekaligus kagum. Anakku, dimana kau sembunyikan tembolokmu? Apakah kamu memamah biak?

Kelar makan, kami buru-buru minta bill, dan langsung meluncur ke villa. Bu Made ngintil di belakang dengan motornya. Sempet mampir ke Alfamart untuk beli susu, popok (wow, ada Merries!), air mineral, dan snacks.

Nestapa #8: Kalah Sama PopMie


Kami sampai di villa sekitar maghrib.

Phew, out of all the bad things that happened to day, at least our villa was a sight for sore eyes. Cantik, bersih, tenang dan menyenangkan. Murah pula. Nggak sempurna, sih, tapi cukup sesuai ekspektasi. Alhamdulillah wa syukurilah. Villa apakah inyiiii? Info lengkap dan review belakangan, yaaa :)

Gue langsung menggenjot sisa-sisa tenaga untuk beberes kayak orang kesetanan, sementara Raya main sama Bu Made. Teguh? Biarlah dia ngegoler dulu bak duyungson. Kasian, ya, abis nyetir jauh. Dicerewetin istri cranky mulu, pula.

Pas lagi beberes, tetiba Raya minta-minta PopMie-nya Teguh yang dibeli di Alfamart. Zzzzz…

Raya terus merengek dan merengek kayak biola rusak, sehingga terjadilah salah satu dosa terbesar gue selama liburan ini: ngasih balita semata wayangku PopMie, junkfood paling nggak sehat dalam sejarah manusia. Hina aku! Caci aku! Laporin aku ke Kak Seto!

Satu-satunya pembelaan gue adalah, anak gue nyaris nggak makan seharian, dan villa ini nggak menyediakan room service kecuali saat sarapan. I didn’t have any energy left to find other alternatives, jadi… YA, UDAH. Ketelen lah itu PopMie sama Raya, dilanjutkan dengan ngabisin Heinz satu jar. Gue aja ngeliatnya eneg, plus eneg sama parenting diri sendiri :( Tapi ya sudahlah, life goes on, I guess?

Sehat selalu ya anakku, huhuhu.

Nestapa #9: The Fall


Jam 20.20 WITA

Akhirnya, situasi tenang terkendali. Koper udah di-unpack dengan rapi, perut kenyang, semua udah pada mandi dan wangi. Bu Made—yang telah menjadi penyelamatku—udah dibayar untuk hari itu, dan pulang. Tinggal goler-goleran di kasur, deh!

Alhamdulillah. Semoga nggak ada kerempongan lagi ya, Tuhan?

Lalu Tuhan pun berkata, “No vay!

Lagi asik main di kasur, tiba-tiba Raya meluncur bebas dari tempat tidur ke lantai, dengan posisi kepala mendarat duluan. JEDUEEEER!

Astaghfirullohaladzim. Copot jantungku, copot! Spontan Raya nangis jejeritan, dan langsung gue ciduk ke pelukan. Gue dan Teguh buru-buru menenangkan si bocah sekaligus meneliti jidatnya, kalo-kalo ada benjol atau lebam.

Eh, tau-tau Raya bikin gerakan-gerakan aneh dengan mulutnya… dan tanpa disangka… BLAAAAAARRRR! Dese muntah muncrat banyak sekali dari mulut dan hidung. Dua kali! Astaghfirulloh.

I was stunned. I literally couldn’t move
, karena gue tau, muntah setelah jatuh di kepala adalah tanda bahaya. Tanda gegar otak. Or worse.

Raya langsung dibopong ke kamar mandi, dan dibawah shower, dia muntah sekali lagi. Gue bisa liat lembaran-lembaran PopMie bececeran di lantai, dan nyium bau asam lambung, bau micin, sekaligus bau Heinz yang menyengat.

Again, I was stunned. Really stunned, sampe Teguh negor, “Heh! Kok diem aja?” AKU KUDU PIYE MZ, NAMANYA JUGA SYOK!

Untungnya, Raya nggak menunjukkan gejala lain. Masih sanggup berdiri, masih bisa komunikasi, dan dilasi pupilnya (kayaknya) normal. Maka sambil berusaha sok cool-calm-confident, gue mandiin Raya dan diri sendiri, yang ikutan kena muntah sebadan-badan. Kemudian Raya dipakein baju dan ditimang-timang bapaknya, sementara gue nyuci baju-baju yang berlumuran muntah, trus nge-Google segala hal tentang head injury. 

I was actually surprised I could be that calm.

Pada akhirnya, gue dan Teguh berkesimpulan bahwa Raya baik-baik saja. Katanya, sih, mayoritas muntah setelah head fall itu akibat syok, dan kalau anak nggak menunjukkan gejala lain (mata nggak fokus, disorientasi, muntah terus-terusan, lemes, ngomong nggak koheren, demam, dsb), he’s most probably fine. Kami memutuskan untuk observasi Raya dulu selama 24 jam, sebelum bertindak apa-apa. Phewww, ya Allah, pegelnya jiwa ragakuuu…

Ketika gue dan Teguh memutuskan untuk mengumumkan tragedi ini ke chat group keluarga, kami memastikan Raya udah ceria, karena so pasti, satu detik setelah gue bikin pengumuman, kakek-neneknya Raya bakal nelpon jejeritan, “CUCUKUUUUUU! MANA CUCUKUUUUUU?! Panggil ambulans! Panggil helikopter! Panggil ambulans dalam bentuk helikopter!”

Nah, kalo udah begitu, gue cuma bisa menjabarkan fakta-fakta medis, hasil observasi sementara, trus nyuruh Raya ngomong di telpon. Ini penting, supaya kakek-neneknya kalem.

Alhamdulillah, Raya perform dengan baik, “Halo Lato’! Halo Enin! Raya jatoh… Muntah… Banyak… Nggak apa-apa. Besok Raya mau liat gajah! Lato’ kapan kesini? Aydin mana? Halooo, Aydin?” trus lanjut ngelantur dengan ceria seperti biasa.

***

Terlepas dari 6,871 nestapa yang kami alami hari ini, gue percaya bahwa roda itu berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kalo hari ini rasanya capek banget, rempong banget, dan sial banget, gue optimis besok bakal hepi banget. AWAS AJA KALO NGGAK, AKU PULANG, AH!

*lempar tiket pesawat*
*pungut lagi*
*mahal*

25 comments:

  1. Lailaaaa.. Asli thank you ya aku sama Abenk ngakak-ngakak baca cerita kamu, bukan karena ceritanya, tapi karena cara kamu cerita hahaha

    Aku tunggu post selanjutnya. Anyway ngasih PopMie gak hina kok, wajar ;p

    ReplyDelete
  2. harusnya ceritanya sedih ya, ini gue malah ketawa2.

    menghiburrrr :D

    btw yang part 2 harus banyak potoo ..

    ReplyDelete
  3. Gak ada fotonya pun, aku anteng baca sampe habis :)) *trs nungguin post berfoto*

    Btw, aku jg salah satu yg menuhin Bali pas NY kmrn. Aslik, salah timing bgt, biar kata kapok kena macet, hujan, apa2 jd mahal, ttp seneng sih...

    ReplyDelete
  4. btw, resepnya bisa dibeli ga di Bali?
    #perhatian

    ReplyDelete
  5. mbaa..aku ikut terharu bacanya tapi terhibur juga, gimana doong ;p

    part II ditunggu yaa ;))

    ReplyDelete
  6. Lailaaa.. Kenapa siiih kalo cerita enak banget dibacanyaaa hahaha..

    ReplyDelete
  7. samaaaaa... kemaren pindah dari seminyak ke ubud hari yg sama. macet tiada tara. sampe bebek tepi sawah udah sold out, gak terima tamu. padahal baru jam 7an..
    pindah bebek bengil, udah pesen trus mbakk nya balik lagi, bebek nya abis...

    iya yak salah timing klo akhir taun..

    ReplyDelete
  8. All: Hihihi makasiiiih :)

    Raima: Ih, kamu perhatian banget kayak pacaran :-* Alhamdulillah, ada, tapi baru sempet beli di hari kedua euy :)

    Lila: Parah yaaaa! Si Komo lewat banget, deh. Bukan lewat lagi, tapi kemping kayaknya T__T

    ReplyDelete
  9. Ahahaha...memang dah, cerita 'horor' begini hanya dirimu yang bisa gubah jadi kocak mbak..loooveee your writing..

    ReplyDelete
  10. part Raya jatoh syedihhh... semoga Raya beneran gpp ya Mbak..
    Ayoo buruann lanjutin kisahnyaa *gelosordepanlaptop*

    ReplyDelete
  11. Lailaaaa...your writing is entertaining like always.
    Maafkan diriku yang terkikik2 diatas kesialan2mu..:D

    And hail to PopMie! I would definitely do the same in your situation. Lagian...pop mie kan enaaakkk....*keselek vetsin*

    ReplyDelete
  12. Aaaaaaa senangnya gw menemukan blog loe lagi. Kangen baca tulisan-tulisannyaaa, Dulu wedding blogmu favorit banget deh. Love the way you write and tell the sroty. Maklumlah gw sempet vakum dari dunia blog 2tahunan, jadi gak tau loe ada blog ini. haha

    Sekarang saatnya gw membaca postingan loe yang lain-lain. haha

    ReplyDelete
  13. Lailaaa.. hanyut bgt bacanyaaaa.. beneran yg deg2an pas baca part raya jatoh dan muntahhh.. mudah2an raya gapapa yaa. mgkn juga karena dari ga makan apa2 trus lgsg makan popmie, perutnya ga nerima kali ya.. ga sabar nunggu cerita berikutnyaa hihi

    ReplyDelete
  14. part 2 pleaseeeeee... *makan kacang*

    uli

    ReplyDelete
  15. kak Lailaaaa, pertama kali melipir ke blogmu kok ya aku antara nahan ngakak sama kesian yak, terhibur sama cara nulis kakak, mengubah tragedi jadi komedi *lah*

    Salam kenal yah kak, mbok ya kalok ada kelah-keluh nestapa boleh mlipir ke Pensieve ikke :D

    ReplyDelete
  16. Ibunya Raya emang story teller yang handal deh. jempolan.
    Raya pasti sering ketawa deh punya ibu jenaka macam yeiy

    ReplyDelete
  17. hahahahaha.. ampun bu lela.. kamu selalu bisa bikin orang terpingkal-pingkal.
    salam.. :)

    ReplyDelete
  18. kak Leiii, akhirnya setelah 3 hari 3 malam berhasil khatamin blog ini haha sampe curi2 baca disela2 ngajar *maapkan aku murid2kuuuh* :p ditunggu segera part 2 kak Lei, sun sayang buat Raya :*

    ReplyDelete
  19. myungkiiin perut raya bereaksi "ih apaan ini mecin semua?!? keluarkaaan!"
    sami persis kayak Binar nyobain citato bapaknya dari jauh aku udah tereak eeehh dilepeh sama doi "gak enak bu!"
    WAOW!

    tenang sajah.. sebagai murid didikan dokterdokter galak itu dirimu pasti bisa khatam tandatanda kegawatdaruratan.. hehe.. pasti dari jauh mereka bilang "ibunya raya.. kamu lulus!" :P

    ReplyDelete
  20. Lodoh teh naon? di googling ga ada euy

    ReplyDelete
  21. kakak lei makin banyak fansnya :p
    *salah fokus* :D

    ReplyDelete
  22. liat di IG kayanya hefi2 ajah. ternyataaa...sampe ada cerita Raya jatoh segala. untung gpp ya :)

    yok dilanjut sis! :D

    ReplyDelete
  23. All: Thank you atas komen-komennya! Aku sampe bingung, antara tersanjung atau terteror *ngetik ngebut*. Oya, Alhamdulillah Raya bener-bener baik aja, kok, yay :D

    Anon: Lodoh itu capeeeek... :D

    ReplyDelete