Dec 10, 2014

Phone Break

I love my smartphone. I really do.

Gue tau, kok, adiksi kepada gadget itu jelek. Gue juga sering baca artikel dan kampanye yang menggaungkan pesan, “Batasi Penggunaan Gadget! Go Out and Breathe The Fresh Air!” Tapi gue tetep cinta sama smartphone gue. Bahkan setiap kali Teguh protes kalo gue terlalu sibuk sama smartphone, gue bakal nimpalin, “Well, can you be more entertaining than my phone?” Uuuu, galak.


Beberapa waktu lalu, I was having a bad week. And whenever I’m having rough times, I usually challenge myself to do something that can distract my mind. That time, I decided to do the ultimate challenge—NOT USE MY PHONE AT ALL for three days. Detoks henfon! APAAAAAA?!

Kenapa nekat? Pertama, karena gue penasaran dengan berbagai artikel ‘phone addiction’ yang pernah gue baca. Bener nggak, sih, kalo gue membatasi diri pegang smartphone, gue bakal bersosialisasi dengan lebih baik? Benarkah gue akan jadi lebih sehat? Benarkah hari akan terasa lebih santai, trus gue bakal jadi ada waktu bikin prakarya ala Pinterest moms gitu? Coba sini ane buktiin!

Kedua, ‘kan ceritanya gue pengen distract myself with a challenge. Kalo gue melakukan sesuatu yang gampang, namanya bukan tantangan, dong? Jadi gue mau coba ‘puasa’ sesuatu yang gue suka banget—pegang henfon.

Berikut adalah aturan gue untuk percobaan puasa henfon ini:
  • Matikan henfon selama mungkin.
  • Henfon hanya boleh dipake untuk telponan dan SMSan saat butuh banget, bukan untuk ngobrol ngalor-ngidul
  • Buka WhatsApp sekali dalam sehari, untuk apdet kerjaan. Segala chat diluar kerjaan dilarang dibuka.
  • Apps yang paling haram dibuka: Instagram, Path, Twitter, Line, games, WhatsApp (untuk ngerumpi).
Inilah catatan harian gue selama tiga hari tersebut.

DAY 1

8.15
It’s the morning of Day 1, and I haven’t missed my phone at all! Sudah kuduga, sih, soalnya kalo pagi, biasanya gue grabagan nyiapin Raya sekolah, termasuk nyiapin bekel bentonya, zzzz (kenyataan: cuma bikin roti selai. Paling keren goreng nugget). Belom lagi nyiapin sarapannya Teguh. Kangen henfon? Belom deh, yaw.

I predict my craving will be worst this afternoon… during my facial.

Beberapa orang melakukan facial karena mereka menikmati prosesnya, soalnya leha-leha rilek gitu 'kan, ya. Well, I do facials not because it’s relaxing, but because my skin needs it. Gue sebenernya males facial, lho, karena bikin mati gaya berat. Kudu rebahan 2-3 jam tanpa ngapa-ngapain, bosen amat, dah!

I usually always turn myself to my phone during the facial treatments, tapi kali ini ‘kan nggak bisa?! Pe-er, deh…

10.00
So far, here are the non-socmed things I already miss from my phone:

Podcast
Camera, to take Raya’s pictures
Notes, to jot down ideas on my head for blogs, works, THIS LOG.
WhatsApp, to deal with some work issues.
Pigimana ini kerjaan-kerjaan jadi ketunda?

I am also wondering: does checking out Instagram from computer is considered cheating? 

12.31
The bad news is, I cheated and turned on my phone.

The good news is, WhatsApp, Line, Instagram, Path, Twitter and games were remained untouched.
Hebat nggak, sih?! (“Enggaaak…”)

Insiden cheating ini disebabkan oleh keresahan gue: selama facial nanti, ngapain, dong, kalo nggak ngoprek henfon? Kalo baca novel, agak susah posisinya—udah pernah dicoba, seus—sehingga akhirnya gue memutuskan untuk dengerin Serial di podcast aja. Sungguh, review seri podcast ini terlalu fantastis untuk dilewatkan.

And so, while waiting for Raya at school, I turned on my phone to download the podcast. Eh, trus buka email (nothing interesting).  Eh, trus buka SMS (still nothing interesting). And then I called my driver. CHEATER! Yastralahya?

13.00
I’m home, and it’s raining cats and dogs here. Kayaknya hujan terbesar selama dua minggu terakhir, deh.

I am in front of my computer, listening to my most favorite holiday season song—Baby, It’s Cold Outside. It is essentially the only song you need in this weather, in this Christmas season.


Pengen rasanya nge-Path “listening to” lagu ini. Tapi ‘kan… ah, sudahlah.

13.30
Tadi gue dan Raya main ujan-ujanan, lho! Woooow, seru banget nggak, sih? I’ve always wanted to do it, dan karena ujan dateng pas gue lagi nganggur, langsung hajar, deh.

Awalnya gue nyuruh Raya main sendiri, tapi karena geledeknya gede, do’i nggak berani.

So he took my hand, and we both played in the rain.


Ya, envelooopeee… Kok seru amat? Dan dingin banget! Ternyata air ujan dinginnya kayak air es, ya? Nevertheless, Raya and I had fun running back and forth at our backyard, ketawa-ketiwi sambil bolak-balik tutup kuping karena geledek.

We saw our chickens—we have three chickens—took shelter at our
pendopo. Lucunya, mereka bertiga naik ke meja, trus sama-sama bengong ke satu arah ngeliatin ujan. GALAU KOK BERTIGA?! Mungkin mereka menggalaukan status poligami mereka? (ayamnya satu jantan, dua betina, hihihi). Eh, trus tiba-tiba ayamnya e’ek! Oooh, ternyata bengong mules.

I wished I could record all these amazingness—playing in the rain, the
galau pooping chickens—and upload them on my social medias. Or at least WhatsApp-ed the photos to Teguh. Tapi, yah…

16.00
I just had my facial session, and as planned, I had it while listening to the Serial podcast. OH. MY. GOD. So good. I did not regret this cheating session one bit.

I am also proud to say that, aside from listening to Podcast, I only used my phone to text someone ONCE for work and to call my driver. And that’s all. Woot, woot!


22.00
Well, it’s nighttime and I am not playing with my phone. Ini prestasi, lho, mengingat malam hari adalah waktu utama gue ngoprek henfon. I texted my friend ONCE to confirm our dance practice and that’s all.

Thank you, Game of Thrones, for keeping me distracted. Cuuuuppp... Cium Jon Snow. Selamat malam, Indonesia.

DAY 2

Hello, Day 2!

This morning was, again, easy, because I had to prepare Raya to school and that kept me busy as usual.

After that, I had a dance practice, so that also kept me away from my phone for a while.

However, I still cheated, by chatting a bit on WhatsApp in the morning, and again in the afternoon.
Kok bisaaa?!

Sebabnya ada dua.

Pertama, menjelang latian dance, ujan turun dan jalanan mulai macet, so I had to contact the dance studio’s front desk, asked them if they’re still open (lokasi studionya di daerah banjir, bok). I also had to ask my dancing buddies about the traffic, whether they’re still coming, blah blah blah. Harus WhatsApp-an, dong.

Second, it’s because I found out about an upcoming event, at one of Jakarta’s major museum. To participate in the event, you have to form a group. Naturally, I needed to ask my friends who’s interested. Harus ceting lagi, tho.

Trus, walaupun niatnya cuma mau chatting one-on-one, eh gue tergoda juga buka chatgroup di WhatsApp, hihihi. CHEATER! Langsung, deh, segala godaan setan keluar. Namanya juga WhatsApp geng rumpi, ya, isinya juicy gossips melulu. Ada yang nyebut di Path lagi ada yang seru, ada yang nyebut seleb Instagram favorit kami lagi di-bully, dan sebagainya. Duh, jari jadi gateeeel banget untuk login ke Path dan Instagram,

But I didn’t. Hebat nggak, sih? (“Enggaaak…”)

Sore dan malem, I also checked my blog’s dashboard from my phone’s browser. Browser bukan app media sosial, sih, tapi seharusnya gue bisa tahan nggak ngoprek sama sekali, lah. Oh, well. Better willpower tomorrow, maybe?

DAY 3

So yeaaah… my willpower just got weaker by Day 3. Bukannya makin kuat, ih!

In the morning, I checked out WhatsApp briefly to update my friend about the museum event, eh, tau-tau Miund nongol ngomongin podcast Serial, hahaha! Langsung pengen chatting setengah jam.

But I didn’t :)


However, later on, I checked out WhatsApp a few times the whole day to check if my friend had an update for the museum event.
Soalnya gue nggak pernah pasang pop-up notifications di henfon, jadi gue selalu kudu cek chat secara manual. Everytime I did, I was truly dying to open my WhatsApp groups, and join their conversations. Ada ratusan chat notifications menggoda iman gitu, gimana nggak gemes, ya…

But I didn’t :)

I also opened my browser a few times to check on my blog, because I just posted something the day before. I browsed nothing else, so I didn’t consider this as a serious offense.

Path, Twitter, Instagram and other apps were remained untouched.

Game of Thrones
rescued my night, again.

I was so glad when the day is over.
Tantangan puasa henfon-ku besok udahan, hore!

KESIMPULAN

Surprise, surprise. Ternyata, mengurangi waktu pegang henfon nggak memperbaiki kualitas hidup gue secara drastis. Hari nggak jadi berjalan lebih lambat, dan gue nggak sekonyong-konyong jadi punya waktu untuk masak! Crafting! Berkebun! *pasang lilin di altar pemujaan Astri Nugraha*

Trus, sebelom puasa henfon ini, gue memang jittery berat. Semacam panikan, merasa dikejar-kejar, sehingga dikit-dikit ambil henfon untuk ngecek sesuatu (yang nggak perlu dicek).

Tapi, tanpa henfon, gue MASIH jittery, walaupun pada level yang lebih rendah.

Bukan berarti mengurangi pegang smartphone nggak ada efek positifnya, lho. Salah satu hal positif yang gue rasakan adalah, I looked into my son’s eyes and listened to him a lot more. Mata dan pikiran gue juga kayaknya jadi lebih rileks, karena nggak information overload seharian.

Another thing I noticed during my less-phone days is that I talked to myself a lot. Di kepala lah, ya! Bukan ngemeng out-loud, nanti akika dikira gila.

Jadi, sepanjang hari, biasanya gue memang punya banyak pikiran. Akhirnya jadi monolog sendiri di kepala gitu, lah. Dan kalo ‘melimpah’ banget, sebagian harus gue tulis di Notes henfon. Minimal harus ngoprek henfon, supaya ‘suara-suara’ ini nggak kelewat bawel. Nah, selama puasa henfon, tentu saja the voices inside my head talked waaay more. Begitchu.

Intinya, apakah pengalaman ini akan membuat gue membuang smartphone gue, dan balik ke Nokia Pisang? Ih, nggak dong, aaah :)

Mengurangi waktu bersama smartphone memang membuat hidup gue somewhat lebih damai, tapi surprisingly, efek positifnya nggak sedrastis itu. Jadi gue rasa, gue nggak perlu puasa smartphone untuk jangka waktu lama. 

However, gue akan BERUSAHA untuk membuat certain rules to limit my phone time. Mungkin… mmm… matiin henfon setelah maghrib sampe pagi? Turn off the phone all day, every Saturday? Nggak sanggup, ah. Oooh, akyu tau... single-tasking! Nonton TV, ya nonton TV aja. Main komputer, ya main komputer aja. Makan, ya makan aja. Nggak sambil buka-buka henfon.

You know, it’s really, really easy to blame gadgets on every "penyakit masyarakat"—violence, ignorance, menurunnya kemampuan bersosialisasi di kehidupan nyata, dsb. Padahal seharusnya manusia yang kudu bisa mengontrol “monster” yang mereka ciptakan sendiri ini and, above all, find balance in every habit. Balance, balance, balance—satu kata kunci yang klise tapi memang penting. Dan susah untuk dipraktekkan dengan baik.

Bisa minta namaste? Namasteee…


11 comments:

  1. Mba Leiii... Satu-satunya aplikasi yang menggoda buat aku adalah.. Game Let's Get Rich. *kekinian banget nggak sih* Tapi serius deh. sejak ada game itu, sosmed jadi kurang menarik. Dan somehow game ini mendekatkan semua penghuni rumah: aku, suami, adek ipar. Jadi smartphon kalo di aku malah mendekatkan tuh. Karna kita sering nge game bareng. Hahaha..

    ReplyDelete
  2. Mau aku coba juga ah, mbaa.
    Kalau aku sekarang addicted to ngeblog mba.
    Maklum, DL kontes blog sambung-menyambung menjadi satu... itulah Indonesia :))

    ReplyDelete
  3. udah hari kamis, kok episode 11 Serial jam segini belom diupload, ya? masih bobo ya adminnya? (<-- korban racun serial) (lalu komennya melenceng amat dari isi posting hahaha)

    ReplyDelete
  4. Namasteee...

    namastayinbeeedddddd...

    aahahha maaf gak lucu! gue tadinya serius baca terus jadi mentah lagi ngebayangin ayam lo bengong2 mules dibawah hujan :))))))

    ReplyDelete
  5. Eh, trus buka email (nothing interesting). Eh, trus buka SMS (still nothing interesting). And then I called my driver. CHEATER! Yastralahya?
    --> Ini sebelum email gue nyampe kan? kan? *insecure* :))

    Hebat lo, La..kayaknya gue gak sanggup deh 3 hari tanpa smartphone:))

    ReplyDelete
  6. Lisnandia: Hahaha, aduh aku nggak pernah main game Line. Tuh jadi kepengen deh!

    BBB: Emberan! Kenapa yah lomba blog sekarang hadiahnya seru-seru banget? Kalo diturutin atu-atu, blogku bisa jadi TV Media deh

    Cepe: Hahaha, iya nih miminnya pengen gue kirimin burung gagak, kasih pesen "Buruan!" *referensinya udah kecampur sama GoT*

    Mawis: Hahahaha... Namasteeeeywithmeee *muncul Sam Smith* Memang perilaku hewan nggak usah terlalu dianalisa, ya. Kesannya merenung, tapi sebenernya nggak pernah jauh dari pengen makan, pup, dan kawin :)))

    Anin: Hahaha, insecure niyeee... Nggak, kok. Email nggak penting itu berarti spam atau tawaran-tawaran diskon olshop yang terkutuk T___T Kamu sih waktu itu masih atit... :)

    ReplyDelete
  7. gw pernah nih serius banget ga mau pake hp selama jam kerja krn distracting banget dan gw dikejar2 deadline. Jadi tiap hari hp ditinggal di rumah, di cek pas mo bobo.. positif banget efeknya! sukaaakkk! sebulan lebih deh berjalan dengan lantjar.. sampe akhirnya, flat gw kerampokan! pulang2 nemu pintu dibobol, ga bisa nelpon sapa2.. akhirnya ngetok tetangga minta tlg ditelponin pulisi.. abis deh flat gw digasak maling -termasuk hp- huh! sejak saat itu HP harus gw bawa banget.. tapi ya gitu, klo ada HP di tangan, gatel pgn liat2 social media

    ReplyDelete
  8. Kalo gw, awalnya karena handphone rusak terus ganti ke handphone yg superbasic (cuma bisa telp ama sms). Jadi sekarang balik lagi baca buku buat hiburan di jalan. Sekalian persiapan kalo suatu waktu dapet kesempatan tinggal di NY terus dispot amat team CoverSpy *cetek*

    ReplyDelete
  9. Mbak Leeeei.. udah denger Serial yang terbaru yang Rumors beluuum??? Terus, terus, minggu depan episode finale! Aaaaks.. dibahas dong disini, disini, sesekali serius #apeeeu

    ReplyDelete
  10. Tiffany: Haaaah, aduh betek banget ya sampe kemalingan :( Padahal kebiasaan nggak bawa HPnya pas kerja udah oke banget!

    Fi: Hahaha, makin kesini gue juga makin mikir, non=smartphone is the healthy way to go sih. Tapi... tapi.... T___T

    Dela: Belooooom! Kamu googling deh, makin banyak pembahasan di internet soal Serial niiih...

    ReplyDelete
  11. akuuh waktu jaman kuliah, tiap berantem sama pacar pasti langsung silent-in hp, trus ditaro di pojok lemari terdalam. dan aku melenggang tanpa hp seharian kemanamana.
    kalo sekarang mana mungkin eyk begituu.
    #HidupGenerasiNunduk

    ReplyDelete