Oct 5, 2014

Bali Family Trip - August 2014 (part 3)

Day 3:
Hello Ubud, goodbye Ubud!

Ahenda utama hari ini adalah pindah basis, dari Ubud ke Nusa Dua, sehingga kami nggak berencana jalan-jalan heboh.
Trus, memang ya, hidup itu bagai roda. Kadang diatas, kadang dibawah. Kalo kemaren mood dan stamina gue udah busuk sejak bangun tidur, maka hari ini hidup terasa endah, karena pagi-pagi mamak gue tau-tau berinisiatif ngambil alih Raya. HOREEEE!

Sebenernya emak gue bukan eyang tipe super telaten sama cucu. Biasa aja, lah. Tapi nyokap gue lemah sama dua magic word berikut: susah makan.

Nyokap gue ‘kan tipe orang jadul—paling parno kalo anak kecil susah makan. Jadi kalo Raya lagi susah makan, dese langsung menciduk cucu tertuanya ini demi program penggemukan badan, alias disuapin (baca: dicekokin).

Sama seperti pagi ini, “Kak, katanya kemaren Raya seharian susah makan, ya? Sini, Mamah suapin Raya sarapan, siapa tau lebih mau.” OKE DEEEEEH.

(PS. Kami baru akan ketemu Bu Made nanti sore, di Nusa Dua)

Jadi sementara Raya disuapin Mamah di kamar, gue dan Teguh sarapan dengan damai di restoran Komaneka Bisma. Walaupun rasa makanannya masih sama kayak kemaren—kurang lejat—gue sangat menikmati tiap detik sesi sarapan ini. Everything was so peaceful and beautiful. Gue pun baru merasa liburan gue akhirnya ‘dimulai’. Acian, deeeh…

IMG_4549

IMG_4551

IMG_4556

Kelar sarapan, kami numpang leyeh-leyeh di balkon kamar adek gue…

IMG_4562

IMG_4564

IMG_4565

IMG_4577
I feel freeeee...

IMG_4602

IMG_4581

IMG_4583   IMG_4588
EVERYBODY CALM DOWN, ini bukan kostum umatnya Lia Eden! Daster-daster Rama Aiphama ini (berikut topi-topi jerami ala Toto Chan-nya) memang disediakan oleh Komaneka Bisma di setiap kamar, untuk para tamu. Sebelnya, daster-daster ini cuma tersedia di satu ukuran, jadi buat gue yang kuntet gini, so pasti kegedean. Nevertheless, bahannya kayak terbuat dari katun sorga. Enak banget!

IMG_4587

IMG_4590

IMG_4592

IMG_4600

IMG_4604

Trus…. berenang, deh!

Kolam renang utama Komaneka Bisma memang kecil, tapi mereka punya kolam renang satu lagi yang lokasinya agak tersembunyi. Jadi kalo bosen, bisa ganti-gantian.

Menurut akoh pribadi, you’d either love or hate Komaneka Bisma’s pools. Kalo kamu anaknya beach club banget, pasti sebel, soalnya kolam renang disini kecil, rada tersembunyi, serta menghadap bukit ijo royo-royo. Nggak ada keramaian apa-apa kecuali suara kicuan burung. Cocok jadi lokasi video klip Chrisye versi karoke.

Tamu-tamunya pun—seperti kebanyakan turis Ubud—rata-rata bule kalem paruh baya dari dataran Eropa. Hawanya mapan banget, deh. Mapan, niyeee.

Dan yang paling menantang, kolam renang disini dingiiiiin…




Tapi kamu bisa jadi malah suka banget sama kolam renang Komaneka Bisma, karena alasan-alasan yang disebutkan diatas—secluded, asri banget, adem dan tenang.

Kalo aku, sih, awalnya no, ya. Males amat berenang dingin-dingin, mana kolamnya cuma seiprit. Tapi namanya juga turunan bebek. Pas udah nyemplung, lama-lama hepi juga, hihihi. There’s something peacefully therapeutic in swimming in the middle of lush greenery. Damaaai banget.

Raya? Bocah, mah, rendeman di ember rumah aja girang banget, apalagi di kolam. Pokoknya kolam renang model apapun selalu disambut Raya dengan bahagia, hihihi.

Setelah sekitar 1,5 jam berenang, kami beberes, trus check-out. We got free cookies for the road!

Dari sini, rombongan kepecah lagi.

Nyokap, Nadia, Bindra, dan Aydin berangkat ke Bali Zoo.

(Gue baru tau, lho, ada yang namanya Bali Zoo. Bukan Bali Safari & Marine Park, ya. Dan surprise, surprise. Adek gue lebih suka Bali Zoo. Katanya lebih asik dan toddler-friendly. Oyaaaa…?)

Sementara gue, Teguh, Raya dan bokap pergi ke Monkey Forest aja, trus makan siang.

Nanti kami semua ketemuan lagi di Nusa Dua.

Let’s go!

Karena gue anaknya somse, biasanya gue menjauhi tempat-tempat wisata standar di Bali, seperti GWK, Tampak Siring, Tanah Lot… kecuali Monkey Forest. Gue pertama kali mengunjungi Monkey Forest pas honeymoon dulu. Waktu itu, sih, sekedar mampir aja, soalnya belum pernah dan mumpung di Ubud. Tapi kok … doyaaaan? Apakah karena gue merasakan kedekatan kekeluargaan sama monyet-monyetnya?

Enggak, deng :) Menurut gue, Monkey Forest punya hawa yang damai tapi magis. Gue suka banget sama perpaduan vegetasi lebat dan patung-patung megah, kayak di Angkor Wat. Dan tentu saja, koloni para monyet juga bikin tempat ini jadi seru dan nggak membosankan. Akika betaaaah…! *pelukan sama monyet, nggak mau pulang*

IMG_4608

IMG_4619

IMG_4625

IMG_4674

Di Monkey Forest ini, Raya lebih heri—heboh sendiri—sama patung-patungnya. Emang keren-keren, sih. Monyet-monyetnya sendiri lebih kami cuekkin, karena… takut, boook. Siapa juga yang nggak takut sama tenyom-tenyom agresif gitu!

IMG_4611

IMG_4612

IMG_4626

IMG_4630

IMG_4639

IMG_4685

Walaupun hepi, kami nggak berlama-lama di Monkey Forest, soalnya bokap gue asyem. Maklum, kerjaan bokap gue ‘kan keluar-masuk hutan (beneran). Jadi di hutan turis ala Monkey Forest gini, mah, do’i nguap.

Dari Monkey Forest, kami cabut cari makan siang, dan ujug-ujug terdampar di Three Monkeys. Sama seperti banyak restoran di Ubud, Three Monkeys ini dari luar kayak kecil, tapi dalamnya ternyata luhaaaas. Enaknya lagi, restoran ini berlokasi setengah outdoor dengan pemandangan sawah. It was a nice, peaceful setting.

IMG_4705

IMG_4710

IMG_4713
  
Makanannya pun endeus. Clean eating gitu, deeeh, vegan-veganan (KFC, kamu dimana?!), tapi enak, kok, terutama jusnya. We ordered three different meals with three different juices, dan semuanya sakses.

IMG_4718

Yang nggak sukses? Tata tertib anak guwah. Di sesi makan siang ini, Raya kembali kepada kodratnya yang rusuh. Lari-lariiii terus, teriak-teriak terus, nggak mau pake sepatu, nggak mau duduk di kursi, nggak mau di pangku, maunya duduk di lantai. Sama sekali nggak mau makan. Mau dicuekkin juga susah… Lah, bocah larinya ke arah jalan raya mulu! Dan kalo teriak-teriak, kalimatnya adalah, “EBO, ITU BULE YAH? BULEEEE!” Zzzzz.

Eh, pas kelar makan dan naik mobil menuju Nusa Dua, anaknya tidur pules. Iiiih…

Sekitar jam 4 sore, kami tiba di peraduan kedua kami di Bali—Sofitel Nusa Dua! Our home for the next three days.

Begitu menginjakkan kaki di resort ini, gue langsung bengong… mak! Bumi dan langit amaaaat sama Komaneka Bisma! Sampe agak gagap-gagap gitu, saking bedanya.

Ya jelas, lah. Pertama, Ubud dan Nusa Dua aja udah beda—literally dan metaphorically. Ubud adalah kawasan kecil, hijau, dan padat banget sama kebudayaan. It’s so lively and real. Sementara Nusa Dua ‘kan kawasan buatan. Jadi, kagak ada apa-apaan selain resort raksasa berderet-deret. Nusa Dua is so bright and sterile, like Disneyland. Seru, sih, but you can sense the fakeness. You’d also feel trapped, karena nggak bisa kemana-mana selain di resort, at least within walking distance. Ya, nggak apa-apa juga, sih...

Kedua, udaranya. Jelas lah, ya. Ubud adem, Nusa Dua panas dan berada di deket pantai.

Ketiga, resort-nya sendiri. Komaneka Bisma berukuran sedang, dengan konsep close-to-nature dan sangat Indonesia-ish. Sementara Sofitel Nusa Dua tuh luaaaaas banget, beton dimana-mana. Dan sudah pasti, hawa Sofitel lebih kebarat-baratan. Apalagi resort ini franchise Prancis, jadi semua pegawai negor tamu dengan ucapan, “Bonjour!” Bonzyooor…

Keempat, para pegawai Komaneka Bisma terasa lebih ramah. Hal ini didukung oleh ukuran resort yang kecil, jadi para pegawai hafal sama muka-muka tamunya. Sofitel Nusa Dua ‘kan guedeee, jadi pelayanannya nggak mungkin sedetail itu.

Kelima (banyak, ye), Komaneka Bisma terasa lebih bersih, baik kamar maupun ruang publiknya. Sofitel Nusa Dua? Not so much. Ini lagi-lagi karena faktor ukuran. Capek keleus, bersiin resort segede Sofitel dengan menyeluruh.

Keenam (janji, ini terakhir), para tamunya… BUMI DAN LANGIT. Komaneka Bisma dipenuhi oleh tamu-tamu Eropa yang kalem-kaleeeem banget. Nggak hobi ngobrol. Sementara Sofitel Nusa Dua dipenuhi oleh Chinese Indonesia dari Bandung dan Surabaya, serta Chinese mainland yang rusuh. Kalopun ada bule, kebanyakan nenek-nenek. Jarang ada kakek-kakeknya, lho. Girls trip banget, nih, oma?

Kesannya gue lebih suka Ubud dan Komaneka Bisma, ya? Salah, lho. Ternyata, gue lebih suka Sofitel Nusa Dua. Gimanapun juga, secara keseluruhan, Sofitel Nusa Dua adalah resort yang febeles dan jauh lebih family-oriented daripada Komaneka Bisma. Trus karena luas banget, kayaknya nggak ada habisnya kalo mau mengeksplor segala pojokan dan fitur resort ini satu persatu. Nggak bakal ada lagi peristiwa Raya nyemplungin payung ke kolam ikan karena kebosenan. Insya Allah!

Dan walaupun Sofitel Nusa Dua ini masih banyak kekurangannya, I could ignore them.

Eniwei, pas kami nyampe jam 4 sore, Bu Made udah dateng dan nunggu dari jam 3 sore *sungkem*. Maaf ya, Bu. Salah prediksi waktu, nih.

Proses check-in agak terhambat karena miskomunikasi dengan pihak reservasi. Begitu beres, kami ketemuan sama anggota keluarga yang lain, trus gue, Teguh, Raya dan Bu Made langsung ngibrit ke kamar untuk siap-siap. Mau nyicip pantai sebelum gelap, nih!

By the way.... fabulous room!





 
Tapi sekitar jam 4.30, pas kami gedombrangan keluar kamar dengan baju renang dan sunblock, langit udah mendung. Karena gue anaknya ngotot, kami tetep maksa nongkrong di pantai, sekalian Bu Made nyuapin Raya makan. Kami cuma bertahan sebentar, sebelum akhirnya nyemplung di kolam renang Sofitel Nusa Dua yang febeles banget. Itu pun nggak lama, karena Raya keburu menggigil.

 Crappy beach, by the way. Banyak kerikil dan karang! Untungnya nggak banyak ombak, ya.

Jam 5.30 sore, kami kelar mandi dan beberes. Bu Made pulang jam 7 malam. Nadia, Bindra dan Aydin pergi makan ke Seminyak, sementara sisanya di hotel aja. Nah, trus, entah kesambet malaikat baik apaan, lagi-lagi nyokap nawarin megang Raya. Horeee! Date night! Gue langsung pupuran, pake sedow, pake gincu, dan cuuuussss… pergi dinner sama T.

Gue dan T sempet debat, mau makan dimana. Nusa Dua ‘kan nggak ada apa-apanya, nih. Mau ke Seminyak juga? Atau di hotel aja? Akhirnya diputuskan makan di hotel aja. Udah terperangkap di resort segede gini, puas-puasin disini aja, deh. Lagian nggak mood, ah, ngejar tempat-tempat hipster. Rameee… pusiiing… ngantuuuk… *oles minyak angin di bawah idung*

Pas keluar kamar, kami baru tau bahwa ternyata Sofitel Nusa Dua ini punya fire dance show setiap malam. Se-ti-ap ma-lam. Jadi, sekitar enam orang penari berganti-gantian nari pake obor atau lilin ditumpuk-tumpuk. Mereka beraksi di area kolam renang dan rooftop di tengah hotel. Dan karena lokasi tersebut berada tepat di tengah resort, pertunjukkan ini bisa ditonton dari segala arah mata angin.

IMG_4725

Show-nya sendiri cheesy banget. Penarinya jago-jago, sih, tapi secara keseluruhan, pertunjukannya norak. Apalagi lagu-lagu pengiringnya adalah lagu-lagu zumba alias lagu Latin angkot. UNO, DOS, TRES, QUATRO! I KNOW YOU WAMMEH! YOU KNOW I WANTCHA! Pitbuuuull, kamu masih jaman, Putbuuulll?! Kalopun ada lagu yang ‘normal’ dikit—misalnya Bruno Mars—kudu di-remik versi Latin. Yak, Gandul, Gandul, Gandul! Angkot banget nggak, sih?

Parahnya, lagu-lagu pengiring show ini dipasang di setiap speaker hotel. Paling membahana, sih, di lobi, tapi lagunya juga berdentum-dentum di restoran, halaman, dan tentu saja kedengeran sampe kamar. Selamat tidur nyenyak, para oma-opa…

Gue antara stress dan ketawa-ketawa ngakak. Bayangin aja, resort se-elegan Sofitel nyetel Pitbull kenceng buanget semaleman. Cheesy at its best! Untung gue anaknya juga cheesy.

Eniwei, setelah berjalan jauuuuh sekali dari kamar ke area restoran (sambil shimmy-shimmy pundak pake lagunya Don Omar. Danza Kuduro!), akhirnya gue dan Teguh terdampar di Cut Catch Cucina, restoran fine dining-nya Sofitel Nusa Dua.

Kami duduk di area outdoor-nya Cut Catch Cucina, menghadap langsung ke kolam renang serta para penari api. Komen-komen celaan pun tak terbendung, “Aduh, Mbaaaak, narinya nari api, tapi mukanya sedih banget kayak belum bayar utang…”

IMG_4732

IMG_4740

IMG_4741

IMG_4747

IMG_4750

Alhamdulillah, nggak lama setelah kami duduk, show-nya udahan.

Kami pun mesen makanan. Tangan sempet gemeter megang menu karena mahalnya, mamiiii… Makan berdua bisa buat bayar SPP bulanan Raya, nih! But what the heck, we’re on vacation.  Pusingnya ntar di rumah aja.

Sesuai namanya, Cut Catch Cucina ini menghidangkan tiga macam makanan: steak (Cut), seafood (Catch), dan Italian (Cucina). Kami mesen calamari, pizza, gnocchi, mocktail (for me), dan wine (for T). Selain super muahal, ternyata pelayanan Cut Catch Cucina juga super lelet. Pesenan kami keluarnya lamaaaaa banget. Untungnya, semua itu dibayar dengan rasa makanan yang endues banget! Astaga, lejatnya nggak ketulungan! Every single dish was a success, dan enaknya nyooossss… sampe ke hati! Laf laf laaaaf. I still dreamed about those meals today. Mmmmmm. 

IMG_4748



Sambil makan, kami dihibur oleh sebuah grup musisi akustik yang berjalan dari meja ke meja. Kayak pengamen-pengamen di Jimbaran gitu, lho, yang bawa gitar dan bass betot. They were taking requests, tapi kayaknya cuma paham lagu oldies. Ketika meja kami disamperin, gue bilang, “Saya minta lagu Indonesia, deh!” secara kami satu-satunya tamu Indonesia malam itu. Gengsi, dong, denger lagu bule melulu.

Maka, jreeeenggg… sang gitaris langsung menggenjreng intro lagu Kuta Bali-nya Andre Hehanusa. Teguh nggak kenal lagu ini, jadilah cuma gue yang duet sama si vokalis, hihihi. Suatu saat di Kuuutaaaa Baaaaliiii… Hati mrintil!

We went back to our rooms with happy faces and happy tummies. Dan ternyata… Raya masih melek, zzzzz. Untung si bocah cepet ditidurinnya.

Selamat malam, Nusa Dua, sampai jumpa besok!

6 comments:

  1. Hwahahahahaha... kebayang isi Sofitel Chinese2 Suroboyoan yg kalo ngomong Javanglish super medok dan jambulnya yang cetar hahahaha. Jangan lupa nonstop foto2 dan bawa tongsis hihi.

    Tapi ya begitulah isinya Sofitel dan Mulia saat ini soalnya mereka paling baru juga kali ya. Tp kalo bawa anak emang enakan ke resort juga. Tapi tetep gue kok suka males kalo resortnya isinya Chinese melulu. Suami gue juga gak demen sama Mulia. Kata dia kelewat modern sampai gak tau kalau lagi ada di Bali. Tapi teteup aja paling hits (di mata Chinese Indonesian).

    ReplyDelete
  2. HAHAHAHAHA... Gue sampe ngakak baca komen lo, karena bener banget. Banyak banget Chinese Suroboyan heboh dan rusuhnya nggak ketulungan. Jambul cetar! Hahahaha *cubit Leony*

    Katanya di Mulia lebih parah lagi ya? Adek gue sampe wanti-wanti supaya jangan sekali-kali ke Mulia, zzzz.

    ReplyDelete
  3. OMG Chinese Suroboyoan dengan bahasa Pasaratoman-nya yg super heits itu! :)))) "Lu ape pigi mana? Bok jauh-jauh ntik nyasar.... Gua tunggu lu ndek enggok-enggok'an yo!"

    Baca postingan ini awalnya kangen Nusa Dua. Abis baca komennya Leony jadi kangen Pasar Atom, Surabaya :(

    ReplyDelete
  4. Mbak Lei...
    agak2 out of topic tapi mau nanya dong... Bali Beach club yang kids friendly apa yah?
    thank youuuuuuu :)

    ReplyDelete
  5. Hei Leija,

    Salam kenal, dapet link blog ini dari blognya Icha & terhibur sekali baca kisah perjalanannya di Bali, my favorite part is itu kostum Rama Aiphama, hahaha...udah lama ga denger nama orang ini disebut, haha..keep writing ya, menghibur tulisannya :)

    ReplyDelete
  6. Ndutyke: HAHAHAHA, okebhay. Aku nggak bisa nandingin komennya warga Suroboyo asli...

    Gadis: Walah, aku jarang ke beach club lho. Menurutku mungkiiin... Finn's Beach Club di Semara, Ungasan. Kayaknya banyak yang bawa anak ke Potatohead juga ya? Tapi aku blm pernah ke Potatohead, keburu males. Yang pasti bukan El Kabron...

    Riana: Hihihi, thank you :)

    ReplyDelete