Jul 24, 2014

iDance

Gue bukan penari profesional dan nggak pernah belajar secara spesifik dan intens, tapi ya Allah, sungguh aku suka banget nari, ihiiiiy...

Dari kecil, gue selalu suka sama apapun yang berhubungan sama tari-tarian, baik itu ngeliatin orang nari, maupun nari-nari sendiri kayak orgil. Pokoknya suki, suki, suki! Dari SD sampe SMA, gue selalu milih ekskul di jalur tari. Pas kuliah dan kerja, gue beberapa kali ikut dance classes. Trus ketika gue vakum nari karena nikah dan beranak, gue tetep milih olahraga yang masih turunannya seni tari (hae, zumbaaa... piye kabare?). Dan pas akhirnya gue berhenti zumba, gue kembali ke dance studio, sampe sekarang.

Tapi perlu dicamkan, nih, pemirsa - demen bukan berarti berbakat, ya! Walaupun sejarah nari-narian gue lumayan panjang kebelakang, I would NOT call myself a dancer, karena gue nggak punya bakat bawaan dan nggak pernah konsisten belajar secara intens. Minimal bisa tari kejang kayak Septian Dwi Cahyo di Gejolak Kawula Muda, gitu (nggak juga, sih, La...)

Alhasil, sampe setoku ini, gerakan gue masih aja kaku-kaku kayak Kanebo kering. Skill kagak nambah-nambah. If I can I rate myself, mungkin gue bilang, kemampuan gue lumayan diatas ibu-ibu gym, tapi tetep jauh dibawah... Agnes Monica, misalnya. YA, IYALAH!

Kesimpulannya, kalo ada orang nanya, "Do you dance?" bakal gue jawab, iya. Tapi kalo ditanya "Are you a dancer?" bakal gue jawab, bukan. Malu, iiih, ngaku-ngaku.


A few of my dance sesh. Nggak semua masuk, karena sempet ada tragedi iPhone ilang itu tuh, uhuhuhu.

Anyway. Apa, sih, suka-dukanya nari? 

Sukanya dulu, yaaa. 

First of all, it's a lot of fun. Seru banget! Sehingga saat gue nari, gue melupakan segala hal lain, dan hanya fokus ke gerakan. Ketika nari, gue nggak berambisi pengen kurus, pengen singset, ina inu. Gue nari murni karena suka. Kalo bisa jadi olahraga yang bikin sehat dan singset, ya sukur. Kalo enggak, ya nggak apa-apa. Emang bukan nyari bakar kalorinya, kok.

Bahkan, dari dulu, nari adalah pelarian gue disaat gue punya masalah. Dulu pernah, nih, patah hati berat-beratan. Dan di periode itu, gue nari 7 kali seminggu. Walaupun narinya sambil berderai-derai airmata durjana, Alhamdulillah, move on-nya jadi cepet banget. Yes!

Kedua, nari itu sebenernya sangat menguras....... otak. Sembari gerak, ada sejuta hal yang harus dipikirin - gimana caranya supaya koreo cepet nempel di kepala, gimana caranya supaya timing dan ketukan bisa pas, gimana cara mendetailkan gerakan supaya jomplangnya kagak terlalu jauh sama sang guru di depan kelas, dan sebagainya.

Sumpah, pure brain exercise!

Itu sukanya. Dukanya?

Dukanya, karena nari adalah sebuah seni tampil, beban mental kenceng ya, boook. Aduh, kagak usah sampe tampil di gedung pertunjukkan, deh. Misalnya elo ikut sebuah dance workshop aja, trus nggak bisa ngikutin dan alhasil jadi paling bego di kelas, itu beban mentalnya kenceng banget, lho. All eyes on you, mak! 

Nggak semua orang bisa menghadapi beban mental ini. Makanya, di kelas-kelas dance di gym (Body Jam, Sh'bam, dan terutama kelas freestyle seperti Hip Hop), suka kejadian pesertanya walkout, kalo nggak bisa ngikutin gerakannya. Trus kalo udah walkout, biasanya orangnya kapok, nggak mau ikutan lagi. Gue menyayangkan hal ini, but really, you can't blame 'em. Sekali lagi, beban mentaaaaal...

The hardest thing is to keep your chin up, and not give up, ya :)

Duka yang lainnya adalah - nari bukanlah sebuah olahraga yang bisa diikuti secara universal. Beda sama lari, misalnya. Everybody can run, cuma masalah konsistensi aja, ya, kalo nggak salah? Tapi sejujurnya, nggak semua orang bisa nari. Minat dan skill-nya spesifik banget. Alhasil, dance classes di Jakarta seringkali sepiiii kering kerontang. Gue sering ikut open class, dimana pesertanya cuma dua orang. Bahkan kadang satu orang - GUE DOANG. Private class banget, sis?!

Dan seriiiing banget kejadian, gue jadi murid paling toku di kelas. Trus pada syok, ketika tau gue udah punya anak. Ya, gimana nggak syok, kalo guru narinya aja baru early twenties?! Ahahahahaha, saiton. Alhasil, aku dipanggil 'tante' sepanjang kelas *minum SKII segentong* Sungguh, selama nari, gue nggak pernah berasa sok muda, karena selalu 'diingatkan' bahwa aku memang sudah tua. MIRIS.

Ada juga, sih, tempat komunitas nari yang rame, kayak di Pintu 7 Senayan, tapi gue nggak merambah kesana aja.

***

On a sidenote.

Bulan lalu, gue solo trip ke Singapore (bukan ke Singapore yang ini, yaa), dan sempet mampir ke *SCAPE

*SCAPE adalah sebuah youth community centre, yang berlokasi di Orchard Road. Bentukan gedungnya, sih, kayak mall kecil, gitu. Ada restoran-restoran fast food, toko-toko, dan tempat-tempat les seperti sekolah beladiri, dance schools, bahkan skatepark. Selain itu, SCAPE sering dijadikan venue untuk acara-acara anak muda, seperti festival musik, workshops, dan sebagainya.

*SCAPE Co. Ltd is a non-profit organisation with its mission and vision rooted in support of youth, talent and leadership development.

As with all great revolutions or social upheavals, change can happen when the people raise their voices and speak not just their minds but their hearts. *SCAPE was born after an outcry from the young people of the next generation to have a space they could call their own.

In 2004, a youth consultation exercise was conducted where over 2,200 voices were heard. In answer, the Ministry of Community, Youth & Sports (MCYS) set aside a sprawling 1.2ha creative space in the heart of town to engage and enable young people to explore their social interests and creative passions

In January 2006, *SCAPE Co. Ltd, a non-profit organization, was established to make the *SCAPE dream a reality for young people.

The name "*SCAPE" not only represents a physical platform where young talents can hone and showcase their skills but also a mind space which is constantly bubbling with new creations, ideations and possibilities. The asterisk represents a wildcard of infinite prospects for creative expression at this exciting new urban community building.

Sehari-harinya, pelataran atau aula gedung *SCAPE dipenuhi oleh muda-mudi nongkrong, tapi nongkrong positif. Biasanya, dedek-dedek ini pada nongkrong untuk nungguin masuk kelas les mereka, atau emang untuk latian secara bebas. Mumpung ada space gratis, ya tho? Pada latian taekwondo lah, rollerblading lah, latian b-boy lah, latian nari salsa lah. Bebas banget. Pada bawa matras sendiri, bawa stereo set sendiri, latiannya pun ada yang sendirian, ada yang bareng temen-temennya. Diliatin orang lewat? Chuexxx.

Yang menyenangkan, dedek-dedek ini bukanlah orang-orang jago. Ada banget bocah-bocah yang (menurut gue) narinya jelek, tapi mereka tetep cuek latian. Dan nggak ada, tuh, sinis-sinisan antar geng. Di *SCAPE ini, lo mau nari ronggeng kek, hiphop kek, mau jago kek, busuk kek, nggak ada yang peduli. Nggak ada yang ngeliatin sambil bisik-bisik, "Ih, itu orang gila, ya? Mana aneh banget jogetnya..." 

You just practice what you love, and that's it.

Eniveeei, impian gue di masa depan, Jakarta punya youth community center gratisan seperti *SCAPE ini. Pasar Festival Kuningan bisa banget, lho, dikembangin (Pak Ahoook... cus, lah!). Well, sebenernya Jakarta udah punya secimit-cimit tempat yang arahnya kesini, sih, seperti Pintu 7 Senayan atau Arture di Lotte Avenue Kuningan, tapi fasilitasnya belum komplit dan pengembangannya belum organik (emang organik apaan, sih? Zzzz)

Meski demikian, yang paling penting adalah mentalitas anak-anak mudanya, supaya mau menyingkirkan rasa malu, mau fokus mengasah skill, dan mau aktif kumpul bareng di sebuah community centre tanpa prejudice dan eksklusifitas masing-masing. Sok tau, ih, Laaa... :D

***

Bonus post: my favorite FEMALE ASIAN dancers / choreographers :D

The ladies of O School (terutama Allegra Gong dan Gin Lam, OHMAHGAHD) - Singapore 

Pas ke Singapore kemaren itu, gue mampir ke O School dan hampir ikut kelasnya. Batal karena nggak bawa sepatu kets. Tapi nontoninnya aja aku orgasme T___T




Aye Hasegawa - Japan / USA



Ellen Kim - Korea / USA





Waveya, terutama penemunya, kakak beradik Ari dan Miu - Korea 

OK, agak dilema, sih, masukin Waveya ke daftar dancer favorit gue, karena mereka hobi banget tampil... um, slutty. Super slutty. Tapi kalo mereka lagi nggak K-Pop-an dan masuk ke ranah hiphop... keren banget! Girls, please don't sell yourselves cheap!







Hola Ladies, terutama frontwoman-nya, Jesicca. She's 19! - Indonesia






May J Lee - Korea





Mariel Madrid, tuh, keturunan Asia nggak, sih? Kalopun enggak, gue nggak mungkin melupakan Mari Madrid, half of the duo greatness, Keone and Mari. Laf, laf laf!






Yuk, ah, joged!

8 comments:

  1. Gue blm nonton video para pesohor itu, tapi gue langsung nonton video elu ngedance!! Keren bingitssss.... some of them hip hop, terus ada yg jazz juga ya. Asik dah pokoknya!

    Gue setuju sama elu kalau di Indonesia ini mungkin... mungkin loh ya, dancing kurang mendapatkan tempat, apalagi untuk kaum muda. Contoh, gue nanya temen gue yang papa mamanya juara ballroom dancing, ada gak sekedar club untuk anak muda kumpul untuk balldance? Krn dulu gue sangat senang sekali tiap weekend kumpul untuk practice n berteman. Dijawab... ada sih, di daerah KOTA... di resto chinese, tp yg ngumpul om dan tante!! Grrrhhh. Kenapa sih balldance itu lebih identik sama om dan tante, plus org kalo liat show balldance selain di lomba, adanya tuh biasanya di kawinan orang chinese yang seating dinner. Hahaha... ya sudah deh skrg badan gue kaku banget kayak beton.

    ReplyDelete
  2. Halo Mbak Laila baru pertama kali nih komen disini tapi daridulu udah baca blog mbak :)

    Dulunya aku juga nari mbak, beban mental selain orang udah hafal tapi kita masih usaha keras supaya inget choreo tuh kalo perform terus entah kenapa di panggung tiba-tiba lupa aja gitu blocking/choreo setitik tp sukses bikin gerakan jd gak pas sama hitungan. Pressure nya sih bukan sama penonton ya krn mereka jg gak bakal tau tapi sama temen2 sendokir, kan langsung berasa "Duh gue bego amat sik masa blocking aja lupa..." atau "Aduh gara2 gue nih tadi gak perfect performnya..." apelagi kalo dlm kondisi lomba. #pengalaman :))

    Btw, female asian choreographers yg aku tahu pun cuma Ellen Kim. Udah tahu dr dulu sih sbnrnya tapi baru bener2 perhatiin gara2 tau choreo Paralyzed (Agnez Mo)dia yg bikin. Hehehe. Buat kelas kenapa bisa sampe sepi banget tergantung siapa choreographer yg ngadain class sih mbak sepenglihatanku ya. Soalnya kalo mau dibilang mahal (biasanya org kan males kalo mahal trs choreographernya gak terkenal2 amat) itu relatif krn kenyataannya pas Lyle Beniga/Hokuto Konishi bikin class di Jakarta yang ikutan lumayan rame. Padahal harga class Lyle 500 something / person . *modyaaaaar*

    Kalo dancer dr Indonesia sekarang cuma ngikutin onFrame dancers aja, isinya tetua-tetua bekas UDW semua. Kalo ngomongin mereka nari sih gak usah dikata lagi ya, yg bikin mereka mulai udah menguasai pasar sekarang krn selalu bkn konsep di setiap performance dan yg paling penting kostum plus dandanannya gak norse. Soalnya langsung turn off gitu begitu liat dancer laki apalagi misal pake lipgloss. Beuuuuuhhhhh... *matiintv* :)) Btw, nih mbak websitenya onframe kalo mau liat http://onframe.net/ *niatabis*

    Maaf ya mbak commentnya panjang banget :D

    ReplyDelete
  3. Leony: Hahahaha bangeeet... Perkembangan tari di Indonesia (Jakarta) emang gitu-gitu aja. Palingan balet lagiii hihihi :D Kalo ballroom, palingan salsa ya lumayan Le?

    Monica Krisna: Aaaah iyaa... onframe tuh gengnya Onat, Fra, gitu-gitu bukan sih? Blm buka websitenya sih, tapi kayaknya Onat dll emang hijrah bikin onframe yaa setelah keluar dari UDW :D Sekilas pernah liat di IG keren-keren pastinya.

    Aaaah tapi soal manggung, aku sih suka banget hahaha. Nervous dan salah-salah pasti ada, tapi adrenalinenya seruuu. Kalo resital, aku malah minta2 manggung dua kali satu show zzzzz.

    Hmmmm kalo dance workshop sih biasanya rame kok. Jangankan sekelas Lyle Beniga, yg dibawah itu juga biasanya lumayan rame... Yg aku maksud tuh open class / kelas reguler gitu. Sepi mak!

    ReplyDelete
  4. yaampun, jago gitu kok tantenyaaa :D
    bener2 sepi ya kelas2 di videonya, berasa private class indeed, hihiy.

    ReplyDelete
  5. tetep ya kak yang love on top ga sampe bagian reff. hik.

    ReplyDelete
  6. Nyun: Mayan deeeh... *pasang suara jangkrik*

    Dian: Hahaha sabar yaa, belom nyampe situ soalnya :D

    ReplyDelete
  7. mba Leii.. dirimuu kereeeeen banget!

    aku juga dulunya nari.. dan seperti biasa, menikah punya anak.. hobi lama kembali tenggelam..
    pengen banget nari hip hop dan teman-temannya gitu.. pernah nyeletuk ama suami, boleh ngga belly dance.. *suamik liat kostumnya* *melotot* *lagsung ditolak mentah2*

    jadi mau nanya2 soal dance, boleh ya mba kalau saya email.. terima kasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo, Restu... boleh banget, email ajah! Di sekolah nariku, ada kelas belly dance-nya, dan menyenangkan lhoo. Banyak banget ibu-ibu yang ikut. Kostumnya juga sopan kok hehe

      Delete