Nov 21, 2013

I Survived Sentosa Spooktacular 2013! (Well, Barely)

IMG_0934

Warning: my chatty fingers made this post a VERY, VERY long one. Terpanjang dalam sejarah letthebeastin.

Siapkan bantal, kopi, cemilan, and tell your boss you’ll be back in 3 hours. Zzzzz.

***

Nggak kerasa, udah setaun lamanya sejak T operasi transplan liver di Singapura. Alhamdulillah, anaknya senantiasa sehat walafiat sakinah mawadah warrohmah, wassalam!

September 2013, dua bulan sebelum genap setahun T operasi, dese harusnya balik ke Gleneagles Hospital, Singapore, untuk check-up taunan. Tapi kemudian terjadi konfersesen ini…

Agustus, 2013
T: Bulan depan aku cek-ap liver ke Singapura, ya. Udah due, nih.
L: Iya, dong.
T: Oke.
L: Eh, waaaait! Bentarrr… Aku baru inget, Oktober tuh ada Halloween Horror Nights 3!
T: Trus?
L: Tunda cek-apnya jadi Oktober bisa nggak? Kalo bisa, aku ikut. Sekalian Halloween Horror Nights, yuk?
T: Hayuk.
L: Waaaiiit… *sibuk browsing* Oh, dayuuummm. Ada Sentosa Spooktacular 2013 juga! Kita ke HHN3 dan SS2013, ya?
T: Iya, terserah.
L: Oktober, ya?
T: Iya.
L: YYYES! *fistpump*

October it is!

Tapi ternyata, selama Oktober, kami sibuuuuk banget, dan baru bisa meluangkan waktu ke Singapura pada awal November. Untungnya, event-event Halloween tersebut emang molor sampe awal November. Jadi gue bener-bener ngejar di tanggal terakhir mereka. Yo wes lah! Yang penting masih jodoh.

Setelah urek-urek kalender, kami memutuskan untuk menyambangi Sentosa Spooktacular tanggal 1 November, dan Halloween Horror Nights tanggal 2 November, dengan menyelipkan ahenda check-up diantaranya. Padet bak kunjungan pejabat!

1 November 2013

Kami berangkat subuh, nyampe pagi, langsung cussss ke Gleneagles Hospital. Sambil nunggu hasil lab keluar, kami late lunch di Dempsey Hill. Yum yum. Trus balik ke Gleneagles buat bikin janji sama dokter.

Sore-sore, check-in di Ibis Bencoolen, trus pingsana incor poresano. Tidore, mak! Ngantuk amat, dah, melek dari jam 4 pagi.

Eh, bablas!

Alhasil, yang harusnya berangkat ke Sentosa ba'da maghrib, malah baru gerak jam 8 malem. Aih, matiiik. Matik, matik. Asli, gue jadi keder. Soalnya, rencana awal gue adalah dateng early—tepat ketika gerbang Sentosa Spooktacular dibuka pada jam 7—ngebut ngejajal lima rumah hantu yang ada, trus pulang jam 9. Selesai, kelar, halas.

Tapi kalo berangkatnya makin malem, pulangnya makin malem juga, dong? Kalo makin malem, hawanya makin angker nggak sih? T____T

***

Kami berangkat ke Sentosa naik shuttle bus gratis, yang mangkal tepat di depan Ibis Bencoolen. This is the main reason I picked the hotel—because of the free shuttle to Sentosa. Meskipun, yaaaa, shuttle-nya nggak reliable-reliable amat, karena suka ngaret. Tapi namapun gratis, telen aja deh.

Malam itu, kami adalah satu-satunya penumpang di shuttle bus Sentosa tersebut. Mau nangis rasanya, tegang campur takut. Jujur-jujuran nih, ya, kalo ditanya, tegangan mana ngadepin Sentosa Spooktacular atau Halloween Horror Nights? Sentosa Spooktacular. Jatuh bokek apa Sentosa Spooktacular? Spooktacular. Ketemu mantan pacar makin ganteng apa Sentosa Spooktacular? Spooktacular. Diselingkuhin apa Sentosa Spooktacular? Spook—nggak, deng. Tetep lebih atut diselingkuhin :D

Mungkin karena Sentosa Spooktacular 2013 ‘jualan’ hantu Thailand, yang mana menurut gue jauh lebih menakutkan daripada hantu-hantu bule-nya HHN, sehingga gue parno berat. Sebage orang Indonesia, ngana sekalian pasti setuju ‘kan, kalo hantu lokal lebih mengintimidasi? Terbayang-bayang di kepala gue, mulut sobeknya Chaba, rambut gondrongnya Dararai, dan Natre, si hantu templok pundak T___T I couldn’t believe that, in a matter of minutes, I would be facing them. Fis tu fis, dammit!

Sepanjang jalan menuju Sentosa, gue mulai nyesel, kenapa nekat banget dateng ke acara beginian.

Gue pun jadi pendiem.

Lo tau nggak, sih, kondisi dimana lo tegang banget, sampe lo nggak pengen diajak bicara? Misalnya, ketika lagi menaiki tangga menara, mau bungee jumping untuk pertama kalinya? Atau ketika lo SMA, dan kakak kelas lo pagi-pagi teriak, “Heh! Lo yang mukanya nyolot! Jam istirahat gue tungguin di kantin kelas 3!”, dan lo harus ‘menderita’ nungguin jam istirahat sepanjang pagi? *curcol banget nih, sis?*

You know, that kind of waiting game? The bad kind?

Itulah yang gue rasakan, sepanjang jalan menuju Sentosa.

Teguh—yang kadar kesensitivitasannya emang mines—malah memperburuk keadaan dengan cerita-cerita hantu,

“Aku pernah cerita nggak, sih?

Jaman masih sekolah di Singapur, aku punya temen. Suatu hari, dia pulang naik bis sendirian malem-malem. Udah mau tengah malem, tuh. Di jalan dia ketiduran. Pas bangun… Lho, kok bisnya kosong melompong? Nggak ada siapa-siapa… termasuk sopirnya!

Tapi… bisnya jalan sendiri!!!

Eeeh, ternyata sopirnya lagi di luar, ngedorong bisnya. Soalnya bisnya mogok…”

?!@$^%&^%?&

*tendang T keluar bis*

***

Kelemahan shuttle bus gretong ini—selain suka ngaret—adalah dia hanya berhenti di Resort World Sentosa.

Jangan lupis, pulau Sentosa ini terbagi menjadi dua—Sentosa Baru (Resort World Sentosa) dan Sentosa Jadul. Naaah, Sentosa Spooktacular nih berlokasi di Fort Siloso, yang terletak di Sentosa Jadul. Jadi begitu shuttle bus berhenti di Resort World Sentosa, kami lari-lari lagi, nyari shuttle bus menuju Sentosa Jadul. Alhamdulillah, langsung nemu.

Sepanjang jalan menuju Sentosa Jadul, hati ini makin senewen nggak keru-keruan. Muka, ketek, dan perasaan asemnya minta ampun.

Sementara gue makin nggak pengen diajak ngobrol, T malah santai dan cewewet,

“Eh, ini bener nggak sih menuju Fort Siloso? Kok ngetem di Imbiah lama gini? Coba buka peta, deh, dicek. Fort Siloso sebelum apa sesudah Imbiah? Apa salah bis, nih? Kamu tanya sopirnya, gih…”

NGGAK MAOOO, SOAMEKOOO… AKO NGGAK MAO TANYA-TANYAAA! AKO MAO PULANG AJAAAAA!!!

“Kenapa, sih, kamu tegang amat? Eh, coba ceritain dong film Thailand yang nanti ada rumah hantunya. Aku ‘kan belom nonton semua…”

Ulek nih, ye! Lagi mau ngompol gini disuruh ngedongeng film horor!

***

Waktu menunjukkan pukul 9 malam ketika kami akhirnya sampai di Fort Siloso.

Begitu  menginjakkan kaki di Fort Siloso—sebelum sampe di gerbang Sentosa Spooktacular, lho—gue langsung merinding disko. Banyak pohon tua mencakar langit, dengan daun-daun berguguran, penerangan minimalis, dan nuansa yang hening (KOK HENING?! Jangan-jangan malem ini yang dateng dikit?! MATI GUAH!)

Emang, Fort Siloso nih situs yang jadul dan lumayan angker. Menurut sejarah, Fort Siloso adalah bekas lokasi pertahanan perang Singapura, maka disitu ada banyak bekas meriam, bunker, dan penjara bawah tanah. On top of that, ada banyak urban legend yang menceritakan keangkeran Fort Siloso. Pas banget dijadiin lokasi event Halloween gini. Cucyok, cyin!

Tapi begitu sampe di area loket / gerbang Sentosa Spooktacular 2013, tampak antrian mengulaaaaarrr naga panjangnya. Ya Allahu Akbaaar, Alhamdulillah rameee! Kalo sepi, mending pulang lagi aja, sik. 

IMG_0860

IMG_0863

As expected, 99% pengunjung yang dateng adalah generasi paling pemberani—remaja. Kebanyakan dateng bergerombol sama temen-temennya, ngerokok, teriak-teriak, excited, yah tipikal anak muda cari adrenalin, lah. Sebagian lainnya dateng bareng pacarnya—si cewek tampak (pura-pura) ketakutan sambil ngumpet dibalik ketek si cowok, sementara si cowok sibuk melukin. Asssoooyyy.

IMG_0865

Oya, nggak semua pengunjung malam itu adalah Singaporean. Pinoys tampak lumayan mendominasi, juga remaja-remaja Indonesia yang pastinya pelajar di Singapura. Mereka khas banget, dengan muka-muka oriental dan logat Jawanya, “Halo? Halooo? Lu dhimana? Gua udhah nunggu di loket, lu buruan kesini dhah!” Gemes.

***

Kami udah beli tiket Sentosa Spooktacular secara online di Jakarta. Jadi di loket tiket, kami cuma ngasih print-annya aja.

By the way, kalo tertarik, kita bisa beli tiket Fastpass untuk event ini. Dengan Fastpass, kita bisa masuk jalur khusus (yang lebih pendek) saat ngantri masuk ke setiap ruhan.

Kami nggak beli Fastpass untuk Sentosa Spooktacular 2013 ini, karena udah beli Express Pass untuk Halloween Horror Nights 3 besok malemnya. Kalo beli untuk kedua-duanya, bokek. Mahal, lho.

Setelah tuker tiket, kami harus ngantri lagi untuk masuk ke gerbang utama Sentosa Spooktacular 2013.

IMG_0867

Gerbang utama Sentosa Spooktacular 2013
Credits to this blog

Yang gue perhatikan, kayaknya pengunjung Sentosa Spooktacular 2013 ini masuknya per-batch. Masuk akal, sih. Kalo ratusan atau ribuan orang diperbolehkan masuk terus menerus, suasana event ini bisa ancur, ya. Bakal terlalu rame dan chaos kayak pasar malem, dan nuansa angkernya jadi ilang.

Jadilah, para pengunjung masuk per-kloter. Jumlah manusia tiap kloter mungkin sekitar… 100 orang?

Anyway, setelah nunggu sekitar 30 menit, akhirnya kloter kami masuk.

Eeeeh, ternyata, kami belum bisa bener-bener masuk ke area Sentosa Spooktacular. Malah dihadang lagi oleh sebuah pre-show.

Di area pre-show ini, terdapat sebuah layar guedhe banget, bak layar tancep. Layar ini muter sebuah tayangan, semacem sinopsis semua film yang akan kita masukin ruhannya—Shutter, Dorm, Body, Coming Soon, dan Pee Mak. Film ini diputer untuk menyambut setiap batch yang baru masuk.

Layar tancep di area pre-show
Credits to this blog

IMG_0871

IMG_0873

Tayangannya sendiri lumayan bikin hati tambah gremet-gremet. Mereka ngambil semua potongan adegan paling epic dan paling gory dari film-film yang bersangkutan, di-mash up jadi satu, trus ditambah sound system yang kenceeeng banget. Stress, stress, stress. Hatiku lecek, mukaku lecek, bajunya Teguh lebih lecek (karena gue remet abis-abisan).

Pada intinya, kami diberitahu, bahwa di dalam area Sentosa Spooktacular ini, kami akan menghadapi lima hantu utama—Dararai (Body), Chaba (Coming Soon), Natre (Shutter), Vichien (Dorm), dan Nak (Pee Mak). 






Kemudian, ada sedikit survival tips untuk para pengunjung.

Trus… ya udah. Goodluck. Gitu, aja T___T

Begitu tayangannya selesai, blarrr… gerbang kedua dibuka, dan muncul aktor-aktor hantu yang tiba-tiba menyusup ke dalam crowd. Alhasil, terdengar jeritan-jeritan kecil diantara lautan manusia ini. THE TERROR HAS BEGUN. Kampret.

***

Dari area pre-show / gerbang kedua tadi, kami berjalan menyusuri jalan setapak sebelum mencapai rumah hantu pertama.

Nuansa di sepanjang jalan setapak ini lumayan ngeselin.

Pertama, terdapat mesin kabut dan sejumlah lampu untuk menciptakan nuansa serem. Kedua, terdapat  musik bernuansa horor untuk mengiringi langkah-langkah gamang para pengunjung yang udah mau cepirit macem gue ini. Ketiga, tau-tau ada beginian…

 Credits to Sentosa Spooktacular 2013, via this blog

SYIET.

Dari jalan setapak tersebut, rumah hantu pertama yang kami temui adalah rumah hantunya Dorm. Panjang antriannya? 90-120 menit ajhua!

We were not surprised. Dari hasil ngulik review Sentosa Spooktacular sebelum berangkat, katanya jangan langsung masuk ruhan Dorm. Soalnya, ruhan ini nih ruhan pertama, terdekat dari gerbang. Otomatis, semua orang pasti masuk kesini duluan. Alhasil, penuuuuh.

 Yekaaan, kalo diliat dari peta, ruhan Dorm (bawah) adalah ruhan terdekat dari gerbang (kuning, kiri bawah)

IMG_0888

IMG_0881
Mampus deh, the ghost came out to play!

Oke, kami memutuskan untuk melewati ruhan Dorm, dan nyari ruhan berikutnya. The next one we found was Body. Makkk, antriannya kok sami mawon panjangnya?

Di satu sisi, gue bersyukur bahwa antriannya rame. More people means less mencekam, right?

Tapi di sisi lain, keramean ini nggak terlalu banyak pengaruh kepada ketegangan gue. Kenapa? Karena…

1. Di seluruh area Fort Siloso ini, tersebar puluhan aktor hantu untuk nakut-nakutin para pengunjung. Ini hantu-hantu diluar ruhan, ya.

Kostum hantunya beragam, mulai dari kuntilanak, hantu-hantu film Thailand yang bersangkutan (Nak, Vichien, dll), sampe hantu generik aja, seperti zombie atau  penganten hantu.

Kalo boleh jujur, make-up dan kostum mereka nggak spektakuler, aktingnya juga so-so, lah. Tapi gue BENCI banget dikagetin. Nah, sementara tugas utama para aktor hantu ini adalah ngagetin para pengunjung. Mereka bisa ngumpet dibalik tembok, trus tiba-tiba nongol, atau mendadak ngejar orang randomly, atau diem-diem nguntit seorang pengunjung sambil menggeram-geram. Teror banget, lah. I hate that. So much. Ini salah satu sumber ketegangan utama gue.

Nah, salah satu survival tips Sentosa Spooktacular 2013 adalah ghosts smell fear


Ini masuk akal banget. Para aktor pasti doyannya nargetin pengunjung yang mukanya stress. Kalo kita santai, mungkin mereka juga males, karena sebel juga yaaa kalo udah susah-susah nakutin, eeeh reaksinya garing.

Dengan demikian, tekad gue bulat—I would not show them my ‘scared’ face. Bukan hanya santai, gue akan SENYUM setiap papasan sama hantu!

Maka, demi Allah wa Rasulullah, sepanjang menyusuri area Sentosa Spooktacular, GUE SENYUM-SENYUM SENDIRI. Kolor boleh basah karena ngompol, tangan T boleh retak gue remes, BUT I WOULD NOT STOP SMILING, DAMMIT! Karena mereka kebal doa, ini satu-satunya senjata dan defense mechanism gue, mak!

Niatnya mau senyam-senyum begini...

Tapi jadinya begini... Kekeus dan tegang!

Alhamdulillah, entah kebetulan atau emang efektif, gue nyaris nggak diteror samsek. Kadang gue dipelototin si hantu, atau dikasih geraman-geraman gemes, tapi gue bertahan dengan senyum tegang gue. Kalopun dikagetin, gue cuma, “Eeeh copot, copot…” sok imut, TETEUP SAMBIL SENYUM. 

Senyumku, ayat kursiku.

2. Gue denger, sistem masuk ke setiap rumah hantu adalah per-rombongan atau per-batch. Dan katanya, jarak atau gap antar rombongan tuh dibikin panjang.

Pertanyaan di kepala gue adalah, gue dan T ‘kan cuma dateng berdua. Apakah ini berarti kami akan masuk berduaan aja?!

Asli, pertanyaan itu menghantui gue banget. Maka gue bikin sumpah sama T—kalo sistemnya bener begitu, dan kami disuruh masuk ruhan berduaan doang, TOLAK! JANGAN MAU! Kalo perlu begging sambil cium kaki petugasnya, deh. Pokoknya kami harus digabung sama rombongan lain. Harus rame-rame.

3. Yang lebih kampret lagi, gue denger bahwa setiap pengunjung akan diberi misi setiap masuk rumah hantu. Dan kita nggak bisa keluar kalo belum menunaikan misi-misi tersebut. Nyet!

Misinya kayak apa? Nanti gue ceritain per rumah hantu aja, ya. Yang pasti, konsep misi-misian ini juga sangat menambah ketegangan gue. Pokoknya KZL BGD. Kesel banget.

***

Where were we?

Oya, antrian ruhan.

Sejauh ini, kami menemukan bahwa antrian ruhan Dorm dan Body sangat mengular. Sekitar 60-90 menit lah, huhuhu. Should we continue to the next one? Kontinyuuu.

IMG_0890

Ruhan berikut yang kami temui adalah ruhan Shutter. Bokkk, antriannya lagi-lagi panjang. Disini, Teguh mulai kesel, dan ngajak ke ruhan berikutnya, yaitu ruhannya Pee Mak. Kata seorang petugas, disitu lebih sepi.

Tapi gue menolak! Pasalnya, gue denger bahwa ruhan Pee Mak nggak serem, malah cenderung kocak. Nah, gue nggak mau memulai petualangan adrenalin gue dengan ruhan yang ‘lembek’. Gue mending ‘dihajar’ ditakut-takutin dulu, baru rilek sedikit di ruhan Pee Mak (rilek kok di ruhan?).

Does that makes sense?

Karena suami nurut istri, maka ruhan Shutter resmi menjadi ruhan pertama kami. Jreeeeng!

***

Ruhan #1: Shutter
Setting ruhan: Dark room / lab cuci foto
Misi: Cari foto Natre, dan hancurkan

Bagi yang belum pernah nonton Shutter, silahkan baca sinopsisnya disini, dan liat trailernya disini.

Rumah hantu Shutter
Credits to this blog

Sebelum masuk, kami kudu ngantri sepanjang 90 menit dulu. It was so crowded and hot!

IMG_0894
Di setiap antrian ruhan terdapat layar besar yang memutar trailer film yang bersangkutan

IMG_0905
Dari antrian Shutter, tampak pemandangan ciamik di sebrang pulau. Keren, ya? Ini apa sih, Marina Bay Sands, ya?

Ketika akhirnya kami mencapai pintu ruhan Shutter, kami lega banget bahwa pengunjung yang masuk nggak dibagi per-batch atau kloter. Pokoknya semua silahkan masup sebebasnya, sehingga crowd ngalir aja kayak air. Hal ini disebabkan karena pada waktu itu crowd lagi rame-ramenya, sehingga mustahil bagi para petugas untuk membuat sistem kloter. Ntar malah menghambat flow, dan antrian malah makin lama.

Hal ini juga menyebabkan dibatalkannya misi di ruhan ini. HOREEEE! Nggak perlu cari foto jelek!

Ketika masuk, sepanjang jalan, gue cuma nunduk ke bawah sambil pegangan erat sama T. Gue nggak nengok kanan-kiri, atas-bawah, depan belakang. Jadi gue sama sekali nggak tau what’s going on. Hahahaha.

Tapi kalo dari hasil lirik-lirik kecil, pandangan peripheral, dan hasil ngulik review di Internet, katanya ruhan ini di-setting sebagai sebuah dark room atau lab cuci foto. 

Di sepanjang tembok ruhan ini, terdapat ratusan foto adegan sadis, seperti badan kepotong-potong, bola mata mencuat, dan sebagainya. Foto-fotonya asli, lho. Entah pada dapet darimana.

Terdapat pula sebuah pojokan yang didedikasikan untuk almarhumah Natre. Ada fotonya, ada karangan bunga, ada hio-hio, dan ada suara chanting para biksu mendoakan sang arwah.

RIP, Natre
Credits to this blog

Dan seperti di filmnya, ada sebuah wastafel berisi air untuk mencuci cetak foto, dan tiba-tiba di tengah wastafelnya itu... muncul hunta, maaaakkk!

Ciluuuupbak, dari balik wastafel!
Credits to this blog

 ... and again!
Credits to Sentosa Spooktacular 2013

Tapi yang paling bikin stress, di akhir ruhan ini, terdapat strobe light alias lampu yang menyerupai flash. Nyala mati, nyala mati. Kilatan lampu flash ini kenceng dan bikin pusing banget. Gue yakin penderita epilepsi pasti bisa kumat disini :( Nah, karena strobe light ini bikin kita terdisorientasi, kita jadi nggak sadar bahwa ada dua hantu cewek yang diem-diem merangkak ke arah kita. 

MAKDIRODOT! *tendang hantunya satu-satu*

Meski demikian, Alhamdulillah, entah kenapa, gue nggak terlalu takut di ruhan ini. Yaaaayy! Mungkin karena pengunjungnya rame banget, sehingga kami jalan dempet-dempetan di dalem. Mungkin juga karena ekspektasi gue udah kelewat tinggi sebelumnya. Selain itu, trail-nya surprisingly short, lho. Pendek banget, Kayaknya 5-7 menit juga kelar.

Whatever it was, saat keluar dari ruhan Shutter, gue dengan bangga (DAN SONGONG) berucap, “That’s it? Really, that’s it?!” SOOOOKKK. Ati-ati kualat!

Score: 3/5

Ruhan #2: Pee Mak
Setting ruhan: Rumah hantu karnival, mereplika yang di filmnya
Misi: menarikan sebuah tarian depan sang hantu, Mae Nak

Bagi yang belum pernah nonton Pee Mak, silahkan baca sinopsisnya disini, dan liat trailernya disini.

Gue suka banget sama antrian Pee Mak. Pertama, soalnya pendek (muahahaha). Kedua, karena di deket antrian ini ada stand jajanan (muahahaha).

IMG_0900
Jajanan! Yay!

Ketiga, karena ada tema-nya.

Kalo lo udah nonton Pee Mak, mungkin inget ada adegan dimana sang suami-istri pacaran di sebuah karnival. Nah, antrian ruhan Pee Mak ini setting-nya dibuat seperti karnival...

Areal antrian ruhan Pee Mak
Credits to this blog

IMG_0898

...walaupun masih ada nuansa horornya, ya. Misalnya, ada sebuah pohon dimana tersangkut seonggok manekin berdarah-darah.

This thorny Bombax Ceiba tree was often used to make coffins in Thailand. But that's not all. It is said that the spirits of those who were unfaithful to their spouses will climb this tree and wait to be tortured in hell. Spot this tree at the Pee Mak trail!
Credits to Sentosa Spooktacular 2013

Selain itu, para petugas yang bertugas di antrian ini semua berkostum dan berakting ala temen-temennya Pee Mak yang konyol-konyol. Mereka pun suka mendadak joget-joget dan nyanyi-nyanyi dalam bahasa Thailand. Konsep ini disengaja, karena film Pee Mak memang ber-genre komedi-horor.

Pokoknya tingkah mereka lumayan bikin hati rilek, lah. Walapuuuun yaaa, selain mereka-mereka yang jenaka itu, ada juga penampakan hantu Mae Nak lewat-lewat antrian sambil gendong bayi T___T

Anyway, sepinya antrian ruhan Pee Mak ini ada sisi nehatifnya, yaitu... ruhannya jadi agak kosong. Hik, hik, hik. Ini berarti, sistem batch kembali diberlakukan. Pengunjung yang masuk ruhan harus jalan per kloter, nggak bisa bablas aja. Dan tentu saja, jarak antar kloter dibuat agak berjauhan. Hik, hik, hik.

Untungnya, gue nggak mesti masuk ruhan berduaan Teguh doang. Semua pengunjung dibagi-bagi menjadi kloter-kloter yang kurleb berisi 10-15 orang. Fiuuuuh. Ketakutan gue nggak terwujud.

Selain itu, misi ruhan Pee Mak ini juga di-enforce. ‘Kan waktu di ruhan Shutter, kita nggak disuruh melaksanakan misi, soalnya rame banget. Nah, karena ruhan Pee Mak nggak terlalu rame, misi-misian ini diberlakukan.

Jadi, di film Pee Mak, ada adegan dimana temen-temennya Pee Mak menarikan sebuah tarian konyol, namanya tarian Gongpun


Gongpun dance! Ngeselin ya tariannya? :)))

Nah, di dalam ruhan nanti, saat kita ketemu sang hantu Nak, kita harus jogedin tarian Gongpun ini. Aduuuh, harus ya?! Kenapa sih?!

Anyway, setiap masuk ruhan, kita ‘kan harus berjalan dalam satu baris alias oneline. Brengseknya, di kloter kami, gue kedapetan berdiri kedua dari belakang. Benciiikkk.

Maka meskipun ruhan Pee Mak ini nggak begitu serem, gue kembali tegang, karena posisi buntut gue itu.

Gue pun kembali ke posisi jalan nunduk sambil ngeremes tangan Teguh. Kresss!

Sama seperti ruhan Shutter, gue merasa ruhan Pee Mak ini nggak serem. Hantu-hantu di dalam ruhan ini rada kalem, pencahayaannya agak terang, dan tema ruhannya pun membingungkan. Kalo ruhan ini setting-nya adalah kuil Buddha, atau rumah suami-istri Mae Nak dan Pee Mak, pasti lebih serem. Lah, ini kagak jelas.

Di awal trail, emang ada semacam set-up kuil, sih, tapi kok juga ada ruangan yang isinya tembok dipilok-pilok? Apa gue salah liat, berhubung gue nunduk mulu?

Feeling gue, ruhan ini mereplika ruhan karnival di filmnya, deh.

Selain itu, kualitas ruhan Pee Mak ini cukup menyedihkan. Ala-ala tembok gabus dan cat pilok gitu, deh. Disentil dikit kayaknya ambrol. Ambience-nya pun nggak dapet. Owell.

Di akhir trail Pee Mak ini, kloter kami berhadapan dengan the one and only Mae Nak. We stopped in front of her.

Kemudian muncul seorang mas-mas berpakaian Thai, seperti salah seorang teman Pee Mak. Ternyata dese adalah pemandu tarian Gongpun kami.

Now we have to dance for Nak! You all follow me, OK?

Maka berjogedlah kami kayak orang gila, sambil berusaha nyanyiin lagu Thai-nya sekalian.

Yeuk, joged?
Credits to Sentosa Spooktacular 2013, via this blog

Kelar joget, si mas nanya ke sosok Mae Nak,

Is it OK? Can they go?” 

Hantu Mae Nak hanya mengangguk tipis... tapi lalu tiba-tiba berteriak marah, “GET OUUUUUUTTTTT!!!!!!” dengan amat, sangat melengking!

Sialan kau, wanitaaaaaa!!!

I guess that was the surprise element for this trail. Hokelah. Good job, whoever played Mae Nak! Teriakan jej nyebelin, yeee.

Score: 2/5

Ruhan #3: Body
Setting ruhan: rumah sakit. I think?
Misi: menyusun kembali anggota badan seonggok mayat yang dimutilasi (WTF?!)

Bagi yang belum pernah nonton Body, silahkan baca sinopsisnya disini, dan liat trailernya disini.

Sebenernya, setelah Pee Mak, ruhan yang harus kami hadapi adalah ruhan Coming Soon. Alurnya sih begitu, ya.

Setelah Pee Mak (kiri atas), harusnya kami berhadapan dengan Coming Soon (kiri tengah)

Tapi kelar dari ruhan Pee Mak, waktu udah menunjukkan pukul 11.30 malam. I was so tired, so hungry, dan nggak siap menghadapi ruhan Coming Soon.

Why, you asked? Karena katanya, ruhan Coming Soon adalah ruhan paling nyeremin dan paling panjang di Sentosa Spooktacular 2013. Pun harus diakui, hantunya Coming Soon tuh yang paling malesin ya mukanya. Asli. Nggak sanggup dulu, deh, berhadapan samde diana.

Jadi setelah ditimbang-timbang (baca: setelah gue ngejoprak mau nangis kecapekan), kami pun ngelongkap ruhan Coming Soon. Horeeee, rugi duit! Bod-am.

Karena ruhan Coming Soon di-skip, kami kembali ke ruhan-ruhan awal, yaitu Dorm dan Body. 

Kami memutuskan untuk masuk ke ruhan Body.

Rumah hantu Body
Credits to this blog

Waktu itu jam menunjukkan sekitar jam 11.30 malam, tapi antrian ruhan Body masih 60 menit ajuah. Gileeee.

IMG_0912

Antrian ruhan Body nggak di-dekor dengan menarik (seperti antrian ruhan Pee Mak) tapi antrian Body justru menghibur byanget, lho.

Vay? Karena—entah kenapa—para aktor hantu tuh paling banyak gentayangan di area antrian ruhan Body. Loh, bukannya malah serem? Alhamdulillah, semakin malam, para aktor hantu pada makin lodoy, sehingga mereka nggak segalak di jam-jam awal. Mereka tetep gentayangan, melotot-melotot, tapi nggak rusuh mengendap-endap, teriak-teriak ngagetin orang lagi.


Mereka malah sering banget diajak foto bareng, and they cooperated very nicely (eh, ternyata Sentosa Spooktacular 2013 emang ngadain lomba foto bareng para hunta, ya).

IMG_0907

IMG_0921

IMG_0922

IMG_0925

Bahkan kadang mereka mau diajak becanda, walaupun becandanya cuma pake bahasa tubuh, berhubung para aktor hantu dilarang keras ngomong, apalagi senyum.

Jadi pengunjung yang koleksi foto bareng aktor hantu pada girang banget, deh, selama ngantri ruhan Body. Terhitung ada belasan hantu yang lewat-lewat dan bisa diajak foto. Lumayan buat ngabuburit ngantri.

Trus yemaakkk, pas lagi ngantri, tiba-tiba ada show kecil dari para aktor hantu. Tau-tau mereka jejogedan pake lagu I Need a Doctor (yang mana cucok, karena ruhan Body ‘kan temanya dokter-dokteran dan mutilasi), trus lanjut disko pake sebuah lagu house angkot. Halaaaah! T___T

IMG_0934

IMG_0929
Joget aja, lho, merekaaa...

Setelah gue youtube, ternyata para hantu Sentosa Spooktacular emang suka ngasih show kecil-kecilan, ya. Misalnya, mereka bisa flashmob atau Harlem Shake aja, gitu.

Di satu sisi, aksi-aksi begini bisa bikin pengunjung ilfil dan DROP AMAT SHAY?! Ente-ente mangsudnya mau nakutin apa mau ngelawak, sih? Kok nggak konsisten? Tapi di sisi lain, hati bisa jadi rilek sejenak, dan terbangun suasana 'halloween party'-nya. Gimana pun juga, pengunjung utama Sentosa Spooktacular 'kan remaja yang mau have fun gegilaan. 

Sekian sekilas cerita mengenai suasana antrian. Now onto the trail!

Sebelum memasuki ruhan Body, kami—seperti biasa—dibagi menjadi kloter-kloter kecil. Kali ini, gue bener-bener ketiban sial—kebagian berdiri paling belakang, mak! Pa-ling be-la-kang! Di buntut kloter! As you all know, the unwritten rule of haunted houses is: siapapun yang berada di ujung (depan atau belakang) rombongan, so pasti jadi target utama hunta. Kampret, kampret, kampret.

Sialnya lagi, sebelum memasuki ruhan ini, kami diberi briefing yang sama sekali nggak nolong.

I have to warn you that this trail is very scary and very gory. Also, there will be lots of stairs, so please be careful and DON’T RUN. Is everybody readyyy?!

Akupun menjerit (dalam hati), “Noooo...

Sebelum memasuki ruhan Body ini, kami harus berjalan melewati sebuah jalan setapak sempit. Masih outdoor, nih, belum masuk ruhan, tapi gue udah ketakutan. Nuansanya suram, jalannya dipenuhi oleh guguran daun kering, hampir nggak ada penerangan samsek, dan bokkk... gue buntut rombongan, niiih! Senjata senyum nggak ngaruh, udah pasti gue bakal ditargetin para hunta!

Kami harus berjalan melewati tenda-tenda penutup trail, dan dibalik tenda ini, ada bayangan-bayangan yang tiba-tiba mau nggraok T___T

Dibalik tenda-tenda ini, tiba-tiba ada sesosok hantu nggraok!
Credits to this blog

Dan di sepanjang jalan setapak ini, terdapat sejumlah manekin yang di-set sebagai mayat-mayat yang terbunuh sadis. Pokoknya full darah dan adegan sadis, deh.

Ngeselin
Credits to this blog

Yang paling nggak gue suka adalah ‘mayat’ seorang wanita yang mati saat melahirkan. Jadi bayinya udah setengah nongol dari me’i-nya.

Kalo gue adalah seorang remaja belasan taun, palingan gue sekedar jijik. Tapi gue adalah seorang ibu-ibu (dramatis), and I’ve been missing Raya a lot, jadi gue liatnya suebel sekali. Hampir tumpah airmata kejijikan dan ketakutan gue (mulaaaaiii... Lebaaaay...)

Selain itu, selama berjalan di jalan setapak ini... gue dibuntutin seorang aktor hantu. 'KAN? APA GUE BILANG, 'KAN? Meski gue nggak diteriakin, nggak ditakutin, dan nggak disentuh, cuma dipepet, demi Gusti nu Agung, it was really goddamn intense.

After what seemed like forever, akhirnya kami memasuki ruhan Body. Beneeer, semua kata briefnya bener. Ruhan ini ngeselin!

Pertama, ruhan ini berlokasi di salah ex-bunker Fort Siloso, jadi untuk menelusurinya, kita kudu naik turun tangga. Ra iso mabur kiye.

*keluh*
Credits to this blog

Kedua, para hantu di ruhan ini galak-galak banget. Penampakan mereka mungkin standar ya, but they really screamed at you, clawed at you, and tried to grab you (tapi enggak, kok). NGZLN, lah.

Ketiga, the setting! Ewww, ewww, hueeekkk. Jijay banget. Contoh, nih. Di sebuah lorong, terdapat anggota-anggota badan (palsu) digantung di langit-langit, lengkap dengan darah-darahnya. Jadi pas ngelewatin, muka kita nabrak-nabrak tuh potongan lengan dan kaki. HUEKKK.

Credits to this blog

Di ruangan lain, kita harus ngelewatin lusinan mayat terbungkus kain, kayak mumi, yang digantung berdiri kayak sansak. Jadi kita mesti nyelip diantara mumi-mumi itu, dan PASTINYA, salah satu mayat tersebut tuh orang beneran, menggapai-gapai para pengunjung T__T

Credits to this blog

As if that wasn’t gross enough, lantai ruangan mumi ini nggak stabil. Benyek-benyek basah, kayak jalan di lumpur. Gue nggak bisa liat, ada apa di lantai itu sebenernya, yang pasti terrain tersebut membuat jalan gue oleng.

Dan di sebuah ruangan lainnya, terdapat penampakan Dararai dengan rambutnya yang terurai ke seluruh langit-langit ruangan, menjuntai ke bawah. Jadilah muka pada kecolok-colok rambut ijuk bau busuk T___T Asli, kesel.

Credits to this blog

Credits to this blog

Lalu, sebelum mencapai ruangan terakhir, terdengar suara pengumuman menggelegar,

Attention, before you can escape the trail, you have to complete your mission. Your mission is to re-arrange the body parts of the following corpse. I repeat, re-arrange the body parts—“ *keburu pingsan*

Untuk keluar dari ruhan Body ini, setiap kloter harus berhadapan dengan sebuah meja operasi, dimana terdapat seonggok 'mayat' dan seorang 'dokter bedah'. Anggota  badan ‘mayat’ ini bececeran kemana-mana—tangan kemana, kaki kemana, usus kemana, dan sebagainya. Nah, tugas kita adalah meletakkan anggota-anggota badan tersebut sesuai tempatnya di hadapan sang dokter bedah.

Kalo udah beres, baru boleh liwat.

Credits to this blog

Disini gue baru merasakan keuntungan berdiri di buntut rombongan: gue jadi nggak ikutan main puzzle anggota badan tersebut! Yang kerja mereka-mereka di ujung depan kloter aja, sementara gue cuma berdiri mematung di belakang, muihihihi. Begitu kelar, nyooosss... gue tinggal ngibrit ngelewatin mayat tersebut. Dag, neeek!

Overall, the Body trail was damn intense, mungkin karena gue underestimate duluan, berdasarkan dua ruhan sebelumnya. Taunya... surprise, surprise... set-nya menjijikkan, hantunya agresip, dan terrain-nya ngeselin—naik-turun tangga nggak henti-henti.

Selain itu, ruhan Body juga sukses ngebikin gue dan T berantem keras, muahahaha. Posisi kami ‘kan di buntut kloter, sehingga gue super parno kalo ketinggalan rombongan. Jadi gue terus-terusan nyeret T untuk selalu nempel ke rombongan. Alhasil, T hampir jatoh 100x, sementara gue teriak-teriak histeris, “CEPETAN JALANNYA! CEPEEETTT!!! PEPEEEET!!!” *dijambak T*

Score: 4/5

Ruhan #4: Dorm
Setting ruhan: Sekolahan
Misi: Mengucapkan, “Vichien, rest in peace” 3x sambil jalan mengelilingi sebuah bak mandi

Bagi yang belum pernah nonton Dorm, silahkan baca sinopsisnya disini, dan liat trailernya disini.

Our last trail of the night, dan waktu menunjukkan hampir pukul 12.30 malam. Phew.

Karena udah menjelang tutup, antrian ruhan Dorm jadi lumayan sepi. Para aktor hantu yang berkeliaran di jalanan pun udah lemes, malah pada duduk-duduk gegoleran di trotoar, hahaha. Berat ya, Mas, cari duit.

Tapi sesepi-sepinya, kami tetep kudu ngantri setengah jam dulu, sebelum akhirnya bisa masuk ke ruhan.

Antrian rumah hantu Dorm
Credits to this blog

Lagi-lagi kami dibagi per kloter, tapi sekarang gue nggak kebagian di buntut. Hamdalah.

Sama seperti di ruhan Body, kami di-brief dulu sebelu masuk. Briefing dilakukan di depan ruhan Dorm, yang di-set seperti facade sebuah sekolahan, mengikuti jalan cerita Dorm.

Yang lumayan bikin merinding, di jendela ‘sekolah’ ini, ada sebuah patung bocah SD, berdiri dengan posisi bungkuk. Seragam sekolahnya robek-robek, dan punggungnya berdarah-darah. Disampingnya, ada seorang guru (aktor) yang mecutin punggung patung bocah ini berkali-kali. Terdengar suara (sound effect) si bocah nangis pilu, kesakitan.

Credits to this blog

Anjis.

Maybe I was really tired at that point, or maybe I was being overly dramatic, tapi gue jadi inget Raya, dan gue mau nangis ngeliat pemandangan bocah digebukin gitu. WALAUPUN FALSU YA, NEK. Aku capek, capek, capek... Rayaaaa, Ibu mau pulang ajaaa!

Isi brief ruhan Dorm ini adalah, nanti kami harus jalan dalam satu barisan. In fact, kami harus bikin kereta-keretaan, jadi setiap orang harus jalan sambil megang pundak orang di depannya. Soalnya ruhan Dorm ini sangat sempit, gelap gulita, dan alurnya berliku-liku kayak labirin.

Selain itu, di akhir ruhan, akan ada sebuah bak mandi, dan kami harus ngelilingin bak mandi ini 3x (apa 5x ya?) sambil ngomong “Vichien, rest in peace” agar arwah Vichien ‘tenang’ dan nggak ganggu-ganggu lagi. Ceritanya sih, gituuu...

Okedeh. Let's start this!

Sebelum masuk ke dalam ruhan yang sebenernya, kami harus melewati beberapa ruangan yang di-set seperti classroom (dan pas lewat sini, para aktor hantu pada nggebrak meja dan ngelemparin kursi ke arah kita... Gile...)...

Credits to Sentosa Spooktacular 2013, via this blog

... lalu jalan lagi melewati sebuah jalan setapak, persis seperti sebelum masuk ruhan Body.

Walaupun dekor dan setting Dorm nggak segahar ruhan Body, aktor-aktornya sama aja ganasnya T___T Mereka pada berpakaian seragam ala bocah-bocah sekolahan, dan selama kami berjalan melewati jalan setapak, they jumped and screamed at you from every corner. Cuih, cuih!

Sebelum memasuki ruhan Dorm, kami membentuk diri menjadi kereta-keretaan, dengan pegangan ke pundak orang di depan kami.

 Kereta-keretaan menuju ruhan
Credits to this blog

Belakang gue Teguh, sementara depan gue seorang cowok Chinese Singaporean lumayan ganteng dan wangi (Alhamdulillah), tapi kayaknya gay (damn). Padahal gue udah pengen pijet-pijet kecil nan centil, ‘kan... *najiiiis*

And so we entered the trail.

Bener, aja. Ruhannya gelap gulita! Gelap segelap-gelapnya, persis kayak kalo kita merem. Jalannya pun berliku-liku, dan kami sering nemu jalan buntu. Bayangin aja Rumah Kaca Dufan, deh, versi gelap gulita. Yang ngeselin, hantu di ruhan ini banyak banget. Asli, di setiap pojokan ada. Pengeeen... banget rasanya semprotin mereka atu-atu, bak membasmi coro.

Dekor rumah hantunya sendiri amat minimalis, malah bisa dibilang nggak ada. Lah, pan gelap gulita?

Di akhir ruhan, bener aja, terdapat sebuah bathtub dekil dengan air berwarna pitch black, dan kami musti jalan mengitarinya sambil chanting, “Vichien, rest in peace.”

"Vichien, rest in peace, yo!"
Credits to this blog

It was kinda embarassing, sih. Kami semua tau ini bo’ongan, thooo? But we still did it anyway, meski kebanyakan cuma bergumam nggak jelas, “Vichienmndbkjehrudoiadlk...”

Hihihihi.

Score: 3.5/5

So there you go, our adventure at Sentosa Spooktacular 2013.

Kesimpulannya—dan gue nggak tau apakah ini hal yang baik atau buruk—segala ketakutan gue rada nggak terbukti di Sentosa Spooktacular 2013. Everything was rather underwhelming, sih... Dekor ruhannya kurang mantep, mikap dan kostum para hantunya cukup standar, akting hantu-hantu yang berkeliaran di jalanan juga nggak konsisten. Kadang galak banget, kadang santai. 

However, Fort Siloso was an excellent, excellent venue for a Halloween event, karena tanpa diapa-apain pun, itu tempat udah ngeri, yaaa. Selain itu, kerjasama Sentosa Spooktacular dengan GTH, tuh, sebenernya brilian. Orang Asia cinta hantu Asia, dan brand film-film horor GTH ‘kan juga udah terkenal, tuh. Jadi secara pemilihan tema, Sentosa Spooktacular 2013 nih keren banget. It has lots of potentials. Sayang, eksekusinya nggak sekeren temanya. 

Kalo kata Teguh, kekurangan utama acara ini adalah... KERAMEAN! Seandainya saja lebih sepi, pasti lebih seru. I wholeheartedly disagree. Mak, kalo acaranya lebih sepi, gue nggak mau dateng! Gue berani kesini justru karena tau event ini rame, bok.

***

Despite everything, it was an amazing, stressful, fun, and one-of-a-kind experience. Hati gue nggak berhenti deg-degan dan menebak-nebak, will I die after this?

Satu hal yang paling membanggakan adalah ini: sebenernya, gue tuh penakut. Penakut banget. Tipe orang yang nggak suka cuci muka malem-malem sambil merem, karena takut muncul hantu di kaca wastafel (hai Gemma, Frida).

Tapi gue 'nekat' dateng ke event se-ekstrem ini, dan entah gimana, I got the courage. I managed to force myself to endure trail after trail. Dan walaupun udahannya capek batin banget, I felt a lot braver and stronger. Ya abis, mau kabur kemana? Mau pulang? Sayang duit, dong? Hihihihi.

Sungguh, ini adalah sebuah ujian naik tingkat secara spiritual. Dan gue bangga sama diri gue yang penakut ini.

Dan kalo ditanya, taun depan mau dateng lagi, nggak? Gue akan jawab, mauuuuu...!

Tapi rame-rame, ya :D

TOMMORROW: HALLOWEEN HORROR NIGHTS 3, BABY!

Tips, Tricks, and Other Miscellaneous

>> Untuk event Halloween gini, jujur, lebih seru kalo perginya rame-rame daripada berdua pasangan doang. APALAGI SENDIRIAN. Selain ketawa-ketiwinya lebih afdol, hawanya juga jadi nggak terlalu serem. Unless, pasangan Anda seru dan jago mencairkan suasana. Kalo pasangan Anda modelan T yang diem kabeh, selamet yaa..

>> One of my biggest mistake was... bawa kamera gede. Makkk... Gue ‘kan nggak punya kamera poket ya, cuma punya DSLR Canon segede-gede dosa. Dan malam itu, gue (dengan gebleknya) memutuskan bawa lensa EF yang beraaaat banget. Soalnya, gue berpikir bahwa motret malem lebih susah, jadi marilah bawa lensa yang canggihan, yeuuk...

... namun pada kenyataannya, I was too damn scared and nervous to take pictures. Selain itu, gue sama sekali nggak jago motret malem. Alhasil, potretan gue juelek semua, dan gue nggak mood untuk nenteng kamera + lensa raksasa gitu sambil ketakutan. Ujung-ujungnya, the camera stayed inside T’s backpack the whole night. Pundak T encok, deh, kaciaaan!

>> Same goes with iPhone. Entah kenapa, hasil potretan gue dengan iPhone juga busuk semua. I was too nervous lah, intinya! Maka, dengan sangat menyesal, gue hampir nggak punya dokumentasi kunjungan gue ke Sentosa Spooktacular 2013 ini.

>> My another mistake: dandan. Muahahaha... Gue udah denger, bahwa Sentosa Spooktacular ini suasananya gerah dan sumuk banget, maka pakelah baju yang adem dan longgar. Done! Alhamdulillah, nggak saltum. 

Tapiiii, malam itu gue kecentilan dan dandan dikit. Hasilnya, baru juga sejam ngendon di Fort Siloso, muka udah mau meleleh. Muka berminyak dan keringetan minta ampun. Kesel! It’s really hot out there, and my face is practically an oil field, jadi harusnya nggak usah kecentilan, deh.

>> BAWA KIPAS! PANAS!

>> To buy or not to buy Fastpass? Terserah ente, sih. Harganya memang cukup mahal, tapi apakah Anda rela ngantri 60-90 menit untuk setiap rumah hantu? Terutama kalo dateng pas tanggal rame, ya. Waktu itu kami dateng pas Deevali weekend, so the insane crowd was expected.

>> Pada dasarnya, Fort Siloso adalah sebuah situs bekas perang, jadi nggak ada restoran, toko suvenir, atau bangunan pendukung semacam itu. Semua makanan / minuman di Sentosa Spooktacular dijual di gerobakan. Bawa cash!

>> Toilet? Gue sama sekali nggak berani pipis malam itu, jadi gue nggak tau lokasi, jumlah, dan kondisi toilet di Fort Siloso.

>> Nggak seperti HHN, you CAN wear costume to Sentosa Spooktacular. I think. Soalnya gue liat beberapa pengunjung bermik-ap ala zombie, gitu. 

>> Beberapa ruhan berlokasi di bekas bunker Fort Siloso, jadi medannya ada banyak tangga. Be careful, don’t run. Gue menemukan dua orang yang harus dilarikan ke paramedis, karena luka dan keseleo akibat jatoh di tangga ruhan.

>> Namun, pengalaman yang paling mengerikan sepanjang acara Sentosa Spooktacular 2013 ini adalah pas kami pulang, tepatnya jam 1 malam. Bis dan MRT udah nggak beroperasi, sementara crowd Sentosa Spooktacular dan Halloween Horror Nights keluar pada saat yang bersamaan dari Sentosa. RAMENYA MENGERIKAAAN.

Akibatnya? Kami kudu ngantri taksi di VivoCity selama DUA JAM! YA! DUA JAM! We couldn’t call a cab, karena nggak punya nomer lokal. Orderan taksi nggak terima nomer non-lokal. Plus, nggak kepikiran untuk donlot apps order taksi. PANDAI.

Alhasil, kami nyampe hotel jam 3 pagi, dan baru tidur jam 4. THAT was the real horror experience, deh...

18 comments:

  1. ya ampuunnn maaakk, aku tak sangguuuuupppp... bayangin aja udah pengen pipis di celana inih..
    dirimu heibat yah!

    ReplyDelete
  2. Huff... Bacanya aja nahan nafas :))


    Selamat kau bisa mengalahkan ketakutan.

    kalo ane disuruh kesana dikasih gratisan FASTPASS pun bakalan AKU TOLAAAAAKKKKKK.

    HUahahahahhahahahaha.

    Lah wong terpaksa masuk ruhan di jungle bogor gara² dikerjain temen² aja gw mesti kabur²an dulu dari mobil dan lariiiiiiiii. Sampe akhirnya dimohon² sama temen² biar masuk. Untuuuungnya *masih ada untung* yang dikerjain itu dua orang dan yang satu lagi jalannya didepan diapit dua temen *biar ga kabur, dan gw dibelakangnya diapit juga biar ga kabur. Dan itu temen satu TAKUTnya lebih luar biasa dari gw.


    hahahahahahahhahaha.

    Tetep salut banget bisa berani masuk ke ruhan ruhan.


    Lanjutkaaaaan postingan berikutnyaaaa. Semangat.

    ReplyDelete
  3. Hastaga.. serem banget, haha..
    Jadi bingung antara kesannya kesel sama bahagia nih mbak Lei ikutan acara ini :p

    ReplyDelete
  4. Hamdalah akhirnya ada sekulik cerita keren di singaparna yang ga gitu2 aja (bye review Ikea dan Mustafa!). Orisinil! Spekta!bebas mencontek! Bacanya aja ngompol, mari ditunggu kelanjutannya ya sis...

    ReplyDelete
  5. *Sesama anggota melek kalo cuci muka berpelukaaannn*
    Aduuhh suka bangeeett sama postingan iniii!!
    Kamu berhasil membuatku pengen ke Spooktacular tapi juga sekaligus malaayy... Kebayang harus masuk ruhan SMS dikali 5!
    Dan bagian yg nyeret Teguh supaya nempel sama rombongan kebayang banget deh... Kebayang diri sendiri juga bakal begitu soalnyaaa!
    La btw penasaran deh.. Di ruhan Body kalo gak bisa nyelsein misi di waktu yg ditentukan diapain sih? Dibunuh ya?

    ReplyDelete
  6. Senyumku, ayat kursiku. >>> :)))))))

    ReplyDelete
  7. ini horror banget lei :s

    liat foto-fotonya aja merindiiing..
    hebat ya niat amat mereka bikin acara gini...

    ReplyDelete
  8. mbangkeeekkk kirain cerita di whatsapp udah paling serem TAU TAU DI SINI KOMPLET SAMA POTO POTONYAH!

    akik serem liat yg Body deh. dan ini sungguh brilian bacanya sebelum tidur HIYAAAA!!!

    ReplyDelete
  9. Vee-and-me: harus berani maakk, tiketnya mahal! :D

    Wawagunk: hahaha, eh tapi serem nggak ruhan Jungle Bogor? Maksudnya Jungleland apa yang kolam renangnya sih? (sombong yaaa, skrg gue jadi sok pengen ngejajal ruhan se-Indonesia hahaha)

    Dela: Duuuh, tepat banget lho deskripsinya. Kesel tapi bahagia :D

    De-ef: Hahahaha... Bosen banget ya sis kalo ke IKEA lagi, Mustafa lagi... Apalagi kalo sampe masih ada yang ke Cotton On. Langsung pengen gue gendong sampe Grand Indonesia. Blogging kok nyontek?!

    Fry: Hahahahaha, iya dibunuh deh kayaknya Fry... (sejujurnya nggak pake timing deh kayaknya. Sampe sejem pun rasanya ditungguin)

    Bokkk, gue setuju banget deh gengger kesindang Halloween berikutnya. Persahabatan kita akan diuji di dalam tiap ruhan. Siapa yang makan temen kabur duluan? Ya nggak siih...

    Marisa: Bener 'kan tapi?! :)))

    Lomita: Iyaaa, pengen banget deh Jakarta bikin ginian! Aku sama Teguh sampe ngayal-ngayal, kalo dibikin di Indonesia, bagusnya bikin ruhan bertema apa aja :D

    Miund: muihihihi, next year dong uuunn... yuuukk...

    ReplyDelete
  10. Mbaaaaa, itu penasaran sm ruhan yg terseram, klo dr film nya bukannya shutter paling serem yak? Jadi pengen nyoba pdhal penakut juga sih, hahahahaha... tp bakal nyerah deh klo ada tema sadako nya, :D

    ReplyDelete
  11. abis baca ini malemnya mimpi buruk,mimpi ikut main di pilem body..bangun tidur malah jadi prustasi bukannya seger heeuhhuhuhuhu

    ditunggu review berikutnya dan plisss reviewnya soal disney lagi ajah hikhikhik

    ReplyDelete
  12. Ga tau deh serem apa ga, lah wong gw nunduk doank pas disana, yang masuk 6 orang 3 depan 3 belakang, ALHAMDULILLAH kebagian belakang diapit sama temen, jd nunduk tinggal ngikutin kaki temen depan ke arah mana. Cuma yah gitu ada yg ngikut juga dari belakang mau dikasih ke tangan gw gitu, untung ngeh langsung aja dorong temen² didepan biar jalannya cepetan lagi.



    tempatnya di jungleland yah? bukan yg dikolam kok

    *lah ini curcol bener*

    ReplyDelete
  13. Leeiii..sunggggguuuuuhhhhhhh!!! Nyalimu kukasi 12 jempols (pinjem kanan kiri). Gue cukup membaca tulisanmu. Saking penakutnya. Ngeliat fotonya aja gw ga berani,apalagi disuruh kesana. Link2 trailermu juga ogah ah d klik. Daripada ga tidur,suami ga boleh ngantor. Hihi. Saluuuutttt sama kalian!!

    ReplyDelete
  14. kalau baca deskripsi fort siloso nya, itu... "penghuni asli" nya apa ngga keganggu sama kerame an ini ya? ato jangan2 ikutan juga nge rame in? hahaha... ups! *abaikan*

    ReplyDelete
  15. Filand: kalo dari segi film, kayaknya Shutter paling serem yaaa? Sayang, eksekusi ruhannya nggak sebagus filmnya :(

    Muti: hahaha bangun tidur, muka maleh asem dan lodoh ya :D I know the feeling hihihi

    Put: aku juga nggak percaya, pas udah pulang, "Bokkk, beneran nih tadi gue berani?" Mungkin karena ada faktor inget harga tiket hihi

    H&F: orang Spore mungkin kurang percaya mistis-mistisan, jadi cuek aja bikin beginian di tempat angker. Kalo nongol malah seneng kali yaaa... Free extra ghosts!

    ReplyDelete
  16. Gilie Leiiii!!! Dari deretan film itu, gw baru nonton Shutter. Abis nonton itu, gw ga berani nonton film-film horror Thailand lagi. Gelo deh, bikin gw beneran ga berani di rumah sendirian!

    Gw kasih lo seluruh jempol gw Lei, berani banget lo!!

    Gw pernah pergi ke rumah hantu yang pake hantu beneran gini di sebelahnya Madame Tussaud Hongkong. Itu gw sepanjang acara tutup mata doang, pegangan bahu orang depan. SEUMUR HIDUP KAGA MAU LAGI GW MASUK BEGITUAN. Bener-bener rugi...

    ReplyDelete
  17. ka lei jarinya ga patah yah?, *since it's really long

    ReplyDelete