Aug 1, 2013

Setahun Kemarin


Senin, 23 Juli 2012

Dokter bilang, saya seharusnya melahirkan besok, hari Selasa, tapi rasa sakit mulai menjalar di hari Senin pagi.

Persis seperti kata orang-orang, rasa sakitnya... unik. Susah dideskripsikan. Perihnya perlahan, menjalar pelan tapi pasti dari rahim sampai ke ubun-ubun, dengan tempo yang hampir konstan. Sakit, hilang, sakit, hilang. Perut saya sampe sekeras batu. 



Tapi seperti kata-kata "yang positif selalu akan mengalahkan yang negatif", rasa sakit saya waktu itu masih kalah dengan kegembiraan dalam hati. Duh, kalo udah perih-perih mules gini, berarti udah hampir waktunya brojol dong ya? Yippeee… Koper sudah tertata rapi, mental sudah sekuat baja. I was almost overdue, and so damn ready.



Tapi malam itu, saya nggak tidur semalam suntuk. Rasa sakit yang tadi sore kira-kira cuma level 4, mendadak melonjak ke level 8. What the ef is this pain?! Rasa sakit yang tadinya bagai ‘alarm kegembiraan’, sekarang murni sakit doang. No more excitement in it. Asli, kayak ada yang mencabik-cabik organ dalam. This must be what Sigourney Weaver felt when her baby alien was trying to claw its way out.


Saya berbaring di kasur, iPod berisi afirmasi hypnobirthing mengalun di kuping, mata saya terpejam. Tapi manalah bisa tidur? Inget banget, waktu itu saya mencengkram headboard tempat tidur kuat-kuat, sementara baju saya banjir air keringat, sambil sesekali melirik jam di handphone, menghitung durasi dan jarak kontraksi.

Tujuh sampai dua belas menit. That's it. Besok kita ke rumah sakit!

Selasa, 24 Juli 2012
Besok paginya, rasa sakit saya menurun. Saya mandi dan keramas, pake minyak nyongyong, dan baju rok terusan khusus untuk momen spesial ini. Kheuseus, lho, bok. Bisa-bisanya yah, dulu ke mol, beli baju sepesial buat melahirkan :))) Didn't I tell you I was ready?

Setelah rapi, saya dan suami bergegas ke klinik dengan senyum sumringah. Tentunya koper nggak ketinggalan. Saya siap disuruh melahirkan pagi itu juga.

Kami menerobos masuk RS, dan mengumumkan, “Suster! Saya mau melahirkan nih!” Drama dan percaya diri maksimal! Etapi… setelah di-CTG dan observasi, suster mengumumkan bahwa tidak ada bukaan serviks sama sekali, meski kontraksi saya sudah kuat dan teratur.




"Kata dokter, kita observasi satu jam lagi ya, Bu."

Satu jam mundur menjadi dua jam, dan kontraksi saya justru melemah. Saya berusaha 'membuka' serviks dengan berjalan-jalan keliling rumah sakit, sembari gembira ria memilih kamar untuk rawat inap nanti, (“Aku mau kamar ini yah! Yang VVVVVIP!” Suami cuma meluk dompet sambil asyem :p).

Sayang seribu sayang, walau sudah jalan-jalan lincah, tetap nggak ada tanda-tanda pembukaan serviks barang sedikitpun. Kami memungut harapan yang hancur berkeping-keping di lantai, lalu pulang. 



Malamnya, gelombang sakit kembali datang. Kali ini jauh, jauh lebih sakit dari apa yang saya rasakan pada siang hari. Dengan tangan gemetar, saya browsing di internet dan menemukan bahwa memang ada sindrom kontraksi yang hanya datang di malam hari (what is this sorcery??!!??!!). Nggak ada informasi jelas, kira-kira berapa malam harus saya lalui sampai kontraksi ini akhirnya membuka rahim.



Jadilah saya kembali begadang. Sudah nggak mampu lagi berbaring, saya duduk di kursi kamar sambil mangku bantal untuk menopang kepala sekaligus meredam suara. Saya ngamuk tiap Teguh berusaha menenangkan atau menyentuh saya, because every touch he made would make my body hurt even more. Jadi Teguh cuma bisa nontonin saya melenguh-lenguh bak kesurupan.

Semalaman itu saya nangis, lalu teriak-teriak, lalu nangis lagi, lalu teriak-teriak lagi sampai pita suara rasanya mau putus.

Here’s the thing—dalam menulis blog, kadang saya memasukkan hiperbolisme. It's normal, it’s a common style of writing. Tapi kali ini saya nggak bisa hiperbola, karena rasanya sebener-benernya sakit. Tanpa keraguan, inilah rasa sakit terhebat yang pernah saya alami. Bagi saya, nggak ada tandingannya, dan semoga nggak akan pernah ada tandingannya.

I knew labor pains would hurt, but I’ve always thought I’m moderately brave and can handle pain well. Plus, I have come prepared! Plis deh, buat apa rajin yoga selama 6 bulan, dan bela-belain ikut kelas hypnobirthing kalo bukan demi menghadapi sakit? But I guess I was wrong. Nothing came prepared for this labor pain.

Sakit kontraksi ini begitu agung dan megah, sehingga merupakan penghinaan kalau ia sekedar diibaratkan sebagai "sakit menstruasi" atau  "keinjek gajah" seperti yang sering disebut teman-teman. Nggak. Bagi saya, sakit kontraksi ini nggak ada persamaannya. Darn those hippies who says labor pain isn’t that painful! There couldn’t be any worse lie. The pain was so brutal and so real.

Saya bener-bener nggak tidur semalaman.

Rabu, 25 Juli 2012


Seiring dengan terbitnya matahari Rabu pagi, sakit kontraksi saya mereda. Persis seperti kata internet mengenai fenomena “kontraksi cuma di malam hari.” So weird. Jangan-jangan saya hamil anak vampir.



Tahu bahwa kontraksi saya hanya muncul di malam hari, Mamah berpesan agar saya menyiapkan fisik dan mental di siang hari. Banyak tidur, banyak makan, banyak doa, mengingat ketika malam tiba, saya akan lumpuh total. Bak mau perang lawan vampir banget nggak, sih? Saya bahkan menyiapkan sejumlah DVD, komik, dan game iPad, sebagai alat pendistraksi ketika malam datang.



Maghrib menjelang, gelombang kontraksi datang. Menurut para saksi mata (alias orang rumah), kepribadian saya seperti terbelah. Saya bisa diajak ngobrol santai, tapi lima menit kemudian, saya teriak-teriak di bekapan bantal. But after the contraction wave's gone, saya kembali normal. Lima menit kemudian, teriak lagi. Gustiiii…!



Semakin malam, rasa sakitnya mulai nggak kenal ampun. Amunisi yang saya siapkan tuh bagai tensoplast yang musti menahan luka sayatan samurai. Segala DVD, komik lucu, dan ayat Quran nggak ada ngaruh-ngaruhnya acan! There was only pain, pain, and more pain.



Satu-satunya penolong saya adalah teriak. Ini ironis banget deh, mengingat saya yoga prenatal selama 6 bulan penuh, dan sempet ikut pelatihan hypnobirthing. Menurut ilmu mereka, sebijak-bijaknya wanita melahirkan adalah menghadapi kontraksi dengan bernapas anggun. Sori-dori-mori, ya, but that advice can burn in hell. Percayalah kepada film Hollywood—kontraksi itu sakit. Dan kalau harus teriak, berteriaklah, wahai kaumku!



Maka saya melolong sepanjang malam di kamar, nggak tidur sekejap pun. Dan biasa, seiring dengan terbitnya matahari pagi, sakitnya mereda.

Kamis, 26 Juli 2012

Siang berjalan seperti biasa, dan teror malam kembali datang.

Kontraksi di Kamis malam ini adalah puncaknya. Saya ngungsi ke kamar orangtua, dan nangis tersedu-sedu di pangkuan Mamah. Saya terlalu kesakitan untuk maaf-maafan, tapi waktu itu saya mikir, mungkin dosa saya ke Mamah gede banget ya, sampe labor pains-nya begini amat?

But then again, kisah kontraksi Mamah saat melahirkan saya persis kayak begini. Turunan kali?

Apapun itu, di Kamis malam ini, saya cuma mau teriak-teriak di pangkuan Mamah, berharap segera ada tanda-tanda melahirkan. Nggak kuat begini terus.

Semalaman, Mamah membacakan ayat Kursi sementara saya menjerit-jerit. Saya ingat, saking kencengnya, saya sampe tutup kuping tiap kali teriak. I couldn’t even stand my own screams!

Sekitar jam 11 malam, kesabaran saya habis. Saya bangkit dari tempat tidur, duduk di sofa kamar orangtua saya, dan ‘memarahi’ Raya, yang semakin saya curigai adalah bayi werewolfIt was not something I was proud of, but when you’re in this kind of primal pain, all hell breaks lose. Your true temper comes out. “Raya! Ibu salah apa sama kamu, nak?! Kenapa kamu begini banget, nak?!” Saya marah-marah sambil nangis.
 

Mungkin di titik ini, ada yang bertanya: kenapa nggak balik ke rumah sakit aja, sih?
 

OB-GYN saya adalah tipe yang nggak mau pasiennya bolak-balik ke RS karena false alarm. Kebanyakan first-time mother suka heri (heboh sendiri) dan GR-an untuk kelahiran anak pertamanya, sehingga sering ke RS sebelum waktunya. OB-GYN saya berpesan untuk datang ke RS hanya kalau jeda kontraksi sudah sampai 5 menit.

Nah, walaupun kesakitan saya sudah mencapai puncak toleransi, jeda-nya tetap nggak teratur. Kadang bisa 7 menit, kadang bisa 10 menit. Sejak Selasa, saya bolak-balik SMS OB-GYN saya, dan pesan beliau tetap sama—datang kalau jeda kontraksi sudah mencapai 5 menit.

Lewat tengah malam, seisi rumah saya udah nggak tahan. Saya diperintahkan untuk ke rumah sakit. Terserah, deh, jedanya mau berapa menit kek. I was in too much pain, it was almost abnormal. The baby could be in danger.

Jumat subuh, 27 Juli 2012

Sekitar jam 2 subuh, saya sudah tiba di ICU rumah sakit bersalin bersama suami. Saya dipantau, di-CTG, diukur pembukaannya. Hasil observasi ini lalu dikirim via fax ke OB-GYN saya yang masih di rumah. Lalu saya mendapat hasil yang di luar dugaan:

Kontraksi saya sudah cukup hebat, setara dengan kontraksi pembukaan 6-7. Tapi, saya nggak ada pembukaan serviks sama sekali. Ini aneh, karena ketika hamil, OB-GYN pernah mengukur tulang pinggul saya, dan ukurannya normal.

Intinya, si bayi sudah berusaha keluar, tapi nggak bisa. Kepalanya pun belum masuk tulang panggul. Sementara kontraksi saya semakin hebat, sehingga setiap kontraksi, bayi saya kehilangan oksigen. He’s under great stress, sampai detak jantungnya melemah.


Via telpon, dokter memerintahkan untuk operasi sesar emerjensi subuh itu juga.

Ya Gusti Allah, jantung saya mblesek. Kaget luar biasa. Selama hamil, kesehatan saya dan bayi sempurna. Nggak ada indikasi harus sesar sama sekali. Dokter saya pun sangat mendukung vaginal birth, dan nggak pernah bahas kemungkinan sesar. Alhasil, saya nggak pernah baca-baca soal operasi sesar sama sekali. I was not prepared. At all!


Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Kalau jalannya harus operasi, maka operasilah. Dalam hitungan menit, saya harus memutuskan—apakah bersedia sesar? Teguh ikut panik dan nelpon kanan-kiri. Papa mertua, Mamah, dan Bapak merelakan saya untuk operasi emerjensi. Mereka setuju itu yang terbaik.

Sat, set, sat, set, saya langsung tandatangan formulir setuju sesar, dan dicukur. Saya juga mendadak harus makan, walaupun nggak bisa banyak-banyak. Harusnya saya makan besar dulu beberapa jam sebelum operasi, karena setelah operasi, saya kudu puasa selama 24 jam.

Tapi karena tindakan ini diluar dugaan, saya nggak makan sejak jam 6 sore kemaren hari. Waktu itu menunjukkan pukul sekitar 3 subuh. Akhirnya saya cuma bisa seruput teh manis dan makan 2 gigit roti. Laper, laper deh.

Suster mengumumkan, operasi akan dimulai satu jam lagi, setelah sahur (oya, waktu itu lagi bulan puasa). Mereka harus ngumpulin tim dokternya dulu.

(FYI, semua orang tahu, jadi dokter itu berat. Mau lagi bulan puasa kek, belum sahur kek, lagi enak-enak tidur kek, kalau ada tindakan emerjensi, mereka harus siap sedia. Tapi melihat ini dengan mata kepala saya sendiri, bikin saya jadi kagum. Segala pahala untuk para dokter, ya :-*)

Selesai sahur, baju saya diganti jadi baju operasi, lalu saya dibopong ke dipan beroda, dan didorong ke pintu Operating Theatre. OB-GYN saya tersayang hadir tergopoh-gopoh dan memerintahkan semua untuk segera siap-siap, “Cepat dong, sus! Kasian ini ibunya sudah kesakitan sekali!”

Karena dadakan, belum satupun keluarga saya datang, kecuali Teguh. Saya memasuki ruang operasi hanya berbekal doa suami. Yang lain nggak ada.

Ini bikin hati saya sedih sekali. Kalau ada apa-apa di ruang operasi, saya belum pamitan dan minta doa dari orangtua, adek, dan papa-mama mertua. I didn’t have the chance to say goodbye. Dengan segala kedramaan saya, I was scared of dying alone, tanpa sempet titip-titip pesen untuk merawat Raya. 


It’s probably the saddest and scariest thought I’ve had during this whole birthing experience.

Saya masuk ke ruang operasi dengan perasaan kesepian sambil bercucuran airmata, sampe-sampe salah satu dokter kaget, “Hlhoooo, kok, nangis begini?”

Bagai orang buta, saya pasrah menjalani prosedur satu-persatu. Wong saya sama sekali nggak paham prosedur operasi sesar. 


Berdasarkan memori acak, berikut hal-hal yang saya ingat:
  • Epidural itu surga. Segala mimpi buruk saya tiga hari kebelakang hanyut dalam rasa kebas epidural. I love you, epidural, so very much.
  • Ruang operasi dingin banget! Dan ternyata agak kecil, ya, kayak gudang.
  • Dokter anastesi saya masih muda, ganteng, kekar, Chinese, mirip Joe Taslim, dan mobilnya Mercedes Benz karena saya sempet liat kunci mobilnya. OMG, this guy going to see me naked!
  • Si dokter ganteng ini lah yang paling banyak memeluk saya selama operasi. Awwwkward. He’s married, by the way. Saw the ring (ih, kalo belom kawin emang kenape :p).
  • Selama operasi, posisi tangan saya seperti disalib. I remember thinking that crucifixion means death, and it freaked me out a bit more. 
  • Saya ingat untuk nggak memandang lampu operasi, karena bisa memantulkan pemandangan perut saya yang lagi dibelek. 
  • Selama operasi, perbincangan para dokter adalah mengenai pembagian waktu Indonesia yang konon mau dihapus.

Setelah dibelek, badan saya digoyang-goyang dan perut saya ditekan dengan kuat. I was so, so scared. What is happening?! Emangnya harus gini, ya? Aaaaaaaa!!!

Before I know it… brojossss… jam 5.30 pagi, Raya lahir.
 
It was absolutely the best feeling ever. Sayagadis judes yang nggak nangis saat sungkeman kawinanmewek sejadi-jadinya, terharu luar biasa melihat my little man. Finally, son. Finally :)

Saya berusaha menggapai-gapai Raya, tapi karena ketuban saya sudah keruh, Raya harus diperiksa dulu. Setelah beres, baru ia diletakkan di dada saya untuk Inisiasi Menyusu Dini. Ucapan pertama saya adalah, “Assalamu’alaikum, Raya…” berikutnya adalah, “Suami saya mana?” ke para suster. Dan terakhir, “Ya ampun Nak, kuku kamu panjang banget, kayak nenek sihir… Bulu kamu banyak lebaaat, kayak monyet…” Ibu kejam since day one! :)))
 
Kata-kata saya ke Raya mungkin nggak mesra, tapi percayalah, what I felt was absolutely otherwise. When my son first laid on my chest, it was the most romantic moment. Saya ingat betul, saya membatin, bahwa ini adalah perasaan paling indah dan romantis yang pernah saya alami. 

That exact moment was incredibly sweet, and created the happiest, most content feeling I’ve never felt before.
 
:)
 
***

Setaun kemudian, saya ngerasain bahwa motherhood itu jauh dari sweet-sweet doang ya, boookkk… Gustiii… Capeeeek! Hahahaha. Mengutip Cepe, ada hari dimana saya sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang sayang banget sama Raya. Ada hari dimana saya 'sayang' doang. Hhhhh.
 
Tapi setiap berkilas balik, saya masih kagum atas perasaan-perasaan yang bisa diciptakan oleh Raya buat saya. Ada cinta yang unik, ada sedih yang unik, dan tentu saja capek yang unik. Motherhood is a blessing every women should experience, indeed.
 

35 comments:

  1. Selamat ulang tahun Raya, semoga jadi anak yang sholeh dan selalu menyejukkan hati orang tuamu ya.

    Lei, kamu ibu yang hebat dan luar biasa :)

    ReplyDelete
  2. oemji.. terhura bacanya!

    very very very well-written dan sangat-sangat persis semuanya seperti yang saya alami..

    makin ngepen ihhh.. :))

    ReplyDelete
  3. sampe kelupaan!

    happy belated birthday Raya..
    panjang umur, sehat selalu, dan selalu menjadi kebanggaan orang tua ya.. :)

    ReplyDelete
  4. Hbd rayaaa ganteng, smuga smakin sehat, makin ganteng, makin pinter dan jd anak sholeh ya ganteng,,


    ketawaaa ngakak pas blg bulu lebat bgt kek monyet :))))

    ReplyDelete
  5. Happy birthday again, Rayaa..

    Happy anniversary 1 year of parenthood juga ya, La & Mr T =)

    kutip yang ini :I knew labor pains would hurt, but I’ve always thought I’m moderately brave and can handle pain well
    Eyalaaah.. sama yo. gue juga jumawa bener karena di keluarga, gue yang tahan nahan sakit. Ternyata oh kontraksiiiii

    ReplyDelete
  6. mata ngembeng baca ini...
    lei...you described the feeling like exactly it is about being a mother.
    Gw juga respon pertama kali pas liat anak gw lahir "buset gondrong amat hahaa...secara rambutnya tebel bener"

    Happy birthday Raya ganteng, sehat selalu ya nak *kecups

    ReplyDelete
  7. mba Lei, itu kenapa dokter anestesinya udah kawin??? #yakali

    eniwei, selamat setahun Raya, semoga sehat selalu dan jadi kebanggaan orang tuanya :')

    ReplyDelete
  8. happy birthday rayaaa!!
    absolutely, you have great mom..*acunginjempol*

    :))

    ReplyDelete
  9. Bagus banget lei tulisannya :)
    Terharu perjuangannya luar biasa :)

    Selamat ulang tahun Raya...sehat terus yaa ganteeeng *kiss*

    ReplyDelete
  10. Cerita sesarnya bikin i feel related to you Lei, insyaAllah jannah balasan bagi setiap Ibu yaa :)
    Happy belated b'day Jagad Raya, semoga qurrota a'yun yaa boy!

    ReplyDelete
  11. Selamat ulang tahun Rayaaaa. I will always adore that name, termasuk nama lengkapnyah yang keren.
    Kisah lahiran Raya lumayan bikin hati agak kebat-kebit deh, soalnya gw juga suka jumawa begituh.
    Anyhow, I love the way you write about motherhood. Manusiawi banget, nggak selalu manismanis permen, karena gw yakin jadi ibu itu pasti berat banget yah. Ahahaha

    ReplyDelete
  12. Leiii...gw samar2 inget twit2 lo pas menjelang lahiran,tapi gak nyangka bgt prosesnya segitu panjang&menyakitkan...gilaaa gw cuma ngerasain sakit semaleman aja udah teriak2 minta sesar&krn obgyn kita sama jadi gw mbayangin pas dia bilang cepetan itu brarti lo udah kaya apa...luar biasa lah, InsyAllah ganjarannya juga luar biasa ya lei..

    Anyway happy birthday Raya, semoga jadi anak selalu membahagiakan&membanggakan keluarga dunia akhirat yaa...

    ReplyDelete
  13. Awww... selamat ulang tahun, Raya; selamat satu tahun jadi ibu, Lailaaa! Sehat-sehat dan bahagia selalu! :)

    ReplyDelete
  14. mirip banget prasaannya sm aq waktu mendadak hr sesar,tp aq g pke sakit2 kontraksi,tau2 bukaan 2 dan ketuban bocor X_X
    rasanya pgn kabur dr RS wkt dokter memutuskan sesar jam 7 mlm itu,pdhl itu sdh jam 3,dan hrs lgsg puasa hiks!
    tp ya ALhamdulillah smua sehat..
    slamat ultah raya !!

    ReplyDelete
  15. Laaaaaaaaaaaaaa.... teganya bikin gw berderaiderai di kantor. Huhuhuhu...

    Selamat ulang tahun Raya, semoga selalu dalam lindungan Tuhan dan dikelilingi orangorang yang menyayangi kamu :)

    ReplyDelete
  16. Terimakasih semuaaa!!! Makasih yaa atas ucapan selamat ulang taun dan doa-doa baiknya untuk Raya :)) Aamiin aamiin ya robbal alamiin. PS. I'm not a great mom aaah masih jauh hihi *tutup muka kabur malu*

    ReplyDelete
  17. selamat ulang tahun raya. rasanya baru kemaren liat-liat foto kelahiran raya di blog mbak leila. tiba2 anaknya udah setahun aja. semoga raya selalu diberkahi Allah. aamiin

    ReplyDelete
  18. air ketuban mu keruh juga ya mbak? sama dokter dibilang gak mirip sama jus sirsak keruhnya? aku pun ngelahirin binar terpaksa sesar karena di ctg detak jantung bayi nya dibawah normal terus..

    dokter anestesinya keker macho gitu kan ya? lumayan pengalih perhatian deh dok.. baik hati juga lagi! hahahaha..

    syelamat ulang tahun rayaaa!

    ReplyDelete
  19. Mbak, tulisannya bagus sekali. Terharu bacanya. :)

    Selamat ulang tahun Raya. Selalu sehat dan bahagia ya. :)

    ReplyDelete
  20. Mbak Lei bisa tahan nyeri setara bukaan 6-7 selama beberapa malam? Waah...
    Selamat ulang tahun Raya, selamat ulang tahun juga buat Mamahnya Raya, ulang tahun jadi ibu :)

    ReplyDelete
  21. mbak leija boleh minta emailnya ngga? aku mau nanya kenapa dulu akhirnya cincin nikahnya pake emas... mau tau alasannya siapa tau udah nanya sama ulama gitu...kenalan di email yah mbak..dianputeri25@gmail.com

    ReplyDelete
  22. All: Thank youuu makasih ya semua!

    Sari: Ketubanku nggak kayak sirsak sih Sar, katanya sih kuniiing... Hahaha iya, nostalgia ya inget si dokter anastesi keker! Pengen dibopong dooong zzzzz


    Anon: Wah jujur aku kok skrg lupa ya alasannya! Pokoknya ada deh alasannya, tapi kalo bener mau tau menurut syariah Islam, mending tanya ke ulama beneran deh. Kalo sama aku takut menyesatkan :D

    ReplyDelete
  23. La... abis baca ini... kok gue ngerasa gampil banget pas ngelahirin Abby. Ngos2an gue baca cerita elu, soalnya masih inget sakitnya kontraksi kayak apa. Gue rasa Tuhan itu emang amazing abis. Dia tau elu kuatnya jauhhhh di atas gue. Jadi dulu gue dari mulai kontraksi sampe lahir cuma 3.5 jam doang, sementara elu 4.5 hari. Mungkin kalo nanti elu anak kedua, bisa ikutin tips gue: Makan makanan Indian Buffet, dan ditutup dengan KFC *eh jangan ditiru deh*

    Raya, happy birthday ya. Kamu itu cetakan ibu-mu banget so far (mukanya). Semoga jadi anak yang sehat, kuat, pinter, tangguh, dan beriman. Kayak ibu bapakmu.

    ReplyDelete
  24. Leija,
    heheheh g jg ngalamin kontraksi tanpa bukaan 10 hari, keluar masuk rs 3 kali, ended up sampe dah bukaan 10 eh malah baby posisi terbalik, ended up emergency c section.
    Sampe pas c section I passed out kecapean ( gimana kaga, I barely slept for 10 days) hahahaha

    ReplyDelete
  25. aaawwww happy birthday Rayaaaaaa!!!

    telat deh ik -_-

    ReplyDelete
  26. Leony: Hahahahaha, makasih ya mak. Tapi gue mendingan dikasih kontraksi singkat deh, drpd di-tes-tes kekuatannya hahaha. Makasih ya Mama Leony! Next time makan buffet India deh (duileee, hamil lagi aja masih males...)

    Anon: Ya Allah Gustiii! Eh ini Diah ya? Tangguh amat kamuh!

    Snd: Awww, makasih Adis! Kadonya dong hihi

    ReplyDelete
  27. Tau bgt gimana rasanya....anak pertamaku jg gt, udah ngerasain sakit semlman...udah bukaan lengkap sampai dibantu dorong sm suster tp si jabang bayi ga kluar jg...dan hrs menyerah di kmr operasi...dibawa ke kmr operasi dg derai air mata bnr deh, nyeseeeeel bgt tinggal sedkt lg perjuangan tp akhirnya gagal jg n dsog nya br tau kl aq ada kelainan tulang panggul yg bikin si baby ga bisa melewati jln lahir dg mulus.. :(
    Salam kenal...n happy bday raya *telat deh ky nya* happy ied mubarak.... :)

    ReplyDelete
  28. Sama ih mba....pas puasa juga...lahir csect gara2 kontraksi ud di luar ambang batas kesanggupan pasien, suster dan yg nungguin tapi g ad pembukaan.
    yg beda soal obrolan dokternya...,pas itu mereka ngobrolin harga mete...maklum mau lebaran hehehe...

    ReplyDelete
  29. berkali-kali liat video Raya ini selalu nangis.. :')

    selamat ulang tahun Raya ganteng..

    anyway, salam kenal mba Lei :D

    ReplyDelete
  30. Hehehe... Ternyata teori kontraksi 5 menit konstan selama 2 jam udah mulai bukaan gak selalu benar yaaa.. Aq pun mengalami hal yang mirip2.
    Kamis siang flek & kontraksi palsu, semaleman kontraksi acak2an, jumat siang balik ke RS karena pas mandi berasa ada yg dorong2 down there. Cek CTG msh blm beraturan kontraksinya, pas cek dalem dah bukaan 4 aja dunk. Untung gak mbrojol di rumah.. *elapjidat*
    Tapi in the end aq jg SC mendadak di tengah malem buta.. udah bukaan 10 & ngeden sejam anaknya gak bisa kluar karena kegedean & kontraksi aq katanya kurang bagus(situ gak ngerasain bisa bilang begini)and sepertinya dokter anestesi qt sama Lei, Christian sumthing namanya orang menado :D Cakep abis emang, tapi sayang cuma merhatiin bentar, keburu teler selama operasi tidur dengan suksesnya kecapekan nahan sakit kontraksi, and yes EPI bikin hepi wanita melahirkan, biar dibilang bakal sakit pas disuntik tulang belakangnya.. teteub masih sakitan kontraksi dibawah sana... *fiuuhh*
    Pas liat babyku koq komentarnya mirip yaaakk... Pas IMD bukannya kata2 romantis yg keluar aq malah bilang "iiiiihhh bulunya banyaaaakk kayak bapaknya" wkwkwkwk... Tapi teteub it's unforgettable moment to see my own flesh & blood has arrived.

    *maaf nyampah banyak.. salam kenal lei*

    ReplyDelete
  31. *lap air mata dulu* huhuhuhuhu
    perasaan setelah ada di dunia motherhood itu emang unik. Ga ada yg ngalahin deh.

    Happy birthday dear Raya, may Allah always protect you and your family. aminnn :)

    ReplyDelete
  32. Met ulang tahun Raya, sehat terus yaa...! luar biasa sekali ceritanya lei, setelah setahun baru buka2an nih :)

    ReplyDelete
  33. leija,
    ini anon yg bukan diah hahaha
    berkesan yha ngelahirin
    unforgettable pas buka mata abis c section, laki g bercucuran air mata sambil ngelus2 g hahahaha
    pas anak kedua, secara dah tau yg pertama itu slowww labour, dah masuk ruang bersalin, berasa keganggu denger kanan kiri kesakitan, g dong sok kabur keluar makan bakwan dulu seberang rs. Merasa masih ngga ada kemajuan, ijin pulang ( dokter g pengertian), ngemall dulu, makan2, make sure my husband bisa tidur bentar, make sure anak pertama g dah pulessss, baru deh pas kontraksi dah ngga nahan tiap 5 menit, jm 4 pagi bangunin suami minta dianter ke rs lg. Syukurnya sukses normal!!! Walaupun I really hate dokter biusnya, ngasih g obat salah itungan, so pas musti ngepush, the drug wore off, wahahahahaha, toppp deh dah kecapean, kesakitan, cuman mikir musti ngeluarin anak, pushhhh!!!!! Sumpah, priceless, gitu anak ditaro di dada g, sakit? apa itu sakit??? Ngga setengah jam ama suami dah makan ayam goreng, makanan rs kita bagi 2 hihihihi

    ReplyDelete