Aug 23, 2013

Buku-Buku Raya, part 2

Walt Disney's Classic Storybook

Iye, iyeeee, gue anaknya emang curang banget, dah. Katanya nggak suka buku anak dari franchise besar, tapi malah menggadang-gadang buku Disney. Mentang-mentang emaknya suka Disney! Ihhh, boleh dooong, anak anak guah, hihihi...

Jadi bukan rahasia, ya, kalo gue suka Disney. BANGET. Dan gue berniat menurunkan kesukaan gue ini ke Raya, dengan sepenuh hati.

As you know, Disney kaya dengan kisah-kisah untuk anak kecil. Mulai dari dongeng putri-putrian sampe The Lion King, komplit ada semua. PR gue adalah mencari buku yang bisa mengemas kisah-kisah tersebut dengan baik - teksnya enak dibaca, ilustrasinya juga ciamik.

Walt Disney's Classic Storybook ini cukup memenuhi syarat-syarat tersebut. Buku ini merupakan buku kumpulan cerita yang merangkum 17 kisah dari film-film animasi Disney klasik, keluaran tahun 1930an sampai 1970an, seperti Cinderella, Mary Poppins, Dumbo dan Pinocchio.


Alhamdulillah, teksnya cukup ringkas dan enak dibaca. Padahal kisah-kisah adaptasi Disney 'kan panjang-panjang ya, bok, karena cerita aslinya memang poanjang (misal, Alice in Wonderland) lalu diadaptasi jadi film animasi berdurasi sejam, pula. Sebenernya kurang cocok dijadikan teks buku anak yang (seharusnya) singkat. 

Tapi Walt Disney's Classic Storybook ini cukup pandai meringkasnya, kok. Contoh, cerita Mary Poppins 'kan aslinya poanjang banget, tapi buku ini cuma nyomot satu scene dari sekian banyak adegan dalam kisah Mary Poppins. Jadi nggak semuanya diceritain, gitu.

Ilustrasinya juga bagus dan vintage, ala tahun 1950-60an.


Gue juga suka dengan fakta bahwa buku ini adalah kumpulan 17 cerita Disney. Beli satu buku, langsung dapet banyak cerita, bow. Praktis! Hehehe.

Naaah... tapi sewaktu gue pertama kali hendak membacakan buku ini ke Raya, gue bingung mau baca cerita yang mana. 

Idealnya, gue mau bacain cerita yang paling pendek, karena Raya 'kan belom tahan dibacain cerita panjang. TAPI TRUS GUE RIBED SENDIRI, DAH! Soalnya jadi kudu meneliti jumlah halamannya satu-satu, nyari cerita yang paling pendek. Zzzzz. Mana kemampuan berhitung gue jongkok pulaaa...

Akhirnya, gue buka aja Daftar Isi buku ini, trus suruh Raya tunjuk random ke salah satu judul yang ada disitu. Lalu jari kecilnya menunjuk ke... Dumbo!

It was a good and bad choice at the same time. Good-nya, ternyata Dumbo adalah salah satu cerita terpendek di buku ini. Feeling kamu hebat, Raya!

Bad-nya, gue jadi inget, betapa depresifnya kisah Dumbo. Asli, adegan Mufasa mokat di The Lion King aja kalah, deh, kayaknya. Utamanya karena sepanjang cerita, Dumbo adalah korban bully. Kesyel! T___T

All in all, this is a good book. Disney mengeluarkan banyak versi untuk buku kumpulan cerita ini. Ada yang khusus memuat cerita princesses. Ada yang khusus memuat cerita-cerita adventure, seperti Tarzan dan Hercules. Gue pribadi spesifik milih Classic Storybook ini, karena cerita-ceritanya yang klasik. Gue pengen Raya kenalan ama Disney dengan timeline yang sama seperti gue waktu kecil - mulai dari yang paling jadul, the ones that started Disney's animation empire.

Susah ya, punya mak idealis Disney garis keras... ehehehe...

Duck and Cover

Tersebutlah sebuah buku seri anak-anak, yang menampilkan tokoh utama Max the Duck. Buku Max yang pertama berjudul Duck at the Door, terbit pada tahun 2007. Karena sukses, diterbitkanlah buku Max yang kedua, berjudul Duck Soup, pada tahun 2008. Tahun berikutnya, muncul lagi buku seri Max yang ketiga, berjudul Duck and Cover. 

Ujug-ujugnya, setiap tahun, sang pengarang - Jackie Urbanovic - mengeluarkan buku Max the Duck, yang bercerita tentang pengalaman-pengalaman si bebek jenaka.


Sebelumnya, gue nggak pernah tau tentang seri Max si bebek, ini. Bahkan, Duck and Cover adalah buku Max pertama yang gue beli buat Raya. Jujur, gue asal comot aja di toko, soalnya lagi diskon, tapi ternyata bagus dan kocak!

Tokoh utama seri ini - as mentioned - adalah seekor bebek bernama Max. Ia hidup sebagai 'hewan peliharaan' seorang perempuan pencinta binatang bernama Irene. Irene ini penyayang binatang, sehingga rumahnya penuh oleh hewan-hewan perliharannya.

Nah, di buku Duck and Cover, ceritanya gini: 

Suatu hari, pintu rumah Irene digedor. Siapakah gerangan? Oh, ternyata Harold si buaya yang kabur dari kebun binatang! Harold sedang panik nyari tempat persembunyian, karena lagi dikejar-kejar oleh detektif bonbin. Kenapa dikejar? Katanya, sih, suatu hari Harold ini kelaperan dan 'meliar'. Ia pun mencaplok anjing peliharaan seorang anak kecil!

Awalnya Irene ragu. Ngeri ya boook, nampung buaya segede gitu di rumah. Tapi Max jatoh iba, dan meminta Irene menolong Harold bersembunyi. Maka dimulailah petualangan persembunyian Harold di rumah Irene, dengan segala keseruannya, mulai dari bingung nyari tempat persembunyian saban si detektif dateng (bodi buaya 'kan gede banget, ya), ngabisin makanan mulu, sampe bikin keder hewan-hewan peliharaan Irene yang lain.

Pada akhirnya, ternyata 'kesalahan' Harold hanyalah kesalahpahaman. Kata sang detektif bonbin, "Harold didn't eat the girl's dog. It was the girl's hot dog!" Ahahaha...

Dan Harold yang (sebenernya) baik hati pun diminta pulang ke bonbin. The end. Happy ending. Kocak, yah!

Sebenernya, gue (dan Raya) nggak terlalu terpesona sama Duck and Cover, apalagi gue nggak punya buku-bukunya Max yang lain, jadi kurang paham dengan latar belakang karakter Max. Tapiii, I appreciate the book's sense of humor. Guyon Amerika banget, lah, dan sebagai penggemar guyon Amerika, gue nggak keberatan kalo Raya kenal humor model beginian dari kecil.

The Giving Tree

OK, gue mau curang. Sebenernya gue belum punya buku The Giving Tree karya Shel Silverstein ini, tapi gue pernah baca sebelumnya, dan gue sangaaaat jatuh cinta kepadanya.

Latar belakang dulu, ya.

Gue punya sahabat cowok, dan kita temenan sejak SMA. Sebut aja namanya A. He's pretty much artsy fartsy, and probably one of the most creative guy I know, termasuk dalam ngasih kado untuk pacar (-pacarnya). Sejak jaman kita kuliah, dese nggak pernah ngasih bunga, kue, boneka, baju, tas, dan aneka benda muluk lainnya untuk pacarnya. Barang pemberian A selalu unik dan/atau handmade dan/atau personal.

Salah satu barang pemberian A kepada pacarnya (dulu) adalah buku anak-anak karya Shel Silverstein, yang berjudul The Missing Piece.

Shel Silverstein adalah seorang penulis puisi, pengarang buku anak-anak, singer-songwriter, kartunis, dan penulis naskah dari Amerika. Di seluruh dunia, bukunya udah terjual sekitar 20 juta kopi, dalam 30 bahasa.

Pertama kali gue kenalan dengan Silverstein, ya, dari buku The Missing Piece yang dikasih ke A ke pacarnya itu.

 This is how the story goes:



As Anne Roiphe explained in The New York Times Book Review: "This fable can also be interpreted to mean that no one should try to find all the answers, no one should hope to fill all the holes in themselves, achieve total transcendental harmony or psychic order because a person without a search, loose ends, internal conflicts and external goals becomes too smooth to enjoy or know what's going on. Too much satisfaction blocks exchange with the outside."

Makjaaan... Dari buku itu aja gue langsung jatciiiin sejatcin-jatcinnya sama Silverstein. Dan setelah gue mendalami Silverstein lebih lanjut, bagi gue, karya-karya beliau adalah puisi-puisi penuh alusi dan metafora subtle tapi jenius. Jauh lebih 'dalem' daripada sekedar 'cerita anak-anak'. He's brilliant.

Dari semua cerita anak karya Shel Silverstein, gue harus menobatkan The Giving Tree sebagai favorit gue.  

 
Here's how the story goes:


Versi. gif!


Katanya, pesan utama dari The Giving Tree adalah the joy of giving. Tapi bagi gue, jelas bahwa sang 'pohon' adalah metafora untuk 'ibu'. Ibu yang nggak pernah berhenti memberi kepada anaknya, sampai akhir hayatnya, tanpa pernah harap kembali.

May-whaaack T___T

Gue dulu cuma numpang baca di toko buku, tapi sumpah gue waktu itu adalah, HARUS beliin buku ini untuk anak gue kelak. And now is the time

Semoga suka ya, Raya :)


***

Koleksi buku Raya sebenernya lumayan banyak, tapi yang gue ulas di postingan ini dan sebelumnya hanyalah yang paling berkesan. Bukan hanya berkesan bagusnya, tapi juga berkesan jeleknya *bakar Thomas the Engine dan Toby the Truck*, plus satu buku yang sebenernya belum gue punya - The Giving Tree. Hihihihi.

Hope you enjoyed it!

PS. LOL

11 comments:

  1. OMG The Giving tree itu one of my fav stories ever selera kita ternyata sama le oh iya ada satu lagi pengarang fav aku waktu kecil HC Anderson buku-bukunya banyak dibeliin sama ibu tapi sayang waktu aku nginep ke rumah nenek dan saking sayanya ga mau pisah sama koleksi buku aku angkut juga ke sana eh pas dijemput ayah pulang waktu itu udah malam aku udah tidur jadi ketinggalan deh buku-bukunya ga dibawa ayah pulang ke rumah trs pas balik lagi ke rumah nenek bukunya pada ilang huhuhuhuhu sampe sekarang kan keselnya aku sama diri sendiri kenapa juga harus bawa-bawa buku itu keluar rumah di sekitaran rumah nenek banyak anak kecil dan emang sih masih keluarga juga jd pada minjem dan ga balikin lagi nyeseell

    ReplyDelete
  2. Mba Lei,

    Keren banget ceritanya si shel silverstein. Missing piece itu perjalanan hidup banget..

    ReplyDelete
  3. Aku ama Icha belum tahu the giving tree, di Gramedia ada jual ngga ya?

    ReplyDelete
  4. buku kumpulan disney itu kita punya 5! yang family, pixar, adventure, friendship, dan princess. bukannay gua hafal, tapi waktu itu gua fotoin buat IG. huahaha.

    tapi apa daya ya... kenapa kok anak2 gua gak demen ya? si andrew gak suka lho bacanya. malah demennya baca wimpy kids. haiyaaaa....

    si emma juga gak demen dibacain. cuma pernah berhasil dibacain cerita snow white doang. sisanya nihil.

    gak asik dah... :P

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Aku juga suka banget ituuu the giving tree. BAGOOOOSSSS!!!

    ReplyDelete
  7. gilak tapi Shel Silverstein jagoan sik.. favorit gue yang Who Wants a Cheap Rhinoceros? sama kumpulan ceritanya yang Where the Sidewalk Ends, ada ceritanya yang Ickle Me, Pickle Me, Tickle Me Too.. duh duh *cium tangan hormat ke pak Shel* jagoan ya diaaa :D

    ReplyDelete
  8. Dian Lingga: Yaaah, sayang amaaat! Buku-buku HC Anderson, Perrault, Grimm, Dickinson, dll tuh harta karun banget yah, walaupun sebenenrya super creepy dan sadis buat anak kecil muahahaa

    Hidayah: *beraaat*

    Ladyinthemirror: Nggak ada Mbaaak, adanya di Aksara atau Kinokuniya. Periplus dan Times pun jangan arep...

    Arman: Ih Man, gue suka buanget lho sama Wimpy Kids sejak edisi pertama hahahaha. Pas film-filmnya keluar aja, gue nontonnya ketawa-ketiwi. Rowley bloon berat!

    Raya juga belum tahan dibacain cerita yang panjang-panjang. Jadi kalo dibacain cerita yang agak panjang, gue bacanya ngebut, "Once upon a time therewasaprincessnameduaewyiudhakyew8349e9qwue..." :)))

    Fry: BAGOOOS YAAA!

    Marissa: Jagoan gilaaa! Jadi inget, ada satu edisi 30 Rock yang nyela dia gitu. Kata Alec Baldwin, "Remember, Shel Silverstein is a jew..." :D

    ReplyDelete
  9. Bagus2 yah La..itu mah buat gue aja duluuu..blom punya anaknya, calon emaknya aja duluan yg baca, hihihi.

    ReplyDelete
  10. Waaah.. *ctrl D, bookmark* satu tujuan mba Lei. Akupuun pemuja semua buku2 yg ditulis disini.. :D

    ReplyDelete
  11. Anto: Masya Allaaah, Mas Anto yang kesohor mampir kemari! Hahahaha. Alhamdulillah aku satu selera sama ilustrator kenamaan hehehe :D Thanks for dropping by ya.

    ReplyDelete