Jun 16, 2013

Travel Month - Flying with Kids

Hola!

Jumpa kembali dalam artikel ketiga di Travel Month ini! *lap bulir-bulir keringat*

Kali ini saya pengen mengangkat tema travelling with kids, tapi lebih spesifik—how to handle airplane trips with your kids.

Ini latar belakangya:

Saya menghargai travelling kemanapun. Plesir ke Bandung atau Bogor doang pun hepi, kok. Tapi jujur, target utama saya selalu jalan-jalan naik pesawat ke destinasi jauh. Namanya juga gantungkan cita-cita setinggi langit, ya, qaqaaa…

Ketika hamil, target ini tetap saya pertahankan. Saya selalu ngimpi menjadikan anak saya sebagai traveler baby—nggak rewel dibawa plesir, dan tangguh menghadapi sikon apapun. Naik kapal ke Lampung hayok, naik karpet terbang ke India kemon.

Pada kenyataannya, mimpi hanyalah mimpi. Raya terlahir sebagai bocah yang… hummm… huuuffttt… gimana yaaa…. mau dibilang nyusahin, kok, kayaknya kejem amat. Kita pake kata ‘super petakilan’ aja, ya? Sisi positifnya, Raya adalah anak yang alert, responsif, ekspresif, ambisius, dan punya curiosity tinggi. Sisi negatifnya, dese gampang tantrum, A SCREAMER (doyan teriak lebhuaaay sampe urat lehernya nonjol), susah fokus, dan sangat gampang bosenan.

In short, Raya is a walking disaster for long rides, terutama di pesawat. Anak  ini sangat nggak tahan terkungkung di ruang tertutup. Saya selalu serasa ditelanjangi, deh, tiap bawa Raya naik pesawat. Saking mokalnya T___T

Sehingga, as much as I love travelling with Raya, saya selalu keringet dingin sebelum boarding pesawat. Dan pada akhirnya, saya nggak berani mimpi bawa Raya terbang long-haul, seenggaknya sampe dia TK atau SD. Kalo flight yang cuma 2-3 jam aja boleh, deh. Lebih dari itu, daaah Rayaaa… Di rumah aja, ya, sama nenek!

Dengan demikian, saya jadi hobi ngorek tips bepergian dengan pesawat bareng bocah, demi persiapan plane ride berikut-berikutnya. Dan di postingan ini, saya akan berbagi tips-tips tersebut untuk pemirsa sekalian, utamanya bagi yang punya bayi / toddler dibawah usia 5 taun, dan mau terbang long-haul.

Oya, tips-tips ini dikumpulkan dari pengalaman pribadi, pengamatan terhadap traveler lain, bacaan dari internet, dan cerita temen-temen. Sebagian sudah pernah dipraktekkan langsung, sebagian belum but sounds like a good idea to me.

Tambahan lagi, saya nggak akan ngasih tips-tips standar (pack lightly, bawa tisu basah, dll, dst. Ibu-ibu disini pasti udah pada pinter, yaaa…), melainkan tips-tips yang—menurut saya—unik, terutama untuk tricky situations.

Semoga bermanfaat, yaaa... :)))

***

The tips will most likely be updated. Thank you!





Saat berkemas, jangan taro dokumen penting di diaper bag. Pisahkan di tas lain atau masukkan dalam folder plastik agar tidak rusak di perjalanan. Buat salinannya dan disimpan terpisah dengan dokumen asli. Lengkapi dengan bolpen. (Fina)

Kalo akan mendatangi tempat dingin tapi berangkat dari Indonesia yang hangat, siapkan satu tas kabin berisi baju hangat. Jadi, pas sampai di tujuan, kita bisa mengeluarkan baju hangat tersebut tanpa buka kopor besar. (Fina)

Tiba di bandara dan check-in (bukan check-in Path -__-") sedini mungkin. Ini vital! Selain untuk menghindari rasa senewen dan mengantisipasi hal-hal diluar dugaan, early check-in membuat kita lebih fleksibel memilih kursi.

Soal pemilihan kursi, ada beberapa perdebatan:

Ada yang suka duduk di baris terdepan, alias bulkhead seats.

Plus: 
  • Kita bisa dapet legroom yang lebih luas.
  • Umumnya, bassinet bayi diletakkan di tembok depan bulkhead seats ini. 
  • Nggak ada kursi di depan kita. Kita nggak akan tersiksa kalau penumpang depan me-recline kursi dengan lebay, DAN bocah nggak bisa nendangin kursi depan. Score!
Minus:
  • Semua tas / barang bawaan harus ditaro di overhead compartment, nggak bisa ditaro di lantai.
  • Armrest nggak bisa diangkat, sehingga anak nggak bisa tidur selonjoran.
  • Tray atau meja pesawat terletak di armrest. Keluarin – masukkinnya susah aje ya, maaak. Apalagi kalo harus sambil mangku bayi. Wassalam.

Ada yang suka duduk di kursi paling belakang.

Plus:
  • Dekat dengan lavatory (toilet) dan galley (dapur, tempat mangkal Flight Attendants, dll), sehingga mempermudah kita kalo perlu hilir mudik ke toilet atau minta bantuan.
  • Kalo anak teriak-teriak, Insya Allah nggak mengganggu seisi pesawat, cukup bagian belakang aja. Apalagi suara mesin pesawat di baris belakang biasanya lebih kenceng.
Minus:
  • Kursi kita nggak bisa recline dengan maksimal. Kepentok tembok.
  • Lebih rentan membuat anak mabok udara, karena goncangan di barisan belakang lebih kuat.

Ada juga yang suka duduk di kursi baris tengah. Alasannya, karena nggak semua lavatory pesawat punya changing table. Kadang, lavatory yang punya changing table cuma yang di tengah, sementara lavatory belakang nggak punya. Jadi, ya, enakan duduk di belakang supaya gampang mencapai dua jenis lavatory tersebut.

Apapun preferensi Anda, early check-in memudahkan kita mendapatkan kursi inceran.

(kalau ragu dan sangsi, cek konfigurasi dan ukuran kursi calon pesawat Anda sebelum berangkat di Seat Guru).

Satu hal yang bisa membantu keribetan di kabin pesawat: pasang seatback organizer di kursi depan kita. Jauh lebih praktis daripada harus ngubek diaper bag tiap butuh sesuatu, tho?


Ibu-ibu pasti udah sering denger tips satu ini: anak harus menelan / ngenyot saat takeoff / landing, agar kupingnya nggak budeg akibat perubahan tekanan udara dalam kabin. Terserah deh, mau nyusu, makan sesuatu, ngemut empeng, apapun.

Tapi apakah Anda tau, hal itu ternyata mitos? Beberapa kali Raya nangis karena nggak mood nyusu saat takeoff / landing. Ya udah, daripada ngamuk, saya nggak paksa. Surprise, surprise—his ears were fine. Hloh, kok bisa? Menurut Internet, takeoff / landing nggak selalu bikin kuping budeg. Titik paling rentan justru katanya saat pesawat mulai turun, yaitu sekitar 40 menit – 1 jam sebelum landing. Justru di momen ini, anak rentan sakit kuping.

Kalau anak nggak mau nyusu / ngenyot / makan, ya sudah, let it be. Seburuk-buruknya, bocah bakal nangis, dan nangis juga bisa ‘menyembuhkan’ budeg, lho.

Kadang anak ngalamin budeg yang amat kuat, sehingga penyembuhan tradisional (nelen / ngenyot / nguap) nggak mempan. Hal ini pernah terjadi pada adek saya ketika SD, saat dia terbang dalam keadaan flu. Adek saya sampe nangis histeris karena kupingnya sakit sekali.

Solusinya, minta beberapa lembar tisu dan gelas (gelas plastik standar pesawat nggak masalah). Basahi tisu dengan air panas / mendidih, peres sedikit, dan letakkan / tekan-tekan di dasar kedua gelas (di dalam gelas, ya, bukan di luar). Taro kedua gelas di masing-masing kuping kanan dan kiri. Tisu akan berperan sebagai ‘vakum’ sehingga tekanan di kuping akan ‘lepas’. Insya Allah ampuh mengatasi budeg yang membandel. Trik ini diajari dan dipraktekkan oleh pramugari yang nolong adek saya, dan ternyata memang banyak disarankan di Internet.

Walaupun ada peraturan tidak boleh bawa cairan ke dalam pesawat, biasanya kita diberi pengecualian kalau bawa anak. Jadi, nggak apa-apa, kok, bawa air panas / susu onboard. Tapi yang bawa formula, cukup bawa bubuknya aja. Kita bebas minta air panas ke Flight Attendant, kok.

Hidung bayi sering mampet di pesawat, mungkin karena udara dingin, ya. Sebaiknya kita sedia saline solution (obat tetes hidung) seperti Breathy Baby dan, kalo perlu, penyedot ingus.

Carseat or no carseat, nih? Bagi bayi yang terbiasa naik mobil pake carseat, bawa aja kali ya? Hal ini terutama berguna pada long-haul flight. Keuntungannya, kita nggak gempor mangku bayi sepanjang perjalanan, dan bayi menjadi lebih nyaman karena berada di carseat-nya sendiri yang terasa familiar. Kekurangannya, kita harus beli kursi / tiket harga penuh untuk si bayi dong, boook? Miskiiiin… Dan jangan lupa, biasanya carseat dihitung sebagai bagasi kabin juga. Harus dipertimbangkan jika maskapai kita membatasi jumlah bagasi kabin per orang.

Di mobil, infant carseat biasanya harus dipasang terbalik (rear-facing). TAPI masang carseat rear-facing di kursi pesawat, tuh, bisa bikin penumpang depan kita kesel, karena dia jadi nggak bisa nge-recline kursinya dengan penuh. Kepentok carseat anak kita, bok. Apa solusi? Ya udah, carseat dipasang biasa aja, nggak terbalik. Katanya ini nggak bahaya, kok. Di mobil, infant carseat harus dipasang terbalik karena bahaya mobil ngerem mendadak (gerakan maju-mundur). Di pesawat, bahaya yang utama bukan ngerem mendadak dong, yaaa (zzzz), melainkan turbulence (gerakan naik-turun). So, it is believed to be pretty safe. CMIIW.

Kalau kita memutuskan untuk bawa carseat dan mau beli kursi / tiket penuh, cek dengan maskapai. Kebanyakan maskapai nggak memperbolehkan kita beli kursi / tiket penuh untuk anak usia dibawah 2 tahun. Trus gimana, dong? Untuk penerbangan domestik, ya ngibul aja pas booking tiket. Bilang aja anak kita umur 2-3 tahun, dan kita mau beli kursi / tiket harga penuh.

Trik lain, kalau kita travelling bertiga—bapak, ibu, anak bayi—dan naik pesawat yang punya konfigurasi tiga kursi sederet, coba book kursi window dan aisle, tapi biarkan kursi tengah kosong. Hal ini bisa dilakukan, misalnya, saat beli tiket AirAsia. Coba book kursi HotSeat, tapi nggak dua kursi sebelah-sebelahan, melainkan kursi window dan aisle. Penumpang lain biasanya males, dong, duduk di tengah-tengah stranger. Maka kursi tersebut biasanya akan kosong. Horeeee! Bisa dipake duduk / carseat anak kita, tanpa harus bayar tiket penuh, muahahaha.

KALOPUN ternyata kursi tengah nggak kosong, coba bujuk si penumpang kursi tengah untuk tukeran. Middle seats are the worst, jadi biasanya orang pasti mau, kok, tukeran duduk di window atau aisle. Apalagi kalo liat kita bawa anak. So the worst scenario would be: anak batal dapet kursi (gratis) dan kembali dipangku, tapi bapak-ibu tetep bisa duduk sebelahan. It’s a win-win trick.

Bagi bayi yang terbiasa digendong, monggo bawa baby carrier kesayangan. Raya, nih, anak gendongan bangeeeuut. Di stroller betah 5 menit, di gendongan betah 3 jam. Ketika bayi mulai rewel, baby carrier berguna buat gendong-gendong anak hilir-mudik kabin.

Sebelum boarding pesawat sama toddler (apalagi kalau mau terbang long-haul), banyak yang menyarankan agar anak dibikin capek secapek-capeknya, supaya di pesawat gampang tidur. Suruh lari-lari. Main di playground bandara. Skotjam keliling terminal. Terserah, deh. Kesian, lho, kalo anak dilarang lari-lari di bandara, dan malah disuruh duduk diem. Lah, wong dia bakal dikekep di pesawat berjam-jam! Selagi masih di darat, suruh anak beraktivitas fisik sebanyak-banyaknya.

Kalo anaknya nggak mau, “paksa” aja! :D

Sebagai contoh, ada seorang bapak yang ngajak anaknya main “One Sip” (Satu Teguk). Jadi, selama mereka nunggu boarding di bandara (internasional), si bapak ngajak anaknya minum satu teguk air dari setiap water fountain yang tersedia di bandara. Tujuannya supaya si anak jalan kaki sejauh mungkin, dan akhirnya capek.

HOWEVER, anak tuh berbeda-beda. Ada anak yang kalo abis lari-lari, malah jadi overstimulated dan hyper banget. Ada juga anak yang kalo capek, jadi cranky nggak ketulungan, nggak bisa langsung tidur *lirik Raya*. Alhasil, pas boarding, malah bikin kericuhan di pesawat. Anak-anak model begini mungkin nggak bisa terlalu digeber fisiknya di bandara. Let it flow aja. Kayaknya yang ideal, sih, bocah bisa guling-guling dulu di bandara, tapi setengah jam sebelum boarding, anak mulai ‘pendinginan’ supaya nggak hyper di pesawat.

Selain beraktivitas fisik, cara lain untuk bikin anak ngantuk adalah kasih banyak makan. Utamakan makanan yang berprotein (karena konon ini bikin ngantuk), and NO SUGAR! Kalo anak kena sugar rush, trus jadi hyper di kabin pesawat, matek deh!

Ketika tiba waktunya boarding, kita boarding belakangan aja. Biarkan anak bebas di bandara sampe titik darah penghabisan. Kalo boarding duluan, anak malah harus terperangkap di kursi pesawat duluan.

Naaah, tapi ada yang lebih suka boarding duluan. Soalnya, kalo belakangan, kita biasanya keabisan tempat untuk naro barang di overhead compartment. Solusinya, biarkan si bapak masuk duluan untuk masukkin barang di overhead compartment, beberes, pasang carseat, dsb. Lalu ibu dan anak boarding belakangan.

Pengecualian kalo kita terbang sendiri bareng anak (maksudnya, nggak bareng adult lain). Kita wajib boarding duluan, karena kalo ada masalah di kabin—misal, perlu tuker kursi, atau ribet taro carseat—bisa diatasi dengan segera.

Ada lagi, nih, masalah klasik—anak nendang-nendang kursi di depannya. Bok, walaupun saya sendiri punya anak, saya paham banget kekinya kalo kursi ditendangin bocah.

Sejauh yang saya baca, ada beberapa solusi, diantaranya:
  • Copot sepatu dan kaos kaki si anak. Sehinga kalau si anak nendang-nendang, dia akan langsung merasakan tonjolan besi / plastik kursi yang keras, dan bisa jadi segan nendang-nendang lagi. 
  • Kalau bisa, atur sedemikian rupa sehingga salah satu anggota keluarga (misal, bapaknya) duduk di kursi depan si anak. Sehingga kalau si anak nendang-nendang, yang ditendang adalah kursi bapaknya, bukan kursi stranger. Kalo kursi bapaknya yang ditendang-tendang, ya udahlah yaaa, santaaai… :)))) Ini adalah salah satu manfaat check-in awal. Siapa tau bisa request kursi konfigurasi begini, ‘kan? 
  • Pesan kursi di bulkhead seats, dimana nggak ada kursi di depan kita.
  • Nendang-nendang kursi sebenernya adalah manifestasi rasa bosen / restlessness anak. Ya udah, jangan sampe anaknya boseun, ya... *lap keringet*

Apa hiburan yang efektif untuk anak? Pertanyaan ini lebih cocok dijawab ortu anak masing-masing, karena pribadi tiap anak ‘kan berbeza. Saya nggak bisa mendikte, mainan apa yang tokcer untuk tiap anak. Masing-masing ortu assess sendiri aja, yaaa.

Namun, ada beberapa saran yang mungkin membantu:
  • Bawa mainan yang nggak perlu pasang batre, nggak berisik, nggak perlu dibongkarpasang ke beberapa pieces, nggak lengket, nggak bisa tumpah. Misal, buku stiker, buku mewarnai, gadgets, paham lah yaa… 
  • Kalo memutuskan bawa beberapa mainan, it’s a good idea kalo mainannya komplementer. Misalnya, kalo bocah bawa mobil-mobilan, mungkin cocok juga kalo bawa orang-orangan polisi. Jadi si bocah bisa ngayal bikin set-up jalan raya.
  • Beli beberapa mainan baru. Nggak usah mahal, cukup mainan kecil-kecil murmer made in Asemka. Sembunyikan mainan-mainan baru ini, sampai tiba di pesawat. Kalau anak ngamuk, ta-daaa! Ibu punya mainan baru, lho! Anak pasti diem. Keluarkan mainan baru ini satu per satu, jangan dikeluarin sekaligus, supaya anak senantiasa excited dan nggak langsung bosen.

Kalau anak punya benda yang amat, sangat esensial baginya, coba bawa duplikatnya. Misalnya, kalo anak kita punya empeng tercinta, pertimbangkan untuk beli barang yang sama persis sebelum kita berangkat. Soalnya, anak tuh rentan banget ngilangin barang, apalagi kalo barangnya kecil. Jatoh lah, nyelip lah. Gawat banget kalo barang tersebut ilang, trus bocah ngamuk di pesawat.

Apakah meng-upgrade kursi adalah kunci kenyamanan? Katanya, sih, enggak juga. 

Biasanya, orang-orang yang duduk di Business / First Class sengaja beli kursi mahal supaya terhindar dari jeritan anak-anak kecil di kelas Ekonomi. Apalagi mereka biasanya businessman penting, yang perlu tidur cukup / kerja di pesawat. Kalo tau-tau malah dihadang anak kecil juga, kebayang, dong, betenya mereka :) Bukan berarti anak kita nggak berhak duduk di Business Class, cuma saja, tetep ada resikonya. 

Saya pribadi, sekarang ini, mungkin nggak mau duduk di Business Class (SIAPE JUGA YANG NAWARIN?), karena kecenderungan tantrum Raya di pesawat. Kecuali kalo anaknya udah bisa kalem, capcuuuus, nggelinding deh kita ke First Class. Bayar pake kecupan ke Pak Pilot.

Salah satu momok bagi orangtua yang terbang dengan anaknya (yang rewel) adalah tatapan benci dari penumpang lain. Kebencian ini sebenernya sangat dimaklumi. Siapa, sih, yang betah terperangkap di pesawat bareng screaming kids? Udah bayar tiket pesawat mahal-mahal, kudu tersiksa pula! Saya aja sebel banget.

Namun, sebagai orangtua dari seorang bocah yang juga gemar tantrum, what can I do? Impian saya adalah, someday, ada maskapai yang menyediakan kabin khusus keluarga, sehingga bocah-bocah bebas nangis tanpa mengganggu penumpang yang menghendaki ketenangan.

Tapi sebenernya, kalo kata orang-orang niiih, nggak semua penumpang benci sama anak kecil teriak-teriak di pesawat. Katanya, mereka cuma pengen liat orangtuanya usaha. Percaya atau nggak, ada ortu yang diem aja sambil baca koran, sementara anaknya jejeritan di pesawat. Hal seperti itu yang bisa mengundang kebencian. Tapi kalo ortu usaha keras menenangkan anaknya, biasanya penumpang lain lebih maklum.

Selain berusaha menenangkan anak, salah satu usaha yang bisa kita lakukan adalah memberikan kompensasi. Mungkin udah pada pernah liat ini, ya:


Itu adalah semacam mini goodie bag yang dibagikan seorang orangtua kepada para penumpang sepesawatnya, karena si ortu sudah mengantisipasi, anak-anaknya bakal jejeritan sepanjang jalan. 

Saya juga pernah baca, ada seorang ibu yang selalu bawa voucher Starbucks lima dolaran untuk dibagikan ke penumpang lain, setiap terbang bareng anaknya. Wooow...

Gestur-gestur ‘minta maaf’ seperti ini yang akan dihargai penumpang lain. Kita—sebagai ortu—sebenernya juga males amat, dah, bawa bocah terbang jauh-jauh. Tapi kalo terpaksa—misalnya, mudik Lebaran dari luar negeri—apa mau dikata?

Stay strong, parents! Di setiap penumpang yang memberikan kita tatapan kejam ketika si buyung histeris, ada penumpang lain yang berhati malaikat.

Suatu hari, saya terbang Singapore – Jakarta berduaan Raya aja. Raya histeris sejak takeoff. Penumpang disebelah saya—seorang mas-mas Chinese Singaporean—ngeliatin kami dengan jijik sepanjang takeoff. Dan ketika tanda pasang seatbelt dipadamkan, dese langsung cabut pindah kursi, tanpa babibu *jambak*

Di kesempatan lain, saya terbang lagi-lagi Singapore – Jakarta. Lagi-lagi Raya ngamuk. Gue duduk disebelah—sebut aja, ye—sutradara Teddy Soeriaatmadja. Dese bareng istrinya, Raihaanun, dan dua anak mereka. Tapi Mas Teddy duduk sebaris kami, pisah kursi dari keluarganya.

Sepanjang Raya ngamuk, nggak sekalipun Mas Teddy peduli. Dia baca koran dengan santai, didn’t shot us dirty or judgemental looks, bahkan bersedia megangin Raya sebentar disaat gue ribet sama barang-barang. Mas Teddy juga berinisiatif ngajak Raya becanda disaat si bocah lagi bete. He was such an angel *terhura*.

So don’t worry. We'll encounter many different kinds of people onboard :)

***

Semoga tips-tips tadi ada yang bermanfaat, yaaa… Saya nggak pernah kerja di maskapai, jadi mohon koreksinya kalau ada info yang salah :D 

Dan kalau mau baca-baca tips lebih lanjut, ini adalah salah satu sumber informasi terbagus yang pernah saya baca, ditulis oleh seorang pramugari veteran yang juga ibu dari tiga anak. Enjoy!

PS. Saya mau, dooong, minta tips dari ibu-ibu sekalian. Terutama yang anaknya cowok, dan punya kecenderungan tantrum T___T I've heard great tips from Fina, dan saya juga pengen buanget denger masukan dari Ibu Rika yang perkasa. Berkali-kali terbang Finlandia - Indonesia bareng dua bocah cowok tanpa suami, GUA MAH NANGIS DARAH, RIK! *tepuk tangan*

32 comments:

  1. Duuh ribetnya...Saya belom punya anak, tp bole ya sharing pengalaman Mama saya dulu...
    Srbagai mantan pramugari, dia tau banget ribetnya bawa anak kecil itu bisa dijutekin seisi pesawat termasuk pramugari2nya. Nah, setelah dese resign, merit dan punya anak 2; karma bites back! Papa ditugasin ke Jerman 3thn dan stlh 2 bln kita sekeluarga nyusul utk tinggal sana. Alhasil Mama harus terbang Jakarta-Jerman cuma bersama baby 3 bln dan toddler rese 3thn (that would be me).
    Solusinya? Da ke dokter anak minta obat tidur baby, supaya kita lbh byk ngantuknya dan bangun cuma pas stopover. Alhamdulillah, adek saya sampe gedenya ga apa2 :)

    ReplyDelete
  2. Aya: ribet pol! Nanti ngerasain, deh :D Pemakaian obat tidur untuk anak di pesawat masih common practice, sih, sampe sekarang. Tapi mungkin udah berkurang ya, dibanding jaman kita kecil.

    Aku pribadi sih nggak mraktekkin, tapi nggak mencekal juga :D Soalnya ada anak yg malah nggak cocok, jadi hyper, malah muntah2. Harus di tes dulu kali ya, sebelum berangkat.

    Yang paling penting, aku sama sekali nggak nyaranin nakar obat tidur sendiri. Harus sesuai anjuran dokter.

    ReplyDelete
  3. hello, ga tau laila udah pernah baca atau belum, but you can check a bit on this blog http://www.hitherandthither.net/2012/12/flying-with-a-baby-or-toddler.html
    dia travel long haul dari US ke bali sama toddlernya, and sepertinya pengalamannya baik2 saja..hahaha

    Pengalamanku long haul cuma pas anakku 1,5 bulan which is so easy karena ya umur segitu paling cuma nyusu and bobo aja kerjaan babynya. Klo ntar hrs travel sama anakku pas dia udah umur setahun keatas, terus terang agak jiper juga :-)))) btw thanks for the tips.

    ReplyDelete
  4. Adiest ninin: Hellooo! Thanks for the link yah ;) Kayaknya udh pernah baca deh, but I'll make sure.

    Iyaaa, different folks different strokes, yah. Banyak anak-anak yg bisa terbang tanpa masalah, but my kid isn't one of 'em T__T Makanya persiapannya kayak mau perang hihi.

    ReplyDelete
  5. Hi mba Lei..

    Biasa jd silent reader sekarang pgn komen hihi. Thx bgt tips2nya, kebetulan lebaran thn ini mau terbang long haul US-Jkt with a 13 mo old! (god help me!). Kebetulan lagi anakku percis cis sama Raya..petakilan tiada tara,huhu wish us luck!

    ReplyDelete
  6. BOOYAA!!! aku sayang sekali sama kamu deh leijah, banyak banget masukan dari posting ini. karna so far gue cuma bisa bikin mereka nyaman & terhibur (termasuk dengan ngumpetin mainan and then TADAAA).
    agak telat, karna 2 hari lalu kita baru selesai naik pesawat. alhamdulilah ngga tantrum gimana gimana, cuma rusuh pas makan. sama kinan nyanyi muluk sambil teriak *uhuk-salim sama penumpang*.
    the ear trick! oh yes bangettt! arka was obviously kesakitan banget kemaren, gue kasi permen, malah ketelen 2x, bahaya kan. *sigh*
    dan sampe hari ini, keputusan gue sama ama lo. sampe anak anak at least SD, no long haul flight. ndak sanggup akuh kalo musti terbang diatas 3 jam sama 2 balita. mikirinnya aja udah keringetan.
    thank youuu, love youuu!

    ReplyDelete
  7. Tips : terbangnya naik lufthansa! I think they have the best service for single parent traveling with kids. Aku slalu dikasih kursi kosong disamping, jadi ga perlu beli tiket sendiri buat anak di bwh 2 taon. Trus mereka punya susu formula jadi kita ga perlu repot bikin, tinggal minta. Plus masi banyak hal2 lain. I guess rika will testify similar things about lufthansa :)

    ReplyDelete
  8. Lei, pas Saif baru 8/9 bulan gitu gue ke Malorca kan. Sempet deg degan karna Malorca mirip dg Ibiza, party people gitu. Takut anak gue cranky sendiri diantara party goers hahaha.. Eh tnyata alhamdulillah bokkkk, sepesawat isinya anak bayi semuaa hahaha.. Dan untungnya anak gue ternyata bukan yg rese gitu. Gue sempet melirik penuh bangga ke orang lain yg anaknya sibuk jumpalitan / cranky di pesawat, secara bayi gue antara nguyah, nyusu or duduk santai :D :D

    Tantangan terbesar ntar nih pesawat 8 jam x 2 hahaha pulang ke Indo. Duh semoga gue gk karma karna lirikan pongah bin sombong kmaren :D :D

    ReplyDelete
  9. Long haul trip gw dari Oklahoma-jakarta dgn suami dan anak kecil 13 bulan. Perjalanan 30 jam ini diwarnai dgn anak kecil yg ga mau tidur di crib, dan tantrum di leg Singapur-Jakarta. Maklumlah, dengan perjalanan selama itu siapa juga yg ga cape?

    Buat bapak2 yg sibuk suruh kasih dot... sini deh bapak aja yg saya kasih dot biar anteng yah? yah?

    Karena suami balik duluan, deg2an juga tuh harus pulang berdua aja ama anak kecil. Tapi tak kusangka tak kuduga..tnyt dia malah super manis. Mau tidur di crib, membiarkan ibunya tidur tenang dan nonton film :P

    ReplyDelete
  10. Anon: I wish you the very best of luck! *genggam tangan penuh simpati*

    Mungkin dari sekarang anaknya coba latihan 'quiet activities'? Contohnya, Raya suka ngerangkak, guling-guling, tapi nggak terbiasa main gadget, nonton kartun, coret-coret, atau main mainan yang kecil-kecil. Kalo dia mau terbang long-haul, mungkin bakal aku 'latih' dulu supaya terbiasa main yang model begituan... Just a suggestion! :)

    Risti: Ahahahaha, masamaaa. Kamu perkasa banget gotong dua bocah ke pesawat! Kalo anak gue dua, mau gue FedEx aja sampe kota tujuan...

    Speaking of FedEx! Pernah baca tips untuk mengurangi barang bawaan di koper / bagasi: kalo bisa, barang anak-anak dikirim duluan aja ke hotel / kota tujuan kita. Misalnya, popok, toilettries, makanan kemasan. Kan menuh-menuhin koper pas berangkat, tuh. Di-TIKI duluan aja gituh... Di Amerika sih katanya ini common practice :)

    Di kolom komen ini bakal ada banyak tips-tips lain, Mimuuut, Insya Allah utamanya dari ibu-ibu yang beneran pernah long-haul (gue 'kan sekedar baca-baca hehehe). Yuk, Arka, Kinan, ajak ibu ke Eropah! XD

    Novi: LUFTHANSA! Noted. Aku beberapa kali naik Lufthansa, tapi nggak pernah merhatiin child-friendly service-nya, sih. Sip deh. Oya, bisakah di-info-kan, susu formula dari Lufthansa merk apa? Jadi bisa coba dulu di rumah. Thanks yaaa.

    Soal ngasih kursi kosong, katanya mayoritas airline besar suka gini ya, kecuali penumpangnya full capacity?

    Amy: ALHAMDULILLAAAH! Gak bisa su'udzon duluan ya, bokkk.

    Katanya, kita emang nggak boleh berasumsi bahwa "anak sering terbang / anak pernah kalem = anak akan SELALU kalem." NO WAY, JOSE. Hahahaha. Katanya pasti akan ada good days dan bad days, yang penting ortu selalu siaga yaaa *pasang iket kepala*

    Rifi: Aaaaaa jagoan!

    Iyaaa, seperti yang ditulis diatas, pasti akan ada good dan bad days. Anak nggak terjamin selalu kalem, nggak terjamin selalu rusuh juga... Doain (ibunya) Raya bisa berani terbang long-haul juga yaaa *siapin empeng buat om-om rese*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lufthansa susu formulanya aptamil, kalo di indonesia sama dg nutrilon royal

      Delete
  11. halohhhh!!!! mau ikut bagi2 pengalaman juga yaaaa hihihi as you know anak gw udah gw 'paksa' jadi traveling child semenjak usia 4 bulan --" ALHAMDULILLAH anak gw termasuk tipe yg anteng manis during short/long flight. umur setahun pun (as you know juga) udah gw boyong ke amerika.. hati sih sebenernya ketar-ketir gimana ini ya bocah selama long-flight. tapi alhamdulillah kejadian nangis heboh cuma terjadi sekali karena kuping dia sakit banget sodara-sodari. untungnya pas flight itu penumpangnya pada cuek pasang headphone and tidur semua *tabur konfeti* pas flight pulang, orang yg dibelakang gw modelnya yg gak seneng anak kecil trus senewenan melulu kalo diintip2 sm aidan dari depan hihi tnyata menurut stewardess bapak itu mengidap salah satu jenis autisme, jadi cuekin aja. dari berangkat senewen krn harus melakukan hal2 yg diluar rutinitas doi. sesudah itu, tiap di rumah gw selalu nginget2in aidan ttg pesawat.. jadi dia selalu merekayasa adegan2 pesawat. our flight trips sesudahnya was a breeze. kemanapun! begitu masuk pesawat, duduk (umur 2thn udah full ticket ya *miskiiin*) pasang seatbelt, trus manggil tante pramugari minta makanan/mainan dan anteeeeng selamat sampe tujuan --" paling suara ngocehnya aja yg agak kenceng sih hihihi.

    ReplyDelete
  12. oh iya ada satu tips superstitious yg selalu gw praktekin sih hehehe.. before you enter the plane, depan pintu masuknya lo elus2 badan pesawat trus tangan yg udah lo elus2 badan pesawat lo elus2in ke badan anak lo. hahaha. katanyaaaa biar bikin perjalanan aman, nyaman dan anak pun tenang :D

    ReplyDelete
  13. Lailaaa.....coba sini pelukan dulu. Anak2 gue pun tipenya kaya Raya, suka tantrum dan gak tahan dikekep berjam2. Gue udah sampe tahap banting2 komputer setiap kali baca blogpost dengan tema mirip2 tapi berakhir dengan "untunglah semua lancar2 saja dan baby X manis sekali selama di pesawat"

    Tentang Lufthansa, baru aja terbang Fin-Ind naik lufthansa, dan memang...servicenya WOW banget buat parents with kids. Dan bassinetnya besar, bisa utk anak dengan berat 14kg, jadi Sami yang hampir dua tahun itu masih bisa bobo di bassinet.

    Duduk di row depan begini plusnya leg roomnya lebih luas dan anak2 bisa main di lantai. Tapi, karena arm restnya ga bisa diangkat anak seusia Kai jadi gak bisa tidur berbaring, solusinya minta selimut banyak2 ke paramugari terus hamparkan di lantai dan suruh anaknya tidur disitu. Lega.

    Oh ya, untuk airlines lain, mereka gak seroyal Lufthansa yang ngasih kursi kosong buat bayi kita. Tapi coba aja minta pas check-in supaya si bayi dikasih kursi juga. Ini selalu gue praktekkan tiap check-in, kadang berhasil kadang gak.

    Terbang dengan dua bocah selain masalah tantrum ada lagi masalah berantem. Rebutan inilah, rebutan itu. Untuk Kai dan Sami gue harus siapin dua mainan yang persis sama biar msalah rebut2an ini bisa sedikit berkurang. Asli deh, mobil2an beda warna aja bisa jadi ajang berantem.

    Trus, tahun lalu gue telat sampai bandara, telat chek-in dan harus berpacu ke gate. Ternyata ini blessing in disguise karena gue jadi lebih tahan banting ngadepin anak2 di pesawat. Mau anak tantrum, berantem atau pup 4 kali gue tetap bersyukur gak ketinggalan pesawat.

    Err...gue berencana telat lagi nanti pas haarus pulang ke FIN. Itung2 mempersingkat waktu di bandara karena Kai dan Sami baru mau chek in aja udah pada heboh.

    What also works for me adalah membatin kalo segala kesulitan di pesawat ini cuma berlangsung satu hari (sekitar 23 jam perjalanan utk Helsinki-Jakarta). This is just ONE difficult day. Just ONE! I have been thru a lot with these kids. 40 hours of painful labour, sebulan puting lecet2 pas menyusui, setahun depresi karena kurang tidur. If can get thru those all, I can get thru this one hell of a day. Semangkaaaaaaa

    Dan sampai di FIN pukul2 suami sambil nangis "yang susah-susah begini kenapa aku terus yang ngalamiiiiin?"

    ReplyDelete
  14. THANK YOU KARAAA! The last tip is epic, dan sebagai orang Indonesia yang menghalalkan segala taktik superstitious, pasti akan gue coba praktekkan, hoahaha :)))

    Oya, 'latihan' naik pesawat itu cukup penting ya, apalagi kalo anak kita cederung nervous / agak penakut. Katanya, latihan melewati sekuriti (body scanner, x-ray, copot sepatu dll) juga penting yah? Apalagi di Amerika, duileeee sekuriti bandaranya super heboh!

    ReplyDelete
  15. Mb lei,,
    Bulan lalu aku abis travelling bw anakku 15mos jkt-hk-jkt..
    Lumayan lama jg sih sktr 5jam-an lbh klo ga salah, brgktnya aku emg sengaja milih midnight flight jd anakku anteng bobok sepanjang perjalanan..

    Tp wktu baliknya penerbangan jam 8 pagi dan di jam2 awal penerbangan anakku bobok tapiii setelahnya melek seger bgt deh.. anakku jg ga pernah aku kasi gadget jd dia jg ga terbiasa solusinya adalah aku ngajakin dia main2, nonton film kartun di flight entertainmentnya dan mendongeng sepanjang jalan sampe bibirku dowerr dan gongnya adalah dia pake acara poop lg di pswt dan bersihin+nyebokin di toilet pswt yg ukurannya sama dgn ukuran peti mati itu sesuatu bgt yaa.. Ahahaha..

    Wktu itu aku pp pake GA and all their staffs were so nice to us esp to my daughter.. Dan kita emg sengaja dikasi kursi plg dpn dgn salah satu kursi yg kosong dan it helped that much.. Jd ngerasa lbh legaaa aja klo salah 1 kursinya kosong.. :)

    ReplyDelete
  16. fiiuh..lap keringat bacanya...
    belum pernah bawa anak longflight sih. Selama ini cuma shortfligth 1-2 jam dan masih oke, agak pecicilan sih gak mau pake seat belt mau turun tapi gak pake nangis-nangis..

    thanks tipsnya yah lei

    ReplyDelete
  17. Rikaaaa, noted noted noted on Lufthansa! Dulu sempet apatis sama Lufthansa krn servicenya perasaan subpar aja. Tapi mau coba deh, kalo bawa anak. Kapan? Kapan-kapaaan...

    Soal sharing, ow yesss. Ibaratnya, kalo bawa 2 anak, mending bawa 2 pak kecil krayon daripada 1 pak besar. Rebutan warna aja bisa bak Perang Dunia ya? Kamu kok tangguh sih, Rikces?

    On late check-in, kalo gue kayaknya nggak bisa deh 😅😅😅 I'm too much of a nervous wreck bahkan tanpa anak, huhuhuhu.

    Thanks for the insight, yaaa 😘

    Ochie, hooo udah ke HK ya? Iya nih, rencananya, kalo Raya udah kaleman, his 1st "semi" long-haul would be HK or Japan. Durasinya masih tolerable lah yaaa. Seneng nggak ke Disneyland? Hehehe...

    Resna, masamaaa :)

    ReplyDelete
  18. senenggg bgt mb..
    tapi ya gt deh mb cuman bs naik wahana yg ga pake antri (panjang) biar ga cranky anaknya..tp anakku takut sama badut minnie mickey dan pooh jd pas sesi foto2 sm mereka mukanya mewek.. hihi :D

    ReplyDelete
  19. Gw kok baca ini degdegan dan pengen nangis terharu, La... Hebat deh ih..

    Kalo gw biasanya first flight La, jadi si anak tidur lagi, sampe tujuan masih banyak waktu. Pulangnya sesuaikan sama waktu tidur siang. Jadi pulang pergi molor diaaa.. HIhihi

    ReplyDelete
  20. hola epribodeh...kalo gw beda masalah, anaknya (15mos)ga ada masalah ama traveling..tapi si mamaknya..jadi sejak melahirkan diriku jadi takut terbang, entah kenapa :(:(:( apakah ada tips spy si mamak ini berani terbang lg?dan ga crangky selama di perjalanan? mikisih...

    ReplyDelete
  21. Kadang anak ngalamin budeg yang amat kuat, sehingga penyembuhan tradisional (nelen / ngenyot / nguap) nggak mempan. Hal ini pernah terjadi pada adek saya ketika SD, saat dia terbang dalam keadaan flu. Adek saya sampe nangis histeris karena kupingnya sakit sekali.

    ---------------

    ya ampun baru tau tips ini setelah sembuh. Diriku pernah mengalaminya. Bukan.. bukan saat naik pesawat.. tapi saat naik travel jakarta bandung berkecepatan tinggi saat sedang flu. Sakitnya memang ampun-ampun ya... ;"(

    terus imo orang yang sudah punya anak biasanya lebih toleran kalau ada anak yang tantrum. Ga menghakimi karena tau setiap anak beda-beda dan mereka anak kecil yang bertingkah sesuai umur mereka.

    Dulu pernah bawa Jendral Kancil saat bayi ke Jakarta sama mama. Dan mungkin karena emakku sudah lama ga liat bayi, saat si bayi merengek gw langsung dipelototin macam bikin dosa apa gituuu dan disuruh mendiamkannya karena takut ngeganggu orang lain. Padahal anakku manis, kalau ngerengek ya cuma ngek doang ga pakai teriak-teriak membahana. Dan saat gw susuin langsung dari gentongnya, dipelototin lagi.. ya masa itu emak-emak menganggap yang disusui langsung macam orang kampung, lebih gaya kalau pakai botol. Yo wes.. sejak itu malas jalan-jalan sama emak/ keluarga sendiri. Milih sama keluarga kecil ini aja.. Anak durhako.

    ReplyDelete
  22. semoga mbak lei bikin tips travelling with baby di darat alias pake mobil. butuh sangat contekan tipsnya supaya bisa nyaman sentosa sampe ke tujuan.

    ReplyDelete
  23. haha epic superstitious tip bgt ya! gw lupa dapet tips itu dari siapa, tapi that first long flight ke amerika sama aidan gw praktekin bgt --" anyway, soal 'latihan' ada penting nya jg sih hehe jadi si anak in a way knows what to expect jadi dia gak terlalu kaget kali yah. kalo aidan hobi bgt sih ngajakin ngayal2 pura2 ke airport trus naik pesawat --" ampe kursi2 di rumah disuruh susun kayak kursi pesawat trus dia minta makan di tray Zzzzz

    ReplyDelete
  24. Kasi obat tidur aja!


    True story, 1 year old me, JKT-LA-JKT

    ReplyDelete
  25. Endang: I'm sure it'd be super easier with sleeping drugs, masalahnya, nggak semua anak cocok / ampuh dikasih obat. Ada yang malah jadi hyper, atau alergi. Kalo itu terjadi, and we don't have backup plans, gawat 'kan. And many parents actually prefer not to drug their kids, apalagi untuk penerbangan diatas 10 jam.

    ReplyDelete
  26. Binar belum pernah terbang long haul.. tapi kalo macem 2 jam-an sering banget dari umur 2 bulan.. jakarte medan marii..

    tentang perbedaan tekanan udara memang pas sakit itu pas udah mo landing.. pernah kejadian ada "paduan suara tangisan bayi 4 bayi di pesawat.. Binar dan bebocahan lainnya.. *jadi dirigen padus* antara kocak sama gemeter at the same time! yang selalu aku lakuin sih untuk masalah telinga ini biasanya aku pakein earplug mbak.. yang ada tuh di maderker warmamya orange.. mayan lah ampuh..

    early check in atau city check in (1 hari sebelum hari H) selalu aku lakuin.. biar bisa milih mo duduk dimana..

    kalo ke japones kan biasanya penerbangan malem kan ya? GA lumayan oke juga kok mbak untuk long haul trip gini..

    ReplyDelete
  27. been there done that....

    berulang kali aku terbang bersama bayiku yg petakilan & doyan teriak2.

    intinya musti sedia stok sabar yg banyaaakkk, trus mikir positif terus kyk yg Rika bilang,ini cuma untuk sehari doang ko, hehehehe....

    dan harus punya cara untuk mendistraksi anaknya yg udah kebosenan duduk berjam2 di pswt,kyk camilan, maenan, kalo anaknya suka nonton film ato lagu2 gitu, donlot byk2 di gadget, pokoknya semua peralatan tempur harus siap sedia, hehehehe...

    penerbangan asia kyk MAS & SQ jg very recommended untuk terbang bawa bayi, mereka ramah2 & ngebantuin bgt ko. tp emirates ga recommend deh ya, bad experienced with them.

    ReplyDelete
  28. Hai, Lei... biasanya cuma jd pembaca pasif nih, dan sekarang pengen nyaranin 1 hal saja: sudah waktunya kamu dan Mr. T beli pesawat sendiri...! *kabur sebelum dilempar baling2* :D

    ReplyDelete
  29. waaaaaaah...postingan yang sangat bermanfaat sekalskiiii...*_*

    CTRL+D ah...
    trus izin share di fesbuk ya kakaaaak

    salam kenal dari sang silent reader mu ini *sungkem*

    ReplyDelete
  30. keren postingannya,,, anakku juga gini nih, kalau mau jalan-jalan, hahahaha... tp dia ga akan teriak2 kalau dia ga dilarang,,, hahaha..

    pesennya aja,, ajak nyanyi aja anaknya... anakku klo diajak nyanyi mau anteng n diem... atau dibacain buku yang banyak gambarnya... misal di pesawat ada macam majalah yaa.. dibacain aja ke dia kayak buku dongeng.. hehe

    ReplyDelete
  31. Makasih postinganya ngebantu banget, lagi bingung berangkat berdua k us nih hhe

    ReplyDelete