Apr 11, 2012

The So-Called Babymoon - Third Day, Sanur

Jump to Day 1, Day 2

Pagi tersantai selama di Bali! Nggak geradakan kayak dua hari sebelumnya. Mungkin karena udah hari ketiga ya, jadi udah pada loyo-loyo gimanaaa gitu. 

8.00

Baru bangkit dari kasur sekitar jam 7-8 pagi. Karena masih punya hasrat terpendam menjadi seorang yogi (wannabe), saya ngucap, “Yaaaa, telat deh kalo mau ngejar yoga pagi ini.” Maka dibalik punggung saya, T mendesis, “Yesss…” Kekep pake yoga mat nih ye!

Leyeh-leyeh, sarapan sambil ngobrol sama bule-bule, tidur-tiduran lagi, lalu akhirnya check-out jam 11 siang. Kalo melirik itinerary, kudunya sih kami on the road jam 11.30. Tapiii… karena pas check-out dihadang Mbak Y, ngobrol dulu deh sampe setengah jem, yassalaaam.

11.30

Siang itu, Mbak Y lagi meeting sama seorang bli-bli. Kayaknya lagi membahas kemungkinan kerjasama. Pas ditanya-tanya sama T, ternyata bli ini punya usaha perkebunan tanaman herbal yang diolah menjadi skincare products. Kemudian doi nanya-nanya balik:

“Lagi liburan?”
“Iya nih,”
“Dari Jakarta?”
“Iya.”
“Wah, turis professional ya?”
Hening. “Maksudnya?”
“’Kan yang ke Ubud biasanya turis profesional. Kalo pemula ‘kan ke Selatan…”

PROFESIONAL NIYEEE! Wasainal! Ciwiwit! *siul tarik bibir ala Dorce* Ternyata sterotipe seperti itu emang kuat ya, maaak... Baik di kalangan lokal maupun bule. Turis yang liburan ke Utara Bali dianggap ‘lebih berkelas’, berlawanan dengan yang liburan ke Selatan. Kenapa sih? Padahal mahalnya sama aja, lho. Maybe there’s difference in the attitude?

Ah, bodo amat deh yaaa. Beres check-out, kami muter-muter dulu—termasuk ambil laundry dan bayar utang di Clear Café (hoahaha)—trus baru cabut dari Ubud jam 12. Cih, melipir dari jadwal deh!

Jadwalnya emang mau kemana sih? Tujuan utama sih Sanur, karena liburan ini ‘kan memang dibagi dua antara Ubud dan Sanur. Tapi on de vey, saya minta mampir ke sebuah destinasi yang keknya lagi hiiits banget diantara ebeus-ebeus Jakarta. Sebagai calon ebeus-ebeus, destinasi ini kudu di-prospek dong…

13.00

….yak, apalagi kalau bukan Bali Bird Park!

Kesan pertama taman burung ini emang keren yaaah. Macem taman di surga, gitu (kayak pernaaah aja…). Landscape-nya bersih rapih, dan di beberapa area, burung-burung indah nan jinak dilepas bebas begitu aja. Ih, menyenangkan banget.

IMG_0121

IMG_0132

IMG_0133

IMG_0135

IMG_0208
Birds' eyes are so scary, aren't they? Kebayang nggak, bangun tidur trus di kasur ada beginian nemplok, lagi melototin kita? HIIII!

IMG_0160

IMG_0153

IMG_0108

But yes, sesuai dengan ‘keluhan’ turis-turis lainnya, ‘kesan’ surgawi Bali Bird Park ini memang cuma di area depan aja. Di area belakang, tampilan Bali Bird Park sama aja seperti bon-bin kelas internasional lainnya. Para burung tetap terpenjara dalam sangkar emas (ini kayak judul album Nafa Urbach taun kapan deh…), and most of them were hiding anyway, so there’s not much to see.

Daaan… banyak plang informasi di kandang yang nggak mecing sama burung yang ada di dalamnya. Yes, I read information boards, so I noticed that. Coba ya, tolong diganti!

Overall, Bali Bird Park is still a nice place, tapi jangan ngarepin kesan surgawi di keseluruhan taman yaaa. Hanya beberapa area yang melepas burung-burung di kebun cantik. Nevertheless, anak-anak  kicik pasti hepi banget main disini.

IMG_0156
The Sleepyheads

IMG_0169
L: "Kenapa sih, posenya musti tarik taneman gitu?
T: "'Kan biar mecing sama warna burungnyaaaa..."
Zzzzz

16.00

Kelar main sama burung (bok, rancu ya...) di Bali Bird Park, kami melanjutkan perjalanan ke Sanur. Sekitar jam 4 sore, akhirnya sampe di peraduan kami yang kedua—Hotel Puri Tempo Doeloe!

Sekilas cerita tentang Hotel Puri Tempo Doeloe:

Sama seperti The Samara, nemu HPTD ini juga nggak sengaja. Pokoknya saya nyari penginapan murmer tapi nggak standar di deket erpot, eeh, nemu HPTD di internet.

HPTD bukan hotel di gedung bertingkat, bukan juga resort di deket pantai, melainkan sekomplek cottage-cottage mungil di pinggir jalan Bypass Ngurah Rai. Bagi yang susah pisah sama pantai, nggak bakal suka sama lokasinya deh. Di pinggir jalan raya gitu, ceu, dan kayaknya nggak ada restoran yang walking distance. Tapi toh kami ada bo’il (cie, bo’il).

Fitur utama dari HPTD ini adalah stylenya, yaitu tempo doeloe (of course), but in a very quirky way. Tau suasana Hotel Tugu dan restoran-restoran franchisenya? (Dapoer Babah, Lara Djonggrang, dll) Naaah, HPTD tuh mirip-mirip deh. It's pretty awesome.

Cottage-cottage HPTD ini berbentuk rumah-rumah panggung yang dibangun dari kayu-kayu bekas perahu di Jawa. Jadinya full kayu dari atap ke lantai. Kalo lompat-lompat di dalam cottage, dak-duk-dak-duknya kedengeran sampe tetangga, hihihi...

Also, the cottages are individually designed and furnished, dengan berbagai benda antik. Dengan kata lain, nggak ada cottage yang interiornya sama. Masing-masing beda.

IMG_0290

IMG_0291

Just like the complex, the cottage itself is highly unique. Antik banget. Dan walaupun di-set dengan dekor jadul, semuanya bersih sih sih. Nggak dekil debuan sama sekali. Mungkin karena seperti The Samara, HPTD ini masih tergolong baru. Umurnya sekitar 2 taunan, deh.

And best of all, it's affordable. Saya dapet harga nett dibawah sejuta, lho. 900 gitu, deh. Breakfast included.

IMG_0256
Our cottage!

IMG_0263
Our porch

IMG_0288
Ondeee, serasa balik kampuang ya, uda!

IMG_0277
Our huuuge bathroom. Ini lensa kameranya aja yang sempit. Aslinya si kamar mandi nih gedaaaay...

IMG_0279

IMG_0271
 Lantai kamar mandinya pake tegel kunci! Linggis mana linggis?! *congkelin*

Fasilitasnya pun komplit. Ada lounge buat kongkow, ada kolam renang kecil, ada internet café, endebra-endebre.

IMG_0258

Despite HPTD's uniqueness and awesome qualities, ada beberapa isu yang membuat saya nggak nyaman.

Pertama, meski pelayanannya ramah, saya masih terkenang dengan pelayanan The Samara yang SUPER ramah. Jadi kalo di-compare, belum bisa nandingin, gitu.

Kedua, tempat ini ‘kan penuh barang antik dan aneh. Hal yang sinonim dengan ‘antik’ apa, hayo?

Angker dong, ya T___T

I do not deny, tempat ini rada memancarkan aura angker. Yang PALING ngeselin, jendela-jendela kamar cottage HPTD nih pake jalusi kayu (bukan pake tirai kain), dan susah dibuka-tutup. Jadi biasanya dibiarkan ketutup 24 jam. Gelep gulita, bok.

Okelah, ‘kan ada lampu. EEEH, KATA SIAPA?! NGGAK ADA LAMPU LHO!

Can you believe it?! Cottage-cottage HPTD nggak punya lampu, mamiii! Jadi sumber penerangan satu-satunya adalah dua lampu meja di sisi kanan-kiri tempat tidur. Bahkan di siang hari, interior cottage kami sungguh redup dan mencekam.

IMG_0384
Nyesel nggak bawa Qur’an dan air zamzam segalon!

I totally wasn’t expecting this kind of atmosphere. Soalnya ‘kan eke cuma survei liwat internet ya. Dan kalo hanya merujuk dari internet, tempatnya sih ciamik.

Ya, emang ciamik kok… dari luar. Tapi pas masuk cottage-nya, jeng jeng, langsung pengen balik badan, huhuhu.

16.00

Beres check-in, kami bobok-bobok siang dulu. Capek bok, menerjang jalanan Ubud-Sanur yang super panas.

Bangun tidur, langsung beberes, trus ciao makan ke Jimbaran!

17.30

Sampe Jimbaran, kami dihadang problem klasik: makan di kedai mana? Ada yang bilang, seafood is a seafood is a seafood, alias, dimana-mana tuh sama aja. Di Jakarta pun sama aja deh nek, nggak harus di Jimbaran-Bali, apalagi Menega. Tapi ada yang bilang, no way, Menega is always full for a reason. Rasa, pelayanan, dan jin pelet Menega (hihihi) nggak bisa bohong.

Awalnya, kaki melangkah ke Menega. Tapi pas ngeliat mejanya full semua, kami langsung pilih prinsip ‘a seafood is a seafood is a seafood’. Dimana aja jadi deh!

We chose Nyoman.

IMG_0211

IMG_0214

Aaah, Nyoman enak, kok. Kami dapet meja yang posisinya tsakep, meski lima menit kemudian, hawa damai dirusak oleh turis-turis mainland China super rusuh. We ordered red snapper, cumi bakar, sate ayam, kangkung, nasgor, es teh, es jeruk, es kelapa. Semuanya endeus! Datengnya juga cepet, nggak pake lama. Dadah-dadah sama yang masih manyun di Menega!

IMG_0231

IMG_0234

IMG_0235

IMG_0241

IMG_0246

19.30

Akhirnya pulang. Sempet mampir di sebuah factory outlet karena T mau liat tas golf. Sampe kamar sekitar jam 20.30. Mandi, beres-beres, ina-inu, bobok.

Sekali lagi, mari kita tengok suasana kamar yang sungguh "tidak mencekam"...

IMG_0385
Tempat tidur besi jadul, yang walaupun masih kinclong nggak karatan, 
tapi bunyi berderit-derit kalo ditidurin *berderai airmata*

IMG_0393
The damn jalusi windows!

IMG_0386

IMG_0395
Mana bisa bobok kalo sambil diliatin Mei Ling gini?!

IMG_0394

IMG_0266

 03.00

Yes, the day isn’t over yet. Malah diakhiri dengan nightmare *setel musik Twilight Zone*

Kalau ada yang inget, pertengahan Maret kemaren sempet ada badai di Bali. Kejadiannya tengah malem, dan badainya ternyata gede, sampe ada plafon di Ngurah Rai yang jebol. Suasana di HPTD tentunya jadi ikut mengerikan. Selain karena minim penerangan, suara ujan dan anginnya kenceeeng banget… Kirain cottage kami bakal ikut melayang sampe Jakarta!

Saya sampe kebangun jam 3 pagi, gara-gara si angin ribut yang literally ribut. Setelah bengong sesaat, balik tidur lagi.

Then came the nightmare.

Duuh, sebenernya saya ogah cerita mimpinya kayak gimana, because it felt very real, and very scary. Inti ceritanya, HPTD ternyata dimiliki oleh seorang wanita muda yang gemar membunuh. Diantara koleksi barang-barang antik yang tersebar di HPTD, ternyata ada kepala manusia diawetin, mayat diumpetin di kolong meja lobby, dan sebagainya. Hanya saja, para tamu sering nggak ngeh. Ohmaygulaaay... Of course, the place was also haunted. Dan hantunya brutal. Titik. Sisanya males cerita. Udaaaah! Jangan paksa aku mengingatnyaaaa! (yeee siapa yang maksa...).

But seriously, it was very scary. I never had a dream that intense in years. Padahal ‘kan biasanya ogut bisa ketawa-ketiwi nonton felem hantu!

Saya kebangun ngos-ngosan, bersimbah keringet dingin. Yang lebih mengerikan, tiba-tiba perut kontraksi! Pertama kalinya dalam hamil ini, ngerasain perut kenceng sampe udel saya ilang. What is this sorcery?!

Langsung bangunin T, dan kalimat pertama yang keluar dari mulut adalah…

L: “Kita pindah hotel, yuk. Feelingku nggak enak…”
T: “Kenapa?”
L: “Nggak enak aja”

(sebenernya saya gengsi cerita, bahwa saya tiba-tiba takut hanya karena mimpi. I've never believed in nightmares, dan kalo mau fair, saya nggak liat penampakan apa-apa di HPTD. But on the other hand, indra ke-6 ibu hamil ‘kan dibuka lebar! Oh Tuhan, between logic and instinct, which one should I believe?)

T: “Tapi kita udah bayar, lho.”
L: “Apa mau pulang aja ke Jakarta malem ini?”
T: “Cerita dulu dong kenapa.”
L: “Feelingku tempatnya berhantu, nih.”

#kemudianhening

So, did we move out or not? Stay tune! :D



Jump to Day 4 & 5

27 comments:

  1. Ebuset. Itu harus bgt, ya banyak lukisan di kamar?
    Btw, this gotta be your scariest post ever deh mbakyu, apalagi ditambah dgn mimpinya yg semacam matching ama TKP dan lukisannya, hehehe........

    Semoga postingan berikutnya kalah serem, amin.

    ReplyDelete
  2. Mecing bangeeet! Rasanya kesel, gondok, horor jadi satu semuanyah. Apa kalo mau mimpi indah, eke harus nginep di Karma Kandara? Kayaknya gitu deh... yuk, suamiku (ternyata motifnya itu)

    ReplyDelete
  3. bdw itu poto2nya siapa aja sebanyak itu di dalem kamar ??? berasa lagi diliatin ga sih sama orang sebanyak itu ??? heheheh...
    eh sumpe ngakak ni bacanya, tapi merinding juga... --"
    akhirnya ?? stay atau ??
    *kita tunggu episode berikutnya :))

    eeeeehhh salam kenal yaw !! ;)

    ReplyDelete
  4. Pindah pindah!!! PINDAAAAAAAAAH please..... *deg2an sama postingan selanjutnya*

    ReplyDelete
  5. Bener banget deh tuh cottage dari luar ampe dalem makin serem aja keliatannya. Then photo2 sapa lagi itu yg dipajang, mending kalau orangnya masih hidup, kalau udah gga ada, waduh, bikin ngeri banget deh kita selama bobo diplototin mereka. This cottage is definitely out of my list deh...

    ReplyDelete
  6. bok.. ujung2nya horor!! huahahaha..
    abis baca paragraf bawah2, langsung coret HPTD dari list, padahal nyaris dimasukin tambahan referensi..kikikik, mana bisaaa gue tidur pake suasana mencekam ditemenin lukisan dan foto2 asing berjembreng gitu, di rumah aja ga hobi pasang foto, boro2 lukisan.. :D

    anyway, ayo2 diposting lanjutannya, yg detail ya..detaiiil *digaplok bumil*

    ReplyDelete
  7. Menegangkan!! ini lebih tegang menunggu kelanjutan ceritanya dibandingkan pas habis ngeliat trailer film "Nenek Gayung" di bioskop kemarin... hiyyy....


    I guess dr sebelum tidur, elu udah brasa ga nyaman La. Kalo ngga nyaman dan kebayang2, lama2 kebawa di dalam mimpi. Buat gue, yang penting lu udah bisa nulis entry ini, berarti kan elu dalam keadaan aman sentosa yah :D.

    ReplyDelete
  8. huaaa... ga sabar nunggu crita selanjutnya. ngeliat foto2 hptd nya jd ikutan berasa serem :D

    ReplyDelete
  9. hahahahaha halasaaan minta nginep di karma kandara.

    but seriously deh bu, seremm x_x

    ReplyDelete
  10. Omaygaaattt La, gue ngeliat fotonya aja merinding pingin pipis (emg lg nahan pipis sih).. gilaaakkk itu lukisan sama jendelanya, gue uda kebayang kunkun sama leak ngintip dr sela2 jendela

    ReplyDelete
  11. Indriyani Cynthia: Haaai, salam kenaaal *tos* Kalo diinget-inget sekarang, kayaknya emang agak jenaka ya. Tapi pas ngalamin, asli rasanya mau ngompol di tempat, Tuhaaan..!

    Simbrot: PINDAAAH! (ke Karma Kandara! Teteup) Perang batin banget lho antara insting dan logika, soalnya hotelnya udah dibayar untuk 2 malem huhuhu

    BebyBeluga: Exactly, Mbak Sylviaaa... From the outside, the place look actually kind of cute lho. Dalem cottagenya sih nggak janji hihi. Tapi bener ya, tempat-tempat antik tuh cocoknya dipake nongkrong sejam-dua jam aja deh. Never spend the night!

    Nyun: Daaan seperti komennya Mbak Sylvia diatas, itu sebenernya foto-foto siapa sih?! Karena mukanya jadul, udah pasti bukan photoshop, dan pastinya mereka udah pada almarhum semua, HIIII!

    Leony: Hahahaha nenek gayung apaan sih? Kok nggak enak banget dengernya? Iyes, Alhamdulillah, I turned out fine, Le... Dan gue setuju sama teori lo. Nightmare gue mungkin hadir krn feeling nggak nyaman gue aja.

    But then again, kalo di film-film horror, tokoh yang cuek sama "signs" tuh biasanya yang mati duluan.......

    Dian: Tunggu kisah selanjutnya! *sibak jubah vampire*

    Ana: Iyaah serem yaa, hiii. Beneran deh, mending nginep di Karma Kandara (ulang aja sampe 100x hihihi)

    Nay: ATAU LUKISANNYA KEDIP!!! SETAAAAN!!! *literally* Kalo pulang ke Indo, nginep sini ya Naaay...

    ReplyDelete
  12. Oh nooo...Jadiiii???terusannya??? (*pake nada iklan mie instan) nunggu pulang dari liburan berikutnya kah???...

    hweleh, kalo sampe kontraksi begindang ya mending pindah langsung ajah. Foto2 vintage (a.k.a antik) itu pasti ga termuat pas browsing internet ya lei?

    ReplyDelete
  13. la, konon katanya kalo mengalami mimpi jam 2-3 pagi biasanya beneran adanya *muahahahaha!* (sebel gak lo). kayaknya buat gw yg gampang 'feeling' gak akan betah nginep situ although it looks freaking amazing. yg ada melotot nyubit2in laki ai utk gak boleh tidur hahahaha!

    ReplyDelete
  14. Udah lama gak komen, sekarang muncul untuk komen lagi.. Hihihi.. Abisnya gak tahaan! Aku juga kurleb ngalamin gini. Maksudnya, pas hamil, emang jd lebih tajem sih. Yang biasanya di rumah mertua, baek2 aja, gak tau pas hamil, aku jd super cemen dan ketakutan (soalnya emang ada beberapa spot di rumahnya yg nyeremin abis) ditinggal sendirian menjelang maghrib dan aku sampe nangis2 ketakutan dong sambil telp suami. Merinding terus dan akhirnya kontraksi
    -__- tapi serius ya, rasanya tuh pengen gak takut, tapi gak bisa bo'ong, tiba2 merinding2 terus. kan katanya juga nih ya, ada yg percaya, orang hamil kesukaan
    makhluk halus. Deuuuuh.. Pengen nyumpel pake highheels denger diomongin gitu.
    Gak sabarrr nunggu kelanjutan ceritanyaaa.

    ReplyDelete
  15. Just what I need, a horror story in the morning (-__-')

    Aduh Lei, gue mah penakut bin cemen berat. Begitu liat namanya dan lo bilang berbau antik, gue udah langsung coret itu hotel dari daptar hotel Bali potensial. Gue cuma bakal nginep di hotel-hotel ala turis pemula aja lah.

    Btw gue pernah nginep di Losari Coffee Plantation. Mirip sm si HPD ini, tiap cottage dibangun dari rumah joglo/panggung kuno asli. Satu cottage dan cottage2 lainnya jauh-jauhan, jadi cucok bgt utk para hornymooners. Lah gue ke sono bareng cewek-cewek penakut. Alhasil kita malah ngariung di satu kamar berlima, sementara kamar2 lain gak dipake. What a waste!

    Btw, setuju sama komenlo, hotel/tempat antik cuma cucok untuk nongkrong 1-2 jam aja. Gue makan di Lara Djonggrang or Dapur Babah baik2 aja. Tapi kalo disuruh nginep di Hotel Tugu, gue mending bobo di motel jam2an deh T__T

    ReplyDelete
  16. Katrin: Sebenernya foto-foto vintej itu ada deh di websitenya, tapi 'kan namanya juga website jualan yaaa, suasana cottage-nya dibikin cewrah cewria macam rumah Barbie T__T

    Kara: Apaaaa? Gue gak suka komen lo! Hahaha... aduh yg bener Kar, masak beneran sih mimpinya? Yes, it's an amaaazing place... kalo cuma buat didatengin 1-2 jam gitu. Don't spend the night!

    Astrid: Apaaaa? Gue gak suka komen lo! *semacam dejavu LOL* Horor banget didemenin makhluk halus maaak...

    Iya, aku juga dibilangin sama guru yoga, third-eye (alias insting) kita pas hamil tuh dibuka lebar banget, so you can sense everything, mulai dari niat jahat orang sampe makhluk halus. Aku percaya banget, soalnya kan kita dikasih insting ini buat melindungi si bayi ya. Trus nasib kita kalo terjebak di tempat angker gimanaaa...

    ReplyDelete
  17. Ira: *langsung bakar bookingan Losari Coffee Plantation* Hahaha sialan nih Mbak Ira, wong gue udah niat banget nginep disana!

    Yesss, disini sih me like restorannya grup Tugu lho. Suka suasananya, banyak yang diliat. Tapi untuk nginep, bener Mbak Ira, pas di HPTD ini gue sampe begging ke suami pindah ke Tune aja deh!

    ReplyDelete
  18. Salam kenal Mbak Lei,
    Been your silent reader yang udah nggak silent lagi gara-gara gatel pengan komen deh ah :)
    Pecat dekorator hotelnya! (Heheheh maap saya titisan gerwani kayaknya). Harusnya, walaupun mau vintagey gitu, tetep harus memikirkan kenyamanan tamu. Auranya jangan mistis gitu. Big No-No foto-foto yang terlalu realistik. Apalg si Mbak Mei Ling (Itu lukisan apa foto sih Mbak? Kok 'real' banget.) Dan apakah kebetulan atau 'kebetulan' sih pose si Mei Ling sama kayak foto Mas T di bird park? Perhatikan deh Mbak, sama-sama pegang pohon gitu. AKu sampai bolak balik scroll dari atas kebawah nyocokin (*cue musik horor)
    Maaf Mbak komen saya nggak penting memang. Harusnya kesan pertama lebih baik ya hahahhaha...
    Nggak sabar mbak nunggu kelanjutannya. Semoga hamilnya sehat terus ya.

    ReplyDelete
  19. senapsaran gw langsung liat websitenya. klo yg ga baca postingan ini pasti terjebak ya. tjakep bener cottagenya dan kamarnya terang berasa damai.
    tapi ternyaataa... hiiii..
    yg bikin ngeri tuh fotonya, kebayang ga sih pas malem2 tiba ngelirik n senyum? *balikin foto biar ngadep tembok*
    ini tempat kayanya cocok buat uji nyali deh.
    Nga sabar mo baca postingan berikutnya.
    ehiya..salam kenal yaa..

    ReplyDelete
  20. aaakk..ini hotel cocok banget jadi ajang uji nyali.klo gw fotonya langsung dibalikin ke tembok biar ga tiba2 ngelirik dan kasih senyum maut.
    senapsaran gw klik websitenya, ciamik bener ya cottagenya. damai bener dan kamarnya terang benderang, sungguh penjebakan buat orang cemen kaya gw.
    ga sabar nunggu postingan berikutnya.
    oiya..lupa.. salam kenal ya.. :)

    ReplyDelete
  21. yah mba lei tumben deh serem-sereman. :D
    kalo aku pas mau tidur dibalik-balikin ke tembok deh itu foto/lukisannya..
    eh tapi kalo besoknya mereka ngebalik sendiri gimana ya?
    hahaha.. malah ngarang cerita horor gini. :D *naudzubillaaaah..*

    ReplyDelete
  22. adibadibs: Hehehe... kalo teoriku yaaa, mungkin karena target market penginapan ini adalah bulek. Trus PEMILIK tempat ini pun bule (Prancis), dan aku mikirnya mereka nggak cepet kepengaruh hal-hal mistik gitu. Jadi cuek aja deh pasang foto-foto manis almarhum-almarhum hihi. Btw, makasih yaa soal komennya tentang Mei Ling *jitak* :)))

    Dessy: Ya kaaan... kayaknya orang Marketing tempat ini kudu dijitak deh karena misleading hihihi.

    ReplyDelete
  23. Anti: Hahaha, antiii... Ini deh satu lagi yang ikut ngebumbuin cerita horor! *pites*

    ReplyDelete
  24. Halooo, abis ngomentarin Schönbrunn, gatel pengn komentar yg ini jg *blom kenal udh ganjen* ya udah kita kenalan dulu ya :-)

    Btw menurut kesimpulan gue (tsaaah..) mungkin lo agak 'mengeluarkan' aura takut atau cemen, dan mungkin yg nunggu mau komunikasi kali ya, secara jg lo disana lagi hamil bukan? Org hamil baunya wangi..

    ReplyDelete
  25. Amy: Kenalaaan *jabat tangan* Hehehe, iya udah liat komennya di postingan Schonbrunn :D

    Iyap, seperti yang gue bilang, kayaknya gue lebih yakin hal ini terpicu karena guenya udah deg-deg ser duluan. Trus akhirnya mimpi dan kontraksi, entah itu karena sugesti, atau karena dicolek huhuhu.

    ReplyDelete
  26. oalaah Mba Lei, saya ngga bisa tutup mata/tidur deh di tempat kayak gitu, soalnya dah pernah ngerasain bener yg antik berpenunggu, jadi no, no,no buat antik2

    ReplyDelete
  27. Kakaaknyaah...
    Saya nunjukin link ini ke cami eeh dia malah rikwes HPTD bwt tmp hanimun kami nanti. Hmm antara ciut tp tertantang sm ranjang berderitnya yaa hahaha maklum cami demen banget sm sesuatu yg vintage, unik, antik dan jadul macam ini. Doakan saya enjoooy yaa

    Keren sih interiornya yak

    ReplyDelete