Apr 2, 2012

The So-Called Babymoon - Second Day, Ubud

Jump to Day 1

Jadi ‘kan hari sebelumnya kami batal yoga + meditasi tuh ya… dengan alasan lemah pula, yaitu ngantuk. Alhasil, sebagai seorang yogi (palsu), saya guilty feeling.

Maka, dengan semangat serta tinju terkepal di udara, saya memutuskan, “Hari ini yoganya dua kali deh! Pagi dan sore!” Yuuuuk zzzz…

Bukan apa-apa sih. Sayang aja, udah nginep di Ubud, tapi nggak memanfaatkan The Yoga Barn yang lokasinya udah tinggal koprol. Di Jakarta ‘pan mana ada fasilitas yoga sejenis gitu?

6.45

Karena niat yoga pagi baru muncul dadakan, kami terbirit-birit meluncur ke The Yoga Barn, nggak pake mandi (tapi tetep pake sarapan dong, aku ‘kan hamiiil…).

7.10 

Sampe The Yoga Barn… yak, telat! Zzzz. Kelas Qi Yoga-nya udah mulai, and I don’t like being a latecomer. Suka nggak konek, trus keabisan mat pula.

Ya udah, kami memutuskan ikut kelas berikutnya aja - Hatha Yoga sekitar jam 8.45.

BIG MISTAKE, SODARA-SODARI!

Why?

Pertama, sadar akan kapasitas saya sebagai bumil, saya emang nggak mau ikut kelas-kelas Intermediate-Advanced di The Yoga Barn. Maunya ikut kelas-kelas Beginner aja. Itupun pasti bakal banyak saya modifikasi gerakannya, soalnya ada pose-pose yoga ‘normal’ yang nggak boleh buat bumil.

Nah, kelas Hatha Yoga ini level Intermediate. Krik, krik.

Kedua, pas ngeliat instrukturnya, I immediately smelled trouble: perempuan India paruh baya bergaris muka keras, dan berperawakan kecil namun kekar. Keliatannya hidupnya keras, hobi bobok di kasur paku, makan beling, dan gahar dalam ber-yoga! Tolooong.

Sambil remes-remes celana training dengan nerfes, saya samperin dese sebelum kelas dimulai, dan nanya, “Hi, I’m 5 months pregnant. Would this class be safe for me and my baby?”

Jawaban sang instruktur cukup panjang dan tidak menenangkan. Intinya aman aja, tapi saya harus banyak-banyak modifikasi. Dia sih yakin, saya masih bisa ngikutin sebagian besar gerakannya, karena di trimester 2, harusnya saya lagi seger-segernya. Although, it will be an intense class and the baby will feel a LOT of heat, she said.

BISA NGIKUTIN SEBAGIAN BESAR GERAKAN, PALE LO! Pada prakteknya, belum apa-apa saya mau menggulung diri aja pake mat yoga bagaikan sushi, trus bobok, hahaha!

Kelasnya susah, bok. Susaaah… Secara rohani maupun jasmani.

Di awal kelas, kami hanya stretching ringan dan chanting ‘om shanti raja guru deva’ dan sebagainya. Biasalah. Secara fisik, bagian ini cincai ya. Tetapi bagaimana secara rohani?

Sambil stretching dan chanting, sang instruktur tiba-tiba meminta kami untuk meneriakkan emosi dan uneg-uneg dalam hati. Sebagai wanita Indonesia yang pemalu, tentu saja nggak saya gubris. Namun bagaimana dengan 30 murid bule lainnya? Tanpa malu-malu, mereka semua nangis jejeritan, meraung-raung, neriakkin emosi-emosi yang menjadi beban di hati, “Anger! Limitation! Disappointment! AUUUGHHHH!!!” sampe menggema kemana-mana… Nangis terisak-isak beneran lho, sampe ada yang keluar kelas segala. Ya Tuhan Gusti Allah! Ini kultus apaaa?!

Setelah sesi ‘curhat’ genggeus itu berlalu, kami mulai masuk ke tantangan fisik, yaitu gerakan-gerakan Hatha yang sesungguhnya. Udah deh, gue nyerah di bagian ini… Dikit-dikit sih masih bisa ngikutin, tapi begitu si instruktur tiba-tiba shoulder stand (kayak handstand tapi pake pundak), saya langsung yudadahbabay.

While trying to do the yoga poses, I looked like this:

Gaya mengajar sang instruktur pun yunik: dia menutup mata sepanjang kelas, tanpa peduli apakah postur muridnya ada yang salah, atau malah ada yang udah pingsan T__T" Mungkin karena The Yoga Barn emang nggak menekankan kepada ketepatan pose, tapi kepada penghayatan spiritual.

Meski begitu, saya rada lega, sih. Di tengah kebrutalannya, sang instruktur masih inget ada saya diantara 30 yogi lainnya. “Five months pregnant mama, TAKE A REST NOW!” begitu jerit dese tiap kali kami mau memasuki pose sulit. Padahal dia sama sekali nggak membuka matanya sepanjang kelas. Kerasa kali ya, ada Mama Paus lagi gedebak-gedebuk di pojokan.

Selesai kelas, saya nggak kapok lho ikutan yoga lagi (kelas Beginner, tentunya!), tapi T ngamuk, hahaha. Selain karena dia emang nggak suka yoga, dia juga khawatir sama si bayi… Guenya juga nekat siiih. Alhasil, kelas Hatha Yoga ini menjadi kelas yoga pertama dan terakhir saya selama babymoon ini. Dadaaaah The Yoga Barn...

10.45 

Kelar Yoga, harusnya kami ke Tirta Gangga. Kenapa Tirta Gangga? Nggg… gak tau. Pokoknya pas trip planning, seliwatan ngeliat fotonya, trus tertarik. Keliatannya bagus, dan kayaknya nggak sesesek Tanah Lot dan tempat sejenis yang lebih populer.

Tapi pas ngeliat di GPS, ternyata lokasinya 2 jem dari Ubud. Macem Jakarta-Bandung aja ih, males. Ya udah, batal.

Jalan-jalan di Tirta Gangga pun berganti dengan jalan-jalan di pertokoan Ubud. Bisaaa aja!

IMG_0040
Streets of Ubud

Misi utama saya adalah beli sendal jepit, menggantikan si sendal Clarks yang ternyata bikin lecet.

Mampus nggak, sih. Udah susah-susah dibeli dengan harga hampir sejeti, malah bikin  lecet? Asli, saya nyesel seada-adanya sampe mau nangis. Sebenernya bukan 100% salah si sendal, sih. Ukurannya emang sedikiiit kegedean. Pleus, ini sendal baru dibeli, langsung dibawa mendaki trotoar Ubud yang gradakan. Nggak sempet di-broken-in, jadi leather-nya masih kaku. Pleeeuuus, kayaknya sendal ini emang nggak cocok dipake panas-panasan, deh. Gesekannya dengan kaki keringetan bikin kulit lecet. Soalnya, pas dicoba dipake lagi keliling mall Jakarta, bae-bae aja tuh.

Setelah window shopping kanan kiri, beli juga deh sendal karet standar, seharga Rp25,000, and it became my only footwear during this trip. Antara benci dan miris ngeliat si Clarks nganggur!

13.30

Lunch di Cinta Grill Café. Katanya sih tempat ini beken dengan daging-daging bakarnya. Tapi karena udara gerah banget, kami pesen ikan-ikanan instead.

IMG_0046
Hawaiian Crab Cake. Ini endeus deh!

IMG_0056
My Mahi-Mahi

IMG_0058
T's Snapper Steak

Mahi-mahi saya lumayan endeus, tapi bumbunya rada tajem, sampe nusuk tenggorokan. Mash potato hejo-nya (lupa deh itu kentang dicampur apaan!) enaaak…

14.30

Maunya sih yoga lagi, soalnya ada kelas Beginner. Tapi ditolak mentah-mentah sama T. Hihihi. Okelah, kita nge-spa aja yuk!

Kami memang punya appointment spa sore itu. Tapi karena udah nggak ada acara apa-apa lagi, jamnya dimajuin deh.

Di Ubud ini, kami nyepa di Sang Spa 2 (by the way, Sang Spa ini ada yang nomer 1, 2, 3, macem sinetron. The best is Sang Spa 2). Letaknya di pelosok, jadi terlindung dari berisiknya jalan raya. Suasananya alami dan tradisionil. Kalo di Jakarta, mungkin kayak di Bale-Bale Spa gitu ya?

Saking alaminya, nggak ada AC, jadi agak gerah. Tapi terbantu sama angin sepoi-sepoi, sih. Fasilitasnya lengkap dan cukup bersih. Mereka juga nyediain transport antar-jemput ke penginapan lho, gratis asalkan di Ubud!

Kami nggak milih full-body treatment, karena males mandi—padahal suami-estri ini belom mandi dari pagi lho ya, bapak ibu sekalian—sementara kalo full-body treatment, pasti bakal kena minyak dan lulur ‘kan. Kami milih pijet pundak-kaki aja, dengan asumsi cuma bakal duduk di kursi, tanpa pake telenji dan mandi.

Eeh, ternyata… tetap harus buka baju, dan baringan di dipan. Nanggung banget deh. Tau gini, full-body treatment aja sekalian.

Alhamdulillah, pijatannya enak. Nggak terlalu keras, nggak terlalu lembek, dan tetap smooth.

Oya, sebagai bumil buncit, saya 'kan cuma bisa posisi telentang dan miring. Sebelnya, terapis saya kayaknya agak ‘males’, karena pundak-punggung saya cuma dipijat di satu sisi, pas tiduran miring kanan. Setelahnya, saya nggak diminta miring kiri. Jadi setengah punggung eke nggak kepijet. Hih! No tip for you, ah!

Kelar pijet, kami duduk-duduk di ruang tunggu, nunggu bill dan suguhan minum. Di coffee table-nya, ada semacem buku kumpulan cerpen dan puisi tentang Bali dalam bahasa Inggris, ditulis oleh bule-bule yang konon katanya udah sering wara-wiri Bali dan akhirnya jatuh cinta sama pulau ini. Diekspresikan lah rasa cinta mereka liwat buku indang.

Nah yaaaa… gue tuh sebenernya kurang suka sama bebulean yang suka terlalu mengeksotik-eksotikan Indonesia. Jatohnya malah jadi sotoy dan sok puitis. T apalagi. Akhirnya si buku tak berdosa itu kami orat-orat dengan tulisan-tulisan semacem, “What the hell are you talking about? Norak!” HAHAHAHA kampret. Gue yakin tindakan ini ada ganjarannya di akhirat…

16.30

Kembali ke The Samara.

IMG_0060
Saya belum cerita ya, The Samara itu sebetulanya nggak bisa diakses pake mobil, karena hanya ada jalan setapak kecil. Jadi, dari parkiran mobil kita cuma bisa jalan kaki, atau telp villa, minta dijemput pake motor. Paling enak sih kalo bawa motor sendiri ya. 400 meter bok, lumayan itu.

On the path leading to our villa, ada sekian meter jalan setapak yang ditulis-tulisin. Entah itu tulisan kenang-kenangan anniversary...

IMG_0065

IMG_0064
... atau kata-kata dalam tiga bahasa: Inggris, Bali, Indonesia. Lumayan lah, sambil jalan kaki sambil belajar kosakata Bali!

IMG_0073
Pundak pegal? Ada suwami!

IMG_0089
Sawah sekitar Jalan Kajeng

Back at the villa, kami menyempatkan celup-celup diri di swimming pool, ngelarutin minyak pijet yang bikin gerah. It was heavenly. We didn’t swim at all, cuma berendem-rendem adem, ngomongin masa depan sambil menatap sawah. Ciciiiiiw…

Selesai rendeman dan mandi, kami kembali mati gaya. The Samara mati lampu seharian lagi, lho! Dari jam 8 pagi sampe jam 9 malem. Untungnya kami nggak gitu ngerasain, karena jalan-jalan seharian. Lama-lama nge-rap juga deh gue *bagi yang nggak tau lagu Pesta Rap yang berjudul ‘Mati Lampu’, Anda kurang asik*

Again, it’s not The Samara’s fault, sih. Orang-orang PLN emang gerak lelet aja dalam ngebetulin si tiang listrik roboh itu.

20.30

Sebelum listrik nyala, we decided to eat out. Akhirnya dinner di sebuah tempat baru bernama Clear Café, masih di daerah Ubud. It was one of those healthy, earthy places yang menyediakan menu semacem kombucha juice dan makanan dari bahan-bahan organik. Tapi nggak semuanya, sih. Jadi bagi yang pengen makanan kurang sehat (tapi sedep), ada juga kok.

Oya, kudu lepas sepatu sebelum masuk. Jadi nyekeran deh.

Because it was a new, organic place, udah ketebak, pengunjungnya kebanyakan hippies bule berambut gimbal, berbaju tunik dari serat alami, dan bau ketek.

Trus dari hasil nguping kanan-kiri, yang mereka obrolin umumnya seputar spiritualisme, reinkarnasi, karma, past life regression, serta problematika hidup yang nggak ada abisnya, karena pribadi-pribadi mereka yang terlalu sensitif. T sampe pengen ngamuk. “AKU KESEL! Masa’ laki-laki, udah tua gitu, ngomongin masalah cecintaan aja diputer-puterin ke karma, hati yang terluka, nggak kelar-kelar! Udah lewat umur galaunya ooooiiii….” Untung nggak ada yang ngerti T ngomong apa. Kecuali pelayan, zzzz.

Clear Café was a good place, nevertheless. Makanannya enak (kami pesen Thai foods semacem Pad Thai dan Tom Yam), pelayanannya juga bagus. Ramah-ramah semua. Mereka kasih prioritas ke saya yang hamil ini, tanpa diminta. Meski tempatnya penuh (yang ada cuma area lesehan), kami diutamakan dapet meja berkursi.

Tapi gong dari Clear Café ini adalah… BISA KASBON! Hoahahaha. Jadi, si Clear Café ini nggak terima transaksi elektronik, seperti kartu kredit atau debit. Apesnya, cash kami abis. Pas T nanya, “Saya bayar besok aja bisa?”. Mereka jawab dengan ramahnya, “OK Paaak… nggak apa-apa koook…” Eaaaa. Ngutang deh, bok.

22.30

Kembali ke The Samara, Alhamdulillah listrik udah kembali nyala. Langsung bobok pules, with smiles on our faces (smile).



Jump to Day 3, Day 4 & 5

7 comments:

  1. Ini namanya Babymoon lights-out trip... isinya, mati lampu!! Coba kalo pas hanimun mati lampunya... *apa hubungannya ya... eh ada ya ?*

    Gile bener di sana ya (in a good way gilenya), kadar kepercayaannya tinggi banget, sampe kasbon pun bisa. Tapi itu pasti karena dia di Bali. Kalo di Jakarta, baru seminggu buka, dia pasti udah rugi bandar dan belajar dari pengalaman :D

    ReplyDelete
  2. sumpah mau ngakak baca misuamu misu-misu sama hippie toku. laila aku kan mau pindah ke sana ya... apakah bisa gadis kota tinggal di bali tanpa berubah jadi gembel gimbal berbaju serat ganja yang doyan ngomongin karma...

    -R.

    ReplyDelete
  3. ih si Samara (meskipun namanya kayak Sadako versi Hollywood) kayaknya tempatnya menyenangkan deh. pengen liburan ke sana juga akika. ngomong2, kau due date brarti sekitar septemberan ya? apa agustusan?

    ReplyDelete
  4. Leony: Hahaha rugi bandar beneeuur. Gue sampe keselek pas si pelayan berkata demikian dengan sangat non-chalant. Jangan buka restoran di Jakarta ya Mbak! Apalagi di daerah mahasiswa!

    Runi: Aaaah... tapi kamu 'kan bakal ngantor di Kuta, bukan Ubud. I think I could see you sporting a Bintang Beer tanktop, braless, with a smelly beach hair and a mean tan. Harus gitu ya Run!

    Snd: Hihihi iyaaa, meski namanya agak memberikan aura Ring-u, the place is cool and afforable deh IMHO. The baby is popping out sooner than you think, Sindrooo! Mid July the latest, Insya Allaaah...

    ReplyDelete
  5. Hah hrs jln 400m kl bw azka yg tingkahnya kyk sophie gt wassalam ya nekk hihi

    Ya ampun gw ngakak liat video itu sambil bayangin lo yoga haha.

    ReplyDelete
  6. Dhita: Kalo bawa anak kicik ke resort ini, emang wassalam banget deh sama jalan akses 400 meternya hihihi. Tapi lagian nggak bisa bawa anak kicik juga siiih...

    Bubu jangan ngeledek! Yoga bareng sinih! Hihihi.

    ReplyDelete
  7. watttt mid july?!?!?!?!?
    O_O i need to rewire my brain & belajar ngitung bulan lagi...

    ReplyDelete