Mar 30, 2012

A Mother's Love

Suwer ya, tadinya mau lanjut nulis trip report Bali. Tapi bubar deh gara-gara Dara.

I read her blog this morning. On her blog, she posted an analogy of Ph.D, created by someone called Matt Might.

Imagine a circle that contains all of human knowledge:


By the time you finish elementary school, you know a little:


By the time you finish high school, you know a bit more:


With a bachelor's degree, you gain a specialty:


A master's degree deepens that specialty:


Reading research papers takes you to the edge of human knowledge:


Once you're at the boundary, you focus:


You push at the boundary for a few years:


Until one day, the boundary gives way:


And, that dent you've made is called a Ph.D.:


Of course, the world looks different to you now:


So, don't forget the bigger picture:


Menurut saya, ilustrasinya tepat banget!

Anyway, so... Is Matt a Ph.D? Or a Ph.D professor? Aku pun tak tahu sebenarnya. Kayaknya bukan. Trus ngapain dia orat-oret ilustrasi Ph.D? 

Ceritanya, sejak beberapa taun lalu, Matt Might ini memulai program yang bertujuan mendukung para mahasiswa Ph.D bidang Science. 

Alesannya? Putra pertama Matt, Bertrand, mengidap penyakit genetik yang sangat langka, yang mengakibatkan kelumpuhan motorik. Di usia 3 tahun, disaat ibu-ibu lain berlomba-lomba masukkin anaknya ke playgroup, Bertrand baru bisa pegang botol dot sendiri. Si bocah pun belum bisa bicara.

Matt Might percaya, dengan mensupport para mahasiswa Ph.D Science dalam studi dan penelitian mereka, suatu hari obat untuk penyakit anaknya akan ditemukan. Someday, somewhere.



Ada dua poin dalam kasus ini yang membuat hati saya gremetan:

1. Alasan untuk meneruskan higher education. Yakin deh, alasan mayoritas para mahasiswa S2 atau S3 untuk lanjut sekolah adalah karena alasan egois. Entah untuk kepuasan diri sendiri, demi masa depan karier yang lebih bagus, atau karena males menghadapi dunia kerja... sekolah aja mulu sampe botak... Don't get me wrong, there's nothing wrong with that! Manusiawi banget, kok. Kalo saya S2, alasannya juga pasti seputaran itu.

Tapi pernah kepikiran nggak sih, ilmu yang berbuah gelar panjang itu bisa dipake untuk menyelamatkan jiwa seseorang? Have you ever considered taking higher degree to save someone's life? Or make the world a better place? If you have, have you take it into action? *gandengan tangan, nyanyi Heal The World di api unggun* 

Pernahkah Anda mikirin ini saat lagi frustasi dengan tesis atau disertasi? What selfless act are you going to do after you graduate?

2. Mempunyai anak disabled atau berpenyakit fatal. Ibu mana yang nggak takut sama hal ini? Apalagi, hal ini bukan lagi sekedar tontonan di TV atau bacaan di Reader's Digest, tapi hal yang makin dekat ke lingkungan kita. Saya punya sodara yang anak lakinya kena Duchenne Muscular Dystrophy. Dan anaknya teman baik saya, Gemma, juga mengidap Penyakit Bawaan Jantung yang sangat kompleks, sampe operasinya kudu keliling dunia (be strong, Acus!)

The number of autism is rising, the number of children cancer is exploding. There are so many new chemical substances released on earth nowadays, yang mengakibatkan berbagai mutasi gen, atau efek-efek lain yang nggak pernah terduga sebelumnya *calling Professor X for help!*

As a pregnant mother, this scares me very much. Banyak orang bilang, "Positive thinking aja... Temen gue dulu hamil sambil jadi karyawan pabrik nuklir / pembalap F1 / pramugari / (insert other risky jobs) trus anaknya baek-baek aja!" Iye, gue paham. Saya pun yakin, mamanya Bertrand atau Gemma juga positive thinking pas hamil. Tapi kuasa Tuhan, siapa yang bisa lawan?

***

Cerita intermezzo ya.

Tiga hari lalu, saya nggak ngerasain si bayi gerak selama 24 jam. Sambil sok tenang padahal panik, saya BBM si dokter (yang lagi cuti pulaaa...). 

Dokter bilang:
"Coba makan atau perdengarkan suara keras. Kalau nggak gerak juga, coba ke UGD ya."

Berhubung lagi di mall dan susah nyari speaker gede untuk ditempel ke perut (mecahin piring restoran juga susah ya), I decided to eat. Tepatnya makan hainan chicken rice yang terasa lebih asin dari biasanya... karena kecampur airmata saya. 

DRAMA YAAA. Tapi bener deh, nggak pernah kebayang sebelumnya bahwa kehilangan pergerakan bayi bisa membuat hati lebih hancur daripada pas ditinggal pacar.

Sambil makan, saya sambil mikirin Yaya*, and thinking about the worst possibility. Biasanya, kalo kita ditinggal orang tersayang (diputusin pacar, atau ditinggal mati kucing), kita mikirin kenangan-kenangan indah dan pribadi si orang tersebut 'kan ya? And it makes us even sadder, yes?

Saya juga begitu. Biarpun anaknya masih di perut, saya bisa mengenang pribadi Yaya dengan detail. Dari mulai kelakuannya yang bikin saya muntah-muntah, keras kepalanya dalam menolak makanan, respon kocak ke neneknya, mood-mood aneh yang bisa dia timbulkan, sampe tendangannya yang bisa bikin iPad mental :')

Yaya is not a blurred image of a baby. He is a fully developed boy with a fully developed personality. He is stubborn, strong, funny, and possessive towards Ibu. And I love him so, so much. If he goes away, I'll go away with him.

Gimana kuah chicken hainan nggak berganti jadi kuah airmata?!

Alhamdulillah, hari itu bayi terasa bergerak. Tapi sampe malam dan besok paginya, gerakannya lemah dan out-of-pattern. PANIK JILID #2! BBM dokter lagi, dan beliau menyarankan CTG (merekam jantung bayi) aja di klinik.

Jadilah kemaren pagi, saya dan suami ngibrit ke klinik. 

Prologue-nya menegangkan pula. Soalnya pake masuk kamar bersalin, trus suami kudu pake jubah rumah sakit. Kok kayak mau di-operasi?! Trus kirain CTG itu sebentar aja seperti USG, ternyata lama juga ya. Antara 30 menit-1 sejam, Yaya di-monitor alat dan suster.



Alhamdulillah wa syukurilah, CTG berjalan lancar, hasilnya normal, dan eh... si anak malah balik aktif! Pas lilitan talinya dibuka, monitornya mental ditendang. Bageeuus, ngerjain Ibu yaaa, nambah-nambahin tagihan rumah sakit aja...

BBM laporan ke dokter, dan dibales dengan, "Anaknya bukan ngerjain, Bu, tapi minta perhatian aja." Cakeup. Belum apa-apa, udah mewek lagi gue. Kalau betul begitu, maafin Ibu ya :(

***

Pada intinya, kasus Matt Might dan panic attack kemarin menyadarkan saya (LAGI) bahwa cinta kepada anak (dan sejuta kekhawatiran yang menyertainya) itu terlalu, terlalu tinggi dan nggak ada duanya. You would do absolutely anything - from running to ER because of the slightest change in  your baby's movement, to sponsoring Ph.D studies. You'd fight for them your whole life.

Penyakit bawaan fatal, atau disability pada anak, masih menjadi momok nomor satu buat saya. Often, I fear it more than I fear my own death. Alasannya, karena saya nggak yakin sama kekuatan diri sendiri. Wong sama trimester 1 aja saya keok. 

If I can't be strong for myself, how can I be strong for my child?

Yah... Insya Allah, Tuhan kasih yang terbaik ya. Aamiin ya robbal aalamiin.

*Yaya: nickname sementara untuk si bocah.

9 comments:

  1. waaaa.. baca posting ginian pagi2 di kantor, ih mewek!! *diem2 apus air mata*

    be strong ibunya Yaya, dan semoga si bocah sehat selalu sampai kapanpun yaa..

    ReplyDelete
  2. Lei, mewek bacanya. Karena gw ngerasain hal yang sama. Ketakutan dan kecemasan akan kesehatan bayi yang salah satunya dipicu oleh banyaknya kasus penyakit pada bayi yang pengobatannya blm ditemukan. Juga trimester pertama yang memabukkan, literally, jadi ngerasa nggak bisa ngasih asupan gizi yang optimal.
    Insya Allah Yaya tetap sehat dan kuat ya lei, amin...

    ReplyDelete
  3. Woh, alasan ngambil s2 sampe dua biji gue banget.. males menghadapi dunia nyata mau selamanya berlindung di kedok mahasiswa.. Tapi emang keren ya seandainya ngambil s2, s3, s4 es nyong-nyong di bidang science/medicine gitu.. kalau jadi prof di bidang ekonomi most likely you end up jadi dosen, ato penulis.. mit-amit jadi pengamat.. (pengamat jadi profesi yang jelek ya? I blame media endonesa). Prof in econ, I doubt he/she will make a ground breaking invention, lah wong market ruled by invisible hand toh.. Mau diapain lagi? Beda sama ilmu-ilmu yang ga mengawang2 kaya eksak dll.. btw kenapa gue malah ngelantur? anyho, good lak lela pregnancynya.. Kayaknya sih sebenernya ini curahan hati orang yang nyesel ga ngambil teknik2an hik

    ReplyDelete
  4. hihi.... gitu ya klo bayi ga gerak galaunya masa ampun.

    ReplyDelete
  5. Nyun: *tadahin airmata bersama* Makasih yaaa, aamiin atas doanya. Yaya says hi!

    Citra: Insya Allaaah... semuanya lancar ya Cit. Soal trimester pertama, emang berat banget, but it will soon pass. Soon than you expect! Tapi kalau kuasa Tuhan berbicara lewat penyakit dan musibah? Apalagi yg ajaib-ajaib kagak ada obatnya gitu ya nek... I don't even wanna think about it!

    Semoga para orangtua (dan anak) yang dberi cobaan, selalu dikasih kekuatan ya :')

    Nay: NEK, YOU CAN DO IT! *meninju udara* Gue selalu berpendapat, bahwa ilmu bachelor itu bukan kontrak mati. Bahwa pas kuliah itu kita sebenernya cuma dilatih berpikir logis, cermat, tepat, kritis dll. Pokoknya melatih lo jadi a smarter, better human being. Jadi pas lulus, sebenernya lo bisa bergelut di bidang apapun, nggak harus sama dengan jurusan lo.

    Nah kalo S2 s/d s-teler, ilmunya pan udah lebih spesifik tuh, gue gak tau deh apakah teori gue tetep berlaku. TAPI gue yakin semua pasti bisa kreatip lah... Jikalau emang ada niat menolong orang, atau bikin lahan pekerjaan baru yang yunik, atau apapun, again, I'm sure you can do it despite whatever your major is.

    Gue pun yakin, kesuksesan lo sebagai IRT atau personal shopper (utk diri sendiri) juga sedikit-banyak terasah karena ilmu-ilmu kritis lo huahaha...

    Tapi emang ya, kalo ilmu kita bisa digunakan untuk sesuatu yang hakiki, rasanya nyes banget :')

    Sobat Bercahaya: Iiih, banget...

    ReplyDelete
  6. baca postingan ini jadi keingetan dulu gw juga sempet nangis gara2 bebe *nickname anak di perut* ga gerak...udah di ajak ngobrol juga tetep aja ga mw gerak..sampe bapaknya pulang cepet dari kantor hanya untuk ngajak anaknya ngobrol...tapi ga ada respon dari anaknya...trus gw nelp bidan dan bidannya dateng k rumah...dan sebelom bidannya dateng, gw sempetin untuk mandi...sambil mandi, gw sambil nangis megangin perut dan ngomong sama bebe supaya jangan kenapa2...
    dan ternyata, pas bidannya dateng, di periksa detak jantungnya, alhamdulillah semuanya normal dan bahkan abis d dengerin detak jantungnya dia nendang2 lagi..yuukk...
    ahirnya berkesimpulan, bahwa bebe emang pengen extra perhatian, ga cuman dari ibunya tapi juga dari bapaknya (gara2 bapaknya ga ikutan kontrol kmarennya..)

    well, that's the power of love of a mother ya ternyata..*usap air mata*

    ReplyDelete
  7. Daleeeeeem hehehe...
    Mengingatkan akan masa2 galau dahulu kala (jyahhh bahasanya...:D) waktu mesti milih antara nerusin praktek di Medistra atau jadi peneliti yang kere mere merene hahahahah
    Buat Nadia, jangan salah, mesti ada ekonom2 yang jenius bisnis lho, karena sejujurnya, dunia riset eksakta itu kalo ga ada sponsor ga jalan booo...hahaha, perlu ada jenius2 bisnis yang dengan rela hati menyumbang buat kemajuan ilmu pengetahuan, biar balans :D

    ReplyDelete
  8. Anak bergerak dalam perut adalah hal yang sangat menyenangkan dan menenangkan...

    Dulu, trik gw kalo menyadari anak gak gerak2, biasanya gw minum es jeruk. Konon kabarnya, es jeruk bisa memancing si bocah untuk gerak2, mungkin krn kecut.. Hihihi.. Ga tau bener apa enggak sih, tapi baca di buku and it worked!

    Semoga sehat terus ya Lei... :D

    ReplyDelete
  9. Put: Huaaa... iyaa, kita nih jadi emak-emak hamil kudu setrong selalu deh. Kayaknya dikit-dikit jantungan. Gue sempet gitu tuh, terlalu parnoan, sampe akhirnya super cuek dan bayi pun berhenti bergerak sejenak zzzz. Ternyata nggak boleh cuek-cuek amat hihi. Eh di Belanda ya? Sukses ya sampe lahiran!

    Ivo: Setuju aja deh! *kaum bachelor degree hahaha*

    Smita: Menyenangkan dan menenangkan indeed :D Temenku ngasih saran serupa, tapi sarannya dia air es (ajah, nggak pake jeruk). Mungkin efek dinginnya ya? ;D Kiss for Sabia!

    ReplyDelete