Apr 27, 2011

Indochina, part 3

Day 3 - 14 Maret 2011
Hanoi

Hari ini kami memulai hari pagi sekali. Begitu adzan Subuh dalam bahasa Vietnam berkumandang (nggak mungkin yaaa) kami langsung hap! Salto dan bangun. Lagian, mana betah tidur di dipan yang kerasnya ngalahin kehidupan ibukota T__T

Kami langsung pake jeans, pake jaket, dan turun kebawah. Catet: nggak pake mandi dan nggak ganti kaos tidur semalem, hiiii... But hey, namanya juga budget travelling, nggak mungkin dandan modis dan sedia make-up sekoper dong ya *kayak punya aja*. Patokannya, asal suami masih mau ciuman, berarti penampilan ogut cukup mumpuni lah!

Lobby penginapan kami (yang entah kenapa selalu bau kaldu sapi 24 jam) masih sepi banget, bahkan pegawainya aja masih celana pendekan (yes, some of them live here. Dibelakang ada semacam kos-an gitu). Nggak ada siapa-siapa, jadi kami langsung capcus.

Tujuan pertama kami pagi itu adalah Hoan Kiem Lake, lalu lanjut jalan ke points of interest sekitar situ.

Alhamdulillah, pagi itu hawa kota Hanoi cukup sejuk. Menurut temen-temen disana, bulan Maret emang kudunya masih winter dan dingin. Tapi, saya yang biasa ke Yurop ini (padahal cuma perumahan bertema Eropa di Cibubur), nggak merasa kedinginan sama sekali tuh! Sementara warga lokalnya pada berjaket, saya berpakaian tanpa singlet atau jaket aja, eh masih bisa keringetan tuh. Darah bule banget nggak sih?

Alhasil agak gondok deh karena bawa jaket tebel. Tau gini, cukup bawa singlet aja ya. Maka dari itu, ketika hawa pagi ini mulai meniupkan roman-roman dingin, saya seneng. Seger rasanya.

---

Welcome to Hoan Kiem Lake! Secara harfiah, Hoan Kiem berarti 'Pedang yang Dikembalikan'. Menurut legenda, jaman dulu ada Kaisar yang mempunyai sebuah pedang ajaib yang diberikan oleh Dewa Kura-Kura. Suatu hari, nggak lama setelah Cina mengakui kemerdekaan Vietnam, si Kaisar  naik perahu di danau ini. Tiba-tiba, seekor kura-kura gede muncul trus hap! Nyaplok si pedang. Meski udah dicari-cari, si kura-kura maupun si pedang nggak ketemu-ketemu. Akhirnya, si Kaisar tawakkal aja. Mungkin si pedang emang kudu balik ke empunya, yaitu Dewa Kura-Kura.



Secara penampakan, menurut saya Hoan Kiem Lake agak mirip sama Danau Situlembang, Menteng, cuma jauh lebih gede (300x600 meter) dan lebih tertata rapih. Airnya sih sami-sami aja ya, ijo butek. Khas danau kota deh. Meski demikian, katanya kura-kura Hoan Kiem (species Rafetus Leloii) masih hidup disini lho, walaupun jumlahnya mungkin mentok di lima ekor, akibat kondisi air yang terpolusi.


Yang paling saya suka dari Hoan Kiem Lake adalah statusnya yang amat dicintai masyarakat sekitar. Mungkin karena dia letaknya di tengah kota dan kondusif buat leyeh-leyeh, alhasil warga Hanoi kayaknya seneng banget nongkrong disitu. Aktivitas utama para ibu, bapak, dan manula adalah olahraga--jogging, taichi, senam-senam sendiri--sementara anak mudanya duduk-duduk aja, ngemil, pacaran, atau baca koran. Nggak ada preman, asongan, pengamen, dan sejenisnya. Ashoy.



This is why I always enjoy travelling to socialist countries--meski di sesama negara berkembang, somehow terasa lebih teratur (atau mungkin gue sotoy aja sih seperti biasa hihi).

Kami berjalan mengitari danau, mengagumi pepohonan yang tumbuhnya aneh, ngeliatin kuil dari jauh, dan ngelirikin orang-orang yang semangat senam-senam sendiri. It felt very peaceful.


Duh, kok bagus banget nih ada bunga-bunga tulip?


Oh, plastik *melengos*

Ketenangan ini terganggu ketika kami melewati patung Kaisar Ly Thai To. 



Kebetulan di pelataran patung itu lagi ada senam massal ibu-ibu. Tau 'kaan, biasa kalo di Indonesia suka ada senam pagi massal di kantor pemerintahan atau lapangan, dengan instruktor mbak-mbak seksi, musik remiks-an ST12, dan peminat yang heboh banget.

Sama, disini juga begitu. Meskipun waktu itu yang ngikut nggak terlalu banyak, tapi ibu-ibu ini khot banget bagoyang pica-pica mengikuti sang instruktor dengan house musicnya. 


Tarik Bu, tarek!

Saya awalnya ketawa-ketawa aja.... sampe tiba-tiba mereka melakukan gerakan yang anonoh. Se-anonoh apa? Pokoknya pelvic-thrusting dengan tempo cepat lah, ahahay... Istighfaaar ibuuu! Inget anak, inget suami! Langsung pengen gue kekepin semua pake mukena.

Saya dan T ngakak-ngakak sembari pengen nyoba gerakannya (tapi sungguh nggak sanggup).

---

Kelar ngiderin danau, kami sarapan di sebuah kafe modern di pinggir jalan. Namanya Hapro Bonmua, dan ternyata cukup beken, melihat daftar cabangnya yang ada dimana-mana. Mereka juga nyediain menu yang cukup sophisticated, both Western dan Vietnamese. Misua mesen semacam pain perdu alias french toast,


sementara saya mesen apalagi kalo bukan pho lagi, pho lagi. Pho-sing deh!


Misua kurang suka sama pain perdu-nya yang agak soggy. Tapi kalo soal makanan, T emang jagonya deh: jagonya ngeluh! Coba dimasakin langsung sama Gordon Ramsey, pasti teteup ada aja komplainnya. Kalo saya, Alhamdulillah, rumput dikecapin juga dimakan. Jadi meski Pho Bo saya--kalo boleh jujur--biasa aja, tetep saya tenggak sampe abis. Rasanya lumayan banget kok dibanding Pho kemaren. Plus, laper ya bok abis jalan-jalan dingin pagi-pagi. Bawaannya pengen nelen sapi utuh...

---

Habis sarapan, kami batal capcus ke tujuan berikutnya, karena Tuan Putri tiba-tiba kebelet buang hajat dan menolak keras pake toilet umum, ahahaha. It's my thing, yunow.  Saya mending nahan 3 hari 3 malem dibanding kudu di tempat umum, meski di tempat mewah. Don't ask me why, mungkin cetakan p*ntat emang klopnya sama toilet rumah atau kamar hotel sendiri?

Meski agak menderita dan harus kegel "belakang" sepanjang perjalanan, Alhamdulillah, kami balik melewati rute cantik, dimana nuansa gedung-gedung antiknya terasa banget. Ditambah smog-nya Hanoi yang kentel banget, pemandangan kota ini jadi terasa vintagenya. Kalo nggak inget bawaan toilet, rasanya pengen foto-foto terus sampe batre kamera poket abis. 
 


Beres urusan hajat di hotel, kami lanjut ke Ho Chi Minh Mausoleum yang legendaris itu, dengan taksi. Dapet supir brengsek lagi (as always) yang berusaha muterin kami dulu biar argo mahal. Tangan udah siap jambak rambutnya dari belakang. Alhamdulillah, kami berdzikir dengan sabar aja (memang betul-betul pasangan bau surga!).

Mausoleum ini adalah memorial atau bangunan peringatan untuk Ho Chi Minh, presiden pertama Vietnam yang sangat dicintai rakyatnya. Mausoleum ini berdiri di tengah Ba Dinh Square, lokasi proklamasi kemerdekaannya Vietnam. 




Isi mausoleum ini apaan? Ya mayat dong (nyimpen mayat kok bangga...). Aslinya, Presiden Ho Chi Minh pengen dikremasi setelah meninggal, tapi mengikuti kebiasaan negara komunis lainnya, jenazah beliau akhirnya diawetkan di dalam mausoleum ini. Ini sama halnya seperti Vladimir Lenin yang diawetkan di Lenin's Mausoleum di Red Square, Moskow, dan Mao Zedong Mausoleum di Tiananmen Square, Beijing. Kebayang kalo Indonesia negara komunis, mungkin sekarang kita masih bisa halo-halo sama jenazahnya Soekarno, hadeuh...

Setaun sekali, jenazah Ho Chi Minh diterbangkan ke Moskow untuk dimandikan dan dibalsemin dengan cara khusus, supaya tetep awet. Kudu terbang ke Moskow karena ramuannya cuma dipegang oleh Rusia. Makanya, ada bulan-bulan tertentu dimana si mausoleum tutup sebulan penuh, karena Uncle Ho lagi terbang ke Rusia.

Mausoleum ini juga tutup tiap hari Senin alias HARI INI. Kami udah tau sih, jadi nggak gondok kok. Emang rencananya mau ngeceng di Ba Dinh Square aja. Padahal katanya seru banget lho kalo mau ngeliat jenazah Uncle Ho ini... pengawasannya ketat sekali, nggak boleh motret, tangan nggak boleh tersembunyi (masuk kantong) dan nggak boleh berhenti (jadi antrian berjalan lambat, asal ngalir terus seperti air). Kalo ada yang berani aneh-aneh, mungkin langsung di-dor sama penjaga militer yang siaga tiap lima meter disitu! Maybe next time yaaa...

---

Setelah dari mausoleum / Ba Dinh Square, kami berjalan kaki menuju One-Pillar Pagoda

One-Pillar Pagoda is what its name: a one-pillar pagoda. Nggak kreatif ya? Seperti si film yang berjudul Snakes on A Plane. Tentang apa sih? Ya tentang snakes on a plane. Titik. Yassalaaam... Dengan demikian adanya, OPP ini sebenernya kurang menarik. 


Historically, kuil kicik ini didirikan oleh Kaisar Ly Thai Tong yang mendambakan seorang anak. Ketika akhirnya berhasil mempunyai seorang putra, beliau mendirikan kuil ini sebagai rasa syukur.

We honestly just passing by. Cuma ngeliat sekilas dari luar, dan lagian emang nggak ada apa-apanya lagi. Males juga nengok dalemnya, karena isinya cuma shrine biasa.


Kami lanjut ke Ho Chi Minh Museum, yang letaknya sudah berdekatan.

Inti dari museum ini adalah memamerkan sejarah kehidupan Ho Chi Minh dari lahir hingga wafat. Dari luar sih gedungnya terlihat jadul dan 'Orba'. Kami sempet skeptis, palingan isinya lusuh, seperti kebanyakan museum di Indonesia. Ternyata! Selain lumayan luas, museum Ho Chi Minh ini juga lengkap, terawat, dan informatif banget. Display-nya juga kreatif-kreatif, bahkan cenderung avant garde alias bikin nggak ngerti. Misalnya, tiba-tiba ada display buah-buahan dan meja makan raksasa, yang nggak ada hubungannya samsek sama HCM. Ya uliiih. Padahal ini museum sejarah ya, kok nyaru sama museum seni....






KFC's Colonel Sanders on a diet, is that you?

Kami menikmati menyaksikan sejarah hidup HCM lewat museum ini, walaupun nggak paham 100%. Tapi satu hal yang sudah pasti kami tangkap adalah, beliau sangat dihormati dan dicintai sama rakyatnya. Nggak gampang jadi pemimpin yang konsisten dan tulus, tapi liat dong hasilnya kalo berhasil bersikap seperti itu... dipuja sampe berabad-abad seperti HCM. Ckckck.

---

Kelar dari HCM Museum, waktu menunjukkan jam 11.00 siang, dan kami memutuskan untuk balik ke hotel karena bentar lagi musti check-out.

Kami nyetop sebuah taksi untuk balik, and it was a big mistake. Kami tau sih, merk taksi yang 'lumayan' terpercaya di Hanoi adalah Vinasun atau Mai Linh, but sometimes we're just too damn tired to be picky, albeit the catch. Alhasil, kami nyetop taksi ngasal, seperti biasa. Toh kami udah terbiasa sama argo + sopir resek.

Ternyata! Sopir dan taksi yang satu ini reseknya pangkat tiga dueh! Resek-resek-resek! Pertama, argonya adalah argo tersinting yang pernah kami liat. Nggak ada itungannya dan tinggi sekali! Jadi misalnya, dari Rp5,000 trus 30 detik kemudian jadi Rp16,000 trus semenit kemudian jadi Rp30,000 dan seterusnya. Pokoknya kelipatannya suka-suka aja deh, super random. Alhasil, baru sepertiga jalan, argonya udah hampir mencapai 100,000 VND. Gilak syaithon jin ifrit! Lebih mahal dari harga hotel nih lama-lama!

Akhirnya dengan kekuatan bulan, kami maksa si sopir taksi untuk berhenti. Otherwise, nggak punya duit di dompet bok. Sampe terjadi keributan kecil,

(bayangkan convo ini terjadi dalam bahasa Tarzan ya, campuran Inggris-Vietnam)
Kami: "Pak, berhenti disini aja, Pak"
Sopir: "Lho, katanya ke Hoan Kiem Lake?"
Kami: "Nggak jadi Pak, sini aja."
Sopir: *nyuekin*
Kami: "Pak, sini aja Pak! Hoy!"
Sopir: "Kenapa sih?? Itu depan udah Hoan Kiem Lake!"
Kami: "Eeeh, suka-suka! Pokoknya sini aja Pak!"
Sopir: *nyuekin*
Kami: "Hoy Pak! Sini aja!!!"
Sopir: "HEH DIEM, LIAT NGGAK LO TUH DEPAN PULISI? NGGAK BISA BERHENTI DISINI!"

Kami gondok.

Si sopir pun ngepot sedikit, dan berhenti ketika sudah menjauh dari polisi. Kami lempar duit ke dese sambil ngomong, "You are crazy, very bad, you know that?!" trus banting pintu. Sopirnya sih mana peduli lah yaw.

Kejadian ini, meski minor, membuat mood kami jadi jelek. Bukan hanya rugi duit, tapi 'kan perasaanku yang sehalus gulali ini nggak bisa dibentak-bentak sama stranger! Mau kenek angkot di kampung halaman kek, atau sopir taksi di negeri orang *nangis di danau* KESEL! Cuih cuih!

T juga kesian. Kayaknya harga dirinya agak tercabik, karena merasa nggak bisa lebih 'galak dan preman' ke si sopir. Do'i juga menyesal kenapa masih hobi nyetop taksi asal. Pokoknya mood berdua kacau berat deh.

Hhhhh. Ya sudahlah, kata orang, penyembuh kekesalan hati hanya satu, yaitu... makan. Yeuk.

---

Di dekat Hoan Kiem Lake, terdapat sebuah ice cream parlour terkenal bernama Fanny. Tempatnya modern dan Frenchy, dan pilihan menu es krimnya astarojim buanyak banget. Campurannya pun sangat kreatif. Ada puluhan macam sundae dan gelato, belasan macam banana split, macem-macem crepes, variatif banget deh pokoknya.


Supaya hati ini agak adem, terpaksa deh pesen dua es krim porsi gede *alasan*. Saya lupa, campuran es krim kami apa aja, tapi yang pasti enak sekali. Semua es krimnya homemade dan organik lhoo, aaamm nyam nyam nyam.



Akhirnya nggak abis karena kedinginan dan tenggorokan perih. Eaaa!

Kelar makan dessert, kok rasanya masih ada yang kurang ya? Hati belum 100% lega lho, akibat si taksi resek. Apa harus makan gede? Akhirnya, ujung-ujungnya nyangsang di KFC, Masya Allah...

---

Selesai makan, kami balik ke hotel, mandi, packing, dan siap-siap. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang. Kami pun turun ke bawah untuk check out. Alhamdulillah, check-out berjalan mulus berkat staff hotel yang baek-baek dan jujur. Yang tipenya gini kudu dikloning dan dijadiin sopir taksi Hanoi deh. 

Setelah check-out, saya naro titipan buat Sisie di resepsionis . 

Sisie is my college friend who now lives, works, and mates (alias dapet tunangan) in Hanoi. Tadinya kami mau ketemuan melepas rindu, tapi karena Embak Sisie salah liat kalender (makjang), akhirnya semuanya miskom dan batal ketemuan deh. Huuuu. Tapi titipan harta karun Indonesia dari gue tetep wajib disampaikan: indomie! Muahaha... yaaa perantau Indonesia ngidamnya apalagi sih kalo bukan itu?

Saya titipin di resepsionis untuk diambil Sisie sore hari, sepulang dia kerja.

Resepsionisnya menatapku curiga pas dititipin Indomie. Dikira bom kali ya.

---

Oya, karena pesawat kami ke Siem Reap masih jam 17.00 nanti, kami memutuskan berangkat ke airport jam 14.00 aja. Untuk membunuh waktu, enaknya ngapain ya? Jalan-jalan udah, makan udah, shopping nggak demen... nah, pijet aja deh. Kebetulan di samping hotel ada semacam spa ala Cozy, yang menawarkan berbagai macam pijet (tanpa plus-plus). Harga agak mahal, tapi tempatnya memang modern, bukan massage pinggir jalan gitu. Dan akhirnya kami ambil pake foot & hand massage with hot stone, sampe ketiduran dan mimpi berlapis ala Inception. Aaaah, ne'mat.

---

Jam 14.00 kami diantar ke airport oleh mobil hotel, check-in di counter Vietnam Airlines, dan menunggu manis sampe waktu keberangkatan ke Siem Reap. Bismillahirrohmanirrohiim.

Next: Kaki pengkor di Angkor (gede banget maaak tempatnyaaa...)

8 comments:

  1. haaa kena argo kuda lumping 2x selama di hanoi lei? itu mai linh bukan 2-2nya?

    oye gue punya temen orang aseli hanoi di sg sini. bener kata loe, ganteng abis! dan dia gak terima makanan hanoi dibilang hambar hahaha. dia bilang buktinya dia ga masalah makan di sg lol.

    yo wes la coba ntar kl gue kesono, minta rekomendasi resto mana dulu ama dia.

    on other note...visa aussie gue belum mao di proses ama kedutaan sini karena mereka beralasan 'cuma mao proses aplikasi visa sebulan sebelum intended travel date' ah yang boneng?? gimana aye book hotel kalo gitu dong ah.

    *crescent.shadow @ fd*

    ReplyDelete
  2. ih lama2 nih trinity kalah dehhh, hihi.. :D

    sudah dapat dipastikan, klo someday ke vietnam *amin*, bakalan di print out, trus kekepin ketek.. :D

    ReplyDelete
  3. Cres: Mmmm, seinget gue bukan Mailinh or Vinasun, Cres. Tapi emang pada prakteknya sih, kita udah keburu capek nunggui Mailinh / Vinasun muahaha... No pain no gain!

    Iyaaa, minta rekomendasi restoran giiih. Jujur yang gue rasain pada hambar semua, cis! Temen Hanoi gue sih ngasitau ada restoran yg beken banget pork ribsnya, katanya enak buanget :D I cannot try, but you can can? ;) Tanyain deh.

    Serius Cres? Kok ribet? Gue baru tau Aussie bisanya sebulan sebelum berangkat, dayumm. Ya udah, ditunggu entar dulu bisa kah? Hotelnya bakal rebutan banget kah?

    Ita: Ya olooo amiiin, bisa ngalahin Trinity ahahaha... Nggak usah ngalain deh, kerjasama dulu aja deh hehe. Gmn Singaporenya seru, Ta? :D

    ReplyDelete
  4. kayanya ice cream parlour kaya gitu nge-trend yah mba di vietnam.. pas ke ho chi minh, host family jg ngajak hang out nya makan ice cream. :D
    ah baca ini jd pgn ke hanoi.. museum HCM nya lebih keren, dan kotanya nampak lebih indah daripada HCMC yg crowded nya subhanallah sekali. :D
    thanks for sharing, mba.. :)

    ReplyDelete
  5. hihihi, orang cuma one day tour doang ko.. :p
    kan cuma biar bisa 'ciye-cino-nek-mrt-ciye' atau 'ciye-uda-sampe-orcat-euy', ahuahuahua.. :D

    ReplyDelete
  6. Anti: Ow, aku nggak tau kalo ngetren apa nggak... Tapi emang spot a few parlours sih di sekitar Hoan Kiem Lake.

    Aaah, emanggg, you should go to Hanoi deh. Kecantikannya itu yang membuat kami milih Hanoi dibanding ke HCMC, walaupun lebih jauh dari Jakarta hihi.

    ReplyDelete
  7. Satu hal: NGIRI SAMA VIETNAM soal TAMAN dan MUSEUMNYA!!

    Kapan ya kita bisa punya taman yang bersih dari PKL dan orang yang buang sampah sembarangan. Kapan ya kita bisa punya museum yang keren dan bisa dibanggakan. Nggak creepy kayak museum-museum di Indonesia (padahal barang-barangnya sesungguhnya di sini itu banyak yang JAUUUUHHH lebih keren)...*merenung memandangi langit2 rumah...*

    ReplyDelete