Mar 11, 2011

Here We Go

Sekitar seminggu lalu, saya iseng-iseng tengok kalender. Trus mendadak mikir, hmmm, kayaknya Sabtu wiken ini gue kudu ngapain yaa... ngapain ih... apakah bayar utang? Dateng ke kawinan orang? Sejurus kemudian baru inget,

lah gue 'kan musti keluar negeri!!!

Hebat ya, bisa nyaris lupa tanggalnya.

Yes, ledis en jentelmen, setelah berencana sejak dua bulan lalu, akhirnya tiba juga waktu kami untuk au revoir sejenak dari tanah air (latar belakang dan motivasinya bisa dibaca disini). Intinya sih pasutri Lei & T mau melancong ke Siem Reap, dengan persinggahan di Singapore dan Hanoi. Lalu lanjut ke Beijing. Lho kok, bisa nyangsang ke Cina?

Jadi, yang Beijing nih rejeki nomplok banget deh. Ceritanya, sebuah biro travel sedang gencar melakukan promosi untuk diliput berbagai media tanah air. Kebetulan majalah saya diundang untuk tour 4 hari di Beijing, dan sebagai gantinya, si majalah harus nulis artikel advertorial tentang Beijing trip ini. Ditunjuklah saya sebagai penulisnya. Jadi deh, ana dapet jatah plesiran gratis bersama segambreng wartawan dari media lainnya. Semua bener-bener ditanggung, mulai dari visa sampe makan 3x sehari, kecuali soping-sopingnya. Iiiih asiiik...

Begitu saya kasitau T, tentu saja, hanya satu kata yang terucap dari mulutnya: "IKUT." Maka dengan malu-malu, saya tilpun si biro travel dan minta ijin, "Mbak, suami saya ikut ya, ya ya?" Iiii, tengsin banget deh, kesannya aji mumpung. Tapi Alhamdulillah boleh ikut lho (tapi bayar), katanya masih ada slot untuk T.

As mentioned, T sih bayar penuh, sama sekali nggak ada gratis-gratisnya. Tetep lumayan lah ya, bayar untuk 1 orang tapi pergi berdua. Ucapkan hamdalah yuk, Mas. (ciyeee... sejak kapan manggil Mas?)

Gara-gara ada JJS ke negeri Cenes mendadak ini, saya dan T harus merombak itinerary perjalanan Indochina kami. Yang tadinya 8 hari, disunat menjadi 6 hari aja. Soalnya begitu kami mendarat di Jakarta, malemnya musti berangkat ke Beijing lagi. Keren ya, kayak artis penting lagi world tour...

Jakarta - Singapore (1 malam)
Harusnya di Singapore ini cuma transit, soalnya nggak ada lowcost carrier yang terbang langsung dari Jakarta ke Hanoi. Tapi lagi-lagi saya merasa ada apaaa gitu ya di Singapore, something that I shouldn't miss...

Oh izaaa! Bulan Maret ini 'kan Singapore lagi ngimpor The Lion King-nya Broadway! Hor-hor-horeee! 

Jadi, The Lion King adalah pementasan teater yang mengadaptasi cerita animasinya Disney. Dulu bermula di Broadway, New York. Tapi saking keren dan inovatifnya, pementasan ini dibawa pentas 'keliling' dunia. Prestasinya jangan tanya. Saya bakal mabok kalo kudu nyebutin satu-persatu penghargaan dan puja-puji untuk pementasan legendaris ini.


 

 


Di Broadway sendiri, The Lion King masih jalan terus, dan 2011 ini adalah tahun ke-14 mereka pentas sejak 1997.

Mau nyombong dikit boleh yaaa (boleh dong, 'kan itu fungsi utamanya blog *dibunuh massa*). 

Sebenernya tahun 2007, saya sempet nonton The Lion King di Minskoff Theatre, Broadway langsung. Persiapannya sampe heboh banget: nonton ulang DVDnya 100x lagi, ngafalin musical numbersnya dari hasil downloadan (yang banyak beda sama film animasinya), sampe-sampe nyiapin batik untuk hari-H (padahal nowadays, orang pake jeans nonton Broadway juga bodo amat sih). Eeeh apa yang terjadi sodara-sodara? Saya ketiduran pules les les sampe nganga di tengah pertunjukkan. Haaaa rugi bandar deh! Tapi jangan salahkan bunda mengandung yaaa, it was my first week in New York City, dan berhubung raga ini sudah tidak remaja, waktu itu sempet jetlag gegilaan.

Untuk menebus dosa 'ketiduran' dulu, saya niatin mau nonton The Lion King Singapore ini dengan sekhusyuk mungkin. Kalo bisa selotip kelopak mata biar nggak kedip sedetikpun! Meskipun denger-denger cast-nya akan dicampur dengan cast lokal. So instead of seeing an African-American little Simba ('peraturannya' sih semua main cast The Lion King musti African descent, biar kerasa original kali ya -red), we may be seeing a little Chinese Simba. 

... krik krik...

Ya OK lah, asal jangan berlogat Jay Chou di film The Green Hornet ya! Genggeus! Bisa ngamuk nih Tante!

Di Singapore, The Lion King dipentaskan di Marina Bay Sands Theatre. Tiket sudah dibeli secara online sejak bulan lalu, dan print-annya dicium tiap malam sebelum tidur. 

Oh, I just can't wait to see King!

Singapore - Hanoi (1 malam)

Whaaat... Jauh-jauh ke Hanoi cuma bakal numpang bobok semalem?? 

Sadly, Hanoi memang bukan tujuan utama kami sih (Siem Reap is). Jadi ketika kami harus memangkas durasi jalan-jalan ini, Hanoi-lah yang kena imbasnya. 

OK, OK, kalo mau jujur, alasan tambahannya adalah karena we couldn't stop hearing about how brutal Hanoi can be for tourists and visitors. I'm 100% sure Hanoi is a beautiful place, tapi yang kudengar, attitude orang-orangnya nggak se-biyutiful kotanya. Aduuuh, lemah banget ya tuan putri dan tuan pangeran ini, ahahaha...

Malah tadinya kami mau nginep di kapal di Halong Bay yang amat sangat cantik. Tapi mendengar cerita susahnya mendapat tour operator yang jujur, plus berita tentang tenggelamnya (lagi) kapal di Halong Bay yang menewaskan sekian turis, we kiss the beautiful Bay goodbye aja deh. 


Baybay, Halong Bay...

Jadi dengan waktu yang cuma semalam, kami akan berusaha memaksimalkan jalan-jalan di kota Hanoi. Insya Allah akan menjajal daerah Old Quarter, Temple of Literature, nongkrong sama opa-opa taichi di Hoan Kiem Lake, melihat-lihat pagoda (bu goda-nya enggak? Bad joke, abaikan), nonton Water Puppets, and overall people watching. Oh and eat! Glorious Vietnamese dishes! Ommm nom nom nom. 

 
Hoan Kiem Lake
 
 

Old Quarter - kota tua yang sekaligus jadi pusat turis

 

Temple of Literature


Water Puppet khas Vietnam

Sayang sekali kami nggak bakal liat jenazahnya Ho Chi Minh karena mausoleumnya bakal tutup saat kami disana, but hey, it gives more reason to come back! 

 

Ho Chi Minh Mausoleum

Berhubung kami males ditipu-tipu taksi/ojek Hanoi yang katanya sadis, kami akan berusaha jalan-jalan on foot saja. Toh Hanoi sangatlah compact, jadi jarak antara satu point of interest ke yang lainnya nggak terlalu jauh. Plus, it's still pretty cool there, around 19 degrees Celcius, jadi nggak pusing kegerahan (hayooo, yang nggak tau Vietnam tuh 4 musim angkat tangan!).

Bismillah! Ayo betis, make mama proud!

Hanoi - Siem Reap (3 malam)

Dari Hanoi, kami akan bertolak ke Siem Reap, the little city with amazing temples, di Kamboja. Dan setelah meneliti berlusin-lusin kuil menakjubkan yang ada disana, saya langsung pengen gigit tiket: 3 nights are definitely, DEFINITELY, not enough for Siem Reap. Darn it!

Orang-orang mungkin cuma familiar sama nama Angkor Wat, yang memang paling besar diantara semua, tapi sebenernya ada boanyak sekali kuil selain Angkor Wat dengan keunikannya masing-masing, seperti Bayon dan Ta Prohm. Dan kalo punya waktu, sangatlah disarankan untuk liat-liat kuil di luar Siem Reap, seperti Beng Mealea yang keren berat. Duh, gemes aku, mengingat efektifnya kami cuma punya waktu 2 hari buat jelajah kuil...

Tadinya kami mau DIY aja: beli guidebook setebel buku telpon, sewa tuk-tuk seharian penuh, dan berjalan gagah menuju kuil-kuil itu sendiri. Ceritanya mau mengulang masa kesotoyan saya di Candi Borobudur, sok-sok nerjemahin makna dan kisah bas relief yang ada, "Hmmm.... relief ini kayaknya mengisahkan tentang raja yang mempunyai anak gadis, tapi anak gadisnya waktu kecil dituker, dan anak gadisnya bernama Amira..."

Loh kok jadi sinetron.

But who doesn't want to hear good and authentic stories? We all do. Maka akhirnya kami menyisihkan duit untuk membayar pemandu berlisensi, alias licensed guides, yang akan membawa kita keliling kuil-kuil Siem Reap sambil menceritakan kisah-kisah sejarah dan fakta mengenai tempat-tempat tersebut. 

DIY mungkin seru dan murah ya, tapi rasanya saya nggak mau cuma dateng, jeprat-jepret foto banyaaak sekali, tapi pas dirumah ditanya, "Ini kuil apa? Ini patung raja apa?" cuma bisa jawab "Nggg...."

Alhamdulillah, pemandu berlisensinya udah dapet, murni dari browsing keras selama dua hari penuh. Udah email-emailan, dan setuju dengan jadwal dan harga yang diajukan. So, guides, share us good stories dan jangan ngarang-ngarang bebas ya!

Our schedule:
Day 1: Sunrise hike to Angkor Wat, then Ta Prohm, and lastly Angkor Thom with its magnificent Bayon
Day 2: Visiting Beng Mealea

 
Angkor Wat

 
Bayon

 
Beng Mealea


Ta Prohm, yang selalu dipromosiin sebagai 'lokasi soting Tomb Raider' sampe bosen.

Tapiii, there's so much more than temples in Siem Reap, you know. Lagian mabok juga kalo tiap hari, dari subuh sampe malem, yang diliat kuil melulu. Nanti liat muka T kayak liat muka batu deh! Maka dengan bantuan Tripadvisor dan seorang teman yang sempat tinggal di Kamboja, kami me-listdown nice places to eat sebagai incaran tempat nongkrong di malam hari.

Dan wah! Banyak sekali! Dan nggak cuma di Pub Street (Pub Street adalah daerah semacam Kuta / Seminyak-nya Siem Reap. Sesuai namanya, jalan ini dipenuhi pub dan cafe seru. Cuma kata temen gue, "Jangan ke Pub Street ah, isinya backpackers bauk semua...").

Selain makan, Insya Allah diniatin mau ke nonton Apsara Dance Show, yang merupakan pertunjukkan tarian tradisionalnya Siem Reap, ditarikan oleh gadis-gadis muda cantik. Lokasinya ada dimana-mana, tapi selalu di restoran atau hotel, dan nontonnya sambil makan malam. Jadi ini bukan tipe pertunjukkan tari Kecak yang nontonnya kudu ngejogrok di pinggir tebing Uluwatu...


Oya, berdasarkan hasil riset, resort di Siem Reap tuh bagus-bagus banget yaaa... Sebelas dua belas deh sama Bali. Harganya variatif, mulai dari yang terjangkau, sampe yang mahal kayak The One Hotel Angkor. Tapi wajar mahal ya, karena konsep The One Hotel Angkor adalah menyediakan hanya satu kamar... Jadi, seluruh resort dan setengah lusin staffnya hanya untuk ente seorang. Pingsan!

Oya, yang namanya 'mahal' di Siem Reap tuh sebenernya nggak terlalu mahal. Kalo di Bali, konsep The One mungkin akan dihargai belasan juta. Harga aslinya? 250 USD saja. Asli, mahalan hotel gue waktu honeymoon dulu kali.

Kinda regret why we didn't honeymoon in Siem Reap.

Anyway, lanjut ke Beijing!

Beijing (3 malam)

Sebenernya soal Beijing, saya tinggal garuk-garuk ketek aja nunggu keberangkatan. Namanya juga ikut tour group yaaa, sama sekali nggak perlu ngatur apa-apa. Tempat yang dituju pun nggak aneh-aneh, standar tujuan turis semua seperti Tiananmen Square, Forbidden City, Great Wall of China dan Olympic Stadiums yang keren sangat itu -- Bird's Nest dan Water Cube.

Alhasil, saya sama sekali nggak riset, padahal biasanya saya bisa muntah-muntah senewen kalo traveling nggak riset dulu (berlebihan!). Apalagi ini judulnya mau meliput, baiknya sih tetep baca-baca dulu tentang tempat-tempat tujuan ya. To be one step ahead, gitu lho.

Tapi alasan saya nggak sempet riset adalah: saya lebih sibuk hunting baju anget.

Zadi, sekarang ini temperatur di Beijing bisa mencapai di -2, dan saya nggak pernah ngerasain udara dibawah nol derajat sejak ke Jerman dulu... tepatnya 24 taun lalu. Ahahaha! *nggak lucu*

Kalo cuma sepuluhan derajat, Alhamdulillah saya udah sering (sombooong... maksudnya udah biasa ke kawah gunung Bromo, gitu!). Jaket-jaket nanggungnya juga udah siap. Tapi kalo sampe mines, astaga, saya belum punya jaket kulit badak atau winter coat model Eskimo!

I'm dead nervous, terutama untuk T yang nggak punya jaket tebel, dan nggak pernah ngerasain udara dibawah belasan derajat. Maka selama seminggu terakhir saya panik banget ngebongkarin jaket-jaket Siberia bokap yang udah jadi sarang ngengat, pinjem syal sana sini, dan bela-belain beli longjohn buat T (padahal harganya syaithonirrohim mahal banget! Dapet deh tas kulit ZARA sebiji! Ternyata longjohn tuh nggak semurah sempak ya...).

Sebenernya saya juga nggak punya jaket tebel sih, tapi Alhamdulillah punya banyak sweater hasil warisan nyokap, mulai dari bahan lambwool sampe kulit sunat juga ada deh... Jadi, saya tinggal pake sistem layering aja.

Trus, seperti yang disebut tadi, kita hanya ada waktu sekian jam di Jakarta, sebelum bertolak ke Beijing. Makdarit, kami heboh ngepak dua koper at the same time: satu koper ringan dengan baju-baju 'tropis' untuk ke negara-negara Indochina, satu koper geda dengan jaket-jaket tebal untuk Beijing. Jadi pas sampe Jakarta, tinggal taro koper yang satu, dan angkut koper satunya. Heits!

Maka, dengan segala drama packing tersebut, nggak sempet deh saya online research. Nanti sisihin duit beli Lonely Planet's Guide to Beijing aja ya, trus dikebut baca di pesawat.

Oh, And One More Thing...

Untuk trip Indochina, kami nggak jadi backpacking. Ahahaha. Lemaaah... lemaaah...

Sebenernya, ada dua alasan kenapa orang mau backpacking. Pertama, karena emang bokek. Kedua, karena pretentious ajaaa... keren banget dong, punya cerita pengalaman bertahan dengan 5 dolar sehari di negara orang. 

Alasan kami? Sejujurnya? Bagi T sih yang nomer 1, tapi bagi saya yang nomer 2. Ahahaha... Gimana sih, suami estri kok nggak kompak...

Anyway, niat awal kami memang backpacking murni. Nggak bawa koper, bertahan hidup degan uang seminim mungkin, dan berpindah-pindah negara lewat jalan darat jika memungkinkan. Eeetapi, begitu browsing hostel dan motel, tuan putri Lei jejeritan liat kondisi dan kamar mandinya. Terutama untuk kamar yang sangat komunal, yang sekamarnya bisa ber-12 orang. "Aku takut be'olnya orang nggak disiram! Aku takut dibunuh!!!" Trus nangis....

Ditambah dengan waktu yang sangat mepet, akibat trip lanjutan ke Beijing, nggak mungkin bepergian lewat jalan darat pula ya. Makan waktunya itu lho.

Akhirnya kami merubah haluan, menjadi 'flashpacking'. Intinya sih, mentalnya tetep low budget traveling, but with a bigger budget than extreme backpacking. Patokannya, kalo Princess Lei udah sampe mimpi buruk liat hostelnya (meski nggak komunal), yah pindah ke motel yang agak decent deeeh. 

(idih, kapan bisa jalan-jalan ke India ya kalo sipat jijikan saya masih dipertahanin gini...)

So in the end, kami menggantungkan nasib kepada lowcost carriers seperti Tiger Air dan Jet Star dan tidak bawa bagasi (tetep tenteng gembolan selalu), dan nginep di penginapan-penginapan murmer yang dibooking lewat the always reliable Agoda, supaya dapet diskon banyak.

Tomorrow morning we're leaving! Wish us all the best of luck, and I'll see you in 10 days. Kthxpai!

11 comments:

  1. Lei, longjohn tuh nama roti tauk..

    ...

    happy nyarisss bekpekeran yah!!

    ReplyDelete
  2. Lei, ternyata kita beda seminggu Lion King-nyaaaa.... Hehehehe... Jangan bobok lagi yah.

    Kudos buat persiapan Indochinanya. Researchnya lumayan lengkap kap kap. Salute! Have a great trip! Oh iya, kalo buat suhu minus sih (say hello to this Wisconsin gal that used to "enjoy" -10C during the winter), somehow gue lebih nyaman tetep pake pea coat berbahan wool (campur cashmere dikit kalo ada). Soalnya kalo pake jaket eskimo, jadi kayak beruang...hehehe (tetep masih mikirin penampilan biarpun idung meler dan rambut membeku).

    PS: I'm kinda sad now, my Japan trip...gimana yah. 18 days to go nih, mendadak earthquake and tsunami. Oh no.

    ReplyDelete
  3. mampir ke haji musa lei (kamboja)..makanan halal...
    tom yam nya uenak...

    ReplyDelete
  4. hi ive been reading ur blog for quite sometime.. tapi ga pernah nulis komen hehe.. rute bulan madu kamu kurang lebih sama seperti aku kemarin.. tapi kalau aku rutenya kl-siem reap-bangkok-hanoi-halongbay-hanoi-kl.. hanoi itu bagus dan aman loh.. kotanya indah.. campuran east meet west.. aku sama suamiku jalan kaki kemana2 karena kita sengaja cari hotel di french quarternya jadi dekat kemana2.. kamu baca review dimana yah?? we met lots of tourist dan backpackers di hanoi and mereka semua enjoy kok :D

    dee

    ReplyDelete
  5. La, jalan-jalan gak lewat jalan darat itu rugi lho... Emang sih konsekuensinya lo mesti manggul ransel 10-15 kilo jalan ke sana-kemari, belom lagi risiko ditipunya lebih besar. tapi kalo naik pesawat kok kayaknya gak berasa ya? naik-turun-naik-turun pesawat, yang diliat pramugari doang....

    ReplyDelete
  6. iriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii... :))

    ReplyDelete
  7. mba Leila
    salam kenal ya..
    aku berencana ke Siem Reap bulan depan, sekaligus ke Ho Chi Minh
    aku boleh minta CP untuk lisensed guide di Siem Reap nya? serta harganya?
    sekalian rekomendasi hotel bagus nan murah di Siem Reap nya..
    thanks a bunch ya

    cHendy

    ReplyDelete
  8. Tari: Wah Kamboja sebelah mana nih? :) Di Siem Reap sih kayaknya gak nemu hehe...

    Dee: Oh Hanoi is beautiful kok, no doubt. Tapi aku dan suami sama-sama setuju bahwa (orang-orang) Hanoi belum terlalu siap dengan turisme, secara garis besar. Detailnya panjang sih, nanti deh direview. I'm sure many people enjoyed it, we also did, but not as much as Siem Reap :)

    Sources kami Tripadviser, LP, dan Travelfish. This is not honeymoon btw hehe

    Bowo: Nggak deh Wo... Dengan waktu cuma 6 hari dan rute nggak strategis Spore-Hanoi-Siem Reap, nggak mungkin gue buang waktu lewat jalan darat. Terlalu berjauhan. Next time aja kalo kotanya tetanggaan, misalnya Vientienne - Hanoi, atau klo gue lbh fleksibel dgn waktu :D

    Eee btw, gue bisa mati kali kalo backpacking dengan beban bawaan 10 kg haha. Gue aja nggak bisa lebih dari 7 kg. Gue 'kan duffel bag dan selalu cabin, nggak pernah masuk bagasi :D

    Andy: Tunggu aku di Seoul yaaaa!

    ReplyDelete
  9. Hai cHendy, minta emailnya yaa... Nanti aku japri :D

    ReplyDelete
  10. Leija
    email ku chendy.octaviana@gmail.com ya
    tengkyu berat...

    Chendy

    ReplyDelete
  11. ebuset. kalo mampir kabar2i yaaa... :D

    ReplyDelete