Nov 5, 2017

Kaos-Kaos Gemes


Pertengahan tahun ini, seorang teman baik gue ulang tahun.

Waktu itu, gue kepengen ngadoin do’i, tapi bingung—ngasih apaan, ya? Setelah ngulik-ngulik salah satu platform online shop palugada kesayangan kita semua, Instagram, akhirnya gue memutuskan untuk ngadoin dia sehelai kaos dari sebuah merek lokal.

Pas kaosnya gue terima, wow, kok kece ugha? Alhasil gue ikutan beli sehelai dari merek yang sama, trus memutuskan untuk mulai mengoleksi graphic t-shirt lokal. Entah buat dipakai nari, olahraga, atau buat menuh-menuhin lemari aja, lah! Namanya juga orang kaya!

Berikut beberapa koleksi kesukaan:

Ya Juga Ya adalah merek kaos lokal yang prinsip desainnya sama dengan Dagadu atau Joger: memainkan kata-kata. Maka ciri khas kaos mereka adalah menampilkan kata, kalimat, atau frase yang “nakal” dan cerdas.

Soal style, keknya mereka berprinsip less is more, karena desainnya sederhana sekali. Font-nya simpel banget—saking simpel-nya, gue yakin ngedesainnya cuma pake MS Word—dan pilihan warna kaosnya juga cuma hitam dan putih. Nggak ada kaos warna merah cabe-cabean, ungu janda, atau ijo tai ayam, misalnya.

Gue yakin kesederhanaan ini disengaja, supaya fokusnya ada pada permainan kata-katanya aja. Saking konsistennya pada konsep, mimin sosmed dan online shop Ya Juga Ya seringkali berpantun, lho, kalau menanggapi follower / pelanggan. Kalau gue lagi good mood, diajak mantun sama mimin begitu rasanya lucuk-lucuk aja. Tapi kalau gue lagi nggak mood atau nggak sabaran, sungguh, rasanya pengen ajak mimin-nya berantem.


Kesimpulan: bahan kaos nyaman dan oke, desain kata-kata witty, meski ada bau pretentious-nya. Tapi hari gini, kalau mau eksis di sosmed katanya emang harus pretentious, yha? Uhuk.


Suara Disko adalah brand merchandise-nya Diskoria Selekta, duo DJ asal Jakarta yang spesifik memutar lagu-lagu (disko) Indonesia tahun 70an-90an.

Tahun ini, Diskoria Selekta sedang ngetop-ngetopnya, terutama di kalangan kids jaman now yang (berusaha) subkultur. Alhasil, banyak dedek-dedek sekarang yang fasih hapal lagu-lagunya Guruh Soekarno Putra, Mama Ina, dan Chrisye. Gaya mereka menghayati lagu-lagu jadul tersebut pun lebih khusyuk daripada orang-orang yang beneran lahir di akhir tahun 70an. Padahal, sih, pas tahun 2014 aja pada belum punya KTP buat nyoblos!

Gue sendiri nggak terlalu suka sama lagu-lagu disko jadul, tapi gue sangat mengapresiasi langkah Diskoria Selekta dalam membuat lagu lokal jadul kembali hip, sehingga menjadi lestari. Desain merchandise mereka keren-keren pula.

Kaos ini adalah salah satu bestseller Suara Disko, yang desainnya merupakan ode untuk Eros Djarot, alm Chrisye, Yockie Surjoprajogo (cepet sembuh, Om!) dan Fariz RM, menggunakan desain kaos The Beatles yang legendaris ini.

Bagi kids kalcer jaman sekarang, memakai kaos dengan nama-nama besar dalam sejarah blantika musik Indonesia ini tentunya membanggakan, walaupun mungkin mereka nggak mau ngaku bahwa sebenarnya mereka nggak terlalu paham lagu-lagunya Fariz RM, apalagi Yockie Godblesss (tapi gue, sih, ngaku aja emang nggak ngerti zzzz).


Kesimpulan: bahan kaosnya agak kaku, kualitas printing-nya nggak terlalu oke, dan ukurannya kok ketits amat. Tapi gue cinta sama desainnya. Lagian, lebih keren pake kaos Front Disko Nasional, dong, daripada kaos Front Pemuda Pancasila. Nggak, deh, makasih.


Toko 56 adalah toko merchandise MES 56, sebuah kelompok kolektif seni yang berbasis di Yogyakarta. Gue nggak sengaja menemukan mereka di Instagram, trus langsung jatuh cintrong sama kaos Keren Beken ini. Mungkin karena kaos ini sesuai dengan asa dan harapan gue: menjadi keren dan beken (dengan cara-cara instan, uhuk).

Lucunya, pas gue mentransfer duit untuk pembayaran, gue berkelakuan bak Rachel Vennya. Kalau nggak salah, harga kaosnya cuma 100 ribuan, tapi karena lagi nggak konsen, gue nge-transfer sampai 500 rebu! Nggak sampai 50 juta kayak Rachel, sih. Tapi lumayan sok tajir, ‘kan, salah kirim duit sampe segitu banyak, hihihi.

Dengan panik, gue langsung mengontak sang mimin Toko 56 untuk transfer balik duit kelebihannya. Untung Mas Mimin-nya—yang juga pengelola Toko 56 Shop—sigap dan baik hati. Duit gue langsung dibalikin, tanpa kurang sepeser pun. Lucunya, sejak itu kita jadi beberapa kali tektok chatting ngalor-ngidul. Gue sampe (katanya) mau dibikinin kaos khusus, berdasarkan kutipan yang nggak sengaja gue lontarkan ke dese. Kayaknya dia naksir gue, deh. Ya nggak, Mas Irwan? *dislepet dari Yogya*


Kesimpulan: bahan kaosnya mbois tenan, desainnya oke, warna kuningnya pun pas noraknya, sesuai selera gue yang juga norak. Malah kayaknya pengen tambo cie, alias beli atu lagi!


Club Anomaly adalah saudara satu boru ((satu boru)) nya Ugly-ism, sebuah merek apparel lokal yang sudah lebih dulu muncul. Bedanya, Club Anomaly mengkhususkan diri pada produk graphic t-shirts.

Gue suka sama kaos ini, karena desainnya merepresentasikan sisi introvert dan sisi ansos gue. Go away people, I want to hiiiide! Plus, desain bagian depan kaos ini menampilan aksen velvet, which I like. Biar kesannya mahal dikit, gitu.
Kesimpulan: bahan, desain, fit kaos-nya oke semua. Tapi kalau nggak salah, agak mahal aja dikit. Dikiiit.
 

Marishka alias Icha alias Icrut adalah salah seorang seniman ilustrator  kenamaan masa kini. Gue tau Icrut sejak jaman masih kuliah, dan ilustrasinya selalu khas dan konsisten kece, dengan tema kewanitaan.

Setau gue, Icha adalah salah seorang desainer Ugly-ism, tapi dia nggak punya merek merchandise sendiri. Namun pada suatu hari, Icha iseng-iseng produksi graphic t-shirt sendiri, dalam jumlah terbatas. Nah, inilah salah satu kaos produksi iseng-iseng tersebut yang aku syuka. Selain karena menampilkan ilustrasi Icrut segeda gaban, juga karena menampilkan tulisan Possessive Lover yang—mengutip seorang teman—“Elo banget, tuh, La.”

Laila Achmad—terkenal posesif sejak jaman dulu. Biarin, ah.
Kesimpulan: bahan kaos oke, desainnya apalagi, fit-nya juga pas. Cucmey! Bikin lagi dong, drawmamaaa.

Kamengski

Walapun kaos ini kegedean, bahannya agak gatel, dan sablonannya ngasal, ini adalah kaos keramatku, karena desainnya yang ngehek beraaaat!


Kamengski sudah lama terkenal sebagai salah satu pelopor graphic t-shirt parodi dengan desain-desain brengsek. Biasanya mereka memplesetkan merek, tokoh, atau artwork terkenal jadi alay. Misalnya, Jean-Michael Basquiat jadi Jean-Michael Biskuat, band metal AC/DC jadi AADC, Stussy jadi Stussy Susanti, dan kaos band The Smiths tapi gambarnya Will Smith. ‘Kan keseul.

Tapi desain yang paling ngeselin—selain Ozzy Osbourne jadi Ozzy Syahputra ini—adalah kaos berlogo band Nirvana, tapi gambarnya muka para personel band Hanson. Angchaaaat! :))) Apalah Kurt Cobain dengan Taylor Hanson, yegak. Pokoknya asal sesama pirang gondrong *dicekek fans Nirvana*

---

Incaran berikutnya: 1. graphic t-shirt bergambar salah satu cover Tempo, Rizieq Shihab bergaya pop-art, karya Bang Kendra Paramita, dan 2. semua kaosnya Kamengski yang baru.



(image: dok. @yajugaya, @aksaraindonesia, @toko_56, @clubanomaly @drawmama, pribadi. Top image: Sulaiman Said of Kamengski for Vice)

5 comments:

  1. Gokil2 yak itu gambar2nya hahahaha, jd pengen beli jugaakk :D

    ReplyDelete
  2. Wahaha, iya leh uga nih kaos2 lucu buat bikin penuh almari :)) Namanya juga orang kaya! Ya gak mbak lei, hihi

    ReplyDelete
  3. Ku jadi stalking atu2 ig nya nih.. thankyouu ka leiiii..

    ReplyDelete
  4. bucet, gambar terakhir muncul lagi.. my eyeeeesssss

    ReplyDelete