Jan 16, 2017

Nonton Film Bagus Apa di 2016?

Ada agenda apa Januari ini?

Kayaknya satu salah agenda yang wajib fardhu ‘ain banget adalah nonton La-La-Land, ya, film romansa musikal yang katanya dhuar banget bagusnya.

Awalnya gue nggak begitu tertarik, sih, karena gue nggak suka genre romansa. Tapi karena sekitar 1,000 orang di lingkungan gue bilang “MAYGAT, LALALALAND BAGUS BANGET SUMPAH WAW GELLLAAAK MATEK!” gue memutuskan, okelah, harus nonton!

Bicara soal film bagus, gue jadi mikir—mumpung masih Januari dan masih sah angkat tema retrospektif, nih—apa, ya, film yang bagus tahun lalu?

Sebenarnya, sepanjang tahun 2016 kemarin, gue jarang nonton. Seenggaknya, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tapi kalau harus pilih Top 3 yang paling berkesan, ini dia:

#3. Athirah
Drama, biopik


Pastinya. Soalnya, kalau gue nggak masukin film ini, nanti keluarga besar gue sebel. HAHAHA. Nggak, deeeng.

Athirah adalah film biopik yang mengangkat kisah ibunda wapres Jusuf Kalla. Film ini loosely diangkat dari novel biografi berjudul sama, yang ditulis oleh Alberthine Endah. Di ajang Festival Film Indonesia 2016 kemarin, Athirah sukses memenangkan beberapa Piala Citra, termasuk film terbaik.

Banyak orang nanya, apakah ini film pesanan wapres Jusuf Kalla?

Jawabannya, nggak. Awalnya, penerbit Mizan kepengen menerbitkan buku biografi tentang Bapak Ucu. Tapi Bapak Ucu bilang, “Nggak, deh. Buat buku tentang ibu saya aja.”

Setelah buku tersebut terbit, Mizan tertarik untuk memfilmkannya. Bapak Ucu oke, tetapi karena satu dan lain hal, film ini akhirnya diproduksi oleh Miles aja. Dan berhubung almarhum Ibu Athirah Kalla adalah nenek gue, film ini diproduseri oleh beberapa sepupu gue.



Kenapa Bapak Ucu menolak dibikinkan buku tentang dirinya sendiri, dan malah kepengen buat buku tentang ibunya?

Buat keluarga besar, kita langsung paham alasan beliau.

Gue sama sekali nggak pernah ketemu dengan nenek gue, Athirah, yang biasa kita panggil dengan nama Mamak Aji. Nggak pernah dengar suaranya, nggak pernah merasakan sentuhannya, nggak pernah mengalami kebaikan-kebaikannya. Beliau keburu meninggal sebelum gue lahir. Tetapi karakter dan kebaikan hati Mamak Aji sangat legendaris bagi seluruh keluarga besar Haji Kalla.

Dari kecil, gue ratusan kali mendengar cerita bahwa Mamak Aji suaranya nggak pernah keras, nggak pernah marah, sabarnya luar biasa, bisa sholat berjam-jam—bahkan seharian—untuk mendoakan anak-anaknya yang akan ujian sekolah atau menempuh perjalanan, cantik, lembut, pintar masak, sederhana walau hidup sangat berkecukupan, murah hati, bertakwa baik, dan rajin berderma.

Sampe-sampe waktu kecil gue mikir, “Is she real? Kok kayak tokoh kartun?”

You know, like a fairy godmother. Unreal.

Sebagai manusia biasa, Mamak Aji pasti punya kekurangan. Tapi saking beliau dicintai oleh anak-anaknya, kesalahan atau kekurangan beliau seperti nggak pernah terekam di ingatan anak cucunya. Ilang aja gitu, blasss.

Misalnya, kalau lagi nostalgia, bokap suka cerita bahwa kakek gue, Bapak Aji, bisa galak dan nyabet anak-anaknya pake ikat pinggang kalau pada bolos sholat dan ngaji. Ceritanya sambil ketawa-ketawa, kok, mengenang gaya parenting jaman dulu yang belum kenal omelan Elly Risman :D

Tapi bokap nggak pernah nostalgia lucu-lucuan yang mencerminkan “kekurangan” Mamak Aji. Misalnya, “Dulu, Bapak pernah disetrap seharian sama Mamak…” Padahal kejadian seperti itu wajar dan mungkin aja terjadi ‘kan? Tapi bokap nggak pernah cerita sekalipun.

Buat gue yang punya strained relationship sama nyokap, hal ini seperti sesuatu yang elusive dan hanya bisa gue bayangkan, tapi nggak pernah rasakan. It must be very magical.

Mamak Aji sudah meninggal tiga puluhan tahun lalu, tapi sampai detik ini, anak-anaknya—om-tante gue—masih suka berkaca-kaca kalau mengingat beliau. Sebagai ibu, jejak Mamak Aji jelas kuat dan berpengaruh sekali untuk keluarganya.

Wajar banget, yaaa, kalau Bapak Ucu lebih mau menyorot Mamak Aji lewat buku dan film, ketimbang menyorot dirinya sendiri.

Now here comes the moment of truth bagi gue, darah daging subjek utama film ini—apakah menurut gue, filmnya beneran bagus?

Menurut gue, film Athirah berkualitas, tapi nggak komersil ataupun menghibur.

Jalan ceritanya terasa kurang smooth, kurang relatable bagi mayoritas masyarakat, plus nggak ada adegan-adegan dramatis penguras air mata a la Habibie-Ainun, misalnya. Tetapi film ini diselamatkan oleh sinematografinya yang cantik, narasinya yang puitis, dan detil-detilnya yang bagus sekali. And of course, Cut Mini. The wonderful, wonderful Cut Mini.



Gue nonton film Athirah di acara premier-nya yang dikhususkan untuk keluarga dan undangan tertentu. Semua anggota keluarga besar Kalla janjian datang pakai sarung tenun Bugis masing-masing, dan di akhir film, sarung-sarung itu basah kena tetes air mata, terutama dari anak-anaknya Mamak Aji yang masih ingat betul perjuangan beliau di masa hidupnya yang paling berat—dimadu selama puluhan tahun.

Tapi momen yang paling berkesan bagi gue adalah ketika kita salam-salaman dengan para pemain film Athirah, seurasi acara pemutaran. Airmata gue pecah saat menyalami Mbak Cut Mini. Dengan terbata-bata, gue bilang, “Mbak, terimakasih, ya… Mbak memerankan nenek saya dengan bagus sekali, makasih ya…”

Lalu gue dipeluk dan di-puk-puk.

Al Fatihah untuk Mamak Aji tersayang. Semoga Mamak Aji berkenan dengan filmnya, dan bisa jadi inspirasi untuk banyak orang, aamiin.  

 
#2. Sausage Party 
Komedi, animasi


Buat yang udah nonton film laknat ini, kontras banget nggak, sih, dari Athirah lompat ke Sausage Party?! Hahahaha. Biar, deh. Biar hidup kita fariatip.

Sausage Party adalah sebuah film animasi komedi. Suara tokoh-tokohnya pun diisi aktor-aktor Hollywood spesialis genre komedi—Kirsten Wiig, Michael Cera, Paul Rudd, Jonah Hill, Seth Rogen (yang sekaligus jadi produser pleus penulis naskah).

Ada juga aktor-aktor kaliber macam Salma Hayek, Edward Norton, dan James Franco.

Dalam Sausage Party, dikisahkan semua barang yang ada di supermarket—berbagai makanan, minuman, bumbu, condiments, produk pembersih, dan sebagainya—sebagai antromorphic alias “hidup”.

Gol hidup mereka adalah dibeli manusia. Pokoknya, kalau ada barang yang dibeli sama manusia, dia akan seneeeeng banget. Soalnya barang-barang supermarket ini mengira, di luar supermarket ada “surga” bernama The Great Beyond. Alhasil mereka menganggap manusia adalah “dewa” yang akan membawa mereka ke surga tersebut.

Barang-barang supermarket tersebut nggak tahu, bahwa mereka sebenarnya akan dimakan atau dikonsumsi, sehingga akhirnya akan mokat.

Suatu hari, tokoh utama film ini—Frank si sosis—menemukan fakta bahwa sebenarnya manusia beli-beli barang supermarket hanya untuk dikonsumi. Nggak ada, tuh, The Great Beyond yang selama ini mereka idamkan. Manusia yang mereka anggap dewa pun ternyata rakus dan “kanibal” (di mata mereka, ya)

Gimana cara Frank meyakinkan teman-temannya sesama barang supermarket tentang hal ini? Tonton sendiri, deh!


This is not a children’s movie. I repeat, this is not a children’s movie. This is also not a movie for deeply religious people, karena film ini kuasuaaaar, juoroook, dan laknaaaat warbiyasak. Ya bahasanya, ya adegan-adegannya, ya jalan ceritanya. Pokoknya, crass banget. Daripada Ahok, film ini lebih cocok dijadiin bahan demo di Monas!

Memang, katanya film ini diproduksi dengan prinsip, “Bodo amat, daaaah… mau bikin film bego-begoan, dibikin bego banget aja sekalian!” Kualitas animasinya juga dibuat seminimal mungkin, untuk menekan biaya. Untung masih alus, sih. Nggak Upin-Ipin amat.

Kenapa gue memasukkan film ini sebagai film yang berkesan buat gue di 2016? Apakah karena mencerminkan kepribadianku yang laknat? Iiih, jangan, dong.

Sausage Party berkesan bagi gue, karena gue nonton film ini tanpa ekspektasi dan tanpa tahu sinopsisnya sama sekali.

Sebelumnya, gue udah menyangka film ini adalah film komedi, tapi gue pikir komedinya murahan dan nggak menghibur. So I was pleasantly surprised karena ternyata film ini ternyata punya jalan cerita yang dalem.

Jalan cerita Sausage Party, dengan segala analoginya, sangat mempertanyakan (menyindir?) tentang kepercayaan dan kefanatikan umat manusia tentang agama. Kayak, “Segala hal yang elo yakini ada selama ini… yakin ada?”

Tau lah, ya, gue emang suka mempertanyakan segala hal yang tampaknya obvious. Yakin hantu dan UFO itu nggak ada? Yakin langit itu biru? Seberapa yakin elo dengan pacar lo? #eaaa Yakin sama pilihan pilkada DKI Jakarta lo? #eaaapart2 Elo itu sebenarnya siapa, sih? Gue sebenarnya siapa? #biasaajakali

So, again, I was pleasantly surprised dengan arah film ini. It was more than I thought it would be.



Film ini juga punya jalan cerita yang padat, seru, dan menghibur. Bukan tolol-tololan garing ala Zoolander 2 atau Grimbsy, sih, tapi lebih ke arah Superbad, dengan sentuhan Borat. Kebayang, ya, gaya humornya.

Oya, sebagai salah satu unsur kelaknatan dan crassness dari film ini, harus kuperingatkan, film ini ada… adegan orgy-nya. Iya, orgy antara barang-barang supermarket, dengan segala analogi adegan seksual yang juoroknya nggak ketulungan. Maygaaat. It was definitely a “WTF did I just watch” moment for me in 2016.

Buat yang ingin menghindari dosa pikiran, review ini nggak usah dibaca, dan filmnya nggak usah dianggap ada.

Tapi buat yang bisa open-minded dan nggak gampang tersinggung, silahkeun dicari filmnya. Cucok buat agenda nganggur di malam minggu!

#1. Train to Busan
Thriller, drama

 

Waktu gue lagi mikirin tentang daftar film ini, Train to Busan adalah film pertama yang langsung muncul di kepala.

Tanpa gue ceritakan penjang lebar, sebagian besar pasti udah pada tahu tentang film thriller bertema zombie apocalypse ini, ya. Inti ceritanya standar, kok. Pada suatu hari, terjadi zombie outbreak di Korea Selatan. Berawal dari Seoul, lalu merambah ke kota-kota lain. Gitu aja, seperti premis kebanyakan film zombie lain.

Oh, trus, dalam film ini, zombie-nya “ganas” banget, seperti di World War Z, bukan zombie lemes gemes seperti di The Walking Dead, apalagi Shaun of the Dead.

Tapi bagi gue, yang membedakan film ini adalah alur ceritanya yang sangat solid dan penokohannya yang kuat banget.



Gue nggak dekat dengan budaya Korea. Bukan pendengar lagu-lagu K-Pop dan nggak pernah nonton K-Drama. Tapi gue tahu, kalau Korea bikin film thriller, bisa NGERI dan disturbing banget. Liat aja Oldboy, I Saw The Devil, Tale of Two Sisters, dan banyak lainnya.

Train to Busan pun kayaknya pantes, deh, masuk ke deretan film thriller legendaris tersebut.

Train to Busan is really up to my alley—jalan ceritanya solid dan masuk akal (baca: nggak terlalu banyak plot hole. Padahal cerita horor atau thriller biasanya rawan plot hole), ketegangan dan keharuannya terbangun dengan cakep, penokohannya kuat, akting SEMUA tokohnya bagus, dan efek spesialnya halus sekali. 



Ending-nya pun menyisakan rasa nelongso yang  mendalam, seperti kebanyakan film thriller Korea yang pernah gue tonton. Walaupun, yha, ada perasaan ‘zel ughak liat *spoiler* tokohnya Yoo Goong sempet-sempetnya nyam senyum nostalgia flashback sebelum mokat *spoiler*

Tapi hal yang paling gue suka adalah, film ini sangat “padat”. Nggak ada satu menit pun yang terbuang untuk adegan nggak penting atau membosankan. It’s climax after climax after climax.

To me, everything about this movie is perfect.

(tapi trus tentu saja, Hollywood si serakah langsung pengen bikin remake-nya. Boooo! Nggak setuju!)

***

Film favorit kamyu di 2016 apa, niiih?

PS. Honorable mentions: Zootopia, Moana, The VVitch, Don’t Breathe. Segitu aja, padahal kalau liat daftar ini, misalnya, ada banyak banget film menarik di luar radar bioskop mainstream, yak!

27 comments:

  1. Aah iyaa, Train to Busan itu cakep banget! Gak sekadar film zombie bunuh-bunuhan gitu. Feel-nya naik turun bikin deg-degan XD

    ReplyDelete
  2. sekarang di 2017... jangan lupa nonton la la land! bagus tuh la... hehe

    ReplyDelete
  3. Athirah aku belom kesampean nontoooon :'((( sejak liat trailernya daku jatuh cinta padahal.
    But still, dari semua yang kutonton tahun kemarin Fantastic Beasts sama Rogue One lah dihatiku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihiiiy... fanboy Potter dan Setarwor ya mbak :D Fantastic Beasts juga aku sukaaa, cuma karena bukan penggemar Harry Potter, jadi terlalu "dapet" kali, ya.

      Delete
    2. Embyeeeerrr tak bisa dipungkiri! Kepincut ama Eddie Redmayne apa makhluk mejiknya kak? #tetep

      Delete
    3. Eya ampun, TYPO! Maksudku, aku bukan penggemar Heri Potret, jadi aku NGGAK terlalu "dapet" sama feel-nya Fantastic Beasts. Eddie Redmayne-nya sih laf banget, as always!

      Delete
    4. Eddie di Fantastic Beasts memang bikin hati newt-newtan :3

      Delete
  4. “Is she real? Kok kayak tokoh kartun?”
    *ngakak*
    Ya Allah la skeptisnya ga ketulungan.

    La La Land bagusss sbnrnya konfliknya standar sih tapi Damien bikinnya passionate banget jadi feelnya dapet banget hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... beneran Rin! Itu suara hati terdalam seorang anak kicik yang didongengi ttg neneknya :D

      Delete
  5. Athirah entah kenapa aku lebih suka baca buku nya dibanding pas nonton filmnya, but still Cut Mini luar biasa.
    Dan Train to Busan, 2x nonton, 2x juga berurai air mata 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo aku malah nggak kuat baca bukunya, nih. Baru buka satu bab, langsung tutup lagi, hahaha. Secara umum, aku emang nggak cocok sama penulisannya Alberthine Endah.

      Delete
  6. Sedih banget aku belom nonton judul-judul pilem yang disebutkan di atas ): Ke bioskop bisa bawa bayik nggak yaa? Ada tips? *lhoo OOT banget ini* hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang Sausage Party aku DVD aja, kok! Coba streaming aja Jane, pasti banyak film bagus :) Tipsnya... bayiknya dikasih obat batuk dulu sebelum nonton, biar tidur. HAHAHA nggak ya! Becanda!

      Aku malah lebih suka bawa bayi nonton daripada toddler nonton, lho, Jane. Dia belum nonton filmnya, belum ngerti apa-apa, dan kalo rewel bisa langsung disusuin. Coba pilih jam nonton pas jam debay tidur mungkin? Dan bawa penutup kuping kali yaa, atau kupingnya ditutup selimut sepanjang film.

      Delete
  7. Cerita Kak Lei di atas tentang Mak Aji sebenarnya lebih bikin nyess nyess di dada dibanding filmnya atau setidaknya cerita di atas menyempurnakan feel pasca menonton yang mana saya sih terinspirasi bingiit oleh Athirah
    Terimakasih sudah mengizinkan kisah beliau jadi buku dan film ya, Pak JK :)

    Pilem paporit 2016 tetep Rogue One dooong. *anaknya fanboy gituh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, terimakasih :) Aaaa Rogue One aku nggak nonton, karena kayaknya aku nggak bisa bedain deh, antara Star Wars dan Star Trek :D Saking butanya!

      Delete
  8. Eh ya ampun sama lhoo film fav gw sausage party (ya maap selera film gw aneh warbyasak) this is the ajahn brahm of (animated) movies kalau buat gw :D

    Athirah... Hmmm... Sewaktu lihat trailernya, gw berpikir 'ah kalau cerita orang tanpa cela gini, lebih baik gw baca sirah nabi, isinya pasti mirip' tapi karena datang dari darah daging mamak aji tentu beda ya... Dan sejujurnya bikin gw tertarik nonton. Baiklah I'll bear with myself and watch this. Makasih mbak Lei...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe sejujurnya Athirah is not for everyone sih, jadi mungkin kamu nggak akan enjoy juga Kriwww... cuma film itu berkesan buatku, karena faktor keluarga ya :D Tapi coba tonton aja!

      Delete
  9. Train to Busan bikin gw jejeritan macam perawan. yaawloh, jantung renta ini gak kuat nontonnya.
    setuju dengan pendapatmu La, gak ada plot yang terbuang disini, definitely intense from the begining to end.

    ReplyDelete
  10. Athirah di Pontianak sini cuma 5 hari Kak (ebuset akrab amat pake Kak). LIMA HARI!!!
    Semangat banget mau nontonnya sampe pake mtix dari pagi harinya, dan ternyata yg ntn cuma berdua Mama....
    Kzl sekaligus terharu krn merasa nonton film sebagus itu bagai merental bioskop. Tapi plis kasian yg ndak tergerak nonton film kece badai ini. Masih ingat banget gimana banyaknya pengambilan gambar masakan dan asap dari lauk panasnya itu. Nangis juga karena memang berasa dibesarkan Mama the single fighter, uwuwuwuwuw.

    Kusudah ibadah nonton Lala Land, dah hufth biyasak aja *ditimpuk jamaah lalaland*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wowww... lima hari banget! Hehe, terimakasih komennya ya Ayu :)

      Delete
  11. yaampun mbak ley..kau telah menyuarakan isi hatiku tentang Train to Busan..film nya bagus banget buat olah raga jantung! xD selama ini betee banget, within my inner circle gak ada yang suka sama film ini karena selain buatan korea, dan mereka kebanyakan bukan penikmat korean drama atau KPOP culture lainnya (ya jadi udh skeptikal duluan aja gitu) juga karena menuruh mereka zombie gak gitu..terus gimanaaaahhhhh??hahaha.. sekarang bisa zumawa sambil nyodorin link ini..(lah macem eike yg bikin tu film ya?) hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaaaah, buruan yakinin inner circle kamu, deh. Aku juga jauh banget dari budaya musik K-Pop dan K-Drama, tapi aku tau, film-film horror/thriller-nya Korea GOKIL-GOKIL BANGET! Jadi pas Train to Busan heboh banget buzz-nya, aku yakin emang bakal beneran bagus. Ternyata... bagus banget!

      Delete
  12. Mba lei, maaf OOT, ko jadi sering ngeblog tapi skr ngeditnya kurang rapi (typo, pengulangan kata) ga kaya dulu.. percayalah aku fans beratmu, jadi tau bgt biasanya mba lei rapi hehehe xoxo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oyaaaa...? Waah, aku nggak tauu. Makasih yaa observasinya, walau semua post tetap melalui proses editing yang sama kok (dibaca berulang-ulang, bbrp kali di-edit ulang walau setelah di-post, dll). Memang kesempurnaan hanya milik Allah SWT, sih #eaaa

      Delete
  13. TRAIN TO BUSAN DAN MOANA (kok harus kepslok gede-gede ya mba?) maap terlalu semangat soalnya..

    ReplyDelete
  14. Udah nonton La La Land, kok aku bosen ya sampe di cepetin beberapa kali

    ReplyDelete