Sep 11, 2016

Ibu-Ibu Mengejar Mimpi

Hein Koh adalah seniman asal Brooklyn, New York, yang punya bayi kembar.

Beberapa waktu lalu, Hein nge-post foto throwback ini—yang menggambarkan dia kerja sambil nyusuin dua bayinya secara bersamaan, saat mereka baru lahir—di Facebook, sebagai reaksinya terhadap Marina Abramovic.


Marina Abramovic adalah seorang seniman perempuan terkenal asal Yogoslavia yang tinggal di New York. Pada sebuah wawancara dengan koran Jerman Tagesspiegel, Marina bilang bahwa sebagai seorang seniman, dia nggak mau punya anak. “I had three abortions because I was certain that it would be a disaster for my work,” dia bilang. “One only has limited energy in the body, and I would have had to divide it.

Karena nggak setuju dengan pernyataan Marina Abramovic tersebut, Hein nge-post foto ini dengan caption, “When my twins were 5 weeks old and despite the sleep deprivation and frequent (every 2-3 hours, 24-7, 45 min at a time) breastfeeding, I was still getting shit done,” tulis Hein. “Marina Abramovic thinks children hold women back in the art world, but as @dubz19 put so aptly, “FUKKK THAT”


Dulu (dulu, ya) sebelum gue baca caption-nya, dan gue suka banget sama foto ini.

Foto ini adalah salah satu penyemangat ketika kepala gue serasa retak akibat harus bagi waktu, tenaga, dan pikiran antara rumah tangga dan kerjaan. Foto ini mengingatkan gue, “Sisss, jangan manja, sisss… Look at her. Look at millions of other women in the world, terutama yang hidup di lingkungan yang nggak mendukung perempuan dengan multi-peran. Emang nggak gampang, but you can do it! Many women can do it! Begadang netekin dua bayi sambil mengejar mimpi? Bisaaaa!”

Tapi setelah baca caption dan keterangan di balik foto Hein Koh ini, gue jadi agak ilfil, karena foto ini berpotensi “nyiram bensin” untuk perdebatan ibu-ibu.

Sejujurnya, dunia ebes-ebes nggak butuh polarisasi lagi. ASI vs susu formula. Melahirkan vaginal vs melahirkan sesar. Jadi IRT vs jadi ibu bekerja. Jangan ditambah seniman beranak vs seniman nggak beranak. Udahlah, bundo. Capek, bundo.

Di samping itu, gue sangat menghargai apapun keputusan hidup Marina Abramovic, sebagai seorang performance artist. Gue nggak setuju dengan tindakan aborsi, tapi gue nggak kepengen mengutuk Marina atas keputusan aborsinya. Badan badan dia, kok. Kalau dia mau fokus jadi seniman dan nggak mau punya anak, ya terserah dia aja.

Trus, tanpa keterangan panjang lebar, foto Hein Koh ini sebenernya udah kuat banget. Sebagai seorang ibu, gue paham ada perjuangan luar biasa di balik foto ini.

Jadi gue agak ilfil ketika Hein Koh menekankan bahwa “Gue sleep-deprived, lho! Gue multitasking, lho! Tapi masih bisa berkarya, kok!”

Mungkin karena gue memang nggak suka dengan pemujaan terhadap keletihan. Di negara-negara yang work-life balance-nya udah bagus—seperti kebanyakan negara di Eropa Barat—masyarakatnya udah paham bahwa capek BUKAN sebuah prestasi.

Tapi di Amerika dan banyak negara di Asia, orang masih menganggap bahwa capek itu bagus, kerja sampe malam adalah tanda rajin, bisa begadang berhari-hari karena kerja itu talenta, terpaksa bawa anak ke tempat kerja itu heroik. Trus, orang yang ngantor teng masuk jam 9 pulang jam 6, dianggap malas (walaupun kerjanya memang udah beres).

Stigmanya nggak boleh gitu, lho. Entah kita seorang ibu atau bukan. Ya nggak, sih?

25 comments:

  1. Slmt liburan dan slmt hari raya Idul Adha, Kak! Jago ih masih smpt posting!
    Makasih lhoo udah jadi bukan pemuja keletihan karena cukup menghibur. Gw sering kurang bangga karna terlalu selow, tidak sejungkir balik itulaaah hingga kepikiran apakah gw kurang memenuhi standar jadi kurang letih/multitasking (dibanding cerita orang).

    Nah ini juga mungkin gw salah, pengennya sih zaman sekarang seniman/ekonom/politikus/ilmuwan wanita mau jago ya jago ajaah tanpa kita perlu tau dia seorang ibu atau bukan (menyusui atau tdk dll) *yaaa kalo kepaksa dikepoin sedikit aja untuk kebutuhan pribadi hihihii

    ReplyDelete
  2. Ah serius aq baru tahu ttg kuantitas waktu kerja yg banyak = loyalitas termasuk yg ngetrend di amerika lo mba. Aq pikir cm di asia doang, hahaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe mungkin aku agak sotoy sih, tapi yang aku tangkap dan media dan cerita-cerita orang, sih, masih cenderung begitu :)

      Delete
  3. Bosku harus baca ini........Capek bukan prestasi. Oh consultant slave.

    ReplyDelete
  4. i feel so related.

    sebagai ibu dari bayi 11 bulan dan nyambi kuliah lagi, emang lemah letih lesu dan luapan emosi kok rasanya ga abis-abis. tapi klo baca di sosmed ada yang mendewakan dirinya sebagai super mom (apapun kondisinya)apalagi kalau mulai membandingkan dengan hidup orang, suka sebel sendiri seolah-olah hidupnya yang paling bener dan paling hebat. Harusnya ngga gitu. harusnya yang di highlight itu bukan pengorbanannya ketika punya anak(sleep-deprived, time-limitation, multitasking, hormonal changes so on) but what they can achieve out of it. because every motherhood has their own battle.

    mba lei review ini dong www.quuensofconstance.com. pengen tau pandangannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hebat banget Nadia! Iya, walaupun klise, every motherhood has their own battle itu very true, ya. Nanti aku baca-baca deh situsnya :D

      Delete
  5. Yoih,bundo. Capek ah dikit-dikit polarisasi. Nice article,btw.

    ReplyDelete
  6. So typical american. Baper mulu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut gue, ini bukan (hanya) ciri orang Amerika, tapi ciri penduduk negara maju (first world country), alias first-world problem attitude. Gampang komplain soal hal-hal kecil, karena negaranya memang sudah makmur. Seperti kata Rika di beberapa post gue yang lalu, orang Eropa aja suka ngomel karena jadwal bis dan kereta yang terlambat. Indonesians don't sweat the small stuff, because there are MUCH, MUCH bigger problems yang harus kita hadapi setiap hari.

      Tapi orang Amerika memang lebih vokal, sih, jadi memang terkesan paling baper.

      Tapi ibu-ibu perkotaan Jakarta sekarang juga suka sweat the small stuff, kok. Makanya gue bilang, terjadi banyak polarisasi dalam dunia parenting, termasuk di lingkungan gue (Jakarta). Tapi wajar aja sih... Apalagi dunia motherhood adalah dunia perempuan yang umumnya memang selalu baper, regardless ras dan kewarganegaraannya.

      Delete
  7. Tapi ya menurut gue, kalo ada seniman yang sampe aborsi tiga kali gara gara ketakutan ga bisa berkarya, ya wajar ya ada sesama seniman yang mengutarakan pemikiran yang berbeda. Ya masalah punya anak atau gak punya anak memang hak masing masing orang tapi kalo sampe aborsi berkali kali gue ngilu ngebayanginnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya gue berpikir persis kayak lo, tapi kemudian gue berusaha untuk berpikir lebih objektif.

      Pertama, Marina Abramovic udah hampir umur 70 tahun. Mungkin pada masa mudanya, kontrasepsi (atau kesadaran kontrasepsi) di masyarakat umum belum terlalu bagus, sehingga doi kebobolan hamil melulu. Gue rasa, nggak ada pilihan lain selain aborsi. Ngilu banget, memang.

      Kedua, Marina Abramovic adalah seniman pertunjukkan (performing artist). Karyanya adalah tubuhnya sendiri. Dia nggak bisa kirim lukisan ke galeri, misalnya. Untuk berkarya, dia harus menggunakan tubuhnya sendiri, jadi gue maklum kalo tubuh dan availability waktu Marina sangat krusial untuk berkarya.

      Di sisi lain, Hein Koh adalah seniman seni rupa, jadi dia bisa mewakili seninya lewat medium lain. Jadi masih "sanggup" untuk beranak.

      Delete
  8. Kok gw liatnya disini Hein Koh gak ada maksud untuk nyombongin diri sendiri ya..apalagi bermaksud nyiram bensin.
    ini kayak cuman tuumpahan kekesalan kok ada sih yang sampe aborsi 3x demi gak mau punya anak. Karena iya sih itu badan dia, hak dia tapi deep down inside tetep berasa miris banget, sebegitunya kah? sampe 3x aborsi?
    Dia cuman mau kasih tau ke Marina *SKSD* besok2 mendingan gak usah aborsi, punya anak gak sebegitu menyeramkan buat karir kok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya Dis, paham banget sih sama POV Hein Koh, tapi kalo melihat sepak terjang, karya-karya, dan "kepribadian" Marina, gue juga paham POV Marina. Dia kalo bikin karya suka sampe nyerempet-nyerempet nyawa gitu 'kan (misal, nantangin audiens untuk nembak dia pake beceng beneran). Ngilu tapi paham sisss...

      Memang kayaknya kondisi Marina Abramovic nggak bisa disandingkan apple to apple sama seniman perempuan lain, termasuk Hein Koh. See above comment ya :D

      Delete
  9. Yes, akhirnya ada yang menyuarakan kalo keletihan itu bukan prestasi. Selama ini saya suka minder kalo gaul sama Ibu-Ibu yang dengan bangganya bilang tidur telat bangun pagi banget demi bisa ina itu bla bla bla. Kok saya kayaknya lemah banget yaa, kalo pulang kerja trus cape ya mending istirahat daripada beberes rumah hehe :D

    ReplyDelete
  10. Iya betul. Sulit menilai dan menghakimi orang lain kalau kita berusaha berdiri di sepatu mereka *bacain komen dan tanggapan mbak Lei.
    Orang sering bilang, "Iya memang, tapi.." belakangnya tetep nyampein keberatan yang akhirnya terlihat 'menyalahkan'.
    Satu sisi, orang peduli makanya komentar atau nasehatin. Sisi lain, enak juga kalo dicuekin aja gak usah pedulikan pilihan jalan hidup orang; mereka gak bermaksud nyerang pilihan orang lain yang berbeda kok (mungkin?). Selalu ada plus minus memang ya..hehe.

    ReplyDelete
  11. Seriously, menurut gue dari awal soal punya anak dan nggak punya anak aja ngga perlu dijadikan perdebatan dan pernyataan. Dari situlah polarisasi beranak pinak, ASI-sufor lah, kerja-nggak lah, dan lain-lain (termasuk pemujaan terhadap keletihan itu, ih suka deh kata-katanya). Karena setiap org punya kesanggupan dan POV beda2 cencunya ya..So, #teamheinkoh karena marjorie siram bensin duluan :))))

    ReplyDelete
  12. Terus kenapa marjorie.. MARINA BUUK MARINAAAA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... yaah, yang penting bukan Marina hembodi losyen, yaa :D

      Delete
  13. Halo mbak Lei, ini komentar pertama nih setelah hampir setahun ngikutin blog ini dan udah hampir tamat baca semua postingan.

    Waktu baca judulnya dan liat gambarnya, prediksi saya mbak Lei akan mendukung sepenuhnya argumen Koh. Tapi ternyata tidak juga, yang berarti we are on the same boat. Lalu baca komentar2 di atas tentang aborsi dan baca pandangan mbak Lei tentang itu saya pun sependapat dengan dirimu. Banyak faktor yang mendasari keputusan wanita dewasa mengenai 'tubuh'nya yang kebanyakan faktor tersebut tidak hanya dari diri mereka sendiri, tapi sangat dipengaruhi oleh tekanan sosial, kebijakan, sistem, komunitas, ekonomi, gender relations, akses dan lainnya.

    (Kayaknya nggak nyambung deh komennya). Intinya tetap menulis dan menginspirasi mbak Lei ;).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Sandra, makasih ya. Thanks for the comment! :)

      Delete
  14. Cuma mau komen, kenapa marina gak protek diri dia bener2 biar gak hamil ya, ampe kebobolan 3x he3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Marina Abramovic udah hampir umur 70 tahun, jadi gue memprediksi, pada masa mudanya, kontrasepsi (atau kesadaran kontrasepsi) di masyarakat umum belum terlalu bagus, sehingga doi kebobolan hamil melulu. Apalagi kalo pas mudanya itu dia di Yugoslavia, bukan di Amerika. Jadi nggak ada pilihan lain selain aborsi. Ngilu banget sih yaaa... :(

      Delete
  15. First of all, gue juga nggak suka kalau orang bangga karena kerja capek setengah mati. Itu bukan prestasi sama sekali. Tapi pas gue dulu sekolah, kalo gue nggak setengah mati, gue bisa kagak lulus booo.... Gimana atuh... Daripada nelangsa selanjutnya, cincai lah bersakit-sakit dahulu, asal jangan dibudayakan seumur hidup aja. Life is too short!

    Sama kayak beberapa komen di atas, gue kepingin ngebahas dikit soal si Marina yang sampai aborsi melulu. Menurut gue, despite dia mau seniman atau apapun ya, semestinya orang itu paham soal akibat dari sex. Kalau dibilang badan ya badan dia, terserah mau ngapain aja, menurut gue itu juga gak beres. Karena mencintai badan kita itu artinya juga memberikan penghargaan terhadap diri kita sendiri termasuk terhadap rahim kita. Life is about choices. Kalo nggak mau sampe hamil, ya jangan melakukan hubungan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sure, Le. Aborsi itu salah. Tapi buat gue, cara terbaik untuk menentang aborsi adalah dengan nggak mendukung, nggak memberikan akses, dan nggak melakukannya.

      Tapi nggak dengan menyerang pilihan pribadi Marina Abramovic, karena ada sejuta alasan yang nggak gue ketahui, kenapa dia bisa tau-tau hamil tiga kali. Maybe she did try contraception, but failed. Surely life isn't always black and white? :)

      Delete
  16. Soal aborsi... nggak mau banyak komen dan ngatain karena nggak tau juga alasan sesungguhnya dia melakukan itu. Bisa jadi dese bilang aborsi demi karir biar kelihatan strong aja hehehe (siapa tau dia termasuk orang beresiko tinggi kalau hamil). Cuma aku sedih aja tiap denger ada orang aborsi, mengingat banyaknya perempuan yang berjuang mati2an demi mendapatkan buah hati.

    Tapiii aku suka aku sukaaa sama kalimat penutupnya! Banyak orang yang mikir kalo capek dan kelihatan sibuk dari subuh ampe rembulan bersinar itu wow dan elo2 yang punya banyak waktu ongkang2 kaki tuh meeehhh~~ sedih yee ukuran prestasi dilihat dari capeknya, bukan karyanya :(

    ReplyDelete